Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Saat Patung Budha Divonis Kafir

Patung Budha yang diturunkan di Tanjungbalai


BISAKAH sebuah patung mengubah akidah? Di Tanjung Balai, Asahan, Sumatera Utara, patung Budha yang ada di atas sebuah wihara dianggap meresahkan pemeluk agama mayoritas. Ada kekhawatiran kalau patung itu akan mengubah akidah warga. Patung itu tiba-tiba saja dianggap sebagai biang dari berbagai masalah kota. Ada pula kepercayaan kalau patung itu akan mengubah image kota menjadi kota penuh berhala.

Atas desakan sejumlah pihak, patung itu akhirnya diturunkan dari wihara. Jika saya adalah umat Budha, mungkin hati saya akan tersakiti, lalu menyebar pesan di media sosial. Mungkin saya akan memendam jengkel serta amarah dalam diri. Namun mereka bukanlah saya. Malah mereka mempertontonkan kearifan hebat.

Betapa saya terkejut menyaksikan respon luar biasa tenang dan penuh damai itu. Kepada umat Budha di Asahan, saya menyampaikan banyak kekaguman.

***

PADA mulanya adalah sebuah patung. Patung itu adalah patung Budha Rupang Sakamoni yang diletakkan di atas lantai empat gedung Vihara Tri Ratna, Kota Tanjungbalai. Patung itu memang simbol agama tertentu. Patung itu adalah simbol yang diharapkan bisa menjadi penanda kalau di kota itu ada penganut Budha yang setiap saat bisa datang beribadah.

Seiring waktu, patung itu dianggap menjadi masalah oleh sejumlah orang. Diskusi tentang patung itu memenuhi berbagai media, juga media sosial di Sumatra Utara. Patung, yang memang hanya bisa diam itu, tiba-tiba dianggap mewakili satu pandangan yang bisa menggugurkan akidah. Patung itu divonis kafir dan bersalah. Patung itu dianggap biang provokasi. Patung itu tidak seberuntung batu-batu besar yang disembah oleh para penyembah batu. Patung itu juga tidak seberuntung pohon-poon yang disembah para penyembah pohon. Sebab jika seluruh batu dan pohon disingkirkan, maka dunia akan sedemikian gersang dan membosankan. Atas nama mayoritas, atas nama kekuasaan, patung itu lalu diturunkan. 

Patung yang diresmikan pada November 2009 itu, akhirnya diturunkan pada bulan Oktober 2016. Semua orang bertepuk tangan. Orang-orang menganggap bahwa tindakannya telah menghadirkan kedamaian. Seakan-akan satu jalan ke arah surga sudah terbangun. Orang-orang lalu kembali ke deru kehidupan, kembali bergelut dengan berbagai soal seperti kemiskinan, keterbelakangan, korupsi, tingkat pendidikan yang rendah, kriminalitas yang menggunung, kurangnya lapangan kerja, suap birokrasi, nepotisme, dan berbagai persoalan lain. Satu jalan akidah ditegakkan ditengah tumpukan persoalan. Satu jalan ke surga seolah telah dibangun.

Yang mengejutkan saya adalah respon umat Budha di media sosial. Mereka tak sedikitpun protes atas tindakan itu. Mereka tak dilanda emosi besar, tak dikuasai amarah, tak lantas mengacungkan golok lalu mengancam bunuh pada pelakunya. Mereka justru tetap tenang, malah tersenyum menyaksikannya. Pemuka agama Budha malah menulis status yang sejernih embun pagi.

Hari ini saya membaca komentar dari seorang biksu bernama Lama Karpa Zopa Gyatso. Di akun fesbuknya, ia menulis:

"Beberapa umat Buddha bertanya kepada saya ketika melihat patung Buddha yg terletak di lantai atas sebuah wihara di kota tanjung balai, asahan, sumatera utara diturunkan: "Lama, kenapa rupang(arca/patung) di wihara diturunkan"? Saya jawab begini," tidak apa apa rupang Buddha turun, sing penting welas asihmu terhadap semua makhluk tidak ikut turun, semua makhluk hidup mendambakan kebahagiaan. Apabila dengan turun nya patung Buddha bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain, maka bukankah doa khas umat Buddha yaitu "semoga semua makhluk hidup berbahagia" menjadi kenyataan?"

Saya juga menemukan komentar menyejukkan lain dari Iwan Setiawan. Di akun facebook-nya ia mencatat:

Patung Buddha yg diturunkan dari wihara di Tanjung Balai rupanya tidak membuat para umat Buddha emosi, ngambek apalagi marah. Bahkan, ketika patung-patung Buddha pernah dijadikan hiasan di bar-bar tempat minum alkohol pun umat Buddha tidak marah. Bahkan, di Jakarta pernah ada Buddha Bar. Umat Buddha tidak mengamuk atau demo. Bahkan, patung Buddha dikencingi pun tidak ada umat atau para dewa pengikut Buddha yg marah.Buddha memang identik dengan welas asih, kasih sayang....Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Orang-orang ini menunjukkan bahwa kebahagiaan semua orang adalah tujuan agama. Patung itu hanyalah satu benda mati, yang jauh lebih penting adalah kasih sayang kepada sesama manusia. Jika penurunan patung itu akan membawa kebahagiaan orang lain, maka demikianlah yang diharapkan doa-doa umat Budha yakni agar semua orang berbahagia.

Orang-orang ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak berdiam dalam patung, tidak berdiam dalam satu rumah. Di manapun dan dalam keadaan apapun, kasih Tuhan menjadi berkas cahaya yang menyelusup di hati semua orang. Atas nama Tuhan, seseorang bisa menghardik dan mengusir sesamanya. Atas nama Tuhan, seseorang bisa mengancam orang lain, seseorang bisa pula menyingkirkan orang lain. Namun, apakah Tuhan benar ada di situ? Apakah Tuhan bahagia dengan segala tindakan dan ancaman itu?

Postingan-postingan ini membuat saya termenung. Betapa banyak umat beragama, tapi yang dipikirkannya hanyalah menegakkan simbol agamanya sebagai sesuatu yang dianggapnya paling jaya, paling hebat, paling mengasihi sesama, paling bijaksana, palung benar. Tapi betapa sedikitnya orang yang melihat tujuan agama. Hanya sedikit orang yang berani mengorbankan kebahagiaannya untuk orang lain.



Kita selalu menyaksikan orang-orang yang melihat agama sekadar bacaan di saat ibadah, lalu lupa membumikannya dalam ladang kehidupan. Kita alpa untuk menjadikan agama itu sebagai pemberi rahmat bagi sekitar, lupa menjadikannya pupuk yang menggemburkan kehidupan, tidak menjadikannya sebagai energi untuk membuat bangsa ini melesat dan jauh menjadi negeri paling unggul. Jika agama membawa kita ke arah keunggulan, mengapa pula bangsa ini tak juga bisa beranjak menjadi bangsa nomor satu yang unggul di segala lini ilmu pengetahuan dan teknologi. Ah, mungkin kita hanya sibuk menyiapkan bekal untuk memasuki dunia sana. Kita lupa untuk membangun surga dan rumah yang nyaman di dunia ini. Bahkan kita lupa untuk mengasihi orang-orang di sekitar kita, tanpa memandang apapun agamanya.

Di Tanjungbalai sana, saya menemukan banyak embun kebijaksanaan dari para sahabat beragama Budha. Saya merasakan keteduhan dan semilir angin yang berdesir di sela-sela bebatuan hati. Bahwa kebahagiaan orang lain adalah tujuan dari semua agama. Jauh lebih penting menciptakan embun perdamaian, ketimbang memelihara api amarah.



Bogor, 30 Oktober 2016

HUSAIN ABDULLAH: Dari Jurnalis, Jubir Wapres, Hingga Walikota

Husain Abdullah, juru bicara Wapres Jusuf Kalla

TUGAS seorang jurnalis adalah sebagai penyaksi atas berbagai lintasan peristiwa. Seorang jurnalis adalah perekam yang mengabadikan berbagai kejadian, lalu menghamparkannya ke hadapan publik. Dia tak sekadar mencatat, tapi juga memberikan pesan-pesan kepada banyak orang tentang betapa banyaknya hal yang melintas di sekitar kita. Dia juga memberikan sentuhan rasa, kedalaman perspektif, sekaligus butiran kebijaksanaan yang dipetiknya melalui petualangan di banyak peristiwa.

Saat seorang jurnalis memutuskan untuk memasuki panggung politik, maka dirinya memasuki dunia yang berbeda. Dahulu, dirinya berada di tepian lalu mencatat semua peristiwa, kini dirinya yang akan menjadi sentrum atas segala catatan. Namun, pengalamannya bisa menyisakan banyak pelajaran berharga di panggung politik. Dia tahu mana yang disimpan sejarah. Dia pun tahu mana yang akan dikutuk sejarah.

Untuk soal ini, saya berguru pada seorang jurnalis senior: Husain Abdullah, yang kini menjadi juru bicara Wakil Presiden Jusuf Kalla.

***

SUATU hari, di tahun 2003, saya menjadi jurnalis pemula di satu harian di Makassar. Hari-hari saya adalah turun ke lapangan, bergaul dengan banyak orang, mencatat berbagai kejadian, untuk kemudian disajikan dalam berbagai reportase. Makassar bukanlah kota yang diam tenang dan tanpa gejolak. Hampir setiap hari ada peristiwa yang skala pengaruhnya bisa menghebohkan tanah air.

Sebagai jurnalis muda, saya mengenal banyak orang. Saya pun mengakrabkan diri dengan para senior yang sesekali turun ke lapangan dan memberikan masukan bagi kami para junior. Di antara sedikit jurnalis senior yang sering saya temui di lapangan adalah Husain Abdullah, koresponden RCTI di Makassar. Di masa itu, ia jauh lebih populer dari Abraham Samad hingga Jusuf Kalla.

Hampir setiap hari ia tampil di layar televisi demi mengabarkan apa yang terjadi. Reportasenya khas. Ia berbeda dengan reporter televisi saat ini yang hanya mengabarkan kejadian. Husain lebih dari itu. Ia bisa menyampaikan kejadian, sekaligus memberikan latar belakang (background) terhadap pemirsa televisi, serta memprediksi apa gerangan yang terjadi. Kalimatnya singkat tapi penuh makna. Sejak masih kecil, saya menghapal namanya, sebagaimana saya menghapal beberapa penyiar televisi yang populer saat itu, mulai dari Dana Iswara hingga Desi Anwar.

Belakangan saya tahu kalau Husain bukan sekadar jurnalis. Saya juga mengenalnya sebagai pengajar di Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Hasanuddin. Kualifikasi sebagai pengajar ini menjadi nilai plus bagi kariernya sebagai jurnalis. Ia tak sekadar memahami peristiwa, tapi juga bisa menembus kedalaman peristiwa itu. Dia bisa membangun sintesis antara peristiwa biasa dengan berbagai isu teotirik yang dibahas di ranah akademik.

Ia juga seorang senior yang tak pernah angkuh dengan posisinya. Ia bergaul dengan siapa saja. Ada saat di mana dirinya bergaul dengan para petinggi negeri, yang selalu mengontaknya, tapi banyak saat dirinya bergaul dengan para pemula seperti saya, yang saat itu hendak mengais ilmu darinya.

Saya jauh lebih sering menemuinya di warung kopi Phoenam, Makassar. Dirinya adalah magnit bagi para jurnalis. Kami yang muda-muda mendekatinya dengan berbagai keperluan. Ada yang sekadar mengobrol akrab dan membahas berbagai hal tidak penting lalu tergelak bersama. Tapi ada juga yang berniat untuk menyerap berbagai informasi baru, termasuk berbagai isu-isu yang sedang berseliweran.

Saya tahu persis kalau pengalamannya sangat banyak. Sejak kejatuhan Soeharto hingga masuk periode reformasi, Indonesia dilanda banyak konflik horisontal. Di banyak tepat, konflik antar suku dan antar agama sering terjadi. Dalam banyak situasi, Husain Abdullah berada di lokasi lalu membuat reportase yang mengejutkan Indonesia.

Ia meliput konflik Poso yang memperhadapkan penganut dua agama berbeda. Ia juga meliput konflik Ambon yang meluluhlantakkan satu kota sehingga gelombang pengungsian terjadi. Dalam banyak kesempatan, ia menyabung nyawa hanya untuk membuat reportase mendalam. Tak hanya itu, ketika ikhtiar damai sedang diupayakan oleh Jusuf Kalla, ia berada di baris terdepan demi menata langkah demi langkah ke arah perdamaian. Kontribusinya cukup besar, namun tak banyak diberitakan.

Tentu saja, ada rahasia mengapa dirinya menjadi magnit bagi para jurnalis. Selain karena gaya komunikasinya yang memosisikan semua orang dalam posisi sejajar, ia juga kerap mengadvokasi kepentingan para jurnalis. Pernah, saya diminta untuk menghadiri satu acara diskusi yang diadakan Lembaga Studi Informasi Makassar (eLSIM). Diskusi ini menghadirkan seorang jurnalis asal Amerika Serikat yang ingin berbagi pengalaman dengan para jurnalis di Makassar. Jurnalis Amerika ini seakan mengkritik beberapa standar peliputan wartawan asal Makassar.

Di acara itu, saya melihat Husain Abdullah memberikan bantahan yang amat melegakan. Menurutnya, kita tak bisa membandingkan standar jurnalistik di satu tempat dnegan tempat lain yang sudah lebih dulu mapan. Husain lalu mencontohkan tentang gaji. Katanya, gaji wartawan di Amerika dnegan gaji wartawan di Makassar bagaikan bumi dan langit.

“Bagaimana mungkin kita bicara standar peliputan jurnalistik, kalau wartawan saja tidak sanggup membeli rumah kecil di pinggiran Makassar? Di Amerika, standar-standar ini bisa dibahas karena para jurnalis sejahtera. Tak mungkin standar itu mau diberlakukan di Makassar, yang para jurnalis saja masih harus banting tulang untuk sekadar hidup layak,” katanya.

***

NAIKNYA Jusuf Kalla sebagai wakil presiden, membawa Husain Abdullah ke istana wapres. Ia menjadi juru bicara yang hadir dalam semua kegiatan. Ia juga menyaksikan banyak peristiwa politik yang seringkali menghadapkan dirinya dengan banyak kalangan. Saya meihat ada kesamaan antara dirinya dan Jusuf Kalla. Mereka sama-sama energik dan tipe pekerja keras. Beberapa kali saya diaak mengikuti aktivitasnya bersama wapres, namun saya membatalkannya. Saya khawatir tak bisa mengimbangi energi besar mereka untuk bertemu banyak orang.

Biarpun berkantor di istana wapres, Husain tetaplah Husain yang dulu. Ia jauh lebih mudah ditemui di warung kopi sembari ngobrol hal-hal yang lucu-lucu. Di warung kopi Phoenam, di Jalan Wahid Hasyim Jakarta, saya selalu bertemu dengannya. Saya selalu menjaga etika untuk tidak membahas politik di situ. Warung kopi adalah public sphere, sebagaimana disebut filsuf Jurgen Habermas, yang memosisikan semua orang secara egaliter. Yang dibahas di situ adalah berbagai hal-hal ringan yang bisa mempertautkan semua komunitas. Baginya, warung kopi adaah oase yang menjadi ruang untuk bersantai dan bertemu dengan banyak kalangan.

Di warung kopi pula, saya mendengar namanya disebut-sebut sebagai calon Walikota Makassar. Saya belum pernah berbicara detail tentang ini dengannya. Saya kadang merasa bahwa dirinya lebih tinggi dari sekadar posisi pejabat publik di kampung halamannya. Barangkali dia ingin lebih banyak berbuat. Dia ingin membumikan berbagai pengalaman dan butiran hikmah yang didapatnya seusai menyaksikan banyak peristiwa dan kejadian politik di negeri ini.

Mungkin inilah waktu yang tepat baginya untuk tampil ke depan dan membuat satu keping sejarah baru tentang seorang pemimpin yang merakyat, egaliter, dan telah mengenyam asam-garam di dunia politik. Seorang pendekar tidak selalu harus melalangbuana sembari mengayunkan pedang di mana-mana. Ada masanya pendekar kembali ke kampung halaman lalu membumikan pengalamannya di kampung halaman dengan cara menebas ketidakadilan, lalu mendedikasikan dirinya sebagai seorang samurai yang melayani banyak orang.

Saya percaya kalau karakter egaliter yang disandangnya semenjadi menjadi akademisi, jurnalis, hingga tangan kanan wakil presiden tetap akan dibawanya ke manapun. Ia tetaplah seorang Husain yang menjadi sahabat banyak orang. Ia bukan lagi Husain yang mencatat dari tepian, melainkan Husain yang mengolah semua catatan itu menjadi satu genangan rasa yang menjadi titik berangkat dari semua kebijakan politiknya. Saya meyakini bahwa dunia jurnalistik adalah awal baginya untuk mengubah dunia. Jurnalistik adalah senjata untuk mengubah dunia.

Jika saja ia membaca tulisan ini, saya ingin kutipkan kalimat dari Joseph Pulitzer, “I still believe that if your aim is to change the world, journalism is a more immediate short-term weapon."


Bogor, 28 Oktober 2016



Tiga Buku di Alden Library



BAHAGIA itu sederhana. Tak harus dengan harta yang melimpah. Tak juga dengan pengaruh dan kuasa. Bukan pula dengan capaian dan prestasi. Bahagia itu selalu bersifat kontekstual. Setiap orang memiliki definisi sendiri tentang apa yang membuanya bahagia.

Hari ini, saya mengecek situs perpustakaan di Alden Library, Ohio University, tempat saya belajar dan menimba ilmu. Di situ, saya melihat ada tiga koleksi buku saya tersimpan rapi d perpustakaan. Andaikan saya di sana, saya ingin memotretnya, lalu memajang di blog ini. Tapi cukuplah koleksi itu tampil di katalog online, sebgai jejak bahwa pemikiran saya yan sederhana dan biasa ini telah merambah hingga ngeri yang jauh.


Anies Baswedan, Spin Doctor dan Dilema Kuasa



DI antara semua kandidat yang maju bertarung di pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta, Anies Baswedan adalah kandidat yang telah lama memikat semua media. Sejak mendapatkan gelar doktor dari Northern Illinois University (NIU) di Amerika Serikat, Anies adalah sosok yang paling memahami kekuatan media, lalu memaksimalkannya untuk menjadi senjata pemenangan dalam setiap momen politik. Dia pandai memilih diksi, kalimat, serta untaian kata yang memikat, bisa membuat orang lain berkata “yes” lalu menjadikan dirinya sebagai idola baru. Ia seorang pemenang dalam banyak palagan peperangan gagasan.

Namun arena pilkada DKI diprediksi banyak orang tidaklah semulus palagan yang sebelumnya ditandainya dengan bendera kejayaan. Kiprah dan track-record-nya akan menjadi sorotan publik. Ia juga mesti bekerjasama dengan sosok-sosok yang dahulu pernah dipetakan kekuatannya, lalu dicegat di banyak lini. Dia juga harus berhadapan dengan banyak penumpang gelap yang mengunggangi isu SARA demi merobek tenunan kebangsaan yang lama dirajutnya. Dalam banyak sisi, Anies justru terlihat diam saja demi menjaga irama tim dan keutuhan orang dan partai yang mendukungnya. Ia meniti di antara idealisme dan oportunisme politik.

Bisakah Anies memenangkan duel di arena dengan mengandalkan para panglima yang dahulu pernah digempurnya habis-habisan? Bisakah ia menjadi sosok pemenang di satu arena pilkada yang serupa pilpres? Marilah kita mengkalkulasi pergerakan spin doctor yang selama ini mengendalikan citra Anies. Marilah kita menelaah Anies dengan hati riang gembira.

***

SEBUAH buku terkirim ke rumah saya. Buku itu berjudul Kilasan Setahun Kinerja Mendikbud, November 2014 – November 2015. Buku itu memuat bagaimana kiprah dan jejak yang ditorehkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di bawah pimpinan Anies Baswedan. Isinya menarik. Kalimat-kalimatnya ringkas, padat, dan jelas. Gambar-gambarnya juga eye catching.

Buku ini menjadi penanda betapa banyaknya hal-hal yang telah dilakukan Anies. Ia menjadikan pendidikan sebagai satu bidang yang seharusnya menjadi perhatian banyak orang. Dahulu, pemerintah menjadi satu-satunya aktor yang mengurusi pendidikan. Anies mengundang partisipasi banyak orang, termasuk orang tua, masyarakat, bahkan berbagai organisasi guru.

Buku ini serupa kaleidoskop yang membahas apa-apa yang sudah dilakukan, dan apa-apa yang akan direncanakan. Sebagai orang awam, saya bisa mendapatkan gambaran ke arah mana kapal bernama pendidikan Indonesia hendak digerakkan. Tim media Anies bisa mengemas kerja-kerja Anies menjadi sedemikian menarik dan penting, sekaligus informatif bagi banyak kalangan.



buku yang memuat kinerja Anies Baswedan

Memang, kerja-kerja Anies belum seberapa terlihat. Kerjanya lebih banyak meletakkan landasan kuat untuk masa depan. Barangkali ia meniatkan kerja itu hasilnya bisa segera dipanen dalam waktu satu periode. Dalam satu diskusi di Kompasiana, saya mendengar langsung kalimatnya bahwa kerja-kerja pemerintah di bidang pendidikan ibarat memutar kemudi satu kapal tanker berukuran raksasa. “Biarpun anda lama memutarnya, kapal belum akan bergeser. Anda butuh kesabaran untuk terus memutar kemudi, hingga kapal itu benar-benar berputar,” katanya. Sayang, ia hanya menjabat setahun sebagai menteri.

Saya mengenal baik beberapa staf khusus yang membidani lahirnya karya ini. Beberapa bulan sebelumnya, saat Anies masih menjabat sebagai menteri, saya pernah berkunjung ke ruang kerja staf khususnya di gedung kementerian. Saat itu, saya diminta seorang staf khusus untuk memberikan pelatihan bagi tim social media Anies agar lebih berdaya dalam mengolah beragam informasi dan mengubahnya dalam berbagai format.

Meskipun pelatihan itu urung digelar karena kesibukan saya di tempat kerja, saya berkesempatan untuk melihat langsung dan berdiskusi dengan tim-tim kerja yang mengawal kegiatan Anies. Alumnus Universitas Gadjah Mada itu tengah berada dalam pusaran kekuasaan. Sebagai seorang menteri, kerja-kerjanya harus terdiseminasi dan diketahui banyak kalangan. Ke manapun ia bergerak mestinya direkam dengan baik lalu dibagikan kepada publik. Bahkan, setiap potongan kalimatnya, lalu dikemas menjadi postingan untuk twitter, facebook, juga kanal media sosial lainnya.

Kerja-kerja itu adalah kerja para spin doctor dalam pengertian positif. Tim Anies bisa memoles dirinya menjadi sosok yang dibutuhkan bangsa ini. Informasi demi informasi mengalir ke publik, baik melalui kanal media mainstream ataupun melalui media sosial. Seorang spin doctor menempatkan spin untuk mempengaruhi opini publik dengan cara mencoba menempatkan sebuah berita bias yang menyenangkan dalam informasi yang disampaikan kepada masyarakat, dan informasi tersebut bisasanya dilakukan melalui media. Kerja spin doctor adalah kerja komunikasi. Kata Manuel Castells, pengaturan atas komunikasi adalah kunci mengendalikan kekuasaan.

Istilah spin tidak muncul dari dunia akademisi, melainkan dunia olahraga, khususnya baseball, di mana seorang pelempar bola (pitcher) melempar bola ke arah penerima bola sesuai dengan arah yang diinginkannya. Acapkali, bola dilempar dengan cara diplintir (spin) sehingga arahnya seakan berbelok. Istilah ini lalu digunakan oleh New York Times saat pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 1984. Istilah spin doctor lalu digunakan dalam dunia konsultan media management, yakni sebagai upaya mengontrol agenda media dengan cara “moulding the image” yakni merancang serangkaian kata-kata untuk didengar dan dilihat.

***

SAYA tak terlalu terkejut melihat kerja hebat tim-tim media Anies. Jauh hari sebelum Anies menjadi menteri, tim-tim dan sahabat Anies telah lama bekerja. Nampaknya mereka paham betul bahwa personal branding yang kuat harus diimbangi dengan upaya diseminasi dan menyebarluaskan pengetahuan tentang seseorang. Entah, apakah tim kerja Anies membaca pakar manajemen Philip Kotler atau tidak. Yang pasti, gagasan Kotler tentang branding sebagai sesuatu yang tidak terlihat (intagible), tapi efeknya sangat nyata, bisa dengan gampangnya dilihat pada diri Anies. Namanya identik dengan inspirasi, kerja-kerja kebaikan, dan juga sosok yang tenang dan santun.

Branding Anies tidaklah dibangun dari berbagai iklan dan advertorial yang penuh puja-puji sebagaimana para pemilik media di stasiun televisi. Ia juga tidak serupa dengan para politisi yang sebaik malaikat saat ditampilkan di layar kaca. Anies melakukan satu gerakan nasional, yang kemudian menempatkan dirinya dalam sentrum gerakan itu. Ia menginisiasi lahirnya gerakan Indonesia Mengajar yang mengajak alumni perguruan tinggi untuk merasakan bagaimana menjadi pengajar di daerah terpencil.

Ia juga menginisiasi kelas-kelas inspirasi yang menggerakkan kaum menengah perkotaan untuk tidak duduk nyaman di kantornya, melainkan turun lapangan dan merasakan langsung bagaimana bersentuhan dengan anak-anak republik ini. Ia juga membuat Gerakan Turun Tangan, yang mewadahi anak-anak muda di seluruh Indonsia agar melakukan banyak hal yang positif bagi sekitarnya.

Dengan semua kerja-kerja itu, Anies menjadi sosok populer. Ia adalah idola dari kelas-kelas menengah Indonesia yang lebih banyak patis pada kondisi perpolitikan bangsa. Anies selalu mengajak semua orang untuk berpartisipasi dalam banyak hal.

Namun tak semua orang mengidolakan Anies. Seorang sahabat yang menjadi kandidat doktor di satu perguruan tinggi yang pernah dimasuki Anies di Amerika Serikat malah tidak begitu respek. Di matanya, Anies bukan tipe pelaku gerakan sosial yang membangkitkan kesadaran rakyat perkotaan. Baginya, Anies adalah sosok yang bisa melihat celah dan peluang, memanfaatkan celah-celah media, lalu menjadikan dirinya sebagai hero. Kerja-kerja Anies tidak dilihatnya sebagai upaya mengorganisir dan mendampingi masyarakat sehingga lebih berdaya.

Ia bercerita tentang artikel jurnal ilmiah yang dibacanya mengenai Indonesia Mengajar. Ia membahas anak-anak muda yang menjadikan program itu hanya sebagai batu loncatan untuk karier di beberapa perusahaan multi-nasional. Demi karier hebat, anak-anak muda itu menjadikan masyarakat sebagai obyek yang sesaat disinggahi, setelah tiu mengucapkan sayonara. Dia juga mengkritik peserta program itu yang diasah wawasan nasionalismenya oleh Kopassus.

Baginya, amat lucu melihat militer meningkatkan nasionalisme melalui baris-berbaris, lalu melalui halang-rintang. “Nasionalisme harus dibangun melalui tindakan-tindakan organik, dengan cara melihat langsung wajah anak bangsa yang menginginkan kehadiran negara. Nasionalisme harus membumi, tumbuh dari kesadaran saat melihat peluh seorang petani, perjuangan seorang pedagang sayur yang di pagi buta menuju pasar, hadir dalam keluhan seorang petani garam yang kian terpinggirkan,” katanya.

Ditambah lagi, program itu sukses memikat banyak perusahaan multi-nasional untuk bergabung dan menggelontorkan dananya. Kata teman itu, Anies serupa seorang yang rajin membuat program lalu mengantarkan proposal ke banyak korporat tambang, yang beberapa di antaranya punya jejak sebagai penghisap kekayaan bumi Indonesia, agar menjadi bagian program itu. Anies sendiri tak pernah ke desa terpencil untuk mengajar. “Dia mendorong anak muda untuk ke daerah terpencil, lalu dia sendiri tiba-tiba saja mencalonkan diri sebagai calon presiden di konvensi Partai Demokrat. Setelah itu jadi tim sukses Jokowi hingga akhirnya menjadi menteri.”

Di matanya, Anies menjadikan semua program itu sebagai credit point untuk melejitkan dirinya di panggung politik. Apalagi, Anies tak punya track record sebagai tokoh pendidikan. Dia bukan pengajar yang setia berdiri di depan kelas. Perannya adalah inspirator dan motivator program. Ia serupa Mario Teguh yang membangkitkan semangat. Bedanya, Mario Teguh memberi motivasi agar penggemarnya bersemangat dan terus mencari rezeki sebanyak-banyaknya, Anies melakukannya agar anak-anak muda keluar dari zona nyamannya, dan di saat bersamaan ia nyaman memasuki panggung politik.

Saya tak hendak berdebat dengan sahabat itu. Bagi saya, memasuki ranah politik adalah bagian dari tanggungjawab untuk membumikan berbagai idealisme. Berdiri di tepian memang nyaman, namun memasuki jantung kekuasaan lalu melakukan perubahan di situ memiliki efek yang jauh lebih dahsyat ketimbang hanya melakukan kerja-kerja kecil. Lgian, seorang Nelson Mandela sekalipun memasuki dunia politik demi mengawal ide-ide besarnya. Demikian pula posisi politik seorang Anies Baswedan. Bukankah politik akan bermakna positif ketika diarahkan untuk kesejahteraan dan kemaslahatan orang banyak?

***

HARI itu, Jumat, 23 September 2016, deklarasi pencalonan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai baru saja digelar. Petinggi Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersenyum ceria. Mereka saling berangkulan. Anies menjadi calon gubernur yang diusung partai itu. Namanya masuk dalam daftar sejumlah calon yang punya elektabilitas tinggi. Ia paling layak diusung sebagai gubernur, jika dibandingkan kader partai-partai itu. Demi kemenangan, nama Anies diusung, meskipun secara politik, Anies pernah berseberengan dengan mereka.

saat Fadli Zon membaca puisi. Perhatikan wajah Anies yang berbeda dengan orang lain

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, di acara itu. Ia ikut bicara dan berkesempatan membacakan puisi. Puisi berjudul "Tukang Gusur" itu dibacakan di depan para awak media usai cagub dan cawagub memberikan sambutan. Puisi itu bercerita tentang masalah penggusuran di Jakarta itu, rupanya Anies memperlihatkan ekspresi wajah yang tak seperti biasanya.

Tak banyak ekspresi muncul dari wajah Anies. Mantan menteri ini lebih banyak menutup mulutnya sendiri. Bahkan saat puisi selesai dibacakan, Anies tak bertepuk tangan seperti dilakukan rekan-rekannya. Tak sedikit netizen yang mengomentari perihal ekspresi wajah Anies. Anies memang politisi hebat di mana dia bisa menerima kompromi-kompromi yang dulu bersebrangan dia bisa kompromikan jadi kawan, tapi tentu ada batasnya, itu yang membuat dia tidak bisa menikmati puisi fadli zon," ujar pemilik akun Facebook Haposan Manurung.

Sepintas, tak ada yang salah dari penayangan itu. Hanya saja, ekspresi Anies yang tak biasa itu bisa ditafsir dari banyak sisi. Anies berhadapan dengan satu dilema yang harus diatasi demi memuluskan niat baiknya di panggung politik. Anies memang memasuki palagan politik baru. Tapi palagan yang dimasukinya ini masih hangat dengan intrik, saling serang, dan saling menyabet di dunia maya. Seiring dengan masuknya dirinya di panggung politik, ada banyak penumpang gelap yang turut bersamanya lalu membawa beragam hal yang berpotensi untuk menyobek keindonesiaan.

Anies memang mengingatkan bahwa pilpres telah usai. Tak ada yang abadi dalam politik. Bahwa pilkada adalah ajang festival gagasan-gagasan. Pernyataannya memang menyejukkan. Namun ia mesti menunjukkannya dalam banyak sisi. Ia mesti tetap menyatakan sikap saat ada pihak-pihak yang hendak menjadikan pilkada sebagai ajang untuk menyobek tenunan kebangsaan. Ia mesti mewaspadai banyak pihak yang membonceng di belakangnya, lalu mengangkat isu-isu sektarian.  

Anies berada ditengah tarikan-tarikan partai politik dan beragam kepentingan. Di tengah tingginya kartu SARA yang dimainkan oleh berbagai aktor, Anies nampak tidak memberi respon apapun. Entah, apakah dirinya tidak ingin mengecewakan simpatisan partai pendukung, atau barangkali ia melihat isu itu akan menguntungkan dirinya. Masalahnya, ia sedang membiarkan tindakan-tindakan yang justru berpotensi menyobek tenunan kebangsaan. Dalam situasi ini, ia seharusnya tetap menjadikan kebangsaan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan. Ia mesti mempertegas bahwa Indonesia adalah negara yang berlandaskan Pancasila. Segala upaya yang hendak menghinakan satu etnik ataupun agama lain hanyalah virus-virus yang bisa membuat anak bangsa terpecah.



Dalam banyak sisi, Anies berhadapan dengan irama politik yang cukup asing baginya. Ia harus membangun kompromi-kompromi yang harus melegakan banyak pihak, termasuk para pendukungnya. Jika politik adalah area membumikan idealismenya, ia harus mengalahkan tudingan oportunisme politik yang diangkat berbagai kalangan atasnya. Saya berharap ia menunjukkan kepada sebagian anak bangsa yang membonceng dirinya bahwa kebhinekaan dan keragaman adalah sesuatu yang harus dipandang sebagai kekuatan, sehingga setiap kali ada friksi, harus diselesaikan dengan kepala dingin, bukan melalui ancaman ataupun pembunuhan yang diucapkan sembari mengutip ayat Tuhan.

Di titik ini, Anies harusnya jadi tokoh pemersatu yang menyejukkan situasi. Track-record dan pengalaman panjangnya di ranah pergerakan menjadi modal kuat baginya untuk menenangkan semua pihak. Dia harus siap menjadi sasaran caci-maki, sebagaimana pernah dialami Gus Dur, demi satu idealisme untuk Indonesia yang berkeadilan bagi semua pihak. Langkah itu memang penuh risiko, akan tetapi bisa menjadi preseden dalam sejarah betapa dirinya pernah menegakkan pilar penting keindonesiaan, tanpa harus tunduk pada kaum yang suka mengatasnamakan agama demi kepentingan sendiri.

Jika ia gagal membumikan indahnya kerja politik, maka “bulan madu” kelas menengah perkotaan kepadanya akan segera berlalu. Beberapa waktu lalu, lembaga surbei SMRC telah menunjukkan betapa dirinya telah disalip oleh Agus Yudhoyono, yang di lapangan, terbukti lebih santun, lebih toleran, dan bekerja dengan senyap. Di titik ini, kerja-kerja spin doctor dan tim media Anies akan porak-poranda sehingga negeri ini kembali jalan di tempat, dan Anies bisa berhadapan dengan risiko dikutuk oleh sejarah.

Bisakah Anies menjadi pemersatu yang menyejukkan semua amarah lalu menunjukkan cahaya terang agar Indonesia terus berjaya? Biarlah sejarah yang akan mengungkapnya dalam waktu yang tidak seberapa lama lagi. Sebagaimana halnya sejarah, kita pun sama-sama akan menjadi penyaksi atas sejauh mana jejak Anies Baswedan. Teriring banyak doa untuknya dan semua orang yang mencintai Indonesia.


Bogor, 27 Oktober 2016

BACA JUGA:







Studi PORNO, Studi Paling Asyik

ilustrasi

DI sebagian besar masyarakat kita, pornografi masih dilihat sebagai sesuatu yang terlarang untuk dibicarakan. Norma dan sistem sosial memaksa kita untuk tabu membicarakannya secara terbuka. Namun secara tertutup, pornografi adalah salah satu topik paling asyik untuk diikuti. Banyak orang, baik alim ataupun kafir, berilmu ataupun tidak, diam-diam selalu mengikuti dan mencari hal-hal mengenai pornografi.

Hari ini, pengetahuan saya tentang pornografi bertambah. Saya menemukan jurnal ilmu sosial yang bertemakan Porn Studies. Saya bertanya-tanya, apakah gerangan pelajaran yang bisa dipetik dengan mengamati topik pornografi? Bisakah kita mengambil hikmah dan mengajukan proposisi ilmiah seusai memperhatikan berbagai gambar porno? Dugaan saya, topik ini akan menjadi topik paling asyik untuk dibahas dan didiskusikan di kelas. Untuk memahami pornografi, mungkin kita bisa memulai pelajaran dengan melihat gambar porno lebih dahulu. Asyik khan?

Tadinya saya anggap Studi Porno itu hanya candaan. Ternyata memang benar ada. Jurnal ilmiah Studi Porno dikeluarkan oleh Routledge, sejak tahun 2014. Sebagai editor jurnal ini adalah Feona Attwood, profesor di Middlesex University. Editor lain adalah Clarissa Smith dari Univrsity of Sunderland. Di jurnal ini, terdapat undangan untu berpartisipasi. Mereka menyebut jurnal ini adalah yang pertama di dunia, yang bertujuan untuk mengkritik berbagai ide tentang produk budaya yang disebut pornografi.

Yup, pornografi memang produk kebudayaan. Ia ditentukan oleh sejauh mana manusia memaknainya sesuai dengan konteks budaya. Ia sama dengan seksualitas yang selalu dimaknai secara berbeda. Jika orang Cina mendefinisikan kaki perempuan yang kecil sebagai sesuatu yang erotis, maka orang Amerika belum tentu berpandangan sama. Bagi orang Amerika, adegan ketika Demi Moore membentuk keramik dalam film Ghost dianggap sebagai adegan yang penuh erotisme. Adegan itu mengandung unsur porno.

Bahwa melalui pornografi dan gambar-gambar sensual itu, kita bisa menemukan bagaimana masyarakat mengkonstruksi makna pornografi yang berbeda-beda sesuai dengan budayanya. Kita bisa menelaah peta-peta sosial dan budaya saat membahas pornografi. Kita bisa melihat bagaimana persepsi tentang pornografi dibentuk oleh rezim yang berkuasa. Kita bisa mengetahui bagaimana sejarah pornografi menjadi fundasi pemaknaan di setiap zaman. Kita jadi paham bahwa masyarakat kita menafsirkan pornografi sesuai konteks dan budaya.

dua buku Brian Mc Nair yang membahas seks

Hari ini saya membaca satu review buku yang ditulis akademisi Ilmu Komunikasi asal Australia, Brian Mc Nair. Ia menulis buku berjudul Chic! How Pornography Changed the World and Made it a Better Place yang diterbitkan Routledge, tahun 2013. Mc Nair membahas pornografi dalam kaitannya dengan kapitalisme. Ia membedah pornografi dengan cara pandang cultural studies, mendefinisikan bahwa ada wacana pusat dan wacana pinggiran saat membahas identitas pornografi. Pornografi disebutnya telah mendorong lahirnya evolusi teknologi komunikasi dan media industri. Pornografi menginspirasi seni dan budaya, melalui upaya mendorong diferensiasi gender dan seksualitas.

Sekilas membaca buku Mc Nair, saya menemukan istilah menarik yakni "Pornosphere". Ia menggunakan istilah ini untuk menyebut ruang publik dalam pengertian filsuf Jurgen Habermas di mana wacana seksual bisa ditemukan dalam teks ataupun visual. Pornosphere menyediakan demokratisasi hasrat yang bsia disaksikan di berbagai produk budaya dan teknologi, di antaranya cetak, fotografi, gambar bergerak, dan internet.

Studi Porno ini bisa menjadi jendela untuk memahami budaya dan masyarakat. Saya belum tuntas membaca buku Mc Nair, tapi dari membaca sekilas, saya bisa merasakan betapa banyaknya topik yang bsia dieksplorasi dalam studi ini. Yang dibahas bukanlah aspek biologi dan reproduksi, melainkan bagaimana konstruksi sosial, budaya, sejarah, serta lahirnya teknologi yang membuat pornografi menjadi industri yang lalu tersebar ke mana-mana, mendorong lahirnya dialog antar budaya, hingga akhirnya aspek politik yang memapankan pengertian atas mana yang disebut pornografi dan mana yang bukan.

Saya lalu menelusuri Studi Porno ini di beberapa universitas di Eropa dan Amerika Utara. Ternyata studi ini telah lama menjadi bahan kajian para akademisi. Dalam perkuliahan Studi Porno, mahasiswa tidak sedang menonton film porno atau membaca bacaan porno yang memancing hasrat dan birahi. Mereka belajar memahami budaya, idustri, dan masyarakat melalui produk budaya yang identik dengan pornografi. Julie Lavigne, profesor di Quebec, Canada, melihat Studi Porno membahas bagaimana kita secara sosial membentuk pengertian pornografi, dari perspektif sejarah seni. 

“Memutuskan apa itu pornografi sering menggunakan penilaian moral. Dia dianggap tidak obyektif. Tapi jika kamu melihat karakteristik obyektif, kamu akan menyadari bahwa pornografi adalah topik yang lebih terlarang ketimbang kata-kata seperti erotik. Kamu harus mengikuti sejumlah kode-kode budaya agar disebut pornografi,” kata Julie.

Saya setuju dengan Mc Nair. Pornografi adalah satu aspek yang mendefinsikan peradaban kita hari ini. Seperti apa kita melarang dan menerimanya, seperti itu pulalah yang akan menentukan bagaimana kita menata nilai dan norma di masyarakat, yang nantinya membawa pengaruh pada politik dan budaya.

Mengetahui perkembangan Studi Porno ini, saya menyadari sifat ilmu pengetahuan yang serupa tumbuhan, terus berkembang. Tak adil jika belum apa-apa kita langsung memvonis studi ini bakal menjauhkan kita dari Tuhan. Namun bagi pengkaji pornografi, kesan kita atas studi ini juga merupakan refleksi dari pandangan masyarakat atas pornografi, yang nantinya mempengaruhi bagaimana dinamika dan pengaturan aspek sosial dan politik.

Anda tertarik membaca Studi Porno? Apakah Anda secara diam-diam juga menganggapnya sebagai studi paling asyik? Tak usah malu.



Bogor, 24 Oktober 2016

BACA JUGA:








Manuel Castells dan Kuasa Komunikasi



SEMINGGU silam, saya membaca buku yang ditulis Manuel Castells berjudul Communication Power, terbitan Oxford University. Saya agak terlambat membaca buku yang terbit tahun 2009 ini. Saya tertarik membaca setebal 571 halaman ini sebab direkomendasikan oleh beberapa orang sebagai salah satu buku yang jernih mengupas bagaimana masyarakat informasi bekerja. Saya semakin tertarik saat membaca catatan Olga Zernetska, seorang profesor di Ukraina, yang mengatakan: “Jika Adam Smith menjelaskan bagaimana kapitalisme bekerja, sedang Karl Marx mengatakan tidak, maka Manuel Castells membahas bagaimana relasi sosial dan ekonomi di masyarakat informasi.”

Guru besar sosiologi dan komunikasi ini memang fenomenal. Sepanjang tahun 2000-2012, Manuel Castells menjadi salah seorang sosiolog dan akademisi Ilmu Komunikasi yang paling populer. Mengacu pada Social Science Citation Index (SSCI), nama Manuel Castell menempati urutan ketiga yang paling banyak dikutip, setelah Anthony Gidens dan Robert Putnam. Ia telah menulis 26 buku, yang kesemuanya berkisar mengenai abad digital, kekuatan sosial dan ekonomi, serta bagaimana masyarakat jaringan.

Saya baru membaca satu bukunya yakni Communication Power sebagai menjadi buku rujukan saat membahas fenomena masyarakat berjejaring (network society), gerakan sosial baru, dan media baru. Saya merasa terlambat membaca buku bagus ini. Padahal Communication Power bukanlah buku terbarunya. Di tahun 2012, ia menerbitkan buku berjudul Networks of Outrage and Hope. Lebih terlambat lagi karena saya belum membaca tiga buku yang menjadi karya terbaiknya yakni The Rise of the Network Society, The Power of Identty, dan buku The End of Millenium. Saya cukup senang karena tiga bukunya yang terbaik itu bisa segera saya baca. Saya tinggal menyiasati waktu membaca di tengah kesibukan serta kemalasan.

Membaca Communication Power, saya serasa bertualang ke segala sudut masyarakat informasi. Di sini, informasi menjadi komoditas paling penting. Semua rezim berusaha mengendalikan informasi demi menjaga dan mempertahankan kekuasaan. Pegaturan informasi adalah jantung dari setiap kekuasaan. Lewat informasi, kesadaran orang-orang bisa diatur dan ditentukan.

Buku ini hendak menjawab pertanyaan mengapa, bagaimana, dan oleh siapa relasi kekuasaan dibangun dan diuji melalui pengaturan komunikasi. Yang hendak ditelusuri adalah bagaimana relasi itu dipengaruhi oleh para aktor sosial untuk perubahan sosial dengan cara mengubah pola pikir masyarakat. Castell mengajukan dugaan bahwa kekuatan paling fundamental adalah kemampuan untuk membentuk pola pikir manusia. Bagaimana kita berpikir, akan menentukan bagaimana kita bertindak, baik secara individual maupun kolektif.

Beberapa konsep kunci yang dibahas bisa diuraikan secara singkat Pertama, masyarakat jaringan (network society), yakni suatu struktur sosial masyarakat, pada awal abad 21, yang terbentuk oleh komunikasi berbagai jaringan digital. Kedua, konsep kekuasaan membutuhkan pemahaman atas kekhususan berbagai bentuk dan proses komunikasi sosial termasuk di dalamnya adalah media massa dan komunikasi jaringan horisontal yang dibangun oleh komunikasi internet dan nirkabel.

Ketiga, kekuasaan adalah kapasitas relasional yang memungkinkan seorang aktor sosial mempengaruhi keputusan aktor sosial lain secara asimetris untuk mengikuti kemauan, minat, dan nilai-nilai yang dimilikinya. Definisi kekuasaan ini menjelaskan bekerjanya network society, sebagai salah satu konsep kunci dalam pemikiran Manuel Castells.

Definisi kekuasaan ini menjelaskan bekerjanya network society, sebagai salah satu konsep kunci dalam pemikiran Manuel Castells. Dalam pahamannya, aktor sosial tidak selalu individu, melainkan bisa pula kolektif, organisasi, institusi atau jaringan.  

dua buku Manuel Castells yang lain

Ia menyebut kekuasaan itu asimetris sebab di era internet, setiap orang memiliki kuasa dan pengaruh yang berbeda. Kita bisa mengatakan bahwa di era Facebook dan Twitter, masing-masing individu punya pengaruh yang berbeda. Semuanya ditentukan oleh likers, follower, ataupun penggemar. Kekuatan seseorang di media sosial ditentukan oleh sejauh mana interaksi dan kemampuannya menghadirkan postinganyang bisa di-share dalam waktu singkat ke banyak orang.

Keempat adalah “mass self communication.” Ini adalah bentuk baru komunikasi yang muncul di era internet atau digital yang bersifat interaktif dengan kapasitas pengiriman pesan many to many, real time dan juga memungkinkan untuk menggunakan komunikasi point to point, broadcasting, yang semuanya bisa diatur sesuai maksud dan tujuan komunikasi yang diinginkan. Disebut self-communication karena setiap orang mampu membuat dan mengirim pesan sendiri dan bisa menentukan sendiri pihak-pihak yang akan dituju (receiver).

***

SAYA menyukai bab lima yang berjudul Reprogramming Communication Networks. Di bab ini ia membahas bagaimana gerakan sosial dan agen-agen perubahan dalam masyarakat, melalui berbagai jaringan komunikasi yang telah diprogram ulang, sehingga mampu menyampaikan nilai-nilai baru ke dalam pola pikir manusia dan memberikan inspirasi akan harapan perubahan politik. Ia juga mendiskusikan bagaimana peta jaringan sosial baru yang merupakan dampak dari kehadiran teknologi

Terdapat empat studi kasus yang dibahas pada bab ini: (1) studi tentang bagaimana meningkatkan kesadaran atas lingkungan dan perubahan iklim, (2) gerakan global melawan globalisasi perusahaan yang diorganisir melalui internet dan mobile telephone, (3) pengunaan SMS untuk melawan manipulasi informasi pemerintahan Aznar setelah serangan teroris yang menuduh ETA ketimbang Al Qaeda, (4) kampanye Barrack Obama yang menggunakan internet.

Dari keempat topik di atas, bagian yang saya anggap paling menarik adalah topik pertama dan keempat. Topik pertama membahas bagaimana upaya meningkatkan kesadaran tentang lingkungan. Kesadaran ini bermula dari komunitas saintis yang melakukan riset, dan saling berbagi informasi. Selanjutnya, mereka berusaha membangun koneksi dengan politisi agar bisa menjadi kebijakan. Namun, pendekatan ini gagal menarik simpati publik.

Strategi selanjutnya adalah membangun kampanye melalui media massa dan para selebriti. Strategi ini sukses dalam memikat audience, serta membangkitkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga lingkungan. Kampanye ini semakin efektif saat beberapa film tentang lingkungan tayang di jaringan bioskop.

Topik tentang terpilihnya Barrack Obama juga menarik untuk dibahas. Kekuatan Obama adalah: (1) kemampuannya menghadirkan para pemilih yang sbeelumnya tidak pernah berpartisipasi dalam pemilihan presiden, (2) strategi kampanye yang bertumpu pada internet, serta beberapa kampanye kreatif. Terkait kampanye, sosok yang disebut-sebut merancang strategi ini adalah Chris Hughes, pemuda berusia 23 tahun, yang merupakan salah satu pendiri Facebook. Chris lalu merancang kampanye dunia maya. Ia membuat websites, blog, serta jejaring internet yang melibatkan banyak generasi muda. Kemampuannya membangun jejaring inilah yang sukses membawa Obama ke kursi presiden.

Contoh pelibatan selebriti dalam kampanye gerakan lingkungan dan Chris Hughes senagai organizer kampanye Obama ini menguatkan hipotesis Castells tentang tumbuhnya “mass self communication” yakni para individu yang menggunakan berbagai perangkat media sosial, lalu mengirimkan pesan yang menjangkau banyak orang. Posisi individu ini adalah sebagai aktor sosial yang berpengaruh pada perubahan sosial. Para individu ini adalah pengirim sekaligus penerima pesan-pesan komunikasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat sejumlah pengendali jaringan. Untuk mengetahui siapa mereka, Castells menganjurkan supaya: mencari relasi antara jaringan komunikasi korporat, jaringan finansial, jaringan kebudayaan, jaringan teknologi, dan jaringan politik, melakukan analisis jaringan global dan jaringan lokal mereka, melakukan identifikasi kerangka/pola komunikasi dalam jaringan yang membentuk pola pikir publik, terus gunakan pikiran kritis untuk melatih cara pikir dalam dunia yang secara budaya telah terpolusi.

Buku ini memiliki satu konklusi penting, Bahwa konstruksi otonom terhadap pemaknaan hanya bisa terjadi apabila kebebasan di ruang publik internet bisa terjaga. Di satu sisi, ini dianggap sulit oleh sebagian kalangan sebab para pemegang kekuasaan dalam masyarakat jaringan mempunyai misi untuk mengatur pola pikir publik melalui pemograman relasi antara komunikasi dan kekuasaan.

Beberapa Catatan

Terbitnya buku ini menimbulkan beragam reaksi dari komunitas ilmuwan. Olga Zernetska, seorang profsor di The National Academy of Sciences of Ukraine, menyambut baik buku ini. Ia menyebut Castells memberikan kontribusi besar dan analisis mendalam atas relasi antara kekuasaan (power), jaringan (networks), politik, finansial, dan komunikasi pada masyarakat jaringan global.

Manuel Castells

Namun, kritik terhadap Castells juga bermunculan. Di antaranya adalah Jan AGM, Van Dijk, profesor bidang komunikasi di University of Twente, Belanda. Ia menilai beberapa bukti yang diajukan Castells tidak begitu meyakinkan untuk menopang hipotesisnya. Dalam kasus gerakan lingkungan, Castells tidak memberikan penjelasan tentang bagaimana jaringan antara peneliti, aktivis, dan selebriti yang kemudian memasok beragam isu di media massa. Menurutnya, tekanan publik dan peran media-media tradisional masih lebih dominan ketimbang internet.

Dalam kasus Obama, Castells dianggap terlalu berlebihan dalam membahas pengaruh internet. Faktanya, polling Obama sempat turun dua bulan sebelum pemilihan. Yang kemudian menyelamatkan Obama adalah kualitas pribadinya serta respon yang diberikannya untuk menghadapi krisis. Bagi Van Dijk, Castells hanya melihat satu aspek saja dari internet. Dia tidak banyak fokus pada sisi-sisi lain yang juga muncul.

***

Yang juga menarik adalah saat membahas bagaimana relevansi studi Castells atas Indonesia. Di Indonesia, kehadiran internet memiliki sejarah yang cukup menarik untuk ditelusuri. Internet mulai hadir saat Indonesia berada dalam iklim politik yang otoritarian pada masa Orde Baru. Saat itu, negara mengontrol semua informasi yang ada di media massa. Kehadiran internet disambut gembira oleh semua aktivis pro-demokrasi, sebab media ini tidak bisa dikontrol dan dikendalikan pemerintah. Di masa itu, pemerintah kerap memberikan ancaman berupa sensor atau pencabutan izin cetak kepada media-media yang anti-pemerintah.

Sebagaimana dicatat David T Hill dan Krishna Sen dalam buku The Internet in Indonesia’s New Democracy yang terbit tahun 2005, internet memainkan peran penting dalam transisi demokratis. Pemerintah tidak bisa mengontrol internet, sekaligus menyeleksi lalu lintas informasi yang ada di dalamnya. Semua aktivitas di internet, seperti email, newsgroup, website telah menjadi senjata bagi aktivis karena karakteristik real-time dalam tindak oposisi terhadap pemerntah melalui tukar-menkat nformasi serta ajang konsolidasi gerakan. 

Tak mengherankan jika internet memainkan peran penting untuk menjatuhkan kediktatoran Soeharto dari kekuassaannya.

Internet memasuki ruang-ruang publik, membayangi proses demokratisasi. Semua aktivitas politik, mulai dari kampanye dan pemilihan umum tak bisa dilepaskan dari kehadiran internet. Bahkan pendekatan terbaru dalam kampanye adalah melalui media online, yang dilakukan hampir semua partai politik. Ini menjadi bukti bahwa semua partai politik menggunakan internet untuk menopang aktivitas politiknya.

Hubungan antara politisi dan media baru di era internet telah dibahas dalam beberapa laporan penelitian. Gazali (2014) pernah mendiskusikan tentang “new media democracy” atau “social media democracy” yang kadang-kadang sering pula disebut “networking democracy”. Dalam hal ini, internet –khususnya media sosial—dianggap sebagai katalis demokratisasi. Media sosial memiliki potensi untuk menyusun ulang relasi kuasa dalam komunikasi. Dengan menggunakan media sosial, warga bisa memfasilitasi jejaring sosial (social networking) dan memiliki kemampuan untuk menantang kontrol monopoli produksi media dan diseminasi yang dilakukan negara dan institusi komersial.

Keterbukaan platform media sosial bagi individu dan kelompik telah menjadi sumber inovasi dan ide-ide dalam praktik demokratik. Bersetuju dnegan Gazali, kita bisa menyebutnya sebagai “demokrasi media sosial” yakni proses demokratis yang secara substansial dipengaruhi oleh penggunaan media sosial. Dalam hal ini, setiap ‘click’ yang dakukan warga bisa disebut sebagai ekspresi dalam iklim demokratisasi yang wadahnya berlangsung di media sosial.



Tak hanya digunakan oleh para aktivis pro-demokrasi. Beberapa studi menunjukkan bahwa internet juga digunakan oleh elemen gerakan sosial yang lain sebagai wadah untuk membangun konsolidasi. Di antaranya adalah studi yang dilakukan Yanuar Nugroho (2012) yang dipublikasikan dengan tajuk Localising the Global, Globalising the Local: The Role of the Internet in Shaping Globalisation Discourse in Indonesia NGOs.

Ia menunjukkan bahwa pihak aktivis NGO menggunakan internet untuk merespon berbagai wacana antiglobalisasi. Mereka menggunakan konteks lokal untuk merespon wacana global, menggunakan teknologi secara strategis sebagai pelempar isu ke dunia luar.

Terlepas dari itu, beberapa suara kritis penting pula untuk disampaikan. Merlyna Lim (2013), pengajar di Arizona State University, menilai bahwa khalayak media sosial hanya heboh saat membahas kasus-kasus tertentu. Makanya, ada gerakan sosial yang berhasil, misalnya kasus Prita Mulyasari dan gerakan “cicak versus buaya” untuk mendukung KPK. Hanya saja, dalam banyak kasus lain, yang terjadi adalah riuh di media sosial, tapi tidak begitu nampak aksinya. Merlyna Lim menyebutnya “many click but little sticks.” Banyak klik, tapi sedikit tongkat pemukul.


Bogor, 22 Oktober 2016




Lima Teori AGUS Kalahkan ANIES



DI berbagai media sosial, pemilihan kepala daerah (pilkada) seolah-olah hanya memperhadapkan antara Ahok – Djarot versus Anies – Sandiaga. Lantas mengapa survei terbaru Saiful Mudjani Research Center (SMRC) justru mengunggulkan Agus – Sylvi sebagai pasangan yang paling siap untuk menantang petahana? Mengapa bukan Anies?

Marilah kita menelaah berbagai fenomena politik yang di satu sisi susah ditebak, namun di sisi lain justru terang-benderang. Kita sedang berhadapan dengan satu adu taktik yang senyap, cepat, dan tepat dari tim Agus, yang secara perlahan meninggalkan tim Anies yang pendukungnya masih sibuk dengan isu agama serta menyebar kabar kebencian, tanpa memasuki jantung substansi mengapa DKI 1 harus dimenangkan.

Bukan tak mungkin, Agus akan terus menjadi kandidat paling siap untuk menduduki kursi DKI 1. Selamat datang di era politik yang serupa prajurit tempur yang senyap cepat dan tepat menguasai arena dan menancapkan bendera kemenangan.

***

DARI menara gading perguruan tinggi, lelaki itu akhirnya masuk gelanggang. Dia seorang akademisi yang kerap berkutat dengan berbagai pemikiran filosofis dan diskursif. Dia seorang doktor bidang filsafat yang memahami dengan baik filosofi negara, manusia, dan ranah gerak budaya serta peradaban. Lelaki itu adalah Rocky Gerung.

Hari itu, dia diminta untuk memberi briefing pada anak muda usia 37 tahun yang akan memasuki panggung politik. Anak muda itu, Agus Harimurti Yudhoyono adalah putra Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Indonesia dua periode. Rocky diminta untuk menjadi partner Agus berdiskusi. Dia menajamkan gagasan, lalu memberikan masukan-masukan berharga yang bisa menjadi amunisi gagasan bagi Agus. Mereka berdiskusi selama dua jam. Agus menjelaskan konsep membangun kota. Rocky mempertajam gagasan itu menjadi bagaimana membangun manusia.

Pertemuan itu dicatat dalam Tempo, edisi 17-23 Oktober 2016. Di majalah itu, Rocky mengatakan ingin mengantar transisi Agus dari militer ke dunia sipil. Tentara selalu berada dalam situasi darurat sehingga pergerakannya selalu efisien. Dalam militer, perintah atasan tak mungkin didebat. Tapi di dunia sipil, segala hal bisa didebat. Dialektika adalah cara untuk menemukan pengetahuan. Biarpun Agus punya latar sebagai alumnus Harvard University, ia perlu disiapkan untuk memasuki panggung debat.

Diskusi antara Rocky dan Agus itu berlangsung di tengah hingar-bingar politik bernuansa agama di berbagai media. Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tengah menjadi sasaran demo dari berbagai elemen gerakan Islam. Di berbagai kanal media sosial, pendukung Anies mengutuk Ahok yang dianggap menistakan agama. Tak hanya itu, kecaman berujung pada kebencian pada segala hal berbau Cina. Propaganda hitam disebar dan memasuki ruang-ruang diskusi di berbagai media sosial.

Di atas kertas, Ahok seolah-olah hanya berhadapan dengan Anies. Agus hanya dianggap sebagai 'anak bawang' yang masih hijau. Media sosial hanya dipenuhi wacana tentang Ahok, serta Anies yang memosisikan diri sebagai anti-tesis Ahok. Pertarungan keduanya seolah-olah ulangan dari duel di arena pemilihan presiden yang memperhadapkan Jokowi dan Prabowo.

Hingga akhirnya survei SMRC dirilis. Hasilnya cukup mengejutkan sebab elektabilitas Agus justru berada di atas Anies. Rupanya, pergerakan Agus ke kantong-kantong pemukiman warga Jakarta perlahan mendatangkan hasil. Dia tidak sesangar Anies yang menemui warga yang tergusur akibat pelebaran sungai, akan tetapi Agus justru bisa mengambil banyak poin saat menungunjungi pemukiman warga kelas menengah.

Bagi yang melibatkan emosi serta aspek keyakinan religi dalam pilkada, sulit menjelaskan fenomena ini. Rasanya tak percaya menyaksikan sang idola Anies Baswedan bisa dikalahkan oleh anak kemarin sore.Padahal, bagi yang mengikuti pilkada ini secara intens, fenomena ini sudah terbaca sejak jauh hari.

Lima Teori

Marilah kita telaah satu per satu, mengapa Agus lebih populer dari kandidat yang diajukan Gerindra dan PKS ini.

Pertama, positioning. Dalam setiap perhelatan pilkada, setiap kandidat berusaha menemukan positioning yang membuat dirinya beda dari kandidat lain. Sebagai petahana, Ahok sudah punya positioning sendiri. Anies – Sandi memosisikan diri sebagai anti-tesis Ahok. Mereka datang dengan menawarkan kesantunan serta karakter yang tenang dan tidak meledak-ledak sebagaimana Ahok. Tak hanya itu, Anies-Sandi juga melibatkan tiga mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai anggota tim pemenangan.

Sebagai antitesis petahana, ditambah lagi dukungan kuat PKS, simbol-simbol agama nampak pada pedukung Anies. Tim-tim lapangan mengkonstruksi realitas seolah-olah Jakarta akan menjadi basis kaum pendatang yang beragama lain. Jakarta harus dipimpin mayoritas, yang lebih paham situasi Jakarta. Anies dihadirkan sebagai pemimpin umat yang selalu membawa simbol-simbol agama.

Agus memilih positioning yang lain. Dia memilih pakaian berwarna agak gelap, serta terdapat tulisan namanya. Saat di lapangan, ia serupa prajurit militer yang mendatangi setiap titik pertempuran. Pergerakannya efisien dan efektif. Saat datang, ia berusaha meleburkan dirinya dengan orang lain, tanpa harus mengambil jarak. Ia tidak datang dengan membawa simbol agama. Ia menampilkan dirinya sebagai figur yang memayungi semua orang.

Kedua, teori konspirasi. Terkait pidato Ahok di Kepulauan Seribu yang memantik murka, maka terdapat tiga dugaan. Ada yang menduga isu SARA yang bersumber dari pidato Ahok sengaja dibesarkan tim Anies untuk menjatuhkan elektabilitas Ahok. Ada juga juga isu kalau tim Agus ditopang oleh tim intelijen yang efektif lalu menyebarkan tayangan tiga menit itu secara viral. Terakhir, ada pula yang mengatakan bahwa isu SARA itu dihembuskan oleh tim Ahok sendiri yang lalu memantik murka pendukung Anies.

Apapun isunya, benang merahnya sama yakni pendukung atau loyalis Anies-Sandi yang lalu terpancing dan menelan umpan itu. Yang terasa di media sosial adalah berbagai kabar-kabar kebencian terhadap petahana. Pola kampanye ini sudah pernah dilakukan tim Prabowo saat pilpres lalu. Strategi ini terbukti kalah telak dan gagal meyakinkan publik. Jika tim Anies masih melakukan hal yang sama, maka sejarah akan berulang. Lebih parah lagi saat Anies ikut-ikutan berkomentar yang seolah mendukung suara penuh benci para pendukungnya. Sikap ini jelas menjadi bumerang yang akan menghantam dirinya. Dia gagal menjadikan dirinya sebagai negarawan yang hendak menjaga tenunan kebangsaan yang nyaris sobek oleh kebencian rasial dan isu politisasi agama.

Sejauh ini, kampanye Agus – Sylvi cukup simpatik. Kampanyenya di media sosial lebih banyak menunjukkan kedekatan mereka dengan masyarakat. Pengelolaan isunya lebih terorganisir dan rapi. Agus kerap blusukan ke mana-mana. Formula ini sudah pernah dilakukan Jokowi dan sukses mengalahkan petahana, yang saat itu adalah Foke.



Ketiga, tawaran program. Tim Anies-Sandiaga lebih sibuk membahas kinerja dan gerak petahana, ketimbang memperjelas apa yang hendak mereka lakukan di masyarakat. Mereka sibuk memetakan kekuatan lawan, tanpa mengukur sejauh mana kekuatan diri sendiri. Kunci kemenangan adalah pengenalan lawan, namun mengabaikan kekuatan sendiri adalah jalan pintas untuk kalah. Jauh lebih baik fokus pada keunggulan diri, ketimbang memikirkan semua kesalahan ataupun nestapa yang telah dilakukan pesaing saat menjabat.

Yang muncul adalah ketidakjelasan serta kebingungan publik tentang apa yang akan dilakukan pasangan ini jika kelak terpilih. Ambil contoh, dalam satu kunjungan ke warga yang hendak digusur, ia mengatakan, "Harus ada solusinya, Bukan sekadar tidak menggusur atau menggusur, yang diperlukan masyarakat kecil adalah solusi."

Pertanyaannya, solusi apa yang hendak diajukannya? Bukankah ia juga tidak memberikan respon yang sejajar? Selain dari visi Jakarta yang katanya akan lebih manusiawi, publik hampir tak pernah mendengar apa yang mau dilakukan oleh pasangan ini.  Dalam situasi begini, orang bisa mengambil langkah pragmatis yakni memilih kandidat yang sudah jelas apa kinerjanya, yang dalam hal ini adalah petahana.

Tawaran program Anies – Sandiaga memang lebih banyak kritikan pada petahana. Kalau kinerja petahana buruk, maka dia akan mendapat nilai plus dari kritiknya, sebagaimana pernah dirasakan Jokowi-Ahok saat mengkritik Foke sebab dianggap sedang menyuarakan aspirasi kebanyakan orang. Namun jika kandidatnya bagus dan disukai publik, maka itu sama saja dengan melempar bumerang. Sejauh ini, mayoritas publik Jakarta puas dengan kinerja Ahok. Mengkritik program Ahok sama dengan menentang kepuasan sebagian besar warga Jakarta. Akan lebih baik jika tim Anies memberikan gambaran bagi warga tentang area-area yang belum pernah disentuh serta harapan yang mereka berikan ketika diberi kepercayaan untuk menjabat.

Tim Agus setali tiga uang dengan tim Anies. Bedanya, Agus adalah sosok yang nampak santun, tapi misterius. Kekuatannya adalah pada ketidaktahuan publik tentang apa saja yang akan dilakukannya. Publik berharap ada kejutan atau minimal sesuatu yang baru saat memutuskan untuk memilih Agus.

Keempat, teori personal branding. Karakter Anies terkesan oportunis. Dia terlihat haus kekuasaan. Dalam banyak momen politik, ia selalu hadir. Mulai dari konvensi Partai Demokrat, juru bicara Jokowi – JK, hingga akhirnya menjadi cagub dari koalisi Gerindra dan PKS. Dia juga belum lama diberhentikan dari posisi menteri di kabinet Jokowi. Selama menjabat sebagai menteri, tak banyak hal-hal besar yang terdengar di publik. Yang masih membekas adalah ajakan untuk mengantar anak ke sekolah, yang di media sosial dibuatkan meme kalau Anies tidak membuat kebijakan agar menjemput kembali anak itu agar pulang ke rumah.

Tadinya saya berharap dia melakukan banyak hal baik bersama masyarakat. Jika saja Anies mau bersabar, seusai menjadi menteri, ia bisa kembali terjun ke masyarakat demi melanjutkan kerja-kerja bersama kelompok relawannya. Ia bisa mengabdikan dirinya sebagai guru di daerah terpencil demi menepis anggapan dirinya tidak punya track-record sebagai guru dan pengajar. Dia juga harusnya kembali aktif bersama relawan Turun Tangan dan membuat banyak hal baik bagi bangsa ini.

Jika ia melakukan pengorganisasian sosial ini, namanya akan terus dirawat publik sebagai sosok penuh integritas. Beberapa tahun ke depan, ia akan menjadi kandidat yang paling siap untuk menantang Jokowi di kursi RI 1. Sandiaga juga terlalu dipaksakan. Sejauh ini hampir belum ada track-record hebat yang mereka tunjukkan di arena sebelumnya. Publik diam-diam mencatat itu

Agus dalam posisi yang lebih beruntung. Namanya memang belum dikenal, tapi semua orang tahu siapa ayahnya. Sebagai mantan presiden yang dua kali memenangkan pemilihan langsung, ayah Agus punya modal sosial dan modal kultural yang bisa diwariskan kepada anaknya. Sosok Agus yang satu-satunya kandidat berlatar militer bisa menjadi nilai plus. Ditambah lagi pasangannya adalah satu-satunya perempuan di perhelatan politik ini. Maka, wajar jika publik berharap mereka melakukan hal baru yang merupakan kelanjutan dari kinerja baik petahana.

Kelima, teori bayang-bayang. Pilkada ini memang rasa pilpres. Semua kandidat punya mentor. Di belakang Agus-Sylvi terdapat nama Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), seorang jenderal ahli strategi militer yang dia kali memenangkan pemilihan langsung presiden. Di belakang Anies Sandi, terdapat nama Prabowo Subianto, jenderal yang menjadi kandidat presiden di pilpres lalu. Di belakang Ahok-Jarot, terdapat nama mantan Presiden Megawati Sukarnoputri, sosok paling senior di jagad politik Indonesia.

Jangan pula dilupakan nama Jokowi di belakang Ahok. Hingga kini saya masih berkeyakinan faktor Jokowi adalah kartu paling kuat yang dimiliki Ahok. Jika Jokowi netral, maka perhelatan politik ini akan berjalan seru. Sejauh ini, Jokowi adalah politisi yang terkuat saat ini. Masuknya ia di arena pilkada bisa mempengaruhi banyak peta politik. Di mata saya, yang berhadapan di pilkada ini adalah Jokowi versus SBY. Kedua-duanya sama-sama pernah memenangkan pertarungan politik. Biarpun, kemenangan Jokowi lebih spektakuler sebab memulai karier dari walikota yang melejit hingga prsiden, kehadiran SBY tetap saja akan membuat pilkada ini menjadi lebih dinamis dan berliku.

***

LIMA teori di atas hanyalah penghampiran sederhana dalam menyatukan berbagai kepingan politik yang tengah berdenyut di jantung ibukota kita. Bagian paling menarik tentu saja hiruk-pikuk publik di media sosial, yang sejatinya tak pernah bisa menjadi patokan keunggulan. Mengutip Merlyna Lim (2013), aktivitas politik di media sosial dicirikan kalimat “Many clicks but little sticks.” Banyak klik, tapi kurang rencana aksi. Ketimbang berwacana di media sosial, jauh lebih baik jika turun lapangan, memetakan kekuatan, lalu menentukan hendak memilih segmen mana.

Masing-masing punya kelemahan, tapi masing-masing punya kekuatan yang bisa dioptimalkan untuk negeri. Kekuatan Ahok adalah kerja-kerja yang dilakukannya selama menjabat, yang menyentuh hati banyak warga Jakarta. Kekuatan Anies adalah kesantunan dan kekuatan gagasan yang bisa membawa Jakarta menjadi lebih baik. Kekuatan Agus adalah kemampuan memetakan apa saja amunisi yang bisa membawa Jakarta lebih hebat demi menggempur segala masalah di ibukota.

Pemenangnya belum bisa ditebak saat ini. Masih ada waktu empat bulan untuk melihat siapa yang paling pandai menerapkan strategi untuk memenangkan pilkada ini. Sebagai publik, kita berharap akan menyaksikan orkestra politik yang sarat strategi dan taktik. Kita berharap akan menyaksikan ajang festival gagasan, bukannya beragam isu SARA yang justru bisa membuat tenunan kebangsaan ini kian sobek. Kita berharap menyaksikan dialog-dialog yang menumbuhkan bangsa, bukannya aksi saling kecam lalu ancaman untuk membunuh. Kita ingin ada damai yang terus menjadi napas bangsa ini, tanpa harus kehilangan wibawa dan karakter sebagai bangsa yang cinta damai. 

Siapakah pemenangnya? Marilah kita bersama-sama menebaknya. Tebakan saya, pemenangnya adalah sosok yang bisa membumikan filosofi perang Sun Tzu, “Kenali dirimu, kenali lawanmu. Maka kau bisa menang dalam 100 pertempuran, tanpa risiko kalah. Kenali bumi, kenali bumi, maka kemenanganmu akan lengkap.”



Bogor, 20 Oktober 2016

BACA JUGA:




Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...