Anak Ruhani KANG JALAL

Kang Jalal

Di masa awal belajar menulis, saya berpikir bahwa semakin canggih pilihan kata, maka semakin hebatlah seseorang. Makin banyak istilah asing, makin cerdaslah seseorang. Semakin pusing membaca satu tulisan, semakin tinggi jelajah intelektual penulisnya.

Dulu, saya begitu terpesona melihat penulis memajang gelar doktor dan profesor di tulisannya. Padahal, sering kali, saya tak paham dia sedang membahas apa. Mungkin pikiran saya pendek. Tapi, kata Rocky Gerung, sering kali gelar bisa lebih panjang dari pikiran seseorang. Entah. 

Hingga suatu hari, saya membaca buku Islam Aktual yang ditulis Jalaluddin Rakhmat atau Kang Jalal. Saya terkesima dengan bahasa yang sederhana, namun dalam. Kalimatnya pendek-pendek. Dia menggunakan gaya bercerita, serupa kakek mendongeng di hadapan cucu yang terkantuk-kantuk. 

Seeingat saya, di buku Islam Aktual, ada beberapa cerita yang melekat di benak saya hingga kini. Di antaranya cerita tentang prajurit Amerika yang bunuh diri saat berada di kancah Perang Teluk. Dia bunuh diri bukan saat berperang, tetapi saat sedang istirahat. 

Rupanya, prajurit itu menonton tayangan di televisi mengenai Presiden Amerika George Bush yang sedang bermain golf. Prajurit itu merasakan ketidakadilan. Dia dan rekannya sedang menyabung nyawa demi nasionalisme negerinya di tanah yang jauh, sementara presidennya malah bermain golf.

Di mata saya, Kang Jalal adalah penulis yang selalu memikat. Dia tak pernah berniat memusingkan pembacanya. Dia sabar memilih kata yang dipahami semua orang. Dia tahu kalau semua orang tidak berada di garis perjalanan pengetahuan yang sama. Tugas seorang penulis adalah menjernihkan sesuatu dan mencerahkan.

Dia sering mengutip pakar atau filosof, tapi entah kenapa, kutipan itu terasa ringan dan mudah dipahami. Saya masih terkenang renyahnya tulisannya tentang Nietzsche, Heidegger, dan Kierkegard. Dia menggambarkan pemikiran mereka dengan bahasa sederhana, yakni serupa manusia terlempar di padang pasir, lalu bingung hendak ke mana.

Tahun 2000-an, Kang Jalal sering berkunjung ke Makassar. Saya merasakan nikmatnya mengikuti ceramahnya di kampus, ataupun di berbagai forum diskusi. Dia menjawab pertanyaan mahasiswa juga dengan bahasa yang sederhana.

Saya ingat, teman Gego, pernah bertanya di satu acara diskusi. “Saya gampang lupa sesuatu. Bagaimana cara menguatkan daya ingat?” Tadinya saya pikir Kang Jalal akan menjawab dengan kutipan nama-nama pemikir. Eh, dia mencontohkan dirinya yang juga pelupa semasa sekolah

“Biar saya tidak lupa, saya bikin gambar-gambar. Misalnya saat belajar definisi berita, ada kata novelty atau kebaruan. Saya gambar mobil baru yang kinclong, terus saya tulis novelty. Dengan cara begitu saya tidak akan pernah lupa,” katanya. 

Sayang, dalam pertemuan itu, saya lupa bertanya bagaimana menulis yang baik. Untunglah, saya membaca catatan Yudi Latif, cendekiawan yang satu almamater dengan Kang Jalal di Unpad. Yudi Latif mengakui kalau dia meniru gaya menulis Kang Jalal. Bersetuju dengan Kang Jalal, tulisan yang baik adalah tulisan yang sederhana, yang dipahami semua orang, yang tidak menyiksa pembacanya.

Kata Kang Jalal, jika seorang penulis membuat catatan yang rumit dan penuh istilah teknis, berarti penulis itu sendiri tidak paham apa yang ditulisnya. “Dia berlindung di balik istilah-istilah asing untuk menyembunyikan ketidaktahuannya.’

Saya merenungi kalimat dari Kang Jalal. Di mata saya, dia tipe penulis yang humble. Dia menjelaskan sesuatu sesederhana mungkin dan sejelas-jelasnya. Dia tidak bermaksud meninggikan diri. Dia tidak pernah bercerita yang hebat-hebat tentang dirinya. Tulisan adalah cara terbaik untuk membangun jembatan hati, mengalirkan makna, serta menjadi kecipak inspirasi yang terngiang di benak pembacanya.

Tulisannya adalah pancaran dari pengetahuannya, serta ikhtiar sederhana untuk berbagi. Dengan menulis, dia membangun jejaring makna dengan banyak orang. Dia bisa menginspirasi dan menggerakkan orang lain, serta menyebarkan pengetahuan dan kearifan ke segala sisi, dalam kecepatan yang tak bisa kita bayangkan.

Saya merasa beruntung sebab masih merasakan masa-masa tahun 1990-an dan 2000-an yang begitu haru biru wacana intelektualitas. 

Di masa itu, ada banyak penulis hebat dengan artikulasi yang sederhana. Itulah masa emas di mana banyak intelektual dan cendekiawan meramaikan media cetak. Mereka tidak berada di menara gading, tetapi meramaikan media massa, memenuhi rak toko buku dengan bacaan bermutu, hingga tampil di banyak forum diskusi.

Mereka tidak terjebak dalam tengkar yang tidak mutu mengenai dukung mendukung atau cebong kampret, namun mereka mencerahkan masyarakat dengan gagasan-gagasan. Selain Kang Jalal, ada juga Cak Nur, Gus Dur, Sobary, Emha Ainun Najib, dan banyak lagi. Tidak keliru jika mereka disebut sebagai Zaman Baru Islam Indonesia. 

Kini, di era televisi dan internet, kita melihat para intelektual jaman now berbagi ide di Podcast, bikin kanal Youtube, juga bikin postingan dengan nama yang diberi embel-embel gelar agar tampak keren. Mereka marah-marah kalau penontonnya sedikit, seolah itu cerminan dari masyarakat yang makin bodoh. Padahal, jujur saja, konten yang dibuat Rafi Ahmad jauh lebih menarik.

Atas alasan ini, kita akan sering mengenang Kang Jalal, cendekiawan rendah hati yang berbicara dengan bahasa sederhana dan menyentuh hati.  Sore ini, sehari setelah kepergiannya, seusai membaca banyak catatan tentangnya, saya merasa dia tak pernah benar-benar pergi. Anak ruhaninya sudah merasuk ke mana-mana. 

Catatannya akan terus abadi dan menjadi prasasti tentang dirinya. Dia mengingatkan pada Will Durant: “Scripta manent, verba volant.” Kata tertulis abadi, kata terucap lenyap.

Dia akan selalu abadi.



13 komentar:

Unknown said...

Sangat menarik tulisanya

Putri said...

setujuuuuuu

Dolaners said...

bagus bangettttt

andi appa said...

Kang Yus sdh bnar2 mnjdi anak ruhani kang jalal bro, senang membaca dan menshare tulisan2 kang yus pelatih koecing....

Dokar Tua said...

Selamat jalan Guru, karyamu abadi,

Anonymous said...

Selamat jalan Guru, karyamu abadi,

Ibrahim Halim said...

Seperti biasa...! Super keren, Bang! Kaks AA pasti iri, hihihi

Ibrahim Halim said...

Seperti biasa...! Super keren, Bang! Kaks AA pasti iri, hihihi

Budi DPR said...

Keren tulisannya

Almin Jawad said...

Keren kak. Setiap pencari ilmu dan penitis jalan Ruhani pernah beririsan dengan Kang Jalal... Ada utang intelektual bagi pecinta kebenaran...

Readone said...

Dihari wafatnya, banyak yang bersyukur, miris memang, kak.

Alfatihah buat Kang Jalal.

Readone said...

Izin bagikan, kak.

Takko... said...

Keren Kang Yus... teruslah menulis Kang... saya menikmati tulisan Kang Yus... Kereennn selalu...

Post a Comment