Mudik sebagai Mesin Waktu

AROMA mudik sudah mulai terasa. Beberapa teman telah menulis status di fesbuk tentang mudik. Nampaknya, mereka sangat bersukacita. Saya bisa merasakan keriangan itu. Sebagai perantau yang pernah bertahun-tahun hidup ditempat lain, saya tahu betul bagaimana rasanya mudik. Sungguh senang bisa bertemu orang tua, sanak saudara, keluarga, serta tempat-tempat yang membangkitkan kenanganakan teras-teras masa kecil. Dirimu akan menemui genangan rasa tentang suatu masa di mana dirimu masih berlarian dengan riang, sebagai kanak-kanak yang tanpa beban.

Mudik ibarat mesin waktu yang membangkitkan kenangan bahagia tentang suatu masa saat dirimu masih merangkak, tumbuh dan dewasa. Mudik mempertemukanmu dengan masa kecil yang mungkin sudah berlalu dalam kesadaranmu. Bukankah masa kecil dan kehangatan keluarga adalah hal-hal yang paling membahagiakan? Terserah jika Anda berpendapat berbeda. Buat saya,  masa kecil luar biasa membahagiakan sebab kita belum mengenal konsep kaya-raya, miskin, atau konsep berpunya dan tidak berpunya. Pada masa kecil kita hanya punya satu konsep yakni bermain-main. Dan keluarga di sekitar kita melimpahi kita dengan keriangan tersebut. Saya berani bertaruh, bahwa seorang anak hanya punya konsep keriangan. Ia tak pernah tahu kalau saat itu ayah ibunya adalah sosok miskin di masyarakat. Ia juga tidak pernah tahu kalau keluarganya adalah lapis-lapis paling bawah dari peta sosial kita. Ia hanya mengenal satu kata yakni keriangan. Setiap hari adalah bermain.

Masa kecil adalah episode paling membahagiakan buat kita. Mudik membantu kita menyusuri lorong-lorong paling membahagiakan tersebut. Mudik mengantarkan kita memasuki kembali genangan perasaan yang pernah mengharubiru itu. Mudik mengajak kita melihat kembali diri kita, mengajak kita untuk menyadari kasih sayang mereka yang menemani saat-saat ketika kita tumbuh dan membesar. Ada keriangan. Ada canda tawa. Ada kasih sayang yang memancar dari belaian tangan seorang ibu ketika mengusap rambutmu dan bersenandung agar dirimu segera tertidur. Bukankah itu sangat indah?

5 komentar:

Jurnal Kolektif mengatakan...

Mudik sebagai lorong waktu yang mengantarkan kita kembali pada kenangan-kenangan saat kita masih kecil. Betapa indahnya kebersamaan, ketika satu keluarga berkumpul dan mengantri untuk bersalaman dan meminta maaf kepada orang-orang yang memang terlahir lebih dahulu dan melahirkan kita menjadi anak dan cucunya. Semoga mudik kali ini nuansanya tetap demikian.

Salam

Jurnal Kolektif

Dodi mengatakan...

Mudik tentu sangat lebih menyenagkan kalau di jalan tidak terkena penyakit macet,hehehe. Mudik adalah ritual dan budaya yang indah ya !!

husni mengatakan...

mudik pakai pintu k mana saja

tami mengatakan...

nice pengalaman

Unknown mengatakan...

benar sekali,,masa2 kecil gak pikir kaya-raya,miskim atau mau punya ini atau itu...

best laahh!!!

Posting Komentar