Ketika Luka Disembunyikan, Ketika Ingatan Menjadi Pendek


Pagi itu seorang perempuan tua berdiri di depan makam tanpa nisan di luar Yogyakarta. Rambutnya telah memutih, matanya buram, tapi setiap tahun ia datang ke tempat yang sama menaburkan bunga di atas tanah yang ia yakini menjadi kuburan suaminya.

“Sampai sekarang saya tidak pernah tahu di mana dia dikubur,” bisiknya pelan.

Suaminya seorang guru sekolah dasar ditangkap pada tahun 1966 karena dituduh simpatisan partai terlarang. Ia tak pernah kembali. Tidak ada surat, tidak ada jenazah, tidak ada penjelasan. Yang tersisa hanya keheningan dan rumor tentang truk yang membawa puluhan orang ke tepi sungai pada malam hari.

Setengah abad kemudian negeri ini bertepuk tangan. Di layar televisi para pejabat tersenyum di bawah bendera merah putih. Mereka memberi penghargaan kepada seorang tokoh yang dulu berada di puncak kekuasaan selama puluhan tahun, simbol dari stabilitas dan pembangunan.

Tak satu pun menyebut ribuan orang yang lenyap, wartawan yang dibungkam, aktivis yang diasingkan. Seolah-olah kemajuan selalu lebih penting daripada luka dan kenangan hanyalah beban yang menghambat masa depan.

Negeri ini seperti seseorang yang dengan sengaja menutup mata terhadap masa lalunya sendiri. Kita membiarkan sejarah dilipat, disimpan di laci, lalu diganti dengan cerita yang lebih manis.

Di sekolah kita diajarkan bahwa bangsa ini kuat karena berhasil membangun. Kita menghafal nama-nama pemimpin besar dan proyek-proyek megah, tapi tidak pernah diajak memahami bagaimana kekuasaan bisa menindas atas nama stabilitas.

Pelajaran sejarah disusun seperti naskah propaganda, berisi kemenangan dan prestasi, tapi nyaris tanpa ruang bagi luka. Generasi muda tumbuh tanpa tahu bagaimana rasa takut bisa menjadi bahasa politik, bagaimana keheningan bisa dipaksa.

Di warung kopi dan di media sosial, nostalgia menjadi semacam candu. “Zaman dulu harga murah, hidup aman,” begitu kata banyak orang. Tapi mereka lupa bahwa rasa aman itu dibangun di atas ketakutan untuk bersuara.

Mereka lupa bahwa murahnya harga bukan berarti murahnya martabat.

Dalam nostalgia yang lembut itu, kita seperti anak-anak yang rindu masa lalu tanpa pernah benar-benar mengenalnya.

Sosiolog Prancis Maurice Halbwachs pernah menulis bahwa ingatan kolektif tidak pernah netral. Ia dibentuk oleh institusi, simbol, dan kekuasaan. Ingatan masyarakat tidak tumbuh begitu saja tetapi diarahkan oleh siapa yang memiliki kendali atas narasi.

Ketika negara memproduksi satu versi sejarah tentang siapa yang disebut pahlawan dan siapa yang dilupakan, maka bangsa perlahan kehilangan kemampuan untuk mengingat secara jujur. Yang tersisa hanyalah memori yang telah disunting, indah, rapi, tapi hampa.

Inilah yang disebut sebagai politik pelupaan atau the politics of forgetting. Bukan penghapusan melainkan penulisan ulang. Sejarah tidak dibakar, hanya diganti isinya, dari kisah penderitaan menjadi kisah pembangunan. Dari wajah-wajah korban menjadi deretan angka ekonomi. Dari teror menjadi stabilitas.

Pelupaan ini berlangsung perlahan tapi pasti. Ia dimulai dari televisi yang hanya menyiarkan kenangan indah, dari buku teks yang membersihkan noda masa lalu, dari upacara-upacara kenegaraan yang selalu berujung tepuk tangan.

Kita menormalisasi keheningan, menolak membuka luka, dan menyebutnya rekonsiliasi. Padahal rekonsiliasi tanpa pengakuan hanyalah cara elegan untuk melupakan.

Pelupaan juga bekerja melalui penghargaan, gelar, medali, dan patung.

Ketika simbol kehormatan diberikan tanpa menimbang luka, sejarah berubah menjadi kosmetik, dipoles, disemir, dan dijual kembali sebagai kebanggaan nasional. Bangsa ini seolah ingin cepat sembuh tapi takut menatap cermin.

Filsuf Milan Kundera pernah menulis, “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa.” Kalimat itu terasa relevan bagi bangsa yang terus berusaha menutup masa lalunya sendiri. Melupakan menjadi bentuk kepatuhan, sementara mengingat menjadi tindakan keberanian.

Ingatan adalah bentuk keadilan paling sederhana. Ia adalah cara kita menolak kepalsuan, menolak agar penderitaan tak ditulis ulang. Namun bangsa ini sering menganggap lupa sebagai bentuk kedewasaan.

“Sudahlah yang lalu biarlah berlalu,” kata banyak orang, padahal yang berlalu itu belum pernah diakui, belum pernah disembuhkan.

Lupa memang terasa damai. Tapi damai yang dibangun di atas amnesia adalah damai yang rapuh.

Bangsa yang kehilangan ingatan adalah bangsa yang mudah dipermainkan oleh penguasa baru yang memakai baju lama, oleh narasi lama yang dibungkus ulang dengan kata-kata segar.

Hari ini kita menyaksikan bagaimana masa lalu kembali dijual sebagai nostalgia, bukan pelajaran. Kita mendengar suara-suara yang mengajak melihat sisi baik dari masa itu tanpa pernah bertanya mengapa sisi buruknya dikubur begitu dalam.

Barangkali inilah kutukan bangsa yang ingin cepat maju tapi enggan menoleh ke belakang. Kita membangun gedung-gedung tinggi di atas tanah yang masih menyimpan jeritan. Kita menanam bunga di atas kuburan yang belum sempat dinamai.

Lupa memang terasa ringan tapi ia adalah pengkhianatan terhadap kemanusiaan. Sebab tanpa ingatan bangsa ini hanya akan berputar di lingkaran yang sama, memuja para penguasa, melupakan para korban, lalu suatu hari mengulangi semuanya lagi.

Dan ketika hari itu tiba, mungkin tak ada lagi Siti Rohani yang datang menabur bunga di tanah sunyi. Yang tersisa hanyalah kita, bangsa tanpa ingatan,yang menepuk tangan pada sejarah dan menengok ke arah lain saat kebenaran mencoba berbicara.