Kota Sengkang dan Ironi Sebuah Identitas


SAAT pertama memasuki Kota Sengkang, Sulawesi Selatan, kita akan menyaksikan sebuah gapura besar bertuliskan Selamat Datang di Kota Sengkang, Kota Sutera. Tulisan tersebut semacam pemberitahuan dari masyarakat bahwa kota yang sedang dimasuki ini adalah sentra produksi sutra di Indonesia. Namun, apakah benar Sengkang identik dengan sutra?

Saya rasa tidak juga. Bicara masalah tenun, hampir semua daerah di Sulsel menyimpan khasanah pengetahuan tentang tenun. Teknologi menenun sudah diketahui masyarakat sejak terjadi persentuhan kebudayaan dengan Melayu. Hal yang membedakan antara Sengkang dan daerah lainnya adalah karena di wilayah inilah sutra diproduksi secara massif jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Sulsel. Ketika orang Bugis mulai terintegrasi dengan kapitalisme dunia, maka sutra menjadi komoditas yang diperdagangkan ke luar daerah.

Identitas Sengkang sebagai kota sutra adalah identitas yang di-create dari atas dan menunjukkan pengaruh globalisasi. Benang sutranya dari Cina melalui Singapura, diproduksi secara tradisional oleh orang Sengkang, dan dijual kembali ke Hongkong. Ini adalah fenomena globalisasi dan tarik-menarik antar aktor.

Dalam berbagai catatan sejarah, Wajo dikenal sebagai basisnya para pengusaha Bugis yang kondang ke mana-mana. Bahkan, beredar pula mitos yang menyebutkan tentang Bosowa (Bone, Soppeng, Wajo). Bone identik dengan keberanian dan tempat lahirnya para calon pemimpin, Soppeng identik dengan gadis-gadisnya yang cantik, dan Wajo identik dengan para saudagar atau pedagang yang tersebar ke mana-mana. Nah, Kota Sengkang sebagai ibukota Kabupaten Wajo adalah basisnya para pedagang yang menggerakkan iklim kapitalisme Bugis tersebut.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, sutra adalah komoditas yang dibawa para saudagar tersebut ke luar daerah dan kemudian kembali sambil membawa komoditas lain untuk diperdagangkan di tanah Bugis. Siklusnya seperti itu dan terjadi secara berulang-ulang. Namun, ada satu hal yang ironik dan muncul belakangan ini. Betapa tidak, sutra yang menjadi kebanggaan warga Sengkang itu, sepertinya bakal menjadi mitos. Sutra itu mulai langka di pasaran, dan kalaupun ada, sudah tidak murni dihasilkan dari tangan-tangan penduduk Sengkang sendiri. Lantas, apa masih pantas Sengkang menyandang gelar sebagai kota sutra?

Sebelum ke Sengkang, saya mendapat informasi dari teman di UI bahwa identitas kota sutra itu seyogyanya dipertanyakan ulang. Benang sutra untuk menenun kebanyakan datang dari Surabaya, yang juga didatangkan dari Cina melalui Singapura. Penduduk Sengkang hanya menenun saja, tanpa memproduksi benang tersebut. Artinya, identitas sebagai kota sutra tersebut adalah konstruksi yang sifatnya dari atas, tanpa berpijak pada realitas yang sesungguhnya.

Memang, saat berkunjung ke Kecamatan Sabbangparu –sentra produksi benang sutra—saya sempat melihat langsung kebun daun murbei –sebagai makanan ulat sutra—serta melihat mesin yang mengolah kepompong sutra menjadi benang. Tetapi produksi benang sutra tersebut sangat rendah. Mesin produksi itu sudah mulai tua dan aus sebab dibeli dari Jepang sejak tahun 1986 lalu. Sementara para petani ulat sutera justru tidak setiap saat mengembangbiakkan ulat. Lebih banyak saat di mana mereka tidak mengembiakkan ulat. Pada musim tanam jagung, mereka akan menanam jagung sebab harganya lebih tinggi daripada kepompon ulat sutra. Demikian pula pada musim lainnya. Mereka hanya bertani ulat sutra hanya pada saat-saat tertentu saja. Tidak setiap saat.

Kelangkaan kepompong sutra jelas berpengaruh pada kelangkaan produksi benang sutra. Menurut ibu yang diserahi tanggungjawab mengelola mesin tersebut, terakhir produksi benang adalah beberapa bulan lalu. Rencananya, ia akan kembali memperoduksi benang usai Lebaran nanti. Itupun, ia tidak terlalu yakin apakah bisa kembali memproduksi benang. Dalam dialog dengan pengelola mesin tersebut, terungkap kalau mesin pengolah kepompong itu hanya satu-satunya di Sulawesi Selatan. “Dulunya ada empat mesin di Sulsel. Tapi, semua mesin sudah rusak dan tinggal di sini yang masih bisa bertahan,” katanya.

Aspek Pemasaran

Itu adalah dari sisi kapasitas produksi benang. Bagaimana halnya dengan produksi sarung? Berdasarkan wawancara dan kunjungan ke sejumlah penenun, ternyata produksi sarung sutra hanya dikelola oleh industri rumah tangga. Hingga kini, belum ada satupun industri besar yang tertarik untuk mengelola sarung sutra. Rata-rata dikelola keluarga dengan tenaga kerja yang tidak sampai 10 orang Kebanyakan, sarung itu ditenun di kolong rumah oleh ibu dan anak perempuan. Produksi sarung ini juga masih untuk mengisi waktu senggang dan dikelola secara tradisional. Alat tenunnya masih sederhana dan belum dimodernkan.

Kemudian, dari sisi pemasaran, produksi sutra Sengkang sangat bergantung pada permintaan pabrik-pabrik di Pekalongan. Pabrik tekstil di pekalongan itu seolah memiliki otoritas untuk menentukan seberapa banyak produksi sutra sekaligus mempermainkan harga. “Pernah kita buat banyak-banyak, tiba-tiba Pekalongan bilang harganya lagi jatuh. Kita tak bisa berbuat apa-apa,” kata seorang penenun. Posisi Pekalongan ini dikuatkan oleh majunya industri serta penguasaan pada segala aspek tentang sutra.

“Kita di sini tidak tahu tentang standar kualitas sutra yang baik. Sementara di pekalongan, kualitas kontrol itu sangat diperhatikan karena mereka tahu bagaimana menilainya, “ kata penenun tersebut.

Kelebihan Pekalongan karena memiliki sekolah tekstil dengan para pengajar yang paling memahami masalah tekstil. Jadi, meskipun identitas Sengkang sebagai kota sutra, namun mereka tidaklah mengetahui software dari sutra tersebut. Mereka hanya berstatus penenun. Itupun para penenun tersebut adalah mereka yang sudah berusia lanjut. Bukan lagi mereka yang muda dan berpikir bahwa penenun adalah pilihan tepat untuk masa depan.(*)

Nanti disambung pada kesempatan lain.

3 comments:

  1. Assalamu'alaikum wr wb, salam kenal...suka banget postingannya.

    ReplyDelete
  2. Salam kenal yah mas
    Gimana ya cara menuju Sengkang kalo dari Makassar? Kalo naeik angkutan umum carinya di daerah amna?
    Makasi

    ReplyDelete
  3. gampang banget masuk saja di terminal mobil lalu tanya disana mobil jurusan Sengkang Pasti ditahu itu.

    ReplyDelete

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...