Pernahkah Anda Mengalami Diskriminasi?



APAKAH Anda pernah mengalami diskriminasi? Saya telah mengalaminya secara langsung. Hanya karena nama yang bernuansa Arab, saya telah mengalami diskriminasi yang sungguh tak nyaman. Saya tiba-tiba saja dilihat sebagai sosok yang kelak akan membawa bencana, mempersulit ruang gerak orang-orang, hingga akan mendatangkan masalah. Atas alas an itu, saya tiba-tiba dicurigai, dan diamat-amati.

Mengapa ada diskriminasi? Awalnya adalah konsep ‘aku’ yang lebih superior atas orang lain. Ada diri yang merasa lebih entah itu lebih gagah, lebih layak, lebih hebat, atau lebih beradab. Selanjutnya ada konsep orang lain yang dilihat membawa masalah, membawa petaka bagi diri yang dianggap serba berkelebihan tersebut. Dalam proses interaksi sosial, diri yang lain itu dikhawatirkan akan mencemari diri yang sempurna itu. Maka si lebih yang punya kuasa itu lalu menetapkan aturan. Hukum dibuat untuk melindungi si lebih dan nenjauhkan si kurang. Mereka yang kurang itu harus dipelakukan khusus. Mereka harus didiskriminasi agar tidak menyebarkan sesuatu yang akan menganggu kemapanan. Diri yang serba kurang itu harus diperangi. Ia tidak boleh menginfeksi tananan peradaban yang dikontrol si lebih.

Maka tidak heran jika peradaban kita adalah peradaban yang dipenuhi peperangan. Masing-masing hendak menegaskan diri dan ego yang dijaga dengan segala daya upaya. Darah bersimbah demi penegasan diri yang superior itu. Darah pula bersimbah untuk menyatakan bahwa diri yang inferior tidaklah inferior. Semua menyebut Tuhan. Semua membawa-bawa nama kebenaran. Atas nama nilai kebenaran itu, konflik terus memecah hingga membawa bencana bagi semua pihak.

Kita sedang membangun satu peradaban yang maskulin, tanpa cinta kisah. Siapapun yang mengalami diskriminasi akan sadar betapa tak nyamannya diskriminasi itu. Susahnya adalah si pemberi diskriminasi justru merasa sedang menegakkan kalimat Tuhan di muka bumi. Ia mengklaim tindakannya sah demi nilai-nilai tersebut, meskipun tindakan itu membawa diskriminasi atas orang lain. Mungkin yang paling kejam di sini adalah sudut pandang yang merasa diri selalu benar. Ada baiknya jika mendengar suara-suara yang didiskriminasi tersebut. Kebenaran mesti didialogkan biar tidak menindas.

Saya telah mengalami diskriminasi. Sungguh tak nyaman mengalami diskriminasi, tapi saya tidak punya kekuatan untuk mempengaruhi apa yang menjadi persepsi dan keyakinan orang lain atas diri saya. Yang bisa saya lakukan adalah menerima semua kenyataan dan merumuskan alternative lain atas segala kondisi. Mungkin sudah saatnya saya mencari kanalisasi dari ketidaknyamanan ini dan menemukan energy positif atas segala pengalaman ini. Saya kira inilah yang terbaik dan bisa saya lakukan; merenungi kejamnya diskriminasi dan berjanji untuk tidak melakukannya pada orang lain.(*)

4 comments:

  1. visa suspended yah kak?

    ReplyDelete
  2. iya. usai wawancara, yang keluar lembar kuning

    ReplyDelete
  3. wakakakakak....udah pagi pagi ngantri kan kak...hehehehe...sabar sj kaka paling dua minggu kelar..yg penting kalo dpt mi visa amerika lancar meq kmna mana...karena clearance FBI dan CIA

    ReplyDelete
  4. Ya, saya pernah, you are not alone. Suami saya dulu sempat dipersulit juga dapat visa Australia lantaran nama dia ada unsur 'Muhammad'. Ada kalanya dg jilbab yg saya kenakan mendatangkan hal yg tidak diinginkan, ada perlakuan ganjil yg saya rasakan tapi yah jadi musti ati2 aja..Lembar kuning isinya apa?

    ReplyDelete

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...