Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Mereka yang Lepas dari Sinisme


SEORANG murid di sebuah padepokan silat tiba-tiba bertanya pada sang guru. "Mengapa saya seringkali menjadi bahan olokan dari orang lain? Saya selalu berusaha melakukan sesuatu dengan energi terbaik. Mengapa saya harus dihina? Tak bisakah saya dilihat normal sebagaimana yang lainnya?"

Sang guru terdiam. Ia lalu memperhatikan sang murid dari ujung kaki ke ujung rambut. Tak ada yang aneh dengan sang murid. Semuanya tampak normal. Hanya saja, sang murid di hadapannya ini tampak berbeda. Ia lebih pintar dari yang lain. Ia lebih mengasah diri. Ia lebih sering bermeditasi ketimbang murid-murid lainnya.

Sang guru lalu membatin. Ia membayangkan murid-muridnya yang lain. Ia tahu bahwa selalu saja ada hasrat berkelompok dari mereka yang banyak, mereka yang ilmunya setaraf. Ketika ada sosok lain yang ingin mengasah diri, maka mereka lalu menghina, mengolok-olok, lalu menjatuhkan mental sosok yang ingin melesat jauh.

“Nak. Ketika mereka mengolokmu maka mereka tidak serius hendak mengolokmu. Kalian ibarat kumpulan kepiting dalam sebuah kolam. Ketika satu kepiting hendak keluar dari kolam yang pengap, maka kepiting lain akan berusaha untuk menjatuhkannya,” kata sang guru dengan tenang. Matanya menutup. Ia kembali bermeditasi.

Sang murid lalu merenung. Matanya ikut mengatup.

Dunia memang serupa kolam tempat para kepiting terjebak dalam kepengapan. Hanya mereka yang uniklah yang kemudian berhasil keluar kolam dan menjadi pribadi baru. Namun jalannya jelas tak mudah. Kepiting-kepiting lain akan menanam syak wasangka, ketidakpercayaan, serta rasa dengki yang dipelihara hingga berkarat. Kepiting lain tak akan pernah siap ketika ada satu kepiting yang menempuh jalan berbeda dan meraih kesuksesan.

Setiap ikhtiar untuk keluar dari kepengapan selalu tak mudah. Tantangan terberat adalah bagaimana mengatasi sikap sinis, tidak percaya, serta dengki yang sering muncul tanpa alasan jelas. Masyarakat sering tak siap ketika ada yang unggul, dan hendak meninggalkan barisan mereka yang berpikir seragam. Beragam muslihat seringkali keluar. Beragam duri ditebar demi menggagalkan proses keluar kolam yang sedang dilakukan seseorang.

Mengapa mereka mengolok? Sebab mereka tak sanggup melakukannya. Mereka tak ingin orang lain sukses melakukan sesuatu yang tak bisa mereka lakukan. Mereka lalu menebar duri bagi orang lain. Dipikirnya alam akan selalu diam menyaksikan segala yang buruk dipertontonkan. Disangkanya alam semesta akan memberikan apresiasi ketika semua orang berkumpul di barisan pengolok-olok. Namun, alam semesta tak pernah diam. Alam semesta menjadi saksi dari tingkah seseorang yang kelak akan dibalas dengan tindakan setimpal. Alam juga yang kelak memberikan posisi terhormat pada pribadi besar yang melalui setiap masalah dengan cara elegan.

Pribadi besar tak pernah melalui sesuatu dengan mudah. Pribadi itu lahir dari sinisme serta apatis orang lain, yang kemudian menempa dirinya menjadi seorang petarung handal. Semua rasa dengki adalah bagian dari latihan yang akan memperkokoh fisik dan ototnya untuk menghadapi derasnya terjangan sungai kehidupan. Mereka yang unggul adalah mereka yang lahir dari lautan yang bergejolak, penuh badai, dan kelak akan membawa diri mereka keluar hidup-hidup dan membawa demikian banyak kisah besar tentang kehidupan.

Sang murid kemudian tersenyum.

Matanya kemudian membuka. Ia lalu meninggalkan ruang semadi gurunya dengan penuh bahagia yang mekar di hatinya. Kali ini ia tak akan pernah kalah. Semua olokan itu akan dijadikannya sebagai bagian dari latihan demi proses menyempurna. Ia yakin kalau proses mengasah diri harus terus dilakukan, tanpa harus terpengaruh orang-orang sinis itu. Ia akan melesat, dan lebih jauh dari capaian siapapun.

Yup. Ia akan terus melesat.


Sensasi Jadi Headline (20)

BULAN ini, beberapa tulisanku terpilih sebagai headline di Kompasiana. Kedepannya, aku tak akan lagi memajang foto dari tulisan headline. Akhirnya kusadari bahwa tak penting tulisan itu jadi headline ataukah tidak. Yang jauh pebih penting adalah hasrat untul selalu berbagi pengetahuan dengan orang lain. 


Hantu-Hantu Laut di Wakatobi


Jejak Makassar di Thailand


 Belajar Politik pada Angel Lelga


Profesor Kopi di Kota Bogor

Profesor Kopi di Kota Bogor


kopi Mandailing di kedai kopi Ranin, Bogor

SUASANA kedai itu berwarna merah. Di pintu masuk tertera tulisan Rumah Kopi Ranin. Di Kota Bogor, Jawa Barat, seorang sahabat mengajakku singgah ke kedai itu. Kupikir suasananya sama saja dengan kedai kopi yang menjamur di kota Makassar. Ternyata tidak. Kedai itu tak sekadar menawarkan kopi, namun juga kisah, sejarah, petualangan, serta kearifan lokal yang dipupuk hingga kini.

Terletak di Jalan Ahmad Sobana, kedai itu senantiasa membuka pintunya. Mereka yang datang bisa singgah untuk sekadar menyeruput kopi, lalu berbincang-bincang dengan banyak orang. Di kedai itu, semua orang punya posisi sama. Tak ada yang dominan. Semua orang bisa saling sapa, berkenalan, dan berbincang tentang hal yang remeh-temeh. Aku mencium aroma egalitarianisme yang kuat di situ.

Bersama kawan-kawan, aku duduk di sudut kedai. Seorang pria yang tampak tenang dan selalu tersenyum datang bergabung. Ia lalu menyodorkan menu serta mengajak kami dialog. Menu yang disodorkannya bukanlah menu biasa. Menu itu tak hanya menampilkan nama minuman serta harga. Tapi juga ada gambar, serta kisah-kisah di balik kopi itu. Ada narasi singkat tentang sejarah kopi yang unik.

Selagi kami membaca menu serta sejarah singkat kopi, ia lalu bertanya tentang kopi yang kami sukai. Aku lalu bertanya tentang kopi dengan rasa unik di kafe itu. Lelaki itu lalu memintaku untuk mencoba kopi Wamena, Papua. Aku mengingat beberapa sahabatku asal Papua yang selalu rang gembira dengan banyolan khas Papua. Tanpa ragu, aku mengangguk. “Satu kopi Wamena,” teriak lelaki itu ke seorang penyeduh kopi yang berdiri tak jauh dari situ.

Sementara kawan di sebelahku lalu menggeleng. Ia tak hendak minum kopi. Mengapa? “Kalau minum kopi, saya bisa sakit mag,” katanya. Pria itu tersenyum. Ia lalu menjawab singkat, “Justru kopi adalah obat sakit mag. Tak percaya? Saya bisa buktikan.”

Ia lalu ke belakang, kemudian kembali dengan wadah kaca serupa gelas besar. Di atas wadah itu, ada saringan kain berwarna putih. Ia meracik kopi di gelas berbeda, kemudian menumpahkannya di atas saringan wadah. “Ini namanya kopi Mandailing, yang merupakan nama daerah di Sumatera Utara. Kopi ini cocok untuk mereka yang terkena sakit mag,” katanya.

Ia lalu mempersilakan sahabatku untuk meminumnya. Ternyata rasanya agak pahit. Ia lalu menyodorkan gula. Ketika temanku tak menyentuh gula dan terus meminum kopi, ia tersenyum lalu berkata, “Pilihanmu tepat. Rasa pahit adalah bagian dari kopi. Lewat rasa pahit itu, kita bisa tahu banyak hal, misalnya tentang kondisi tanaman kopi di daerah asalnya, hingga rasa kopi yang sesungguhnya.”

hmm..nikmatnya
suasana di dalam kafe
tampak luar

Ia lalu bercerita tentang Mandailing sebagai sebuah tempat di Sumatera Utara. Ia juga menjelaskan tentang jenis-jenis vegetasi tanaman, serta kondisi geografis mengapa kopi Mandailing memiliki rasa yang unik. Sebelum perang dunia kedua, Kopi Mandailing telah tersohor. Di luar negeri, kopi ini lebih dikenal dengan nama Mandheling Coffee. Kopi ini dijual dalam bentuk bubuk maupun biji. Sejarah mencatat bahwa Belanda membawa kopi ke wilayah Mandailing yang kemudian dijadikan sebagai pusat penanaman dan pengembangan kopi arabika.

***

PRIA itu bernama Tejo. Lengkapnya Tejo Pramono. Ia adalah salah satu pemilik Rumah Kopi Ranin. Melalui brosur, aku membaca kepanjangan Ranin sebagai “Rakyat Tani Indonesia.” Bersama sahabatnya Uji, ia mengelola kedai kopi tersebut dengan memelihara ide yang unik. Mereka tidak saja menyajikan kopi, namun juga pengetahuan tentang kopi, serta kekayaan sosial budaya yang menjadi lahan tempat kopi tumbuh.

Mereka adalah alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB). Jika Uji belajar di Teknologi Pangan, maka Tejo di Mekanisasi Pertanian. Keduanya dahulu tinggal di asrama yang sama. Ketika ada gagasan untuk membuat kedai kopi bersama, mereka sangat antusias. Mereka adalah penikmat kopi yang berusaha memahami segala hal tentang kopi.

Tejo sangat bersemangat ketika ditanya tentang teknik penyajian kopi. Katanya, kedai Ranin memang sengaja menggunakan alat manual. Kedai kopi ini berani melakukan inovasi dengan manual brewing untuk bersaing dengan kafe-kafe lain yang menggunakan mesin espresso sebagai alat untuk membuat milk base coffee. Justru dengan peralatan serba manual itu, kedai kopi ini menjadi unik. Yang ditawarkan adalah orisinalitas serta sensasi menikmati rasa kopi sebagaimana di tempat asalnya.

“Pengunjung di sini tak akan menemukan mesin espresso, karena kami tetap bertahan dengan cara seduh menuang air panas langsung atau manual brewing katanya. Aku lalu memperhatikan tempat penyajian kopi. Ternyata para penikmat kopi bisa memilih alat seduh favorit mereka yang tersedia di situ yakni french press, pour over, atau syphon dengan harga hingga belasan ribu rupiah per cangkir.

Yang membuatku tercengang adalah kopi yang disajikan di sini berasal dari banyak tempat di tanah air. Bahkan kopi Toraja dan kopi Enrekang juga ada di sini. Dahulu, kopi ini sering kubeli dari penduduk desa di kaki Gunung Bawakaraeng, puncak tertinggi Sulawesi Selatan, saat hendak mendaki, kemudian menghirup aroma kopi itu sambil memandangi lembah yang pemandangannya tak akan pernah kulupakan seumur hidup.

Tak hanya Toraja dan Enrekang. Di situ ada juga kopi dari Bener Meriah, Gayo, Kotanopan Mandheling, Baraka (Enrekang, Sulsel), Kintamani (Bali), Java Preangr, Humbang Hasundutan Linthong, Kepahyang (Bengkulu), Java Preanger, Kalibendho (Banyuwangi), Toraja (Sulsel), hingga Wamena (Papua).

Tejo, sang profesor kopi

Kata Tejo, niat untuk mengumpulkan berbagai kopi eksotik itu sama sekali bukan untuk bisnis. Dalam perbincangan itu, ia menyebut sesuatu yang lebih substansial ketimbang sekadar kelangsungan rumah kopi. Ia memiliki obsesi untuk membantu kehidupan petani kopi. Ia ingin mengangkat suara-suara mereka yang selama ini terabaikan sehingga kelak bisa didengarkan banyak orang. Bagiku, Tejo bukan saja profesor yang paham seluk-beluk kopi, namun juga memelihara idealisme untuk melihat petani lebih sejahtera dan tidak terjebak dalam kemiskinan yang disebabkan oleh mata rantai perdagangan kopi yang tak adil.

Tejo mengingatkanku pada lelaki bernama Chris Pine, pemilik Donkey Cafe, di Athens, Ohio, Amerika Serikat (AS). Setahun silam, Chris mengajariku tentang bagaimana mengembangkan sebuah rumah kopi yang didirikan di atas gagasan tentang perdagangan yang adil serta memihak bagi kepentingan petani kopi di berbagai negara. Gerakan yang digagas Chris didukung oleh banyak lembaga sosial, yang secara berjejaring sama-sama menolak kapitalisasi kopi yang harganya ditentukan secara semena-mena oleh lembaga eksportir kopi internasional.

***

“Bung, silakan dicicipi kopinya,” kalimat Tejo membuyarkan lamunanku. Di hadapanku ada kopi Wamena yang baunya amat harum menggoda. Aku melihat asap mengepul di kopi itu. Tiba-tiba saja, ingatan tentang alam Papua langsung memenuhi kesadaranku. Kopi ini ibarat portal yang membawaku untuk menelusuri indahnya Papua, hutan-hutan lebat, serta fauna yang memenuhi bumi di kawasan timur Nusantara itu. Aku lalu mengangkat cangkir itu, merasakan aromanya, lalu mendekatkannya ke bibirku.

Srrupp...!


Butuh Studi Kritis Atas Buton


seorang gadis Buton

DALAM setiap diskusi, anak muda itu selalu bercerita tentang tanah Buton yang akan menaklukan dunia. Ia mengutip ajaran nenek moyang Buton bahwa pada masanya kelak akan ada banyak bendera asing yang berkibar di tanah ini, akan ada rahasia-rahasia yang terbuka di tanah ini, akan ada satu mukjizat yang jatuh dari langit tentang betapa hebatnya tanah Buton.

Dua bulan terakhir ini, aku kerap berinteraksi dengan para mahasiswa di Kota Baubau. Kami serng bertemu dan mendiskusikan banyak hal. Kepada mereka, kukisahkan tentang beberapa pandangan baru dalam teori sosial yang pernah kubaca. Mereka menyenangi diskusi tentang banyak topik. Kesukaan mereka adalah ketika diskusi tentang budaya, khususnya budaya Buton. Ketika membahas budaya, mata mereka akan berbinar-binar. Mereka akan sanggup diskusi hingga berjam-jam demi membahas banyak hal tentang budaya.

Hanya saja....

Kulihat mereka terjebak pada pandangan bahwa kebudayaan Buton yang paling unggul. Mereka benar-benar percaya bahwa kebudayaannya adalah nomor satu dan menjadi kunci-kunci pembuka rahasia dunia. Mereka meyakini sesuatu yang tidak punya data valid dalam berbagai teks sejarah. Mereka suka mengutip kalimat seorang orientalis yang pernah berkata bahwa sistem pemerintahan Kesultanan Buton adalah sistem terbaik di dunia. Mereka amat setuju dengan kalimat seorang antropolog bahwa orang Buton salah satu manusia jenius di dunia.

Sebenarnya hal ini tidak masalah. Bukankah tanpa harapan-harapan mengenai masa depan manusia hari ini tak akan sanggup membangun masa kini yang gemilang? Bukankah tanpa visi masa depan, yang digali dari khasanah masa silam, manusia hari ini tak akan sanggup menentukan arah dan gerak peradaban?

Hanya saja, pemikiran ini bisa menempatkan mereka dalam satu tempurung yang selalu menganggap realitas sosial sebagaimana apa yang mereka saksikan. Ketika suatu saat mereka keluar dari tempurung itu, maka terkejutlah mereka ketika mengetahui bahwa di tempat lain, apa yang mereka yakini justru dilihat kecil, atau malah tidak dikenali sama sekali.

Yang kurasakan setiap kali berdiskusi adalah cengkeraman yang sangat kuat dari pemikiran yang selalu meromantisir atau mengidealisasi sesuatu. Berpikir dalam term seperti itu membuat seseorang kehilangan daya kritis, seringkali gagap ketika disodorkan data-data dan cuplikan realitas, atau malah serngkali tak percaya ketika diajak berpikir realistis dengan melihat berbagai indikator di masa kini.

Dalam banyak diskusi dengan anak-anak muda itu, saya lebih suka mendengarkan. Sesekali saya mengajukan beberapa pertanyaan kritis mengenai apa yang harus dilakukan untuk bisa memimpin dunia, atau di manakah posisi manusia Buton di tengah percaturan politik dan intelektual, baik di ranah global maupun di ranah lokal. Apakah orang lain mengenali kita? Ataukah cerita kehebatan diri kita adalah sesuatu yang kita reproduksi sendiri, kemudian kita ulang-ulang?

Aku teringat pada tulisan Tania Murray Li tentang elemen nostalgik yang sering mengaburkan pandangan peneliti. Kata Li, semua peneliti seringkali meromantisir masyarakat yang ditelitinya sehingga menganggap segala yang dilihatnya sebagai hal yang eksotik dan ideal. Celakanya, seringkali, daya-daya kritis kerap tumpul sehingga analisis yang muncul justru amat kering dari fakta-fakta obyektif.

Jika Li menyampaikannya dalam konteks penelitian, maka aku melihat ujaran itu juga hidup dalam satu masyarakat. Seringkali kebudayaan menghadirkan rasa bangga yang berlipat-lipat sehingga penganut satu kebudayaan menganggap kebudayaannya sebagai yang terhebat, teragung, dan kelak akan memimpin dunia.

Makanya, pandangan-pandangan kritis sangat diperlukan demi tetap menjaga agar sebuah pemikiran tetap membumi dan tidak keasyikan tinggal di langit imajinasi. Yang perlu dilakukan adalah melakukan pengayaan pengetahuan. Beberapa kali aku menyarankan mereka untuk membaca beberapa catatan metodologis tentang sejarah. Mereka mesti memahami studi-studi kritis yang kelak akan bisa membuat mereka melihat sisi lain dari setiap reproduksi pengetahuan.

Memahami konsep berpikir serta logika dalam melihat sejarah akan selalu membuat mereka lebih hati-hati dalam membuat setiap pernyataan. Belajar metodologi juga membuat mereka akan lebih kreatif dalam mencari berbagai sumber-sumber pengetahuan baru untuk didialogkan dengan pengetahuan yang sebelumnya telah mereka ketahui.

Mereka yang muda itu adalah mereka yang sedang belajar memahami satu bentang kenyataan. Aku yakin kelak mereka akan menemukan sendiri langkah-langkah kakinya di jalan lurus ilmu pengetahuan. Kelak mereka akan mewarnai zamannya dengan berbagai pemikiran-pemikiran baru. Semoga mereka menjadi intelektual masa depan.


Belajar Politik pada ANGEL LELGA


Angel Lelga (foto: tribunnews.com)

DI acara Mata Najwa, artis Angel Lelga beberapa kali terdiam dan tak tahu hendak menjawab apa. Ia tergagap ketika pembaca acara mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan menyangkut substansi syariat Islam serta dunia politik yang akan dimasukinya. Sang presenter, Najwa Shihab, seakan tidak mempedulikan kegugupan Angel. Najwa seakan menegaskan kecerdasannya, serta menunjukkan kebodohan Angel. Ia menghujani Angel dengan pertanyaan yang tak sanggup dijawabnya.

Angel Lelga, perempuan yang pernah menikah dengan raja dangdut Rhoma Irama, laksana pesakitan di acara tersebut. Pihak televisi menghadirkannya bukan untuk didengarkan visi-visinya, namun untuk dijadikan lelucon dan olok-olok. Terbukti, tayangan itu sontak disaksikan banyak orang. Ia juga sukses dijadikan bahan lelucon tentang politik kita.

Nyaris sepekan, publik menyaksikan kegugupan bintang film Pocong Anak Perawan di acara tersebut. Video wawancara Angel lalu di-upload di media sosial, kemudian menjadi bahan tertawaan banyak orang. Di satu situs, saya melihat komentar seorang warga, “Ngakak liat Angel sampai guling-guling.” Ada pula yang berkomentar bahwa Angel lebih pas untuk jualan tas ketimbang menjadi anggota legislatif. Tak hanya masyarakat awam, beberapa akademisi ikut pula dalam aksi menertawakan Angel. Pengamat psikologi sosial, Hamdi Muluk berkomentar, “Ini menghina kita, menghina demokrasi," ujarnya di Jakarta. "Kita dihinakan Angel Lelga,” lanjutnya.

Pertanyaan kritis yang muncul di benak saya adalah mengapa harus Angel yang dihakimi seperti itu? Mengapa tak menghakimi politisi kita yang selalu tampil di media massa dan rajin memberikan komentar ‘asbun’? Ketika mendengar seorang presiden yang selalu curhat, atau rektor yang gelarnya lebih panjang dari pikirannya, apakah para pengamat juga akan ikut-ikut menertawakannya?

Mereka yang menertawakan Angel seolah-olah mengamini pendapat bahwa ruang legislatif kita diisi oleh orang-orang hebat yang komentarnya terukur. Mereka beranggapan bahwa parlemen kita diisi banyak orang-orang yang memikirkan kemaslahatan ornag banyak, dan senantiasa menggelar diskusi konstruktif. Orang-orang tak membuka mata lebih lebar. Bahwa gedung parlemen ibarat sebuah pasar yang di dalamnya ada banyak orang dengan berbagai kepentingan. Dari ratusan anggota dewan, berapa banyakkah mereka yang hebat dan memiliki komentar cerdas itu?

Angel Lelga menunjukkan pada kita betapa jauhnya teks-teks ilmu politik dengan praktik politik yang ada di masyarakat kita. Dalam berbagai teks akademik, politik adalah arena untuk merangkum suara publik, kemudian mengejawantahkannya dalam kebijakan yang memihak orang banyak. Namun melalui Angel, kita jadi tahu betapa panjangnya jalan untuk menggapai dunia ideal ilmu politik. Angel menjadi representasi dari mereka yang hendak masuk ke dunia politik. Ia adalah satu dari barisan orang yang berbondong-bondong hendak masuk parlemen. Di dunia politik beredar anggapan bahwa kecerdasan adalah nomor paling kesekian Yang penting adalah bagaimana mendapatkan massa sebanyak-banyaknya. Partai politik kita berusaha mengumpulkan massa sebanyak mungkin. Segala strategi ditempuh demi mendapatkan angka pemilih signifikan yang kemudian melesatkan kader partai ke gedung dewan.

Angel telah membantu kita untuk memetakan bahwa dunia politik kita laksana sebuh gerbong yang diisi oleh berbagai kalangan. Partai politik tidak pernah serius menyeleksi siapapun yang hendak membawa nama partainya. Partai kita hanya berpikir bagaimana meraup suara sebanyak mungkin, kemudian berhasil memasukkan sebanyak mungkin orang ke dalam gedung parlemen.

Diskusi tentang ideologi dan visi partai tidaklah penting. Diskusi itu hanya untuk sebagian orang yang kelak jadi juru bicara partai. Sungguh ironis, sebagaimana saya saksikan di banyak daerah, banyak partai Islam yang menggelar kampanye dengan membagikan minuman keras. Mereka tak peduli bahwa tindakan itu justru menciderai partai. Yang penting, suara bisa diraih, kemudian banyak anggota masuk parlemen, dan setelah itu bisa bermain dalam penentuan proyek. Politik kita menjadi ruang untuk tarik-menarik kepentingan, dan posisi kader partai seperti Angel Lelga hanya untuk melicinkan jalan bagi partai untuk menapak ke tangga kuasa.

Angel Lelga (foto: lovelytoday.com)
Siapa bilang Angel sendirian? Di ruang-ruang parlemen dan birokrasi kita, bisa ditemukan banyak yang serupa Angel di sana. Hampir setiap hari, kita menyaksikan debat remeh-temeh di ruang parlemen. Kita menyaksikan opera sabun partai politik yang kader-kadernya saling berebut jabatan atau mengincar posisi penting di pemerintahan. Dunia politik kita laksana panggung tempat segala pertarungan ditampilkan dalam skenario ala sinetron.

Di banyak daerah, para kepala daerah justru sibuk membangun dinasti politik. Mereka membangun kekayaan yang berlipat-lipat, dengan menilep uang proyek dan anggaran belanja daerah, yang seharusnya dialokasikan untuk orang banyak. Para kepala daerah membangun kerajaan, yang diisi oleh orang-orang loyal kepadanya. Kapasitas dan kemampuan menjadi tidak penting. Ada banyak cerita tentang mereka yang berkualitas, namun akhirnya terbuang karena dianggap bukan bagian dari tim sukses atau tim pemenangan. Dalam dunia politik lokal, kontribusi bagi kemenangan seorang calon adalah jaminan bagi napas yang lebih panjang di pemerintahan atau birokrasi. Bagi penguasaha, itu juga jaminan bagi napas keberlanjutan proyek-proyek di daerah.

Mengapa harus menertawakan Angel ketika di mana-mana kita menemukan sosok sepertinya di gedung-gedung dewan dan kantor-kantor birokrasi di daerah? Mengapa kita tak menertawakan semua orang yang jelas-jelas menumpuk kekayaan kemudian menjadi rakyat sebagai perah yang setiap saat dibohongi demi memperbesar pundi-pundi kekayaan pribadi?

Dunia politik kita menjadi dunia yang serba dangkal sebab mereka yang bertarung di dalamnya bukanlah mereka yang memiliki naluri dan jiwa pengabdian bagi kepentingan orang banyak. Politik menjadi arena yang mempertontonkan banalitas di mana kelihaian dan kemampuan meraih simpati publik adalah jantung utama bagi proses menuju ruang parlemen. Ketika politik menjadi arena untuk meneguhkan kepentingan, maka para pemain politik akan menjadi pion-pion pengejar kepentingan itu.

Mengapa harus menertawakan Angel ketika kita tak siap memasuki arena politik dan hanya memilih menjadi pemerhati? Mereka yang menertawakan Angel adalah mereka yang menganggap diri lebih pandai dalam hal politik. Jika demikian halnya, maka mengapa pula kita tak ramai-ramai masuk ke dunia politik? Di saat orang-orang baik menjauhi politik, maka parlemen kita akan diisi dengan para pedagang yang menjual kecap demi satu kursi parlemen. Di saat orang cerdas menjauhi politik, jangan salahkan ketika parlemen dipenuhi banyak orang asal bunyi, berusaha nampak cerdas, sembari merahasiakan segala permainan politik di belakang layar.

Wajah lugu Angel Lelga adalah wajah kita semua. Ia adalah puncak dari gunung es dunia politik kita yang sesungguhnya. Jauh lebih baik jika energi kritik kita arahkan pada para politisi busuk, sistem politik kita yang amburadul, serta pada mereka-mereka yang mencari rente pada dunia ini. Angel hanyalah sosok kecil dari lusinan pemain besar yang tak tersentuh oleh kritik kita, para pelanggar HAM, para pengusaha hitam, atau militer haus kuasa. Maka kepada Angel, selayaknya kita bercermin dan melihat potret politik kita yang sejati.



Setiap Karya Punya Takdir Masing-Masing


foto yang dipajang di facebook

SEORANG sahabat membeli bukuku di satu toko buku di Jakarta. Ia lalu memotret buku itu, kemudian meng-upload-nya di facebook. Ia memberi kabar kepada dunia bahwa ia telah memiliki buku itu. Sayang, buku itu tak ditandatangani. Tapi ia merasa amat senang.

Sebagai penulis, hatiku langsung mekar. Lebih mekar lagi tatkala membuka jejaring sosial, dan ada banyak orang yang meminta agar buku tersebut ditandatangani. Ketika menyadari bahwa buku tersebut telah masuk ke ruang publik, aku merasa deg-degan. Aku membayangkan akan menerima berbagai respond publik, mulai dari reaksi suka, marah, ataupun benci dengan apa yang kutuliskan.

Sekian detik berikutnya, aku langsung sadar bahwa ketika sebuah buku telah terbit, maka ‘sang pengarang telah mati.’ Karya itu bukan lagi milik seorang pengarang, melainkan milik publik. Publik berhak memberikan penilaian, apakah suka ataukah tidak suka dengan apa yang dituliskan dalam buku itu. Mereka bebas-bebas saja hendak menghakimi ataukah menempatkan buku ke jajaran buku yang menginspirasinya.

Benar kata Dewiq, seorang pengarang lagu. Bahwa sebuah karya punya takdir masing-masing. Ada karya tulis yang disukai orang, namun ada pula yang bernasib sial sebab tak dilirik sedikitpun. Bagiku, respon publik tak seberaps penting, sebab respon publik bisa pula direkayasa.

Yang paling penting adalah bagaimana seseorang mengasah diri dan kapasitasnya, serta menjadikan buku yang ditulisnya sebagai saksi hidup atas segala upaya untuk menemukan dirinya. Karya itu menjadi rekaman tentang diri seseorang pada satu waktu, pada satu konteks. Karya itu menjadi tangga-tangga untuk mencapai penyempurnaan, sebuah derajat di mana seseorang akan mengolah setiap kata demi mengayakan batinnya, lalu menggemburkannya dengan segala tetes kebaikan.
 
bunga yang sedang mekaran

Ketika merenungi kenyataan ini, batinku tiba-tiba saja siap menghadapi beragam kemungkinan. Aku menerima dengan ikhlas, apapun kesan orang lain atas buku itu, apakah baik ataukah buruk. Toh, itu cuma konsep. Yang pasti, semua karya memiliki takdirnya masing-masing.


Perempuan Seksi di Wat Chalong



satu sudut di kuil Wat Chalong

SELALU saja ada magnit berbeda atas benda atau sesuatu yang terkait dengan seorang manusia suci. Di Kuil Wat Chalong yang terletak di Phuket, Thailand, aku tergetar ketika menyaksikan sekeping tulang Sidharta Gautama. Aku juga terkenang dengan seorang perempuan yang menunjukkanku makna empat perjalanan Budha.

***

BUNYI petasan bersahut-sahutan ketika aku memasuki kawasan Wat Chalong. Bagi umat Budha, bunyi petasan memiliki makna spiritual tentang doa-doa yang dilepaskan ke langit. Bunyi petasan itu terdengar dari sebuah tungku di dekat kuil utama, tempat umat Budha berdoa di hadapan patung tiga biksu. Dari 29 wihara, atau sering disebut wat, di Phuket, Wat Chalong adalah yang terbesar.

Wat Chalong ini terdiri atas tiga bangunan utama. Bangunan pertama adalah kuil tempat berdoa, bangunan kedua adalah kuil berlantai tiga yang menyimpan banyak patung Budha serta tulang sang Budha, sedang kuil ketiga berfungsi sebagai tempat penahbisan para biksu. Ada lagi satu bangunan kecil yang serupa aula bagi pengunjung kuil.

Hampir semua bangunan berwarna keemasan dengan ukir-ukiran yang unik dan khas Thailand. Selain warna emas, warna merah juga nampak dominan. Di kuil itu, banyak biksu berdatangan untuk berdoa. Banyak pula turis yang datang untuk beribadah. Namun, masih lebih banyak turis yang datang untuk melihat-lihat sekeliling, kemudian memotret.

Aku lalu memasuki kuil utama. Di tengah bunyi petasan yang keras terdengar, aku mencium bau hio atau dupa yang khas. Sejumlah orang datang berdoa. Mereka terlebih dahulu mengambil hio di depan pintu, membakarnya, lalu masuk ke dalam untuk berdoa. Beberapa wanita muda bermata sipit kulihat memasukkan sejumlah kayu ke dalam wada kecil, lalu menggoyangnya hingga terlepas. Setelah itu, mereka lalu mendekati patung biksu yang seolah sedang memberikan pemberkatan.

tampak luar
atap gedung
berpose di dekat Budha tidur

Di tengah suasana sakral itu, aku melihat seorang perempuan berambut pirang yang memotret semua kejadian. Rambutnya dikepang satu. Ia memakai baju tak berlengan, serta celana pendek. Ia nampak seksi. Ia juga membawa kamera jenis Nikon, sama dengan yang kutenteng. Ketika kudekati, ia tersenyum lalu mengajakku keluar ruangan. Ia lalu bercerita tentang perjalanannya menelusuri pantai-pantai di Phuket hingga akhirnya menemukan kedamaian ketika berada di Wat Chalong.

“Aku bukan seorang pemeluk Budha. Tapi entah kenapa, setiap kali aku berada di tempat ini aku menemukan kedamaian,” katanya. Ia menyebut dirinya berasal dari satu negara di Eropa. Ia datang ke Phuket seorang diri demi mencari kedamaian. Ia mengingatkanku pada penulis Elizabeth Gilbert yang melakukan perjalanan ke Italia, India, dan Indonesia demi mencari kedamaian hati.

Kami berbincang akrab. Ia lalu mengajakku masuk ke gedung kuil berlantai tiga. Kuperhatikan sekeliling. Ternyata ada aturan tak tertulis agar pengunjung harus sopan di ruangan itu. Meski panas terik, warga asing dilarang unuk memakai pakaian yang terlampau seksi. Semua orang mesti respek dan menghormati makna wihara sebagai oase spiritualitas.

Tanpa kuminta, ia menjelaskan sejarah Wat Chalong yang penuh misteri. Tahun pasti pendirian kuil ini tak diketahui persis. Sejarawan lokal meyakini bahwa konstruksi dasarnya dibangun pada masa Raja Rama II (1809-1842). Pada tahun 1876, di bawah Raja Rama V, kuil ini menjadi tempat pengungsian wara lokal akibat kerusuhan. Biksu Luang Pho Chaem memberikan kekuatan bagi warga yang ketakutan, sehingga patungnya lalu diabadikan warga setempat, bersamaan dengan pendirian bangunan utama kuil.

Perempuan seksi itu lalu bercerita tentang bangunan berlantai tiga yang kami masuki. Katanya, bangunan itu adalah pagoda yang berukuran 61,4 meter. Bangunan itu menyimpan Phra Borom Sareerikatat atau sepotong tulang Budha yang dibawa dari Sri Lanka pada tahun 1999. Potongan tulang itu dibawa dan disimpan di dalam pagoda pada tahun 2002 dalam upacara kehormatan yang dipimpin oleh Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn.

Tulang itu disimpan dalam kotak kaca yang dikelilingi oleh patung-patung Budha berwarna keemasan. Ia terletak di lantai tiga Wat Chalong Chedi atau kuil Budha terbesar di Phuket. Dalam bangunan yang penuh dengan hiasan tersebut, kisah hidup Sang Budha digambarkan secara singkat.

Tulang Sang Budha itu membuatku tergetar. Aku langsung merasakan sebuah aura seorang manusia yang mendedikasikan hidupnya untuk kedamaian dan keterangan batin. Aku teringat tulisan Annemarie Schimmel yang menyebutkan adanya makna yang hadir pada benda-benda yang pernah disentuh atau bagian dari seorang besar. Kata Schimmel, di balik setiap benda material, selalu ada aspek mistik yang merupakan endapan energi dari seorang manusia besar.

hio yang dipakai seusai berdoa
patung biksu yang berjejer

Perempuan itu lalu menunjukkanku dinding yang dipenuhi lukisan kisah hidup sang Budha. Ia lalu menjelaskan satu per satu makna setiap gambar. Pernah aku membaca delapan jilid komik Buddha yang digambar oleh dewa komik Jepang Osamu Tezuka. Dalam jilid kedua, ada kisah yang amat menyentuh hati tentang empat perjumpaan. Kisahnya bermula ketika Pangeran Sidharta keluar dari istananya. Ia kemudian bertemu dengan empat kenyataan yang membuat hatinya teriris-iris.

Mulanya, Sidharta menyaksikan orang tua yang jalannya tertatih-tatih. Selanjutnya, ia melihat perempuan yang dilanda sakit parah, setelah itu ia melihat tulang belulang. Terakhir ia bertemu pertapa. Empat perjumpaan itu membuat Sidharta merenungi tentang hakikat hidup. Bahwa manusia adalah mahluk yang amat rapuh, bisa terserang penyakit, pasti mengalami ketuaan, hingga akhirnya menjadi tulang-belulang. Lantas, jika kehidupan sedemikian fana, mengapa pula manusia harus meletakkan kehidupan sebagai segala-galanya?

Sidharta lalu memilih hidup sebagai pertapa yang melepaskan segala nikmat dunia. Ia menghadirkan cahaya terang yang menyelusup ke hati banyak orang, bahkan di zaman yang jauh ketika dirinya telah wafat. Ia mewariskan sesuatu yang tidak kecil, sebab menjadi suluh terang bagi banyak orang yang hendak menemukan kedamaian. Sidharta adalah seorang yang meninggalkan kemewahan dunia. Ia menyebut kemewahan serta rasa kemelekatan atas dunia sebagai penjara-penjara yang menghalang manusia untuk menemukan kedamaian.

Aku bukan seorang penganut Budha. Tapi aku bisa merasakan bahwa cinta yang dahsyat dari banyak orang tersebut pastilah memiliki  argumentasi sendiri. Di balik kesederhanaan Budha terselip satu kekuatan besar tentang dunia yang lebih baik. Jika saja manusia bisa memasangi kekang pada hawa nafsunya, maka dunia masa depan akan menjadi dunia yang amat indah, sebab semua orang akan saling respek, saling menghargai persaudaraan, dan menemukan pertautan jiwa.

Wat Chalong yang permai

Sayang, seusai batinku basah oleh gambaran tentang Budha, aku kehilangan jejak perempuan yang menemaniku itu. Mungkin ia lebih dulu turun ke lantai dasar tanpa sempat memberitahuku. Bahkan ketika kucari ke lantai dasar, bayangan perempuan itu telah lenyap.

Keesokan harinya, saat di bandara dan hendak memasuki pesawat yang akan membawaku ke tanah air, aku melihat sosok itu di kejauhan. Duh, aku sudah depan pintu pesawat. Mustahil untuk turun dan sekadar menanyakan namanya.


Renungan Usai Diskusi Politik


ilustrasi

DI hadapan sekitar seratus anak muda di Baubau, saya menjadi narasumber diskusi tentang partai politik. Tadinya saya hanya menjadi peserta biasa, namun karena ada dua narasumber yang tak hadir, saya lalu didapuk menggantikan mereka. Dengan semangat untuk berbagi pengetahuan, saya lalu ikut mengemukakan beberapa gagasan yang sekiranya bisa memantik diskusi.

Saya cukup lama tidak merasakan tampil sebagai narasumber. Biasanya, saya lebih suka melihat sesuatu dari pinggiran, kemudian memberikan beberapa catatan-catatan kritis. Belakangan ini, saya merasa nyaman sebagai penyaksi. Saya lebih suka memperhatikan sesuatu, kemudian merekam detail-detail yang disaksikan dalam beberapa catatan. Saya lebih suka menulis ketimbang berbicara.

Beberapa tahun lalu, saya amat sering menjadi pembicara di berbagai pelatihan mahasiswa. Ketika menjadi aktivis organisasi mahasiswa, nyaris setiap minggu saya menerima undangan untuk membawakan diskusi. Saya pernah tampil dalam beragam tema, mulai dari tema-tema seperti logika dan filsafat hingga tema-tema keseharian. Saya terbiasa tampil di berbagai acara besar, dan dipanel dengan banyak orang hebat di negeri ini. Ini adalah periode ketika saya tinggal di kota Makassar.

Sayang, ketika meninggalkan kota itu, saya lalu meninggalkan panggung-panggung diskusi. Praktis, saya kehilangan kesempatan untuk adu argumentasi dengan banyak kalangan. Saya lalu kehilangan panggung untuk belajar banyak hal. Hingga akhirnya saya menemukan wadah aktualisasi lain yakni melalui menulis.

Saya merasa amat beruntung bisa mengenali dunia tulis-menulis. Dunia ini menjadi arena buat saya untuk berbagi pengetahuan, sekaligus menyerap pengetahuan-pengetahuan baru. Benar kata Hernowo, salah satu pendiri Mizan, bahwa setiap aktivitas menulis selalu membutuhkan energi yang didapat melalui bacaan. Tanpa membaca, tulisan akan kering dan kehilangan daya ledak. Melalui menulis, saya mendiskusikan bayak ha dengan cara-cara yang simpel agar setiap tulisan dibaca oleh banyak orang.

***

suasana diskusi

SEMALAM saya tampil menjadi pembicara. Mulanya ada rasa kikuk hendak memulai dari mana. Beberapa detik berikutnya, semuanya berjalan normal. Entah, apakah materi yang saya bawakan disukai ataukah tidak, yang pasti saya melihat sorot mata penuh rasa ingin tahu dan hasrat belajar yang memancar dalam wajah banyak orang. Saya mendengar permintaan agar diskusi serupa digelar berkali-kali demi memperkokoh basis pengetahuan serta mengatasi rasa haus banyak orang untuk belajar.

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...