Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Jurnalisme yang Terhempas dan Terputus


ilustrasi

DI berbagai media online, terdapat diskusi tentang senjakala media. Seorang jurnalis senior menyampaikan keluh-kesahnya tentang senjakala media cetak yang secara perlahan dilibas oleh era online. Tak hanya media cetak yang mulai terkubur, dirinya pun ikut tenggelam dan menjadi museum.

Banyak hal yang berubah. Di era baru, semua orang bisa membuat web, memproduksi informasi, lalu menyebarkannya ke mana-mana. Hanya saja, itu tak lantas membuat media itu populer dan digandrungi. Era baru menuntut kesabaran, konsistensi, serta keberanian menjelajah ranah yang tak banyak dirambah.

Media baru menuntut kreativitas serta keunikan dalam memilih sudut pandang, sesuatu yang tak mudah bagi para jurnalis yang terbiasa berpikir mapan dalam iklim media yang terlanjur baku. Mereka yang hendak menguasai media di era baru, mesti memahami betapa peta sosial telah bergeser. Yang survive adalah yang bisa membaca dinamika sosial, lalu berselancar di atasnya. Yang bertahan adalah yang selalu menyerap hal baru, dan punya ribuan akal untuk menyajikan informasi.

Tentu saja, itu tak mudah Tapi ada kiat cerdik ke arah itu. Apakah gerangan?

***

BERITA itu datang di satu sore. Tabloid Bola yang dahulu selalu rutin saya beli terancam akan ditutup. Dalam format harian, media ini sudah lama ditutup. Masih segar di ingatan saya beberapa nama jurnalis olahraga, seperti Sumohadi Marsis, Ian Situmorang, hingga Wesley Hutagalung. Saya masih terkenang pada karikatur tabloid Bola yang khas dan selalu bisa mengocok perut.

Di satu website saya temukan keluh-kesah para mantan jurnalis Bola yang telah di-PHK. Rupanya, perubahan lebih cepat dari yang saya bayangkan. Media itu memang sekarat sebab kehilangan banyak pembaca, yang dahulu rajin membeli dan memberi pemasukan bagi media, namun kini lenyap satu per satu.

Media itu terlambat mengantisipasi pertumbuhan teknologi smartphone yang membuat orang-orang lebih suka menyerap informasi melalui HP. Media itu terlambat menyadari bahwa di era digital, publik tak perlu membayar untuk mendapatkan infromasi. Semuanya gratis, sebab media akan mendapatkan benefit seiring dengan massifnya kunjungan ke portal media.

Publik tak tertarik lagi membeli media di lapak koran, sebab informasi yang dibutuhkannya tersedia secara gratis dan bertebaran di berbagai situs. Publik cukup mengaktifkan media sosial. Di situ, mereka menemukan semua informasi, sekaligus bisa berdiskusi dengan banyak pihak yang mereproduksi informasi itu.

Memang, selalu saja ada rasa bahagia saat mencium wangi cetak pada media yang tiba di rumah. Selalu saja ada romantisme kala melihat koran diletakkan oleh loper di pintu rumah. Akan tetapi zaman terus bergerak. Media cetak dianggap berkontribusi pada rusaknya hutan untuk membuat kertas. Media cetak dianggap terlampau lama untuk menyajikan informasi, sesuatu yang bisa disajikan setiap detik oleh media online.

Ada satu dua yang masih bertahan. Yang masih eksis berupaya tetap menjaga kualitas dan roh jurnalisme yang mengandalkan pada kedalaman dan ketajaman analisis. Yang bertahan adalah media yang bisa membangun relasi dan kedekatan dengan semua pembacanya, membangun simbiosisi mutualisme yang saling menguntungkan. Namun, seberapa lamakah bisa bertahan di tengah gempuran media online yang semakin dahsyat dan telak menghantam?

Media online tampil sebagai penguasa baru yang memiliki banyak kaki-kaki. Di antara kaki itu ada demikian banyak website, blog, serta media sosial yang serupa semut perlahan menggerogoti gajah besar media-media mapan. Perlahan, peta sosial juga ikut-ikutan bergeser.

Para jurnalis hebat tak lagi punya kharisma dan aura di media baru. Para jurnalis hebat hanyalah sedikit dari jutaan suara ataupun hiruk-pikuk wacana yang saling berebut pengaruh. Banyak nama besar tumbang karena tidak bisa mengikuti ritme dari media baru yang selalu bergegas. Era ini ditandai begitu banyak pesaing yang saling berebut pengaruh. Di era digital, setiap tulisan atau postingan akan diukur dari seberapa banyak yang me-like dan me-retweet apa yang disajikan. Tak selalu publik melihat nama seseorang. Seorang warga biasa sekalipun bisa menulis hal-hal yang lalu disukai publik, lalu di-retweet ke mana-mana secara sukarela. Publik akan menyebarkannya secara gratis.

Warga biasa yang dulu hanya jadi penonton, kini tampil ke depan. Malah, banyak yang menjadi kiblat wacana. Nama-nama seperti Bre Redana dan puluhan jurnalis Kompas bisa tenggelam oleh sosok-sosok seperti Denny Siregar, Tomi Lebang, ataupun Fahd Pahdepie yang nampaknya lebih menguasai seluk-beluk menulis di dunia maya. Bahkan, nama-nama seperti Maria Hartiningsih dan Leila S Chudori, mulai kalah populer dibandingkan Jihan Davincka, Ary Amhir, Olyve Bendon, dan Dina Y Sulaiman, para blogger produktif yang tulisannya di-share banyak orang.

Inilah penanda zaman kita. Inilah zaman ketika para jurnalis tak lagi menjadi satu-satunya kebenaran. Inilah eranya para warga, yang profesinya beragam, berasal dari berbagai pelosok, tapi setiap tulisannya bisa menggugah dan mempengaruhi wacana publik. Inilah era perubahan, seustau yang harus dipahami demi merancang sesuatu.

***

SAYA teringat Dan Gilmore yang menulis buku We the Media. Gilmor melihat melihat tanda-tanda akan berakhirnya era meda konvensional, yang memosisikan jurnalis sebagai rasul pembawa kebenaran. Publik, yang dahulu dianggap pasif, kini mulai bergerak lebih aktif. Publik mulai bersuara dan menyampaikan reportase, yang seringkali lebih fresh, orisinil, dan mendalam. Prediksi Gilmor mulai terlihat sekarang.

Memang, banyak yang menempuh jalan pintas, Kita sering menemukan kabar bohong atau hoax yang sebarkan secara massif. Tapi percayalah, sekali seseorang menandai satu situs sebagai penyebar kebohongan, maka seumur hidup orang tak akan melirik media itu. Hoax ibarat parasit yang dihindari, sebab merusak kredibilitas, bisa berujung pada hilangnya teman, bisa membuat kita diblokir di dunia maya.

Satu hal yang harus catat. Media online bisa tumbuh setiap saat, tapi tak lantas membuatnya populer dan disukai orang lain. Siapapun bisa membuat blog, tapi yang akan bertahan adalah mereka yang setia menulis, terus belajar dari beragam kesalahan, serta mau menyerap ilmu dari banyak orang lain. Untuk sampai pada tahapan disukai, lalu dikunjungi setiap saat, satu media ataupun blog harus menunjukkan konsistensi, kemampuan melihat celah yang tak dimasuki media lain, serta keberanian untuk menyimpang dari arus besar.

Seiring dengan waktu, publik melakukan seleksi. Sekali menebar kebencian, maka satu mdia bisa berpotensi disukai atau dibenci sekaligus. Para penguasa era digital adalah mereka yang memahami bahasa warga dunia maya, menyajikan hal-hal yang bersesuaian dengan bahasa orang kebanyakan, serta punya passion menulis serta hasrat berbagi. Tanpa itu, seseorang bisa kesepian di dunia maya.

Media bisa dengan mudah dibuat, namun tak lantas bisa mendatangkan banyak orang untuk sekadar tetirah dan berkunjung. Untuk sampai pada tahapan ini, seseorang harus menjadi tuan rumah yang baik, menyajikan apa yang dibutuhkan, serta selalu belajar hal baru. Bersikap sebagai orang sok tahu di media baru hanya akan menghadirkan antipati orang lain. Dengan cara menyerap hal baru, seseorang bisa mejadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain, yang engaja brwsing untuk menemukan pembelajaran dan hal-hal yang menginspirasi.

***

MEDIA cetak memang bisa terkubur, tapi jurnalisme akan selalu ada. Jurnalisme sebagai hasrat terdalam manusia untuk berkomunikasi akan selalu hadir, meskipun berganti format lain. Yang harusnya dilakukan adalah memahami dinamika dan peta sosial yang terus bergeser, lalu berselancar sembari membawa berkarung-karung pengetahuan untuk disebar ke mana-mana. Jurnalisme yang tidak terhempas dan terputus adalah jurnalisme yang bisa menyerap hal-hal baik di sekitarnya dan terus berubah.

Perubahan itu abadi. Dia yang mau berubah adalah dia yang akan terus bertahan. Dia yang bertahan adalah dia yang menumbuhkan tunas dan melakukan segala upaya agar tunas itu menjadi pohon rindang. Dia yang mau belajar adalah dia yang terus memperkaya pikirannya dengan hal-hal baru, yang lalu menggerakkan dirinya untuk perubahan. Dia yang ingin menang adalah dia yang bisa menyerap energi para pemenang. Anda ingin abadi? Segeralah berubah.


30 Desember 2015

Dua Belas Buku yang Saya Sukai di Tahun 2015


ilustrasi

SAYA mencatat tahun 2015 sebagai tahun yang penuh perjalanan. Sepanjang tahun saya berkunjung ke hampir semua pulau-pulau besar di tanah air. Meskipun perjalanan itu melelahkan, saya selalu berusaha untuk meng-update pengetahuan dengan cara membaca sebanyak-banyaknya. Saya selalu tak punya target dalam membaca. Hanya saja, seiring dengan rasa ingin tahu yang terus mendesak, maka membaca menjadi kewajiban.

Ada tiga keuntungan yang saya harapkan ketika membeli buku. Pertama, intellectual benefit (keuntungan intelektual). Saya berharap membaca bisa membawa pencerahan atau minimal cara-cara baru memahami persoalan. Kedua, emotional benefit (keuntungan emosional), yang mencakup aspek-aspek emosi yang mengayakan jiwa dan kepekaan perasaan terhadap orang lain. Ketiga, spiritual benefit (keuntungan spiritual), yakni harapan untuk melihat zaman dan peradaban yang lebih baik, keinginan untuk menyerap hikmah, lalu membaca masa depan.

Mulai tahun 2015, saya rajin membaca National Geographic serta edisi Traveler. Saya menyukai gaya menulis sains serta laporan perjalanan yang dikemas dengan sangat menarik. Gaya menulis di majalah ini adalah kombinasi antara etnografi dan reportase investigatif, dua gaya menulis yang sangat saya sukai. Saya juga suka foto-foto dahsyat yang dengan melihatnya sekilas, kita bisa merasakan selaksa makna di baliknya. Dengan membaca National Geographic, rasa haus atas pengetahuan akan pengetahuan langsung terpuaskan.

Tak hanya itu, saya juga berusaha membeli buku-buku baru, lalu menuliskan catatan. Memang, saya tak selalu mengikuti semua buku, sebab postur keuangan saya sangat terbatas. Saya hanya membeli buku-buku tertentu yang menarik buat saya, atau dibahas oleh beberapa teman. Ada beberapa buku yang spesial mengendap di benak saya. Saya mencatat beberapa di antaranya:

Mata Air Keteladanan (Yudi Latif)

Buku ini saya simpan di daftar paling atas yang saya sukai. Memang, buku ini terbit tahun 2014, tapi saya belum lama membacanya. Bukunya sangat memikat. Di dalamnya ada kisah-kisah berbagai manusia dan pelaku sejarah, yang dengan caranya sendiri-sendiri telah membumikan Pancasila sebagai nilai hidup yang digali dari bumi Indonesia. Ia membedah berbagai keteladanan dari para founding fathers seperti Sukarno, Hatta, Tan Malaka, maupun Sjahrir, hingga beberapa pahlawan zaman sekarang, seperti Rabiah, suster apung di pulau-pulau sekitar Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Saya mengagumi ketelatenan Yudi mengumpulkan berbagai arsip dan catatan tentang manusia-manusia tidak biasa ini, yang mengamalkan berbagai sila dalam Pancasila, dengan caranya masing-masing.

Self Driving (Rhenald Kasali)

Sepanjang tahun 2015, saya membaca banyak buku Rhenald Kasali, Tak hanya Self Driving, saya juga membaca Agility, Cracking Zone, yang terbaru Change Leadership Non-Finito. Buku yang ditulis Rhenald selalu memberikan hikmah-hikmah dan pembelajaran yang bisa diterapkan secara praktis. Saya menyukai padatnya pengetahuan yang semuanya digali dari pengalaman. Rhenald mengajarkan saya pentingnya melihat kasus-kasus demi menjelaskan bahwa setiap teori dalam ilmu manajemen terus berubah dan berkembang. Ada teori yang tak memadai untuk mengamati satu kenyataan, namun ada pula yang bersesuaian. Buku-buku Rhenald selalu bergizi tinggi dan bisa menggerakkan motivasi.

Kuasa Jepang di Jawa (Aiko Kurasawa)

Mulanya, saya tertarik membeli buku ini karena ketebalannya yang serupa kitab-kitab. Setelah membacanya, saya tercengang atas kemampuan riset, mengumpulkan arsip sejarah, lalu melakukan analisis atas semua catatan. Penulisnya, Aiko Kurasawa, membahas tentang masa singkat pendudukan Jepang yang membawa dampak luas bagi Indonesia. Dikarenakan kebutuhan Jepang untuk Perang Pasifik, masa singkat di Indonesia digunakan seefektif mungkin untuk mengumpulkan sumber daya, sekaligus memobilisir para pemuda, tokoh pergerakan, untuk membentuk angkatan perang. Di buku ini, saya temukan bahasan menarik tentang bagaimana propaganda, serta pengaruh Jepang pada pengaturan kelembagaan pemerintah hingga level Rukun Tetangga (RT).

The Will to Improve (Tania Li)

Barangkali, inilah buku ilmu sosial paling bagus yang saya baca di tahun 2015. Saya sempat membaca buku ini dalam edisi bahasa Inggris, tapi terjemahan juga tak kalah memikat. Saya deg-degan saat mengikuti alur argumentasi penulisnya yang memaparkan bagaimana pembangunan dilaksanakan. Penulisnya, Tania Li, memaparkan data-data etnografis yang sangat memukau. Ia menunjukkan bahwa sejak zaman kolonial hingga masa kini, pembangunan selalu saja menyisakan perbedaan konsepsi antara pembangun dan yang dibangun. Dari dulu hingga ini, pembangunan tak pernah membawa kemakmuran. Sebab niat baik untuk membangun (the will to improve) selalu membawa kesengsaraan sebab program itu sendiri tak pernah bebas nilai. Pihak pembangun selalu merasa lebih tahu apa yang sedang dilakukan, lalu memosisikan masyarakat sebagai ruang kosong yang harus diisi, serta tak perlu didengar keinginannya. Buku yang sangat layak dibaca.

Identitas dan Kenikmatan (Ariel Heryanto)

Ini juga buku berlatar ilmu sosial dan cultural studies yang paling saya sukai di tahun 2015. Saya sangat menikmati uraian penulisnya yang renyah tentang bagaimana kaum muda perkotaan merumuskan ulang identitas mereka pada dekade abad ke-21. Buku ini menarik sebab memaparkan benak kaum muda kita yang serupa kanvas putih, yang lalu dihiasi dengan berbagai warna-warni yang merupakan representasi dari berbagai ideologis dan budaya pop. Di kanvas itu, terdapat tarikan kuat globalisasi dan tafsiran lokalitas, dan juga terdapat tarikan rezim yang hendak merekayasa sejarah. Bagi saya bab-bab terbaik adalah bab yang membahas bagaimana rezim merekayasa peristiwa 1965 dan menjejalkannya dalam budaya layar demi mengendalikan pikiran kaum muda. Membaca bagian ini serasa mengingat kembali tesis saya tentang mereka yang dituduh komunis dan berusaha bertahan. Sangat menarik.

Nasionalisme, Laut, dan Sejarah (Susanto Zuhdi)

Tema-tema sejarah dan laut selalu menjadi minat saya belakangan. Apalagi, penulis buku ini, Prof Susanto Zuhdi, adalah pembimbing tesis saya di Universitas Indonesia. Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang memiliki satu benang merah yakni nasionalisme, laut, dan sejarah. Saya menyukai argumentasi penulisnya yang mengatakan bahwa kemunduran bangsa ini disebabkan oleh sikap yang ‘memunggungi lautan.’ Ia lalu mengeksplorasi sejarah, tradisi kelautan, kearifan bahari yang dahulu menjadi tulang punggung berbagai etnik dan budaya. Agak terkejut juga karena penulisnya menyebut nama saya serta mengutip tesis yang saya buat. Hehehe.

Saving the World: A Brief History of Communication for Development and Social Change (Emile G. McAnany)

Di tahun 2015, saya membaca beberapa buku teks kajian komunikasi. Saya beruntung sebab seorang kawan di Amerika Serikat mengirimkan saya tiga buku menarik. Selain buku Saving the World, ia juga mengirimkan buku Evaluating Communication for Development: A Framework for Social Change. Saya juga masih berjuang untuk menghabiskan satu lagi buku Communication Power yang dibuat Manuel Castells. Nampaknya, kajian-kajian komunikasi terus mengalami pergeseran, hanya saja tak semua kampus di tanah air bisa meresponnya dengan cepat. Kebanyakan kampus hanya fokus pada jurnalistik, media studies, dan public realtions. Padahal, ada banyak perkembangan baru. Yang mendesak adalah perlunya pendekatan multi-disiplinier dalam memahami komunikasi, serta perlunya menguatkan aspek emansipatoris pada kajian itu.

Menolak Tumbang: Narasi Perempuan Melawan Kemiskinan (Lies Marcos)

Yang saya sukai dari buku ini adalah hadirnya suara-suara dari kaum perempuan di berbagai pelosok. Buku ini berbeda dengan kajian perempuan lain yang terasa kering sebab membahas perempuan dari perspektif peneliti. Buku ini merekam suara, serta memosisikan para perempuan sebagai subyek utama yang berkisah tentang dunianya yang sering diposisikan tidak adil. Buku ini semakin bertenaga karena hadirnya foto-foto yang dibuat foto yang dibuat Armin Hari, yang tak hanya membuat buku semakin berwarna, tapi juga bisa menyampaikan banyak makna dari sisi lain. Bab-bab dibuat meengalir, dan di akhir bab selalu ada catatan refleksi yang berisi pembelajaran serta rekomendasi apa yang harus dilakukan. Saya merasa senang bisa mengoleksi buku yang dijual agak mahal ini.

Wow Selling (Hermawan Kertajaya)

Di tahun 2015, saya juga rajin membaca buku-buku yang ditulis Hermawan Kertajaya. Saya menyukai gaya menulisnya yang mengalir serta produktivitasnya melahirkan buku-buku bagus. Saya menyukai topik tentang Marketing 3.0 sebab tidak menekankan pada penjualan, melainkan pada pentingnya membangun relasi dan hubungan emosional dengan siapa saja. Hermawan adalah guru marketing yang selalu belajar hal baru, memperkaya pengetahuannya, lalu menerapkannya dalam berbagai krisis yang dihadapi berbagai produsen. Melalui proses belajar ituah, Hermawan bisa terus eksis dan mengembangkan ilmu pemasaran.

Cahaya, Cinta, dan Canda M. Quraish Shihab

Dari beberapa biografi yang saya baca, biografi Quraish Shihab ini yang membekas di benak saya. Yang hadir di sini adalah gambaran tentang sosok ulama yang pada dasarnya manusia biasa, sebagaimana orang lain. Ia lahir di Sidrap, dari ayah keturunan Arab, dan ibu asli orang Bugis. Ia pernah bekerja sebagai penjaga kios milik ayahnya, suka bolos dan nonton film Hollywood, hingga akhirnya mendapatkan beasiswa ke Mesir. Di negeri fir’aun, ia menjadi penggila berat Real Madrid, dan terobsesi menjadi pemain bola. Buku ini kian menarik sebab di dalamnya terdapat argumentasi tentang beberapa hal kontroversial yang dituduhkan padanya. Apapun itu, Quraish adalah aset tanah air kita.

Menerjang Badai Kekuasaan (Dhaniel Dhakidae)

Sejak membaca buku berjudul Cendekiawan dan Kekuasaan yang ditulis Dhaniel Dhakidae, saya selalu ingin membaca apapun yang ditulisnya. Selain kolom di jurnal Prisma, saya juga menyukai buku ini. Buku ini tak biasa sebab memotret beberapa tokoh yang melawan kuasa. Mulai dari Bung Karno dan Bung Hatta, hingga anak muda seperti Soe Hok Gie. Ada juga bahasan tentang Pramoedya, serta gembong pencuri Kusni Kasdut. Semua pihak bisa menjadi jendela untuk memahami banyak hal. Saya senang dengan argumentasi mengapa ia menuliskan kumpulan biografi dari beberapa sosok. Ia mengutip C Wright Mills dalam buku Sociological Imaginations yang menekankan keterkaitan antara tiga aspek yakni biografi, struktur sosial, dan sejarah. Ketiganya saling merasuk satu sama lain, sehingga memahami satu biografi bisa membawa kita pada pemahaman atas sejarah dan struktur sosial.

Senja dan Cinta yang Berdarah  (Seno Gumira Adjidarma)

SEPANJANG tahun 2015, ada tiga buku karya Seno Gumira Adjidarma yang saya koleksi. Selain buku Senja dan Cinta yang Berdarah, yang merupakan kumpulan semua cerpen Seno sejak pertama mengarang di tahun 1970-an, hingga dua buku lain yang merupakan kumpulan esai yakni Tak Ada Ojek di Paris, serta Kartun dalam Politik Humor. Saya menyukai kumpulan cerpen Seno sebab selalu ada rasa bahasa yang khas di situ. Beberapa cerpen yang pernah membuat saya susah tidur adalah Manusia Kamar Pelajaran Mengarang, Sepotong Senja untuk Pacarku, Atas Nama Malam, dan Dodolit.. Doddolit..Dodolitbret. Pada setiap karya Seno, saya menemukan butiran pelajaran berharga, empati yang kuat pada realitas sosial, serta sisi lain kehidupan yang seringkali terabaikan oleh rutinitas yang menjerat.

***

TENTU saja, buku di atas hanyalah 12 dari beberapa yang saya koleksi dan baca. Saat mengamati koleksi buku, saya menemukan satu hal penting yakni minat saya tak fokus pada satu aspek. Minat saya merentang ke beberapa topik, mulai dari sains, ilmu sosial, filsafat, juga sejarah. Saya justru menikmati bacaan yang tidak fokus itu, sebab saya bukan akademisi yang memfokuskan diri pada satu kecakapan. Lagian, seorang akademisi sekalipun dituntut untuk meluaskan perspektif, mengayakan pahaman, sehingga bisa memahami sesuatu secara holistik.

Satu hal yang harus dicatat. Ketika membaca buku, saya tak selalu membacanya sampai tuntas. Kadang-kadang, saya memilih bagian-bagian tertentu yang saya anggap menarik, lalu meresepainya. Saya pun belajar dari orang lain yang juga membaca buku itu. Saya berusaha menyiasati waktu yang menyempit oleh keharusan mengerjakan rutinitas, serta aktivitas mencari nafkah untuk keluarga.

Kebanyakan dari buku di atas telah saya resensi di blog ini. Tujuannya bukan untuk menampilkan ‘kemewahan’ bacaan, tapi semata-mata niatnya untuk berbagi ilmu, serta mendapatkan kesan dan komentar dari orang lain yang juga tertarik membacanya.

Yang pasti, seusai membaca buku bagus, saya selalu terkenang-kenang, dan terobsesi untuk melahirkan karya serupa. Entah kapan bisa fokus untuk melahirkannya. Kali ini saya tak ingin apologi atau pembelaan. Barangkali saya hanya bisa menanam obsesi bahwa kelak saya pun bisa melahirkan sesuatu yang bisa mengendap di benak banyak orang, menggerakkan pikiran, serta kelak bisa abadi dan menyapa berbagai generasi. Semoga.


Bogor, 27 Desember 2015

Suatu Hari Bersama Penulis "Sepotong Senja untuk Pacarku"


 DI ajang Kompasianival 2015, saya sangat bahagia bisa bersua Seno Gumira Adjidarma, penulis yang saya koleksi hampir semua karya-karyanya. Beberapa cerpennya menancap kuat di benak saya, mulai dari Sepotong Senja untuk Pacarku, Pelajaran Mengarang, hingga Sebuah Pertanyaan untuk Cinta. Saya juga menyenangi novel yang dibuatnya, mulai dari Jazz, Parfum dan Insiden, Atas Nama Malam, Kitab Omong Kosong, hingga Naga Bumi: Jurus Tanpa Bentuk.

Saya mengagumi produktivitas serta kemampuannya menulis. Pengarang ini bisa menulis dalam beragam genre dengan kadar yang sangat memikat. Mulai karya sastra seperti cerpen, novel, catatan perjalanan, catatan ringan, reportase, hingga opini. Reportasenya yang paling saya sukai adalah perjalanan menelusuri jejak Wali Songo, para penyebar Islam di tanah Jawa. Ia menyajikannya dengan sangat menarik, padahal ia sendiri seorang pemeluk Kristiani. Saya juga suka karya ilmiah yang ditulisnya. Terakhir saya membaca disertasinya tentang Panji Tengkorak. Sungguh memikat.

bersama Seno

Hampir semua penghargaan di bidang kepenulisan telah diraihnya. Bahkan, ia berani menolak penghargaan bergelimang uang yakni Ahmad Bakrie Award sebagai bentuk empati atas korban lumpur Lapindo. Ia juga punya fans di mana-mana, salah satu di antaranya adalah Pramoedya Ananta Toer, yang menggemari cerpen Penembak Misterius. Semua puncak kepenulisan telah diraih Seno. Hanya saja, ia belum bisa menghasilkan satu masterpiece yang memberi kontribusi bagi tanah air, sebagaimana diakukan Pramoedya dalam karya-karya tetralogi Pulau Buru, yang meluruskan arah sejarah kebangkitan nasional.

Satu lagi, di ajang Kompasianival 2015 yang merupakan ajang kopi darat para blogger terbesar di tanah air, ia justru tak begitu populer. Ia tak banyak dikenal. Saya menyaksikan sendiri bahwa tak banyak blogger yang lalu lalang, yang menyempatkan diri untuk sekadar berjabat-tangan atau berpose dengannya. Saya juga menyesalkan panitia Kompasianival 2015 yang tak menyediakan panggung besar untuknya. Aneh, di ajang pertemuan para penulis, panggung besar malah diberikan kepada Fatin, seorang penyanyi jebolan ajang pencarian bakat. Bukan berarti saya menolak Fatin, namun di ajang yang mempertemukan para penulis, Seno harus diperlakukan seperti raja yang harusnya berbagi kiat-kiat menulis serta menggoreskan pedang kata di kanvas aksara.

Saya juga memikirkan hal lain. Apakah ini gejala kalau kita meminggirkan sastra yang sejatinya memanusiakan kita semua? Ataukah kita lebih terpukau dengan hal-hal glamour dan penuh riuh tawa, lalu mengabaikan suasana sublim, reflektif, serta kejernihan yang justru menjadi sahabat karib para penulis? Atau bisa juga ini pertanda kalau minat baca, minat menjelajah di dunia kata, ataupun hasrat mengenali para penulis besar di tanah air semakin terikis perlahan-lahan. Jika fenomena ini benar, boleh jadi, Seno akan menjadi museum yang hanya dikenang sedikit orang. Entah.

Apapun itu, di mata saya, Seno Gumira Ajidarma adalah dewa. Ia adalah panutan bagi dunia sastra dan dunia kepenulisan tanah air. Dahulu, saya sempat bersedih karena tak sempat berpose dengan pengarang Pramoedya. Namun rasa sedih itu sedikit terobati karena telah berpose dengan Seno, berjabat tangan dengannya, serta berbincang dengan lelaki yang kharismanya seperti seorang pendekar senior di jagad persilatan. Dengan rambut putihnya, ia seperti seorang suhu di rimba kepenulisan. Ia serupa Pendekar Tanpa Nama, seorang pendekar tak terkalahkan dalam kisah Naga Bumi yang ditulisnya.


Jakarta, 13 Desember 2015

Berbagai Tanya di Masjid Keramat



BERKUNJUNG ke makam mereka yang dikeramatkan selalu memberikan sensasi tersendiri. Saya merasakan ada energi kuat yang pancarannya masih terasa, menggerakkan ribuan orang untuk berziarah, serta menjaga satu komunitas agar tetap hangat, meskipun nyala api yang menyatukan mereka telah menjadi kisah yang dituturkan dengan bibir bergetar.

Kemarin, saya berkunjung ke Masjid Noer Alatas di kawasan Empang, Kota Bogor. Masjid ini sering disebut masjid keramat di Empang, Bogor. Di belakangnya, terdapat makam Al Habib Abdullah bin Mukhsin Alatas, seorang warga Yaman yang datang ke Bogor pada tahun 1828. Beliau seorang penyebar dan pengamal Islam yang amat dicintai warga sekitar. Sampai-sampai, puuhan tahun setelah kematiannya, ia tetap dikunjungi dan didoakan. Energinya masih terasa. Bahkan mereka yang tak mengenalnya, datang melepas rindu, sekaligus menyerap kembali ilmunya yang dilantunkan para murid.

Para habib, yang merupakan keturunan rasul, sering datang berkunjung. Para pengikut habib juga datang sehingga masjid itu semarak dengan doa yang selalu dikumandangkan. Di sekitar masjid, bisa saya saksikan bagaimana komunitas Arab membuka lapak-lapak, dan menjajakan kurma, tasbih, pewangi, serta kuliner khas Timur Tengah. Kampung itu menjadi kampung Arab.

Kata seorang sahabat, para habib berdoa di masjid ini dengan tangisan yang dikeraskan. Air mata mereka menetes-netes saat menyebut nama Tuhan. Saya membayangkan kecintaan yang begitu dahsyat. Saya membayangkan kerinduan yang amat sangat untuk bertemu dengan Sang Pencipta, mereguk nikmatnya pertemuan, kemudian mencerahkan batin, lalu mengisi kehidupan sebagai pribadi yang penuh makna.


Add caption

Tentu saja, saya tak sanggup untuk berdoa dengan air mata menetes. Saya rasa, berdoa di level itu membutuhkan sikap melepaskan semua kenikmatan dunia, demi membiarkan udara spiritual merasuk dan memenuhi jiwa. Barangkali hanya mereka yang lembut dan menyirami batinnya dengan kecintaan yang bisa melakukannya. Saya adalah seorang pendosa yang hanya bisa berkunjung dan menyaksikan para manusia setengah awliya sedang berdoa dan meratapi dunia yang serupa belenggu bagi seluruh manusia.

“Kamu dari mana?” Seorang bapak yang penampilannya serupa pengemis tba-tba bertanya.
“Saya dari jauh, Kebetulan saja tinggal di kota ini.” Jawab saya.
“Saya mendoakanmu supaya kamu selalu selamat dan jadi orang besar,” katanya.

Dia lalu berdoa. Saya pun memejamkan mata. Setelah doa selesai, tangannya terbuka diacungkan ke saya sebagai tanda sedang meminta sesuatu. Saya sempat tak paham, sebelum akhirnya memasukkan tangan ke dalam dompet lalu mengeluarkan beberapa lembar ribuan. Pepatah tak ada sesuatu yang gratis berlaku juga di sini. Bapak itu rupanya mendoakan saya demi beberapa lembar sedekah. Untung saja, saya punya sesuatu. Andai tak punya, entah apa yang akan dikatakannya.

Apapun itu, saya agak sedih dengan perilaku mengemis itu. Jika ia mengklaim dan meyakini doanya bisa menghadirkan rezeki dan nasib baik untuk saya, mengapa dia tidak mendoakan dulu dirinya sehingga tidak perlu mengemis di tempat itu dengan bibir bergetar karena menyebut nama-Nya? Mengapa ia tak meminta langit membukakan pintu rezeki untuknya sehingga tak perlu melakukannya demi gemerincing koin rupiah?

Ah, andai saja Habib Abdullah bin Mukhsin Alatas bisa bangkit dari kuburnya, apakah gerangan yang akan dikataannya? Jika ia melihat masjid yang didirikannya dipenuhi para peziarah, serta warga yang menadahkan tangan demi sedekah, apakah gerangan reaksinya? Apakah ia akan segera terdiam mengingat nilai-nilai yang diajarkannya? Ataukah ia akan seperti Muhammad Yunus di Bangladesh sana yang lalu membumikan indahnya agama dalam sikap berbagi pada sesama, membantu yang miskin dan papa, atau menolong mereka yang membutuhkan bantuan.

beberapa foto Habib
pedagang di masjid

pewangi dan tasbih yang dijajakan

Tanggung jawab besar yang harusnya diemban setiap Muslim adalah bagaimana menjadikan indahnya Islam sebagai sukma yang menggerakkan komunitas, membangun rumah perekenomian yang kokoh, menguatkan sendi-sendiri kemandirian umat di segala level kehidupan. Harusnya umat tak hanya menangis saat berdoa, tapi juga meratap saat melihat saudaranya masih terjerat kemiskinan, lalu mencari cara untuk mengatasinya dengan bergotong-royong daam spirit religiusitas.

Harusnya umat menjadi umat paling unggul, bukan unggul dalam hal jumlah, tapi kualitas kehidupan yang mencakup kemandirian ekonomi, kekuatan secara politik, serta bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam yang ada di sekitar. Harusnya umat Islam bisa memberikan bahagia bagi semua orang, mengelola alam dan seisinya sebagai warisan bagi umat mendatang, membangun peradaban yang penuh kedamaian, kebahagiaan, serta diikat oleh ilmu pengetahuan yang mencintai semua aspek kemanusiaan.

Bisakah Islam mengentaskan semua ketidakberdayaan, mengubah barisan umat menjadi parade para dermawan yang memiliki kepedulian untuk membangkitkan sesamanya demi masa kini dan masa depan yang sama-sama indah? Bisakah umat memiliki gerak bersama, tidak menindas sesama, teguh seperti karang saat ditawari segepok uang hasil korupsi, serta menyebar kebaikan dalam setiap inchi kehidupannya? Bisakah agama menjadi nilai-nilai untuk menjaga manusia agar tidak tamak dan serakah pada sesamanya, menjadi cahaya yang menerangi banyak orang di sekitarnya?

“Om, bisa minta sodakoh?” beberapa anak berbaju kotor datang mengerubungi saya. Kali ini saya tak bisa berkata apa-apa. Ada banyak getir di hati saya.


Bogor, 25 Desember 2015



Star Wars, Agama Baru, dan Filsafat Para Rasul




FILM Star Wars: The Force Awakens benar-benar melampaui ekspektasi saya. Baik cerita maupun konflik yang disajikan membuat saya seakan tak berkedip di bioskop. Yang saya temukan dalam film ini adalah betapa kuatnya elemen-elemen nostalgia atas kisah yang telah menumbuhkan banyak generasi penggemar. Saya serasa bertualang kembali ke kisah Star Wars edisi klasik, yang dimulai dari A New Hope hingga Return of the Jedi.

Dalam kisah terbaru, beberapa sosok dihadirkan kembali demi memuaskan dahaga serta rasa penasaran atas sosok-sosok yang merupakan hero ataupun jagoan abadi dari era “a long time ago in a galaxy far, far away.” Saya kembali bersua dengan Han Solo, Princess Leia (yang kini sudah jadi jenderal), serta Luke Skywalker, yang telah menjadi rahib dan mengasingkan diri.

Satu hal yang membuat saya senantiasa tercenung adalah betapa kisah lintas galaksi ini menjadi satu kisah yang menghidupkan. Biarpun film ini hanya dua jam, tapi banyak hal yang lalu hidup di dunia nyata. Di antaranya adalah keyakinan pada The Force sebagai kekuatan atau energi utama yang menggerakkan semesta, serta kehadiran para ksatria Jedi yang menjadi para rasulnya. Saya juga menemukan sinkretisme beberapa aliran dalam filsafat timur di film ini. Tak heran, agama baru yang disebut Jediism ini telah dianut hingga jutaan orang, lalu secara perlahan mengancam agama-agama lainnya.

***

“Remember! The Force will be with you. Always!”

Kalimat itu keluar dari bibir Obi Wan Kenobi kepada Luke Skywalker dalam kisah Star Wars: A New Hope. Saya masih mengingat persis kalimat ini sebab diulang beberapa kali. Bagi para penggemar Star Wars sama paham kalau The Force diyakini sebagai energi yang menyatukan seluruh semesta. The Force menjadi kekuatan yang maha besar, di mana semua mahluk menyerap kekuatan itu untuk dirinya.

Dalam film, para ksatria Jedi ibarat para rasul yang bertugas untuk menjaga keseimbangan alam semesta. Tugas para Jedi adalah membela galaksi dari para mahluk jahat yang berada di kubu The Dark Side. Dialektika antara Jedi dan pengikut The Dark Side adalah jantung kisah Star Wars, yang kemudian diletakkan dalam kisah pergaulan antar galaksi. Di situ ada banyak kisah, peradaban, serta banyak narasi, yang dikemas dalam tontonan ala Hollywood.

Yang tak saya duga, ternyata kisah dalam film Star Wars ini tak berhenti ketika komposer John Williams menghentak di akhir film, saat barisan nama pembuat film naik ke layar. Para penonton membawa nilai-nilai dalam film itu keluar bioskop, lalu meyakininya sebagai sesuatu yang hidup hingga akhirnya menjadi agama. Di Inggris, mereka yang meyakini The Force lalu membentuk agama baru yang disebut Jediism sejak tahun 2001 silam. Saat itu kurang lebih 390 ribu orang mendeklarasikan Jedi sebagai agama mereka. Sementara Gereja Jediism (The Church of Jediism) telah didirikan pada 2007 di Anglesey, North Wales, Inggris dan kini sudah memiliki enam cabang di seluruh dunia.

Di satu media, saya temukan fakta bahwa seiring dengan pemutaran film Star Wars: The Force Awaken, jumlah pengikut agama baru ini bertambah hingga 250 ribu orang. Mingguan The Telegraph mewawancarai Patrick Day-Childs, salah satu dari penggiat Gereja Jedi di Inggris yang menyatakan, "Pendaftar baru meningkat substansial dalam beberapa hari terakhir. Ujian sesungguhnya akan muncul beberapa pekan lagi saat kemeriahan film nantinya memudar."

Dalam wawancara itu, Patrick juga menjelaskan beberapa hal penting tentang Jediism yang dianutnya. Di antaranya adalah ritual, sikap mental, serta apa yangharus dilakukan. Ia juga menjelaskan sesuatu yang dalam ranah filsafat disebut sebagai eskatologis, keyakinan akan hari akhir. Hal-hal semacam ini selalu ditemukan dalam berbagai agama. Ia menjelaskan:

“Ada aturan Jedi yang kami ikuti dan praktikkan setiap hari; emosional tapi damai; ketidaktahuan tapi berpengetahuan; gairah tapi tentram; kacau tapi harmonis; dan kematian tapi Force. Kami percaya bila Anda mati, Anda memberikan jiwa Anda kepada Force; dalam arti Anda telah meninggalkan jejak di dunia ini dan semua orang akan mengingat Anda, dengan baik atau buruk. Kami sangat menyambut orang yang menganut dua kepercayaan, seperti Jedi Muslim atau Jedi Buddha.”

Tak cukup sampai di situ. Otoritas keagamaan Turki mengeluarkan peringatan tentang bahaya penyebaran agama Jediisme yang dipelopori para ksatria Jedi dalam film Star Wars. Dalam majalah bulanan Hurriyet Daily News, Profesor Bilal Yorulmaz, atas nama pemerintah Turki, mengeluarkan pernyataan menarik. “Jediisme menyebar saat ini dalam masyarakat Kristen. Sekitar 70.000 orang di Australia dan 390.000 orang di Inggris saat ini mendefinisikan diri mereka sebagai Jedi.”

Hal ini diperkuat dengan adanya doktrin resmi kitab suci, yang menuliskan perihal catatan Gereja Jedi di situsnya bahwa “mengakui semua makhluk hidup saling berbagi kekuatan hidup dan bahwa semua orang memiliki pengetahuan bawaan tentang apa yang benar dan salah, dan Gereja Jedi merayakan ini tidak seperti yang agama lain lakukan.”

***

JIKA ditinjau secara filosofis, beberapa elemen keyakinan dalam kisah Star Wars sejatinya merupakan sintesis dari berbagai tradisi pemikiran di timur dan barat, di antaranya adalah Bushido, Zen, Taoisme, serta Buddhism, yang kemudian bersintesa dengan tradisi ksatria ala Eropa abad pertengahan. Dalam tulisan “Jedi Philosophy”, Chris Sunami menyebutkan tiga tradisi utama yang bisa ditemukan dalam kisah Star Wars adalah Taoisme, Buddhisme, dan Zoroasterianisme. Ketiganya merupakan filsafat timur yang hingga kini masih memiliki penganut setia. Ketiga unsur ini bisa ditemukan dalam dialog para ksatria Jedi, kepercayaan yang dianut Anakin Skywalker yang menyeberang ke sisi jahat (the dark side) demi menyeimbangkan kehidupan, serta terselip dalam kearifan berbagai mahluk dalam film.

poster film Star Wars: The Force Awaken

Unsur pertama adalah Taoisme. Tao merupakan bagian dari filsafat Cina klasik yang bermakna “Jalan” (the way) atau “Jalan Alamiah” (the way of nature). Ada dua tujuan utama Tao yakni mencapai keseimbangan dan harmoni bersama semesta serta mahluk hidup lainnya. Penganut Tao percaya terhadap adanya realitas sempurna (ultimate reality) sebagai energi utama.

Energi ini termanifestasi di alam dunia melalui dua kekuatan yang setara dan saling berhadapan, yang disebut unsur “Yin” atau kekuatan feminimitas dan unsur “Yang” yang merupakan representasi dari maskulinitas. Dua unsur ini selalu berdialektika demi menggapai keseimbangan. Dalam unsur baik, terdapat unsur buruk, demikian pula sebaliknya.

Ketegangan antara Yin dan Yang akan menghasilkan “qi” (seringkali dilafalkan sebagai “chi”). Qi bisa ditemukan di dalam semua aspek, khususnya organisme hidup. Pemahaman atas qi adalah akar dari berbagai praktik Cina tradisional, termasuk akunpuntur, feng shui, dan tai chi. Mengacu pada beberapa legenda, keadaan qi yang selalu mengalir menghadirkan kekuatan mistik bagi seorang master.

Kekuatan ini sama persis dengan kekuatan yang dimiliki oleh para ksatria Jedi, termasuk kemampuan untuk memindahkan obyek dengan pikiran. Dalam film Star Wars, nama master Qui-Gon Jin (guru dari Obi Wan Kenobi) diduga beradal dari kata “Qi Gong” yang merupakan sebutan bagi para master atau pengendali qi.

Belakangan, sejak Tao dianggap sebagai aliran filosofis, keyakinan ini kera disandingkan dengan beberapa ajaran agama, misalnya Buddha dan Kristen. Akan tetapi, wacana ini juga ditemukan dalam Islam, steidaknya ada persesuaiannya. Saya membacanya pada buku Tao of Islam yang ditulis Sachiko Murata. Buku lain yang juga menjelaskan ini adalah Taoism yang dikarang Toshihiko Izutsu yang isinya adalah pemikiran Ibnu Arabi dan Jalaluddin Rumi yang disintesiskan dengan pemikiran filsafat Cina.

Unsur kedua dalam keyakinan para Jedi adalah Buddhism, khususnya Zen, satu varian yang banyak ditemukan di Jepang. Sebagaimana airan Buddha lainnya, penganut Zen mempraktikkkan ajaran untuk tidak tergantung pada banyak hal. Penganut zen melepaskan semua ikatan emosional ke orang, tempat-tempat, dan banyak hal lainnya. Mereka meyakini bahwa ha-hal tersebut akan membuat seseorang kehilangan bahagia serta memantek langkahnya. Tujuan utama adalah menggapai keadaan individualis serta kemerdekaan dari segala ikatan emosi sehongga seseorang hanya memikirkan semesta.

Dalam film Star Wars, para ksatria Jedi dikisahkan memilih jalan hidup serupa biksu yang asketik (melepaskan diri dari dunia) serta selibat (tidak menikah). Pada titik tertentu, para biksu Zen dikenal mengembangkan kemampuan khusus yang membuat mereka memiliki kekuatan super.

Unsur ketiga dalam film ini adalah Zoroasterianisme, satu keyakinan dalam Persia kuno yang melihat dunia sebagai pertarungan abadi antara kekuatan baik dan kekuatan jahat. Walaupun Zoroaster hanya dianut sedikit orang, tapi pahaman filosofis ini bisa ditemukan dalam berbagai agama, termasuk pada keyakinan beberapa agama samawi yang percaya pada setan sebagai pemilik “jalan kegelapan” yang berhadapan dengan para rasul atau para dewa yang berada di jalan terang.

Seingat saya, kisah dialektika ini ada dalam semua agama. Dalam satu publikasinya, sosiolog asal Iran, Ali Syari’ati, pernah bercerita tentang dialektika Qabil dan Habil sebagai awal dari perseteruan antara dua sisi kemanusiaan. Qabil dan Habil adalah putra-putra Adam yang tercatat dalam kitab sebagai peseteruan pertama, sehingga satu di antaranya tewas. Keduanya mewakili dua pandangan dunia yang saling berhadapan, saling mempengaruhi, serta saling berkonfrontasi. Dua pandangan inilah yang lalu diwariskan ke dalam berbagai peradaban.

Terakhir, filsafat Jedi bisa diasosiasikan dengan tatanan para ksatria di abad pertengahan Eropa yang menjalankan code of ethics yang mencakup aturan berperang,  standar tinggi kehormatan, dan nilai-nilai kependekaran (warrior virtue) yang mencakup kehormatan, loyalitas, keberanian, serta pancaran cinta kasih.

Memang, fundasi bagi agama Jedi ini justru berakar pada bebrapa tradisi dan filsafat. Semua tradisi itu bisa didamaikan dalam Jediisme. Padahal, di aras pemikiran, terdapat perbedaan prinsip di antara masing-masing tradis tersebut. Tapi semuanya memiliki elemen yang sama; (1) keyakinan tentang aam semesta yang selalu mengalir, (2) kepercayaan tentang unsur baik dan unsur jahat yang selalu bergerak, (3) keyakinan tentang adanya jalan terang yang bsa digapai melalui para ksatria Jedi.

Hal lain yang juga menarik buat saya adalah bagaimana nilai-nilai dalam keyakinan baru ini tersebar melalui sebuah film. Bayangkan, film menjadi satu medium yang menggugah banyak orang untuk menemukan alternatif dari kekosongan nilai masyarakat modern. Bayangkan, bahasan film yang sedemikian singkat dan sederhana bisa diolah menjadi luas dan sarat makna. Film itu memantik satu diskusi filosofis yang mendalam, munculnya sekte atau aliran tertentu, munculnya komunitas yang selalu bertemu sembari memakai pakaian para ksatria Jedi, lalu saling belajar dan menginspirasi. Maka lahirlah agama baru.

Tapi Jika dilihat secara substansial, tak banyak perbedaan antara film dengan lahirnya agama-agama besar dunia, yang kebanyakan bermula dari narasi seseorang yang memiliki kekuatan dahsyat. Bagi orang Yahudi, kisah tentang agama menjadi sedemikian bertenaga saat Musa mengisahkan tentang dunia langit serta betapa berkuasanya Yahwe sebagai pencipta. Narasi tentang keperkasaan langit itu semakin kuat tatkala Musa membelah lautan, sesuatu yang dianggap sebagai adi-kodrati serta melampaui batas kemampuan manusia biasa.

Artinya, baik film dan narasi sama-sama memiiki benang merah yakni keyakinan tentang sesuatu yang melampaui manusia, sesuatu yang berada di luar nalar dan membentuk semesta, sesuatu yang luar biasa, sesuatu yang maha dan melingkupi sesuatu. Artinya, keadaran akan ketuhanan itu selalu ada dalam diri setiap manusia, yang lalu menggerakkan semua orang untuk menemukannya.

Nah, dalam proses penemuan aspek ketuhanan, yang sejatinya ada dalam diri itu, orang-orang akan melakukan komparasi terhapap apa yang dilihatnya. Saat agama resmi dipandang hanya menjadi sumber konflik dan pertentangan, dianggap sebagai sumber keresahan dan hidup yang nestapa, manusia akan berpaling pada nilai-nilai lain yang menyentuh hatinya dan diyakini bisa menjadi jalan terang keselamatan. Pada titik ini, kisah Star Wars menjadi inspirasi yang bsia menggerakkan seseorang.

Mengapa mencari keyakinan baru? Boleh jadi, ini dikarenakan tekanan hidup serta tiadanya jawaban dari agama-agama resmi atas problem kehidupan dan upaya untuk mengatasinya. Kita bisa mengajukan banyak hipotesis untuk menjawabnya. Fenomena agama baru jelas menunjukkan tumbuhnya religiusitas dan jiwa-jiwa yang senantiasa ingin menemukan kebenaran, namun tidak menemukan janji keselamatan pada agama-agama tradisional yang terlanjur ada.

Ternyata ada sesuatu dalam diri manusia yang mengidealisasi kesempurnaan dalam keyakinan-keyakinan serta kepercayaan yang datang, meskipun keyakinan itu disaksikannya hanya dalam film seperti Star Wars.


Saya teringat sosiolog Emile Durkheim pernah mengamati agama suku Aborigin di Australia. Dalam buku The Elementary Forms of the Religious Life, Durkheim menemukan aspek penting dalam agama yakni pemisahan antara dunia—akhirat dan pembedaan antara hal-hal yang suci (sacred) dan hal yang nyata (profane).

Yang saya tangkap dari situ adalah apa yang disebut agama berpulang pada tafsir yang menyejarah pada diri seorang individu. Saya teringat filsuf Ludwig Wittgenstein yang mengatakan bahwa ada satu dimensi dalam agama yang sukar dijelaskan yakni kepercayaan dan keyakinan. Aspek ini tak melulu lahir dari rasionalitas atau ikhtiar menemukan kebenaran.

Anda bisa menertawakan penganut agama Jedi yang menuhankan apa yang disebut dalam film Star Wars. Tapi, anda tak akan pernah bisa memahami logika berpikir tersebut, sebelum anda menjadi penikmat Star Wars, merasuk dalam pemikiran penganutnya, dan merasakan betapa The Force mengatur alam semesta. Kita hanya bisa berempati, tanpa memahami persis sebab terhalangi batas rasionalitas yang sebagai konsepsi yang memandu cara berpikir kita sendiri.

Dan apa yang disaksikan dalam Star Wars adalah jalan keselamatan yang sengaja dipilih sejumlah demi menentramkan hati, menguatkan keyakinan bahwa di tengah masalah seberat apapun, Tuhan selalu menemani. Para penganutnya percaya bahwa Mereka yakin bahwa Tuhan tak pernah meninggalkan mereka sebab Tuhan berdiam dalam hati.

 “May the force be with you. Always!”


Bogor, 23 Desember 2015

BACA JUGA:







Lelaki di Pulau Kodingareng Lompo


suasana di Pulau Kodingareng

MESKIPUN Kahar, lelaki asal Pulau Kodingareng, Makassar, tidak pernah mengenyam bangku pendidikan formal, ia sanggup mengelola desalinator air laut yang merupakan bantuan pemerintah. Pada dirinya terdapat kisah tentang semangat untuk terus belajar serta membangun jaringan dengan masyarakat. Inilah kisah tentang hal-hal baik dari program pendampingan masyarakat. Siapa bilang masyarakat kita bodoh?

***

LELAKI itu memperlihatkan sebuah buku yang kertasnya agak kumal. Di situ, terdapat tulisan nama beberapa warga desa, serta tabel-tabel. Katanya, tabel itu berisikan nama-nama mereka yang mengambil air galon. Ia menyusun pembukuan, mencatat semua pengeluaran, lalu menghitung keuntungan bulanan.

Lelaki itu bernama Kahar. Ia bekerja sebagai salah seorang pengelola sarana desalinator air laut di Pulau Kodingareng, Makassar. Katanya, sejak alat itu dioperasikan, ia mencatat dengan rapi semua transaksi pembelian air. Bahkan, ia juga masih menyimpan catatan ketika alat desalinator pertama kali difungsikan di pulau kecil yang didiaminya.

Mulanya kami tak percaya. Ia lalu masuk rumah, lalu keluar sambil membawa tumpukan kertas kumal. Ia tersenyum saat menunjukkan transaksi yang terjadi, serta ke mana saja sisa uang dibelanjakan. Kertas-kertas kumal itu masih bisa dibaca dengan jelas. Di situ tertera tulisan “air galon ketika dijual di tempat.” Maksudnya, siapa saja bisa membeli air galon di dekat desalinator. Tulisannya adalah tulisan bersambung yang amat mudah dibaca. Ia mencatat siapa saja yang melakukan transaksi pada hari tertentu. Catatan itu menjadi jejak sejarah tentang proses belanja pada satu masa.

Berkat catatan kumal itu, ia bisa mempertanggungjawabkan proses pembelian sebuah sepeda motor yang kemudian berguna untuk mengantarkan galon ke seantero pulau. Wawasan bisnisnya cukup baik. Ia sudah bisa memperkirakan seberapa banyak keuntungan yang didapatkan selama setahun.

“Saya sudah bisa perkirakan berapa galon yang habis dalam satu hari. Makanya, saya sudah bisa hitung berapa keuntungan bulanan,” katanya ketika ditanya tentang prediksi keuntungan.

Uniknya, ia tidak pernah mendapatkan pendidikan akutansi atau pengelolaan keuangan. Sekolahnya hanya sampai level sekolah menengah di pulau itu. Akan tetapi ia bisa mengelola alat desalinator, yang anggotanya puluhan orang. Ia belajar keuangan, tanpa belajar ilmu keuangan di sekolah formal. Ia punya kapasitas memimpin, walaupun ia tidak belajar khusus tentang ilmu kepemimpinan.

Selalu saja ada banyak hal mencengangkan ketika di lapangan. Mereka yang dihinggapi bias kota akan menganggap bahwa orang-orang desa ataupun orang-orang pulau tak memahami bagaimana membangun sistem keuangan dan perencanaan. Akan tetapi, Kahar menunjukkan bahwa kerapihan sistem keuangan adalah bagian dari habit yang bisa diasah dan dikembangkan. Buktinya, ia bisa menata keuangan dengan sangat rapi.

***

Kahar menjalin relasi dengan banyak pihak. Di level komunitas, ia menggerakkan kelompok masyarakat dan senantiasa berhubungan dengan para pengelola Destructive Fishing Watch (DFW), pendamping, dan pemerintah. Ia bertanggungjawab atas pengelolaan sarana dan prasarana di pulau kecil yang dimaksudkan untuk menjamin kesejahteraan masyarakat. Terkait hal itu, ia mebangun konsep perencanaan dan pemanfaatan sarana dan prasarana secara berkelanjutan. Perencanaan yang dimaksud adalah proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan saat proses tersebut dilakukan dan memberi manfaat pada waktu yang akan datang.

Catatan yang dibuat Kahar

Sehubungan dengan aktifitas pendampingan fasilitator sarana dan prasarana di beberapa pulau pulau kecil maka konsep pengelolaan dimaksud yaitu sedapat mungkin melakukan fasilitasi mulai dari tahap perencanaan (action plan) sampai pada tahap implementasi pelaksanaan dan pasca pendampingan dilakukan. Makanya, pengelolaan sarana dan prasarana mengakomodir dan mengedepankan kepentingan masyarakat sebagai penerima manfaat program efektifitas sarana dan prasarana di pulau pulau kecil berbasis masyarakat.

Makanya,  proses dan pelibatan masyarakat adalah merupakan kunci dalam setiap tahapan pengelolan sarana dan prasarana mengingat kegiatan pemikiran, ide-ide dan perumusan tindakan-tindakan dapat memberikan manfaat di masa yang akan datang, baik berkaitan dengan kegiatan-kegiatan operasional dalam pengadaan, pengelolaan, penggunaan, pengorganisasian, maupun pengendalian sarana dan prasarana.

Pengelolaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana di pulau kecil merupakan bagian dari fungsi manajemen yang harus dilaksanakan oleh kelompok pengelola bersama sama pemerintah daerah setempat. Berkaitan dengan hal itu, maka dalam proses pengelolaan diperlukan adanya kontrol yang baik dan menyeluruh.

Pengelolaan berbasis masyarakat itu merupakan upaya untuk menjawab kebutuhan infrastruktur dasar di pulau kecil. Dengan demikian, pengelolaan itu diharapkan bisa memberikan jawaban atas persoalan yang dihadapi seperti minimnya sarana air bersih, sanitasi yang buruk dan permasalahan lainnya. Pemeliharaan terhadap sarana dan prasarana air bersih dan minawisata merupakan aktivitas yang harus dijalankan untuk menjaga agar kondisi peralatan tetap terawat sehingga pemanfaatannya dapat berkelanjutan dan kebutuhan dasar di pulau pulau kecil secara bertahap dapat terpenuhi dengan memberikan contoh dan implementasi pengelolaan yang baik, termanfaatkan dan berkelanjutan.

Tujuan pengelolaan sarana dan prasarana itu sendiri adalah; (1) meningkatkan jumlah penerima manfaat dari adanya sarana dan prasarana di pulau pulau kecil melalui desalinasi air dan minawisata, (2) menciptakan dan mengidentifikasi usaha ekonomi produktif di pulau pulau kecil dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat pemanfaat setelah adanya sarana dan prasarana, (3) menciptakan kemandirian ditingkat masyarakat khususnya kelompok pengelola yang diberi mandat oleh masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sarana dan prasarana, (4) menciptakan peluang dan kerjasama kemitraan kelompok pengelola dengan berbagai pihak dalam mendukung usaha ekonomi produktif di pulau pulau kecil dan (5) menciptakan kemandirian kelompok pengelola dalam melakukan kontrol terhadap administrasi organisasi, pembukuan dan teknis terhadap sarana dan prasarana desalinasi dan minawisata.

***

KISAH Kahar yang sukses sebagai pengelola bisa mendatangkan banyak inspirasi. Namun, setiap kali ditanya tentang kisah suksesnya, ia selalu mengelak. Baginya, apa yang didapatnya adalah buah dari kerja keras semua anggotanya. Sebagaimana dikatakannya,  sarana dan prasarana di Kota Makassar khususnya desalinator air bersih di Pulau Kodingareng Lompo dan Minawisata di Pulau Samalona sangat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat setempat termasuk pulau-pulau di sekitarnya.

Kahar di Pulau Kodingareng

Fasilitator di Makassar mengakui kalau selama kegiatan pendampingan dilaksanakan dalam kurun waktu periode Februari – September 2014 kelompok pengelola sudah terbentuk sebelumnya dan telah ditetapkan melalui SK Dinas Kelautan Kota Makassar. Fokus utama fasilitator di awal kegiatan pendampingan adalah melakukan penguatan kelompok yang telah dibentuk tersebut. Hal ini dilakukan dan dirasakan sangat perlu mengingat dalam aspek pengelolaan terkait sarana dan prasarana yang telah tersedia bisa difungsikan secara maksimal, manfaatnya dirasakan oleh masyarakat secara baik, peran dan fungsi anggota kelompok masyarakat pengelola berjalan efisien dan efektif, serta terpeliharanya sarana dan prasarana sehingga pemanfaatannya dapat berkelanjutan.       
Merujuk pada tugas utama tersebut maka aspek kelembagaan kelompok masyarakat menjadi hal yang mutlak dalam mengefektifkan sarana dan prasarana berbasis masyarakat dipulau pulau kecil. Untuk itu peran kelompok masyarakat pengelola dalam melakukan pengelolaan terhadap sarana dan prasarana desalinasi air bersih dan minawisata yang telah disediakan oleh pemerintah pusat sedapat mungkin dapat dimanfaatkan secara maksimal dan seefisien mungkin sehingga membawa manfaat bagi masyarakat.

Kahar bercerita singkat tentang beberapa keberhasilan pendampingan di Pulau Kodingareng Lompo. Pertama, adanya pembarahuan laporan pembukuan kelompok desalinasi yang dapat di pantau secara periodik serta terciptanya kontrol yang baku. Ia telah menunjukkan keberhasilan itu melalui pembukuan yang rapi dan teratur.

Kedua, adanya petunjuk yang real terkait laporan pembukuan kelompok terhadap pengelolaan sarana dan prasarana baik dari aspek produksi air maupun hasil penjualan dan operasional yang nantinya dapat di pertanggung jawabkan oleh kelompok pengelola dan pemerintah desa/ kelurahan. Aspek akuntabilitas ini bisa dipenuhi seiring dengan rapinya administrasi.

Ketiga, terealisasinya laporan kelompok pengelola desalinasi air ke Dinas Kelautan Kota Makassar sebagi bentuk kontrol pengawasan dan asistensi bagi dinas kelautan kota makassar untuk melakukan evaluasi serta mengetahui perkembangan program air bersih di Pulau Kodingareng Lompo. “Kami secara rutin melaporkan semua perkembangan,” katanya.

Keempat, terealisasinya alat transportasi (kendaraan roda dua) untuk membantu pendistribusian air bersih kemasan galon ke rumah warga masyarakat yang membutuhkan. Saat kami berkunjung ke Pulau Kodingareng Lompo, alat roda dua itu digunakan untuk mengantarkan air galon ke rumah-rumah penduduk.

dermaga di Pulau Kodingareng

Kelima, meningkatnya pemahaman anggota kelompok dan aparat kelurahan akan pentingnya sarana dan prasarana air bersih di Pulau Kodingareng Lompo bagi masyarakat umum dan oleh karenanya untuk efektifitas dan keberlanjutannya kelompok pengelola dan aparat kelurahan bersama - sama melakukan pemeliharaan sebagai aset penting yang perlu dikembangkan.

Keenam, peningkatan jumlah pemanfaat di lokasi program setelah dilakukan pendampingan. Kondisi ini dirasakan manfaatnya oleh kelompok masyarakat pengelola dalam mengoptimalkan pelayanan kepada masyarakat pemanfaat termasuk masyarakat kurang mampu. Dengan demikian dalam melakukan pengelolaan kelompok masyarakat pengelola menyadari pentingnya penambahan anggota dalam membantu pendistribusian air bersih sampai ke tingkat masyarakat dengan meningkatkan bentuk pelayanan yang baik dan memuaskan konsumen.

Proses pendampingan di Makassar mencatat banyak kisah sukses. Pulau-pulau yang menjadi lokasi dampingan mencatat kemajuan signifikan ketika menerapkan berbagai masukan dalam proses pendampingan. Salah satu yang nampak di depan mata adalah meningkatnya jumlah kunjungan wisatwan ke Pulau Samalona, khususnya setelah adanya sarana dan prasarana minawisata. Kondisi ini memberi dampak terhadap peningkatan jumlah pendapatan masyarakat di pulau tersebut. Selain itu, keberadaan jetty apung juga menjadi daya tarik tersendiri bagi semua wisatawan.

Keberhasilan itu juga terlihat dari adanya sambutan positif dari aparat Pemerintah Kecamatan Mariso sehubungan berjalan dan terlaksananya program pendampingan dan bantuan sarana dan prasarana di Pulau Samalona. Mereka senantiasa berkunjung ke lokasi dan berdiskusi dengan masyarakat mengenai pelaksanaan program.

Terakhir, hal yang paling membahagiakan adalah berjalannya konsep pengembangan minawisata di Pulau Samalona, yakni berperan sebagai budidaya yang dilakukan oleh kelompok pengelola bersama masyarakat setempat dan wisata pemancingan bagi wisatawan yang berkunjung ke pulau ini.

Keberhasilan ini telah sampai ke pihak pemerintah daerah. Beberapa kali perwakilan pemerntah daerah datang dan menyatakan dukungan pada sarana dan prasarana serta pengelolaan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat pengelola di pulau-pulau. Melalui Dinas Kelautan Kota Makassar secara rutin telah melakukan pembinaan per triwulan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi. Selain itu kepada kelompok pengelola juga mendapat dana operasional melalui APBD Kota Makassar.


Desember 2015


Catatan:

Tulisan ini adalah bagian kecil dari buku Membangun Indonesia dari Pinggiran yang saya buat bersama Moh Abdi Suhufan dan Syofyan Hasan.
            
 

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...