Kisah Haru Pahlawan di Bandara Palu


ENTAH apa yang ada di benak pilot pesawat Kapten Mafella, pilot Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6231. Tiba-tiba saja ia ingin mempercepat tiga menit keberangkatannya dari Bandara Mutiara Palu. Ia harusnya berangkat pukul 17.55 WITA. Tapi dia ingin mempercepatnya.

Dia menghubungi menara pengawas atau Air Traffic Controller (ATC). Petugas yang berjaga adalah Anthonius Gunawan Agung langsung mengizinkannya berangkat. Bahkan Anthonius memandu Mafella agar lepas landas dengan cepat.

Beberapa detik sebelum take off, pesawat itu mengalami guncangan. Mafella tidak merasa terganggu. Yang dia pikirkan hanya fokus di cockpit pesawat untuk airborne phase (tinggal landas). Ia tidak menyadari bahwa guncangan tersebut adalah gempa.



Anthonius masih sempat mengucapkan kalimat: “Batik 6231 R/W 33 clear for take off.” Mafella menjawab, “Thank you for letting me take off.” Pesawat pun tinggal landas. Suara gemuruh terdengar.

Mafella melihat air bah menerjang apa pun di bandara. Dia mengambil HP dan mengabadikan peristiwa itu dengan cepat. Saat dirinya melihat menara pengawas, dia langsung tercekat. Menara itu roboh seketika.

Dia membayangkan nasib petugas yang memandunya. Harusnya dia masih bisa menyelamatkan diri. Tapi petugas itu tetap setia di kursinya dan memandu pesawat agar segera terbang.

Kisah yang dituturkan Mafella melalui Twitter bak gayung bersambut. Beberapa petugas ATC yang berhasil menyelamatkan diri ikut bersuara. Anthonius menolak untuk menyelamatkan diri pada saat semua rekannya berteriak untuk menyuruhnya pergi.

Ia menuntaskan tugasnya memandu pesawat itu. Dia memastikan roda pesawat sudah meninggalkan landasan bandara yang kemudian terbelah. Setelah itu, Anthonius melompat dari lantai empat menara pengawas yang runtuh diterjang tsunami. Kakinya patah.

Rekan-rekannya lalu membawanya dengan helikopter untuk mendapatkan pertolongan. Tapi, dirinya tak terselamatkan. Mendengar berita kematian Anthonius, Mafella amat bersedih.

“Saya tidak menyangka dia tetap di kursinya untuk menyelesaikan tugas. Tuhan punya rencana lain,” katanya.

Saya tergetar membaca kisah Anthonius melalui Twitter. Jika berada dalam posisinya, tidak banyak orang yang mau mengambil langkah heroik untuk menyelamatkan orang lain, setelah itu diri sendiri.

Anthonius adalah orang biasa, yang barangkali sering kita saksikan berseliweran di jalan-jalan. Dia bukan politisi yang suka mengatasnamakan rakyat. Dia bukan juga para prajurit yang ditempa dengan doktrin nasionalisme.

Tapi dia punya spirit yang luar biasa, jiwa yang bening, serta kekuatan hati yang menggerakkan dirinya untuk melakukan tindakan-tindakan yang luar biasa. Dia bisa saja ikut lari dan membiarkan pesawat itu diam di tempat hingga ditelan tsunami.

Tapi dia memilih tetap memandu pesawat itu hingga terbang serta memastikan semuanya berjalan normal, dan ratusan orang di situ selamat. Anthonius, anak muda yang lahir tahun 1996 itu, telah berpulang.

Semangatnya akan tetap hidup dan menjadi nyala kecil yang terus menyala di hati mereka yang mendengar kisahnya. Dia seperti Edward John Smith, nakhoda kapal Titanic yang memilih tenggelam bersama kapal. Dia ibarat Kapten Rivai, nakhoda kapal Tampomas yang karam di Pulau Masalembo.

Dahulu, saya mengira bahwa kepahlawanan adalah sesuatu yang sudah berakhir. Kita sering alpa melihat pahlawan sebagai kualitas yang seyogyanya dimiliki untuk setiap orang pada zaman apa pun. Kepahlawanan adalah potensi yang bisa melekat pada siapa pun.

Belajar dari kisah Anthonius, para pahlawan adalah mereka yang bekerja dengan hati, mereka yang ikhlas mengorbankan apa pun demi kepentingan yang lebih besar. Pahlawan adalah mereka yang bekerja dengan hati, tanpa mengharapkan gaji atau imbalan.

Pahlawan adalah mereka yang mengabdikan dirinya untuk orang lain, tanpa memikirkan dirinya sendiri. Pahlawan adalah para bapak dan ibu yang menyayangi anaknya sepenuh hati. Pahlawan adalah para guru yang mengabdi di ujung pelosok negeri ini.

Pahlawan adalah para tukang sayur dan penjual ikan yang saban hari sudah memenuhi pasar demi sesamanya. Pahlawan adalah orang yang mendahulukan keselamatan orang lain. Pahlawan adalah mereka yang bahagia ketika membantu sesama, meskipun dirinya ibarat lilin yang memberi nyala terang, namun selanjutnya punah terbakar.

Mereka tersebar di masyarakat kita, dan bekerja dengan diam-diam, tanpa berharap untuk dikenal orang lain.

Merekalah pahlawan zaman ini yang tak butuh popularitas. Anda pun bisa menjadi pahlawan yang mengabdikan diri pada sesama dengan berbekal tetes demi tetes cinta kasih pada sesama, hati yang bening, semangat dan keikhlasan berbagi. Inilah pahlawan di "zaman now".

Hari ini, banyak orang di media sosial yang memajang foto Anthonius Gunawan Agung. Dia terlihat gagah dan sedang tersenyum. Semoga dirinya selalu tersenyum di alam sana, bersama para korban lainnya. Semoga dia mendapat tempat terbaik di sisi-Nya.

Turut berduka cita.



0 komentar:

Posting Komentar