Kasih Indonesia untuk INDIA

Buku Beras untuk India yang dipeluk Spoty, kucing cantik

Sahabat saya, Osa Kurniawan Ilham, menulis buku Beras untuk India. Saya belum pernah bertemu secara fisik dengannya, tapi interaksi kami sudah bilangan tahun. Dahulu, kami sama-sama aktif di Kompasiana. Kini, kami sama-sama peselancar medsos yang sesekali berbagi tautan.

Setahu saya, dia seorang insinyur alumnis ITS Surabaya. Pengalamannya panjang di dunia keteknikan, malah sudah lintas negara. Tapi dia sangat meminati sejarah. Dia menulis tema-tema yang menarik, dari sudut pandang rakyat biasa. 

Yang membuat saya kagum adalah dia tidak sekadar membaca dan menulis artikel. Dia merencanakan riset mandiri. Dia bersahabat dengan banyak sejarawan yang kemudian berbagi arsip dengannya. Dia mengambil kursus bahasa Belanda agar bisa membaca arsip.

Saya rasa, dia mengikuti jalan pedang atau passion-nya. Saya mengenal banyak akademisi yang melakukan kerja riset itu hanya demi proyek, demi mengincar kum lalu bisa naik pangkat. Malah banyak yang membayar jurnal-jurnal predator agar riset abal-abal diterbitkan.

Tapi Osa berbeda. Dia menjalani semua proses dengan sabar. Sejarah dan humaniora bukan bidang ilmunya, tapi dia punya ketekunan, kedisiplinan, serta kecermatan seorang sejarawan. Dia membaca peristiwa, lalu berusaha memahami konteksnya. 

Dia pun berbagi hasil petualangan membaca arsip dan menganalisis kepingan kejadian itu dengan orang lain. Dia menulis buku yang menarik, tidak saja membahas satu peristiwa, tapi menarik konteks pada rentang masa yang jauh, sejak era kerajaan-kerajaan di mana India dan Indonesua punya hubungan uat, hingga masa-masa merebut kemerdekaan.

Dalam buku Beras untuk India, dia menulis kisah dibalik pengiriman beras 500 ribu ton pada tahun 1946, saat Indonesia masih berupa bayi, saat India belum merdeka. Dalam beberapa buku sejarah, peristiwa ini sering hanya ditulis satu atau dua paragraf. Padahal, ada banyak kejadian, situasi, dan petualangan di balik kisah itu.

Buku ini melihat hal itu secara holistik. Bukan cuma soal beras, tapi menyingkap relasi dua negara yang terbentang sejak lama. Di masa kemerdekaan, keduanya senasib sepenanggungan, kemudian sama-sama bergerak untuk kemerdekaan. Keduanya punya solidaritas dan ikatan yang kuat.

Berkat buku ini, saya baru tahu bahwa ada banyak orang India yang punya andil dalam kemerdekaan kita. Mereka datang sebagai prajurit yang dibawa sekutu, tapi setelah tiba di Indonesia, mereka menolak berperang. Mereka mengingat negerinya yang juga dijajah. Mereka melihat kesamaan nasib, juga kesamaan agama.

Beberapa orang India membantu republik kita. Ada kisah mengenai Biju Patnaik, seorang pilot pemberani yang menerbangkan Bung Karno dan Bung Hatta dalam kondisi perang. Ada juga cerita mengenai Kunandas T Daryanani, lebih dikenal sebagai TD Kundan, yang menjadi pendukung republik kita, yang setelah meninggal dikuburkan di Taman Makam Pahlawan, Surabaya.

Saya terkesan pada kepiawaian para pendiri bangsa kita yang membangun jaringan internasional. Bung Karno dan Bung Hatta bersahabat dengan Pandit Jawarhalal Nehru, founding father India bersama Mahatma Gandhi. Bahkan Hatta ketika berkunjung ke India mendapat julukan “Gandhi of Java.”

Dalam banyak kesempatan, Nehru menjadi pembela Indonesia. Dia mengecam Inggris yang mengirim tentara India ke Jawa. Bahkan Nehru meminta Inggris tidak mengirim tentara Gurkha untuk perang ke Indonesia.

Bung Karno dan Pandit Nehru

Lobi dan dukungan internasional sangat penting untuk satu negara yang baru berdiri. Jika tak ada dukungan internasional, kemerdekaan itu bisa dengan mudah direnggut. Para pemimpin kita menyadari benar hal ini. Saat Indonesia merdeka, banyak anak bangsa yang melobi dukungan internasional.

Di antaranya adalah sejumlah mahasiswa Indonesia di Mesir yang ikut melobi. Mereka memakai strategi agama agar dukungan diperoleh. Saat ditanya siapa pemimpin Indonesia, mereka menyebut nama Ahmad Sukarno, demi membangkitkan solidaritas Muslim.

Lobi ini memudahkan jalan bagi Agus Salim, diplomat kelahiran Koto Gadang, tanah Minang, yang dijuliki “the grand oldman” untuk mendapatkan pengakuan kemerdekaan dari negara Mesir, Suriah, Lebanon, Arab Saudi, dan Yaman. 

Pada 14 Agustus 1945, Agus Salim kembali ditunjuk sebagai delegasi Indonesia dalam sidang Dewan Keamanan PBB di Lake Succes, New York. Dia berpidato dengan memukau tentang kekejaman Belanda dalam agresi militer, yang kemudian membuahkan dukungan negara-negara anggota PBB.

Tahun 1946, dunia menoleh ke Indonesia saat pengiriman beras untuk bantuan ke India, negeri yang saat itu belum merdeka. Pengiriman beras itu menjadi strategi penting untuk meyakinkan dunia kalau Indonesia eksis. Bukan sekadar pernyataan solidaritas sebagai sesama bangsa terjajah, tapi bagian dari lobi tingkat tinggi.

Itu adalah pernyataan tentang republik yang berdaulat, serta punya andil untuk “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.”

Di dalam negeri, pengiriman beras ini juga memiliki banyak lika-liku menarik. Mulai dari strategi mengumpulkan beras dari petani di berbagai daerah, bagaimana proses distribusi, hingga bagaimana menghadapi hadangan tentara Belanda.

Banyak pihak terlibat dalam pengiriman beras ini. Mulai dari petani, buruh pelabuhan, menteri, hingga pelajar Indonesia yang ada di India. Tahun 1947, ada 10 kapal yang datang ke India membawa 54.100 ton beras. India pun membalas budi kepada kita melalui pengiriman tekstil dan obat-obatan.

Buku ini menjadi kepingan penting yang menjelaskan bahwa kemerdekaan kita bukanlah hasil kerja satu kelompok atau satu kaum, tapi hasil dari proses sejarah yang melibatkan banyak orang. 

Banyak orang dan banyak kelompok punya saham pada berdirinya republik ini. Bukan semata pribumi, tetapi juga keturunan Cina, India, Jepang, hingga peranakan Eropa ikut memberi kontribusi. Bahkan banyak orang Belanda yang punya andil untuk membantu lahirnya republik ini, sejak gagasan-gagasan nasionalisme menetas di benak para anak bangsa.

Maka, pembangunan seyogyanya menjadi proses yang inklusif dan seharusnya bisa merangkul semua kalangan. Ibu pertiwi harus menjadi ibu yang memeluk semua kelompok, apapun latar etnik dan budayanya, demi membangun satu ikatan kebangsaan yang kuat.

Seusai membaca buku ini, saya merenungi banyak hal. Banyak ekonom sepakat bahwa masa depan adalah abad milik Asia. Bukan hanya Cina, tetapi India juga akan menjadi kekuatan global yang memainkan pengaruh besar. 


Kita punya modal sosial dan modal kultural yang kuat. Relasi India dan Indonesia adalah relasi yang sudah terbentang beberapa abad. Mulai dari era Kutai, Sriwijaya, hingga Majapahit. Bahkan jalur sutra juga terbentuk karena pedagang India mencari jalan untuk mendapatkan rempah-rempah. Bahkan di tahun 1955, Bung Karno dan Nehru menggelar Konferensi Asia Afrika yang menggetarkan dunia.

Saya membayangkan bangsa kita mengaktifkan relasi sejarah yang kuat dengan India, kemudian membangkitkan Jalur Rempah (Spice Route) sebagai satu lanskap budaya dan sejarah. Jalur ini bisa menjadi pengungkit kemajuan ekonomi, serta menunjukkan betapa harmonisnya hubungan yang dikelola menjadi bisnis di era modern. 

Jalur perdagangan itu bisa menjadi counter narasi atas Silk Road yang tengah dibangun Cina. Jika Cina tengah menggelar kampanye global mengenai Belt Road Initiative, maka kita pun bisa membangkitkan The Spice Route Initiative bersama India serta negara-negara lainnya untuk menjadi kekuatan dunia, yang menjadi rumah bersama bagi peradaban baru yang humanis.

Bersama India, kita akan kokoh.



2 komentar:

rahe mengatakan...

Maaf, mungkin ada typo sedikit kak, "menumpulkan" atau mengumpulkan ?, semoga tdk mengurangi maknanya.

Yusran Darmawan mengatakan...

Sudah dikoreksi kk. Thanks.

Posting Komentar