Siasat NAGA Membelit PAMAN SAM




Seperti apa gambaran orang Amerika terhadap Cina? Bacalah buku The Good Earth, karangan penulis Amerika yang pernah meraih nobel, Pearl S Buck. Cina dilihat sebagai negara agraris yang kusam, petaninya miskin dan kesusahan, tuan tanah tamak, kelaparan, serta bencana banjir dan penyakit silih berganti.

Sejauh pengalaman saya yang pernah tinggal di Amerika selama beberapa tahun, tidak semua orang Amerika punya wawasan geografis yang memadai. Mereka hanya tahu negaranya, minim pengetahuan tentang negara-negara lain. Pernah, di satu county (kecamatan), saya menyebut dari Indonesia, seorang bapak tua menjawab “long drive.” Hah? Dia pikir bisa menyetir untuk tiba di Indonesia.

Bisa dibilang, banyak orang Amerika yang tidak punya gambaran seperti apa perubahan yang terjadi di negara lain. Mereka pun hanya tahu sejarahnya sendiri. Mereka tahu bahwa Columbus mendatangi Amerika tahun 1492. Tapi mereka akan terkejut dan tidak percaya saat disodori riset Gavin Menzies yang menyebutkan, sebelum Columbus datang, Laksamana Cheng Ho lebih dulu menyinggahi Amerika pada tahun 1421 dengan kapal yang jauh lebih besar.

Sejak era kerajaan, Cina sudah menjadi bangsa besar yang kuat. Namun selama lebih 200 tahun mereka tertidur dan hanya menyaksikan pertandingan negara-negara kuat. Jepang, yang meniru Cina mengungguli negara itu di masa perang dan damai. Amerika berbaik hati dan memberikan kursi dewan keamanan PBB.

Tahun 1949, Cina memilih haluan komunis. Pemimpinnya Mao Zedong menjerumuskan negerinya ke bencana yang menghancurkan modal ekonomi, teknologi, dan intelektual. Di tahun 1979, di bawah Deng Xiao Ping, mulailah reformasi terjadi. Ekonomi mengikuti jalan kapitalis. Naga terbangun dan mulai menggeliat.

BACA: Ideologi Kiri Kanan yang Menyambut Corona

Di dekade 1990-an, Amerika Serikat tidak menyangka Cina tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang hebat. Ekonom peraih nobel asal Amerika, Jeffrey Sachs menyebut Cina adalah kisah pembangunan paling sukses di dunia. Pertumbuhannya mencapai lebih 9 persen tiap tahun, tercepat dalam sejarah.

Saya ingat pengalaman di satu kampus Amerika ketika mengambil kelas The Politics of Developing Area yang diasuh Dr Clemente. Dia menjelaskan perbedaan strategi antara Amerika Latin dan Cina dalam mengatasi kemiskinan di pedesaan.

Para sarjana Amerika Latin akan mengeluarkan teori tentang subsidi bagi petani miskin, revitalisasi pedesaan, penghargaan pada kearifan lokal, serta melalui pendekatan partisipatoris. Sementara Cina memilih jalan paling cepat, yakni desa harus masuk ke fase industri. Ketergantungan ke tanah harus dikurangi. Desa harus menjadi kota. Maka kesejahteraan akan meningkat.

Pendekatan mana yang efektif? Faktanya, Bank Dunia mengatakan lebih dari 850 juta orang di Cina telah diangkat keluar dari kemiskinan, dan negara ini berada dalam jalur untuk menghilangkan kemiskinan mutlak.

Kita kenal merek Xiomi, Oppo, Lenovo, Huawei, dan HTC. Semuanya adalah adalah gadget yang komponennya dikerjakan Usaha Kecil Menengah (UKM). Yasheng Huang dalam tulisannya Capitalism With Chinese Characteristics: Enterpreneurship and the State, mengatakan bahwa pada Maret 1984, Deng Xioping memanfaatkan UKM serta bisnis swasta daerah untuk menopang perekonomian Cina, yang kemudian dikenal dengan Township and Village Enterprises (TVEs).

Hal ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa produk dari Cina selalu terbilang murah. Karena mayoritas yang menjalankan perputaran ekonomi adalah bisnis swasta daerah dan UKM yang tersebar di beberapa provinsi seperti Guangdong, Fujian, Zhejiang, Jiangsu, dan Shandong. Peran dari pemerintah adalah mendukung serta membiayai dengan cara pemberian pinjaman kepada pelaku bisnis.

Setiap tahun pemerintah Cina memberi pelatihan kepada 200.000 pemuda desa berupa satu atau dua teknik yang dapat diterapkan di daerahnya. Tidak berhenti sampai di situ, pemerintah Cina juga bekerja sama dengan lembaga riset baik di tingkat pusat maupun daerah untuk terus mengembangkan teknologi yang kemudian akan dipakai di pedesaan ataupun oleh industri rumahan.

BACA: Selamat Datang di Era Post-Amerika

Dengan kekayaan yang melimpah, Cina leluasa mengirim anak mudanya untuk belajar di luar negeri. Kampus-kampus Amerika dipenuhi oleh mahasiswa dari Cina. Para pelajar Cina mendominasi fakultas teknologi dan ekonomi, berbeda dengan mahasiswa Amerika yang lebih suka ilmu sosial dan ilmu hukum. Di Amerika, sampai-sampai ada stereotype kalau Asia identik dengan matematika sebab bidang ini dikuasai oleh pelajar Asia, dalam hal ini Cina dan Jepang.

Tak hanya pintar, mereka juga kaya-kaya. Hal biasa menyaksikan pelajar dan mahasiswa Asia yang ke mana-mana menaiki Mercedes sehingga menimbulkan kesenjangan sosial. Saya pernah melihat seorang mahasiswa Cina dipanggil rekan-rekannya untuk melihat mobil Ferrari-nya yang kacanya dipecahkan di parkiran oleh mahasiswa yang cemburu. Bukannya marah, mahasiswa Cina itu hanya berkata “I’ll buy a new one.” 

Kemajuan Cina memang mencengangkan. Dalam buku The Post-American World, Fareed Zakaria memberikan beberapa ilustrasi. Tahun 1978, Cina hanya memproduksi 200 unit penyejuk udara dalam setahun. Tahun 2005, produksinya mencapai 48 juta unit. Barusan saya cek statistik, di tahun 2019, jumlah penyejuk udara yang dibikin di Cina adalah 218 juta unit dalam setahun.

Tahun 1980-an, Fareed Zakaria berkunjung ke Pudong, di dekat Shanghai. Suasananya masih kayak pedesaan. Kini, Pudong adalah distrik keuangan yang dipadati menara kaca serta terang benderang setiap malam. Pudong lebih luas delapan kali dari Canary Wharf, distrik keuangan di London, hampir seluas Chicago.

Pengusaha Amerika terkejut melihat perkembangan Cina. Negeri itu adalah produsen terbesar batu bara, baja, dan semen. Negeri itu adalah pasar terbesar untuk ponsel. Pada puncak revolusi industri, Inggris pernah dijuluki sebagai the largest manufacturer in the world atau bengkel terbesar di dunia. Kini, gelar itu diambil oleh Cina.

BACA: Virus yang Membangkitkan Komunisme

Ekspornya ke Amerika tumbuh berlipat-lipat. Mereka yang pernah ke Amerika pasti tahu kalau raksasa ritel di sana adalah Walmart, yang selalu dipadati kelas menengah dan bawah Amerika karena produknya murah. Walmart  memperkerjakan 2,1 juta orang, lebih banyak dari gabungan Ford, GM, GE, dan IBM. Pendapatannya 7 kali pendapatan Microsoft dan menyumbang 2 persen PDB Amerika.

Tahu dari mana semua barang di Walmart? Cina. Perusahaan itu mengimpor 27 miliar dollar per tahun dari Cina. Mulai dari pakaian sampai sayuran. Andaikan Cina menghentikan pasokan ke Walmart maka banyak orang akan kolaps di Amerika.

Bukan cuma itu. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi membuat Cina menimbun kekayaan. Cina pun menginvestasikan kekayaan itu dengan cara paling aman yakni membeli surat utang Amerika Serikat. Saat Amerika terjebak dengan perilaku konsumtif, Cina justru mendanainya. Amerika boros dengan pinjaman, Cina justru banyak menabung. Cina mengakumulasi obligasi Amerika. Cina menjadi pemberi pinjaman terbesar di Amerika.

Jangan kaget jika beberapa Presiden Amerika Serikat sangat hati-hati dengan Cina. Anda punya uang, maka Anda punya kedaulatan. Saat bertemu peminjam, Anda bisa berdiri tegak.

Pemerintah Cina leluasa membuat banyak program pembangunan, sebab tidak perlu memikirkan suara rakyat. Di negara lain, politisi mengerjakan hal populis tapi konyol, perbanyak subsidi dan bantuan. Semuanya demi mendapatkan suara. Cina tidak butuh itu. Dengan sistem yang otoriter, Cina bebas melakukan apa pun. Di negara lain, otoriter bisa memunculkan pemerintahan yang diktator dan korup. Cina justru tidak. Hukuman untuk koruptor adalah hukuman mati.

Apakah Naga akan membelit dan mengalahkan Paman Sam? Ini soal waktu. Kini Cina mengekor di nomor urut dua kekuatan ekonomi, setelah Amerika Serikat. Harus diakui, Amerika masih menjadi negara paling kuat, baik secara militer maupun ekonomi. Namun banyak lembaga terpercaya dan ekonom sudah memprediksi fenomena kejatuhan dan kebangkitan. Ada yang menyebut tahun 2050. Ada juga yang lebih awal.

Yang dikhawatirkan adalah generasi baru Cina yang lahir dan tumbuh di tengah kemakmuran dan kekuatan ekonomi. Saat mereka merasa hebat, mereka bisa bermain-main dengan militer. Mulailah mereka melakukan ekspansi dan aneksasi wilayah. Di tengah situasi militer yang terus diperkuat, mereka bisa menempuh jalan berbeda dengan sejarah bangsa itu.

Dahulu, pemimpin Perancis, Napoleon Bonaparte, pernah berkata “China is a sleeping lion. Let her sleep, for when she wakes, she will move the world.” Tahun 2014, saat Xi Jnping mengunjungi Perancis, dia berkata: "Today, the lion has woken up. But it is peaceful, pleasant and civilised."

*** 

Kini, dunia sedang dilanda pandemi Covid-19. Bermula dari Wuhan, virus itu menyebar ke seluruh dunia yang berimbas pada ekonomi. Dunia akan mengalami fase krisis saat banyak ekonomi bertumbangan.

Amerika Serikat menjadi negara yang paling mengalami dampak. Jumlah korban yang terinfeksi mencapai 1,6 juta orang, dengan korban tewas hingga 108 ribu orang. Jumlah pengangguran di Amerika bertambah 4 juta orang. Amerika juga diperparah dengan demonstrasi isu rasial yang sesekali diselingi aksi penjarah warganya.

Cina justru berada dalam kutub yang berbeda. Cina menunjukkan pada dunia bagaimana kerja-kerja big government bisa melindungi dan memberi rasa aman kepada warganya. Cina menjadi model dari bagaimana efektifnya negara mengelola masalah lalu mencarikan solusinya. Perencanaan terpusat serta negara yang kuat menjadi instrumen efektif untuk melawan pandemi.

Salah satu penanda kebesaran Cina

Pelajaran dari Covid adalah orang-orang ingin kembali memperkuat big government sebab lebih efektif mengatasi berbagai masalah. Sebagaimana dicatat Yuval Noah Harari, dunia akan mengarah ke surveillance state yang mengawasi warganya hingga biometri, serta munculnya nasionalisme untuk mengutamakan negara sendiri. Cina telah melakukan itu sejak jauh hari.

Dalam situasi ketika Amerika tengah dilanda berbagai unjuk rasa, Cina kian bergerak menjadi pemain global. Banyak negara Afrika yang diajak bekerja sama. Timur Tengah perlahan dimasuki. Bahkan beberapa negara Eropa, termasuk Italia dan Serbia bergabung dengan barisan Cina untuk sama-sama memperkuat ekonomi.

BACA: Senjata Cina untuk Melawan Tentara Corona

Cina memasuki bab berikutnya dalam pembangunan melalui gelombang pendanaan dalam proyek infrastruktur global besar-besaran, atau dikenal dengan belt dan Road Initiative. Proyek yang disebut jalur sutra modern itu bertujuan untuk menghubungkan hampir setengah populasi dunia dan seperlima dari PDB global, menyiapkan perdagangan dan link investasi yang membentang di seluruh dunia.

Di Asia Tenggara, kehadiran Cina penuh kontroversi. Tapi perlu menyimak pendapat mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad. Mulanya dia menolak proyek dengan Cina, Belakangan dia menyetujuinya. Dia belajar dari sejarah. Cina telah bertetangga dengan Malaysia lebih 2000 tahun. Namun Cina belum pernah menjajah Malaysia. "Namun bangsa Eropa datang pada 1509. Setelah itu dua tahun kemudian, mereka mencaplok Malaysia," ujarnya.

Indonesia punya situasi yang sama dengan Malaysia. Hubungan yang dibangun dengan Cina sudah terjalin sejak masa kedatangan Cheng Ho. Namun di era modern, hubungan itu pasang surut karena faktor ideologi komunisme yang ditentang kuat pada masa Orde Baru.

Pilihan terbaik bagi Indonesia adalah tidak berkiblat ke mana-mana. Tidak ke amerika, tapi tidak juga ke Cina. Namun, siapapun pemimpinnya, negeri ini akan kesulitan melangkah sebab akan selalu ada yang nyinyir, selalu ada yang sinis, selalu ada yang menyebut pemerintah goblok, selalu ada yang tak lelah menyebar hoaks.

Kita ingin sekaya Cina, tapi kita tidak ingin diatur secara paksa ala negeri itu. Kita pun ingin sekuat Amerika, tapi yang kita lakukan adalah rebahan. Kita ingin jadi bangsa hebat, tapi kita tidak siap untuk menjadikan diri kita hebat dan penuh prestasi. Kita lebih suka mencaci, ketimbang menyiapkan sejumlah prasyarat untuk jadi bangsa hebat.

Kapan kita sekaya Cina dan sekuat Amerika?



16 komentar:

Unknown said...

Luar biasa .... kakandaku yg tidak terlalu tampan

Catatan Ayah said...

Smg kita bisa menjadi bangsa yang jaya tanpa Cina dan Amerika

Arwin Sanjaya said...

Keren om

Baizulzaman.wordpress.com said...

Kita bisa sekaya Cina dan sekuat Amerika kalau generasi muda bangsa kita sudah mulai sadar akan pentingnya mencintai bangsanya sendiri.

Baizulzaman.wordpress.com said...

Indonesia bisa kaya dan kuat kalau koruptornya dihukum mati.

allyrafly said...

Terimakasih atas tulisan ini...keren

SyarifBtg said...

Super sekali

SyarifBtg said...

Super sekali

SyarifBtg said...

Super

SyarifBtg said...

Super tulisan yang semoga bermanfaat

Anonymous said...

Top

Api_Basah said...

excelent....saat kita belum mampu menguasai bahasa inggris-amerika kita mungkin harus belajar bahasa china...saatnya berhenti rebahan agar bisa jadi hebat tapi sayang tak punya daya

Unknown said...

mantap bung........

Unknown said...

mantap bung........

Yoga said...

mencerahkan bang nuhuuun
ijin menghadap bang kita dri bogor ini wilujeung tepang

Soleh said...

ending tulisan yang sangat mantap.. orang-orang indonesia yang terlalu banyak menyebar hoax haruslah tertampar membaca tulisan ini

Post a Comment