Gadis Cantik Kota Kendari



“Kak.... kakak harus mau menerima pemberianku,“ katanya kepadaku. Ia merajuk. Manja. Ia menggenggam tanganku, seakan-akan tak rela jika aku hendak pergi jauh. Kami dipisahkan oleh samudera selama beberapa purnama. Akhirnya, hari ini aku menemuinya di satu kafe di Balkon Square, dekat tempat billiard yang paling banyak ditongkrongi anak muda di Kota Kendari. Kafe ini tak jauh dari rumah sakit Provinsi Sultra, yang didepannya berdiri megah Mes Buton.

Lama nian tak melihat wajah manisnya. Lama nian tak melihat senyum lesung pipi di wajah itu. Kini, dalam kunjunganku yang singkat, aku akhirnya bertemu dengannya di situ. Hari ini ia berdandan dengan begitu berani. Punggungnya terbuka dan bukit kembar di dadanya hanya ditutupi sebuah kain mirip kemben yang diikat tali kain menggelung lehernya yang putih. Bahunya juga putih dan ada semacam bulu-bulu halus menutupi tengkuknya. Ia memakai rok merah selutut hingga menampakkan kakinya yang seksi. Ia sungguh cantik hari ini. Tubuh yang putih dan mungil itu ditutup kain yang tetap menampilkan keseksiannya. Saat kami memasuki kafe ini, semua pasang mata menyaksikan kami. Mereka menatapnya dengan tatapan bagai sedang menatap bidadari. Sementara kepadaku, banyak pria yang iri karena aku bisa menggandengnya, menggenggam jemarinya dengan erat seakan pernyataan terbuka bahwa gadis ini adalah milikku.


“Mengapa kamu mau kerja seperti ini?“ tanyaku saat duduk di kafe itu. Jujur saja, meski rentang perkenalan kami sudah terbilang lama, aku masih saja suka curi pandang melihat pakaiannya yang mini dan menampakkan keseksian tubuhnya.
“Apakah pekerjaan ini salah? Apakah ada harapan untuk kehidupan keluargaku di sana?“ tanyanya dengan mata mendelik. Aku terkesima melihat indah bibir dan matanya. Aku ingin mengecupnya, namun niat itu kuurungkan karena banyak yang akan menyaksikan kami di situ. Saat ini, aku hanya bisa terpaku. Aku tak tahu bagaimana menjawab pertanyaannya. Aku hanya diam sesaat sambil memainkan jemarinya yang dingin di tanganku.

***

Bunga namanya. Lengkapnya Bungawali. Kami bertemu dalam satu perjumpaan yang tak terduga ketika aku singgah di satu tempat di Kabupaten Konawe Selatan, sebuah tempat yang berjarak puluhan kilometer dari kota Kendari. Sebagai peneliti lepas yang banyak mengamati fenomena kemiskinan, aku menyaksikan realitas hidup yang menggiriskan di daerah itu. Pertanian yang semestinya bisa menyangga kehidupan masyarakat, terjerembab dalam duka lara ketika harga pupuk meninggi dan masuknya beras dari negeri lain. Profesi petani di Konawe adalah profesi yang identik dengan kebodohan dan kemelaratan. Petani identik dengan kemiskinan sebab tak kuasa memasarkan berasnya dengan harga tinggi. Pertanian yang menghampar di Konawe Selatan, Konawe Utara hingga Lasusua di Kolaka Utara, tidak lagi menjadi cermin kesejahteraan. Pertanian yang menghampar itu adalah cermin dari banyaknya kemelaratan yang menghadirkan sedih, nestapa dan duka karena sering mengelus dada ketika panen gagal atau berasnya tidak laku di pasaran.

Aku bisa merasakan sedih yang tak terungkapkan itu. Namun, sebuah keluarga petani yang tinggal di dekat bukit mengajarkanku bagaimana berdiri tegak di tengah sulitnya keadaan. Aku diajak makan di rumah petani yang begitu sederhana dan beratap rumbia serta dinding bambu. Kami makan dedaunan serta sedikit nasi. Sang petani memperkenalkanku pada anak perempuannya yang berusia belasan tahun. Anaknya sungguh manis, namun tatapnya sendu. Mungkin, anak itu tahu bahwa ia seorang anak petani yang tak boleh banyak berharap. Mungkin pula ia paham bagaimana kondisi keluarganya sehingga ia harus pasrah menerima keadaannya. Kata sang bapak, anak itu akan berangkat ke Kendari untuk bekerja di satu rumah makan.

Hingga beberapa bulan berikutnya, ketika sedang menyusun laporan penelitianku di Kendari, ponselku berdering dan ada suara perempuan yang menyapa. Perempuan yang menyebut namanya Bungawali dan mengajakku ketemu. Ternyata ia adalah anak petani itu. Saya tercengang karena dandanannya sangat beda dengan anak yang kukenal di Konawe. Mungkin suasana kota telah mengubahnya menjadi lebih kenal mode dan kecantikan. Ia berdandan layaknya remaja kota kelas atas, ada sapuan produk perawatan kecantikan di wajahnya. Kami jadi makin akrab. Bunga mengajakku untuk diperkenalkan dengan beberapa keluarganya di situ. Bunga tak risih jika berjalan sambil memegang tanganku dan sesekali memelukku. Entah apa yang ada di benaknya tentangku. Namun bagiku, ia tak lebih dari seorang adik saja. Tak lebih.

Ia tak pernah mau menyebut apa pekerjaannya. Suatu hari, aku singgah di satu bar di Tipulu, kawasan kota tua. Saat menuang bir, seorang pria menawarkan seorang gadis manis untuk menemani dan menghiburku. Seorang gadis yang bisa kubawa ke hotel untuk ditiduri. Di bawah pengaruh alkohol, aku menyetujuinya. Bukan untuk ditiduri, aku hanya butuh seorang teman bicara. Ketika gadis itu datang dan menyapaku dari belakang, aku tersentak, namun gadis itu lebih tersentak lagi. Gadis itu adalah Bungawali. Ia ingin berlari sekuat tenaga dan lenyap dari tempat itu. Namun tanganku lebih dulu memegangnya. Akhirnya ia hanya bisa pasrah dan bercerita tentang nasibnya yang sedu-sedan. Bapaknya yang meninggal dunia dan hanya mewariskan dua bidang tanah, dengan nilai yang kecil untuk mereka. Ibunya yang berdagang rokok di jalan poros Kolaka-Kendari dengan hasil pas-pasan. Hingga kenekadannya ke Kendari dan menjadi ladys night di satu bar. Aku sedih karena sadar bahwa ia tak punya banyak pilihan. Saat itu aku bersumpah untuk tetap menganggapnya sebagai adik, apapun yang terjadi. Pertemuan itu tak menggugurkan hubunganku dengannya.

***

Tiba-tiba, aku tersentak dari lamunan ketika seorang pelayan membawakan milo dingin ke mejaku. Tanganku masih mengenggam jemari Bunga yang seksi di sampingku. Setelah lama merantau ke Makassar dan Jakarta, kembali aku bisa menemuinya di sini. Meski jauh, aku tetap menjaga hubunganku dengannya. Sesekali kukirimkan uang ketika ia sedang susah. Ini adalah pertemuanku setelah pisah beberapa bulan. Ia tetap seksi dan cantik seperti dulu. Sayangnya, hari ini aku melihat rona sedih terpancar di matanya. Ia sedang berduka karena ibunya telah tiada. Ia butuh uang untuk ritual adat mendoakan arwah ibunya. Untungnya, aku bisa menyisihkan sedikit uang untuk membantunya. Melalui telepon, dia bilang tidak mau menerima sesuatu secara gratis. Dia ingin melakukan sesuatu sebagai balas atas apa yang kuberikan kepadanya. Namun apakah yang hendak dilakukannya? Aku penasaran dibuatnya. Pertemuan di kafe ini akan menjawab semuanya.

“Kakak harus mau menerima sesuatu dari saya. Kakak sudah banyak membantu. Saya harus memberi sesuatu. Sesuatu yang satu-satunya saya miliki,“ katanya.
“Saya tidak pernah mengharapkan imbalan. Bukankah kita sangat dekat?” kataku
“Tidak. Kakak harus mau terima balas jasa dari saya. Saya tak mau diganggu rasa tidak enak karena telah dibantu tanpa memberi sesuatu. Please... kak. Ini adalah satu-satunya yang bisa saya lakukan untuk kakak,“
“Baiklah. Saya akan menerima apa yang hendak kamu berikan pada saya. Tapi, tolong beritahu apa yang akan kamu kasih,“ kataku dengan penasaran

Bunga terdiam sesaat. Tangannya lalu memainkan rambutnya yang berwarna hitam dan agak pirang. Sambil menunduk, ia kemudian memegang tanganku dengan pelan. Ia mengelus jariku sambil menggumamkan sesuatu yang mirip bisikan.

“Saya ingin menemani kakak bermalam di hotel. Saya ingin membahagiakan kakak di situ,“ katanya pelan.
“Apa?..... Apa kamu yakin?“ tanyaku dengan terkejut.


Kendari, 19 Januari 2008


2 comments:

  1. hahaha nice story....
    Saya sementara juga tinggal di Kendari (Kemaraya). Saya telah membaca banyak tulisanta.
    Saya sangat senang sekali bila bisa bertemu dan berkenalan.

    Salam kenal
    Anon Kuncoro W
    http://www.palagimata.com/blog/anonkuncoro

    ReplyDelete
  2. hobi billiard dan bekerja adalah hidup saya.klu ada rumah billiard di kendari yg tertarik dgn profil sy silah cp:081355566996

    ReplyDelete

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...