VIRUS yang Membangkitkan KOMUNISME


seorang perempuan yang membentangkan pesan protes di Amerika Serikat

Sejarawan Yuval Noah Harari mengatakan perlunya solidaritas global untuk mengatasi Covid-19. Sastrawan Arundhati Roy menulis tentang wabah yang memaksa manusia untuk memutuskan masa lalu dan membayangkan dunia yang baru.

Kini, Slavoj Zizek, yang disebut sebagai filsuf paling berbahaya di abad ini, meramalkan virus ini akan membangkitkan komunisme global. Hah? Kok bisa?

*** 

Seorang paramedis berbaju hijau berdiri dan menghadang mobil yang ditumpangi seorang pemrotes yang mendesak pemerintah Amerika Serikat agar mencabut kebijakan lockdown di salah satu kota di Amerika Serikat.

Dari jendela mobil itu keluar seorang perempuan tua yang membawa karton yang bertuliskan “Land of the Free.” Perempuan itu bergabung dengan barisan penyokong Donald Trump yang mendesak Gubernur New York untuk segera mencabut kebijakan karantina, membuka kembali pasar dan pertokoan, serta membiarkan orang lalu-lalang.

Perempuan itu berargumen, Amerika adalah negara bebas. Pilar-pilar bangsa itu adalah kebebasan dan liberalisme. Bahkan negara tidak bisa memaksa warganya untuk mengunci diri dalam rumah. Warga punya privasi. Ekonomi harus bergerak.

Tak jauh dari aksi pengadangan oleh para medis itu, seorang perempuan membawa poster yang bertuliskan Social Distancing is Communism.

BACA: Mendayung di Antara Dua Karang Covid-19

Negeri Paman Sam sedang dalam keadaan tidak baik. Lebih 46 ribu orang telah tewas dalam upaya melawan keganasan virus Covid-19. Kota-kota di Eropa yang dahulu begitu digdaya, kini menjadi kota-kota sunyi. Virus itu tak hanya menjadi wabah dan menyebar dengan cepat, melainkan juga mengubah banyak hal.

Siapa yang menyangka jika katedral kapitalisme yakni bursa saham, pasar-pasar, hingga pusat kegiatan ekonomi tiba-tiba runtuh. Siapa pula yang mengira jika mantra liberalisme, seperti kebebasan untuk berkeliaran, kebebasan untuk berbelanja dan rekreasi, kini hanya menjadi sesuatu yang indah dikenang saat virus memaksa orang untuk tinggal di rumah?

Virus ini tidak peduli dengan sosiologi masyarakat abad ini. Virus ini tidak peduli siapa Anda. Semua manusia dilihatnya sama saja, mau kaya atau miskin, bule atau hitam, cantik atau jelek. Semua manusia dilihat tanpa kelas, tanpa kasta. Siapa pun bisa berisiko terinfeksi hingga sekarat.

Virus ini juga membuka tirai-tirai yang selama ini menghalangi pandangan kita tentang negara-negara. Amerika Serikat yang dianggap kuat dan perkasa ternyata punya sistem kesehatan nasional yang teramat rapuh dan terdapat kesenjangan antara kelompok kaya dan miskin. Sebaliknya, negara-negara kecil seperti Taiwan dan Vietnam justru bisa lebih efektif dalam melawan virus itu sehingga menghindari jatuhnya korban.

Saya tertarik mengamati dinamika pemikiran mengenai virus ini. Kita sama tahu bahwa di dalam laboratorium, para ilmuwan sedang berpacu untuk menemukan vaksin yang bisa melawan virus ini. Sementara di ranah pertarungan gagasan, banyak pemikir kini saling berdebat untuk meramal ke mana dunia pasca virus ini menyerang.

Tulisan sejarawan Yuval Noah Harari menjadi rujukan banyak orang untuk mengamati dunia pasca-Covid. Dia menilai untuk pertama kalinya dalam sejarah, negara punya instrumen untuk melakukan pengawasan total kepada warganya, sesuatu yang gagal dilakukan pada masa lalu. Berkat big data, negara bisa memaksa warganya di rumah, kemudian memantau apa yang dilakukan warganya.

Harari melihat perlunya solidaritas global di tengah tiadanya kepemimpinan di tingkat dunia. Amerika tidak bisa lagi menjadi pemimpin dunia sebab harus berkutat dengan pertarungan melawan virus di tingkat domestik.

BACA: Ideologi Kiri Kanan yang Menyambut Corona

Saya juga menyukai artikel yang ditulis Arundhati Roy, sastrawan asal India. Dia bercerita bagaimana lockdown menjadi kiamat bagi warga miskin India yang terpaksa harus berjalan kaki hingga ratusan kilometer demi kembali ke kampung halamannya. Virus ini telah mengubah makna normalitas menjadi sesuatu yang tidak normal.

Arundhati Roy mengatakan, virus ini memaksa kita untuk memikirkan ulang mengenai mesin kiamat yang kita bangun untuk diri kita. Virus ini telah memaksa manusia untuk memutuskan masa lalu, membayangkan masa depan. Virus ini serupa portal antara dunia dan masa depan. Saatnya kita memikirkan dunia baru yang akan kita hadapi, dunia yang lebih cerah dan akan diperjuangkan bersama-sama.

Saya melihat Harari dan Arundhati Roy berada di jalur pemikiran yang sama. Mereka menginginkan perlunya memikirkan tatanan baru untuk menggantikan tatanan yang kini sudah usang. Selama sekian abad, bangsa-bangsa hanya memikirkan persenjataan dan persaingan, lalu abai untuk membangun rumah yang lebih humanis bagi semua orang.

Kini waktunya, memikirkan sistem yang lebih adil bagi semua orang. Mulai dari layanan kesehatan yang menjangkau semua kalangan hingga sistem ekonomi yang tidak semata bergantung pada mekanisme pasar.

Virus Corona seakan memaksa manusia untuk memikirkan satu solidaritas dan kerja sama global. Sebab virus ini tidak sedang mengancam satu negara. Tidak juga mengancam satu kelas tertentu di masyarakat. Virus ini mengancam spesies manusia.

Di sinilah relevansi untuk mendiskusikan pemikiran filsuf Slavoj Zizek, filsuf paling produktif dan sering disebut sebagai filsuf paling berbahaya di abad ini.

Bisa dibilang Zizek adalah filsuf kontemporer yang paling produktif. Dia sudah menulis beberapa artikel mengenai Covid-19. Bahkan dia menulis satu buku tipis yang beredar secara gratis di internet, yang diberi judul Pandemic: Covid-19 Shakes the World..

Berbeda dengan para pemikir lain, Zizek tidak tanggung-tanggung langsung menyebut virus ini ibarat pukulan ala “Kill Bll” yang menghantam kapitalisme. Dalam film Kill Bill 2 yang disutradarai Qutentin Tarantino, terdapat pukulan “Five Point Palm Exploding Heart Technique” yakni kombinasi lima serangan yang menyasar lima bagian tubuh. Saat Bill dihantam dengan jurus ini, dia merasa baik-baik saja, tetapi saat berjalan lima langkah, jantung meledak. Inilah salah satu pukulan paling mematikan dalam ilmu bela diri.

Saat virus ini menyerang, kapitalisme seakan baik-baik saja. Masih bisa mengatur napas dan langkah. Tapi, seiring waktu, virus ini bisa menumbangkan kapitalisme, sebagaimana kebocoran nuklir di Chernobyl yang menumbangkan Uni Soviet. Sistem sekarang tidak akan terus berjalan seperti biasanya sehingga dibutuhkan sebuah perubahan radikal.

Menurut Zizek, virus memaksa kita untuk memikirkan satu konsep masyarakat alternatif yang melampaui konsep negara-bangsa. Virus masyarakat alternatif ini menekankan pada solidaritas dan kerja sama global. Kita bisa melihat bagaimana masyarakat global yang butuh saling berjejaring untuk menghadapi virus. Ada negara yang mengirimkan masker, ada juga yang mengirim rapid test. Ketika ada negara yang menemukan vaksin, maka dunia akan merasakan manfaatnya.

Zizek menyebut warga dunia berada dalam satu kapal –ibarat kapal Nabi Nuh-- sedang bergerak ke arah komunisme global. Namun komunisme yang dia maksudkan bukan komunisme sebagaimana praktik politik di tahun 1960-an. Ancaman global telah mampu melahirkan solidaritas global di mana perbedaan-perbedaan kelas, agama, etnik, ras, dan sebagainya menjadi tidak berarti. Semua orang sedang berusaha mencari solusi, yang melampaui perbedaan identitas tersebut.

Zizek menawarkan satu masyarakat dengan solidaritas baru, yang berbeda dengan sebelumnya. “Kita memang memerlukan bencana besar ini, untuk bisa memikirkan hal-hal yang begitu mendasar dari kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah soal solidaritas global itu,” katanya.

Dunia membutuhkan satu pendekatan komprehensif yang melampaui mesin pemerintahan tunggal, serta koordinasi dan kolaborasi internasional yang kuat dan efisien. Kerja sama global itu akan menggantikan sosialisme, serta meletakkan satu landasan bagi lahirnya komunisme baru.

“Saat ini, satu bentuk globalisasi pasar bebas yang menghadapi krisis dan pandemi tentu sedang sekarat. Namun bentuk lain yang sadar akan saling ketergantungan dan keunggulan tindakan kolektif berbasis bukti sedang lahir.”

Sebagai satu wacana, buku Zizek ini menarik untuk didiskusikan. Kondisi global yang sedang sekarat ini menjadi tanda akan perlunya reorganisasi ekonomi global, yang tidak lagi bergantung pada mekanisme pasar.

Mesti ada semacam organisasi global yang dapat mengatur dan mengendalikan ekonomi dunia, yang bisa saja membatasi kekuasaan negara-bangsa. Dulu, negara-bangsa mempertahankan kekuasaan dengan perang, kini situasinya berbeda. Bukan lagi perang fisik, tetapi perang medis.

Saya pikir Zizek sedang membuka wacana baru untuk didiskusikan. Buku ini ibarat pamflet yang isinya pesan-pesan kampanye. Saya rasa Zizek lebih banyak menyoroti Amerika Serikat, Inggris, dan Cina. Dia melihat Cina sebagai model negara yang memaksakan pengawasan melekat ke semua warganya.

BACA: Virus yang Membuka Aib Sosial Kita

Dia tidak melihat banyak negara-negara demokratis yang lebih efektif dalam melawan virus. Sehingga kekuatan dan ketangguhan satu negara dilihat dari seberapa efektif tangan-tangan negara bisa bekerja untuk memeluk semua warganya dan memberikan benteng perlindungan yang efektif untuk warganya. Negara yang bisa jadi rujukan di sini adalah Taiwan, Korea Selatan, Vietnam, New Zealand, dan Austria.

Saya rasa tidak akan ada ideologi yang berubah pasca wabah. Hanya saja, orang-orang akan menjadikan wabah ini sebagai pelajaran untuk menghadirkan pemerintahan yang lebih efektif dalam melindungi warganya dalam satu benteng pelayanan kesehatan yang tangguh. Dunia akan lebih banyak berkolaborasi dan berjejaring untuk melawan musuh bersama di masa depan.

Slavoj Zizek dan buku Pandemic

Saya sepakat dengan poin Zizek tentang kehadiran virus akibat kehancuran alam liar oleh mesin-mesin kapitalisme. Virus ini menyadarkan kita bahwa bumi yang kita tinggali terus-menerus dihancurkan oleh mesin kemajuan yang kita ciptakan. Benar kata Arundhati Roy, saatnya sejenak berhenti dan berefleksi melihat tindakan yang selama ini kita anggap normal.

Bagi kita bangsa Indonesia, solidaritas global ini bisa menjadi kunci untuk keluar dari wabah. Kita bisa berharap pada saintis negeri lain yang sedang berpacu menemukan vaksin. Kita tak perlu menutup pintu perbatasan kita sebab setiap saat ada negara yang menemukan vaksin. Kita membutuhkannya untuk menyelamatkan anak bangsa yang kini memenuhi banyak rumah sakit.

Setelah wabah usai, kita punya banyak PR untuk diselesaikan. Di antaranya adalah perlunya memperkuat sistem kesehatan nasional kita, serta perlunya memberi perhatian besar pada dunia riset kita yang seakan berjalan di tempat sebab negara lebih peduli pada startup para milenial.

Corona memberi pelajaran bahwa di masa depan, perang semakin kompleks. Kita tak hanya perlu memperkuat para prajurit di medan laga. Kita perlu memperkuat paramedis kita sebagai garda depan untuk melindungi segenap anak bangsa dan seluruh tumpah darah kita.

Tentunya, negara juga harus melindungi paramedis kita. Bukan lantas menjadikan mereka sebagai martir.



3 komentar:

Api_Basah said...

mantaab.....jenius ulasannya, komunis tetapi bukan dalam artian seperti tahun 60an

Api_Basah said...

Mantaab...Jenius Ulasannya, komunis dalam artian bukan seperti persepsi di negara kita

Rahim Buton said...

Izinkan aku menjadi Hatters Wahai Penulis Hebat

Post a Comment