Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Mereka yang Menebar EMBUN di Media Sosial



TAK semua orang menjadikan media sosial sebagai sarana untuk menebar kebencian dan melampiaskan semua kemarahan. Tak semua orang menjadikan media sosial sebagai panggung politik, panggung merendahkan orang lain, panggung untuk memamerkan kehebatan. Justru di media sosial, terdapat sejumlah figur hebat yang mendedikasikan dirinya sebagai embun sejuk yang membasahi pikiran dan hati.

Justru di media sosial, terdapat sejumlah orang yang memilih untuk menyalakan lilin di tengah kumpulan orang-orang yang hanya bisa mengutuk dan menyalahkan keadaan. Mereka bukanlah partisan, bukan pendukung partai. Melalui mereka, kita menyerap kearifan, merasakan gelora dan semangat yang membumbung tinggi, lalu menyelam di dasar samudera jernih. Siapakah gerangan?

Saya mencatat tiga nama di timeline saya, yang memiliki aliran keagamaan berbeda, yang selalu menginspirasi. Ketiganya selalu menuangkan embun di tengah emosi yang menggelegak. Ketiganya tak lelah menjadi guru yang selalu memosting hal-hal reflektif, penuh perenungan. Siapakah mereka?

Pertama, Mustofa Bisri. Sosok ini bukanlah sosok kemarin sore yang tiba-tiba saja tenar karena munculnya facebook. Sosok ini telah lama membangun jejak yang dalam di dunia kenyairan dan sastra Indonesia. Puisi-puisinya terbilang religius serta berangkat dari kontemplasi yang dalam. Saya sangat sering mengutip beberapa puisinya. Yang paling saya sukai adalah puisi berjudul “Kalau Kau Sibuk.” Berikut beberapa bait puisi itu.

Kalau kau sibuk mencela orang lain saja 
Kapan kau sempat membuktikan cela-celanya? 
Kalau kau sibuk membuktikan cela orang saja 
Kapan kau menyadari celamu sendri? 
Kalau kau sibuk bertikai saja 
Kapan kau sempat merenungi sebab pertkaian? 
Kalau kau sibuk merenungi sebab pertikaian saja 
Kapan kau akan menyadari sia-sianya?….. 
Kalau kau sibuk berkutbah saja 
Kapan kau sempat menyadari kebijakan kutbah? 
Kalau kau sibuk dengan kebijakan kutbah saja 
Kapan kau akan mengamalkannya? 
Kalau kau sibuk berdzikir saja 
Kapan kau sempat menyadari keagungan yang kau dzikiri? 
Kalau kau sibuk dengan keagungan yang kau dzikiri saja 
Kapan kau kan mengenalnya? 

Gus Mus, demikian ia disapa, adalah salah satu penulis tema-tema keislaman yang sangat produktif. Sebagai kiai Nahdlatul Ulama (NU) yang memimpin Pondok pesantren di Rembang ini, ia menulis puluhan buku, yang kesemuanya adalah tema agama. Buku-bukunya snagat kental dengan sufisme serta bagaimana membumikan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Reputasi dan dedikasinya di bidang intelektualitas dan keumatan, tak diragukan lagi.

Ketika media sosial mulai mewabah, ia meramaikannya dengan konten-konten positif. Ia emnjadikan facebook sebagai arena untuk menyebarkan dakwah dengan cara yang tidak menggurui orang lain. Beberapa hari lalu, ia mengatakan:
 “Kalau ada yang menghina atau merendahkanmu janganlah buru-buru emosi dan marah. Siapa tahu dia memang digerakkan Allah untuk mencoba kesabaran kita. Bersyukurlah bahwa bukan kita yang dijadikan cobaan. :-)”

Belakangan ini, namanya banyak dibahas netizen. Saat dugaan penistaan agama muncul, ia berani berpendapat berbeda dengan banyak orang yang suka marah2 di dunia medsos. Ia tak hendak ikut-ikutan menyampaikan sikap dengan cara marah. Ia tetap tenang, dan terus memosting hal-hal positif.

Beberapa hari lalu, ia kembali dihina oleh seorang netizen. Reaksinya bukan marah-marah dan lapor polisi. Ia membuka pintu rumahnya saat si penghina itu datang. Ia malah menganggap tak ada yang perlu dimaafkan. Dengan tenangnya, ia berkata:

“Saudara Fadjroel Rachman dan Adhi Karya BUMN dengan sungguh-sungguh memintakan maaf atas ucapan salah satu karyawannya. Maka dengan sungguh-sungguh saya menjawab: Tidak ada yg perlu dimaafkan, Mas Fadjroel. Kesalahannya mungkin hanyalah menggunakan 'bahasa khusus' di tempat umum. Maklum masih muda. ”

Melihat Gus Mus, saya selalu berdoa agar dirinya dianugerahi kekuatan untuk menjaga iman seluruh anak bangsa.

Kedua, Karma Zopa Gyatsho. Beliau seorang biksu yang suka berbagi pengetahuan di facebook. Saya tak mendapatkan data lengkap siapa dan bagaimana kisah hidupnya. Saya juga tak mendapatkan informasi apa saja pemikirannya yang telah dipublikasi. Mendengar kata Gyatsho, saya teringat nama biksu yang menjadi guru Avatar Aang dalam kisah Avatar: The Last Airbender yang ditayangkan di Nicklodeon. Fisiknya serupa Gyatsho, yakni berkepala botak, dan menyelimuti tubuhnya dengan kain kuning.

Saya terpikat pada biksu Gyatsho ini sejak dirinya menanggapi penurunan patung Budha di Tanjung Balai, Asahan, Sumatera Utara. Dia tidak menunjukkan reaksi marah atau protes, lalu sibuk mengemukakan dalil tentang kerukunan bergama. Dia justru dengan santainya berkomentar:

"Apabila dengan turun nya patung Buddha bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain, maka bukankah doa khas umat Buddha yaitu "semoga semua makhluk hidup berbahagia" menjadi kenyataan?"

Saya menyukai apapun yang dipostingnya. Ia cukup rajin membuat postingan. Ia tak pernah membahas politik atau tema-tema aktual. Postingannya mengingatkan saya pada buku-buku yang ditulis Ajahn Brahm, seorang biksu asal Australia yang memilih tinggal di hutan belantara Thailand. Postingan para biksu ini selalu adem dan menyejukkan. Karpa Zopa Gyatso mengajarkan Budha, tapi bukan dengan cara mengutip-ngutip dan menggurui.

Ia menekankan pada pentingnya mengalir bersama semesta. Bahwa setiap manusia adalah tuan bagi dirinya sendiri. Bahwa pikiran adalah tuan yang mengendalikan segala hal. Saat manusia berpikir tentang sedih, maka sebanyak apapun bahagia, bisa menjadi sedih. Sebaliknya, saat kita berpikir bahagia, maka segala jenis kesedihan akan menjelma jadi bahagia. Dalam hidup, kita tak harus menolak sedih, tapi bagaimana kita memandangnya sebagai rekan seperjalanan yang mewarnai hari-hari kita. Kita berdamai dengan segala rasa sedih.

Hari ini ia menulis postingan menarik saat dirinya hendak sarapan. Ia mengatakan:

Renungan Sebelum MakanTerima kasih kepada kebaikan hati pak tani padi, pak tani sayur-sayur, terima kasih kepada pak sopir yang membawa beras dan sayur dari pak tani ke pasar induk, terima kasih pak buruh angkut yang mengangkat beras dalam karung untuk dipajang di toko beras, terima kasih pak sopir bajaj yang sudah mengantar beras dan sayur dari pasar ke tempat saya, terima kasih pak penjual gas buat saya memasak nasi dan sayur.Terima kasih semuanya sehingga sepiring nasi dan sayur ini bisa berada di hadapan saya dan siap memberikan kekuatan kepada tubuh saya untuk meneruskan hidup agar bisa berbagi kebaikan kepada semua makhluk hidup. Tanpa kebaikan hati kalian semua, mungkin tubuhku tidak bisa bertahan hidup lagi.Lihatlah betapa hidup Anda sangat mengandalkan kebaikan hati begitu banyak orang yang terlibat!Lihatlah betapa banyaknya ucapan terima kasih yang layak Anda berikan kepada begitu banyak orang yang sangat baik hati itu!Apabila hari-hari Anda lebih banyak diisi pikiran yang berterima kasih, ucapan yang berterima kasih dan Perbuatan yang berterima kasih, maka Anda tidak punya waktu lain lagi untuk memupuk ketidakbaikan hati yang tidak bermanfaat itu.Terima kasihMatur NuwunYuk...sarapan dulu 

Kemarin, ia menulis sesuatu yang menggetarkan batin:

Darimana energi Anda keluar, maka dari sana Anda menariknya kembali. Anda menganalisa dimana potensi yang dapat merusak Anda, disana pula Anda berusaha melindungi dan menutup, mengendalikan ke enam indera, termasuk tubuh dan pikiran.Dengan mendengar dan melihat sesuatu yang tidak baik, maka Anda akan memiliki prasangka atau pikiran yang tidak baik pula dan akibatnya apa yang Anda ucapkan menjadi tidak baik pula. Jika masih ada perlakuan yang diskriminatif terhadap semua insan berarti dalam ke enam indera masih ada suatu masalah sehingga perasaan Anda berperan mengenai hal yang tidak baik.Apabila hati Anda seperti ombak yang terombang-ambing maka dengan sendirinya Anda tidak bisa mencapai keberhasilan dalam memperbaiki diri sendiri.(KZG, 271116) 
Saya menyenangi segala hal yang ditulisnya. Pada setiap postingan itu, saya merasa belajar banyak hal baru, khususnya bagaimana mendengar suara-suara hati. Beberapa bagian dari postingannya, memiliki kesesuaian dengan kalimat para sufi. Di antaranya adalah kalimatnya: Langit tidak perlu menjelaskan bahwa dirinya tinggi ~ People know you're good If you are good.

Biksu ini menyerap apapun kearifan di sekitarnya, termasuk kisah seorang banser NU yang tewas saat menjaga gereja. Ia memosting foto banser itu lalu menulis: “Tribute to pahlawan kemanusiaan~Riyanto~ Banser NU. Sabda Buddha, "Lebih baik menjalani hidup satu hari saja tapi dengan melakukan kebajikan besar daripada hidup seratus tahun tapi menjalani hidup dengan sembarangan dan tidak mengendalikan diri."

Ketiga, Gede Prama. Saya tak perlu membahas banyak tokoh ini. Dia sepopuler Gus Mus. Gede Prama adalah seorang spiritualis Hindu yang sebelumnya menjabat sebagai direktur perusahaan asing di Jakarta. Ia meninggalkan semua kemewahan dan kemegahan dunia, lalu menepi di satu desa di Bali. Ia mulai menulis tentang pesan-pesan spiritual yang serupa embun bagi manusia modern.

Saya telah lama mengikuti postingan Gede Prama di facebook, pada akun Gede Prama’s Compassion. Dia sangat produktif, dan setiap hari berbagi pengetahuan. Dalam sehari, saya tak sempat membaca semua postingannya. Ia juga rajin memosting gambar atau tulisan yang dibuat murid-muridnya di manapun. Dia menulis di Kompas dan banyak media-media besar lainnya. Postingannya memiliki benang merah yang khas, yakni bagaimaa melihat sisi positif dari setiap kejadian demi memperkaya pengalaman batin. Dia bukan orang yang reaktif dan menulis kesan apapun yang dilihatnya, tapi ia memberi jeda bagi batinnya untuk mencerna ulang peristiwa itu, lalu direfleksi kembali dengan pikiran jernih.

Hari ini membuat postingan menarik. Saya kutipkan beberapa di antaranya:

"Jika orang tua suka dan bangga dengan apa-apa yang terjadi di masa lalu, anak muda energi hidupnya datang dari harapan tentang masa depan. Dan di dunia meditasi lain lagi. Masa lalu sudah berlalu, masa depan belum datang. Dan satu-satunya hadiah Tuhan yang menyediakan dirinya untuk disyukuri dan dinikmati adalah saat ini. Makanya dalam bahasa Inggris saat ini disebut the present (hadiah). Untuk itu, tarik nafas tersenyum pada setiap berkah di saat ini. Hembuskan nafas, bagikan senyumannya kepada dunia." 
Ia juga mengingatkan agar berhati-hati dalam memilih topic pembicaraan. Lebih baik menghindari hal-hal yang akan menjurus pada pertengkaran. Katanya:

"Hati-hati memilih topik pembicaraan saat Anda bercengkrama dengan orang-orang dekat. Begitu pembicaraan mengarah pada pertengkaran, apa lagi mengarah pada perkehalian, cari cara agar topik pembicaraan diganti. Lebih bagus lagi kalau menemukan topik pembicaraan yang memungkinkan orang menutupi lubang-lubang jiwanya. Yang paling bagus adalah menemukan topik pembicaraan yang membuat Anda mengingat memori-memori yang membuat hubungan semakin kuat dan sehat"

Yang mengejutkan, ia malah menyuruh kita untuk mencintai mereka-mereka yang melukai diri kita. Katanya:

"Berbaik hatilah pada orang-orang yang suka melukai. Di jalan spiritual mendalam, manusia jenis ini sangat dibutuhkan. Tanpa orang yang melukai, perjalanan spiritual mirip peselancar yang tidak berjumpa gelombang, serupa petinju yang tanpa lawan. Oleh karena itu, jika Anda sedang dicaci dan dilukai, bayangkan diri Anda seorang peselancar spiritual. Dan cacian serta makian orang adalah gelombang besar yang sedang Anda tundukkan"

Yang saya rasakan saat membaca postingan Gede Prama adalah kehidupan harus dihadapi dengan segala kelenturan. Manusia harus mengalir bersama smeua gerak dalam semesta demi menemukan kedamaian diri. Sebab kelenturan adalah simbol dari vitalitas dan daya hidup manusia. Manusia yang tidak lentur adalah manusia yang sudah mati. Sebagaimana alam semesta, manusia pun harus terus mengalir demi mendapatkan kedamaian.

"Sebagian lebih permukaan bumi isinya air. Sebagian lebih tubuh manusia isinya juga zat-zat cair. Ia membawa pesan bimbingan, selalu ingat untuk lentur dan fleksibel dalam memandang kehidupan. Perhatikan tubuh manusia, tubuh binatang, juga batang pohon. Yang masih hidup jauh lebih lentur dibandingkan dengan yang sudah mati. Artinya, kehidupan lebih dekat dengan kelenturan. Lebih dari itu, seperti air yang mengalir lentur menuju samudra yang tidak berhingga, kelenturan membuat seseorang terus bertumbuh menuju wilayah yang tidak berhingga"

***

DAFTAR ini tentulah sangat sedikit jika dibandingkan dengan betapa banyaknya guru-guru di media sosial. Saya hanya memilih tiga orang yang kerap melintas di timeline facebook saya. Tak ada niat untuk mengultuskan ketiganya. Saya hanya ingin berkata bahwa pada mereka yang menemukan banyak pelajaran saat melintas di belantara postingan penuh marah, benci, serta hal-hal biasa yang sederhana, malah sering menggelikan, di media sosial.

Postingan mereka ibarat oase atau danau segar yang sesaat membasuh jiwa, dan setelah itu merekahkan senyum saat mata menjadi lebih jernih dari biasanya. Semoga ketiga guru ini tak lelah berbagi perenungan. Semoga ketiganya setia merawat dan membasahi jiwa manusia Indonesia.


Bogor, 28 November 2016



SBY dalam Telaah John McBeth



SATU lagi buku mengenai biografi mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diluncurkan. Buku berjudul The Loner itu diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh The Strait Times. Buku ini diklaim sebagai buku paling komprehensif membahas kiprah, warisan, dan apa saja masalah yang pernah mendera SBY.

Penulisnya adalah John McBeth, seorang jurnalis asal New Zealand yang telah menghabiskan waktu 44 tahun dari 52 tahun karier jurnalistiknya di Asia. Mulanya ia adalah editor di Bangkok Post, selanjutnya bergabung dengan berbagai media besar. Ia lalu bergabung dengan  The Far Eastern Economic Review pada tahun 1979, hingga aktif selama 25 tahun. Saat media itu tutup, ia lalu menjadi kolumnis the Strait Times, yang kebanyakan menyoroti isu Indonesia. Hingga usia 72 tahun, ia tetap menjadi kolumnis.

Buku The Loner membahas kisah 10 tahun Presiden SBY memegang tampuk kekuasaan, serta berbagai tantangan yang dihadapinya. Buku ini membahas bagaimana Indonesia berusaha keluar dari berbagai krisis, serta apa saja legacy atau warisan dari SBY untuk menyelesaikannya.

Tiga aspek penting yang dibahas buku ini. Pertama, menyajikan review paling komprehensif tentang kekuasaan SBY selama 10 tahun. Kedua, mengapa kapasitas kepemimpinan SBY gagal untuk mewujudkan berbagai janji-janji politik yang pernah dikemukakannya. Ketiga, deskripsi tentang keluarnya Indonesia dari krisis ekonomi tahun 1997 – 1998, serta gagalnya banyak peluang untuk bangkit saat terjadi booming komoditas tahun 2004-2012.

Dalam satu liputan The Strait Times, John McBeth mengatakan bahwa The Loner tidak hanya membahas apa saja warisan positif SBY sebagai presiden keenam, sekaligus presiden pertama yang memenangkan pemilihan langsung, tapi juga merefleksikan banyak isu-isu menarik selama dekade kekuasaannya yang tidak banyak dibahas media massa.

Tak heran jika buku ini memuat berbagai persoalan yang dihadapi pada tahun-tahun awal kepemimpinan SBY, mulai dari bencana alam, serta isu-isu terorisme, korupsi, nasionalisme sumber daya alam, hingga beberapa skandal yang diduga melibatkan SBY.

Pada tanggal 1 November lalu, The Strait Times telah mengadakan diskusi tentang buku ini di Singapura. Tak hanya itu, media ini juga menurunkan liputan buku The Loner yang di dalamnya disebutkan membahas tentang SBY sebagai presiden yang selalu ragu-ragu dalam pengambilan keputusan strategis.

Sebagai catatan, beberapa buku biografi mantan Presiden Indonesia yang ditulis oleh jurnalis atau peneliti asing seringkali menjadi karya monumental yang dianggap mewakili gambaran tentang sang presiden. Dua buku yang pantas disebutkan adalah Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams, yang ditulis jurnalis Cindy Adams. Satu lagi adalah Biografi Gus Dur yang ditulis Greg Barton.

Anda tertarik membaca buku The Loner ini? Siapkan duit 35 dollar Amerika atau sekitar 350 ribu rupiah untuk memilikinya.



Wisata DESA di Tengah KOTA

hamster yang menunggu makanan

ORANG desa sering iri melihat ke kota. Tapi orang kota justru menyukai hal-hal mengenai desa. Barangkali orang desa tak membayangkan bahwa wisata yang saat ini disukai warga kota adalah aktivitas yang setiap hari dilakukan orang desa. Mulai dari memberi makan kambing, membersihkan kerbau, hingga memancing di tengah danau.

Setidaknya itulah yang saya rasakan saat berkunjung ke Kuntum Farmfield di Bogor, Jawa Barat. Tempat wisata ini tengah menjadi primadona bagi warga Jakarta dan Bogor. Terletak di tempat strategis, tempat ini selalu ramai dikunjungi orang-orang. Penasaran, saya pun datang berkunjung.

Kesan saya, tempat ini menyajikan aktivitas desa, yang dikemas jadi tempat wisata. Di bagian depan, saya melihat kandang kambing. Orang-orang mesti membayar untuk mendapatkan susu serta rumput yang akan disodorkan ke kambing-kambing itu untuk dimakan. Bagi para pengunjung, memberi makan kambing menghadirkan sensasi. Bagi saya yang lahir dan besar di kampung, saya tak menemukan di mana unsur menariknya. Aktivitas itu hal biasa saja di kampung halaman.

memberi susu pada kambing
saat di kandang kelinci

Setelah memberi makan kambing, atraksi berikutnya adalah memberi makan sapi. Kembali, orang-orang menyodorkan rumput agar di makan sapi itu. Aneh saja melihat beberapa orang bertepuk-tangan saat sapi itu melenguh. Saya tersenyum-senyum melihatnya. Saya membayangkan bagaimana perasaan mertua saya di Bone, Sulawesi Selatan, datang ke tempat ini. Apa pula kata dirinya yang punya banyak sapi di sekitar rumah tiba-tiba diminta memberi makan sapi. Boleh jadi, ia akan ngomel-ngomel dan minta dipulangkan ke kampung halaman.

Saya lalu berjalan lagi. Di satu bagian, terdapat banyak itik. Para pengunjung membeli makanan itik untuk disodorkan kepada itik yang mulai menolak makan. Setelah itu, ada kolam ikan. Untuk mendapatkan pancing dan umpan, pengunjung mesti membayar 15 ribu rupiah. Selanjutnya, rumah kelinci. Kembali, orang-orang harus membayar untuk mendapatkan wortel demi memberi makan kelinci.

Tak hanya itu, terdapat banyak kebun sayur yang siap panen. Para pengunjung diijinkan untuk memanen sayur, setelah itu mencucinya. Terdapat pula banyak sawah-sawah yang siap ditanami. Bergantian orang kota menanam padi, memandikan kerbau, lalu beristirahat di beberapa dangau yang ada di situ. Dihembus angin sepoi-sepoi, mereka memandang sawah dan kebun-kebun di situ dengan perasaan gembira.

Fenomena aktivitas desa yang menjadi wisata di kota ini menarik dibahas. Seorang sahabat berkisah bagaimana membawa keluarganya dari satu pulau kecil di Sulawesi untuk berkunjung ke Bogor, Jawa Barat. Sebelum datang, keluarganya berpesan untuk diajak ke tempat-tempat wisata orang Jakarta. Ia lalu mengajaknya ke kebun raya Bogor, satu tempat wisata yang disukai warga Bogor dan Jakarta. Setelah tiba dan menelusuri kebun raya, keluarga teman itu malah bersungut-sungut. Ia berkata, “Kenapa saya dibawa di sini? Saya ini lahir dan besar di hutan. Kenapa pula saya diajak melihat hutan?”

Kesan yang sama muncul saat diajak wisata ke kebun raya Cibodas, ataupun melihat kebuh teh dan strawberry di Cipanas. Bagi keluarga di desa, tempat-tempat itu tak unik. Yang tampak berbeda hanyalah penataannya yang rapi, serta ada biaya retribusi yang harus dibayarkan. Hanya saja, orang desa masih bisa mengakses hutan serta sungai dengan air yang jernih. Tapi di mata orang Jakarta yang terbiasa kemacetan dan asap knalpot kenderaan bermotor, tempat-tempat wisata di atas adalah surga.

berpose di dekat sawah
jalan lebar menuju sawah yang siap ditanami


Sebagai orang desa yang kini tinggal di kota, ada banyak hal menarik yang saya rasakan. Tempat-tempat ini menjadi wahana nostalgia atas kehidupan di kampung halaman. Bagi generasi baru kota, kehidupan warga desa menjadi sesuatu yang eksotik, menyenangkan, serta membahagiakan. Orang-orang kota ini mengalami perasaan bagaimana menjadi orang desa dan menjalankan aktivitas ala desa. Terdapat dua hal yang bisa disoroti.

Pertama, pada dasarnya, masyarakat kota adalah mereka yang dahulu tinggal di desa, kemudian hijrah ke kota demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Dalam beberapa riset lapangan, saya temukan fakta tentang tingginya urbanisasi, serta tiadanya peluang ekonomi di desa-desa. Kota lalu menjadi primadona untuk didatangi lalu ditinggali. Akan tetapi, kenangan atas aktivitas dan keindahan di desa itu tetap kuat tertancap di benak. Kenangan itu telah menjadi satu gambaran ideal tentang kehidupan ala desa yang indah, lingkungan yang hijau, air yang jernih, serta kicau burung yang memenuhi pagi.

dua bebek yang menunggu makanan
berebut menangkap ikan

Kedua, generasi baru di kota-kota memandang desa sebagai sesuatu yang eksotik. Buktinya, kehidupan desa menjadi tema utama untuk pariwisata kota. Orang rela membayar mahal untuk sekadar mendapatkan rumput dan memberi makan sapi, kambing dan kelinci. Anak-anak kota menganggap aktivitas menangkap ikan di kolam adalah sesuatu yang sangat menyenangkan dan mengasah adrenalin.

Anak-anak kota itu tidak punya pereferensi tentang bagaimana kehidupan desa, tetapi mereka menyaksikannya di berbagai tayangan media. Mereka membayangkan kehidupan desa sungguh menyenangkan sebab alam masih hijau, pepohonan di mana-mana, juga sungai jernih yang menjadi tempat bermain. Kehidupan ala kampung itu dianggap jauh lebih sehat, jauh lebih membahagiakan, ketimbang kehidupan ala kota yang setiap hari harus bergegas.

Jika anda tinggal di kota, sukakah anda dengan wisata ala desa?


BACA JUGA:








Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...