Inspirasi Kuliah Terakhir dari Randy Pausch


Resensi film yang sangat menarik dari adik Atun melalui blog http://www.rahmitune.blogspot.com/. Sungguh inspiratif!

“Jika kita harus mati besok apa yang kita inginkan sebagai pusaka kita?” Semua orang pasti akan menanyakan hal itu pada dirinya. Semua manusia pasti berharap bisa memberikan bagian dirinya yang terbaik untuk orang-orang yang dicintainya. Prof Randy Pausch melalui film The Last Lecture juga berusaha menjawab pertanyaan itu.

Film ini adalah rekaman kuliah yang dibawakan oleh Randy Pausch, seorang profesor di bidang ilmu komputer, di Universitas Carnegie Mellon. Saat saat membawakan “kuliah” tersebut, Randy terserang 10 tumor di lever dan diperkirakan akan meninggal 4 sampai 6 bulan lagi. Sungguh mengejutkan dan mengharukan karena dia tidak memanfaatkan kesempatan untuk berkeluh kesah tentang penyakitnya tapi justru memberikan pesan ceria tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup tanpa penyesalan.

Rekaman ini bercerita tentang impian-impiannya di masa kecil dan usaha-usaha yang dia lakukan untuk mencapainya. Rasanya sungguh luar biasa saat mengetahui bahwa impian di masa kecil bisa membentuk keseluruhan diri kita. Begitu banyak hal-hal kecil yang terkadang tak berarti, tapi jika direnungkan kembali ternyata berarti banyak bagi dirimu.

Rendy Pausch membagi impian masa kecilnya menjadi lima bagian yang jika sepintas lalu merupakan impian yang benar-benar aneh dan mungkin sulit terwujud. Dengan berbagai cara, dia bisa mewujudkan kesemuanya. Meskipun hasilnya tidak seperti yang dia harapkan, tapi dia memetik banyak pelajaran bermanfaat dari semua itu. Semuanya adalah pelajaran yang membuat hidupnya terasa lengkap meskipun singkat.

Dia menganggap masalah sebagai tembok penghalang yang harus dilewati dengan bermacam cara. Tidak mesti dihancurkan, tapi juga bisa diputari. Misalnya dalam salah satu impian masa kecilnya dia bermimpi ingin bermain di liga sepakbola nasional. Ketika dia mulai berlatih, sang pelatih tidak henti menghardiknya. Lelah dan sedih, tapi terhibur saat di akhir sesi latihan. Salah seorang pelatih mengatakan, “Itu bagus. Kalau kau membuat kesalahan dan tidak ada yang menegurmu lagi, itu berarti mereka sudah menyerah.”

Randy tersentuh. Memang, itu hal yang kelihatannya sepele. Namun, hal tersebut membuatnya menyadari bahwa mungkin di saat itulah dia mengerti tentang apa arti peduli dan apa arti kritik yang membangun. Pada akhirnya masuk liga menjadi hal yang tak penting lagi karna toh dia sudah memenangkan pelajarannya.

Akhirnya, sebuah pertanyaan kembali terulang. “Jika kita harus mati besok apa yang kita inginkan sebagai pusaka kita?” Randy Pausch memberikan The Last Lecture sebagai jawabannya. Dia mewariskan pusaka yang sangat berharga, dan bukan hanya untuk anak-anaknya tapi juga untuk semua orang. Juga untuk saya yang notabene tidak mengenalnya.

Melihat rekaman ini membuat saya mengubah cara pandangku terhadap masalah. Pada akhirnya inti The Last Lecture bukan tentang mewujudkan impian, melainkan bagaimana cara kita menjalani hidup. “Jika kita menjalani hidup dengan cara yang benar maka kehidupan akan terus akan berjalan. Impian–impian itu yang akan mendatangi kita”. Iya nggak




0 komentar:

Posting Komentar