Pantai Nirwana yang Semrawut

Dua hari yang lalu saya rekreasi ke Pantai Nirwana bersama semua anggota keluarga. Kami bersama keponakan kecil, yang setiap hari selalu teriak-teriak menyebut “laut.” Tapi anehnya, begitu tiba di pantai, sang ponakan tiba-tiba ketakutan menyaksikan ombak yang demikian besar. Kalau diajak ke pinggir laut, ia langsung ketakutan. Apalagi ketika ombak berdebur dan memecah di tepi pantai.



Saya sangat senang menyaksikan pantai yang begini bagus, pasir putih yang indah, pohon-pohon kelapa yang asri. Di Kota Makassar, saya tidak menemukan pantai seindah ini. Namun sayangnya, keindahan itu terganggu oleh pemandangan pantai yang tidak ditata dengan apik. Saya agak terganggu saat mengedarkan pandang ke sekeliling.

Pantai Nirwana di Kota Bau-Bau memang sudah tidak seindah namanya. Bukan karena pasirnya yang tidak putih lagi. Bukan juga karena lautnya yang tidak biru lagi. Namun semata-mata karena pantai itu tidak dikelola dengan profesional. Suasananya serba semrawut. Malah kotor di beberapa tempat. Pantai ini tak terurus. Banyak warga yang membikin rumah di situ, membuka warung dan menyewakan ban untuk pelampung. Warga juga secara kreatif membangun lapak-lapak dari bambu yang disewakan pada siapapun yang datang ke situ. Andaikan rapi, mungkin tak mengapa. Tapi yang saya saksikan adalah lapak-lapak yang semrawut, tidak beraturan, dan nampak kumuh. Saya tidak nyaman menyaksikannya.

Sepanjang berrekreasi di pantai ini, saya jadi bertanya-tanya, mengapa pantai ini tidak dikelola dengan baik. Padahal jika ditata dengan apik, pastilah akan lebih nyaman bagi para pengunjung. Pandangan mata akan menawan, sehingga setiap orang bisa benar-benar merasakan rekreasi yang akan melepaskan semua kepenatan berpikir. Bukankah itu inti dari kegiatan rekreasi?

Selain rasa nyaman, tentunya penataan yang baik akan membuat pantai ini lebih fungsional bagi masyarakat sekitar. Pantai ini akan menjadi urat nadi ekonomi mereka sebab banyaknya pengunjung itu akan memberikan tambahan penghasilan bagi mereka. Pantai itu akan menjadi magnet yang bisa mengundang banyak orang. Yah, saya hanya warga biasa. Semoga saja ada yang menggubrik keresahan saya ini.(*)
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...