Nike Ardilla Selalu Abadi di Makassar

TIGA poster besar bergambarkan artis cantik berambut pendek dipajang secara mencolok di satu ruko berwarna merah di poros jalan Bumi Tamalanrea Permai (BTP), Makassar. Saya mengenali artis yang gambarnya memenuhi poster tersebut. Dia adalah Nike Ardilla, artis yang amat kondang pada tahun 1980-an. Meski telah lama meninggal, rata-rata orang yang lewat tahu persis siapa mojang Bandung pelantun lagu Bintang Kehidupan tersebut. Di bawah poster besar tersebut, terdapat tulisan Rumah Makan Nike Ardilla. Ternyata ini adalah rumah makan yang sekaligus menjadi memorabilia bagi Nike Ardilla.


Saya tak tahu persis apa makna kata memorabilia. Mungkin sesuatu yang bisa membangkitkan ingatan tentang suatu hal. Tapi saya lebih suka mengartikannya sebagai pahatan ingatan. Melalui pahatan ingatan tersebut, kita bisa me-refresh ingatan tentang sesuatu, menyegarkan kembali episode-episode tertentu dalam ingatan kita, sekaligus mengabadikan ingatan tersebut tersebut dalam pikiran kita. Dan rumah makan yang saya saksikan ini adalah pahatan-pahatan yang menautkan semua ingatan orang pada satu sosok artis yakni Nike Ardilla.

Rumah makan ini berukuran cukup besar. Bersama seorang sahabat, saya lalu masuk ke dalam untuk mencicipi hidangan. Saya tersentak menyaksikan demikian banyak foto Nike Ardilla yang memenuhi semua dinding ruangan. Mulai dari foto-foto saat konser, foto saat memamerkan baju tertentu, hingga foto saat Nike masih kecil dan memenangkan penghargaan sebagai juara lomba menyanyi. Ada juga foto-foto saat Nike bermain film. Kalau tak salah, film yang dibintanginya adalah Si Kabayan Saba Kota, bersama Didi Petet. Saya paling suka dengan foto saat Nike berperan sebagai Iteung dalam film itu. Penampilannya sederhana seperti gadis-gadis di pedesaan Jawa Barat. Rambutnya terurai. Wajahnya alami. Sangat cantik. Saya jatuh cinta.


Tak hanya foto, saya juga menyaksikan beberapa koleksi baju yang pernah dikenakan Nike. Selain baju kaos, saya juga melihat baju gaun yang dikenakan Nike saat syuting satu video klip. Bahkan, ada juga baju yang dikenakan dalam video klip lagu terakhir yang judulnya Sandiwara Cinta. Saat masih kecil, saya pernah melihat klip ini. Saat itu saya berujar, “Kok bajunya putih mirip kain kafan.” Ternyata, beberapa bulan berikutnya Nike dikabarkan tewas dalam satu kecelakaan. Entah, apakah ada hubungan atau tidak dengan gaun putih yang dikenakannya dalam video klip terakhir.

Puas menyaksikan foto-foto dan pakaian, bersama teman, kami duduk di depan meja kecil. Kami lalu menyaksikan tayangan di tivi kecil di satu sudut ruangan. Tivi itu menayangkan rekaman video klip Nike Ardilla serta tayangan tentang seremoni mengenang Nike Ardilla yang baru-baru ini diadakan di satu mal di Jakarta. Melalui tayangan itu, saya menyaksikan komentar dari banyak pesohor tentang Nike. Rata-rata menyayangkan mengapa Nike harus meninggal dalam usia yang masih amat muda, pada posisi puncak blantika musik Indonesia. Nike meninggal pada usia 19 tahun, usia yang masih sangat muda, namun telah menorehkan banyak jejak di panggung entertainment negeri ini. Banyak juga selebriti seperti Sandra Dewi yang masih fasih menyanyikan semua lagu-lagu Nike. Kesimpulan saya, tayangan dan video klip lagu-lagu Nike telah mengembalikan semua ingatan-ingatan tentang Nike. Kesemua benda dan tayangan tersebut ibarat memutar mesin waktu yang menghantarkan kita pada suatu masa ketika Nike tengah Berjaya.

Saya pribadi tidak cuma bernostalgia tentang Nike, namun tiba-tiba saya mnemukan diri saya pada waktu yang lampau. Saya masih ingat persis bagaimana kesan saya ketika mendengar lagu Nike, bagaimana tivi kecil di rumah saya ditonton oleh seluruh warga satu RT demi menyaksikan Nike, saya tiba-tiba terkenang dengan kebudayaan pop pada tahun 1980-an di mana saya hanyalah bagian kecil dari kebudayaan tersebut. Saya adalah penggila budaya pop 1980-an, pada usia ketika saya masih duduk di sekolah menengah pertama (SMP). Mendengarkan kembali lagu Nike, saya tiba-tiba menemukan diri saya sendiri.


Saat sedang melamun, seorang pelayan datang membawa menu. Saya lalu memerhatikan daftar menu. Menu andalan di rumah makan ini adalah sate, baik sate ayam, sate sapi, maupun sate kambing. Nama menunya juga unik-unik, disesuaikan dengan Nike. Misalnya Sate Ayam Iteung atau Sate Kambing Kang Kabayan. Saya langsung teringat pada salah satu film yang dibintangi Nike.

Nike Ardilla: Sebuah Fenomena

Semua pahatan ingatan ini menjadi memorabilia yang berkisah tentang jejak-jejak seorang artis muda menapakkan kaki di jagad entertainment Indonesia. Barangkali, hanya Nike-lah artis yang 15 tahun setelah meninggalnya, masih mendapatkan apresiasi yang hebat dari para penggemarnya. Hingga kini, makam --artis yang lahir di Bandung tanggal 27 Desember 1975 dan wafat di Bandung tanggal 19 Maret 1995—ini, selalu ramai dengan ribuan peziarah. Menurut catatan sebuah media, saat perayaan 15 tahun kematiannya, makam itu diziarahi hingga jutaan orang. Sebuah rekor yang fantastis. Ia setara dengan Bruce Lee, actor Hongkong yang hingga kini makamnya tetap dikunjungi.

Barangkali, hanya Nike artis Indonesia yang mendapat apresiasi sedemikian hebat dari para fansnya. Jika di masa hidupnya, ia sanggup menjual album sebanyak 30 juta kopi, prestasi yang tertinggi dalam sejarah music Tanah Air, maka di saat meninggalnyapun ia tetap mengeluarkan album yang tetap laris di kalangan penggemarnya. Majalah Asia Week menafsirkan Nike dengan kalimat “In Dead She Soared” atau “Dalam Kematian Dia Bersinar.” Hampir setiap tahun, para penggemarnya melakukan ritual khusus atau ziarah, mengadakan acara mengenang Nike seperti memutar film dan menyanyikan lagu Nike di Bandung. Bahkan ikut mendirikan museum di Jalan Soekarno Hatta, Bandung, yang memajang semua benda-benda pribadi Nike.

Selain museum di Bandung, didirikan pula sebuah rumah makan Saung Nike Ardilla yang diresmikan pada tanggal 20 Maret 2010 di Jalan Imbanegara No 389 Ciamis, tepat di depan kediaman ibunda almarhumah Nike, yaitu Ny Ningsirat yang akrab disapa Mami oleh para penggemar Nike. Beberapa tahun lalu, saya pernah membaca di situs Panyingkul tentang rumah makan di Wonomulyo, Polmas, yang didirikan untuk mengenang Nike Ardilla. Di situ bisa ditemukan koleksi foto serta pakaian yang pernah dikenakan Nike.

Tafsir Atas Nike Ardilla

Hadirnya rumah makan dan memorabilia Nike Ardilla di Makassar ini mengingatkan saya pada penelitian George Quinn dari Australian National University (ANU). Peneliti budaya pop ini membandingkan Nike dengan fenomena ziarah di makam Wali Songo. Kata Quinn, masyarakat kita sering menghormati satu tokoh dengan cara berziarah. Melalui ziarah itu, tidak saja masyarakat sedang menyegarkan ingatan tentang satu tokoh, namun juga menyerap visi, kecerdasan serta kiprah seorang tokoh untuk dipraksiskan pada masa kini. Dalam hal Wali Songo, ziarah bermakna menyerap inti ajaran serta semangat penyebaran Islam di Nusantara.

Anda boleh berbeda pendapat dengan Quinn. Katanya, dengan melihat penghormatan serta bukti-bukti, hanya Nike Ardilla, tokoh yang lahir di kebudayaan pop yang memiliki atau mempunyai penghormatan setara dengan Wali Songo. Fenomena yang muncul adalah hampir setiap tahun, makamnya diziarahi hingga jutaan orang. Nike menjadi bukti kegemilangan budaya kontemporer. Bahkan setelah kematiannya, nama Nike mengisi ruang public, baik itu di kafe, bus, televisi, sekolah, dan restoran.

Bukan berarti saya setuju dengan Quinn, namun fenomena yang dikatakannya tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab setiap masyarakat pada setiap fase sejarah selalu menciptakan ikon idola yang menerangi zamannya sendiri. Nike adalah sosok idola di zaman baru yang kehadirannya menjadi magnet serta harapan bagi banyak orang. Dengan ramainya restoran yang memajang memorabilia Nike, bisa ditafsir tentang lahirnya generasi baru yang lahir sebagai anak kandung dari budaya pop. Merekalah yang merindu hadirnya Nike, selalu mengenangnya setiap saat, dan melestarikan ingatan tentang sosoknya.

Dan rumah makan di Makassar itu menjadi bagian dari benda-benda yang melestarikan ingatan atas pernah hadirnya sosok Nike. Saya senpat bertanhya pada seorang pengunjung rumah makan tersebut, mengapa ia singgah ke tempat itu. Jawabannya simpel. “Saya kan penggemar Nike. Saya ingin mengenang artis hebat negeri ini,” katanya. Yup… semoga Nike selalu abadi di Makassar.(*)


Makassar, 11 Mei 2010

2 komentar:

dwia mengatakan...

makanannya enak dan murah....mau lgi donk di traktir

daim.toha mengatakan...

sungguh blok ini sangat menarik, salut buat alm nike

Posting Komentar