Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Merenda Impian Melalui Desa Energi



Di tengah kekhawatiran banyak negara terhadap kelangkaan energi di masa mendatang, sejumlah anggota masyarakat telah menunjukkan langkah-langkah sederhana untuk menghadirkan energi sekaligus menjaga kesinambungannya. Jika saja api semangat mereka dipertahankan nyalanya, maka negeri ini bisa mandiri energi, sekaligus memiliki desa-desa yang berdaulat dalam hal energi.

***

ANAK muda itu mengambil korek gas lalu menyalakan tungku. Api biru langsung mencuat ke atas. Semua orang bertepuk tangan. Di tengah pedalaman Nusa Tenggara Timur (NTT), bumi yang dipenuhi ilalang dan pemandangan eksotik, nyala api biru itu disambut suka cita oleh warga tepian hutan. Betapa tidak, sumber api itu bukan berasal dari bahan minyak yang dibeli di kota. Sumbernya adalah di kampung tu sendiri, pada kotoran ternak yang dipelihara warga.

Anak muda yang memperkenalkan inovasi itu adalah anggota dari Geng Motor Imut. Jangan bayangkan mereka adalah geng motor yang suka membuat onar di malam hari. Imut adalah singkatan dari Aliansi Masyarakat Peduli Ternak. Anak-anak muda itu berkeliling kampung demi berbagi pengetahuan tentang peternakan.

Anak-anak muda yang merupakan alumni Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana itu memberikan beberapa inovasi. Selain memberikan petunjuk teknis bagaimana mengatasi masalah terkait ternak, mereka melakukan lompatan besar ketika berusaha mengatasi kebutuhan energi bagi warga desa.

Kita sama paham bahwa di kampung-kampung energi berbasis fosil amat susah dijangkau. Kalaupun ada, maka energi itu sangat mahal harganya. Nah, anak muda itu lalu mengajari warga bagaimana mengolah kotoran sapi sehingga menjadi bio-gas, yang kemudian menjadi sumber energi untuk masak serta penerangan.

Hebatnya, mereka membangun instalasi biogas dari bahan-bahan yang ada di sekitar masyarakat. Mereka menggunakan beberapa drum bekas oli, ban dalam bekas mobil, dan selang. Dengan menggunakan beberapa pipa, gas dari kotoran ternak itu dialirkan ke dapur-dapur warga, lalu sebagian dialirkan ke lampu-lampu listrik untuk memberikan energi terang.

“Niat kami adalah membantu masyarakat. Kami tak ingin membebani mereka. Makanya, bahan dan peralatan yang digunakan haruslah berasal dari sekitar mereka. Melalui inovasi, warga desa bisa mengatasi kebutuhan energi mereka,” kata Noverius Nggili, pimpinan anak-anak muda itu.

Sejak lama, bumi NTT dikenal sebagai basis peternak. Dahulu, NTT terkenal sebagai sentra produksi sapi. Wilayah ini pernah memasok semua kebutuhan daging ke seluruh penjuru tanah air. Sayangnya, belakangan, posisi sebagai sentra sapi itu mulai bergeser. Tak banyak lagi sapi yang dihasilkan di sini. Kalaupun ada, maka hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga.

Yang menarik, anak-anak muda itu kembali mengampanyekan pentingnya memelihara sapi. Di saat bersamaan, peternakan itu bisa pula menghasilkan energi melalui biogas. Jika dikembangkan secara kontinyu dan massif, maka kebutuhan energi di level desa akan terpenuhi.

Metode yang mereka tempuh terbilang sederhana. Bahan baku kotoran ternak melimpah dari babi, unggas, hingga sapi. Kesemua kotoran itu lalu disatukan dan ditambahi dnegan sedikit air. Dikarenakan banyak warga yang menolak untuk menyentuh kotoran ternak, maka itu diatasi dengan sepeda statis. Pemilik ternak tinggal mengayuh sepeda demi mencampur kotoran dengan air.

Cairan itu disimpan di satu drum. Pada hari ke-21, gas akan muncul, namun masih bercampur udara sehingga belum bisa digunakan. Pada hari ke-22, kotoran sudah menghasilkan gas murni sehingga bisa dipakai untuk memasak selama dua jam. Jika ditambah dengan ekstrak kotoran yang sdah dibersihkan, maka gas yang dihasilkan akan lebih banyak. Tak kurang akal, geng ini menciptakan tempat penampungan gas dengan memfungsikan ban dalam bekas mobil. Ban itu berfungsi sebagai lumbung gas bai warga.

Skala Massif

Ide yang dikembangkan ini terbilang sederhana dan bisa langsung diterapkan oleh masyarakat desa. Beberapa lembaga lalu mengeluarkan inovasi untuk mengembangkan berbagai kegunaan dari gas itu. Sebuah tim dari Surya University, yang dipimpin Prof Yohannes Surya, tengah mengembangkan biogas sebagai ganti bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Sungguh luar biasa. Tadinya biogas itu hanya untuk memenuhi kebutuhan masak dan penerangan, ternyata bisa pula dikembangkan menjadi bahan bakar untuk transportasi.

Sepintas, gagasan ini kelihatan biasa saja. Akan tetapi, gagasan ini sungguh luar biasa sebab bermaksud untuk menemukan solusi atas kebutuhan energi di level desa dan komunitas. Ikhtiar ini terbilang besar sebab memulai kerja-kerja untuk masa depan, di tengah situasi ketika pemerintah justru gagal menemukan solusi tepat untuk warganya.

Kita sama paham bahwa energi adalah kebutuhan mendasar semua bangsa. Energi adalah sesuatu yang bisa digunakan untuk membawa kemasalahatan bagi masyarakat. Sayangnya, energi sering pula menjadi alasan bagi banyak bangsa untuk larut dalam konflik yang berkepanjangan. Gara-gara energi, peperangan tersulut di banyak tempat.

Di tengah situasi global yang chaos karena perebutan energi, di banyak titik di tanah air, terdapat sejumlah figur yang berusaha untuk mengatasi keutuhan energi itu pada level yang lebih kecil. Mereka memperkenalkan biogas sebagai energi yang ramah lingkungan, serta berasal dari lingkungan sekitar.

Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana bisa menebarkan bibit-bibit gagasan bernas itu ke tempat lain agar kelak bisa tumbuh subur dan menyediakan pohon-pohon rindang bagi warga untuk menggantungkan diri. Tantangannya adalah bagaimana menyuntikkan kesadaran akan pentingnya menemukan solusi energi, sehingga yang muncul adalah sikap self-sustain atau keberanian untuk memenuhi kebutuhan sendiri, tanpa harus tergantung pada energi fosil yang didatangkan dari luar. Terkait hal ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.


Pertama, menyusun identifikasi di level desa. Harus ada sebuah pemetaan yang akurat tentang kondisi aktual, serta apa saja yang bisa dikembangkan. Jika di NTT, energi yang dikembangkan adalah biogas sebab terdapat banyak ternak di situ, maka harus ada identifikasi atas alternatif energi ditempat lain. Beberapa waktu lalu, saya membaca publikasi tentang pengembangan energi berbasis angin di Sumba, yang dilakukan oleh Ricky Elson, seorang peneliti yang lama bermukim di Jepang.

Kedua, mulai menggalang partisipasi warga. Rahap awal yang harus dilakukan adalah menggugah kesadaran warga tentang pentingnya sumberdaya energi. Kesadaran mereka harus dibangkitkan dan dinyalakan sehingga memberikan partisipasi. Harus ada upaya serius untuk meyakinkan mereka bahwa mengatasi kebutuhan energi adalah mengatasi kebutuhan di masa kini. Lewat upaya itu, mereka juga bisa mengatasi kebutuhan di masa depan.

Ketiga, membangun beberapa contoh yang bisa disaksikan warga. Demi membangun kesadaran, ada baiknya jiak warga diperlihatkan beberapa contoh yang bisa digunakan oleh mereka. Para praktisi pendidikan mengajarkan bahwa memberikan tauladan jauh lebih penting ketimbang memberikan setumpuk teori-teori.

Keempat, membangun kelembagaan di masyarakat. Faktor kelembagaan ini sangat penting agar warga bisa slaing bersinergi dan mengatur dirinya. Selain itu, harus ada lembaga yang bertanggungjawab atas pekerjaan itu. Kegagalan program pemerintah di banyak tempat dikarenakan tak adanya dukungan kelembagaan yang dibentuk warga desa.

Kelima, melakukan pengawasan yang efektif. Ketika pekerjaan itu bisa menghadirkan spirit bersama, maka semua warga akan merasakan pentingnya pekerjaan itu, yang kemudian berujung pada adanya hasrat untuk saling mengontrol dan mengawasi.

Memang, energi amatlah vital. Menghadirkan dan mengawasinya pun harus dilihat sebagai sesuatu yang vital. Ketika desa-desa bisa mandiri dalam hal energi, maka negeri ini akan memiliki aset yang sangat kuat. Ke depannya, negeri ini bisa mengatasi kebutuhan energi melalui tangan-tangan kreatif warganya untuk menciptakan desa mandiri energi, yang kemudian menyalakan seluruh anak negeri ke arah apa yang diimpikan bersama. Semoga.



(tulisan ini diikutkann pada lomba blog bertemakan Hemat Energi yang diadakan bisnis.com dan Total)

Pengalaman Membuat Newsletter


SEBAGAI bagian dari tugas kantor, saya menyusun newsletter yang isinya adalah rangkuman berita dan pengalaman para peneliti. Saya melaksanakan semua tugas secara mandiri. Mulai dari menulis, memotret, hingga membuat layout. Saya cukup menimati semua prosesnya. Berikut, newsletter terbaru yang saya buat.









Politik "Cerdik" Aburizal Bakrie


Aburizal Bakrie (foto: Tempo)

LAMA menghilang dari hiruk-pikuk media, Aburizal Bakrie tampil kembali di televisi miliknya. Akan tetapi, penampilannya berbeda dengan suasana saat kampanye pilpres. Intonasinya tidak lagi penuh dengan kritikan pada pemerintah berkuasa. Gaya bahasanya tak lagi penuh gagasan-gagasan hebat tentang Indonesia di tahun 2045.

Ia justru tampil dengan wajah kalah, seakan-akan dizalimi oleh salah satu menteri. Ia memang kalah beberapa langkah. Bukan oleh pemerintah. Melainkan oleh sesuatu yang justru menjadi senjatanya ketika memasuki politik. Apakah gerangan?

***

Hari itu, 2 Maret 2015. Di ruang musyawarah nasional partai Golkar, lelaki itu tiba-tiba merangsak masuk. Ia mendekati politisi Ali Mukhtar Ngabalin lalu melayangkan bogem mentah. Suasana kacau. Beberapa orang tergopoh-gopoh mendatangi lelaki itu lalu ikut menghantam dengan tinju keras.

Kisah ini muncul di tengah-tengah pidato politik pria yang kerap disapa Ical itu. Salah seorang sahabat saya ikut dalam drama pemukulan atas pria yang disebutnya sebagai penyusup itu. Sahabat itu bekerja sebagai tenaga ahli Partai Golkar di DPR RI. Saat saya temui, ia begitu heroik saat memaparkan kisahnya yang ikut berkelahi melawan pria itu.

Bagi saya, tindakan pria yang datang menyusup dan memukul Ali Ngabalin adalah tindakan konyol. Namun tindakan ikut mengepung pria itu dan menghakiminya adalah tindakan yang lebih konyol lagi. Sebab saya sangat yakin bahwa penyusup itu memiliki satu tujuan yakni menggeser semua kiblat wacana dan pemberitaan ke arah insiden. Sementara pemaparan visi politik dan arahan Ketua Umum Aburizal Bakrie dan jalan keluar ke mana kapal partai bergerak malah terabaikan.

Tak ada satupun media yang menggubris pernyataan Ical. Semuanya fokus pada insiden pemukulan. Bahkan televisi yang dimiliki Ical pun ikut-ikutan fokus pada insiden penyusup dan aksi massa. Penyusup itu sukses menunaikan tugasnya. Bibirnya bisa saja sobek karena dibogem teman saya, akan tetapi tugasnya untuk menggeser kiblat wacana media telah sukses. Ia menjadi berita. Ical semakin tenggelam.

Laksana gayung bersambut, suara-suara daerah bermunculan. Ramai-ramai pendukungnya melakukan migrasi menjadi pendukung pesaingnya. Bahkan beberapa politisi di barisan utamanya pun terang-terangan menyatakan bergabung ke kubu Agung. Tokoh sekelas Setya Novanto pun dikabarkan berpindah dan meninggalkan sosoknya. Perlahan, ia ditinggalkan banyak orang dan kini hanya dikelilingi oleh lingkar pendukung utamanya.

Apakah gerangan yang terjadi? Mereka yang baru mengamati Golkar tenttu akan keheranan melihat fenomena ini. Padahal, sejak dahulu, ada satu virus yang telah lama menggerogoti partai ini. Partai ini telah lama kehilangan ideologinya. Yang ada adalah pragmatisme dalam bentuk ekspektasi tentang karier dan pendapatan yang semain cemerlang ketika memasuki panggung politik.

Virus yang lama menggerogoti partai ini adalah virus pragmatisme yang telah lama berakar di tubuh para politisinya. Dalam keadaan ketika terjadi dualisme, dan satu kubu diakui pemerintah, maka banyak politisi lainnya akan segera berpindah ke kubu yang diakui.

Bagi kader Golkar di daerah, konflik ini tak begitu penting. Yang sedang bertarung adalah para elite Jakarta. Yang dianggap penting bagi kader di daerah adalah rekomendasi dari DPP Golkar sebagai tiket masuk untuk mengikuti pilkada. Tanpa rekomendasi, tak ada sekoci partai untuk masuk gelanggang pilkada. Bagi elite Jakarta, kuasa memberikan rekomendasi juga sangat penting. Rekomendasi pada kader di daerah tak sekadar prasyarat administrasi yang menunjukkan bekerjanya partai untuk menopang kadernya. Rekomendasi itu bisa dilihat secara pragmatis sebagai setoran duit ke pengurus pusat.

Publik tahu bahwa setiap rekomendasi akan dikonversi menjadi materi yang harus siap-siap disetor bagi kader yang hendak memakai pintu Golkar. Di kawasan timur Indonesia, seorang kader mesti menyiapkan uang hingga 500 juta hingga 1 miliar untuk bertarung di level pilkada kabupaten. Nah, anda bisa hitung sendiri berapa pemasukan DPP dari setiap pilkada. Kalau pemasukan itu hilang, maka apa yang bisa dilakukan? Apakah akan tetap bertahan di kubu Aburizal?

***

SEMALAM, ia tampil di televisi. Ia tidak lagi segarang sebelumnya. Saya menyimak kalimat-kalimatnya. Yang menarik, ia tidak pernah mengkritik keras Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla. Ia berbicara lantang untuk mengkritik Menteri Hukum dan HAM. Saat membahas presiden, ia cenderung hati-hati.

Ical tampil di media bak seorang prajurit yang terluka. Ia tak lagi seperkasa dahulu ketika mengkritik pemerintah yang hendak menghapuskan pilkada langsung. Ia juga tak segarang ketika merayakan detik-detik proklamasi di kediaman Prabowo. Ia tampil lebih berhati-hati. Itu terlihat dari sikapnya yang tak pernah memproklamirkan Golkar sebagai partai oposisi.

Sebagai pendukung KMP, ia paham bahwa ketika menyatakan oposisi, maka ia akan ditinggalkan oleh kadernya sendiri yang telah lama mengincar bancakan proyek di kementerian. Menyatakan perang pada pemerintah sama dengan menggerus kekuatan ekonominya yang selama ini justru banyak bergantung pada kemurahan hati pemerintah.

Bahkan pendukung setianya pun selalu menyebut Golkar Aburizal sebagai pendukung pemerintah. Para pemerhati ekonomi dan politik sama mahfum bahwa titik kelemahannya telah lama diidentifikasi pemerintah. Selama ini, kekuatan pria itu bertumpu pada dua hal: (1) politik yang mengandalkan pragmatisme dan kepentingan jangka pendek. Itu terlihat pada kemenangan di Golkar melalui skema janji dan bagi-bagi angpao pada peserta kongres, (2) sektor bisnis yang mengandalkan rekanan pada pemerintah melalui skema utang serta modal asing.

Seorang sahabat peneliti mencatat bahwa titik lemahnya sudah mulai terbaca sejak hengkangnya konsorsium Yahudi Nat Rotshchild. Hengkangnya kelompok ini telah melemahkan sendi-sendi ekonomi kelompok Aburizal. Laksana efek domino, bisnis Ical mulai terpuruk di mana-mana. Dalam situasi ini, sejatinya ia membutuhkan sokongan pemerintah. Apa daya, ia berada di pihak KMP yang sempat menjadi oposisi. Ia kemudian digempur dengan isu mafia pajak, serta pencekalan. Puncaknya adalah ketika utang Lapindo diambil alih oleh pemerintah dengan sejumlah konsesi. Ini adalah tikaman besar sekaligus pernyataan loyalitas pada pemerintah.

***

SEMALAM ia tampil di televisi. Ia sedang berusaha mempertahankan Partai Golkar sebagai the last bastion di panggung politik. Secara cerdik, ia memakai bahasa hukum dan keadilan demi menguatkan posisinya. Sayangnya, ibarat permainan catur, posisinya mudah ditebak hendak ke mana. Yang sedang dihadapinya justru lebih cerdik sebab bisa mengendalikan skenario yang dahulu smepat dikendalikannya.

Ia tidak lagi jumawa mengarahkan bidak caturnya untuk mengobrak-abrik pertahanan lawan. Lewat Azis Syamsuddin, ia menyatakan partainya sebagai pendukung pemerintah. Sayang sekali, ia berhadapan dengan pemain catur yang dingin dan paham betul hendak ke mana bidak catur diarahkan. Skenario Aburizal tinggal dua, yakni: (1) Memenangkan proses hukum di pengadilan sebelum batas pemberian rekomendasi pilkada di daerah-daerah, (2) Segera menyatakan diri sebagai pendukung pemerintah, yang bisa dimaknai sebagai jalan lapang untuk menjaga irama bisnis dan kuasanya di panggung politik. Pernyataan dukungan secara terbuka juga penting untuk menjaga pihak-pihak yang dianggap berpotensi untuk “mengganggu” proses hukum yang sedang berjalan.

Yah, niat Aburizal Bakrie memasuki gelanggang politik adalah untuk merebut posisi penting di pemerintahan demi mengamankan bisnisnya. Apa daya, ia justru terpental. Model berpolitiknya yang pragmatis justru perlahan menjadi senjata makan tuan. Aburizal tidak dikalahkan oleh penguasa. Ia dikalahkan oleh pragmatisme di tubuh partainya sendiri.

Lantas, apakah masih ada kartu yang bisa dimainkannya untuk memenangkan posisinya?

Kita akan menunggu jawabannya dalam waktu dekat. Yang pasti, dunia politik kita laksana telaga tenang yang seolah mudah ditebak kedalamannya. Secara teoritik, politik kita amatlah simpel dan mudah untuk ditaklukan. Namun siapapun yang memasukinya akan paham bahwa politik kita penuh dengan kejutan-kejutan yang bisa menghempaskan para politisi. Aburizal Bakrie adalah salah satu contohnya. Sayonara!


Bogor, 23 Maret 2015

Seribu Topeng di Kota Solo



KESAN kuat yang tertanam seusai mengunjungi Solo adalah banyaknya topeng yang saya saksikan di sana. Di beberapa ruas jalan kota Solo, saya menyaksikan banyak topeng-topeng yang dibuat dalam versi besar. Topeng-topeng itu kerap saya lihat dalam beberapa tarian Jawa. Saya hanya menduga-duga bahwa topeng-topeng itu adalah simbol dari setiap karakter. Ada karakter baik dan karakter jahat yang bisa dilihat pada setiap topeng.

Topeng-topeng itu mengingatkan saya pada teori dramaturgi dari Erving Goffman yang mengatakan bahwa manusia memiliki topeng karakter yang berbeda saat ditampilkan di panggung depan dan panggung belakang kehidupannya. Kehidupan ibarat panggung besar, dan kita adalah para aktor yang memakai beberapa topeng sekaligus. Ada saat di mana kita memakai topeng baik, namun ada pula saat kita memakai topeng jahat. Kesemuanya adalah saksi atas pertumbuhan karakter seseorang.

Saya selalu menyenangi ekspresi dan identitas kultural yang diartikulasikan di hadapan publik. Pemerintah Kota Solo sadar benar tentang pentingnya menampilkan identitas lokal. Jalan-jalan di Kota Solo penuh dengan beringin. Suasananya rimbun. Di beberapa kelokan jalan, beberapa topeng sengaja diletakkan sebagai penghias. Bagi pengunjung seperti saya, keberadaan topeng itu sangatlah penting sebagai identitas dan penanda budaya kota yang mudah dilihat siapa saja.

Setahun silam, sebuah festival internasional berlangsung di Solo. Namanya adalah International Mask Festival yang dipusatkan di Benteng Vastenburg. Beberapa seniman topeng dari dalam negeri maupun manca-negara ikut berpartisipasi. Lewat satu media, saya membaca bahwa seniman yang hadir dari berbagai negara. Ada yang dari Kamboja, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Singapura. Satu per satu delegasi menampilkan tarian topeng tradisional maupun kontemporer. Tak pelak lagi, aksi mereka mendapat sambutan meriah dari penonton.

Artinya, topeng menjadi salah satu ikon budaya yang dilestarikan di Solo. Topeng-topeng itu adalah khasanah tradisi yang menjadi penanda kota. Topeng-topeng itu menjadi satu kesan yang tertanam kuat bagi setiap pelancong, sekaligus sebagai souvernir yang bisa dibawa ke manapun.



Saya teringat dialog dengan Nordin, jurnalis senior di Seruyan, Kalimantan Tengah. Katanya, dari banyak kota yang dikunjunginya, hanya Toraja dan Bali yang unik. Mengapa? “Sebab begitu masuk di dua wilayah itu, kita langsung tahu bahwa kita erada di satu daerah yang unik. Saya suka melihat ornamen budaya di rumah-rumah. Identitas kota langsung kental terasa,” katanya.

Nordin benar. Sayang sekali, ia tidak menyaksikan Solo hari ini. Kesan saya, identitas kultural Jawa nampak jelas di mana-mana. Bahkan di depan satu mal besar, saya menyaksikan hiasan dinding berupa layar putih, tempat pagelaran wayang. Di situ, terdapat semua karakter dalam wayang kulit. Kembali, saya merasakan pesan kuat tentang filosofi kehidupan yang serupa panggung.

Sejak kapan topeng menjadi tradisi warga Solo? Seorang kawan menjelaskan bahwa seni topeng telah hadir di jawa sejak tahun 840 masehi, atau pada masa Mataram kuno. Namun, seni topeng pada masa Jawa Kuno itu tak semata pertunjukan, tetapi lebih berkaitan dengan ritual, juga menjadi bagian dari acara-acara penting dan sakral. Itu bisa disaksikan pada peresmian Sima, yaitu daerah perdikan yang dibebaskan dari pungutan pajak.

Sedangkan untuk dokumentasi awal dan terhitung lengkap tentang cerita Panji, yang merupakan kisah percintaan Panji Inu Kertapati dan Galuh Candrakirana, ada dalam kitab Smaradahana karangan Mpu Dharmaja, yang ditulis pada zaman Kerajaan Kediri. Kisah Panji ini menjadi inspirasi bagi munculnya berbagai topeng di Solo.

Pada zaman perunggu, telah muncul topeng-topeng perunggu untuk ritual pemujaan. Kemudian di zaman Hindu, Majapahit, kesenian topeng mulai populer. Konon, raja besar Hayam Wuruk pun pernah menarikan tari topeng dalam sebuah perayaan kerajaan.

***

Saya singgah di Pasar Triwindu, sebagai salah satu sentra barang antik di Solo. Kembali, saya menemukan banyak topeng yang dijual di situ. Saat berbincang dengan seorang warga, saya belajar banyak tentang tiga karakter yang bisa ditemukan di setiap topeng.

Pertama, topeng Panji, yang menggambarkan topeng halus seorang raja dengan kehalusan dan kecantikannya. Kedua, topeng Kelana yaitu topeng yang menggambarkan kesatria atau raksasa yang menggambarkan amarah dan kemarahan dalam pertempuran. Ketiga, topeng Gecul yaitu topeng yang menggambarkan punakawan (abdi dalem) yang dengan tingkah lucunya dan wajah komedi.




Saya lalu mengambil kesimpulan sederhana bahwa tiga karakter itu yang sejatinya harus ada pada diri seseorang untuk mencapai taraf yang disebut sempurna. Ada saat di mana seseorang menampilkan karakter bijak, karakter berani dalam setiap keputusan, serta karakter komedi, yang memungkinkan seseorang untuk melihat kehidupan dari sisi yang menyenangkan.

Nah, ini cuma kesimpulan sederhana. Sebagai pengkaji budaya, saya sadar benar bahwa seharusnya saya lebih lama di situ untuk belajar banyak tentang topeng dan segala makna-maknanya.

Sungguh disayangkan, kunjungan di Solo terbilang singkat. Saya hanya singgah selama tiga hari. Padahal, saya ingin sekali mengunjungi sosok seniman topeng yang terkenal di Solo. Kalau tak salah, namanya adalah Narimo. Dirinyalah sosok yang membuat berbagai topeng raksasa di jalan-jalan kota Solo.

Mudah-mudahan saya bisa menemuinya pada kesempatan lain. Amin.


Membaca Aiko Kurasawa


PENASARAN dengan sampul yang menarik, saya lalu membeli dan membaca buku karya Aiko Kurasawa berjudul Kuasa Jepang di Jawa. Hasilnya sungguh di luar ekspektasi saya saat membelinya. Buku hebat ini disusun dari riset yang sangat ketat. Penulisnya butuh waktu 20 tahun untuk menuntaskan buku ini. Ia mewawancarai 88 orang Jepang, 400 orang Indonesia, lalu menulisnya di bawah bimbingan Benedict Anderson.

Meskipun belum tuntas membacanya, saya tak henti kagum dengan penulisnya. Ia menunjukkan kedisiplinan, kehati-hatian, serta kejernihan dalam membaca timbunan arsip yang sedemikian banyak tentang desa-desa di masa Jepang. Ia mengajarkan perlunya mengumpulkan data sebanyak mungkin, lalu secara perlahan membacanya dengan hati-hati, demi menghasilkan kesimpulan yang kokoh.

Buku yang sangat bagus dan layak direkomendasikan.

Suara Alam di Pantai Natsepa


sore hari di Pantai Natsepa, Ambon

KETIKA singgah ke Pantai Natsepa di Ambon, Maluku, saya tak sedang beruntung. Mendung tengah menggelayut. Cahaya keemasan sunset terhalang awan. Saya tak sempat menyaksikan keindahan sore yang sedemikian memukau di pantai ini. Tapi saya cukup terhibur melihat suasana pantai yang adem, serta melihat tongkah polah para pengunjung.

Setiap kali berkunjung ke salah satu daerah di kawasan timur, saya selalu ingin ke pantai. Meskipun yang dikenali publik hanya sedikit, akan tetapi ada banyak pantai-pantai yang memukau di timur. Anda bisa bayangkan, sebanyak 17 ribu lebih pulau-pulau, dengan bentang pantai kedua terpanjang di dunia, serta taman bawah laut terindah yang disinari matahari sepanjang tahun. Negeri ini sungguh berlimpah sumberdaya.

Pantai-pantai di timur memang punya pesona hebat. Sekali anda melihat pantai di Indonesia timur, pantai di daerah wisata terkenal lain menjadi tak begitu indah. Itu komentar yang saya terima dari seorang warga Maluku Barat Daya di Bali. Dalam pertemuan dan diskusi, bapak asal Maluku itu berkata kalau Bali hanya menang nama. Tapi sial keindahan, Pantai Kuta tak mungkin bisa menandingi pantai di daerahnya yang memiliki pasir sehalus tepung.

Di Ambon, saya singgah ke Natsepa. Retribusi masuk hanya dua ribu rupiah. Langit sedang tak bersahabat. Tapi saya masih bisa menyaksikan pantai luas serta banyak orang singgah. Sayang, saya tak seberapa menikmati rujak. Padahal di Natsepa, ada rujak khas yang digemari warga Ambon. Di pantai ini, saya merenungi banyak hal. Saya merenungi keindahan Ambon, ikhtiar warganya untuk bangkit pasca kerusuhan, serta interaksi yang menyenangkan dengan beberapa warga.

Ambon is the city of music. Demikian tulisan besar yang tertera saat hendak memasuki kota Ambon. Saya rasa, musik yang dimaksudkan bukanlah sekadar instrumen suara yang dimainkan bersama. Yang dimaksudkan adalah harmoni dan suara-suara semesta yang saling bersahutan.

Nikmat Solo, Nikmat Soto Gading


soto gading

TAK lengkap berkunjung ke satu tempat tanpa mencoba kuliner khas. Beberapa waktu lalu, saya membaca berita tentang Presiden Joko Widodo yang mengajak beberapa petinggi parpol untuk makan siang di soto gading, Solo. Didorong oleh rasa penasaran, saya pun mengunjungi soto gading. Tak disangka, saya tak hanya mencicipi soto yang rasanya sungguh nikmat, batin saya tersentuh dibasahi oleh filosofi Jawa yang indah nian.

***

DI lihat dari luar, tak ada yang istimewa pada bangunan itu. Bangunannya biasa saja, khas bangunan ala Jawa. Rumah makan kecil itu terbuat dari kayu. Luasnya hanya seukuran ruang tamu rumah, yakni sekitar lima kali lima meter. Yang mengejutkan, saya menyaksikan antrian di rumah makan itu. Warga Solo, Jawa Tengah, sama paham bahwa rumah makan itu disebut sebagai soto gading, salah satu rumah makan paling laris di wilayah yang punya motto The Spirit of Java itu.

Sejak pertama menginjakkan kaki di tanah Solo, saya memang ingin mengunjungi soto gading. Saya penasaran dengan rumah makan itu saat diberitakan banyak media sebagai warung yang selalu direkomendasikan oleh Presiden Jokowi. Beberapa waktu lalu, sang presiden pernah mengundang sejumlah petinggi parpol untuk makan di situ. Saya pikir, jika seorang kepala negara menyukai kuliner di satu warung, pastilah ada sesuatu yang unik dan menarik di situ.

Meskipun ramai, saya beruntung sebab mendapatkan kursi untuk duduk. Beberapa pelayan mendekati saya. Mereka memakai seragam berwarna merah dan terdapat logo produk tulis-menulis. Saya lalu memesan seporsi soto. Tak butuh waktu lama, pelayan datang membawakan soto. Sepintas, kuliner ini sama saja dengan kuliner soto di tempat lain. Bentuknya adalah kuah ayam, mie, dan nasi. Namun saat dicicipi saya menemukan rasa yang tak biasa. Ada rasa nikmat yang perlahan membasahi lidah, lalu menjalar hingga kerongkongan. Saya terus mencicipi, hingga tak sadar kalau soto itu telah habis.

Kembali saya panggil pelayan. Saya memesan satu porsi lagi. Di meja tempat saya makan, terdapat beberapa gorengan seperti tempe, tahu, dan juga beberapa tusuk sate. Saya mengambil satu tusuk buntut ayam. Eh, baru beberapa kali suap, soto itu sudah habis. Saya sukar menjelaskan seperti apa rasanya. Akan tetapi saya sepakat dengan kesaksian banyak orang bahwa rasanya memang beda. Rasanya memang nikmat dan memaksa kita untuk selalu mengunjungi tempat itu.

Istri saya pun mengakui rasa nikmat itu. Sayang, dia tak beruntung. Saat hendak memesan lagi satu porsi, pelayan memberi tahu kalau sotonya telah habis. Hah? Padahal saat itu baru pukul tiga sore. Dalam hati saya bertanya-tanya, mengapa pihak rumah makan tak menyediakan banyak stok makanan? Mengapa tak sekalian membuka warung hingga malam ketika pengunjung malah berjubel dan tak berkesudahan?

Saya menyimpan pertanyaan itu. Di hadapan saya ada tiga porsi soto yang telah kosong, beberapa tusuk sate, serta beberapa gelas teh hangat. Saya lalu memanggil pelayan dan bersiap untuk membayar. Biasanya, saya selalu deg-degan ketika membayar. Hukum ekonomi mengatakan bahwa ketika penawaran tinggi, maka harga akan selangit. Hukum itu berlaku di mana-mana.

“Berapa harga semua pesanan saya?” tanya saya.
“Semuanya seharga dua puluh ribu ripiah,” kata pelayan itu sembari tersenyum.
“Hah? Kok murah sekali?”

Baru tahu saya kalau harga soto di situ adalah tujuh ribu rupiah. Di kampung saya, harga sepiring bakso rata-rata 15 ribu rupiah. Padahal, itu harga bakso di warung tak terkenal di pinggir jalan kecil. Di sini, harga soto senikmat dan seterkenal ini hanya tujuh ribu. Aneh.

Padahal, dengan rasa senikmat itu, bayaran di atas seratus ribu rupiah adalah harga yang pantas. Apalagi, warung ini meang laris, Orang-orang berjubel dan antri untuk sekadar mendapatkan kursi dan mengajukan pesanan. Semua yang datang itu pasti membawa uang dan siap membayar berapa pun. Apalagi, warung ini mendapatkan popularitas dan publikasi yang tinggi sebab menjadi tempat favorit seorang kepala negara.


suasana rumah makan

Belakangan, saya banyak membaca buku tentang pemasaran. Salah satu kaidah yang saya baca adalah orang siap membayar berapapun ketika mendapatkan customer satisfaction atau kepuasan saat berbelanja. Dalam hal kuliner, ketika terjadi pertautan antara pengharapan dan rasa, maka harga menjadi nomor dua. Sebab sang konsumer merasakan kepuasan berlebih saat berbelanja.

Dilihat dari sisi pemasaran, warung ini bisa menjadi tambang uang yang terus-menerus menghasilkan devisa besar bagi pemiliknya. Jika saja warung ini dikelola oleh grup seperti Agung Podomoro Group, barangkali warung ini akan dibuat franchise dan dipasarkan ke mana-mana. Barangkali, rasa khas soto gading akan dipatenkan, lalu dijual ke mana-mana dnegan harga tinggi.  

Lantas mengapa pula harga soto gading ditawarkan sangat murah? Apakah pemiliknya tak tergiur untuk meraup materi sebanyak mungkin? Mengapa tak membenahi warung itu menjadi lebih luas dan bangunannya lebih megah?

Di perjalanan ke hotel, saya bertanya pada sopir taksi. Jawabannya bikin saya tercenung. “Orang Solo memang gak semua mencari kekayaan. Kebanyakan justru mencari bahagia yang terwujud dari hasrat berbagi dengan orang lain,” katanya.

Ia lalu menyebut filosofi Ana Sethithik Didum Sethithik, Ana Akeh Didum Akeh, yang artinya ada sedikit dibagikan sedikit, ada banyak dibagikan banyak. Filosofi ini mengandung pesan bahwa rejeki harus dinikmati bersama. Jika rejeki hanya sedikit, maka masing-masing akan mendapatkan bagian sedikit. Jika rejeki itu banyak, maka yang dibagikan pun akan banyak.

Di mata saya, filosofi ini sangat indah. Inilah prinsip keadilan sosial yang harusnya menjadi norma dan pegangan bersama. Bahwa hidup bukanlah sekadar urusan mencari kekayaan, namun soal bagaimana bisa berbagi rejeki dan kebahagiaan dengan orang lain. Dalam konteks soto gading, jika pemiliknya hendak mengejar kekayaan, maka ia akan menaikkan harga dan membukanya di mana-mana.

Rupanya, ia bukan seorang kapitalis. Ia memiliki prinsip untuk mencari rejeki seucukupnya, serta membagikan kenikmatan soto itu sebagai sesuatu yang bisa diakses siapapun. Tak hanya seorang presiden yang bisa merasakannya, namun semua orang yang bersedia untuk antri dalam suasana egaliter lalu memesan soto. Rasa nikmat itu menjadi open access, bisa dinikmati siapapun tanpa harus memandang berapa isi dompet.

Barangkali inilah rahasia mengapa soto gading sangat laris. Rahasianya berakar pada kesederhanaan dan filosofi untuk tak mengejar apa yang disebut Marx sebagai surplus of value atau nilai lebih. Rahasianya terletak pada pandangan hidup manusia Jawa yang melihat semuanya secara seimbang, mencari hidup secukupnya, serta hasrat kuat untuk membagikan kebahagiaan kepada siapa saja. Rahasianya ada pada semangat untuk menerima kehidupan apa adanya, pada sikap nrimo, pada prinsip ‘makan gak makan asal cukup,’  dan pada sikap pasrah atas bandul kehidupan yang sedang mengayun. Kadang mengarah ke kanan dan kadang ke kiri, namun rasa bahagia harus terus mekar dan semerbak dalam situasi apapun.


Bogor, 20 Maret 2015

Belajar dari Tom Pepinsky

HARI ini, saya menghabiskan waktu cukup lama di blog milik Tom Pepinsky. Beliau bekerja sebagai associate professor di Cornell University. Saya tak menyangka kalau salah satu Indonesianis terkemuka ini cukup rajin menulis blog, setia membagikan analisisnya atas satu kejadian, serta rajin berbagi pengetahuan.

Sebagai pengkaji ilmu politik dan pemerintahan, ia sungguh produktif membuat penelitian serta analisis tentang perkembangan politik terbaru. Saya betah berkeliling di blognya. Ia tak hanya menampilkan riset-riset dan publikasi jurnal internasional, ia juga bercerita tentang amatan-amatan sederhana, semacam analisis awal yang bersifat kilatan-kilatan pemikiran. Kelak, analisis itu bisa diolah lagi hingga menjadi buah-buah pemikiran yang utuh.

Ia tak menulis hal yang panjang-panjang. Kebanyakan tulisan blognya hanya tiga atau empat paragraf. Tapi dikemas dalam catatan yang simpel dan mencerahkan. Dari sisi tema, ia tak hanya membahas hal-hal yang terkait dengan bidang ilmunya yakni politik dan pemerintahan. Bahkan ia juga menulis catatan tentang buku yang dibacanya.

Blognya mengajarkan saya bahwa seorang pemikir adalah seorang manusia biasa yang bergelut dengan banyak hal remeh-temeh dalam kehidupannya. Lewat hal biasa itulah, orisinalitas berpikir seseorang bisa diasah dan kelak akan menemukan bentuknya. Lewat kisah-kisah sederhana, seseorang sedang menganalisis, menggunakan kamera batinnya untuk memahami banyak hal lalu mempersembahkan kesan atas sesuatu itu kepada banyak orang. Dengan cara demikian, ia seolah menegaskan bahwa ilmu pengetahuan bukanlah sesuatu yang final, melainkan sesuatu yang terus berkembang dan memperkaya dirinya. Itulah kesan saat berkunjung ke blog Tom pepinsky.

Barangkali inilah yang disebut sebagai The Power of Simplicity. Semakin sederhana dan bisa dipahami, maka gagasan itu punya kesempatan untuk menjadi lebih powerful dan menggerakkan perubahan. Minimal, gagasan itu bisa mengendap dalam kepala orang lain, merasuki segenap cara berpikirnya, lalu kelak akan berkecambah menjadi kesadaran. pada titik ini, sang pemilik gagasan telah menjadi intelektual organik yang ide-idenya punya kekuatan perubahan.
Anda ingin berkunjung ke situ? Klik DISINI.

Cinderella: Kisah Glamour, Tapi Hampa


poster film Cinderella

SEJAK kemarin, film Cinderella (2015) produksi Disney mulai tayang di semua bioskop kita. Film ini memikat warga dunia yang rindu menyaksikan kisah romansa dan dongeng glamour bertabur bintang. Namun, jangan berharap ada kejutan di film terbaru Disney ini. Semua alur dan kisah amat setia dengan versi dongeng, demi mengubah nostalgia tentang kisah tentang kerajaan menjadi dongeng ala kapitalisme yang malu-malu. Apa yang bisa didapatkan dari kisah ini?

***

DI acara pesta dansa kerajaan, semua perempuan datang dengan mengenakan pakaian terbaik. Semua berharap agar dilirik oleh sang pangeran yang saat itu mencari jodoh. Di desa kecil pinggiran istana, seorang perempuan muda terisak-isak. Ia ingin ikut pesta dansa itu, namun apa daya sang ibu tiri menghardiknya agar tak ikut. Tak disangka, ibu peri hadir dan menjentikkan keajaiban-keajaiban.

Ibu peri mengubah labu menjadi kereta kencana. Ia juga mengubah kadal menjadi para pengawal, angsa menjadi sais kereta, serta tikus menjadi kuda-kuda perkasa. Puncaknya, ibu peri mengubah perempuan biasa, yang dipaksa menjadi pelayan itu, sebagai putri yang kecantikannya semerbak merona. Gaunnya menjelma jadi gaun biru yang berkilauan.

Dengan anggunnya, putri bergaun biru datang ke pesta dansa. Saat memasuki ruangan, semua orang berdesir kagum menyaksikannya. Tak terkecuali, sang pangeran yang lalu datang untuk mengajaknya berdansa. Ruangan menjadi hening saat keduanya mendekat. Sayup-sayup suara biola mengalun. Keduanya lalu berdansa diiringi tatap semua orang. Keduanya adalah sepasang merpati yang menjadi magnit acara itu.

Tepat tengah malam, perempuan bergaun biru itu gelisah. Ia lalu berlari dan meninggalkan sang pangeran yang ikut mengejarnya. Sepatu kaca yang dikenakan perempuan itu tertinggal. Ia terus berlari, masuk ke dalam kereta yang segera dipacu selekas mungkin.

Kisah ini adalah satu adegan dalam film Cinderella (2015) produksi Disney. Tak ada yang berubah dari versi dongeng. Yang dilakukan sutradara Kenneth Branagh adalah sekadar memindahkan versi dongeng dalam versi layar lebar. Tanpa dituturkan pun, publik tahu lanjutan dari kisah ini. Pangeran akan mencari putri pemilik sepatu kaca, lalu menikah, dan bahagia selama-lamanya.

Di mata saya, film ini agak berbeda dengan adaptasi dari beberapa kisah dongeng. Kita bisa membandingkan dengan kisah Snow White and The Huntsman (2012) yang dikembangkan dari kisah dongeng Snow White, namun hadir dalam versi baru yang berbeda dengan dongeng. Sang putri menjadi lebih manusiawi, lebih cerdas, serta lebih realistis ketimbang versi fairytale. Kita pula bisa membandingkannya dengan film Ever After (1998) yang juga merupakan adaptasi kisah Cinderella. Bedanya Ever After tak menampilkan sihir. Tak ada tongkat sulap yang mengubah labu menjadi kereta kencana.

Dalam Ever After, aktris Drew Barrymore menghadirkan sosok Cinderella yang mandiri dan penuh keberanian. Ia juga sosok cerdas. Ia bisa menjadi partner diskusi dari intelektual abad ini Leonardo Da Vinci. Dalam kisah ini, peran Leonardo Da Vinci adalah serupa ibu peri yang mengubah putri biasa menjadi putri menakjubkan. Hingga akhirnya Cinderella menjadi perempuan yang punya andil besar pada hadirnya perpustakaan besar bagi publik, serta kelak akan memantik revolusi Perancis.

saat Cinderella turun ke lantai dansa
sepatu kaca

Berbeda dengan adaptasi dongeng lainnya, Cinderella versi terbaru ini justru amat setia dengan dongeng. Lantas bagaimanakah tanggapan publik atas kisah ini? Ternyata hasilnya memang mengejutkan. Di Amerika Serikat (AS), film ini sukses membukukan pendapatan hingga 832 miliar rupiah di hari perdana pemutarannya. Beberapa situs memperkirakan jumlah penonton akan semakin membeludak pada hari-hari mendatang. Film ini akan laris manis di mata banyak orang, tak hanya bagi penggemar dongeng, namun juga bagi para kelas menengah perkotaan yang membutuhkan tontonan penuh sihir yang memanjakan mata.

Bahkan anak saya sendiri telah lama menantikan film ini. Sebagai seorang bapak, saya agak terkejut sebab anak saya paham kisah Cinderella. Rupanya, berita tentang film ini terus-menerus ditayangkan melalui saluran televisi Disney Junior. Pantas saja jika anak saya menjadi satu dari jutaan anak yang terkena virus iklan hingga tak sabar menyaksikan film ini.

Bagaimanakah menjelaskan fenomena kegandrungan pada Cinderella?

Pertama, pada dasarnya manusia modern memang membutuhkan dongeng. Melalui dongeng, kisah tentang kebaikan yang akan selalu menang melawan kejahatan semakin bergema. Di alam bawah sadar kita, tema ini adalah tema abadi yang ditanamkan setiap saat melalui nilai-nilai keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dongeng menanamkan kembali nilai-nilai klasik itu lalu mengemasnya menjadi kisah penuh keajaiban.

Yang penting di sini bukanlah sosok Cinderella, Putri Salju, Raounzel, ataupun Belle, melainkan kemenangan atas kejahatan dan iri dengki. Sosok-sosok putri itu akan menjadi representasi dari nilai-nilai baik yang tumbuh dan hidup di dalam satu masyarakat.

Memang, kita bisa berdebat tentang apa yang disebut baik dan buruk yang selalu memiliki basis pada budaya. Akan tetapi, kisah dongeng selalu memiliki sisi-sisi universal yang bisa diterima di semua kebudayaan. Bahwa kebaikan adalah representasi dari ketulusan hati, serta beningnya sikap sehingga menghadirkan kasih di mana-mana.

Kedua, kisah-kisah seperti Cinderella adalah kisah tentang bagaimana merawat harapan hingga ahirnya tumbuh dan berbuah. Kisahnya adalah kisah “From Zero to Hero” yang mengantarkan seorang bisa menjadi para pahlawan. Kisah ini perlambang harapan dan keyakinan banyak orang yang mendambakan keajaiban. Di lubuk hati banyak orang, terselip harapan agar bernasib seperti Cinderella.

Tentu saja, untuk menggapai keajaiban itu, setiap orang harus bekerja keras dan tahan banting. Setiap orang harus sebagaimana Cinderella yang melalui setiap hari dengan penuh kerja keras sembari menganyam harapan tentang masa depan yang jauh lebih indah. Kisah ini bisa membawa efek positif ketika nilai-nilai kebaikan dan ketulusan menjadi DNA yang mengaliri kehidupan seseorang.

Hampa Makna

Terlepas dari berbagai efek positif yang dibawa film ini, kita tetap saja harus waspada efek negatif yang bisa dibawa film. Kebaikan memang sesuatu yang amat positif, namun jika dikemas dalam kisah-kisah kerajaan dan bangsawan kaya-raya, tema kebaikan itu menjadi hampa makna. Anak-anak bisa terlanjur mendefinisikan kebahagiaan itu sebagai saat-saat ketika berhasil kaya-raya, sebagaimana para putri yang tinggal di istana. Pertanyaannya, apakah seseorang harus tinggal di istana-istana hebat dan menjadi bangsawan kaya-raya demi menjadi seseorang yang ‘happily ever after’?

Cinderella dan Pangeran

Kisah-kisah tentang kebaikan memang sangat positif. Namun kisah kebaikan yang dikemas dalam sosok-sosok jelita dan rupawan bisa membuat anak-anak kehilangan makna. Hidup bisa diarahkan pada segala upaya untuk menggapai kesempurnaan fisik, lalu mengabaikan hal-hal yang substansial seperti kebaikan itu sendiri. Kebaikan seolah bermakna ketika berada di tubuh yang cantik. Inilah gambaran yang bisa muncul seusai menonton film Disney.

Jika diteliti lebih jauh, gambaran cantik dalam kisah yang diproduksi Disney kebanyakan menggambarkan kecantikan ala Eropa, yakni berambut pirang, pipi merah merona, tubuh yang tinggi dan langsing, serta mata biru. Gambaran kecantikan ala Disney inilah yang menyebabkan kota-kota kita dipenuhi dengan salon kecantikan, televisi kita penuh iklan bertabur model cantik yang menawarkan aneka produk seperti pemutih, pelurus rambut, ataupun perawatan tubuh.

Yah, Cinderella memang bagian dari produk kapitalisme yang mencari untung sebanyak mungkin. Walt Disney Company berharap bisa meraup dollar sebanyak mungkin melalui penjualan pernak-pernik bagi penonton dewasa. Itu terlihat dari munculnya produk sepatu high hells yang terinspirasi dari sepatu kaca.

Demi film ini, Disney menggandeng nama-nama top dalam dunia retail, desain, dan make-up dalam pernak-pernik film ini. Sepatu kaca Cinderella yang tertinggal pada tengah malam ketika akan meninggalkan istana didesain Jerome C. Rousseau dan dibanderol seharga US$ 795. Sedangkan high heel bertabur kristal rancangan Jimmy Choo berharga US$ 4.595.

Tak hanya itu, MAC Cosmetics mengembangkan edisi terbatas koleksi Cinderella dalam bentuk eyeshadow, bedak tabur, dan lipstik seharga US$ 17-44. Kosmetik ini terjual laris secara online dalam hitungan jam. Ini belum termasuk koleksi-koleksi gaun yang dirancang para desainer terkenal, koleksi perhiasan, serta parade tata rias khas kerajaan yang akan meraup demikian banyak pendapatan bagi perusahaan sekelas Disney.

Di manakah posisi nilai-nilai seperti kebaikan dan ketulusan? Tentu saja, posisinya hanya sebagai lipstick dari industri dan perdagangan global yang menjadikan Cinderella sebagai ikon. Iya khan?


Bogor, 13 Maret 2015

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...