Menebak Tujuh Langkah Setya Novanto


JIKA politik adalah seni mengelola berbagai kemungkinan, maka apakah gerangan yang akan dilakukan oleh Setya Novanto di tengah tudingan mencatut nama presiden dan wakil presiden? Mengingat kelihaiannya berkelit terhadap sejumlah kasus yang nyaris menjeratnya, bisakah kita menebak langkah-langkah yang akan dilakukannya.

***

DI hadapan wartawan dan kamera televisi, Setya Novanto memberikan klarifikasi dengan mata berkaca-kaca. Barangkali, ia berharap agar publik segera berempati dan menganggapnya sedang teraniaya. Klarifikasi itu penting sebagai pesan yang akan dipantulkan kepada semua jejaringnya. Ia memberi pesan penting bahwa dirinya sedang dalam krisis, dan butuh dukungan banyak pihak.

Sebagai politisi senior, ia sudah banyak makan asam-garam dunia politik. Sebagai the man behind the gun, ia lebih layak berada di belakang layar dan menjadi pengendali semua pergerakan. Tapi apa daya, hasrat untuk tampil di hadapan publik demi apa yang disebut Abraham Maslow sebagai aktualisasi telah membawanya untuk tampil ke depan. Ia lalu menjadi sorotan layar dan blitz kamera para jurnalis. Ia mesti siap menghadapi sejumlah orang yang menguntit langkahnya dan menebar paku dan duri di situ.

Setya Novanto dan Soeharto

Sejarah hidupnya penuh lika-liku. Sejak masa Orde Baru, ia telah eksis dan menjadi panitia penulisan buku Manajemen Presiden Soeharto. Sejatinya, ia bukan tipe intelektual. Ia pebisnis tulen. Akan tetapi ia bisa saja memaksimalkan banyak sumberdaya manusia demi  merapat ke kekuasaan. Melalui buku, ia menembus lingkaran Soeharto dan mendapat tempat khusus yang kemudian melapangkan jalan bisnisnya.

Hingga berbagai rezim berganti, ia tetap eksis. Yang dilakukannya adalah memaksimalkan kerja-kerja jejaring untuk mencapai profit semaksimal mungkin. Dalam dunia politik, uang tak mengenal tuan. Kata seorang politsi, ia mudah menggelontorkan uang ke mana-mana, menjaga kekuatan jaringannya, lalu mengubah semua lawan menjadi sekutu yang akan melindunginya. Ia sukses di bidang bisnis, lalu menggunakan materi sebagai benteng untuk membangun kekuatan.

Nah, di saat dirinya tengah mengalami krisis yang gencar diangkat media massa, ia pun telah memiliki satu protokol untuk menghadapi masalah. Apakah gerangan yang akan dilakukannya? Bisakah kita menebaknya?

Pertama, sesegera mungkin memberikan klarifikasi melalui media massa. Ia tak boleh menunda-nunda klarifikasi ini. Sebab klarifikasi itu penting untuk mengulur waktu, sekaligus mengirimkan sinyak kepada semua jejaringnya kalau dirinya tengah berada dalam masalah dan menantikan bantuan serta dukungan. Pesannya ditangkap oleh koleganya seperti Fadli Zon yang langsung bersuara keras.

Respon juga datang dari Aziz Syamsuddin yang mulai mengancam Sudirman Said. Tak hanya itu, jejaring kuat dari Setya pasti akan bekerja untuk menekan Freeport dari segala arah sehingga akan menolak pernyataan Sudirman. Selama beberapa hari ini, beberapa sahabatnya akan terus memojokkan Sudirman Said demi membuat wacana ini semakin mengambang.

Kedua, bangun lingkar inti. Dalam politik, lingkar inti sangat penting untuk menjadi benteng bagi seseorang sebagai tempat berlindung, sekaligus mengumpulkan amunisi lalu diterapkan dalam strategi menyerang lalu bertahan. Dirinya pasti akan mendapatkan banyak masukan dari sahabat-sahabatnya ahli hukum, serta para prajurit lapangan dan media massa yang akan melancarkan counter attack secara simultan dengan berbagai strategi.

Salah satu rekomendasi dari lingkar inti itu adalah ia mesti mengenali sejumlah tokoh kunci yang bisa mempengaruhi bangunan politik. Ia tahu betul tentang kultur politik kita yang patron-client. Makanya, ia langsung menyasar sejumah tokoh yang dianggapnya bisa mempengaruhi kekuatan. Tentunya, sosok paling penting yang harus ditemuinya adalah Presiden Joko Widodo. Hanya saja, sebelum menemui presiden yang dahulu dianggapnya lemah itu, ia akan menyisir sejumlah pihak lain yang juga punya pengaruh.

Sosok pertama yang ditemuinya adalah Wapres Jusuf Kalla. Media massa menyebut dirinya sedang memberikan klarifikasi. Seorang teman di lingkar wapres membisikkan pesan kalau Setya datang untuk meminta bantuan, yang langsung ditampik oleh JK. Media massa menulis laporan bahwa JK seolah membantunya, melalui pernyataan kalau Setya menemui pihak Freeport dalam kapasitas sebagai pribadi, bukan sebagai Ketua DPR. Yang terjadi adalah JK menampik.

Langkah berikutnya adalah menemui Megawati dan Surya Paloh. Minimal, dua tokoh ini bisa membantu untuk meredam gejolak di parlemen. Sebab selagi parlemen bergejolak, ia bisa kesulitan menyusun langkah-langkah taktis untuk keluar dari permasalahan yang membelitnya. Dukungan Surya Paloh sangat penting untuk mengendalikan sejumlah pihak seperti Kurtubi yang dianggap paling menguasai peta bisnis minyak. Pertanyaannya, apakah mereka bersedia untuk kompromi? Entah. Dalam dagang, kompromi bisa dilakukan kalau keduanya sama-sama mendapat keuntungan. Jika tidak, tak ada kesepakatan.

Ketiga, beberapa politisi akan disiapkan untuk berperan sebagai counter attack sembari terus melakukan kampanye negatif terhadap Sudirman Said. Di zaman SBY, peran-peran sebagai penggempur ini sukses dimainkan oleh Ruhut Sitompul. Dalam konteks Setya, dua sosok serupa Ruhut itu akan dimainkan Aziz syamsuddin dan Fadli Zon. Kedua sosok ini akan menyerang Sudirman, sekaligus mengendalikan kekuatan Majelis Kehormatan DPR, yang notabene diisi oleh orang-orang partai. Akan sulit mengharapkan ‘jeruk makan jeruk.’

Tentu saja, beberapa intelektual asongan akan dihadirkan di televisi demi mengeluarkan opini ‘seolah-olah cerdas dan bijak’, namun sengguhnya telah dikendalikan semua arah pembicaraan. Lagi-lagi, yang diharapkan adalah dukungan publik yang akanterbelah dan memberikan dukungan. Tentu saja, semua media memiliki daftar para intelektual yang analisisnya bisa diisi dan dikendalikan.

Keempat, kendalikan opini media. Sebagaimana dikatakan Hitler, kebenaran adalah kebohongan yang dikalikan seribu. Artinya, gunakan media massa untuk selalu menggemakan kebenaran versinya, yang merasa dijebak oleh menterinya Jokowi. Hadirkan simpati publik melalui strategi mengatur berita di newsroom yang diharapkan isa menjadi wacana nasional. Munculkan narasumber yang bisa memantulkan berbagai isu dan mengemasnya menjadi senjata.

Untuk peran-peran ini, tivi berlogo warna merah sebagai pemantul berbagai isu yang dirancang oleh tim lingkar inti Setya. Sejak masa kampanye pilpres, peran-peran membalik opini melalui media ini sukses diterapkan di televisi ini. Makanya, jangan kaget jika selama beberapa hari ini, televisi akan dipenuhi diskusi yang narasumbernya Aziz Syamsuddin dan Fadli Zon. Yang juga diperlukan adalah tim analis media yang selalu memberikan report tentang kecenderungan diskursus liputan media. Ketika liputan itu selalu memojokkan, maka dicarilah newspeg atau cantolan isu yang menyanggahnya.

Kelima, bangkitkan cyber army untuk membalas semua komentar di media sosial. Lingkar inti akan menyuplai informasi ke sejumlah jenderal pasukan media sosial yang kemudain membuat postingan di berbagai kanal social media. Gunakan para haters yang sudah terlatih untuk menyebar fitnah ke mana-mana. Rekrut para pembuat meme, opinion leader di media sosial yang lalu mengeluarkan berbagai jurus postingan untuk menggempur semua warga media sosial yang kerap berkicau dengan status.

Dalam politik, semua hal bisa jadi kebenaran sepanjang dikicaukan terus-menerus. Arahkan semua postingan kepada warga media sosial yang lugu dan mau-mau saja menerima semua informasi. Arahkan postingan ke massa fanatik Koalisi Merah Putih (KMP) yang selama ini masih setia melancarkan caci dan kritik pada pemerintah. Media sosial harus dikuasai dengan gerak cepat.

Keenam, gunakan operasi senyap untuk melobi sejumlah pebisnis yang dekat dengan Freeport. Bagaimanapun juga, perusahaan akan selalu memilih jalan aman yang memungkinkannya untuk tetap mendapatkan profit besar. Tawarkan konsesi baru ke perusahaan itu yang bisa mengamankan kedua belah pihak, serta menjadikan pemerintah tersandera. Dengan kekuatan parlemen serta politik yang dimilikinya, bukan tak mungkin kalau Freeport bisa kembali bekerjasama. Setelah konsesi dicapai, bersama-sama secara simultan menghadapi pemerintah yang tentunya akan terkeung dari banyak sisi.

Ketujuh, langkah terakhir yang akan dilakukan setelah semua strategi itu ditempuh adalah membawa amunisi itu ke hadapan pemerintah, dalam hal ini presiden. Tawarkan konsesi yang menguntungkan. Kalau iming-iming tidak efektif, keluarkan senjata terakhir yakni dukungan penuh dari partai kuning. Katakan pada pemerintah bahwa partai kuning itu akan menjadi fanboy dan pendukung paling setia pemerintah, sepanjang kasus itu diputihkan. Langkah ini diyakini akan efektif sebab Setya punya track record yang bisa menjadi penengah. Dirinya diyakini menjadi calon kuat Ketum Golkar, yang akan melengserkan Aburizal dalam waktu dekat ini.

***

TENTU saja, ini cuma wacana. Saya hanya menebak-nebak langkah-langkah politik yang akan dilakukannya. Bagaimanapun juga, politik kita tertutup kelambu sehingga dinamika dan pergumulan di dalamnya sepi dari pantauan publik. Yang dilihat publik adalah liputan media massa, yang sebenarnya telah mengalami sensor, pengaturan, serta telah dikendalikan demi menguasai opini dan persepsi.

Yang terjadi sesungguhnya adalah berbagai adu strategi dan taktik yang senyap, tak banyak diketahui, serta melibatkan permainan poltiik tingkat tinggi yang hanya diketahui segelintir orang. Tentu saja, blunder Setya Novanto mengharuskan dirinya untuk membuat kompromi paling maksimal demi lolos dari persoalan yang wacananya kian membesar dan mulai menikamnya perlahan-lahan.

Kembali, sosok pengendali semua irama ini adalah Presiden Jokowi dan Wapres JK yang dengan dingin mengarahkan semua bidak catur. Nampaknya, mereka membaca Sun Tzu yang pernah berkata, “Kenali dirimu dan kenali lawanmu, maka kamu akan memenangkan pertempuran.” Kedua orang ini tahu betul kalau semua politisi pasti punya celah yang ketika disentil, maka pastilah akan kalang kabut dan sibuk lobi sana sini. Publik pun gampang disulut emosinya sehingga terjebak dalam debat-debat yang tak penting.

Di saat bersamaan, pemerintah bisa melenggang-kangkung tanpa harus ikut-ikut sibuk seperti mereka. Pemerintah hanya tersenyum dan bertindak serupa macan yang tengah menanti saat paling tepat untuk menerkam, ataukah membiarkan mangsanya berputar-putar di arena yang telah dipahami semua sudut-sudutnya.


Medan, 17 November 2015

Catatan:

Foto diambil dari halaman facebook Made Supriatma.


0 komentar:

Posting Komentar