Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Perempuan Seksi di Bangla Road


suasana di salah satu bar di Phuket, Thailand

DI Bangla Road, Phuket, Thailand, waktu seakan tak pernah mati. Sejak sore hari, jalanan ini amat ramai dengan banyak orang yang lalu lalang demi meramaikan berbagai tempat hiburan. Jalan ini menjadi pusat hiburan malam. Banyak yang singgah hendak menyaksikan hiburan malam, atau barangkali mencicipi dua atau tiga botol bir, sambil menggandeng gadis-gadis Phuket yang ayu bertubuh montok.

Di jalan itu, aku menyaksikan banyak perempuan muda yang datang dengan dandanan seksi serta sorot mata menantang. Gadis Thailand itu datang dari berbagai arah. Ada yang digandeng lelaki bule sambil berciuman di beberapa pojokan jalan, ada pula yang datang berombongan, lalu mauk ke dalam banyak bar.

Di depan bar-bar itu, batin saya terkesiap. Ada beberapa tiang, serta sejumlah gadis yang asyik menari sambil memeluk, berputar, serta menggesekkan tubuhnya di tiang-tiang itu. Sementara lelaki bule yang menyaksikannya beberapa kali bertepuk tangan. Seorang bule tiba-tiba datang dan menyelipkan beberapa lembar uang baht ke celana dalam gadis itu. Kemudian mereka sama-sama tenggelam dalam bau alkohol yang menyengat.

gerbang Bangla Road menuju ke Patong
woman in red
perempuan di balkon
pesta hingga malam larut

Di tepi bar itu, aku sedang termenung menyaksikan satu set kenyataan sosial. Apakah gerangan yang hendak dicari manusia-manusia yang datang dari banyak tempat ini? Apakah mereka sedang mencari kebahagiaan ataukah sedang mencari makna-makna yang bertebaran hingga tempat terjauh dari kampung halamannya.

Nampaknya aku tak akan menemukan jawabannya di situ. Mereka juga tak akan pernah mengungkapkan apa gerangan yang hendak dicarinya. Aku tiba-tiba saja merasa sedih membayangkan perasaan gadis-gadis yang sedang menari itu. Dalam satu jurnal pernah kubaca tentang maraknya kasus traficking atau penjualan manusia di Thailand. Pernah pula seseorang bercerita tentang tingginya asus HIV di tanah ini. Thailand ibarat jantung dari industri besar pariwisata yang limbahnya adalah permasalahan sosial yang terus mengalir.

Di tepi bar itu, aku mengeja aksara kehidupan, yang entah, akankah mendapat jawabannya ataukah tidak.(*)

Berkah Menulis di Tahun 2013


plakat dari Kompasiana

DUA plakat itu tak puas-puasnya saya pandangi. Saya memang baru menerimanya kemarin. Padahal, plakat itu diserahkan secara resmi di Jakarta pada bulan November silam. Jarak yang sedemikian jauh antara Pulau Buton dan Jakarta telah merintangi langkah saya untuk menerimanya. Kini, plakat itu ada di tangan. Saya masih tak percaya kalau saya yang beruntung menerimanya.

Plakat pertama bertuliskan Kompasianer Tahun 2013 Sedangkan plakat kedua bertuliskan Reporter Warga Terbaik 2013. Penghargaan ini sangatlah membahagiakan buat saya. Betapa tidak, yang menyerahkan penghargaan adalah Kompasiana, sebuah portal citizen reporter paling besar di tanah air. Bisa terpilih dari sekian ribu para blogger Kompasiana di seluruh Indonesia adalah hal yang membahagiakan, sekaigus menjadi tantangan di masa depan.

Di ranah blog dan social media, saya bukanlah seorang penulis yang produktif. Saya hanya menulis ketika sedang senggang, dan ketika tidak terbebani banyak tugas. Makanya, saya tak pernah berharap banyak ketika nama saya masuk dalam nominasi. Bagi saya, bisa terpilih adalah satu prestasi besar di tengah ranah maya yang di dalamnya ada banyak penulis hebat.

Malah, saya menganggap kalau kandidat lain lebih potensial untuk memenangkan penghargaan. Mereka cukup produktif dan rajin memposting gagasan. Makanya, ketika tahu bahwa saya terpilih, maka saya yakin bahwa itu hanyalah keberuntungan semata. Penghargaan apapun jelas tak penting ketika membuat seseorang kehilangan kepekaan untuk terus mengasah diri. Jauh lebih baik tak memenangkan apapun namun terus mengembangkan kapasitas, ketimbang menang cuma sekali, selanjutnya kemampuan tak berkembang.

berkat blog, saya bisa berkunjung dan memotret di Phuket, Thailand

Saya menerima banyak berkah di bidang penulisan pada tahun 2013 ini. Bulan Mei silam, saat masih tinggal di Amerika, artikel saya masuk dalam jurnal bergengsi yang terbit di luar negeri. Selanjutnya, artikel saya terpilih sebagai pemenang lomba ngeblog yang diadakan oleh lembaga Oxfam internasional. Saat itu, saya menulis tentang seorang nelayan kecil Pulau Buton yang menjalani hidup sebagaimana air mengalir. Tak disangka, artikel itu terpilih sebagai juara.

Bulan Agustus lalu, saat baru sebulan di tanah air, saya menang lomba menulis esai ekonomi yang diadakan oleh Sekretariat Kabinet RI. Saya bukan seorang yang berlatar ekonomi. Saya hanya seorang pencatat kehidupan yang menulis sesuatu dengan mercusuar yang dipandu teori sosial yang pernah saya pelajari. Saya selalu belajar untuk menulis sesuatu dengan sederhana demi untuk dipahami oleh semua kalangan masyarakat.

Bagi saya, sebuah tulisan adalah medium untuk mendialogkan gagasan-gagasan. Ketika mengikuti lomba esai ekonomi, saya menyadari bahwa buku-buku teks ilmu ekonomi terlampau melangit. Buku tersebut seringkali hanya menyajikan sesuatu yang berada di atas, tanpa terjun bebas ke tengah denyut nadi masyarakat demi melihat bagaimana mereka bertahan hidup, mengembangkan kapasitas, dan secara sadar dan terencana keluar secara perlahan-lahan dari berbagai masalah yang mereka hadapi. Tak disangka, upaya menuliskan catatan tentang orang biasa itu berhasil memenangkan hadiah tertinggi yakni uang senilai 20 juta rupiah.

Terakhir, di bulan November, saya menang dua penghargaan di ajang Kompasianival, sebagaimana telah saya kisahkan di awal tulisan. Saya menganggap penghargaan ini sebagai sebuah ajakan untuk terus meramaikan ranah social blog Kompasiana dengan berbagai artikel.

Sejak dulu saya beranggapan bahwa menulis hanyalah satu jalan untuk berdialog. Jika saya memiliki gagasan atau sebuah cerita yang disampaikan secara lisan, maka cerita itu hanya menyentuh sedikit orang. Namun jika disampaikan lewat tulisan, maka kisah itu akan tersebar luas, menyentuh banyak lapisan masyarakat di berbagai pelosok, serta memiliki potensi untuk menggerakkan orang lain. Lewat tulisan, sebuah gagasan akan memiliki kaki-kaki untuk bergerak serta bisa menyapa banyak orang.

plakat dari Kompasiana
piagam hadiah lomba menulis esai ekonomi

Sebelum mengenal Kompasiana, saya kerap menulis gagasan di media cetak. Sayangnya, tulisan di media cetak hanya dibaca sehari. Selanjutnya, tulisan tersebut akan lenyap tak berjejak. Sementara di dunia maya, sebuah tulisan akan bertahan lama serta punya potensi untuk dibaca lebih lama. Saya juga berkeyakinan bahwa di masa depan, media akan bermetamorfosis ke dalam model yang melibatkan sebanyak mungkin partisipasi warga. Di masa depan, media akan meniru cara kerja Wikipedia, sebuah rumah yang dibangun oleh ribuan armada semut dari berbagai titik, dan secara bersamaan saling menguatkan.

Saya bahagia bisa mengambil bagian dalam atmosfer media baru. Lebih bahagia lagi ketia mendapat beberapa hadiah dari berkah kepenulisan di media baru. Namun ketika saya merenungkan berkah terbesar dari menulis, ternyata bukan terletak pada hadiah-hadiah lomba. Bukan pula terletak rasa bahagia karena artikel bisa terpilih. Berkah terbesarnya terletak pada banyaknya sahabat di mana-mana yang saling berkirim pesan, serta berbagi energi positif. Melalui artikel yang selalu diposting, ada semangat serta ikatan kuat untuk selalu bertukar pesan.

Berkah lain dari dunia ini adalah jaringan pertemanan yang tersebar di banyak tempat. Saya bertemu banyak orang yang dengan sukarela menawarkan persahabatan, serta keriangan untuk saling bertukar artikel dan saling memberikan masukan. Indahnya persahabatan dan pertemanan ini adalah sesuatu yang tak ternilai. Saya bahagia punya banyak sahabat yang sama-sama saling berbagi energi positif. Melalui persahabatan itu, saya menemukan cermin untuk melihat sisi-sisi terdalam diri saya, menemukan banyaknya kelemahan dan kekurangan, yang kemudian saya benahi setitik demi setitik.

Lebih bahagia lagi ketika sebuah penerbit besar akan menerbitkan tulisan-tulisan saya di Kompasiana dan blog pribadi. Saya senang kaena gagasan yang ditulis dengan niatan berbagi pengalaman tersebut akhirnya akan memiliki gaung yang lebih luas. Semoga saja buku itu bisa diterima oleh publik.

Sungguh, saya masih jauh dari sempurna. Tapi dengan banyaknya orang yang saling berbagi pengetahuan, saya percaya kalau saya akan segera menemukan titik pijak untuk terus menata diri melalui proses belajar. Terimakasih atas semuanya.



Jakarta, 31 Desember 2013


Catatan:
tulisan ini adalah tulisan terakhir saya di Kompasiana pada tahun 2013. Sampai bertemu di tahun mendatang.

Catatan Biasa yang TAK BIASA


Bagaimanakah memahami sejarah dari perspektif orang biasa?


DI atas pesawat yang menerbangkan saya dari Jakarta ke Phuket, Thailand, saya membaca buku berjudul Batavia, Kisah Kapten Woodes Rogers & Dr Strehler yang ditulis Frieda Amran. Tadinya saya mengira buku ini berisikan tentang teks sejarah Batavia. Ternyata, buku ini lebih dari sekadar sejarah. Buku ini memotret beberapa keping peristiwa sebagaimana disaksikan warga biasa di Jakarta pada era kolonial.

Saya belajar banyak hal-hal sederhana dan penting di buku ini. Bahwa ada banyak hal yang sering luput dari pandangan sejarawan. Seringkali, para sejarawan hanya fokus pada kejadian besar seperti revolusi, peperangan, atau pemberontakan. Mereka sering abai pada bagaimana rakyat biasa menjalani hari, kegiatan yang mereka lakukan, bagaimana suasana hiburan malam, hingga bagaimana suasana kota di masa silam.

sampul buku Batavia
Hal-hal seperti ini memang sederhana bagi sebagian orang. Namun bagi peneliti yang rajin mengamati tentang masyarakat dan perubahannya, maka catatan orang biasa itu laksana berlian yang berkilau. Catatan itu menjadi tak biasa. Kisah-kisah yang dirangkum serupa mesin waktu yang bisa membantu kita untuk memahami suasana batin, konteks masyarakat serta memahami tindakan manusia pada satu kurun perode tertentu.

Kisah-kisah dalam buku ini tidak digali dari catatan ilmuwan, birokrat, ataupun pembesar pada masa itu. Kisahnya dicatat oleh warga biasa yang kebetulan berada di Batavia, kemudian merekam semua kesaksiannya pada lembar-lembar yang sekian tahun berikutnya menjadi sangat berharga.

Kapten Woodes Rogers dan Dr Strehler bukanlah seorang besar dalam pengertian pejabat atau gubernur jenderal. Woodes Rogers adalah seorang nakhoda yang tekun mencatat dalam buku harian. Ia berkunjung ke Batavia pada tahun 1710. Ia mengabadikan kenangannya tentang kehidupan sosial masyarakat Batavia.

Sedangkan Dr Stehler adalah dokter berkebangsaan Jerman, yang datang ke Batavia pada tahun 1828. Dalam pelayawan selama berbulan-bulan dari Belanda ke Batavia, ia mencatat semua pengalaman yang disaksikannya, suasana kapal, makanan yang disajikan, hingga hal-hal unik dalam perjalanan tersebut.

Ketika mulai membaca buku, saya sempat berpikir bahwa wacana history from below ataupun citizen reporter bukanlah wacana baru yang muncul akhir-akhir ini. Pada masa silam, catatan-catatan dari orang biasa sudah ada dan meramaikan khasanah pemikiran, hanya saja seringkali diabaikan. Catatan itu sangat jujur menceritakan kehidupan sosial secara apa adanya, dan bisa menjadi kompas yang memandu kita unuk memahami setiap keping masa silam.

Sungguh menyenangkan bisa membaca buku ini. Dengan bahasa yang ringan dan mengalir, pembaca diajak untuk tidak berkerut kening ketika memahami rangkaian kisah. Biasanya, sejarah menjadi sangat memusingkan ketika membahas teka-teki dan puzzle peristiwa masa silam. Buku ini tidaklah demikian. Yang perlu dilakukan pembaca hanyalah duduk manis, kemudian ‘meminjam’ indra-indra penglihatan, pendengaran, dan perasaan dari Kapten Woodes Rogers dan Dr Strehler lalu berkelana ke masa silam dan merasakan denyut zaman beserta hembusan napas manusia di dalamnya.

Meski belum pernah bertemu pengarangnya, saya merasa cukup akrab dengannya. Sejak dua tahun silam, saya berteman dengannya melalui dunia maya. Latar belakangnya adalah seorang antropolog yang tentu saja sangat expert dalam hal membuat catatan lapangan, being native atau memahami perspektif masyarakat lokal, serta terbiasa membangun deskripsi berdasarkan pemahaman yang teliti atas satu gejala sosial.

Cara kerja memang agak beda dengan kerja sejarawan yang setia memperhatikan events atau peristiwa, sering memberikan penjelasan kausaltas, penelusuran sumber, hingga memahami kronologis satu peristiwa (sebagaimana dicatat ilmuwan sosial Peter Burke dalam buku History and Social Theory). Sebagai antropolog, pengarang buku fokus pada deskripsi atas detail-detal kecil, sederhana, serta dipahami dengan perspektif subyek yang mengalami.

Nah, melalui buku ini, pembaca akan mengalami langsung bagaimana petualngan seorang kapten kapal, serta dokter Jerman yang setia menuliskan catatannya tentang Batavia pada periode kolonial.

Saya cukup menikmati buku ini. Satu kritik saya adalah buku ini terlampau singkat. Saya berharap untuk tahu lebih banyak. Jumlah 144 halaman buku ini terlampau singkat untuk mendapatkan banyak informasi. Saya ingin tokoh-tokohnya juga banyak dan variatif. Tak hanya warga asing, saya berharap ada seorang warga Betawi, seorang nyai, warga Tionghoa, ataupun seorang budak belian. Dengan masuk pada pengalaman banyak sosok, para pembaca akan lebih memahami kenyataan dari berbagai perspektif sehingga bisa mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

Namun, saya yakin persis bahwa tak semua orang membuat catatan sebagaimana kapten dan dokter di buku ini. Pada akhirnya, sejarah dan masa silam akan dikonstruksi oleh mereka yang rajin meninggalkan catatan. Sebab merekalah yang mewariskan ingatan tentang masa silam.

Usai membaca buku, saya langsung mengkhayal. Jika saja Kapten Woodes Rogers dan Dr Strehler hidup di masa kini, apakah mereka akan mencatat sebagaimana abad ke-19? Pasti. Mereka tetap akan mencatat. Namun tidak dalam bentuk diary atau catatan harian. Mereka akan menjadi blogger yang setia mencatat segala kejadian, pengalaman, serta apa yang dipikirkan. Para bloggerlah yang akan menjadi juru bicara masa kini di masa depan yang memberikan pencerahan atas sesuatu yang sempat gelap dan menjadi misteri.


Jakarta, 29 Desember 2013

Misteri Kekalahan Wisata Kita (Ekspedisi Phuket 2)


snorkeling di Maya Beach, Phuket, Thailand

DUA hari lalu, di depan James Bond Island, Mr Ming, pemandu wisata yang menemani perjalanan saya di Phuket, Thailand, langsung berkata, “Pulau ini didatangi jutaan orang setiap tahun, khususnya saat peak season. Indah khan?” Saya mengangguk di hadapannya. Namun di hati kecil, saya tak menemukan keindahannya. Padahal, di kiri kanan saya, ada ratusan turis asing yang silih berganti berdatangan, lalu memotret pulau kecil itu, kemudian bermain di pasir putih. Semua turis berdecak kagum.

Dahulu, pulau kecil ini menjadi tempat syuting salah satu film James Bond yang berjudul The Man with the Golden Gun. Tempat ini terletak di Phang Nga, sebuah taman nasional dengan pulau-pulau yang menyembul di Laut Andaman. Kalau tak salah, bintang James Bond saat itu adalah Sean Connery. Melihat pulau itu, saya membayangkan adegan ketika Sean Connery menaiki speed boat sambil membawa senjata. Pasti sangat seru.

Dan puluhan tahun sesudahnya, pulau ini dikemas menjadi paket wisata hingga terus didatangi banyak orang, menyerap banyak devisa dari warga internasional, memberikan pendapatan bagi warga lokal. Orang-orang membayar mahal untuk tiba di tempat itu. Sementara saya datang ke situ dengan gratis. Saya tak perlu membayar sepeserpun.

Keesokan harinya, saya diajak mengunjungi Maya Beach, yang menjadi lokasi pembuatan film The Beach yang dibintangi Leonardo Di Caprio. Penumpang kapal wisata yang saya tumpangi lalu memakai pelampung kemudian menceburkan diri di air hijau. Mereka melakukan aktivitas snorkeling. Saya tak ikut turun ke laut. Saya hanya menyaksikan saja. Sebagaimana di James Bond Island, kembali saya tak menemukan letak keindahannya.

Usai snorkeling, kapal wisata lalu singgah ke Phi Phi Island, sebuah pulau indah berpasir putih dan dahulu sempat remuk karena dihantam tsunami. Di situ, saya menyaksikan rerimbunan hotel yang memenuhi kawasan pantai berpasir putih yang indah. Di pulau ini, turis asing bergerombol bak semut mendatangi sarang. Mereka memenuhi pantai, berjemur diri, lalu sesekali berenang di lautan biru. Seorang turis berkebangsaan Rusia bercerita bahwa sejak dahulu, ia membayangan surga berbentuk pulau tropis dngan pasir putih serta nyiur melambai. Ketika tiba di Phi Phi Island, ia merasa telah menemukan surga. Ia menemukan bahagianya.


para turis tengah bersantai di Maya Beach
pemandangan di Phi Phi Island

Di beberapa tempat wisata bertaraf internasional itu, saya justru tidak menemukan letak keindahannya. Sebagai orang yang lahir dan besar di pulau kecil di sebelah tenggara Sulawesi, hampir tiap hari saya menyaksikan laut biru, karang-karang, serta nyiur melambai sebagai tempat bermain sejak masa kecil. Bahkan hingga kini, rumah saya di Pulau Buton hanya berjarak sepuluh menit dari pantai berpasir putih. Makanya, ketika menyaksikan pasir putih itu, saya justru membandingkannya dengan alam perkampungan saya yang juga indah, dan belum banyak diketahui warga dunia.

Di sepanjang pesisir Pulau Buton, hingga pesisir pulau-pulau kecil di kawasan Wakatobi, jejeran pulau-pulau tropis berjajar indah dan tak banyak diketahui warga asing. Di pulau-pulau kecil itu, saya kerap bermain sambil mandi. Di pulau-pulau itu, para nelayan kerap datang dan melempar jaring. Mereka membawa banyak ikan yang kemudian dikonsumsi warga pulau. Lautan ibarat kanvas bagi seorang pelukis yang menjadi tempat bermain dan menjalani hari-hari, serta belajar banyak hal.

Sungguh ironis saat mengetahui bahwa pulau-pulau di tanah air justru tak banyak diketahui. Belakangan ini, pemerintah Indonesia memaksimalkan promosi paket wisata di pulau-pulau demi memaksimalkan devisa negara. Kawasan pulau-pulau seperti Wakatobi mulai diperkenalkan ke mata dunia.

Keindahan pulau-pulau di tanah air Indonesia jelas berpuluh kali lipat dibandingkan Phuket, Thailand. Akan tetapi, jangankan warga asing, warga lokal sekalipun tidak banyak tahu bahwa ada banyak tempat wisata hebat di tanah air. Banyak di antara kita yang belum pernah sedikitpun menginjakkan kaki di jajaran pulau-pulau yang keindahannya sedemikian memesona di negeri sendiri. Saya berani bertaruh bahwa ada ribuan pulau-pulau di tanah air yang jauh lebih memukau dari pulau-pulau di Phuket.

Lebih ironis lagi saat mengetahui bahwa wisatawan Indonesia justru banyak membanjiri Phuket, Bangkok, ataupun Pattaya. Bahasa Indonesia menjadi bahasa yang dikuasai para pemandu wisata di Thailand. Banyak tempat belanja yang pemiliknya fasih berbahasa Indonesia dan cakap menggunakannya. Ketika saya menanyakan itu ke seorang pemandu wisata, jawabannya simpel. Sebab di kawasan Asia Tenggara, Indonesia mengirimkan wisatawan terbanyak untuk berkunjung ke Thailand.

Sejak rute Jakarta – Phuket dibuka, rute ini selalu dipenuhi orang-orang yang datang untuk berwisata. Saya seringkali terheran-heran, mengapa warga kita sedemikian jauh mencari keindahan wisata pantai, sementara di dalam negeri justru ada banyak tempat menakjubkan dan eksotis untuk dijelajahi. Mengapa Phuket harus sedemikian populer dan didatangi warga dunia?

Nampaknya, kita tak perlu malu untuk belajar pada Thailand. Negeri gajah putih itu sanggup mengemas sesuatu yang sederhana di mata kita menjadi sesuatu yang bernilai di mata masyarakat awam. Mereka bisa menampilkan keunikan, lalu menjualnya sebagai tontonan wisata yang menarik. Di negeri itu, atraksi manusia memanjat kelapa pun bisa dikemas menjadi satu tontonan menarik. Sementara di tanah air, atraksi unik seperti monyet memanjat kelapa tak bisa dikemas menjadi paket wisata.

berpose di depan satu kuil di Phuket

Pantas saja jika negeri itu bisa memanen begitu banyak pendapatan dari sektor pariwisata. Tentu saja, ada dampak sosial yang kemudian muncul dari pariwisata. Namun jika dikelola dengan positif serta langkah-langkah yang benar, maka pariwisata bisa menjadi arena untuk melestarikan budaya, memperkuat kebudayaan, serta mendapatkan pemasukan bagi negara.

Negeri kita memiliki potensi wisata yang jauh lebih dahsyat dari negara manapun. Banyaknya suku, keanekaragaman budaya, serta banyaknya pulau-pulau mesinya bisa dikelola dengan baik dan memberikan kontribusi ada penguatan pariwisata. Data menunjukkan bahwa Thailand mampu menjaring kunjungan 22,3 juta orang wisatawan dan Malaysia menjaring 18 juta orang per tahun. Sementara Indonesa hanya didatangi delapan juta orang per tahun. Bukankah ini fakta yang mengejutkan mengingat luas wilayah serta banyaknya tempat wisata di tanah air?

Pengalaman saya di Phuket mengajarkan bahwa rahasia utama dalam pariwisata. Rahasia itu adalah (1) kemasan yang unik, khas, serta mengakomodasi tradisi dan budaya lokal. Thailand sukses mengemas keindahan alamnya menjadi satu atraksi wisata yang memesona warga dunia. Mereka menunjukkan bahwa dengan cara-cara sederhana, pariwisata bisa dikelola dengan baik sehingga memberikan begitu banyak pemasukan bagi warga lokal. (2) Pentingnya promosi. Tanpa promosi, keindahan alam kita hanya menjadi misteri yang hanya diketahui segelintir orang. Betapa banyaknya modal kita yang diserap bangsa lain, dan betapa ruginya kita karena gagal mempromosikan kawasan wisata terbaik yang kita miliki.

Di dekat pasir putih di Phi Phi Island, saya merenung tentang tanah air Indonesia. Saya tiba-tiba saja bertanya pada diri saya, mengapa harus datang ke luar negeri demi mendapatkan pemandangan pasir putih? Saya sadar bahwa ada banyak kerja keras yang bisa dilakukan di tanah air. Salah satu kerja keras itu adalah bagaimana menjadikan segala potensi di ganah air sebagai tuan di negeri ini, yang kemudian memancarkan cahaya, menjadi mercusuar bagi masyarakat dunia.(*)

BACA JUGA:


NANTIKAN:

Rasa Indonesia di Negeri Gajah Putih

Twit buat Warga HMI Makassar Timur

PEMILIHAN Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar Timur diwarnai kericuhan. Kemarin, saat penghitungan suara, sebanyak enam orang mahasiswa datang membawa badik terhunus, kemudian menggagalkan pemilihan. Rupanya, ada kandidat yang tak siap kalah dan hendak menggagalkan acara. Saya kesal mendengar bahwa di era milenium ini, masih saja ada mahasiswa yang bermental ala preman pasar dengan tindakan ala jagoan.

Demi melampiaskan kekesalan itu, saya lalu menyusun beberapa twits sebagai pernyataan sikap saya atas aksi premanisme di dalam kampus tersebut. Berikut beberapa twitsnya:


Kalo merasa jago, jangan buat kacau di konfercab. Bikin kacau di Cokonuri, atau sekalian markas brimob #konfercabmaktim

Kalo merasa jago, jangan main badik. Coba baku tantang lewat tulisan ilmiah di media #konfercabmaktim

Kalo merasa jago, jgn main ancam2 sm anak HMI. Sesekali ancam geng motor di rapoccini #konfercabmaktim

Kalo merasa jago, jgn buat kacau HMI. Cobalah ke Plestina lalu buat kacau di markas Israel  #konfercabmaktim

Kalo mrsa jago, jgn sok-sok pakai badik. Coba ikut sea games trus tantang pemain wushu thailand yg pakai pedang #konfercabmaktim

Kalo mrs jago, ngapain jadi aktivis HMI. Lebih baik jadi preman pasar. Lebih banyak dapat uang #konfercabmaktim

Kalo merasa pintar, jgn tunjukkan di konfercab. Tunjukkan di forum ilmiah brbahasa inggris, yg dihadiri orng amerika dan israel #konfercabmaktim

Kalo merasa pintar, jgn tunjukkan dpn anak baru HMI. Tunjukkan di depan Yudi Latif atau Anies Baswedan melalui tulisanmu #konfercabmaktim

Kalo merasa pintar, jgn hanya maki2 anak HMI. Coba maki2 mahasiswa Israel di acara world student forum #konfercabmaktim

Kalo merasa pintar, jgn sok2 pakai istilah hebat2 d bastra. Jangan2 kamu adalah vicky prasetyo #konfercabmaktim

Kalo merasa pintar, jgn cuma jago di bastra. Tunjukkan jagomu di dpn mahasiswa Iran yang lg prsentasi ttg riset nuklir trbaru  #konfercabmaktim


Kalo mrasa pintar, jgn tunjukkan di konfercab. Coba tunjukkan di forum debat yg dihadiri profesor UI atau UGM #konfercabmaktim

Kelaparan di Pesawat Air Asia


saat di Phuket, Thailand

SATU-satunya maskapai yang menyediakan rute Jakarta – Phuket adalah Air Asia. Selain satu-satunya, maskapai ini juga murah meriah sehingga harga tiket ke Phuket setara dengan harga tiket dari Jakarta ke Makassar. Hanya saja, anda harus menyiapkan diri untuk situasi yang tak nyaman di maskapai ini. What?

Seminggu silam, saya siap-siap berangkat ke Phuket. Di tiket tertulis bahwa pesawat akan berangkat pukul 16.30. Ternyata, pesawat mengalami delay hingga dua jam. Setelah itu, penumpang disuruh naik pesawat. Ternyata, pesawat tak langsung terbang. Pesawat hanya ngetem atau menunggu selama lebih sejam, sebelum akhirnya lepas landas.

Ada lagi ketidaknyamanan berikutnya. Maskapai ini tidak menyediakan makanan dan minuman. Kalau anda menginginkannya, maka harus membeli melalui buku katalog yang disediakan. Itupun harganya cukup mahal. Karena tak punya uang, maka saya memilih untuk menahan lapar di pesawat itu. Hiks. Ternyata, selalu ada biaya lebih yang dikeluarkan saat mencoba sesuatu yang murah-meriah. Semuanya berpulang pada seberapa kuat anda menghadapi semua ketidaknyamanan.

Selaksa Kisah di Balik Senyum (Ekspedisi Phuket 1)


 
pemandangan di Phi Phi Island, Phuket, Thailand

DI Bandara Phuket International Airport, gadis itu datang dan mengalungkan kerang-kerang yang dirangkai. Ia memberikan senyum manis lalu berkata “Sawadeeka,” selamat datang. Saya bahagia karena akhirnya bisa menginjakkan kaki di negeri Thailand. Dahulu, saya hanya bisa membayangkan tanah ini. Hingga akhirnya, saya diajak oleh Kompasiana dan HIS Travel untuk berkunjung ke Phuket. Impian saya sejak dahulu akhirnya terwujud. Bukankah ini sebuah keajaiban?

Sebelum tiba di Phuket, saya mengumpulkan banyak ingatan tentang tanah ini. Kata seorang kawan, ingatan seseorang tak pernah benar-benar lenyap. Ingatan-ingatan kita tersimpan pada sebuah palung kesadaran yang sewaktu-waktu bisa dipanggil ulang demi sebuah nostalgia maupun untuk diambil hikmahnya. Dahulu, ketika mendengar kata Thailand, kata pertama yang meluncur di benak saya adalah Khaosai Galaxy, seorang petinju Thailand yang pernah mengalahkan petinju kebanggaan tanah air Ellyas Pical pada tahun 1980-an. Saat itu saya masih kecil, akan tetapi saya sudah mengenal rasa sakit hati ketika petinju kebanggaan kandas di tangan Khaosai Galaxy.

Nama selanjutnya yang muncul adalah Kiatisuk Senamuang. Ia adalah pesepakbola handal yang beberapa kali mengandaskan mimpi Indonesia di ranah sepakbola. Seminggu silam, Kiatisuk sukses menjai pelatih Thailand yang mempersembahkan medali emas. Padahal, ketika menjadi pemain, ia tiga kali mempersembahkan medali emas di Sea Games.

Setahun silam, saya lalu bersahabat dengan beberapa mahasiswa Thailand di Amerika. Tak semua mengenal Khaosai Galaxy. Namun lewat mereka, saya banyak belajar tentang tradisi Thailand yang unik dan kaya. Mereka menjadi jendela bagi saya untuk sekadar memahami bagaimana Thailand bersalinrupa menjadi bangsa modern, tanpa harus meninggalkan nilai-nilai tradisionalnya.

Kini, saya telah berada di Phuket. Entah, apakah warga di sini mengenali Khaosai Galaxy ataukah tidak. Demikian pula Kiatisuk Senamuang. Saya hendak menanyakannya pada beberapa warga. Akan tetapi, saya langsung terpesona pada suasana yang ramai, serasa berada di sebuah tempat wosata di Eropa. Dari bandara menuju hotel, saya menyaksikan begitu banyak turis asing yang berseliweran di jalan-jalan utama. Di jalan-jalan dekat Patong Beach dan Bangla Road, yang dikenal sebagai pusat hiburan malam, banyak turis asing yang berlalu lalang. 

Warga lokal membuka beragam usaha yang berfungsi sebagai wadah untuk menampung limpahan deras uang dari para turis yang datang. Saya menyaksikan usaha-usaha seperti restoran yang menjajakan sea food, hotel, hingga usaha pijat ala Thailand, serta kedai minuman keras. Di banyak kedai, saya melihat banyak orang berkumpul sembari meminum alkohol.

gerbang Patong Beach
salah satu bar
"no sex in this place"

Melalui beberapa ruas jalan, saya terkesiap kala melihat kehidupan malam. Di depan beberapa bar, saya menyaksikan beberapa gadis muda yang berdiri di atas meja, lalu beratraksi di dekat sebuah tiang. Gadis-gadis muda itu meliuk-liuk dalam balutan busana yang seksi. Sementara para lelaki sesekali tertawa-tawa sambil menyelipkan uang baht di celana dalam atau penutup dada perempuan itu.

Phuket memang sebuah destinasi wisata internasional. Kota kecil yang berhadapan Laut Andaman ini memang didesain sebagai kota wisata yang dipenuhi warga dunia. Dahulu, kota ini bernama Thalang, akan tetapi dalam catatan para penjelajah dunia, kta ini sering disebut Jung-Ceylon, atau dalam sapaan orang Melayu disebut Tanjung Salang. Kini, Phuket adalah bagian dari provinsi di selatan Thailand, yang berbatasan dengan Phang Nga dan Krabi. Kata Phuket sendiri bermakna bukit. Seorang pemandu wisata bercerita bahwa Phuket berasal dari dua kata yakni Phu (gunung), dan ket (perhiasan). Entah, mana yang benar.

Dulu pulau ini amat kaya berkat perdagangan karet. Sejarah mencatat Phuket sebagai bagian dari rute utama antara India dan Cina. Ia sering sekali disebut dalam catatan pedagang Portugis maupun Spanyol. Kini, Phuket tak lagi menghasilkan baht dari perdagangan karet. Pulau ini meraup banyak untung dari pariwisata internasional.

Magnet kota ini terletak pada wisata pantai yang snagat luas dan berpasir putih, gugusan pulau-pulau karang yang menawan dipandang mata, serta hiburan malam di bar-bar serta diskotik. Hiburan malam itu disebut banyak kalangan sebagai nadi utama dunia pariwisata di kota Phuket.

Di malam pertama ketika tiba di Phuket, saya menelusuri denyut nadi kota di Bangla Road. Suasananya seramai pasar malam. Bar-bar menyajikan tarian perempuan yang meliuk-liuk di atas tiang pada banyak meja dengan dandanan serba seksi. Sepanjang jalan, banyak gadis-gadis yang membawa kertas bertuliskan pertunjukan seks yang bisa ditonton dengan membeli bir seharga 80 baht.

Setiap jengkal di Bangla Road adalah dengus napas dunia hiburan. Thailand memang memosisikan dirinya sebagai pusat hiburan malam yang kondang di seantero jagad. Tak hanya orang Asia seperti Jepang, Korea, atau Cina, banyak warga Rusia dan Eropa barat yang kemudian betah dan berumah di wilayah Thailand selatan itu.  Di mana-mana terlihat hotel, villa, ataupun homestay. Di malam hari, jalanan dipenuhi turis-turis asing yang ramai berdatangan dan memenuhi malam dengan gelak tawa. Mereka tak sekadar berlibur. Mereka juga datang untuk menghabiskan uang, yang kemudian menjadi peluang besar warga Phuket.

suasana pantai 1
suasana pantai 2

Di depan sebuah bar, saya bertemu seorang gadis berbusana seksi sedang menari. Ketika memandangnya, gadis itu sontak balas menatap lurus sambil menunjuk ke arah saya sembari tersenyum. Saya tiba-tiba saja merasa panas dingin. Saya hanya memandangnya dari kejauhan, tanpa hendak mendekat dan bergabung dalam pesta alkohol.

Wisata bukan sekadar berkah yang turun dari langit. Wisata juga menyisakan banyak masalah. Salah seorang sahabat Poompui Nantida, mahasiswi Thailand yang sedang mengambil program doktor di Amerika, berkisah tentang tingginya kasus penyakit HIV serta penyakit kelamin lainya di Phuket. Ia juga bercerita tentang dampak sosial ketika warga asing datang membawa modal (kapital), sedangkan warga lokal haya menjadi pemuas nafsu serta pelayan setia dari sosok pembawa modal tersebut.

Poompui benar. Kita sedang berada di zaman ketika uang bisa menjadi tuan sekaligus menjadi kendali yang mencucuk hidung kita. Sebagaimana halnya warga Phuket, wisata sering menyisakan persoalan bagi warga setempat. Saya tak sekadar bicara tentang hilangnya rasa solidaritas serta buhul atau ikatan sosial yang kian melemah, namun juga penetrasi Tuhan-Tuhan baru seperti uang, kuasa, dan kontrol yang kemudian memosisikan kita sebagai budak dari majikan besar.

seorang biksu yang sedang melintas

Dalam segala keterbatasannya, Phuket memang kota yang senantiasa tersenyum sebagaimana terpancar pada gadis-gadis manis yang menari di waktu malam. Di balik senyuman itu, ada banyak kisah yang tersimpan. Mulai dari kisah tentang kampung nelayan yang tergusur, tentang gadis-gadis yang memenuhi malam dengan tarian erotik, tentang banyaknya turis-turis Indonesia yang memaksa pelaku wisata Thailand untuk memperdalam bahasa Indonesia, serta kisah di balik restoran terapung di desa kecil di laut Andaman. Saya akan mengisahkannya satu per satu pada tulisan-tulisan berseri di blog ini. Semoga kalian tak tergesa-gesa untuk mendengar kisahnya.


Besok:

Misteri Wisata, Kemasan, dan Rahasia
 (Ekspedisi Phuket 2)

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...