Tak Ada Ussain Bolt di Tim Amerika


Usaai Bolt yang fenomenal

OLIMPIADE serupa demam yang menjangkiti seluruh warga Amerika Serikat (AS). Ia hadir di semua media massa, hadir di semua layar televisi, hingga mendominasi wacana public. Lewat Olimpiade, nasionalisme dan semangat sebagai bangsa unggul digelorakan secara terus-menerus.

Selama beberapa hari ini, di mana-mana aku menyaksikan kemeriahan wacana Olimpiade. Saat berjalan-jalan ke kampus, restoran, ataupun semua tempat publik, di layar televisi terlihat tayangan Olimpiade. Semua orang sedang fokus dan menyaksikan momen olahraga penting yang berlangsung setiap empat tahun tersebut.

Sebagaimana telah kukatakan pada tesis awal, mereka tidak sedang menggandrungi Olimpiade. Mereka sedang menggandrungi negerinya yang tengah berjuang untuk menjadi yang terbaik. Olimpiade itu hanyalah etalase dunia sosial tentang kampanye untuk menjadi bangsa unggul dan terbaik. Lewat wacana Olimpiade, mereka tetap memelihara semangat sebagai bangsa unggul tersebut.

Sayangnya, belum ada atlet Amerika yang seheboh Ussain Bolt, sang halilintar asal Jamaika, sang manusia tercepat di lintasan 100 meter dan 200 meter. Mungkin masih ada Michael Phelps, warga Amerika di lintasan renang pada Olympiade, yang kali ini mendapat enam emas. Tapi tidak seheboh saat Phelps sukses menyapu delapan medali emas di Olimpiade Beijing.

Sayangnya lagi, sudah dua Olimpiade ini, Amerika tidak lagi bertepuk tangan sendirian. Bangsa bermata sipit itu juga tengah giat-giatnya di jalur perebutan juara. Mereka telah menggapai titik puncak posisi klasemen tertinggi. Mereka mulai sukses menghempaskan dominasi Amerika yang berlangsung selama beberapa Olimpiade.

Ini juga cermin dari dunia sosial. Bahwa Olimpiade ini juga menjadi etalase atas apa yang terjadi di dunia politik dan ekonomi. Negeri Tirai Bambu itu tengah bersiap-siap untuk menggenggam dunia. Mereka siap menulis ulang sejarah dan meninggalkan Amerika Serikat di belakangnya. Mereka siap mengubah tata ulang dunia dengan keseimbangan baru, sebagaimana terlihat di dua Olimpiade terakhir.

Olympiade menjadi cerminan konstalasi poltiik dan ekonomi. Bukan lagi sekadar pertarungan olahraga, melainkan ajang memamerkan supremasi dan kekuatan di banyak arena.

Ah, tiba-tiba saja aku tergoda untuk memikirkan bangsaku. Negeriku amat tak berdaya di Olympiade ini. Tapi pemerintah dan masyarakatnya dingin-dingin saja. Mungkin karena negeriku tak terbiasa bersaing keras merebut posisi puncak di level internasional. Entahlah. AKu hanya bisa menyaksi dan mencatat.


Athens, 8 Agustus 2012

0 komentar:

Posting Komentar