Dragon Ball yang Kurang Greget


KEMARIN saya singgah nonton film Dragon Ball: Evolution yang sedang tayang di bioskop. Poster film yang disutradarai James Wong ini cukup mencolok mata. Bergambar seorang remaja bule dengan rambut jabrik dan memegang bola merah berisikan bintang berkilau. Gambarnya begitu menarik dan langsung mengingatkan pada serial yang dulunya sangat saya favoritkan.

Hampir setiap minggu, saya selalu nonton film kartun ini. Makanya, ketika melihat poster film itu, saya langsung dipenuhi semangat untuk menyaksikannya. Saya penasaran bagaimana visualisasi sang jagoan yaitu Sun Goku ketika mengeluarkan jurus andalannya yaitu Kamehameha. Kata teman saya, gerakan Goku persis gerakan Wiro Sableng ketika mengeluarkan pukulan Sinar Matahari. Saya sendiri berpikir lain. Justru Wiro Sableng yang meniru gerakan Goku. Entah, mana yang benar.

Sebenarnya, saya agak malas menyaksikan film jenis adaptasi seperti ini. Biasanya sih, film adaptasi membuat kenangan kita atas film kartun jadi porak-poranda. Tapi, saya tetap saja ingin menyaksikannya. Bagaimanapun, film layar lebar jelas berbeda dengan film kartun. Setidaknya, dengan menonton satu fim layar lebar, maka kita bisa menyingkat durasi film kartunnya yang sangat panjang, sekitar ratusan episode.

Meskipun sadar bahwa film bioskop beda dengan film kartun, ternyata saya tak bisa tahan untuk selalu membandingkannya. Sejak awal, saya memprotes kenapa pemeran Goku adalah seorang remaja bule berbadan agak tinggi. Padahal kalau dalam versi kartun, Goku adalah anak kecil yang selalu mengenakan baju warna jingga. Kemudian, sosok Bulma terlampau cantik dan seksi. Demikian juga Chi Chi, kekasih Goku. Selain itu, sosok Jin Kura-Kura, tidak lagi berwujud orang tua dan punya punuk kayak kura-kura. Sosoknya diganti dengan sosok aktor Chou Yun Fa yang sakti dan lihai ketika melatih Goku. Saya agak kecewa karena tak ada tokoh Klirin.

Film ini dibuat dengan setting kehidupan modern. Goku seolah hidup pada zaman modern di mana banyak gedung pencakar langit, kemudian senjata otomatis ala film The matrix. Sosok Goku mendominasi keseluruhan adegan film. Digambarkan bahwa dirinya berulangtahun ke-18, kemudian menerima bola naga yang berisikan lima bintang. Di malam hari, ia menyelinap keluar rumah dan bertandang ke rumah pujaan hatinya, dan saat itu juga datanglah sosok raksasa hijau Jin Piccolo. Rumah Goku porak-poranda dan kakeknya yang bernama Gohan, kemudian kalah berkelahi.

Ketika Goku pulang, ia masih sempat menemui kakeknya yang sakaratul maut dan memberikan pesan untuk segera mengumpulkan tujuh bola naga dan menemui Jin Kura-Kura untuk minta petunjuk. Film ini diisi dengan petualangan Goku untuk mengumpulkan tujuh bola naga. Di akhir film, Goku kemudian berkelahi dengan Piccolo demi menyelamatkan alam semesta. Ia lalu mengeluarkan jurus Kamehameha demi menghadang sinar merah yang dikeluarkan Piccolo yang langsung kalah. Alam semesta diliputi kedamaian. Dunia terang benderang. Inilah kisah singkat yang coba diangkat oleh film ini.

Saya rasa, film ini tak begitu jeli dengan detail-detail yang ada dalam film kartunnya. Saya bisa membayangkan bahwa pasti sangat sulit untuk memvisualkan durasi kartun yang sangat panjang. Bagi mereka yang tak pernah menyaksikan kartunnya, pastilah akan kesulitan memahami film ini. Kita langsung dibawa pada alur yang sangat cepat, tanpa memahami dengan baik alur cerita serta karakter dari banyak tokoh di film ini. Jadinya, film ini jadi tanpa greget. Saya merasa kehilangan romantisme film ini. Film Dragon Ball jadi kehilangan greget.(*)



1 komentar:

Bang Mupi mengatakan...

Kalo anda penggemar Dragon Ball sih...pasti akan kecewa dengan film ini. Buat gua sih cukup menghibur kok. Walaupun ga bagus2 amat.

Posting Komentar