Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Setelah Setahun Berlalu

SETAHUN silam, kita menjalani hari yang mengesankan ketika cinta berpaut. Aku duduk dan mengucapkan ikrar suci untuk mendampingi hari-harimu. Kamu menunggu di satu ruangan, menanti-nanti diriku yang akan membuka pintu. 

Semua orang bahagia. Semua tersenyum. Kita pun sama tersenyum. Kita berikrar bukan hanya untuk hari itu. Kita berikrar untuk selama-lamanya. Kita berjanji untuk saling menjaga, saling mengisi, dan saling menguatkan. 

Hari ini, tepat setahun berlalu. Pagi ini aku terbangun ketika dirimu membisikkan kalimat, "Selamat ulang tahun pernikahan. Kita telah menjalani setahun. semoga semuanya abadi." 

Yup... Semuanya serasa baru kemarin. Peristiwa itu masih hangat di benakku. Ternyata kita telah melangkah setahun. Semoga semua yang kita lakukan setahun silam tetap membawa berkah bagi keluarga kecil kita. Seoga si kecil yang akan segera lahir adalah penyempurna dari semua kebahagiaan kita bersama. Semoga.(*)

Inspirasi Alberthiene Endah

Alberthiene Endah, salah satu novelis best seller


Menulis merupakan kendaraan yang membawa saya melaju, berenang, bahkan melayang melintasi “belahan dunia” di sisi dunia yang kita punya. Menulis membawa saya pada petualangan imajinasi. Dan itu amat sangat mengasyikkan. Lewat menulis, dunia saya justru sama sekali bukan sebuah dunia yang sunyi, apalagi tersudut. Menulis membawa ratusan irama, ribuan entakan, dan jutaan syair yang terus mngalir dan melahirkan lagu demi lagu kehidupan. Menulis adalah energi hati dan kebebasan yang membuat setiap pagi saya memiliki harapan yang selalu baru.


---Alberthiene Endah
Menulis Fiksi itu Seksi

Dodolit.... Dodolit.... Dodolibret

CERITA pendek (cerpen) pilihan Kompas tahun 2010 telah diterbitkan. Cerpen terbaik adalah Dodolit Dodolit Dodolitbret yang ditulis Seno Gumira Adjidarma. Seingatku, beberapa cerpen Seno terpilih sebagai cerpen terbaik. Dulu, juara penghargaan ini selalu diraih Kuntowijoyo, sejarawan masyhur di Yogyakarta yang produktif menulis cerpen. Setelah Tuhan menjemput Kuntowijoyo, kini tahta itu menjadi milik Seno, sastrawan tanah air yang paling produktif saat ini.

Sengaja aku menyebut nama Kuntowijoyo sebagai pembanding. Sebab bagiku, cerpen berjudul Dodolit ini terasa seperti karya Kunto. Biasanya cerpen Seno agak abstrak sehingga alurnya sering melayang-layang, dalam artian sukar dipahami. Sementara cerpen Kunto justru mengangkat kenyataan sehari-hari, dalam bahasa sederhana, namun jika direnungi betapa sarat makna di dalamnya. Kita seolah sedang membaca karya antropologis, tapi disajikan dalam bahasa kebanyakan orang sehingga kening tak perlu berkerut untuk memahami maknaya. Dalam kejadian sederhana itu, seakan-akan terbuka ruang yang cukup luas untuk direnungi, ditafsir dan diselami. Dalam bahasa lain, cerpen Kunto memberikan insight teoritik yang bisa direfleksi untuk menjelaskan satu gejala.

Cerpen Dodolit mengisahkan seorang guru yang selalu ingin membenahi cara berdoa orang lain. Ia gelisah melihat cara berdoa yang dianggapnya salah sebab bisa mendatangkan kutukan. Tapi di saat bersamaan, ia meyakini kalau berdoa yang benar bisa membuat seseorang berlari di atas air. Dikarenakan ia belum sanggup melakukan itu, makanya ia menganggap hal itu hanyalah mitos. 

Suatu hari, sang guru singgah di satu pulau. Ia gelisah melihat sembilan warga pulau itu punya cara berdoa yang salah. Ia mati-matian mengajari mereka cara berdoa yang benar agar terhindar dari azab. Hingga akhirnya ia yakin mereka telah berdoa sesuai caranya. Suatu hari, ia ingin meninggalkan pulau itu dengan perahu. Tiba-tiba saja, tukang perahu menunjuk sembilan warga pulau itu yang berlari di atas air dan menemuinya lalu meminta penjelasan ulang tentang cara berdoa yang benar sebagaimana telah diajarkannya.

Kisah ini terkesan sederhana. Akan tetapi betapa kisah sederhana itu penuh makna. Kisah itu menggambarkan banyak orang di masyarakat kita yang percaya kebenaran tunggal, memandang tindakan orang lain amat sesat, dan tiba-tiba terkejut dengan kenyataan bahwa mereka –yang dianggapnya sesat itu—ternyata mencapai derajat makrifat yang tidak pernah bisa digapainya. 

Mungkin selama ini ia mengklaim kebenaran. Sementara mereka yang dianggapnya sesat, yang berdoa dengan cara sederhana, justru mencapai hal yang hanya bisa diimpikannya. Saya tersentak. Cerpen ini seakan hendak membumikan beberapa teori tentang interpretasi, aspek experience dalam agama, serta realitas antropologis masyarakat  Indonesia.

Membaca cerpen Seno, saya tiba-tiba haus untuk membaca cerita yang sederhana namun sarat makna. Cerita yang digali dari pengalaman sehari-hari, yang menyimpan kearifan, serta membayang-bayangi teori sosial yang selama ini dipelajari di menara gading ilmu pengetahuan. Mungkin kita tak perlu berrumit-rumit dengan bahasa. Cukup sesuatu yang sederhana tapi menohok.(*)

Sensasi jadi Headline (8)

SELALU saja saya terlambat menampilkan beberapa tulisan yang dipilih sebagai headline (HL) di Kompasiana. Selama tiga bulan ini, saya tidak seproduktif tiga bulan yang lalu. Saya cukup jarang menulis. Mungkin ini disebabkan kian padatnya kesibukan. Tapi, beberapa tulisan yang saya buat malah dipilih sebagai HL di social blog terbesar di Indonesia itu. Malah, saya terpilih sebagai juara di lomba ngeblog Telkomsel dan dapat hadiah Iphone 4. Berikut beberapa tulisan tersebut. Jika tertarik membaca, silakan di-klik. Tapi jika tidak tertarik, tak apa-apa deh. Hehehe....









 BACA JUGA:

Sensasi Jadi Headline (7)
Sensasi Jadi Headline (6)

Perisai Cinta untuk HARRY POTTER

poster film


PEREMPUAN tua itu mengacungkan tongkat sihir ke udara. Selarik sinar biru melesat ke angkasa dan menembus langit hitam yang penuh bintang-gemintang. Lelaki cebol di sebelahnya melakukan hal yang sama. Demikian pula beberapa manusia dewasa di sekitar tempat itu. Langit di atas kastil Hogwarth –nama sekolah sihir termasyhur itu-- tiba-tiba saja dipenuhi cahaya kebiruan yang menutupi kastil laksana kubah telah menyelubungi sekolah itu. Kubah itu serupa cangkang yang melindunginya dari sihir-sihir hitam. Kubah itu adalah perisai atas sihir hitam manusia tengik terjahat dalam dunia sihir yang memproklamirkan dirinya serupa Tuhan. Manusia bernama Lord Voldemort.

Usai melesatkan sinar biru ke langit, perempuan tua --yang bernama Professor Minerva Mc Gonagall-- lalu merapal beberapa mantra. Saat itu juga, beberapa patung batu yang selama ini bertebaran di berbagai pejuru Hogwart tiba-tiba bangkit berdiri. Mereka berbaris laksana armada dan menemui Mc Gonagall. Perempuan itu lalu memberi perintah. "Hogwart dalam serangan penyihir hitam. Tunjukkan dedikasi kalian untuk melindungi kastil ini." Tapi sekian detik kemudian, Mc Gonagall berbisik pada beberapa orang di samping sambil tersenyum, “Sejak dulu saya ingin mencoba mantra ini. Tapi kesempatan itu baru datang sekarang."

Adegan ini adalah bagian dari tayangan film Harry Potter: The Deathly Hallow Part 2 yang hari ini serentak ditayangkan di seluruh bioskop di Indonesia. Amat berbeda dengan edisi pertama Harry Potter and The Sorcerer’s Stone yang penuh gelak tawa khas anak kecil, film ini justru amat kelam. Memang, sesekali ada humor singkat seperti yang dilontarkan Mc Gonagal, tapi humor itu terlampau singkat untuk menghilangkan ketegangan yang sudah tercipta sejak awal. Sepanjang film kita terus-menerus disuguhi adegan pertempuran yang melibatkan para penyihir hebat dalam sejarah sihir dan selama ini malang-melintang, serta para mahluk-mahluk sihir yang menakjubkan seperti raksasa, peri, centaur, laba-laba, serta hantu-hantu. 

Tentu saja, mereka yang tidak mengikuti serial ini akan terbengong-bengong dalam bioskop melihat adegan klimaks pertempuran itu. Tapi buat yang mengikuti serial ini baik di versi novel maupun film, akan sama-sama paham bahwa dalam detail-detail kisah ini telah dihamparkan dalam tujuh film sebelumnya, ataupun dalam lembar demi lembar novel yang tercatat sebagai novel terlaris dalam sejarah perbukuan internasional. Sutradara tinggal menata pertempuran demi pertempuran serta menyisipkan kisah moral serta butiran makna-makna filosofis yang ditemukan lewat karakter-karakter unik yang kemudian menentukan titik berpijaknya dalam duel tersebut.


Film ini memang menampilkan pertempuran. Jika dalam bagian pertama, kisahnya lebih banyak menampilkan pelarian Harry serta usahanya menjawab teka-teki masa lalu Voldemort, maka kisah di bagian kedua ini justru memaksa Harry untuk berhadapan langsung dan menguji kesaktian. Kisah ini dimulai dari pencarian Horcrox –benda-benda yang menyimpan separuh jiwa Voldemort—di Bank Gringots. Bersama dua sahabatnya, Ron Weasley dan Hermione Granger, Harry mengambil horcrux setelah diserang para goblin, kemudian melarikan diri dengan menunggang naga. 

Klimaks dari pertempuran itu adalah pertempuran terakhir antara Pangeran Kegelapan, Lord Voldemort, yang berhadapan dengan Harry Potter, anak yang secara ajaib bertahan hidup dari sihir Voldemort di masa bayi. Anak itu telah tumbuh dewasa dan menyandang tugas suci untuk menyelamatkan dunia sihir. Inilah klimaks dari rangkaian panjang serial yang telah menyihir dunia sejak lebih sepuluh tahun silam. Sejak lahir, ia telah disiapkan sebagai prajurit untuk menghadapi penyihir jahat. Ia disiapkan oleh guru-gurunya untuk menyadari bahwa dirinya adalah Horcrux terakhir sehingga mesti menjemput kematian. Ia mesti menyelamatkan mereka yang hidup dan menghindari jatuhnya korban. Dan dengan penuh ketenangan serta keberanian, Harry lalu menjemput kematian tersebut. Apakah Harry akan tewas? Para pembaca novel sudah lama tahu jawabannya. 

Sutradara David Yates amat hati-hati menata adegan demi adegan sehingga kita bisa menyaksikan detail kisah ini bergulir. Ia menata adegan itu serupa sebuah panggung pagelaran musik klasik, yang awalnya adalah musik lembut, namun kian menyayat dan mengiris-iris perasaan hingga akhirnya klimaks. Sutradara menata adegan pertempuran dengan sangat kolosal berupa pertempuran antar penyihir. 

Kurang Kolosal

Tapi sebagai pembaca novelnya, saya menganggap adegan yang dilukiskan dalam novel jauh lebih kolosal. Banyak detail dalam novel yang tidak digambarkan dalam film, misalnya serbuan para raksasa yang dipimpin Gwarp (adik Hagrid) yang segera ditantang para raksasa lain, serangan para centaur yang dipimpin Bane dan Ronald dengan senjata ribuan anak panah, serta sebuan para peri rumah yang dipimpin Kreacher (peri rumah yang pernah mengabdi pada Regulus Black). Tapi, apapun itu, saya cukup puas dengan penggambaran dalam film ini. Melihat adegan klimaks dalam film ini, saya merasa tak sia-sia menanti-nanti kapan film ini akan ditayangkan. Juga tak sia-sia kesabaran menyaksikan alur kisah dalam serial film ini.

Tapi saya agak menyesalkan pendeknya dialog antara Harry dan arwah mendiang Albus Dumbledore, serta hilangnya dialog yang paling inspiratif antara Harry dan Voldemort. Dialog ini tidak saya temukan dalam film. Padahal dialog itu sangat penting untuk menarik benang merah moral serta etika di balik tindakan setiap karakter. Sebelum adegan pertarungan terakhir, Harry sempat masuk dalam pensieve atau genangan ingatan Severus Snape yang kemudian membuat terang pandangannya atas apa yang terjadi. Sayangnya, dalam film kita tidak menemukan adegan ketika Harry menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi pada penyihir jahat itu. Sejatinya, jelang pertarungan terakhir terselip satu dialog cerdas antara dua sosok ini. 

Severus Snape yang sering disalahpahami

Harry membuka tabir tentang sosok Professor Severus Snape, sosok yang dianggap Voldemort sebagai abdi setianya. Ia menunjukkan bahwa cinta yang dahsyat dari Snape tehadap ibunya ibarat kompas yang kemudian membawa Snape untuk bersekutu dengan Dumbledore, memainkan peran-peran jahat sehingga diterima penyihir jahat itu, namun tetap melakukan hal-hal heroik dari belakang layar untuk membantu Harry.  Snape adalah pencinta yang dahsyat. Ia terjerat cinta pada sepasang mata hijau milik Lily Potter sehingga bersumpah dnegan sepenuh jiwanya untuk melindungi satu-satunya warisan Lily yang tersisa yakni Harry Potter. Ia memainkan peran para penjahat, membiarkan dirinya jadi bulan-bulanan makian dan cacian para penyihir, namun secara diam-diam ia telah melakukan tindakan luar biasa demi melindungi satu-satunya hal yang menautkan cintanya. Jika Dumbledore adalah pria paling bijaksana yang menyusun peta rencana dnegan detail mengagumkan, maka Snape adalah pencinta paling hebat hingga rela dibakar oleh api cintanya.

Usai menyaksikan film, saya berpendapat bahwa kejahatan memang amat mengerikan. Kejahatan memang amat memuakkan. Tapi kejahatan yang serupa mahluk jahat itu justru takluk oleh perisai cinta kasih. Kejahatan serupa batu karang yang kokoh, namun tak berdaya ketika dibatasi tetes demi tetes embun di setiap pagi. Sosok jahat seperti Voldemort akan kesulitan untuk memahami bahwa cinta kasih adalah energi yang tak habis-habis untuk bergerak. Ia tak bisa memahami bahwa banyaknya jiwa yang rela berkorban demi Harry justru dituntun oleh hasrat cinta kasih serta harapan untuk melihat dunia yang lebih baik. Ia tak paham bahwa cinta adalah mercu suar yang menuntun Harry untuk menemukan jalan cahaya dan hingga menjadi martir yang kemudian bangkit kembali.

“Sekarang apa yang kamu banggakan setelah semua orang berkorban untuk dirimu?” tanya Voldemort dengan suara mirip desis ular. Dengan wajah tenang, Harry menjawab, “Maaf, saya membanggakan cinta kasih mereka. Cinta kasih yang seperti cahaya telah menyelubungi saya, menjadi perisai dari segala gelap yang menikam, serta menjadi senjata untuk memadamkan gelap, dan mencipta cahaya agar kebenaran itu tetap terang.”

trio pemeran film Harry Potter

Apa jadinya Harry jika tidak menyadari cinta kasih tersebut. Sebagaimana kata Snape, Harry adalah seorang anak yang sedikit arogan dan merasa diri hebat karena masa lalunya. Pada dasarnya ia punya potensi menjadi jahat. Ia juga bukanlah yang terbaik di sekolah itu. Ia hanyalah seorang remaja yang meledak-ledak, penuh hasrat ingin tahu, serta sering melabrak aturan. Tapi Harry memiliki banyak sahabat dan guru-guru yang serupa perisai baja melindungi dirinya, dan menjadi kekuatan yang seperti air bah dan menjebol. Ia belajar banyak hal, mengeliminasi keangkuhan tersebut, dan menemukan kristal-kristal cinta kasih yang menyerap keangkuhan. Harry menemukan kedewasaan dalam dekapan cinta kasih yang seperti selubung cahaya. 

Bersama sahabatnya, Harry adalah tim yang lengkap. Ia mendapat amunisi kecerdasan dan keberanian hingga memungkinkannya menjalani misi berbahaya untuk menegakkan kebenaran. Bersama sahabat, guru, serta orang terkasih, ia menemukan selubung cinta, sesuatu yang menjadi senjata dan melindunginya dari segala kemungkinan, menjadi kekuatan yang tampak tampak hingga luput dari pantauan Lord Voldemort sang musuh abadi. Dan kekuatan cinta pulalah yang kemudian mengalahkan sang musuh abadi. 

Adegan terakhir dalam film ini amat menyentuh. Waktu bergerak ke masa 19 tahun berikutnya. Harry telah dewasa dan mengantar anaknya Albus Severus. Sang anak tiba-tiba saja khawatir kalau dirinya akan terlempar ke asrama Slytherin. Tiba-tiba saja Harry langsung berbisik, “Nak, namamu adalah Albus Severus. Keduanya adalah kepala sekolah yang berasal dari asrama berbeda. Albus adalah pria paling bijaksana dalam sejarah. Tapi Severus adalah pria paling berani yang pernah saya kenali. Tak masalah di manapun kamu berada, sepanjang dirimu adalah yang terbaik. Kita memang punya hak untuk memilih. Sepanjang dalam dirimu ada cinta. Yup, cinta kasih”


Makassar, 29 Juli 2011

Pertempuran Terakhir Harry Potter


KETIKA publik tanah air tengah menanti-nanti film Harry Potter: The Deathly Hallow Part 2, saya justru telah menyaksikannya. Bukan di bioskop, melainkan melalui DVD bajakan yang banyak beredar. Kualitasnya belum sempurna, tapi saya cukup puas menyaksikannya. Alurnya cukup jelas, suara dan gambar juga cukup terang. Melalui DVD bajakan itu, saya bisa merasakan puncak pertempuran di dunia sihir Harry Potter, ketika pasukan kegelapan yang dipimpin Lord Voldemort menyerbu kastil Hogwart.

Film ini memang bukan untuk anak-anak lagi. Sedari awal hingga akhir adalah pertempuran antar para penyihir yang memperebutkan supremasi di dunia sihir. Laksana epik Mahabharata, yang bertempur di situ bukan Harry versus Voldemort, melainkan kebaikan versus kejahatan. Pada masing-masing kubu terdapat begitu banyak manusia yang mempertaruhkan nama baik serta nilai-nilai kehormatan.

Saya cukup nikmat menyaksikannya. Meskipun cuma lewat DVD bajakan. Setidaknya saya senang karena bisa mendahului banyak orang yang belum menyaksikannya. Insyallah, besok saya akan meresensinya di Kompasiana.(*)

Heboh Penjual Obat di Kota Makassar


PRIA itu memejamkan mata. Bibirnya merapal beberapa mantra dalam bahasa yang sukar diketahui. Tak lama kemudian ia menghembuskan air dari mulutnya ke kaki seorang remaja yang kemudian pingsan di tempat. Ia lalu membuka sebuah peti dan keluarlah ular sawah yang melata menuju remaja itu. Semua orang langsung ketakutan. Seroang perempuan histeris. Tapi pria yang mengenakan kopiah itu hanya tersenyum. Ia lalu mengambil ular itu lalu berbisik di telinga ular. Entah apa yang dibisikannya, yang jelas ular lalu patuh pada keinginan lelaki di tengah lingkaran tersebut. Pria itu seperti Harry Potter yang menguasai bahasa ular dan memerintahkan untuk masuk ke dalam kotak.

Saya tidak sedang bercerita tentang sirkus atau atraksi mengendalikan binatang. Bukan juga membahas Harry Potter yang heboh. Saya sedang berbicara tentang atraksi seorang penjual obat yang seolah membahami bahasa ular sebagaimana Harry Potter di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Saat ini, warga Makassar sedang demam penjual obat. Mungkin ini aneh sebab rumah sakit bertaraf internasional berdiri megah di mana-mana. Bahkan klinik asal negeri lain ikut-ikutan berdiri di kota ini. Tapi warganya tetap saja jauh lebih percaya pada penjual obat di pinggir jalan ketimbang klinik mahal itu.

Dalam sehari, saya bisa menyaksikan dua penjual obat di pinggir jalan. Pertama saya saksikan di depan ruko dekat Gedung Arsip, Tamalanrea. Kedua, saya saksikan di dekat Mal M-Tos. Pemandangannya sama. Masyarakat menyemut, membentuk lingkaran, dan di tengah lingkaran itu, sang penjual obat beraksi. Sang penjual obat ibarat seorang maestro yang menampilkan kehebatannya. Ia sadar betul bahwa lingkaran itu adalah panggung dan dirinya ibarat presiden yang menyihir penontonnya. Di situ doktrin tentang negara yang memberikan jaminan kesehatan bagi warga tidak berlaku. Ia punya kuasa untuk menentukan apa yang benar dan tidak benar, mana yang sakit dan mana yang sehat.

Kita mungkin menyebutnya pembual. Tapi di lingkaran itu ia seolah memaparkan sabda yang diamini semua penonton. Buktinya, penonton merogoh kocek dan mengeluarkan pundi-pundinya demi sang penjual obat. Ia memulai retorika tentang obat setelah sebelumnya mengeluarkan atraksi demi mengumpulkan massa. Ia sering menampilkan binatang seperti buaya atau ular. Kadang ia beratraksi seakan-akan hendak menyembelih asistennya. Ketika massa menyemut, mulailah ia mengeluarkan obatnya dan menjajakan kepada khalayak. Sungguh ajaib! Obat itu ludes terjual hanya dalam hitungan menit.


Ini fenomena apa? Kita bisa menyusun banyak hipotesis. Boleh jadi masyarakat suka dengan hiburan. Boleh jadi masyarakat kita suka dengan hal-hal mistik, misalnya kontak manusia dengan ular atau buaya. Kawasan dekat Sungai Tello, Makassar, adalah kawasan yang paling sering macet berjam-jam hanya karena berhembus isu kalau di situ ada buaya putih yang datang mencari saudaranya, manusia di sekitar sungai itu. Semua penasaran. Jalanan macet. Keesokan harinya, semua koran lokal akan menampilkan berita misteri buaya putih itu.

Masyarakat Makassar memang suka dengan hal-hal mistik, khususnya cerita tentang buaya yang bersaudara dengan manusia. Makanya, ketika penjual obat menampilkan buaya, maka masyarakat akan berkerumun. Apalagi kalau sang penjual obat mengisahkan hal-hal misterius tentang buaya itu. Ia paham tentang psikologi massa serta apa saja yang membetot perhatian publik.

Saya melihat penjual obat sebagaimana dukun. Mereka punya kemampuan tradisional seperti mantra dan sihir, namun dikemas dalam retorika yang hebat tentang satu obat yang bisa menyembuhkan semua penyakit. Pada titik ini, mereka lebih dipercaya ketimbang dokter. Mungkin saja. Kata teman saya, ada perbedaan besar antara dokter dengan penjual obat. Jika dokter menyembuhkan satu penyakit dengan cara memberikan banyak obat, maka penjual obat berjanji untuk menyembuhkan banyak penyakit hanya dengan satu obat. Perbedaan lainnya, dokter mengobati pasien dengan ekspresi yang dingin dan tenang. Sementara penjual obat memberikan ilustrasi, deskripsi, serta retorika yang menguatkan.

Saya menyebut kata ‘menguatkan’ karena saya melihat penjual obat seperti halnya terapis yang memberikan harapan kepada penontonnya. Ia tidak hanya menghibur tapi juga menumbuhkan optimisme bahwa penyakit seberat apapun pasti bisa sembuh sepanjang kita yakin dengan khasiat apa yang kita minum. Malah, kemarin saya melihat seorang penjual obat yang beberapa kali membacakan ayat-ayat Al Quran demi membuka rezeki seorang tukang becak. Bagi saya ini jelas aneh. Jika sang penjual obat bisa membuka rezeki, mengapa ia tidak meminta langit untuk membuka pintu rezekinya sehingga ia tak perlu jual obat di pinggir jalan? Makanya, saya melihat itu sebagai strategi retorika. Masyarakat tersentuh dan tersugesti, dan di sisi lain, ia juga sukses sebagai penjual obat.

Komentar Pemerintah

Banyaknya penjual obat di seantero Makassar ditanggapi sinis oleh pemerintah. Seorang pejabat Sulsel dengan entengnya menyalahkan warga yang katanya tidak berpendidikan. Sang pejabat menyebut masyarakatnya yang bodoh. “Semua fasilitas kesehatan modern sudah disiapkan, ngapain mereka percaya sama penjual obat,” katanya dengan sedikit angkuh. Saya rasa ini pandangan yang keliru sebab menganggap segalanya berpangkal pada kebodohan masyarakat.

salah satu bagian di RS Wahidin, Makassar, yang dikhususkan bagi pasien kaya
Sesat pikir juga melanda media massa. Kerap media menuding bahwa tingkat pendidikan yang rendah sebagai pemicu tingginya kepercayaan pada penjual obat dan para dukun. Apa sih kaitannya prilaku ke dukun dengan tingkat pendidikan rendah? Saya rasa tak ada kaitannya. Bahkan di negeri yang sudah maju seperti Amerika dan Cina sekalipun, masyarakat masih saja percaya dengan segala ramalan atau peruntungan. Orang Amerika punya ramalan tarot, sementara Cina punya hong shui, feng shui, hingga ramalan garis tangan. Bukankah semuanya sama-sama tak rasional dan tak berbeda dengan praktik perdukunan?

Dalam hal penjual obat, saya melihat mereka punya strategi retorik yang hebat untuk memikat khalayak. Selain itu, di saat bersamaan, ada realitas sosial budaya yang menyebabkan masyarakat begitu mudah percaya pada mereka. Ada kondisi-kondisi yang dialami masyarakat kita yang menyebabkan mereka begitu mudah percaya dengan penjual obat. Pada titik ini, tindakan menyalahkan mayarakat sangat tidak tepat sebab yang perlu dilakukan adalah menyadari situasi dan merefleksikan apa yang dialami masyarakat demi menemukan kesepahaman bersama.

Saya punya analisis sederhana. Banyaknya masyarakat yang menyemut adalah cermin dari mahalnya akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Kian banyak yang miskin dan tidak sanggup untuk memasuki gedung-gedung mewah rumah sakit internasional. Di saat bersamaan, para penjual obat hadir dengan membawa sugesti, memberikan harapan kepada masyarakat untuk sembuh, dan memberikan motivasi kepada masyarakat luas.

RS bertaraf internasional di Makassar
Tindakan ke penjual obat tak bisa dijustifikasi akibat kebodohan atau pendidikan rendah. Kepercayaan pada dukun dan penjual obat dibimbing pikiran rasional yakni keinginan untuk mendapatkan kenyamanan secara psikologis yang tidak membebani isi dompet. Saya pernah mewawancara seorang tukang ojek. “Setiap saya ke rumah sakit, saya harus membayar Rp 200 ribu untuk konsultasi dan obat. Itupun saya diberitahu kalau obatnya habis, maka saya harus balik lagi ke rumah sakit. Tiga kali ke situ, saya sudah bangkrut. Sementara penjual obat, saya hanya bayar Rp 20 ribu termasuk didoakan,” katanya.

Artinya, masyarakat punya alasan yang jauh lebih praktis, efisien, dan low cost dari sisi ekonomi. Masyarakat lebih merdeka dalam bertindak, ketimbang pemerintah yang bertindak karena dipandu sejumlah aturan pusat, konstitusi, udang-undang serta sesuatu yang disebutnya “amanah rakyat.” Sementara masyarakat terbebaskan dari berbagai keharusan itu. Mereka bebas menentukan hendak ke mana dan memilih jalur pengobatan seperti apa. Urusan ke penjual obat saja kok direpotin?

Ketimbang menyalahkan masyarakat, jauh lebih baik jika negara mengintrospeksi diri bagaimana pelayanan rumah sakit. Rumah sakit menjelma menjadi rumah sakit yang sebenarnya yaitu rumah yang kian menyakiti mereka yang datang berkunjung. Biaya yang mahal akibat serbuan produsen farmasi yang memberi iming-iming kepada para dokter telah lama menjauhkan rumah itu dari misi-misi idealis. Meskipun ada banyak program kesehatan, namun selalu saja tidak bisa memberikan kenyamanan bagi pasien.

Kita bisa mengatakan bahwa tindakan masyarakat yang lebih percaya penjual obat adalah potret dari terbatasnya akses ke sarana pengobatan. Sementara tindakan pemerintah yang mengatakan masyarakat bodoh adalah potret bekerjanya kuasa pengetahuan yang mendefinsikan yang lain dengan cara berbeda. Masyarakat punya pengetahuan sendiri, namun pemerintah juga punya kuasa pengetahuan untuk mendefinisikan mereka sebagai bodoh atau rendah pendidikan. 

Kuasa pengetahuan itu bekerja dalam kesadaran dan diejawantahkan dalam praktik yang mendiskriminasikan orang lain. Kuasa pengetahuan itu seakan membatasi pandangan pemerintah agar melihat sesuatu dengan kacamata kuda yaitu hanya melihat satu sisi dan mengabaikan sejumlah nalar yang sangat penting dalam pembentukan kesadaran. Dan ketika rumah sakit tetap saja mahal dan tidak terjangkau masyarakat, maka pilihan untuk berobat ke pria seperti Harry Potter yang memahami bahasa ular akan menjadi pilihan satu-satunya bagi seluruh masyarakat. Bukankah demikian?


Makassar, 26 Juli 2011

Gadis Cantik Berbaju Bodo

gadis cantik berbajo bodo


SAYA senang dengan segala sesuatu yang bernuansa tradisional. Kesannya klasik sekaligus eksotik. Bagi saya, pakaian tradisional adalah sesuatu yang unik, khas, dan menonjolkan karakter suatu bangsa. Makanya, ketika berkunjung ke satu tempat, saya berusaha untuk menemukan keunikan- keunikan tersebut. Sayangnya, saya hanya menemukan pakaian tradisional tersebut pada momen tertentu.

Saat melintas di Mal Panakkukang, Makassar, saya menyempatkan diri untuk memotret sejumlah gadis berbaju tradisional Bugis. Baju ini dinamakan baju bodo, berupa kain yang menerawang. Ketika melihat gadis berbaju bodo, saya selalu melihat keseksian serta aura kecantikan yang memancar dari para gadis Bugis. Terhadap keseksian dan kecantikan ini, saya pernah menulis Seks Jawa Versus Seks Bugis. Silakan menyimak.

Ber-Iphone 4 Demi Narsis

KEMARIN, saya resmi menerima hadiah Iphone 4 atas sebuah tulisan yang jadi juara lomba. Saya bahagia karena menerima penghargaan itu dalam sebuah acara yang dihadiri blogger Kompasiana se-Sulawesi Selatan. Saya seolah sedang bermimpi. Kepada istri, saya sering berkata, "Kok bisa, sebuah tulisan yang hanya dibuat dalam tempo tidak sampai 30 menit, tiba-tiba jadi buah bibir dan memenangkan hadiah tertinggi?"

saat menerima hadiah dari Pepih Nugraha, editor senior Kompas

Tapi inilah kenyataanya. Hadiah ini membuat saya naik kelas untuk dua hal. Pertama, dari status sebagai pemakai HP Cina bermerk Mitho, yang harganya di pasaran cuma 500 ribu, kini akan menyandang ponsel jenis Apple Iphone 4 yang harganya di pasaran hingga Rp 7 juta lebih. Kedua, status saya sebagai penulis langsung naik kelas. Dalam pertemuan blogger, teman-teman memosisikan saya sebagai 'Yang Dituakan.' Malah, dalam pertemuan kemarin, beberapa blogger senior Kompasiana di Makassar hendak mendapuk saya sebagai ketua Kompasioner se-Makassar, sebuah posisi yang tidak mungkin saya ambil dikarenakan sering bepergian. Makanya, saya melihat permintaan itu sebagai apresiasi atas apa yang diraih. Saya mesti melihatnya sebagai cambuk untuk terus mengasah diri dan mencapai level tertentu.

Hari ini, saya mulai menimang-nimang hadiah tersebut. Saya baru tahu kalau ternyata Iphone 4 tidak sama dengan HP cina yang begitu dibeli langsung dipakai. Ternyata HP ini dibeli dalam keadaan kosong, dan kita mesti membeli program di Application Store mili Apple terdekat. Setelah itu, transaksi akan dilakukan lewat online di mana pembayarannya melalui kartu kredit. Beberapa teman menyarankan agar HP itu di-jailbreak, yakni dibongkar kode-kodenya sehingga bisa dimasukkan banyak program secara gratis. Tapi risiko ketika men-jailbreak adalah karti garansi yang diberikan Apple tidak lagi berlaku. Nah, pilih mana?

Iphone 4

Saya benar-benar awam soal ini. Ternyata harga mahal itu harus diikuti prosedur yang cukup ribet. Saya memang bukan bagian dari kelas pemakai ponsel ini yang setiap saat bisa bertransaksi dengan credit card. Makanya, saya melihat HP ini hanya untuk gaya-gayaan. Saya memakai HP ini demi narsis. Biar dikira orang kaya. Hehehe.


Makassar, 24 Juli 2011

Kutulis Surat Ini dengan CINTA

KUTULISKAN surat ini untukmu. Tidak dengan perangko. Tidak dimasukkan dalam amplop. Kutuliskan surat ini dengan sentuhan jari pada keyboard laptop dengan harapan agar ada kasih yang mengalir lewat jemari. Usiamu telah memasuki sembilan bulan dalam perut ibumu. Mungkin saat ini kau mulai mengerti alunan suara ibumu ketika sedang mengaji. Mungkin saat ini engkau mengenali suaraku yang selalu menyapamu lewat perut ibumu. Aku dan ibumu tengah menanti saat-saat indah ketika dirimu melihat dunia, meneriakkan keberadaanmu lewat tangisan, membersitkan rasa haru bagi siapapun yang menyaksikan hadirmu.


Hari-hariku adalah penantian atas dirimu. Aku menanti-nanti hadirmu dengan berdebar. Ada rasa rindu yang berdenyut-denyut dalam hatiku. Tapi, ada pula rasa bahagia sekaligus rasa takut yang menjalar di hati ini. Bahagia karena dirimu akan menjadi sahabat, kekasih hati, serta prasasti yang menjadi perlambang ikatan cinta kami. Tapi rasa takut juga muncul kala didera kekhawatiran kalau-kalau diriku gagal melukis harimu dnegan bahagia.

Aku sering merasa tak siap menjadi seorang ayah. Hari-hariku adalah hari yang dinamis dan berpindah. Aku seorang egois yang lebih banyak memikirkan diri sendiri ketimbang orang lain. Ketika ibumu memutuskan untuk hidup bersamaku, tiba-tiba kurasai sebuah tanggungjawab yang serupa beban di punggungku. Aku takut tak sanggup menunaikannya. Tapi bagaimanapun juga aku mesti mengambil tangggungjawab untuk menyiapkan lahan subur agar dirimu tumbuh subur dan kelak berguna bagi semesta.

Kutuliskan surat ini untukmu agar kelak engkau mengalami perasaanku ini. Kelak engkau akan menjadi orang dewasa yang merasai diriku saat ini. Kelak engkau akan membaca baris demi baris yang kutuliskan untukmu. Semoga engkau memahami betapa derasnya kasihku untukmu. Semoga kelak engkau tak akan malu menyebut namaku sebagai bagian penting dari segala hal yang positif yang pernah kau gapai. Semoga kelak kau merasai bahwa dirimu terlahir karena cinta, tumbuh karena cinta, dan kelak dewasa arena cinta. Dirimu, diriku dan ibumu dipersatukan dalam sebuah lingkaran yang sama: CINTA.


Makassar, 21 Juli 2011

Berkantor di Dunia Maya

DEFINISI perkantoran sudah waktunya untuk ditinjau ulang. Kantor bukan lagi sebuah ruangan yang disekat oleh tembok dan di situ terdapat banyak meja serta komputer. Apa yang kita sebut ruang kantor bisa jadi tidak menempati bentuk, bisa berada di mana saja. Banyak orang yang berkantor di dunia maya, berhubungan dengan banyak orang melalui internet, mengerjakan tugas serta pekerjaan di mana saja, sepanjang masih terkoneksi di internet.

ilustrasi

Saya mengalaminya selama beberapa hari. Saya sedang mengerjakan satu pekerjaan yang menuntut saya untuk banyak berkonsentrasi. Dikarenakan saya sedang menanti kelahiran bayi tercinta di Makassar, maka waktu saya pun lebih banyak di kota ini. Tapi, saya juga bisa terkoneksi dengan siapa saja melalui akses internet. Saya mengerjakan tugas, menyelesaikan sesuatu, sambil terus berkoordinasi dengan anggota tim di tempat lain.

Saya berkantor di rumah, namun sesekali berkantor pula di warung kopi. Di situ, saya memesan segelas teh, kemudian duduk hingga berjam-jam sambil mengetik di laptop, dan sering berhubungan dengan banyak orang di internet. Ketika jenuh, saya sering berpindah ke warung kopi lain keesokan harinya. Saya butuh suasana tenang yang bisa menstimulasi pikiran yang jernih dan ide-ide segar demi melahirkan banyak gagasan.

Pada saat nongkrong di warung kopi, saya teringat dengan cerpenis dan penulis skenario terkenal, jujur Prananto. Ia menghabiskan harinya di kafe-kafe di Jakarta bersama laptopnya. Di situ ia menulis dan melahirkan banyak karya hebat, yang di antaranya adalah scenario film Ada Apa dengan Cinta? Saya juga teringat dengan novelis kesukaan istriku, Dewi Lestari. Kata Dewi, saat hendak menyelesaikan naskah, ia akan mencari tempat di mana tak satupun orang mengenalnya. Di situ ia akan menghabiskan waktu berjam-jam demi merampungkan naskah. Pernah, Dewi lestari khusus menyewa kos-kosan di dekat kampus demi merasakan suasana kampus saat menyelesaikan novel Perahu Kertas.

Saya bukan Dewi Lestari. Bukan pula Jujur Prananto. Tapi saya bisa merasakan semangat mereka yang berumah di warung kopi dan berkantor di dunia maya. Apakah ini yang disebut ciri manusia modern?

Tidak Nyaman di Dunkin Donuts

RESTORAN Dunkin Donuts di M-Tos Makassar bukanlah tempat yang nyaman untuk hang out. Aneh, sebuah restoran waralaba mewah kayak Dunkin tiba-tiba saja tidak punya tempat untuk colokan listrik. Padahal, di sini tersedia fasilitas wifi untuk akses internet. Lantas, ketika sedang surfing di internet dan laptop tiba-tiba lowbat, apa yang bisa dilakukan? Tak ada, selain menggerutu dan pulang.

Entah apa yang ada di benak pemilik tempat makan donat ini. Tempat ini bterletak tak jauh dari kampus-kampus besari di Makassar. Tempat ini juga di dekat areal pemukiman mahasiswa. Mestinya kenyamanan para pengunjung adalah nomor satu. Tapi mungkin saja mereka tidak ingin pengunjungnya berlama-lama di sini. Jika demikian, mengapa pula sampai menyediakan fasilitas wifi? Aneh.



Sayang sekali karena tulisan ini harus diakhiri di sini. Tiba-tiba saja laptop ini lowbat dan saya gak tahu harus ngechast di mana.

Menulis, Kejernihan, dan Butiran Apresiasi

MENULIS adalah sebentuk upaya untuk mengalirkan segala yang mengendap dalam jiwa. Menulis adalah sebuah tindakan lepas untuk mengalirkan kegelisahan, mengabadikan sebuah kesan atas peristiwa agar tidak punah dalam sejarah. Menulis adalah kesunyian yang memekakan telinga, upaya mendengar dawai lirih sebuah patahan realitas, mengikatnya dalam sehimpun makna, lalu menjeratnya dalam hutan aksara.

banner lomba menulis

Selama sekian lama saya bertahan dengan prinsip-prinsip bahwa menulis adalah arena untuk membekukan segala yang dilihat, didengar, dan dipikirkan. Selama empat tahun, saya menulis segala yang saya pikirkan dan alami dalam blog ini secara konstan hingga mencapai 1500 tulisan lebih. Saya tak peduli dengan komentar sinis yang menganggapnya sebagai kesia-siaan. Saya merasa tidak melakukan sesuatu yang sia-sia. Saya merasa sedang menemukan ketenangan jiwa usai menulis sesuatu. Ketika menulis, saya seolah sedang bermeditasi ketika pikiran bisa lebih fokus saat melihat deretan aksara. Logika saya lebih runtut ketika mengalirkan tetes demi tetes pemikiran. 

Lewat tulisan, saya sering menjadi hakim, jaksa, serta pengacara atas sesuatu. Saya seringkali memvonis sesuatu secara lepas dari sudut pandang yang amat subyektif dan manusiawi. Bukan sekali atau dua kali saya bermasalah dengan tulisan. Namun semua permasalahan itu saya lihat sebagai batu ujian yang terus menempa diri untuk memahami mana rambu-rambu dalam kepenulisan. Saya melihat masalah itu sebagai jalan berkelok untuk menemukan diri saya; menemukan mata air jernih dalam diri yang menjadi tempat saya untuk membasuh hati dan mengembunkan pikiran.

Dengan segala permasalahan itu, menulis tetap menjadi jalan pulang ke dalam diri. Sungguh, saya tak menyangka jika apa yang dulu ditanam itu perlahan membuahkan hasil. Berkat menulis –yang awalnya dicemooh sebagai kesia-siaan-- itu, saya berhasil menggapai banyak hal yang mulanya hanya bisa saya impikan. Setahun silam, saya lulus sebuah beasiswa bergengsi ke luar negeri berkat menulis. Bahkan saya juga menyelesaikan beberapa proyek yang berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Saya pun dipertemukan dengan wanita yang kini menjadi istri berkat aktivitas menulis. Separuh biaya pernikahan pun diperoleh lewat menulis.

Kini, saya tiba-tiba dikejutkan lagi dengan sebuah pencapaian mengejutkan dalam hidup. Tuhan seolah-olah tak henti-hentinya menjatuhkan hujan rezeki belakangan ini. Saya dinyatakan sebagai juara pertama lomba ngeblog seharian yang diadakan Kompasiana dan Telkomsel pada 24 Mei lalu (beritanya DI SINI). Seumur-umur saya nge-blog, inilah pertama kalinya sebuah tulisan saya (sebagaimana bisa dibaca DI SINI) bisa memenangkan lomba. Bukankah ini mengejutkan? 

pengumuman lomba menulis

Sungguh saya tak menyangka. Sebuah tulisan yang dibuat hanya dalam rentang waktu 30 menit tiba-tiba dinyatakan sebagai juara pertama untuk sebuah lomba kepenulisan yang prestisius bagi orang daerah seperti saya. Sungguh saya tak menyangka. Sebuah tulisan yang diniatkan untuk memberikan gambaran tentang keadaan kampung sendiri, sebuah titik yang mungkin sama sekali asing bagi mayoritas public negeri ini, tiba-tiba mendapatkan apresiasi yang lebih dari apa yang saya bayangkan sebelumnya.

Saya amat-amat sangat bahagia dengan segala pencapaian ini. Bukan karena menjadi juara pertama yang diadakan social blog terbesar di Indonesia yang dimiliki grup media paling bergengsi di negeri ini. Bukan karena tulisan saya telah menyisihkan 667 tulisan lain yang juga hebat-hebat dari seluruh penjuru nusantara. Bukan pula karena hadiah teknologi yang dulunya hanya bisa saya khayalkan karena tak sanggup dijangkau isi dompet. 

tulisan juara itu bisa dibaca DI SINI

Saya bahagia karena satu keping kenyataan yang hendak saya kabarkan bisa bergema hingga menjangkau banyak sudut negeri ini. Saya bahagia karena pengalaman bertemu anak-anak kecil perenang koin di kampung saya berhasil dituliskan, menginspirasi banyak orang, dan dinyatakan sebagai juara. Saya bahagia karena tulisan itu bisa menyentuh hasrat ingin tahu, mendobrak cara berpikir yang keliru atas para perenang cilik itu, sekaligus menggedor kesadaran banyak orang bahwa negeri ini terlampau sering dilihat hanya dengan cara pandang Jakarta. Saya ingin agar ada pandangan yang berimbang sehingga setiap kenyataan bisa dipahami dan dimaknai sebagaimana warga lokal memandang kejadian tersebut.

Semoga penghargaan ini menjadi pecut atas kreativitas saya yang pasang surut. Pada akhirnya saya mengamini pandangan Master Oogway dalam film Kungfu Panda bahwa tak ada sesuatu yang sia-sia dalam hidup. Segala sesuatu bukan terjadi secara kebetulan dan spontan begitu saja, namun selalu ada butiran-butiran hikmah dan endapan makna yang ditemukan tatkala kita menyibak kabut-kabut pesimisme dalam diri. Dan butiran hikmah itu ditemukan dalam diri melalui satu aktivitas sederhana yang mungkin diabaikan banyak orang. Aktivitas itu adalah menulis.(*)



Makassar, 15 Juli 2011

Master Oogway dan Master Shifu dalam Kungfu Panda


Transformers 3: Saat Fiksi Menjajah Fakta

KISAH fiksi kerapkali dijejalkan dalam fakta. Yang lahir kemudian adalah sebuah jalinan kisah yang menarik, menegangkan dan penuh teka-teki. Kita –yang hidup di zaman ini—menyebutnya kreatifitas sebab sebuah peristiwa yang telah lewat, diberi makna baru dan ditafsirkan ulang sesuai dengan konteks zaman sekarang. Namun, seringkali kreatifitas seperti ini membutuhkan jiwa besar untuk melihat masa silam tidak dengan cara pandang sejarah ilmiah yang kaku. Masa silam dilihat semacam puzzle yang kisahnya dibongkar dan disusun ulang mengikuti logika tertentu.

Kesimpulan ini saya buat setelah menyaksikan dua film yang sekarang lagi trend yakni Transformer 3 dan X-Man: The First Class. Persamaan di antara kedua film ini adalah sama-sama mengacu pada sebuah pristiwa yang pernah ada pada masa silam, namun ditafsirkan ulang dengan sudut penceritaan tertentu sehingga nikmat untuk dikunyah di zaman ini.

Realitas yang diacu dalam film Transformers 3: Dark of The Moon adalah realitas ketika beberapa astronot Amerika Serikat (AS) menginjakkan kaki di bulan. Pada masa itu, AS adalah negara yang amat ambisius untuk menjangkau langit. AS bersaing dengan Uni Soviet dalam pertandingan untuk menaklukan luar angkasa. Ketika seorang kosmonout (di Uni Soviet, seorang astronot disebut kosmonout) bernama Yuri Gagarin sukses mengorbit bumi, AS seakan kebakaran jenggot. Mereka lalu menyiapkan ekspedisi menginjakkan kaki di bulan melalui pesawat Apollo 11 yang diawaki Neil Amstrong, Edwin Aldrin, dan Michael Collins.

Dalam film Tranformer 3, misi para astronot lebih dari apa yang selama ini dianggap sebagai sejarah. Misi mereka adalah menemukan kapal asing yang mendarat di bulan dan mengambil sumber energi di kapal tersebut. Misi ini tidak diungkapkan kepada publik sebab dikhawatirkan akan mengundang reaksi yang berlebihan. Dalam film ini, para astronot itu hendak mengungkap sesuatu yang terkait dengan duel abadi para robot yang menginginkan kedamaian (disebut Autobot) melawan robot yang hendak menghancurkan bumi (Decepticon)

X-Men: The First Class

Lain lagi dengan film X-Men: The First Class. Film ini mengangkat setting usai Perang Dunia II di mana Amerika Serikat (AS) berseteru dengan Jerman. Kisahnya berpuncak ketika Uni Soviet memasang rudal di Kuba, dan dikhawatirkan akan menjangkau kota-kota besar di AS seperti Florida atau Miami. Seingat saya, dalam sejarah, peristiwa ini dicatat sebagai Cuban Missile Crisis yang memanaskan hubungan AS dan Soviet. 

Dalam film, beberapa kali muncul Presiden John F Kennedy yang menyatakan bahwa AS siap menghadapi invasi Uni Soviet yang saat itu dipimpin Presiden Nikita Kruschev. Logika yang dibangun dalam film X-Men: The First Class adalah konflik itu disebabkan para mutant –semacam manusia yang memiliki kekuatan super yang didapat secara genetis. Para mutant itu hendak mengobarkan peperangan sesama manusia, sehingga mengambil alih dunia. Sayang, rencana itu diketahui para mutant berhati baik yang membela nilai kemanusiaan. Krisis itu terelakkan. AS dan Soviet lalu memilih damai dan menghindari perang nuklir.

Optimus Prime, pemimpin para robot Autobot

Yang menarik buat saya bukanlah kecanggihan teknologi yang ditampilkan film ini berupa mobil-mobil robot-robot yang bisa beralihrupa menjadi robot tempur. Bukan pula pada manusia mutant yang memiliki kekuatan super. Yang menarik buat saya adalah kemampuan para pembuat film untuk menyelipkan fiksi ke dalam fakta-fakta tentang satu kejadian. Memang, jika dibandingkan film National Treasure yang dibintangi Nicholas Cage atau kisah Da Vinci Code karya Dan Brown, teka-teki dalam film ini teramat mudah dibaca. Tapi setidaknya, saya melihat ada upaya untuk terus menafsir ulang sebuah kejadian di masa silam, dan melapisinya dengan fiksi baru yang kemudian laku dijual di zaman ini. Dan kekuatan sebuah negeri seperti Smerika adalah memberikan imajinasi atas kejadian masa lamoau dan dijual ulang menjadi tontonan bagi manusia di zaman ini. Kisah masa silam bisa bernilai miliaran dollar ketika disajikan dalam sinema ala Hollywood.

Saya teringat sebuah buku berjudul Ethnography and Historical Imagination. Kata Comaroff –penulis buku ini—apa yang kita sebut sebagai sejarah atau catatan atas peristiwa masa silam tidak lebih dari imajinasi manusia masa kini yang dirangkai dari sejumlah bukti-bukti sejarah. Makanya, kita tak akan pernah mencapai kebenaran masa silam. Kita hanya menghampiri kebenaran tersebut melalui imajinasi yang ‘dijahit’ dari kumpulan fakta. Antara fakta dan fiksi bisa berkelindan sehingga sukar dibedakan. Fiksi sering menjadi fakta ketika dituturkan secara terus-menerus sehingga terlembaga dalam kesadaran kita.

Dalam kedua film itu, saya merasakan aura penceritaan tentang supremasi Amerika Serikat (AS)_ atas teknologi dan supremasi atas penegakan nilai kemanusiaan. Apakah benar demikian? Entahlah. Tapi kok saya ragu dengan kebenaran ini.(*)

Berdoa Sebelum Menggambar


KETIKA perintah "mulai" diperdengarkan, semua anak sontak mulai mewarnai gambar yang ada di meja kecil di hadapannya di Mal Panakkukang, Makassar, akhir Juni lalu. Sekitar 250 anak mengikuti lomba mewarnai yang diadakan organisasi mahasiswa dan disponsori produk susu. Saat itu, saya menyempatkan diri untuk memotret seorang anak yang juga peserta lomba.

Anak ini tidak lantas mewarnai. Ia masih menyempatkan diri untuk berdoa. Entah apakah anak ini serius atau tidak, yang jelas, di pinggir arena, orang tuanya menyaksikan anak itu dengan sorot mata penuh kebanggan. Dan si anak pun sesekali melihat orang tuanya, meskipun ia sedang berdoa. Saat diliriknya sang orang tua menoleh ke tempat lain, ia langsung menghentikan doa dan mulai menggambar.(*)

Balon-Balon Bujuk Rayu

balon-balon di Panakkukang


MAKASSAR adalah surganya pemilik merek asing. Tanggal 28 Juni lalu, telah diresmikan sebuah supermarket berlisensi asing yakni LOTTE MART. Bertempat di Mal Panakkukang, Lotte Mart menempati dua lantai paling luas di mal terbesar di Makassar tersebut. 

Suasana pembukaan perdana (grand launching) cukup heboh. Nyaris di banyak ruas jalan penting kota Makassar, terdapat spanduk-spanduk merah bertuliskan Lotte. Di dalam Mal panakkukang sendiri, ada begitu banyak poster, serta selebaran yang menginformasikan tentang perbelanjaan besar ini. Bahkan di depan mal ini, saya melihat banyak balon besar yang bertuliskan produk. Pada masing-masing balon terdapat brand atau cap produk tertentu yang dipasarkan di Lotte Mart.


Kehebohan kian nampak saat pembukaan. Supermarket itu sesak dengan manusia yang gila belanja. Entah ini fenomena apa. Namun saya merasakan bahwa denyut nadi kota ini sudah mengarah ke konsumsi yang terus-menerus. Semua orang ingin belanja mewah. Semua ingin nampak bergaya. Semua orang ingin penampilannya heboh dan rela menghabiskan banyak uang demi pencitraan itu.

Nampaknya mahluk bernama kapitalisme telah sukses mencengkeramkan kukunya di kota kecil ini. Dan semua orang tiba-tiba terjerat pesonanya. Semuanya karena mantra ampuh kapitalisme yang penuh bujuk rayu, sebagaimana terlihat dari balon-balon udara tersebut.(*)

Saatnya Memproteksi Foto

salah satu fotoku yang dikopi tanpa izin


BULAN lalu, saat singgah di Pasar Wameo, Baubau, saya terkejut menyaksikan ID Card tukang parkir di pasar tersebut. Betapa tidak, para tukang parkir di pasar itu mengenakan kartu pengenal yang bergambarkan patung naga hijau Lawero yang kokoh di Pantai Kamali. Yang membuat saya terkejut karena gambar Lawero itu adalah hasil jepretan saya dan pernah dipublikasikan di blog ini.

Beberapa hari berikutnya, sahabat Mukmin menginformasikan tentang gambar seorang nelayan di Buton Utara. Ia yakin benar kalau gambar itu adalah hasil jepretan saya dan pernah tayang di blog ini. Ini bukan sekali. Sebelumnya, harian ini pernah pula menayangkan foto jepretan saya, tanpa sekalipun memberikan konfirmasi. Padahal, semua orang yang kerja di media sama-sama mafhum bahwa mengambil karya orang lain tanpa izin adalah sebentuk perampokan atas karya intelektual.

foto nelayan Buton Utara yang dimuat Radar Buton tanpa izin
Setelah saya renungi, mungkin karena gambar tersebut saya tayangkan begitu saja, tanpe mengeditnya. Pantas saja jika orang lain degan mudah mengambil foto itu, lalu menayangkannya, tanpa perlu membuat konfirmasi. Makanya, saya berpikir bahwa sudah saatnya membuat proteksi atas apa yang tayang di blog ini. Mulai malam mini, saya akan mengedit semua foto yang tayang dengan cara memasang nama saya di tengah foto itu. Sehingga siapapun yang hendak menggunakannya, mesti mengontak saya sebelumnya.

Kedepannya, saya ingin mencari cara agar memproteksi semua teks yang tayang di blog ini sehingga tidak bisa di-copypaste.

Menafsir Demam Blackberry

DUA tahun lalu, aku membaca berita tentang Presiden Barrack Obama yang keranjingan Blackberry (BB). Berita itu juga menyebutkan bahwa staf Gedung Putih (white house) mengeluarkan aturan ketat yang membatasi penggunaan Blackberry. Dulunya, aturan itu agak aneh bagiku. Tapi tidak sekarang, sejak kuperhatikan sendiri seberapa lama istriku stand by di hadapan BB dan memelototinya selama berjam-jam.

Sejatinya, tak ada yang berbeda antara BB dengan handphone jenis lain.  Tapi dari sisi koneksi dan aksesibilitas, BB bisa dikatakan terdepan. Melalui BB, anda hanya cukup membayar tagihan sebesar Rp 100 ribu per bulan, dan selanjutnya anda akan terkoneksi setiap saat. Bahkan fitur BB messenger bisa anda gunakan untuk berkirim pesan, foto, video, hingga animasi secara gratis, tak peduli seberapa banyak pesan itu anda kirimkan selagi anda terkoneksi. Inilah kelebihan BB yang tidak ditawarkan ponsel jenis lain.

Sudah seminggu istriku keranjingan dengan BB. Ia rajin memantau facebook, twitter, dan berbagai situs lain setiap harinya. Ia menikmati hari-hari bersama BB dan terkoneksi dengan semua teman-temannya setiap saat tanpa harus memikirkan pulsa bulanan. Ini memang era cyber di mana perjumpaan secara fisik sudah tidak diperlukan lagi. Anda bisa berada di belahan dunia manapun, namun bisa tetap saling sapa, atau saling mencandai, selagi ada perangkat teknologi di tangan anda. Teknologi telah mendefinisikan ulang tentang ruang yang mulai mencair. Batasan fisik mulai dipertanyakan selagi bisa terhubung. Di era ini kategori seperti desa-kota atau pinggiran-pusat sudah waktunya ditafsir ulang terkait keberadaan teknologi.

Kelebihan BB di mata istriku adalah kemampuan untuk membentuk komunitas maya yang masing-masing anggotanya bisa terus meng-update perkembangan. Mereka bisa membentuk satu grup di mana setiap pesan bisa terkirim secara gratis ke semua anggotanya. Sama persis dengan kenanggotaan sebuah grup di facebook. Tapi di BB, anda terhubung dengan semua anggota grup melalui ponsel di tangan, dan semua komunikasi dilakukan dengan gratis, tanpa biaya. Tidak hetan jika istriku bisa tetap menjaga hubungan dengan teman-teman sekelasnya di kampus yang nota bene tersebar di banyak kota.

Tulisan ini masih amat tentatif (sementara). Sepertinya aku masih harus banyak melakukan pengamatan atas aktivitasnya selama berjam-jam di BB. Keuntungan sebagai seorang penulis adalah segala apa yang ada di sekitar bisa menjadi inspirasi untuk menulis. Bahkan istri sekalipun bisa jadi bahan observasi untuk dituliskan. Iya khan?

Bukan Padamu Negeri, Tapi PEDEMU NEGERI


MAAFKAN jika foto ini agak buram. Saya memotretnya dengan terburu-buru di jok kursi pesawat Lion Air yang saya tumpangi dari Jakarta ke Makassar. Gambarnya unik sebab memplesetkan sebuah lagu terkenal Padamu Negeri karya Kusbini. Tapi, dalam foto ini yang tertulis adalah Pedemu Negeri, dan dibawahnya ada tulisan 100 persen indonesia. Tampaknya, pesan yang hendak disampaikan adalah kita harus bangga alias pede dengan segala produk buatan dalam negeri. 

Entah produk mana yang dimaksud. Bisa jadi jok pesawat itu dijahit di dalam negeri. Yang pasti, gak  mungkin produk yang dimaksud adalah pesawat lion Air. Sebab saya amat yakin kalau pesawat itu bukan buatan dalam negeri. Lantas, produk apa dong?

Buku Antropologi Terbaru dari Tony Rudyansjah


HARI ini saya membeli buku Alam, Kebudayaan & Yang Ilahi; Turunan, Percabangan, dan Pengingkaran dalam Teori Sosial Budaya. Buku yang ditulis Tony Rudyansjah --saya cukup mengenal beliau sebagai pengajar di Departemen Antropologi UI-- berisikan telaah atas asal-muasal, perkembangan, dan percabangan dalam teori-teori sosial. Melihat sampul dan daftar isi, saya langsung tertarik sebab membayangkan ada uraian tentang sejarah perkembangan teori-teori sosial, khususnya antropologi. Apalagi, ada pula endorsement atau komentar dari beberapa orang ahli sosial. Maka semakin semangatlah saya untuk membelinya.

Saya memberikan apresiasi yang dalam atas karya ini. Entah kenapa, belakangan ini, amat jarang ditemukan satu buku komprehensif menyangkut teori antropologi yang ditulis oleh para akademisi antropologi. Selama ini, mereka (para akademisi itu) seakan berumah di atas menara gading dan tidak memberikan pencerahan kepada khalayak tentang dinamika sosial budaya yang ditilik dari tinjauan antropologi. Makanya, ilmu ini seakan nyanyi sunyi di tengah gegap gempita wacana ilmu pengetahuan yang silih berganti hendak menafsir realitas sosial. Ini bukan berarti ilmu antropologi tidak sanggup menjelaskan sebuah gejala. Saya melihatnya lebih pada ketidakmampuan para ahli antropologi untuk mengambil peran, khususnya dalam hal memberikan pencerahan kepada masyarakat. Lantas, apa sajakah yang dilakukan para ahli antropologi? 

Tony Rudyansjah memberikan jawabannya melalui buku ini. Ia menunjukkan bahwa selama ini ia konsisten membangun pemahaman atas ranah teoritik yang digelutinya sebagai pengajar teori. Ia tidak berada di atas menara gading pengetahuan. Ia memberikan penjelasan kepada masyarakat luas –melalui buku—tentang jagad teori yang selama ini ditekuninya. Membaca buku ini saya tiba-tiba memahami bahwa sebuah teori sosial atau teori budaya ibarat jurus silat yang dikuasai seorang pendekar. Jurus itu bisa jadi diwariskan oleh pendekar sebelumnya, atau merupakan refleksi atau pengingkaran atas sebuah jurus silat lainnya. Sebuah teori lahir dari proses persilatan gagasan yang dipengaruhi konteks sosial, latar psikologis seorang pemikir, hingga kondisi-kondisi sejarah yang kemudian mempengaruhi lahirnya teori tersebut.

Sayang, saya belum menuntaskan buku ini. Saya hanya membacanya sekilas, kurang lebih sekitar dua jam. Setelah membolak-balik hingga lembar terakhir, saya merasa bahwa buku ini ditujukan untuk para expert atau mereka yang ahli dalam bidang antropologi, atau minimal sering membaca ragam teori-teori sosial. Makanya, mesti dicamkan baik-baik bahwa isi buku ini bukanlah sesuatu yang mudah dicerna dan ditelan. Sebelum membaca buku ini, sebaiknya kita mesti memiliki pahaman tentang jagad teori sosial sehingga bisa berdialog secara kritis terhadap satu pemikiran, sebagaimana ditampilkan Tony dalam buku ini. Buat para pemula (beginner) sebaiknya jangan membaca buku ini sebab akan mengerutkan kening saking ‘beratnya’ gagasan yang ditampilkan. Saya sendiri –yang nota bene berlatar antropologi—tetap saja kesulitan memahaminya.

Entah kenapa, para ilmuwan sosial kita gemar menulis dengan bahasa yang demikian sulit dan sering berpretensi bahwa pembacanya memahami gagasan tersebut. Mungkin saja karena bahasan dalam buku ini mengarah ke persoalan filsafat. Tapi, saya banyak membaca buku filsafat, dan ssaya beberapa kali menemukan bacaan filsafat yang mudah dipahami. Salah satu contoh yang sering saya kemukakan adalah The Sophie’s World karya Jostein Gardner. Buku ini membahas sejarah perkembangan filsafat, namun gaya bahasanya sangat renyah hingga pembaca senior dan junior bisa memhamai gagasan yang dituliskan. Kita membaca sejarah pemikiran mulai Plato hingga Karl marx dengan pahaman sebagaimana para pembaca novel. Memang berkerut kening, tapi amat mudah dipahami sebab banyak ilustrasi dan contoh-contoh.

Apapun itu, saya tetap mengapresiasi mas Tony Rudyansjah. Dengan cara menuliskan buku ini, ia sudah selangkah lebih jauh dari para seniornya di UI yang hingga kini tak juga menghasilkan satupun karya. Saya tak perlu menyebut nama, namun para antropolog muda di UI tahu betul betapa langkanya karya-karya akademik para senior antropolog yang menjelaskan gejala social. Ini sangat berbeda dengan para sosiolog yang cukup produktif membuat tulisan tentang perkembangan ilmu social. Sekali lagi saya ucapkan selamat buat mas Tony Rudyansjah. Mudah-mudahan saya bisa menuntaskan buku ini, meskipun dengan kening berkerut saking susahnya memahami gagasan di sini. 

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...