Suatu Hari Bersama Gadis RONGKONG




Gadis itu tersenyum manis. Teramat manis. Dia mencoba berbagai gaya ketika saya datang memotretnya. Dia seperti mutiara yang masih belum banyak disepuh. Dia memiliki kecantikan alami.

Saya menaksir usianya 17 tahun, usia siswa sekolah menengah di tingkat akhir. Dia datang dari Desa Rinding Allo, Kecamatan Rongkong, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Dia datang dari wilayah pegunungan hijau yang rimbun dan tak banyak yang menjangkaunya.

Rongkong adalah wilayah yang selama sekian tahun terisolasi. Selain Rongkong, ada dua kecamatan yang terletak di pegunungan di wilayah Luwu, yakni Rampi dan Seko. Seko pernah menjadi headline berita nasional ketika diberitakan bahwa tarif ojek ke situ adalah sejuta rupiah sekali jalan. Maklum, jalannya rusak berat. Butuh beberapa hari untuk mencapainya.

Saya bertemu dengan gadis muda itu di Lapangan Salasa, Kecamatan Baebunta. Hari ini, Sabtu, 7 september 2019, masyarakat Rongkong banyak turun gunung demi mendatangi acara pelantikan Aliansi Keluarga Rongkong (Akar). Mereka datang dengan membawa berbagai atribut budaya.

Saya bisa melihat kekayaan khasanah budaya Rongkong. Wilayah ini serupa melting pot yang menyerap semua budaya-budaya. Busana adat gadis Rongkong serupa Toraja dan Bugis. Bahkan saya melihat sejumlah anak muda Rongkong memainkan kolintang, alat musik dari kayu yang selama ini saya ketahui hanya ada di Sulawesi Utara.

Rongkong punya seni tenun yang sungguh aduhai. Saya begitu cemburu melihat kain tenun yang segera mengingatkan saya pada kain tais di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, atau kain-kain khas di Nusa Tenggara Timur. Saya menduga, pernah ada dialog budaya atau mungkin proses saling belajar antar berbagai komunitas budaya di lintas pulau.



Secara umum, saya melihat budaya Rongkong seperti Toraja.

"Tidak kak. Rongkong tidak sama dengan Toraja," kata gadis itu seakan tahu apa yang saya pikirkan.

Bahasa yang digunakan orang Rongkong adalah bahasa Ta'e, bahasa yang dipakai warga Luwu. Saya ingat antropolog George Yunus Aditjondro. Dia pernah membantah anggapan bahwa Sulsel identik dengan Bugis. Kata George, orang Luwu tidak mau disebut Bugis. Bahasanya juga bahasa Ta'e, bukan bahasa Bugis.

Tapi, seorang kawan bercerita kalau bahasa Ta'e mirip bahasa Toraja. Mirip pula dengan bahasa yang digunakan orang Mamuju, Sulawesi Barat. Persis seperti yang saya pikirkan. Bahwa budaya tidak berada di ruang hampa sejarah. Budaya selalu menyebar seiring dengan migrasi manusia ke mana-mana. Budaya ibarat sari yang dipetik dari kembang, kemudian dibawa ke berbagai arah oleh kumbang bernama manusia.



"Kak, boleh minta nomor hp?" tanya gadis itu.
"Buat apa?" tanyaku.
"Saya ingin ingatkan kakak supaya kirimkan foto itu" katanya sedikit merajuk.

Tak lama kemudian, dia kembali bertanya. "Kak, apa saya cantik?"

Saya tak menjawab. Kamera langsung saya arahkan ke wajahnya. Dia kembali bergaya. Dalam hati saya menggumam, kamu memang cantik. Teramat cantik.



0 komentar:

Post a Comment