Kompasiana yang Mengubah Hidup




Kemarin, sahabat Agung Han terpilih sebagai Kompasianer of the Year 2019. Dia menyisihkan ratusan bahkan ribuan blogger lain yang bergabung dalam Kompasiana sebagai platform bagi komunitas blogger terbesar dan tetap eksis di Indonesia.

Di tahun 2013, saya pernah mendapatkan penghargaan yang sama. Malah, saya dapat dua penghargaan yakni sebagai Kompasianer of the Year, dan juga sebagai Reporter Warga Terbaik.

Saya mengenang masa-masa berkompasiana. Saat itu, orang-orang baru mulai mengenal dunia blog. Tadinya, Kompasiana hanya diperuntukkan bagi para jurnalis Kompas, kemudian dibuka untuk publik. Saya pun ikut meramaikan dengan berbagai jenis artikel.

Saya teringat masa itu saya begitu tertantang untuk membuat artikel terpopuler setiap hari. Makanya, saya bereksperimen dengan berbagai gaya menulis renyah dan populer, serta judul-judul yang agak genit.

Belakangan saya sadari bahwa eksperimen itu perlahan mengubah gaya menulis saya, yang tadinya serius dan filosofis menjadi lebih populer. Kompasiana mengubah saya dari seseorang yang menulis jelimet dan penuh istilah2 akademis, menjadi lebih populer dan mudah dipahami siapa pun.

Di masa itu, Kompasiana selalu menghargai reportase dan pengamatan lapangan. Saya pun sering menulis reportase, ketimbang menulis opini. Bagi saya, tulisan opini sifatnya hanya temporer. Hanya aktual pada momen tertentu. Sementara tulisan reportase akan selalu abadi. Dia tidak akan basi dibaca kapan pun.

Tapi, kelebihan tulisan opini, khususnya politik, adalah selalu menjaring banyak pembaca. Saya berusaha menyeimbangkan. Sesekali tulis opini, tapi lebih banyak tulis reportase. Dengan cara demikian, saya cukup produktif menulis buku, juga selalu punya pembaca di mana-mana.

Nikmat berkompasiana adalah bisa terhubung dengan jejaring blogger di seluruh Indonesia. Mayoritas blogger malah pernah singgah di Kompasiana. Interaksi dengan banyak influencer juga dimulai di sini. Bahkan Kompasiana menjadi barometer dari suara dan opini publik atas situasi politik tanah air. Saya pun senang karena tetap berjejaring dengan mereka hingga kini.

Sekian tahun di Kompasiana, muncul keinginan untuk berumah di blog pribadi. Ada masa di mana saya ingin menjadi diri saya, tanpa harus ikut dalam arus besar. Biarpun menulis di blog sendiri ibarat menempuh jalan sunyi, namun saya justru menemukan kedamaian di situ, Saya lebih bebas menulis hal-hal yang tidak populer.

Ternyata saya tidak bisa lepas dari gaya menulis yang diterapkan di Kompasiana. Ditambah lagi setelah membaca beberapa literatur, saya makin bersemangat menulis populer. Apalagi saya membaca banyak jurnal berbahasa Inggris yang ditulis dengan gaya santai.

Saya mengamini kata-kata Kang Jalal yang pernah dikutip Yudi Latif: “Ketika saya menulis dengan sederhana dan mengalir berarti saya sangat memahami topik itu. Tapi ketika saya menulis dengan gaya yang sulit dipahami, itu berarti saya pun tak paham apa yang dibahas. Saya berlindung di balik istilah akademis untuk menutupi ketidakmampuan saya memahami satu topik.”

Beberapa tahun setelah menjadi Kompasianer of the Year, saya masih tetap menekuni dunia blog. Ketika perlahan literasi bergeser dari cetak ke digital, saya ikut mendapat berkah. Catatan2 di medium digital itu menyebar ke mana2.

Saya punya banyak sahabat di mana-mana. Ketika berkunjung ke tempat terjauh, saya sering kaget bertemu orang yang tiba-tiba menyapa dan bercerita kalau pernah berinteraksi di dunia maya.

Saya memang tidak berkompasiana lagi. Tapi semangatnya tetap tersisa yakni sharing dan connecting. Saya tetap berbagi dan terhubung dengan banyak orang. Saya punya banyak sahabat penulis dunia maya yang saling memancarkan aura dan gelombang positif. Semangat berbagi itu selalu terbawa hingga kini.

Di banyak tempat yang saya singgahi, saya bertemu banyak sahabat. Lebih bahagia lagi karena sahabat itu tak sekadar menyapa, tapi ada seulas senyum gembira, jabat tangan yang hangat, serta kalimat pendek “Hai, saya pernah baca tulisanmu. Saya suka”

Bahagianya tak terkira.

0 komentar:

Post a Comment