Profesi Baru yang Muncul di Era Digital




Dalam satu acara yang dihelat Tempo, saya bertemu Ali Akbar, anak muda yang menulis buku Digital Ekosistem. Dia mengaku bekerja sebagai Data Scientist, sering pula mengaku sebagai pakar SEO atau Search Engine Optimization. Di acara itu, Ali Akbar membawakan materi tentang bagaimana mengembangkan aset digital.

Menurut pihak Tempo, Ali Akbar adalah sosok yang selalu direkomendasikan pihak Google untuk membawa materi tentang digital. Itu menandakan beliau punya rekam jejak yang baik di mata Google.

Bagi saya, Ali Akbar orangnya menyenangkan. Dia jauh dari kesan serius. Dia tampil seperti anak muda kuliahan yang memakai hoody dan topi. Dari sisi bisnis, dia orang yang bisa memaksimalkan Google untuk meraup miliaran rupiah. Dia pun tak pelit ilmu. Dia senang berbagi ilmu.

Hari itu, dia bercerita tentang seorang kawannya yang curhat karena tidak punya pekerjaan. Kawannya adalah seorang akuntan, lulusan UI. Ali bertanya apa keahlian yang hendak dijual kawannya. Rupanya kawan itu tidak tahu apa keahliannya yang bisa mendatangkan duit banyak.

Kawannya menjawab hal lain. Katanya, rumah tangganya baru saja dilanda prahara. Beruntung dia bisa menyelamatkan pernikahannya. Tak lama berpikir, Ali Akbar mengusulkan supaya kawannya itu jadi Konsultan Pernikahan. Hah? Apa profesi itu memang ada?

Ali Akbar mulai merancang strategi. Dia mengusulkan agar kawannya membuat website yang menerangkan dirinya sebagai Konsultan Pernikahan. 

Ali Akbar tahu persis bahwa orang-orang, khususnya yang tinggal di kota, selalu bertanya pada Google terkait semua hal. Jika mau jalan-jalan, maka mereka mengecek lokasi jalan-jalan favorit di Google. Demikian pula dalam hal makan, tugas-tugas, bahkan mencari teman kencan. Orang-orang sangat percaya pada rekomendasi Google.

Ali Akbar menyuruh temannya untuk menggunakan fasilitas Google Adwords. Anda bisa mengapling tempat di mesin pencari Google untuk produk Anda. Memang, fasilitas itu berbayar, tapi hasilnya menakjubkan. Siapa pun yang mengetik di Google kata “Konsultan Pernikahan” dan “Konsultan Perkawinan”, maka pasti akan menemukan nama temannya di semua halaman pertama Google, lengkap dengan nomor teleponnya.

Bagi saya, strategi ini ibarat nelayan yang memasang bubu di sungai, setelah itu sesekali mengeceknya. Anda pun bisa melakukannya. Anda bisa kapling kata “orang ganteng” di Google sehingga semua pencarian mengenai orang ganteng akan merekomendasikan nama Anda. 

Jika Anda caleg di Kota Baubau, bisa saja bayar Google sehingga ketika siapa pun mencari kata “caleg hebat di Baubau”, maka Google akan merekomendasikan nama Anda (upss... ini bocoran strategi)

Nah, balik ke teman Ali Akbar. Belum lama setelah “bubu” itu dipasang, temannya mulai kebanjiran telepon dari banyak orang. Rupanya, ada banyak orang yang punya masalah pernikahan sehingga butuh konsultasi.

Biarpun bukan psikolog, teman Ali Akbar mulai kebanjiran klien. Pelan-pelan dia belajar bagaimana menghadapi klien. Dia pun laris diundang televisi sebagai konsultan pernikahan. Di website konsultan pernikahan, dia rajin menulis tips bagaimana mempertahankan pernikahan. Beberapa buku dihasilkannya. Bahkan profilnya sering masuk majalah. Kalau Anda tak percaya, coba searching nama Indra Noveldy. Dialah teman Ali Akbar.

Saya sengaja menulis tentang Ali Akbar dan temannya sebab melihat beranda media sosial tiba-tiba saja dipenuhi banyak “konsultan pernikahan” dadakan. Seorang mantan pejabat publik baru saja keluar tahanan, kemudian hendak menikah lagi. Publik terbagi dua, apakah mendukung mantan atau mendukung yang baru.

Melihat analisis yang keren-keren, seolah paham benar problem rumah tangga orang lain, saya berpikir kenapa tidak sekalian buka jasa konsultan pernikahan. Setidak-tidaknya kebiasaan membahas pernikahan bisa mendatangkan rejeki bagi Anda. 

Itu lebih baik dari sibuk bergunjing untuk membahas rumah tangga orang lain, setelah itu sibuk nyari informasi tentang tes CPNS. Setiap pernikahan selalu punya dinamika. Tak perlu kita memvonis orang lain. Cukuplah mendengarkan, memberi masukan jika diminta, serta berharap hal baik akan terjadi.

Kesimpulannya, ada orang yang bisa meraup untung dari berbagai isu, tapi ada juga yang hanya menghasilkan "sampah" di media sosial.


1 komentar:

Ali Akbar dan BISMA Center mengatakan...

Terima kasih, Mas ;)

Keren uey

AsikAsik.

Posting Komentar