Seorang Ibu di Senayan City

 


Di satu resto di Senayan City, ibu itu duduk sendirian. Dia mengenakan kain sarung yang warnanya agak pudar. Saya memperhatikan dirinya yang terlihat sedang menunggu.

Saya mempraktikkan ajaran Malcolm Galdwell untuk berani berbicara dengan orang asing demi menyerap pelajaran dan pengalaman baru. Talking to stranger. Saya pun menyapanya. Dia pun merespon. Aksen bicaranya khas Bugis Makassar. Saya kegirangan.

Dia bercerita sedang menunggu anak dan cucunya yang singgah di toko mainan. Rupanya dia punya tiga orang anak. Anaknya yang menemaninya sekarang adalah dokter spesialis di RSCM. Dia sudah lulus S3 di satu kampus di Jepang.

“Wah hebat Bu,” kataku.

“Iye. Dia anak bungsu. Kakaknya kerja di perusahaan IT di Singapura. Dia ingin saya pindah ke sana. Tapi saya sulit meninggalkan Indonesia,” katanya.

“Kenapa Bu?

“Saya tidak bisa tinggalkan rumah yang dibangun almarhum bapaknya,”

Saya lihat dia terdiam. Dia sesaat tergenang dalam samudera kenangan. Saya bayangkan dia mengingat keping demi keping kenangan bersama orang yang dicintainya.

“Kalau kakaknya yang paling tua?”

“Oo. Adaji. Dia nelayan. Diami yang temanika di kampung,” katanya.

Satu jadi dokter spesialis. Satu lagi kerja di perusahaan teknologi. Kakaknya cuma seorang nelayan. Rasanya aneh.

“Pasti Ibu merasa gagal yaa karena dia beda sama adiknya,”tanyaku sok tahu.

“Tidak ji. Justru dia yang paling hebat. Dia paling dihormati dan disegani di keluarga. Kalau bukan dia, nda mungkin adik-adiknya bisa sukses. Diami yang biayai semua adiknya,” katanya.

Tanpa saya minta, ibu itu bercerita. Anaknya yang sulung itu tadinya kuliah di satu kampus terbesar di Makassar. Saat suami ibu itu meninggal, anak sulungnya memilih pulang kampung dan meninggalkan bangku kuliah.

Dia bekerja serabutan sebagai nelayan untuk membiayai sekolah adiknya dan menafkahi keluarga. Dia meninggalkan zona nyaman untuk memikul tugas sebagai kepala keluarga. Bahkan dia lama menikah karena ingin memastikan semua adiknya bisa mandiri.

Ibu itu lanjut bercerita dengan sebulir air mata menetes di pipinya. Anaknya itu bisa saja lari dari rumah dan bekerja untuk dirinya sendiri sembari kuliah. Tapi anak itu memilih jalan pedang untuk menyelamatkan semua orang. Dia abaikan kebahagiaan dirinya untuk menggelar karpet merah bagi kesuksesan dan kebahagiaan orang lain.

Saya mematung dengar kisah ibu itu. Setiap hari kita mendengar kisah orang sukses dan kaya raya. Kita bangga dan salut dengan mereka. Padahal, sejatinya mereka tak begitu hebat. Mereka hanya pencari uang di tengah belantara manusia yang juga berpikir serupa.

Orang yang benar-benar hebat adalah mereka yang bersedia mendedikasikan dirinya untuk melahirkan orang hebat. Orang seperti ini rela menjadi tanah gembur yang menumbuhkan tunas-tunas tanaman. Dia hanya menjadi tanah, tapi dia menumbuhkan bunga-bunga indah warna-warni, sayuran segar dan menyehatkan, juga pohon-pohon rindang.

Orang hebat rela menjadi lilin yang perlahan terbakar, namun menghadirkan cahaya terang bagi sekelilingnya. Dia hilang dan tak dikenali, tapi jejak cahaya yang dia hasilkan telah menerangi sekelilingnya.

Saya sedang melamun saat ada suara-suara kegirangan terdengar di kejauhan. Sejumlah kanak-kanak berlarian dan menciumi tangan ibu itu. Ibu itu beranjak bersama kanak-kanak ke sudut resto. Di sana, ada seorang lelaki tampan memandangnya dengan tatap penuh kasih. Mereka lalu beranjak meninggalkan resto.

“Jalanka dulu. Adami anakku. Mariki dii…”

Saya masih termenung saat dirinya terlihat sudah di kejauhan. Ceritanya masih membekas di sini, di sudut hati.

.

.

NB: Cerita ini murni fiksi. Dikembangkan dari satu versi cerita yang sempat viral di medsos.


1 komentar:

Anonymous said...

tapi saya punya kisah yg persis sama bang yus. tetangga di kampungku. kakaknya jadi petani dan membiayai adik2nya yg akhirnya sukses menjadi dosesn dan kepala pajak di makassar.

Post a Comment