Mengapa Unhas Suka Tawuran?

KEMARIN, mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) tawuran lagi. Publik luar banyak yang mencibir. Saya melihat banyak orang yang mencaci mahasiswa Unhas melalui fesbuk. Malah, banyak pula para alumni Unhas, yang malu dengan tindakan tersebut, termasuk mantan wapres Jusuf Kalla. Katanya, tindakan itu justru mempermalukan para alumni. Padahal, tawuran yang ada di Unhas adalah tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dan --boleh jadi—dimulai sejak generasi mereka. Mungkin anda tak percaya. Tapi, hampir setiap tahun selalu ada tawuran di Unhas.



Pada awal tahun 2000, saya mengemban amanah sebagai presidium ketua senat mahasiswa Fisip Universitas Hasanuddin (Unhas). Bersama beberapa sahabat, saya berkomitmen untuk memberantas tawuran yang setiap tahunnya selalu melibatkan mahasiswa Fisip dan Teknik. Kami memang bekerja keras. Tapi, sepanjang periode kepengurusan, saya jadi paham bahwa mengatasi tawuran tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mustahil pula mengatasi tawuran dengan hanya menyalahkan mahasiswa semata. Ini logika para petinggi kampus yang jelas-jelas keliru. Kita mesti melihat tawuran secara proporsional sehingga penanganannya bisa lebih holistik. Baik mahasiswa, dosen, maupun pejabat kampus harus sama-sama berbesar hati kalau semuanya punya ‘kontribusi’ pada lahirnya tawuran. Jangan hanya menuding mahasiswa saja.

Dulu, sewaktu pertama masuk menjadi mahasiswa Unhas, saya heran juga mendengar berita tentang anak Unhas yang suka tawuran. Kedengarannya aneh dan agak primitif. Saya kadang malu dengan tradisi tawuran ini. Masak sih, para mahasiswa yang katanya intelektual muda suka tawuran. Saya sendiri sering tidak percaya, kok sampai harus tawuran. Apa gak malu sama masyarakat di luaran sana. Apalagi, sebab-sebab tawuran adalah hal-hal yang mungkin sepele bagi sebagian orang. Masalah ceweklah, masalah saling ejek, hingga masalah ada teman yang dipukul. Masalah seperti itu bisa jadi api besar yang kemudian membakar solidaritas kolektif. Massa kemudian ramai-ramai menyerbu fakultas lain. Tapi itulah faktanya.

Setelah menjadi mahasiswa Unhas, saya baru paham bahwa tawuran itu tidak benar-benar murni tawuran. Memang sih, mereka saling lempar batu, saling merusak gedung perkuliahan sendiri, juga saling ancam dengan badik terhunus. Tapi, setelah selesai peristiwa tawuran, mereka kembali berbaur sama-sama, seolah tanpa masalah. Mereka kembali menaiki angkutan umum yang sama. Bahkan saat di pondokan (kompleks kos-kosan mahasiswa), dua kelompok mahasiswa --yang sebelumnya bertikai itu-- saling bercerita dengan gagah bagaimana aksinya ketika melempari mahasiswa lain. Mereka menyebutkan posisinya saat tawuran, serta "prestasinya" saat berhasil menikam atau mengancam mahasiswa beda fakultas. Mereka saling bercerita dengan penuh kebanggan, padahal sejam sebelumnya mereka adalah mahasiswa yang saling bertikai, saling konflik dengan badik terhunus.

Ini jelas berbeda dengan tawuran di beberapa kampus swasta yang kadang saling kejar sampai pondokan mahassiwa. Kalau di Unhas, hanya saat tawuran saja. Setelah itu situasinya damai dan saling canda. Meskipun besoknya saat ke kampus, kembali lanjut tawuran. Itulah kampus Unhas.

Banyak mahasiswa Unhas yang berseloroh bahwa tawuran adalah bagian dari kalender akademik sebab, biasanya terjadi setiap bulan September. Pada bulan itu, mahasiswa merasa tertekan dengan tugas-tugas perkuliahan yang menggunung, dengan tuntutan mengerjakan skripsi yang berat. Melalui tawuran, mereka sejenak terbebaskan dari rutinitas tugas itu. Kampus akan segera diliburkan, kemudian mereka bisa istirahat sejenak.

Melalui tawuran, energi besar yang mereka keluarkan akan tersalurkan. Mereka kemudian merasa plong dan terbebaskan. Logikanya sama dengan seorang kawan yang lagi stres, dan sengaja pergi nonton pertandingan PSM di Stadion Mattoanging. Ia bebas teriak, mengumpat, dan memaki-maki. Sepulang nonton pertandingan sepakbola, ia merasa plong dan bebas stres. Logika yang sama juga berlaku dengan mahasiswa yang tawuran. Tertekan oleh tugas perkuliahan, hasrat berorganisasi yang tidak tersalurkan (karena kebijakan dropout yang kian ketat), serta kurangnya aktivitas kemahasiswaan yang diizinkan pihak kampus, menjadi benih-benih yang menyemai suburnya tradisi tawuran. Ini masih diperparah dengan arogansi pengajar yang merasa sok hebat, serta tiadanya katup-katup yang bisa mencairkan hubungan antar fakultas. Semua memperparah tradisi tawuran.

Satu hal yang juga perlu ditambahkan yakni arogansi ilmu pengetahuan. Mestinya ilmu harus dilihat sebagai proses perjalanan untuk menemukan pengetahuan yang kemudian mengasah kebijakasanaan. Tapi di Unhas, ilmu menjadi terkotak-kotak dan masing-masing merasa lebih hebat. Bukan rahasia lagi kalau di kampus Unhas, mereka yang kuliah di ilmu-ilmu teknik seperti eksak merasa lebih superior ketimbang yang kuliah di ilmu sosial. Kuliah di eksak seolah identik dengan kecerdasan dan kehebatan, semenatra yang kuliah di ilmu-ilmu sosial adalah kelompok yang gagal bersaing. Saya sendiri prihatin dengan kondisi ini. Apalagi, di kampus Unhas, filsafat ilmu tidak menjadi mata kuliah wajib. Pantas saja jika mahasiswa dan para pengajafrnya terkotak-kotak dalam cara berpikir yang sempit dan tiddak melihat relasi antar bidang pengetahuan. Inilah faktanya.

Banyak juga publik yang mengaitkan tawuran itu dengan situasi politik di Sulsel. Pada tahun 1992, gedung laboratorium milik Fakultas Teknik Unhas terbakar. Kata banyak orang, tawuran itu terkait dengan situasi jelang pemilihan Gubernur Sulsel, di mana saat itu Rektor Unhas Prof Basri Hasanuddin menjadi kandidat yang terkuat. Tapi, saya tidak terlalu sepakat dengan arumentasi tentang situasi politik ini. Logika ini sama saja dengan memposisikan mahasiswa hanya sebagai pion yang mudah dikendalikan. Saya lebih sepakat dnegan argumentasi bahwa terjadi banyak masalah di tingkat internal dalam kampus. Dan tawuran hanyalah satu kanalisasi untuk menyalurkan energi mahasiswa. Tabik....


Pulau Buton, 18 Februari 2010
Pukul 09.48

7 comments:

  1. selain sebagai kanalisasi kak yus, bisa juga sebagai ajang pencarian atlit porda untuk cabang olahraga
    lempar. hehehehehe...

    ReplyDelete
  2. hehehe.. mungkin untuk cabang olahraga lempar mangga...

    ReplyDelete
  3. kalau itu, ada ji ukm yang bersedia menampung...
    ukm lempar mangga (hahahaha....pasti ingat ki beberapa tahun lalu ilo sempat "melantik salah satu ukm di unhas menjadi UKM lempar mangga"

    ReplyDelete
  4. setuju !! mesti ada UKM Lempar untuk menampung hobi anak unhas yang suka melempar... hahahaha

    ReplyDelete
  5. salut bang... analisanya, saya sendiri sering mengalami hal seperti yang kita bilang, setelah tawuran, balik ke pondok kita kembali bercanda ria, walaupun tadinya saling memaki atau lempar. mungkin bisa ditambah, selain masalah beban akademik dll, juga ada hal yang mungkin menjadi penyebab juga yakni masalah atmosfir akademik di kampus tercinta kita yang kurang mendukung, kering or garing gitue. Padahal setahu saya mahasiswa cerdas di unhas tidak kurangji banyaknya, cuma itu kalo dikampuski terasa kurang sekali kegiatan2 yang sifatnya akademis/kelimuan selain kuliah... yah mungkin turunan senior2 dosen yang profesornya wah banyaknya tapi tidak menggigit, miskin karya kalo nda bisa dibilang nol besar. makanya saya tidak heranji klo unhas tidak masuk 50 besar PT terbaik di Indonesia. mungkin para petinggi termasuk guru2besar, doktor2 alumni LN harus berpikir ulang, bgmn spy bisa berkaya sehingga bisa jadi cermin buat mahasiswa. terutama kk rektor yang bercita2 membawa unhas jadi univ riset, worldclass univ... jauh panggang dari api kalo sekarang2 tidak bisa berubah... Perubahan bukanlah tentang "bisa atau tidak", melainkan "mau atau tidak"... bukan begitu Bang.. Tabe...

    ReplyDelete
  6. Tapi sekarang yang tawuran tidak hanya eksak vs sosial, tapi eksak vs eksak. Entah siapa yg merasa superior dan inferior kalau sudah begini. Atau ini fenomena baru dimana latar belakang ilmu tidak lagi menjadi alasan untuk tawuran. Bagaimana kanda?

    ReplyDelete
  7. Anonymous4:31 PM

    Mahasiswa tawuran??Kaya apa jadinya,kalo tawuran ja d bangga2in,,konyol ja lihat pemuda2 yg katanya cerdas,intelektual,menyuarakan aspirasi rakyat,,ga taunya cm sekumpulan anak2 Labil,,,memalukan,,

    ReplyDelete

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...