Senarai Kisah Soeharto




BUKU kuning itu teronggok di toko buku ketika saya melihatnya di satu sore. Saya melihat wajah Soeharto, sosok yang dahulu selalu muncul di layar kaca TVRI ketika saya masih belia. 

Dulu, hanya ada satu saluran informasi yakni TVRI. Di situ, hampir setiap hari Soeharto muncul. Saya sering kesal karena penayangan Aneka Ria Safari tiba-tiba dijeda oleh liputan khusus ketika Soeharto memancing, terus berhasil menangkap ikan besar.

Soeharto adalah bagian dari masa kecil saya. Pada masa itu, tidak banyak yang tahu bahwa di balik senyum yang tampil di acara Dari Desa ke Desa, ada banyak cerita horor. Telah banyak catatan, kesaksian, dan buku sejarah yang mengurai apa saja yang terjadi pada masa pemerintahannya.

Buku yang diolah dari liputan Tempo ini menggedor banyak ingatan. Beberapa orang di media sosial mulai memuji-muji tokoh ini. Dia kembali dielu-elukan. Dia kembali jadi pahlawan. Orang-orang lupa dengan semua warisannya. Berbagai riset dan buku dicampakkan begitu saja. 

Seorang sejarawan pernah bilang bahwa ingatan orang Indonesia itu pendek. Ingatan kita dikendalikan oleh siapa yang memenangkan wacana dan paling ngotot memposting sesuatu, meskipun ngawur. Kita adalah tipe kerumunan domba yang bergerak karena dituntun ke satu titik. 

Di era media sosial, banyak di antara kita yang dikendalikan para produsen informasi. Di era ini, sekeping informasi di Whatsapp dianggap lebih valid ketimbang riset-riset sejarah yang bertebaran. Jangan berharap ada diskusi yang sehat. Jangan berharap ada pencerahan karena berbagai fakta diurai dan didiskusikan. 

Dalam buku The Death of Expertise, Tom Nichols telah membahas tentang kematian para ahli di era milenial ini. Banyak orang yang lebih suka bertahan dalam ketidaktahuannya, tanpa mau mendengar mereka yang benar-benar ahli dan menghabiskan hidupnya untuk mendalami satu topik. Para ahli ditinggalkan. Suara keilmuan dibuang jauh-jauh, hanya karena dianggap berbeda dengan sesuatu yang diyakini benar.

Anda ingin membela Soeharto? Silakan. Tapi jangan tutup pikiran Anda dari membaca banyak buku dan publikasi tentangnya. Jangan serahkan diri dan nalar pada sejumlah postingan media sosial yang hanya separagraf dan dua paragraf. Temukan informasi yang utuh, laporan investigasi, dan berbagai lembar-lembar kerja sejarah yang berkisah tentang zaman itu.

Buku ini adalah adalah satu tiket untuk perjalanan mengurai lapis ingatan satu masa. Seusai membacanya, saya tiba-tiba saja berpikir bahwa dia belum benar-benar pergi. Ada begitu banyak warisannya yang dengan mudah disaksikan di sekitar kita. Dia masih di sini, setidaknya di kepala orang dekat dan mereka yang menikmati kekayaannya.

Tugas terberat kita adalah tetap mengumpulkan banyak apapun ingatan tentang dirinya, baik ataupun buruk, agar bangsa ini tidak selalu jatuh pada kecelakaan sejarah yang sama. Dengan membaca, kita tetap menjaga kewarasan dan kesehatan nalar. Selamat membaca.




0 komentar:

Posting Komentar