Mantra Harry Potter, Mantra Keabadian

poster film
HARRY Potter menyihir Jakarta. Hampir semua bioskop serentak memutar film Harry Potter and the Deathly Hallow. Meskipun banyak pihak yang jauh lebih suka bukunya, namun harus dicatat bahwa setiap kemunculan film Harry Potter pasti diiringi dengan naiknya frekuensi penjualan buku, serta genangan kesan yang kembali memenuhi ruang-ruang berpikir tentang penyihir ini.

Saya tercengang dngan antusiasme public yang dahsyat. Begitu banyak orang membicarakannya. Bahkan halaman Facebook pun penuh berita tentang fenomena Harry Potter. Entah, apakah bocah kecil yang terlahir sebagai penyihir ini benar-benar telah memantrai Jakarta, yang jelas, ia sukses menyihir pembicaraan semua orang, menginsepsi gagasan dalam benak, memberikan jampi-jampi mantra yang memaksa banyak orang untuk setia mengantri di bioskop demi melihat sang penyihir.

Harry Potter adalah fenomena luar biasa di abad 21. Siapapun yang hendak menulis tentang penanda zaman ini, mesti menempatkan kisah Harry Potter sebagai satu kisah besar yang memenuhi imajinasi banyak orang, menggoreskan jejak-jejak baru di patahan sejarah kita, serta mencatatkan dirinya sebagai ikon yang mempengaruhi kebudayaan popular abad 21.

Bukan saja karena penjualan tujuh serial novelnya yang fenomenal dan menempatkan sang pengarang (JK Rowling) sebagai pengarang terkaya dalam sejarah kesusastraan dunia. Bukan saja karena jutaan orang yang tersihir dan menjadi pembaca setia. Bukan saja karena film-filmnya telah sukses secara komersial sebagaimana novelnya yang ditunggu setiap tahun. Bukan saja karena sukses menggempur opini banyak orang dan membalikkan banyak konsep tentang penyihir, memicu perdebatan tentang kontroversi novel ini dalam iman Kristiani, serta menarik tetes-tetes hikmah dalam pergulatan seorang penyihir muda yang hendak menemukan kedewasaannya.

Bagi saya, semua fenomena di atas tidaklah memadai saat membahas Harry Potter. Hanya ada satu kata yang tepat untuk membahasakannya yakni: keajaiban. Yup. Novel ini serupa mukjizat yang pernah terjadi muka bumi, serupa cahaya biru yang keluar dari tongkat sihir dan tiba-tiba saja membuat kita serentak menjadi pengagum berat. Mungkin, ada mantra yang memenuhi pemikiran kita tentang betapa dahsyatnya kisah di dunia penyihir. Tapi jika ditilik lebih jauh, mantra bukanlah satu-satunya penjelasan. Keajaiban kisah ini tidak terletak pada seorang anak kecil ceking yang tiba-tiba menjadi fenomena dalam dunia sihir. Tapi lebih dari itu.

JK Rowling sang pengarang Harry Potter
Buat saya, letak ajaibnya Harry Potter karena kisahnya yang serupa dua kepak sayap dan menerbangkan imajinasi hingga menelusuri kastil-kastil di ruang yang jauh di sana, menerbangkan daya khayal hingga titik terjauh yang bisa digapai, menelusuri teka-teki dan aneka kemungkinan, bertemu mahluk-mahluk yang menakjubkan dan menyeramkan, serta para penyihir bijak yang menjalani hari dalam laku kebajikan dan nilai-nilai kepahlawanan.

Dalam kisah Harry Potter kita menemukan sebuah dunia dengan logika sendiri. Sebuah dunia yang mengubah ketidakmungkinan menjadi kemungkinan. Keajaibannya terletak pada sebuah logika yang dijungkir-balikkan, kemudian disusun ulang dalam satu format kisah yang kadang mengerikan, mencekam, namun selalu ada hikmah serta pesan bijak di balik setiap kejadian. Selalu ada sebuah konklusi bahwa kebajikan akan selalu menang, meskipun jalannya berliku-liku. Dan penemuan jalan berliku-liku itu adalah proses pendewasaan dan pematangan yang tidak sekejap sebagaimana mantra. Proses itu adalah kombinasi dari kesetiakawanan, kebijaksanaan, hasrat belajar yang menyala-nyala, keberanian tanpa kata takut, serta sikap lurus hati dan bening yang diasah para guru yang bijaksana. Itu yang saya temukan dalam kisah Harry Potter.

Kita melihat dunia Harry Potter sebagai sebuah dunia yang terus tumbuh dan membesar. Hampir setiap novel selalu menyisipkan teka-teki dan kejutan-kejutan. Mulai dari hewan-hewan aneh hingga karakter baru tentang penyihir yang simpatik, ataupun penyihir yang nampak jahat namun memiliki hati yang bening hingga menjadi telaga buat Harry menemukan keberanian dan kebijaksanaan.

Sebenarnya, kisah itu tidaklah seberapa istimewa. Kita sering menemukannya dalam kehidupan sehari-hari, dalam kisah para rahib, atau tuturan tentang para rasul atau orang suci yang menyiapkan dirinya untuk menggempur ketidakadilan. Kisah itu tersimpan dalam setiap fragmen kehidupan termasuk tercatat dalam manuskrip kuno; bahwa setiap kebajikan akan selalu menemukan kaki-kakinya untuk bergerak. Kelihatannya simpel, namun betapa tidak mudahnya menegakkan itu dalam kehidupan sehari-hari. Di saat agama bermunculan, justru moralitas seakan bertumbangan. Tapi kisah itu tetap penting untuk menunjukkan bahwa kebajikan harus tetap hadir, apapun resikonya.

Semua kisah itu juga mengajarkan kita bahwa meskipun sebuah pesan bijak bisa saja datang, namun manusia selalu punya kehendak memilih; apakah memilih mejadi seorang penjahat ataukah seorang pembawa kebaikan. Setiap pilihan senantiasa membawa konsekuensi dalam kehidupan. Dalam kisah Harry Potter, para penyihir hidup dalam dunia yang juga selalu bergerak. Dalam situasi ini, seorang penyihir muda bersama teman-temannya menempa dirinya dalam satu kawah pembelajaran. Harry bukanlah yang terbaik di situ. Justru ia adalah remaja yang meledak-ledak, sering merasa hebat dan dirayapi setitik keangkuhan.

trio pemeran Harry Potter

Tapi ia memiliki banyak sahabat dan guru-guru yang serupa perisai baja melindungi dirinya, dan menjadi kekuatan yang seperti air bah dan menjebol. Ia belajar banyak hal, mengeliminasi keangkuhan tersebut, dan menemukan kristal-kristal cinta kasih yang menyerap keangkuhan. Harry menemukan kedewasaan dalam dekapan cinta kasih yang seperti selubung cahaya. Bersama sahabatnya, Harry adalah tim yang lengkap. Ia mendapat amunisi kecerdasan dan keberanian hingga memungkinkannya menjalani misi berbahaya untuk menegakkan kebenaran. Bersama sahabat, guru, serta orang terkasih, ia menemukan selubung cinta, sesuatu yang menjadi senjata dan melindunginya dari segala kemungkinan, menjadi kekuatan yang tampak tampak hingga luput dari pantauan Lord Voldemort sang musuh abadi. Dan kekuatan cinta pulalah yang kemudian mengalahkan sang musuh abadi. Ah…. betapa ajaibnya imajinasi, dan kekuatan cinta dalam kisah ini.

Sebuah Kisah yang Tumbuh

Selain kisah yang mempesona, saya rasa kisah ini adalah sebuah kisah yang tumbuh dan membesar. Saya pertama membaca kisah ini pada tahun 1998, saat terdaftar sebagai mahasiswa semester tiga di satu perguruan tinggi negeri di Makassar. Sejak pertama mmbaca kisahnya, saya seperti tersihir untuk mengikuti lanjutan serialnya. Selama lebih sepuluh tahun, saya menunggu lanjutan serialnya lalu menebak-nebak kelanjutan kisahnya. Kisah ini pulalah yang membuat saya pertama mengenal internet, mencari informasi tentang kelanjutan kisah, hingga bergabung dengan komunitas maya yang sering mendiskusikan novel ini.

Bisakah anda bayangkan, selama sepuluh tahun pemikiran saya selalu ditumbuhkan oleh kisah ini. Bahkan setiap kali melihat sampul sebuah buku Harry Potter, saya selalu teringat kejadian serta suasana hati saat pertama membaca buku ini. Sungguh ajaib sebab buku ini serupa buku harian Tom Rieddle --dalam Harry Potter 2—yang menyimpan catatan pengalaman hidup seseorang. Buku-buku Harry Potter serupa pensieve kepunyaan Dumbledore, serupa genangan kesan yang terus berputar dan menjadi rekaman atas pengalaman kita yang seperti film-film berisi kejadian dan pengalaman yang kita jalani. Saya bisa mengisahkan banyak hal, mengingat kejadian penting dalam hidup saat melihat buku tersebut. Kisah Harry Potter ibarat soundtrack dalam banyak episode kehidupan saya dan keluarga.

Saudara sayapun juga pencinta Harry Potter yang selalu berebut untuk membacanya. Bahkan ketika mulai pacaranpun, pacar saya seorang penggemar Harry Potter yang pernah memaksa saya untuk ke sebuah mal di tengah malam demi peluncuran buku Harry Potter and The Half Blood Prince. Pacar saya –kini sudah jadi istri—menjalani masa kecil, remaja, dan dewasa bersama kisah ini. Ia menjadi fans setia dan setiap tahun membaca ulang kisah ini dan menyaksikan filmnya.

sepuluh tahun silam

Saya dan keluarga tumbuh dewasa dalam balutan kisah ini, dalam kemurkaan pada kejahatan seorang penyihir jahat, dalam setiap inchi pertarungan kebajikan dan kemungkaran yang serupa kilatan cahaya dari tongkat sihir, dalam tatap bijak dan kedewasaan para penyihir yang menemukan kesempurnaannya dalam setiap fragmen kehidupan. Saya berani bertaruh bahwa saya dan istri tidaklah sendirian. Ada begitu banyak orang yang menemukan masa remajanya yang tumbuh dalam kisah ini, dalam setiap lembaran kisah tentang pencarian nilai kepahlawanan dan kedewasaan dalam kisah ini.

Saya bahagia karena tumbuh dalam kisah yang mendewasakan, menyalakan sesuatu dalam diri kita bahwa di balik setiap patahan kejadian, selalu saja ada pesan bijak yang mesti ditemukan. Dan jalan panjang menemukan kebenaran serupa jalan pedang yang menerabas setiap ilalang kejahatan, jalan pedang yang memotong ketidakdewasaan, serta menumbuhkan mawar cinta kasih. Bukankah ini adalah esensi kehidupan itu sendiri?



Jakarta, 20 November 2010

3 comments:

  1. Mantap bang Yus. Sayangnya, saya tidak tumbuh besar bersama dengan cerita Harry Potter. Saya anak kampung yang tumbuh di tengah rimba raya dongeng bijak pengantar tidur yang merupakan karya nenek moyang sendiri. Meski demikian, gaya tutur dan pesan-pesan bijaknya juga seperti sepasang sayap yang menerbangkan imajinasi hingga batas terjauh yang dapat digapai. Mungkin dongeng itulah Harry Potter saya yang mengilhami saya untuk terus penasaran dengan kisah2 seperti Harry Potter abad 21 yang sekarang ini menyihir jutaan rakyat Indonesi, tidak saja di Jakarta tapi juga di suluruh pelosok tanah air.

    ReplyDelete
  2. saya juga merasakan hal yang sama Mas...
    saya juga tumbuh bersama Harry Potter dan benar2 bersyukur bisa mengenal tokoh itu selama bertahun-tahun. Secara pribadi saya sangat menikmati imajinasi luar biasa saat membaca bukunya dibanding menonton filmnya. Filmnya, meski bagus, sudah memudarkan ingatan saya akan imajinasi luar biasa itu tadinya...sedih juga.

    ReplyDelete
  3. keren..
    saya berpikir hal yang sama..
    seri harry potter serupa peti harta karun, selalu memberikan hal baru setiap kali dibaca ulang..
    buku yang tumbuh bersama karakternya,.. dari kisah anak-anak berubah menjadi kisah dewasa yang penuh kebijaksanaan.

    ReplyDelete

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...