Bahlil Kecil di Timur Indonesia: Dari Wakatobi, Banda, Hingga Fakfak
"Baha...Baha..."
Suara ibu itu memanggil anaknya yang sedang live di satu stasiun televisi. Ibu itu tahu anaknya sudah menjadi pejabat setingkat menteri yang dalam banyak kegiatan selalu dipanggil dengan penuh respek.
Namun di mata ibu itu, anaknya masih seperti bocah yang dahulu digendongnya.
Ibu itu bernama Wa Nurjani, sedang anaknya adalah Bahlil Lahadalia, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Investasi dan Kepala BKPM. Dari namanya, mereka berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara, tepatnya di Pulau Tomia, Kepulauan Wakatobi, yang kemudian merantau jauh ke Banda di Maluku, lalu tanah Fakfak di Papua.
Para perantau asal Sulawesi Tenggara sudah lama berada di kawasan timur Indonesia, mulai dari Maluku hingga Papua. Mereka merantau didorong oleh motif perbaikan ekonomi serta peluang kerja yang lebih baik. Mereka sudah beranak-pinak dan sudah menyatu dengan warga lokal.
Mereka sudah melahirkan generasi baru yang mulai eksis, ketimbang orang tuanya, yang dahulu banyak menjadi pekerja kasar.
Meskipun harus bekerja keras, Wa Nurjani dan suaminya selalu menjadi matahari bagi anak-anaknya. Keadaan memang serba susah, namun mereka memenuhi semua kebutuhan dan menyekolahkan semua anaknya.
Sebagaimana lazimnya perantau di timur, anak-anak sejak dini sudah bekerja untuk membantu beban orang tuanya. Bahlil kecil melakoni itu. Masa kecilnya bukanlah masa kecil yang penuh dengan fasilitas serta kebebasan untuk sekolah di mana. Dia terbiasa dengan kerja keras dan banting tulang untuk sesuap nasi.
Berbagai profesi telah dilakoninya sejak kecil. Sebagai anak lelaki, dia mengambil tanggung jawab, membantu orang tua, sembari memikirkan yang terbaik untuk masa depannya.
Di acara talkshow itu, mata Bahlil berkaca-kaca saat melihat ibunya. Dia terkenang banyak hal, teringat bagaimana alam semesta membentuknya hingga sekarang, teringat pada kerja keras untuk bertahan hidup.
Bahlil mengingat setiap keping pengalaman tentang dirinya.
Banda: Sebuah Awal Mula
Pagi di Banda selalu datang tanpa tergesa-gesa. Angin laut berembus pelan, membawa aroma asin yang menempel di kulit dan seolah menyatu dengan napas siapa pun yang tinggal di sana.
Di kejauhan, permukaan laut tampak tenang, nyaris tak beriak, seakan menutupi ingatan panjang tentang masa lalu: tentang rempah yang pernah menggerakkan dunia, tentang kolonialisme yang menorehkan luka, dan tentang para tokoh bangsa yang pernah diasingkan ke pulau kecil ini.
Banda bukan sekadar tempat. Banda adalah simpul sejarah yang sunyi, yang menyimpan banyak cerita tanpa pernah benar-benar menceritakannya.
Sejak zaman kolonialisme Belanda, Banda menjadi tempat yang diperebutkan. Di tanah yang pernah menjadi pusat perhatian dunia itulah, seorang anak lahir dalam kesederhanaan yang nyaris tak tercatat. Tidak ada rumah sakit megah dengan peralatan modern. Tidak ada cahaya lampu terang yang menyilaukan. Kehidupan dimulai dalam ruang yang jauh dari hiruk-pikuk kota, di tengah keterbatasan yang menjadi bagian dari keseharian.
Di sinilah, pada 7 Agustus 1976, Bahlil Lahadalia memulai hidupnya. Bagi banyak orang, tanggal itu mungkin berlalu begitu saja tanpa makna khusus. Namun bagi sebuah keluarga sederhana di Banda, Maluku Tengah, hari itu menjadi penanda hadirnya harapan baru, seorang anak lelaki yang kelak akan membawa cerita panjang tentang perjuangan.
Nama “Bahlil” tidak dipilih tanpa makna. Bapaknya memberinya arti yang sederhana namun dalam: bekal bagi seorang petarung, sekaligus pertanda bagi seorang pemimpin.
Dua kata itu: petarung dan pemimpin, pada saat itu mungkin hanya terdengar seperti harapan seorang ayah. Namun waktu perlahan membuktikan bahwa nama itu bukan sekadar doa, melainkan semacam arah yang diam-diam membentuk perjalanan hidupnya.
Sejak awal, hidup Bahlil tidak dikelilingi oleh privilese. Dia tumbuh dalam keterbatasan, dalam kondisi yang menuntutnya untuk memahami arti kerja keras bahkan sebelum ia cukup dewasa untuk memaknainya. Namun justru dari ruang yang sempit itulah, ketangguhan mulai dibentuk, tanpa banyak kata, tanpa sorotan.
Ayahnya Lahadalia, seorang buruh bangunan yang setiap hari membanting tulang di bawah terik matahari dengan upah tak seberapa. Ibunya Wa Nurjani, seorang buruh cuci yang setiap pagi merendam tangannya dalam air sabun untuk mencuci pakaian orang lain.
Mereka bukan siapa-siapa. Tidak punya harta, tidak punya jabatan, tidak punya sambungan koneksi ke istana atau pejabat. Yang mereka miliki hanyalah kerja keras, kejujuran, dan doa yang tak pernah putus untuk delapan anaknya.
Ayah Bahlil sehari-hari berkutat dengan pasir, batu, semen, dan besi. Ia mengangkat beban yang berat. Ia bekerja di bawah terik matahari yang kadang tak kenal ampun. Ia pulang dengan badan yang remuk, dengan pakaian yang penuh debu dan keringat yang mengering.
Gajinya? Hanya 7.500 rupiah per hari.
Dengan uang sebanyak itu, ia harus menghidupi delapan anak. Ia juga memastikan bahwa semua anaknya bersekolah. Tidak boleh ada yang putus di tengah jalan. Tidak boleh ada yang ketinggalan. Semua harus mengecap pendidikan, meskipun untuk mendapatkannya ia harus mengorbankan kenyamanan, waktu istirahat, bahkan kesehatannya sendiri.
"Ayah saya sekolahnya cuma SD. Buruh bangunan. Gajinya sangat kecil. Tapi dia harus menghidupi anaknya delapan orang dan harus semua sekolah."
Bahkan ketika sakit pun, ayahnya tetap bekerja. Ya. Sakit pun tetap bekerja.
Bukan karena ia tidak merasakan sakit. Bukan karena ia kebal terhadap rasa lelah. Tapi karena ia tahu, jika ia berhenti, perutnya tidak akan terisi. Anak-anaknya tidak akan makan. Sekolah mereka akan terancam.
Dan ayahnya tidak pernah, sekali pun tidak pernah, menadahkan tangan kepada siapa pun. Ia menolak untuk menjadi pengemis di hadapan saudara-saudaranya yang mungkin lebih mampu. Ia memilih untuk bekerja, sekecil apa pun upahnya, asal halal. Asal dari keringatnya sendiri. Asal bisa ia pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Dari ayahnya, Bahlil belajar tentang martabat. Tentang harga diri yang tidak bisa ditukar dengan uang atau belas kasihan. Tentang menjadi laki-laki yang berdiri di atas kakinya sendiri, meski harus goyah, meski harus limbung, tapi tidak sampai jatuh tersungkur meminta-minta.
"Ayah saya sakit pun dia kerja. Karena dia ingin mewujudkan tanggung jawabnya untuk menafkahi anak-anaknya, tanpa dia harus menaruh tangannya di bawah untuk meminta kepada siapa pun."
Ada satu pelajaran lain yang sangat melekat dari ayahnya: tentang kejujuran dalam bekerja, terutama dalam hal mengupah orang. "Jangan pernah membayar upah orang sebelum keringatnya itu kering," begitu pesan ayahnya.
Kalimat itu sangat sederhana, tapi begitu dalam maknanya. Ayahnya mengajarkan bahwa setiap keringat pekerja harus dihargai. Bahwa jangan sampai orang yang sudah bekerja keras justru dirugikan oleh ketidakadilan atau keterlambatan pembayaran. Bahwa amarah Tuhan bisa turun kalau ada hak buruh yang tidak dipenuhi.
Sebagaimana ayahnya, Ibunya bukan bagian dari kalangan elit dengan penghasilan tetap. Ibunya adalah seorang buruh cuci di rumah orang lain. Setiap pagi, bahkan sebelum matahari benar-benar menampakkan dirinya di ufuk timur, ia sudah mulai bekerja. Dengan lengan baju yang disingsingkan, ia mengisi ember dengan air, mencampurnya dengan sabun, lalu mulai mengucek pakaian yang bukan milik keluarganya sendiri.
Ia tidak melakukan itu karena pilihan yang luas tersedia di hadapannya. Ia melakukannya karena itulah satu-satunya cara yang ia miliki untuk memastikan anak-anaknya tetap bisa makan, tetap bisa bertahan hidup, dan tetap memiliki kesempatan untuk sekolah.
Hari demi hari, tangan Wa Nurjani terendam dalam air sabun yang keras. Ia mengucek, membilas, dan memeras pakaian berulang kali, tanpa jeda yang berarti. Tangan yang mungkin dulu halus perlahan berubah menjadi kasar, dipenuhi kapalan dan luka-luka kecil yang tak pernah benar-benar sembuh. Namun dari semua itu, satu hal yang nyaris tak pernah muncul adalah keluhan.
“Ibu saya itu tukang cuci di rumah orang. Di rumah orang lain, loh,” kenang Bahlil suatu ketika, dengan nada yang menyimpan rasa hormat yang dalam, sejenis penghormatan yang tidak dibuat-buat, melainkan tumbuh dari pengalaman hidup yang nyata.
Rutinitas itu tidak berhenti ketika hari beranjak sore. Setelah tubuhnya lelah karena seharian bekerja, ibunya masih melanjutkan perannya di rumah. Di malam hari, ia membuat kue. Bukan untuk usaha besar atau bisnis yang terencana, melainkan untuk sesuatu yang jauh lebih sederhana: agar anaknya bisa menjualnya keesokan pagi.
“Mama saya habis salat subuh bikin kue cucur, pisang goreng, macam-macam. Kemudian saya jual ke teman-teman sekolah sebelum bel masuk.”
Kue-kue itu bukan sekadar makanan. Ia adalah bentuk lain dari cinta yang tidak diucapkan dengan kata-kata. Adonan tepung dan gula merah yang diolah di dapur sederhana itu menyimpan lebih dari sekadar rasa; di dalamnya ada harapan, ada doa, dan ada tekad seorang ibu untuk menjaga martabat keluarganya, meski hidup dalam keterbatasan.
Bagi Bahlil, pengalaman itu tidak pernah hilang. Ia tidak melihat kue cucur sebagai sekadar jajanan tradisional. Setiap kali ia melihatnya, yang terlintas adalah wajah ibunya, berkeringat di tengah asap dapur, tangannya masih basah setelah mencuci pakaian orang lain, namun tetap sigap menguleni adonan tanpa jeda.
“Kue cucur ini kue yang saya tidak bisa lupa sampai mati,” ujarnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung lapisan makna yang dalam. Ia bukan hanya tentang ingatan pada sebuah makanan, melainkan tentang perjalanan hidup, tentang pengorbanan yang sunyi, dan tentang bagaimana cinta seorang ibu bisa menjadi energi yang terus hidup dalam diri seorang anak, bahkan ketika waktu telah membawa mereka jauh dari titik awal kehidupan.
Ayah dan ibunya tidak pernah kuliah ekonomi. Tidak pernah belajar teori bisnis modern. Tapi ia mengajarkan sesuatu yang lebih fundamental: kamu boleh miskin, tapi jangan pernah mengambil hak orang lain.
"Kalau orang bilang saya hitam, saya pendek, ya ketawa saja. Itu kan takdir. Tapi yang penting jangan ambil hak orang."
Dari dua sosok yang sederhana, Bahlil menapak karier. Ayahnya buruh bangunan dengan upah harian yang sangat minim. Ibunya buruh cuci yang tangannya kasar karena sabun. Namun mereka berdua, dengan segala keterbatasan, berhasil menanamkan nilai-nilai yang tidak diajarkan di sekolah-sekolah elit mana pun: kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan harga diri.
Dan nilai-nilai itulah yang kelak menjadi kompas bagi Bahlil dalam menjalani hidup, berbisnis, dan memimpin.
Pindah ke Fakfak: Ketika Gunung Banda Api Meletus
Hari itu, 9 Mei 1988 menjadi hari yang tak akan pernah terlupakan oleh warga Kepulauan Banda, termasuk keluarga kecil Bahlil yang saat itu masih berusia 11 tahun. Pada pukul 06.03 WIT, Gunung Banda Api yang selama berabad-abad menjadi penjaga gugusan kepulauan itu akhirnya meletus dengan dahsyat .
Skala letusannya tergolong besar. Kolom abu panas menyembur setinggi 3 hingga 5 kilometer ke angkasa, disertai lontaran bom vulkanik berukuran besar yang menghujani pulau.
Tipe letusannya eksplosif. Bukan sekadar mengeluarkan asap, tapi benar-benar meledak dengan kekuatan yang menggetarkan bumi. Dalam catatan Vulcanological Survey of Indonesia, letusan ini diberi skala VEI 3 (Volcanic Explosivity Index), setara dengan letusan Gunung Sinabung pada erupsi pertamanya di era modern. Awan panas dan material vulkanik menyembur dari enam lubang letusan yang muncul di sepanjang rekahan gunung .
Bahlil kemudian menceritakan kembali ingatan masa kecilnya tentang peristiwa itu dalam berbagai kesempatan. "Kampung saya di Banda hancur total karena Gunung Banda Api meletus tahun 1988," kenangnya.
Rumah-rumah yang dulu berdiri megah dengan dinding kayu dan atap seng, luluh lantak. Jalan-jalan desa yang biasa ia lalui untuk bermain atau membantu orang tua, lenyap tertimbun abu dan lava pijar.
Letusan ini menghancurkan delapan perkampungan di Pulau Gunung Api: Kampung Sambayang, Batu Kuda, Batu Angus, Kalobe, Paser Basar, Tanjung Baru, Nawao, dan Kapal Pica. Dalam sekejap, ratusan rumah rata dengan tanah. Lahan-lahan produktif milik warga, termasuk ribuan pohon pala dan kenari yang menjadi sumber penghidupan utama, hangus terbakar atau tertimbun material vulkanik .
Dari sekitar 1.856 penduduk yang bermukim di Pulau Gunung Api, separuh di antaranya berada di Desa Gunung Api Utara, tempat kampung Bahlil berada . Seluruh warga harus dievakuasi. Sekitar 7.000 hingga 10.000 orang mengungsi dari Kepulauan Banda. Kapal-kapal TNI AL, termasuk KRI Teluk Tomini dan KRI Teluk Langsa, dikerahkan untuk mengangkut warga ke tempat yang lebih aman, terutama ke Pulau Ambon .
Korban jiwa tercatat sebanyak 3 hingga 4 orang, mereka yang tidak sempat menyelamatkan diri atau seperti disebut dalam beberapa laporan, mengabaikan perintah evakuasi. Empat orang tewas. Ratusan rumah hancur. Ribuan orang kehilangan tempat tinggal. Dan seorang anak laki-laki bernama Bahlil, bersama keluarganya, harus memulai hidup baru dari nol.
Bagi keluarga Lahadalia dan Wa Nurjani, langkah pertama setelah letusan adalah bergabung dengan ribuan pengungsi lainnya menuju Masohi, sebuah kota di Pulau Seram, Maluku Tengah. Di sanalah mereka pertama kali menjejakkan kaki setelah meninggalkan reruntuhan kampung halaman. Di tempat pengungsian, kehidupan berlangsung seadanya. Makan dan tidur dengan fasilitas yang sangat terbatas .
Namun Masohi bukanlah tujuan akhir. Sebagian warga Banda yang selamat kemudian menetap di daerah yang mereka beri nama "Banda Baru," sebuah pemukiman di sekitar Masohi yang menjadi rumah baru bagi para pengungsi . Nama itu diberikan untuk mengenang kampung halaman yang telah lenyap, sekaligus sebagai simbol bahwa kehidupan harus terus berjalan.
Bagi keluarga Bahlil, takdir membawa mereka lebih jauh lagi. Mereka pindah dari Masohi menyeberang ke Pulau Geser, sebuah pulau kecil di perairan Seram Bagian Timur. Geser bukanlah tempat yang lebih mewah, hanya persinggahan kecil di tengah lautan lepas yang luas. Tapi bagi para pengungsi, setiap tempat layak untuk memulai kembali.
Dari Pulau Geser, keluarga Bahlil akhirnya memutuskan untuk menyeberang jauh ke timur: ke Fakfak, Papua Barat, tanah asal ayahnya yang masih menyisakan ikatan keluarga dan secercah harapan untuk membangun hidup baru.
Letusan Gunung Banda Api tahun 1988 bukan hanya bencana geologis. Ia adalah bencana kemanusiaan yang mengguncang ribuan keluarga.
Namun bagi Bahlil, dalam cara yang ironis, letusan itu menjadi titik balik yang mengubah jalur hidupnya selamanya. "Kampung saya di Banda hancur total karena Gunung Banda Api meletus tahun 1988," kenangnya di kemudian hari.
Di Fakfak-lah Bahlil kecil beranjak remaja. Di Fakfak-lah ia menjalani masa remaja hingga masa-masa bersekolah.
Fakfak adalah kota kecil di Papua Barat. Bukan kota seperti Jayapura yang sedikit lebih ramai. Fakfak adalah wilayah pinggiran, jauh dari pusat kekuasaan, jauh dari perhatian pembangunan. Jalanan belum beraspal mulus, listrik belum tentu menyala setiap malam, dan air bersih bukanlah barang yang dianggap biasa.
Di sanalah ia tumbuh. Di sebuah kota yang sangat sederhana sehingga kehidupan modern hampir tidak meninggalkan jejak. Rumah-rumah masih beratap rumbia. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang dianyam kasar. Halaman depan mungkin hanya tanah kering yang kadang ditumbuhi rumput liar.
Bagi banyak anak seusianya, masa kecil berarti bermain, tertawa, dan tanpa beban. Tapi tidak bagi Bahlil. Di Fakfak, ia belajar bahwa kehidupan tidak menunggu seseorang cukup umur untuk mulai berjuang.
"Di malam hari, kami pakai lampu pelita. SD itu tidak ada listrik. Mau baca buku, muka harus dekat sekali ke tulisan. Agar tulisan itu bisa terbaca, harus lebih dekat ke cahaya. Akhirnya muka jadi hitam."
Hidup tanpa listrik bukan sekadar soal gelap. Ia adalah keterbatasan akses terhadap dunia luar. Tidak ada informasi, tidak ada hiburan, tidak ada kemudahan. Bahkan hal-hal sederhana seperti menyetrika pakaian pun menjadi pekerjaan yang berat.
"Setrika saja pakai arang. Kulkas tidak ada. Semua hidup dengan keterbatasan."
Fakfak bukanlah tempat yang nyaman. Tapi justru di ruang yang terbatas itulah, karakter mulai terbentuk. Di tempat di mana segalanya serba kurang, orang belajar untuk bertahan. Untuk tidak bergantung pada kenyamanan. Untuk tidak mengeluh pada keadaan yang tak bisa diubah.
Sejak usia 11 tahun, Bahlil sudah bangun sebelum matahari terbit. Bukan untuk bersiap bermain bersama teman-teman, melainkan untuk berjualan.
Pekerjaan pertamanya: berjualan kue. Setiap subuh, ketika langit masih gelap dan kebanyakan orang masih terlelap di balik selimut, dapur kecil di rumahnya sudah sibuk.
Ibunya, dengan tangan yang masih lecet karena seharian mencuci pakaian orang, mulai mempersiapkan adonan untuk kue cucur. Aroma gula merah yang meleleh bercampur dengan santan kelapa memenuhi ruangan kecil mereka.
Bahlil, dengan mata yang masih mengantuk, sudah bersiap. Ia membawa keranjang berisi kue-kue buatan ibunya, lalu berjalan dari pintu ke pintu, dari rumah ke rumah di sekitar tempat tinggal mereka. Terkadang ia menjajakan kue tersebut di sekolah, menawarkannya kepada teman-teman sekelas sebelum lonceng pertama berbunyi.
Ia tidak malu.
"Waktu itu, antara hidup atau mati, ya harus lakukan," katanya.
Bagi sebagian anak, jualan kue mungkin berarti dipermalukan di depan teman-teman. Tapi tidak bagi Bahlil. Baginya, rasa malu itu urusan nanti. Yang terpenting saat itu adalah bagaimana ia bisa membantu ibunya, bagaimana ia bisa berkontribusi untuk keluarganya, dan bagaimana ia bisa tetap sekolah.
Ia belajar satu hal penting sejak dini: kalau kamu tidak punya apa-apa, kamu harus melakukan apa pun yang halal untuk bertahan. Tidak ada ruang untuk gengsi.
Dari Kondektur, Sopir, Hingga Buruh Bangunan
Namun, berjualan kue ternyata tidak cukup. Uang yang dihasilkan hanya bisa menutupi sebagian kecil kebutuhan. Sementara kebutuhan terus bertambah, sementara adik-adiknya juga membutuhkan biaya sekolah dan makan.
Bahlil yang masih duduk di bangku SMP kemudian mengambil langkah lain: menjadi kondektur angkot di terminal Fakfak.
Ini adalah lompatan besar. Dari lingkungan sekolah yang relatif terjaga, ia masuk ke dunia terminal yang keras. Terminal bukan tempat yang ramah untuk anak seusianya.
Terminal adalah tempat di mana kata-kata kasar adalah bahasa sehari-hari, di mana orang berbicara dengan suara keras, di mana persaingan untuk mendapatkan penumpang sering kali berujung pada keributan.
Tapi Bahlil tidak punya pilihan.
Ia harus berada di terminal setiap hari, melompat naik turun angkot, menawarkan jasa kepada calon penumpang, mengatur tempat duduk, dan memastikan semua berjalan lancar. Semua itu ia lakukan di sela-sela waktu sekolahnya.
Terminal Fakfak menjadi ruang belajarnya yang kedua. Di sana, ia belajar tentang hirarki kehidupan yang keras. Tentang siapa yang dihormati dan siapa yang diabaikan. Tentang cara bertahan di tengah keramaian yang kadang kejam.
Yang paling penting, ia belajar bahwa jika ingin naik, ia harus memulai dari posisi paling bawah terlebih dahulu.
Ia memulai sebagai kondektur. Pekerjaan yang penuh teriakan, debu jalanan, dan sering kali diabaikan oleh sopir angkot yang lebih tua dan lebih galak. Tapi ia menjalaninya. Tidak dengan wajah cemberut, tidak dengan keluhan. Ia menjalani karena ia harus.
Kemudian, setelah cukup waktu dan cukup pengalaman, ia naik pangkat. Dari kondektur, ia menjadi sopir angkot.
Di usia yang masih sangat muda, di terminal yang tidak pernah tidur, di tengah orang-orang yang mungkin meremehkannya karena usianya yang masih belia, di emnjadi seorang kondektur lalu sopir.
"Saya di terminal pun pangkat saya berjenjang. Jadi kondektur dulu, baru sopir angkot," kenangnya.
Ia mengemudi di jalanan yang belum beraspal mulus, membawa penumpang yang kadang hanya segenggam, kadang berdesakan sampai ke pintu. Ia belajar tentang kesabaran ketika mesin mogok di tengah jalan.
Ia belajar tentang ketangguhan ketika penumpang marah karena harga. Ia belajar tentang kemanusiaan ketika ada yang turun dengan wajah lesu karena tak punya uang cukup. Terminal tidak pernah menjadi tempat yang nyaman. Tapi di situlah ia menjadi dewasa.
Tapi perjuangan Bahlil di Fakfak tidak berhenti di terminal.
Ada satu babak dalam hidupnya yang jarang ia ceritakan dengan panjang lebar, tapi sangat membentuk karakternya: ketika ia lari ke hutan karena masalah dengan polisi.
Peristiwa itu bermula dari sebuah pertengkaran di SMP. Bahlil, yang saat itu mungkin masih dipenuhi amarah seorang remaja, terlibat konflik dengan anak kepala sekolah karena dihina miskin. Tidak tanggung-tanggung, ia bahkan memasukkan motor kepala sekolah ke dalam got. Konsekuensinya tentu saja berat. Ia dilaporkan ke polisi, dikejar, dan akhirnya memutuskan untuk melarikan diri ke tengah hutan.
Bayangkan, seorang anak SMP, sendirian, lari ke dalam hutan yang gelap dan tak dikenal. Bukan untuk petualangan. Bukan untuk kesenangan. Ia lari karena ia takut ditangkap, karena ia merasa segala sesuatunya telah kacau.
Di hutan itulah ia bekerja. Ia menjadi helper ekscavator, istilah yang sangat sederhana untuk pekerjaan yang sangat keras. Setiap pagi, di usia 14 tahun, ia bangun di tengah hutan. Ia memasak untuk dirinya sendiri. Kemudian ia membantu mengoperasikan ekskavator, memompa gemuk, mengisi bahan bakar solar, naik ke atas mesin, melakukan apa pun yang diperintahkan.
Ia tinggal di antara pepohonan rindang yang tak pernah memberinya rasa aman. Ia tidur dengan suara serangga malam dan kadang gemerisik hewan liar. Ia tidak tahu kapan semuanya akan berakhir. Tapi ia bertahan.
Di hutan itu, ia belajar bahwa hidup bisa jauh lebih keras dari apa pun yang ia bayangkan. Bahwa ia harus menyiapkan diri untuk apa pun yang menghadang. Bahwa tidak ada yang akan menyelamatkannya kecuali dirinya sendiri.
Setelah cukup waktu, ia kembali ke kota. Bukan untuk balas dendam atau memberontak. Ia kembali untuk melanjutkan hidup.
Ia kemudian menjadi buruh bangunan. Membantu ayahnya yang bekerja sebagai buruh bangunan. Memikul pasir, mengangkat batu bata, mencampur semen, mengangkut material dari satu tempat ke tempat lain.
Pekerjaan yang membuat otot-ototnya bertambah kuat dan tangannya semakin kasar. "Apa aja yang bisa menghasilkan duit, saya lakukan. Yang penting halal," katanya.
Fakfak, Sekolah, dan Paket C
Di tengah semua kesibukannya bekerja, Bahlil tetap berusaha bersekolah. Tapi jalan pendidikan formalnya tidak mulus. Bahkan, bisa dibilang, berliku-liku dan penuh dengan kegagalan administratif.
Semasa di Maluku, dia bersekolah di SD Negeri 1 Seram Timur dan melanjutkan ke SMP Negeri 1 Seram Timur.
Karena kesibukannya di terminal dan konflik dengan anak kepala sekolah yang berujung pada pengusiran, Bahlil putus sekolah di tingkat SMP. Ia tidak tamat seperti teman-temannya. Ia sempat bekerja di hutan sebagai helper ekskavator, lalu kembali ke kota dan tinggal bersama seorang Dandim di Fakfak untuk menghindari kejaran polisi.
Ketika ia ingin melanjutkan ke SMA, masalah baru muncul: tidak ada sekolah yang mau menerimanya.
"Saya nggak bisa masuk SMA. Waktu itu saya tinggal dengan Dandim. SMA negeri enggak terima, SMA yang lain juga enggak terima."
Namun, karena ia tinggal bersama Dandim (pada masa Orde Baru, pangkat dan kekuasaan militer masih sangat disegani), pihak sekolah tidak bisa menolak begitu saja. Mereka akhirnya membuat syarat: Bahlil bisa masuk SMEA Yapis Fakfak jika ia lolos 5 besar dalam ujian masuk.
Bahlil menerima tantangan itu. Ia belajar. Ia berusaha. Dan ketika hasil ujian keluar, ia bukan hanya lolos 5 besar. Ia masuk 4 besar.
"Yang diterima di sekolah itu tidak lebih dari 200. Yang tes sekitar 400. Dan saya bukan maksudnya lebih besar lagi, saya masuk 4 besar."
Meski wajahnya seperti yang ia sendiri candakan, kurang meyakinkan, otaknya ternyata bisa berbicara.
Meski sudah masuk SMEA dan bahkan lulus dengan rangking 1 di angkatannya, Bahlil tetap tidak memiliki ijazah SMA formal seperti umumnya. Ia mengikuti jalur Paket C, yaitu pendidikan kesetaraan.
Dan inilah poin yang sangat penting, yang sering luput dari perhatian banyak orang:
"Saya ikut Paket C. Tidak ada yang Paket C bisa jadi menteri juga. Sekolah itu tidak menjamin kualitas seseorang," katanya di acara Talkshow bersama Andi Noya.
Pernyataan itu sangat berani. Apalagi di negeri ini, ijazah sering kali menjadi Tuhan baru. Orang dinilai dari kertas yang ia pegang, bukan dari isi kepalanya. Banyak anak muda di daerah yang merasa rendah diri karena tidak memiliki ijazah formal. Mereka merasa hidupnya sudah berakhir sebelum dimulai.
Tapi Bahlil membuktikan sebaliknya.
Ia tidak pernah malu mengakui bahwa ia lulusan Paket C. Bahkan, ia menjadikannya sebagai senjata moral untuk mematahkan stigma bahwa tanpa ijazah formal, seseorang tidak bisa sukses.
"Ini stop sampai di sini. Banyak anak-anak sampai hari ini masih merasa rendah diri, masih merasa hidupnya ini tidak berarti, karena ternyata dia tidak sekolah formal, tapi dia ikut paket-paket seperti ini. Itu salah, itu ya, salah."
Ia menegaskan: "Sekolah itu cuma instrumen, sarana aja. Yang menentukan kualitas adalah orang itu sendiri."
Kata-kata itu bukanlah sekadar motivasi kosong. Ia adalah buah pengalaman pahit manis yang ia alami sendiri.
Ia tahu persis bagaimana rasanya ditolak sekolah hanya karena status administrasi. Ia tahu bagaimana perasaan anak-anak kampung yang memiliki kemampuan otak setara, tapi terkendala akses dan birokrasi.
Tapi ia tidak tinggal diam. Ia tidak menyerah pada sistem. Ia mengalahkan sistem dengan caranya sendiri: lewat ujian Paket C, lalu kuliah di STIE Port Numbay, sebuah kampus yang bahkan di awal-awal tidak ada di mesin pencari Google, seperti yang ia candakan.
"Sekolah saya juga di kampus yang enggak ada di Google. Awal-awal enggak ada. Tapi dalam bahasa anekdot lucu-lucu, itu adalah Harvard cabang Papua."
Dari sanalah ia kuliah. Dari sanalah ia lulus. Dari sanalah ia kemudian menjadi aktivis, pengusaha, ketua umum HIPMI, dan akhirnya menteri.
Jadi, tidak ada alasan bagi siapa pun, terutama anak-anak muda di daerah, untuk merasa bahwa masa depannya sudah tertutup hanya karena ia lulusan Paket C, atau karena sekolahnya tidak terkenal, atau karena fasilitasnya tidak memadai.
Bahlil adalah bukti hidup bahwa kualitas seseorang tidak ditentukan oleh ijazahnya, tetapi oleh isi kepala dan hatinya.
Hikmah-Hikmah di Perjalanan
Jika kita meringkas masa kecil dan remaja Bahlil di Fakfak, daftar pekerjaannya sangat panjang. Dia pernah menjadi penjual kue cucur dan pisang goreng (sejak SD), kondektur angkot (SMP), sopir angkot (SMA), helper ekskavator di tengah hutan (setelah bermasalah dengan polisi), buruh bangunan demi membantu ayahnya, loper koran, penjual ikan dan sayur di pasar, hingga pekerjaan kasar lainnya yang tidak terhitung
Tidak ada satu pun pekerjaan itu yang bergengsi. Tidak ada satu pun yang membuatnya kaya mendadak. Semuanya melelahkan. Semuanya penuh keringat dan air mata. Tapi semua dilakukan dengan satu prinsip: halal.
Apa yang membuat seorang anak seusia itu tidak patah semangat? Jawabannya mungkin sederhana: ia tidak punya pilihan lain selain terus berjuang.
"Saya enggak pernah malu," tegasnya. "Malu itu kalau saya nyuri. Karena mama saya sama almarhum ayah saya mengajarkan prinsip itu."
Ia bisa saja mengambil jalan pintas. Bisa saja mencuri, merampok, atau melakukan hal-hal ilegal lainnya. Tapi orang tuanya telah menanamkan nilai yang kuat: martabat itu lebih penting daripada kekayaan. Kejujuran lebih berharga daripada fasilitas.
Maka ia memilih menjadi sopir angkot daripada menjadi pengemis. Ia memilih bekerja di hutan daripada mencuri di kota. Ia memilih menjadi buruh bangunan daripada bergantung pada belas kasihan orang lain.
Ada satu hal yang jarang disadari oleh banyak orang: kesuksesan Bahlil bukanlah kebetulan. Itu adalah hasil dari akumulasi nilai-nilai yang ia serap dari kehidupan di Fakfak dan dari kedua orang tuanya.
Dari Fakfak, ia belajar bahwa hidup tidak akan memberi Anda apa pun jika Anda hanya diam. Bahwa kamu harus bekerja, kamu harus berjuang, dan kamu harus bertahan. Bahwa kesuksesan sejati bukan tentang seberapa tinggi kamu melompat, tetapi seberapa sering kamu bangkit setelah jatuh.
Dari ayahnya, ia belajar tentang martabat, yakni tidak perlu menadahkan tangan, cukup bekerja keras, tentang tanggung jawab (sakit pun tetap kerja karena ada keluarga yang bergantung), tentang pekerja keras yang tak kenal lelah meski upah kecil, semangat tidak kecil, dan tentang kejujuran dalam masalah upah, yakni angan pernah menunda membayar pekerja.
Dari ibunya, ia belajar tentang kreativitas di tengah keterbatasan. Tentang membuat kue di subuh hari, tentang ketekunan mencuci pakaian orang setiap hari tanpa mengeluh, tentang cinta yang tulus tanpa pamrih, dan tentang kepedulian pada kejujuran.
Keduanya sama-sama mengajarkan bahwa halal itu nomor satu. Bahwa kehormatan lebih penting daripada keuntungan materi. Bahwa jabatan atau kekayaan bukanlah ukuran kebahagiaan.
Itulah yang membuat Bahlil tetap rendah hati, meski sudah duduk di kursi yang sangat tinggi.
***
Hari itu, Jumat, Agustus 2026, di Djakarta Theater, Bahlil berbicara di hadpan Presiden Prabowo dan sejumlah menteri. Ia beberapa kali menyeka matanya yang basah.
Ia mengungkapkan bahwa perjalanan hidup hingga mencapai posisi saat ini tidak lepas dari peran kedua orang tuanya.
Bahlil mengenang jasa almarhum ayahnya serta sang ibu yang menurutnya menjadi guru kehidupan paling berharga. Ia menegaskan tidak pernah merasa malu ataupun menyesal terlahir dari keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana.
Bahkan, pengalaman tersebut justru membentuk dirinya menjadi pribadi yang kuat dan pekerja keras.
“Saya tidak pernah menyesal lahir dari rahim kandungan wanita yang pembantu rumah tangga. Saya tidak pernah merasa minder,” ujar Bahlil.
Menurutnya, sang ibu telah mengajarkan banyak nilai kehidupan, mulai dari persaudaraan, menghargai orang lain, kejujuran, loyalitas hingga kerja keras. Bahlil pun meyakini, jika dirinya terlahir dari keluarga yang berbeda, belum tentu perjalanan hidupnya akan membawanya hingga menjadi Menteri ESDM dan Ketua Umum Partai Golkar.
“Terima kasih banyak Mama,” ucap Bahlil sembari mengusap matanya.
.png)

