Lagu Iwan Fals yang Mengaliri Nadi Ini


poster Iwan Fals

DAHULU mimpi terbesar saya adalah bisa makan malam dengan Pramoedya Ananta Toer. Kesempatan itu sempat ada. Beberapa sahabat saya di Jakarta sangat dekat dengan Pramoedya. Namun, saya selalu menundanya, hingga akhirnya pengarang besar itu berpulang ke Rahmatullah. 

Mimpi saya mustahil terpenuhi. Saya tidak mungkin lagi bisa ketemu dan mencium tangan pengarang hebat itu. Tapi mimpi adalah sesuatu yang tak berkesudahan. Hari ini, saya menganyam mimpi baru. Saya ingin agar suatu saat bisa ngopi bareng –sekaligus makan malam—dengan Iwan Fals, musisi paling besar yang terlahir di negeri ini.

Buat saya, Iwan Fals adalah magma yang terus membara. Lagu-lagunya mengalir di nadi seluruh rakyat Indonesia. Lagu-lagunya mencirikan realitas sosial, dinamika zaman yang terus berubah, serta perlunya membangun daya kritis pada penguasa. Ia membangun jarak dengan penguasa. Tidak hanya di saat muda, bahkan hingga kini. Ia tak pernah tergoda untuk jadi bermain di jalur politik. Ia tak mau jadi bupati. Apalagi jadi presiden, sebagaimana artis karbitan lainnya.

Mengapa ia sedemikian berani pada penguasa Orde Baru? Apakah karena rasa benci? Dalam beberapa wawancara, ia mengaku tidak punya kebencian kepada negara ataupun para penguasa. Ia tak pernah ingin ‘menyerang’ siapapun. 

Ia hanya ingin mencoba jujur pada dirinya sendiri. Dan kejujuran itu bukannya tidak membawa resiko. Bukan sekali dua kali ia diinterogasi. Konsernya dilarang. Namun, semua pengekangan kreativitas itu malah menyuburkan semua daya kreasinya yang mengalir bak air bah. Di tengah segala hambatan, ia bisa melahirkan lagu-lagu dengan daya dobrak yang sedemikian mengguncang. 

Syairnya amat dahsyat. Amat menyengat, namun amat menyentuh sanubari. Kata Bimbim Slank, syair Iwan yang menyengat menjadi mata air inspirasi bagi smeua grup band lainnya. Syair yang sedemikian menggila itu lalu menjadi lagu wajib di setiap demonstrasi. Ia menjadi ikon perlawanan. Lewat musiknya, ia menggebrak segala kemapanan dan mengajukan cara berpikir yang apa adanya.

Saya penggila Iwan Fals. Kemarin, saya mengumpulkan semua referensi tentang Iwan untuk keperluan menulis biografi di kelas sejarah. Saya membaca argumen Benedict Anderson yang agak sinis dengan Iwan. Katanya, generasi baru Indonesia tak ingin jadi Tirto Adhi Surjo, Sukarno, atau Tan Malaka. Generasi baru Indonesia ingn jadi Iwan Fals, demikian katanya dengan sinis.

Iwan Fals
Si Ben itu tak tahu banyak tentang Iwan. Ia tak pernah merasakan bagaimana haru-biru berdemonstrasi. Ia tak pernah dibakar semangat perlawanan pada rezim. Ia tak pernah digarami  gelora untuk menjebol rezim yang kokoh bagai bendungan. Tapi biarlah. Mungkin sudah saatnya generasi Indonesianis seperti Ben diganti dengan anak-anak muda yang punya pemikiran lebih segar.

Kemarin, saya ditanya oleh Professor William Frederick, seberapa populerkah Iwan Fals? Saya jawab dengan amat yakin. “Mustahil ada demonstrasi tanpa menyanyikan lagu Iwan Fals. Ia adalah pejuang yang mendedikasikan semua syair untuk mendobrak kemapanan, menghancurkan ketidakadilan, sekaligus syair yang membius tentang cinta kasih. Ia adalah pahlawan di hati saya.”

Yup. Saya adalah satu dari ribuan anak muda yang menjadikannya sebagai pahlawan. Semoga kelak bisa terpenuhi impian untuk ngopi dan makan malam dengan lelaki yang lagu-lagunya mengalir di nadi saya.


Athens, 17 Mei 2012

10 comments:

  1. Saya pun penggila Iwan Fals. Ulasan musik terakhir dalam blog saya pun membahas kelantangan Iwan Fals saat featuring dengan grup musik Padi. Fadly Padi yang lirih berkanon musik hati bersama Iwan Fals yang lantang menyuarakan kebebasan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mbak ayu. sy akan segera meluncur ke blog anda dan baca Iwan Fals

      Delete
  2. Amin... semoga dikabulkan doanya k'.
    Saya tidak menggilai tapi jatuh cinta dengan kebapakannya. Suka dengan apa adanya. Selalu Ikut terharu ketika beliau mengenangkan si Galang.

    Saya mengidolakan Goenawan Muhamad. Masih berusaha cari jalan bertemu beliau. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ay yakin kalau Ugha pasti akan segera bertemu Goenawan Mohamad. ini cuma soal waktu saja.

      Delete
  3. mereka juga suka idolanya masing-masing...jempol untuk penulis, bang iwan mesti baca tulisan ini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya. semoga bang iwan juga membaca tulisan ini.

      Delete
  4. Tiada hari2ku tanpa lagu bang iwan fals..

    ReplyDelete
  5. Tiada hari2ku tanpa lagu bang iwan fals..

    ReplyDelete

  6. salam kenal.
    makasih infonya gan....sangat bermanfaat...
    jangan lupa jalan2 ke blog azzahra ya...
    bang iwan, lagu2nya menjadi legenda

    ReplyDelete
  7. sama mas, sya juga penggemar Iwan Fals.... Semoga mas dan bang Iwan Sehat selalu dan diberikan rizki yang lebih oleh Alloh SWT. Amin

    ReplyDelete

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...