Cerita AGAM (2) - Pengantin Menanam




Dua sejoli itu datang ke kantor camat. Mereka sedang nengurus izin pernikahan. Tapi mereka tidak membawa berkas apapun. Mereka membawa enam bibit pohon.

Jangan terkejut. Di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, syarat untuk menikah adalah setiap calon pengantin mesti menanam enam bibit pohon, kemudian melapor ke pihak kecamatan. Program ini disebut Catin Menanam. Catin adalah singkatan dari Calon Pengantin.

Program ini lahir dari prakarsa Camat Tanjung Raya, Handria Asmi. Dia mewajibkan semua calon pengantin untuk menanam. "Ini adalah bagian dari program Agam Menyemai yang dicetuskan Bupati Indra Catri," katanya.

Saya bertemu Handria di satu sudut Kota Lubuk Basung di Agam. Andaikan dia tidak mengaku sebagai camat, saya mungkin akan mengira dia personel band. Alumnus IPDN ini tampak muda dan keren. Dia pun inspiratif.

Pertemuan dengannya membuat saya harus merevisi beberapa anggapan sebelumnya yang ternyata keliru. Dulu saya beranggapan bahwa camat adalah posisi yang serba tidak jelas. Kecamatan harus dibubarkan sebab posisinya tanggung. Tidak punya kewenangan.

Namun di Agam, seorang camat begitu berwibawa. Seorang camat berperan untuk memfasilitasi semua wali nagari, melakukan pembinaan, dan menyiapkan bantuan teknis. Seorang camat bisa berinovasi.

Program Catin Menanam adalah turunan dari Agam Menyemai. Bupati Agam Indra Catri menyiapkan bibit untuk semua kecamatan dan nagari yang bisa diambil kapan saja untuk ditanam warga. Handria lalu membuat inovasi agar program ini bisa dilaksanakan semua lapisan masyarakat di kecamatannya.

Selain itu, Handria membuat arisan Wali Nagari. Secara periodik, dia bertemu semua Wali Nagari atau kepala desa demi mendiskusikan apa saja kendala di wilayahnya. Dia meminta semua Wali Nagari untuk membuat buletin yang disebutnya Taropong Nagari atau teropong untuk melihat Nahari. Buletin ini berisikan semua perkembangan selama sebulan di setiap nagari.

"Taropong Nagari dibagikan di masjid setiap awal bulan. Tujuannya agar semua masyarakat bisa tahu perkembangan dan penggunaan dana nagari," katanya.

Tak cukup di situ, buletin harus diupload di media sosial agar dilihat semua warga perantauan. Sebab warga perantauan punya andil mengirimkan dana untuk pembangunan nagari. "Kami ingin melibatkan semua pihak untuk membangun nagari," katanya.

Handria juga punya inovasi lain. Demi mendukung program Save Maninjau, dia membuat program Gerhawiyata Maninjau Lestari yang ditujukan kalangan milenial. Tujuannya agar anak milenial tahu kualitas air danau sehingga bisa menjaganya agar tidak tercemar.

Camat muda dan ganteng ini memang tak pernah kehabisan ide. Tak heran jika di tahun 2018, dia memenangkan penghargaan sebagai Camat Teladan di tingkat provinsi Sumatera Barat. Dia menjadi sosok inspiratif yang bisa menularkan inovasi dan kreativitas ke camat lain.

Saat hendak berpisah, dia mengundang ke kantornya. "Warga saya banyak yang sedang panen durian. Kamu bebas mau makan berapa pun. Datang yaa?" katanya.

Hmm. Tawaran yang sukar untuk ditolak.


3 comments: