Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Bersiap-Siap Menuju Phuket


bersama beberapa sahabat asal Thailand

SEBUAH email datang dari satu biro perjalanan (travel agency). Mereka meminta kopian paspor serta data diri. Sebelumnya, mereka menginformasikan kalau saya diikutkan dalam tur wisata di Phuket, Thailand, pada pertengahan Desember nanti. Dengan senang hati, saya menyetujui tawaran itu. Bukankah menyenangkan ketika ada orang menawarkan tiket gratis, nginap di hotel berbintang, serta tour guide untuk keliling-kelling di satu tempat wisata di luar negeri?

Saya tak pernah punya bayangan tentang Phuket, Thailand. Saya lalu menyempatkan waktu untuk berselancar di internet dan membaca banyak informasi tentang Phuket. Ternyata tempat wisata ini identik dengan pasir putih, laut biru, serta pohon-pohon kelapa. Terus terang, saya tak seberapa tertarik dengan wisata pantai dan laut. Mengapa? Sebab saya sendiri berumah di pulau, yang untuk menggapai pasir putih hanya perlu berkendara selama sepuluh menit.

Meski demikian, saya punya kesempatan untuk menyelami denyut kehidupan stau tempat. Saya membayangkan akan mengambil banyak gambar-gambar pemukiman masyarakat, orang-orang yang berseliweran, serta berkesempatan untuk melihat tradisi dan kebudayaan yang berbeda. Walaupun perjalanan itu singkat, saya bisa menyiasatinya dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya.

Saya ingin mencari hal-hal unik yang jarang terdengar di tanah air. Saya ingin menulis tentang Thailand yang bukan sekadar cerita tentang keindahan pasir putih ataupun atraksi gajah. Saya ingin mencatat tentang seorang ladyboy atau waria, tentang suku-suku laut, tentang gadis pekerja seks, tentang tradisi di pantai yang unik-unik, tentang para turis kesasar, ataupun tentang anak-anak muda yang menunggui bar di satu malam.

Saya memang belum pernah ke Thailand. Akan tetapi tempat itu bukanlah tempat yang asing. Selama tinggal di Athens, saya mengenal banyak mahasiswa asal Thailand. Secara fisik, mereka nampak sama dengan orang Indonesia. Malah, ketika bertemu ketua Thai Student Association (TSA), saya sempat terkecoh. Sebab wajahnya sama persis dengan salah satu sepupu saya di Pulau Buton. Ternyata, dia pun sering terkecoh dan menyapa orang Indonesia dengan bahasa Thai. Maklumlah, orang Indonesia dan Thailand punya kesamaan fisik.

bersama dua gadis Thailand saat penggalagan dana banjir
bersama Pumi dan Papi yang berbusana Thailand
Savitree, yang dipanggil Papi

Sayang, para sahabat, yang rata-rata adalah perempuan, tinggal di Bangkok. Andaikan saya ke Bangkok, tentunya mudah buat saya untuk mencari tumpangan nginap barang semalam atau dua malam. Mereka juga menawarkan diri menjadi tour guide yang siap mengantar ke manapun. Hmm.. Tentunya menyenangkan bisa keliling Bangkok sambil di antar gadis-gadis manis.

Semoga saja semuanya berjalan lancar. Sejak dulu, saya percaya bahwa Asia Tenggara adalah kawasan paling unik di dunia. Di semua tempat dan negara, kita akan menemukan tradisi, bahasa, makanan, serta kebudayaan yang berbeda. Ini wilayah yang paling beragam serta unik. Beda halnya dengan berkunjung ke Eropa atau Amerika yang bahasa dan kulturnya hampir sama di mana-mana. Bangunan tuanya bercorak sama. Sementara di Asia Tenggara, selalu ada yang baru di situ. Meskipun di sana-sini ada pertautan sebab sejak masa silam masing-masing kebudayaan telah saling menginspirasi, kita masih bisa melihat keunikan serta ciri khas yang berbeda. Mudah-mudahan saya bisa melihat jejaknya di Phuket.

Sayang sekali karena Phuket berjauhan dengan Bangkok. Mudah-mudahan saja ada kesempatan untuk bertemu para sahabat di sana. Mereka baik, ramah, serta memperlakukan saya sebagai saudara. Saya masih ingat persis ketika hadir pada acara penggalangan dana untuk korban banjir di Bangkok, seorang sahabat berjanji akan mengantar ke mana-mana jika angin membawa saya ke Bangkok. Semalam, sahabat itu mengirim pesan lewat facebook, “U should come to Bangkok. If not, I will kill u!”

Dunia SASTRA versus Dunia BLOGGER


ilustrasi

SEMINGGU ini ada dua peristiwa yang mengguncang dunia sastra tanah air. Pertama, merebaknya kontroversi atas pemberian penghargaan. Seorang sastrawan sibuk berkicau di twitter demi menyuarakan protes atas penghargaan sastra. Padahal, ketika dahulu ia menang penghargaan, ia tak pernah ribut. Giliran orang lain, ia berkicau. Kedua, seorang sastrawan kenamaan dilaporkan polisi atas tuduhan pencabulan.

Saya tak tertarik dengan peristiwa yang kedua. Sebab pencabulan bisa melanda siapa saja baik itu seorang di level atas dunia permainan bahasa, maupun seorang pria biasa yang tinggal di sudut sebuah pulau. Saya menaruh minat pada peristiwa pertama sebab membuka pandangan saya tentang banyak hal, mulai dari kian sempitnya dunia sastra, hingga konflik di kalangan para sastrawan.

Dunia sastra memang bukan dunia yang sesak. Para sastrawan tak seberapa banyak.  Anehnya, jumlah yang sedikit tidak membuat mereka solid. Ketika sebuah penghargaan sastra diumumkan, kontroversi mulai merebak. Seorang sastrawan yang tak sepakat memilih untuk berkicau di twitter. Ia menyebar ketidakpercayaan kepada para juri.

Dunia sastra yang sempit itu seolah mengalami keguncangan. Di sana sini orang-orang membahasnya. Ada banyak gosip, serta kasak-kusuk di kalangan mereka yang berjubah sastrawan dan telah melahirkan karya-karya hebat. Konflik itu disaksikan oleh publik melalui media sosial. Namun apakah publik peduli dengan konflik itu?

Dunia sastra memang sempit. Malah amat sempit. Para pembaca sastra terus berkurang. Sebuah media pernah melaporkan bahwa dari tahun ke tahun, penerbitan buku sastra semakin berkurang. Sastra seolah berumah di atas langit. Generasi hari ini lebih suka sesuatu yang simple dan instant. Mereka suka sesuatu yang sederhana, namun bisa membasahi pikiran mereka dengan wawasan dan gagasan baru.

Dengan jumlah sastrawan dan pembaca sastra yang kian terbatas, penghargaan di bidang sastra juga tak banyak. Pantas saja jika penghargaan menjadi arena konflik. Andaikan dalam setahun ada lebih 10 penghargaan sastra, barangkali smeua akan akur. Sebab semua akan mendapatkan bagian.

Kita tengah hidup di abad penuh otoritas. Semua orang ingin menyatakan dirinya sebagai pemilik otoritas. Segalanya harus dilakukan secara terbuka dan transparan. Jika tidak, maka ketidakpercayaan serta konflik akan tersulut lalu membakar bangunan kepercayaan yang telah susah-payah dibangun.

ilustrasi

Lain dunia sastra, lain pula dunia blogger. Keduanya sama-sama bermain-main dengan kata, namun nampaknya para blogger jauh lebih banyak menyerap atensi publik. Jumlah blogger di Nusantara dilaporkan sebanyak 500 ribu orang. Jika lebih separuh blogger rajin meng-upload tulisan-tulisan, artikel, ataupun foto, maka kita bisa membayangkan betapa kayanya dunia literasi tanah air. Tak hanya meng-uload, para blogger juga rajin berinteraksi dan bertukar kabar demi jejaring sosial yang kuat. Dunia maya menjadi dunia ntuk bertemu, saling sapa, dan saling diskusi tentang kehidupan.

Meskipun sering pula ada selentingan kritik bahwa yang dipercakapkan di dunia blogger adalah hal yang remeh-temeh dan tidak penting. Namun bagi saya, apapun yang dipercakapkan tetaplah positif jika ditulis. Melalui percakapan yang tertulis, satu set kenyataan sosial coba dipahami dan dilihat dari banyak sisi. Banyak orang akan nimbrung dan memberi masukan lalu menilai apakah seseorang bisa berdiskusi ataukah cuma bisa marah-marah.

Para peneliti juga akan mendapatkan limpahan bahan mentah berupa keping-keping kenyataan sosial, yang kemudian bisa dianalisis, dipahami, dan bisa menjelaskan banyak hal tentang dunia sosial kita. Para blogger berkutat dengan hal remeh-temeh, namun menarik untuk diikuti. Dalam buku Grown Up Digital, pengarang Don Tapscott meramalkan kian redupnya sastra. Namun ini bukan berarti generasi sekarang punya kemanusiaan yang kian menipis. Sebab mereka mengasah nuraninya melalui interaksi di dunia maya, melalui facebook dan kanal-kanal blog yang tersebar di mana-mana, serta melalui twitter. Mereka menebalkan kemanusiaannya dengan cara berbeda.

Tapscott memang benar. Di saat banyak kritik tentang generasi sekarang yang kian apatis, ia mengajukan banyak contoh tentang betapa banyaknya anak muda yang memilih untuk menjadi relawan di negara-negara berkembang demi mengatasi kesulitan air atau ancaman penyakit. Tapscott juga menyebut contoh tentang banyaknya gerakan sosial baru di berbagai kota, yang menyuarakan spirit perlawanan, yang dibentuk melalui interaksi di facebook atau twitter. Malah, twitter disebut-sebut berperan penting sebagai wadah tempat para aktivis bertemu dan menyulut api pergerakan.

Yup. Dunia sastra dan dunia blogger memang beda. Jika sastra adalah dunia senyap yang dihuni sedikit orang, mana dunia blogger menjadi kerumunan besar yang diramaikan banyak orang. Ada refleksi, kesenyapan, serta perenungan di dunia sastra, sedang di dunia blogger ada ramai-ramai, diskusi artikel, serta saling lempar gagasan dalam waktu singkat. Keduanya punya dinamika berbeda. Hanya saja, dunia sastra kian sepi, sedang blogger kian melimpah ruah.

Inilah penanda zaman hari ini, yang esok hari bisa pula berganti. Biarlah generasi mendatang yang kelak akan menjadi saksi dan mencatat semuanya.


Belajar dari Dokter Amerika


Rumah Sakit O'bleness

HARI itu, suhu tubuh anak saya Mahavidya Sarasaty (Ara) meninggi. Semalam suntuk ia tak bisa tidur dan hanya bisa menangis. Tadinya saya pikir sakitnya akan segera berlalu. Ternyata panasnya malah meninggi. Saya lalu membeli termometer di toko CVS lalu mengukur suhu tubuhnya. Termometer itu lalu menunjuk angka 103 Fahrenheit. Istri saya mendesak untuk segera membawa Ara ke rumah sakit. Ia harus diperiksa dokter.

Jika ia sakit di tanah air, saya tak ragu membawanya. Saya paham seberapa banyak biaya yang harus saya siapkan. Namun saat itu kami di Ohio, Amerika Serikat (AS). Saya perkirakan pasti biaya rumah sakit sangatlah mahal. Saya juga tak paham bagaimana kultur para dokter ketika memeriksa pasien. Namun saya tak punya pilihan. Saya tak tega melihat Ara sakit demam dan terus-terusan menangis. Sebagai ayah, hati saya teriris-iris.

Kami lalu ke rumah sakit O’blenes. Ketika tiba, Ara dibawa ke sebuah bangsal untuk menunggu dokter. Perawat lalu memanggil saya. Ia bertanya dan mencatat tentang nama dan alamat apartemen tempat saya berdomisili. Saya pikir perawat itu akan menyebut biaya perawatan atau minimal biaya pemeriksaan. Ternyata sama sekali tidak. Perawat lalu mempersilakan saya untuk kembali ke tempat Ara dan ibunya  menunggu di satu bangsal. Perawat itu lalu bertanya beberapa hal, kemudian berkata bahwa dokternya akan segera datang.

Belakangan saya baru tahu kalau rumah sakit di Ohio tidak pernah membicarakan biaya pada saat pasien datang. Semua pasien akan langsung dirawat dengan fasilitas terbaik yang dimiliki rumah sakit hingga pasien itu sembuh. Tiga bulan setelah sehat, barulah rumah sakit akan mengirimkan rincian tagihan biaya pengobatan. Pihak rumah sakit berprinsip bahwa biaya adalah urusan belakangan. Ketika pasien datang, maka ia wajib dilayani. Makanya, ada joke atau lelucon di Ohio bahwa rumah sakit adalah tempat untuk mencari kesembuhan, namun setelah tiga bulan, ia akan mengirim penyakit stres ke rumah kita.

Tak sampai setengah jam, dokternya datang. Ia menjabat tangan saya lalu menyebut namanya Maria Strus. Ia juga datang menyentuh dahi anak saya, kemudian bertanya beberapa hal kepada istri saya. Maria lalu memperhatikan dengan teliti setiap keterangan, lalu mencatatnya pada buku yang dibawanya. Ia mengeluarkan termometer yang lalu dipasang di jari anak saya. Kemudian, ia meminta agar anak saya dibaringkan di ranjang yang tersedia.

Ketika memeriksa telinganya, dokter Maria itu langsung menemukan sumber masalahnya. Ara mengalami gangguan infeksi di telinganya. Ia harus meminum antibiotik pada dosis tertentu. Dokter itu menjelaskan tentang sebab-sebab penyakit, setelah itu ia memberikan resep obat. Saya lega karena Ara tidak harus menginap di rumah sakit. Kami diminta menunggu selama beberapa menit. Tak lama kemudian perawat datang sambil membawa resep dan beberapa lembar kertas kuning. Saya diminta untuk membaca dengan teliti kertas-kertas itu.

informasi tentang penyakit
informasi tentang diagnosis
instruksi untuk di rumah
pesan bijak tentang pentingnya orangtua


Pada lembar awal kertas itu, terdapat nama lengkap Ara, serta nama orangtuanya. Lalu, ada informasi tentang penyakit yang dialami Ara. Penjelasannya ditulis dalam bahasa yang sopan dan mudah dimengerti. Ia menjelaskan dengan detail tentang virus, bagaimana menghadapi virus, apa yang harus dilakukan di rumah, serta beberapa pesan bijak bahwa dukungan keluarga adalah kekuatan utama dalam proses penyembuhan. Terakhir, ia merinci obat-obat apa saja yang akan dimakan oleh anak itu. Penjelasannya sangat detail, dan mudah dipahami.

Sebagai bapak, saya langsung paham apa yang menimpa anak saya. Penjelasan dokter itu juga menjadi patokan bagi saya untuk menyusun langkah-langkah yang harus dilakukan. Saya akhirnya tahu bahwa sakit anak saya adalah sesuatu yang umum terjadi, khususnya jelang musim dingin. Yang paling saya senangi adalah penjelasan serta upaya mengedukasi masyarakat luas tentang penyakit yang diderita, serta bagaimana para dokter itu membumikan konsep-konsep kedokteran yang rumit menjadi sesuatu yang sederhana dan mudah dipahami.

Sebuah Refleksi

PEPATAH lain ladang lain belalang dan lain lubuk lain ikannya juga berlaku di sini. Di berbagai penjuru tanah air, para dokter sedang meradang. Demi rekan-rekan sejawatnya, mereka lalu menggelar demonstrasi di banyak kota. Mereka mogok saat memberikan pelayanan, lalu membiarkan banyak pasien terlantar di rumah-rumah sakit. Mungkin saja mereka hendak berkata bahwa perubahan selalu membutuhkan korban. Tak masalah jika beberapa jam tak ada pelayanan. Yang penting hak bersuara telah ditunaikan.

Terus terang, saya tak seberapa paham duduk perkara sehingga para dokter itu berdemonstrasi. Saya hanya mendengar bahwa di Manado sana, tempat yang menjadi awal dari api yang menyebar ke mana-mana, ada seorang pasien meninggal dunia. Keluarganya lalu menggugat sang dokter. Di tingkat pengadilan tinggi, dokter tak bersalah. Namun Mahkamah Agung (MA) memvonis dokter itu bersalah sehingga dokter itu dipenjarakan. Maka proteslah para dokter di seluruh Indonesia.

Saya hanya bisa mereka-reka. Di media, banyak orang mengeluarkan bahasa hukum dan bahasa teknis untuk memahami masalah ini. Tapi saya ingin melihatnya dari sisi lain. Saya melihat satu elemen yang hilang yakni tak adanya proses komunikasi yang equal dan harmonis. Dokter bekerja dengan dunia sains yang teknis dan mekanis. Ia tak hendak membumikan istilah itu sehingga dipahami pasien ataupun keluarga pasien. Keduanya tak saling memahami. Sang dokter tak berempati ada keluarga korban. Ia hanya memeriksa, lalu mengoperasi. Dan ketika korban menghembuskan napas terakhir, tak ada pula penjelasan tentang apa yang sedang terjadi.

Sementara masyarakat luas, termasuk keluarga korban dan jaksa, melihat ada sesuatu yang keliru di sini. Mereka memang tak paham istilah-istilah medis. Akan tetapi, ada rasa haus akan kebenaran yang tak penah terpuaskan. Ketika dokter sibuk dengan dunianya dan tak membuka ruang-ruang untuk berkomunikasi, maka masyarakat akan melihatnya dengan cara berbeda. Konflik bisa muncul di situ.

Kemarin, seusai demonstrasi, media sosial dipenuhi kritik pada para dokter. Saya semakin yakin bahwa banyak hal yang susah dipahami masyarakat awam atas apa yang mereka lakukan. Susahnya karena relasi dokter dan pasien tak seimbang. Dokter punya otoritas yang lebih tinggi. Ia dianggap tahu segala hal tentang pasien yang ditanganinya. Masyarakat menjadi pihak yang tak banyak tahu. Ketika konsultasi, dengan mudahnya dokter menyebut biaya pegobatan, tanpa ada ruang bagi masyarakat untuk tahu mengapa biaya tertentu cukup mahal.

Masyarakat juga ‘dipaksa’ paham bahwa peristiwa meninggalnya pasien adalah sesuatu yang dianggap wajar di ranah medis karena sebab-sebab yang sukar diprediksi. Andaikan yang meninggal itu adalah keluarga dokter, apakah kematian itu menjadi hal yang sederhana?

Idealnya, pasien dan keluarganya  adalah mitra yang diajak berdiskusi. Di tanah air kita, tak semua dokter bersedia untuk mengedukasi pasien dan keluarganya. Malah banyak di antara dokter yang menghadapi pasien sebagaimana motor rusak yang harus dibenahi. Pasien langsung ditangani. Tak ada dialog. Tak ada interaksi dengan keluarga korban. Bahkan ketika korban telah meninggal, tak ada pula permaafan serta penjelasan kepada keluarganya. Laiknya motor rusak yang tak bisa diperbaiki, korban dikembalikan begitu saja di rumah. Di titik ini kita tak lagi berbicara tentang nilai-nilai kemanusiaan.

tampak luar
ruang unit gawat darurat

Jika saja dokter di Manado itu menjelaskan dengan persuasif serta menginformasikan banyak aspek pengobatan, maka kasus ini tidak akan merebak luas. Jika saja para dokter bekerja dengan penuh empati dan memahami apa yang dirasakan keluarga korban, tentunya kasus ini bisa dihindari. Setidak-tidaknya, ketika ruang komunikasi terbuka, maka semua pihak bisa memahami posisi masing-masing. Dokter paham akan keingintahuan keluarga atas kondisi keluarganya, dan keluarga pasien juga paham tentang tindakan medis yang harus dilakukan para dokter.

Belajar dari pelayanan dokter di Amerika, seyogyanya, dokter di tanah air harus belajar banyak aspek persuasif serta komunikasi dengan pasien. Mereka mesti melihat pasien sebagai subyek yang harus didengarkan dan dipahami. Memosisikan pasien sebagai motor rusak, yang dioperasi lalu setelah itu lepas tangan, adalah sesuatu yang keliru. Kurikulum di sekolah tinggi kedokteran mesti mencakup aspek sosiologis, antropologis, dan komunikasi. Dengan cara demikian, dokter tak hanya memahami hal teknis, namun juga bisa menyentuh pasien dari hati ke hati, memosisikan mereka sebagai keluarga yang butuh kasih sayang dan perhatian, serta bekerja dalam iklim saling memahami dengan pasiennya. Semoga demikian adanya di masa depan.



Sensasi Jadi Headline (18)


DUA bulan ini, saya cukup produktif menulis di Kompasiana, kanal social blog terbesar di tanah air. Malah, beberapa hari lalu, saya dinobatkan sebagai Kompasianer of the Year 2013. Saya jelas sangat bahagia mengingat anggota Kompasiana mencapai lebih 200 ribu orang. Dalam sehari, ada lebih 800 artikel yang kemudian ditayangkan. Jika dalam setahun ada lebih satu juta artikel, maka betapa senangnya saya karena artikel saya dianggap layak untuk menerima penghargaan. Berikut, beberapa tulisan yang terpilih sebagai headline (HL). 
 
 Tuah Tradisi di Yogyakarta
 
Misteri Neraka Andi Mallarangeng

Kuliah Amerika, Magang Kompasiana

Reportase Kompasiana, Reportase Kehidupan

 

Inspirasi Seorang Pekerja Seks


BAGI sebagian orang, bahasa Inggris itu amat mudah dipelajari. Namun bagi warga kampung sepertiku, bahasa Inggris itu sangatlah sulit. Sewaktu belajar di sekolah menengah, bahasa Inggris menjadi momok bersama pelajaran matematika. Nah, ketika tiba-tiba disuruh untuk belajar bahasa Inggris secara intensif, aku memasuki masa-masa yang berat. Ajaibnya, ketika bertemu dengan seorang pekerja seks di Jalan Jaksa Jakarta, aku tiba-tiba saja menemukan banyak kepingan pencerahan. Bagaimanakah ceritanya?

ilustrasi

Beberapa tahun silam, seusai dinyatakan sebagai penerima beasiswa, aku sadar bahwa kemampuan bahasa harus di-upgrade. Jika ingin tinggal dan belajar di luar negeri, maka aku wajib menguasai bahasa ini. Minimal aku bisa mendapatkan satu kunci untuk kemudian membuka pintu gerbang pendidikan. Tanpa skor bahasa yang memadai, bisa-bisa aku tak diizinkan untuk berangkat. Lagian, mana mungkin ada kampus yang mau menerima seorang calon mahasiswa yang memiliki skor pas-pasan. Jika tak bisa bahasa Inggris, dengan cara apa belajar di kampus?

Tak semua beasiswa mensyaratkan kemampuan bahasa Inggris yang tinggi. Dulu aku hanya mendapat skor Toefl 470. Pihak sponsor mensyaratkan semua yang menerima beasiswa untuk belajar bahasa Inggris di kampus Universitas Indonesia (UI) selama enam bulan. Semua peserta diharapkan untuk meningkatkan skor kemampuan berbahasa.

Di Lembaga Bahasa Internasional (LBI) UI, kami belajar setiap hari, kecuali Sabtu dan Minggu. Jam belajar dimulai pukul delapan pagi, dan berakhir jam tiga sore. Istirahat dan makan siang dari jam 12 sampai jam 1 siang. Pelatihan ini cukup berat bagi sebagian kawan. Maklumlah, rata-rata penerima beasiswa ini adalah para penggiat kegiatan sosial di masyarakat. Kami semua berasal dari kampung yang telah lama meninggalkan kampus. Banyak di antara kami yang dahulu bukan mahasiswa terbaik. Hanya saja rata-rata kami punya segudang aktivitas di masyarakat.

Dengan semangat yang kembang-kempis, aku menjalaninya. Bersama teman-teman, aku kos di dekat kampus UI, tepatnya di Salemba. Sebulan kemudian, kami kembali menjalani tes Toefl. Sialnya, skorku malah turun menjadi 450. Apakah gerangan yang harus kulakukan?

Aku lalu mengevaluasi metode pembelajaran bahasa. Kesulitan utama dalam belajar bahasa adalah materinya diajarkan di kelas sebagaimana anak sekolah. Pihak LBI tidak memberikan inovasi atau metode berbeda bagi teman-teman, yang kebanyakan di antaranya sudah berusia di atas 25 tahun. Padahal, di dunia lembaga swadaya masyarakat (LSM) telah berkembang banyak metode yang kemudian diterapkan dalam pendidikan orang dewasa. Dengan metode ala kelas, aku pasti akan kesulitan untuk mengejar ketertinggalan dalam hal bahasa.

Aku memutuskan untuk belajar mandiri. Setiap dua hari, aku membeli DVD film bajakan yang banyak dijual di Salemba. Setiba di rumah, aku lalu mendengarkan dialog dalam film itu, setelah terlebih dahulu menonaktifkan subtitle-nya. Meskipun kesulitan, aku berusaha untuk memahaminya.

Seringkali, dialog dalam film mudah dipahami karena adanya gestur dan bahasa tubuh (body language). Aku berusaha untuk tidak menyaksikan gambar di layar. Aku hanya fokus pada dialog-dialog dalam bahasa Inggris. Mulanya memang berat, namun aku berusaha untuk memahami secara perlahan-lahan.

Inipun belum cukup. Aku mesti meningkatkan kemampuan bahasa dengan cara bercakap langsung dengan bule yang banyak bertebaran di Jakarta. Kupikir bahasa adalah kemampuan praktis. Tanpa latihan, maka mustahil bisa bercakap dalam bahasa Inggris. Aku memetakan di mana saja lokasi para bule sering ngumpul di Jakarta.

Seorang kawan memberitahu kalau kebanyakan mereka sering nongkrong di Jalan Jaksa. Bule-bule yang nongkrong di situ sering disebut bule kere karena banyak di antara mereka datang dengan sandal jepit, serta dianggap punya standar hidup yang sama dengan kebanyakan warga Jakarta. Setelah beberapa kali berkunjung, aku mulai menjadi pelanggan satu kafe di situ. Aku mulai mendapat beberapa teman dari berbagai negara. Di sanalah aku mendapat pengalaman unik.

Belajar dari Pekerja Seks

Kisahnya bermula ketika seorang kawan berkebangsaan Inggris datang bersama seorang perempuan muda dengan lipstick tipis. Mereka duduk tak jauh dari tempat saya biasa duduk bersama beberapa teman. Bule Inggris itu tak henti-hentinya bercerita banyak hal sambil sesekali tertawa. Perempuan di sebelahnya juga ikut nimbrung dan menimpali pembicaraan dalam bahasa Inggris. Aku memperhatikan pelafalannya yang amat fasih, seolah pernah lama tinggal di luar negeri.

Lelah mendengarkan dialog, aku lalu ke kamar kecil. Ternyata, bule itu ikut pula ke kamar kecil. Kami lalu jalan bersisian. Aku lalu memulai pembicaraan.

“Apakah dia pacarmu?”
“No. Saya baru pertama ketemu. Saya telepon mami Robert dan minta dicarikan teman kencan. Duit saya pas-pasan. Ia lalu menunjuk wanita itu,”

Selanjutnya, semua berjalan seperti biasa. Saya pun kembali ke meja. Perempuan itu lalu menyalakan rokok Marlboro. Bibirnya ikut bersenandung, mengikuti penyanyi di atas panggung sana. Baru kuperhatikan kalau wajah perempuan ini amat cantik. Ia mengingatkan pada artis Dewi Persik. Dikarenakan posisi yang tak seberapa jauh dengannya, aku leluasa untuk mengajaknya ngobrol.

“Bahasa Inggrismu fasih. Pernah tinggal di luar negeri?”
“Boro-boro ke luar negeri. Keluar Jakarta aja gak pernah,” katanya sambil tersenyum lalu menghembuskan asap ke wajahku.
“Lantas, belajar bahasa Inggris di mana? Sekolah yaa?”
“Sekolahku hanya sampai kelas dua SMP. Mana sempat belajar bahasa. Saya belajar di jalan. Belajar sama bule-bule bodoh kayak teman kamu itu,” katanya.
“Trus, gimana cara belajarnya?”
“Gak tahu. Saya hanya suka ngobrol. Trus pelan-pelan paham, dan selanjutnya bisa deh,” katanya.

Aku terdiam. Aku sedang memikirkan sistem belajar bahasa di sekolah-sekolah. Perempuan ini tak pernah belajar bahasa secara formal. Tapi kemampuan komunikasinya amat luar biasa jika dibanding mereka yang belajar di sekolah. Perempuan ini sefasih bule.

Barangkali, ada yang salah dengan metode belajar di sekolah. Kita tak akan pernah menguasai bahasa jika memperlakukannya sebagai rumus matematika yang dihapalkan, sebagaimana dipelajari di sekolah-sekolah. Bahasa adalah sesuatu yang harus dipraktekkan, digunakan dalam keseharian, dipakai untuk menjelaskan makna, lalu membuka ruang-ruang komunikasi. Bahasa adalah sesuatu yang diasah melalui proses trial and error. Bahasa mesti dikembalikan pada esensinya yakni sebagai cara untuk menyampaikan maksud. Dan itu bisa dipelajari oleh siapapun, asalkan punya hasrat untuk tahu.

Perempuan ini telah menampar pandanganku tentang lembaga pendidikan. Sungguh keliru jika meletakkan pendidikan sebagai faktor penting untuk mengasah kemampuan. Buktinya, perempuan yang kukenal di Jalan Jaksa itu jauh lebih fasih berbahasa Inggris ketimbang mereka yang mengenyam sekolah.

Institusi terbaik untuk belajar ada dalam diri semua orang yakni keikhlasan untuk belajar, rasa ingin tahu yang amat besar, serta keinginan untuk memahami sesuatu. Jika ditilik dengan syarat-syarat ini, maka perempuan di hadapan ini adalah seorang pembelajar hebat yang menguasai sesuatu melalui proses belajar dan interaksi.

Sayang, pertemuan dengan perempuan itu sangat singkat. Malah, aku belum sempat mencatat nama dan nomor teleponnya.

Perempuan itu mengajarkanku sesuatu yang melampaui apa yang dipelajari di sekolah-sekolah. Bahasa itu harus dipraktikkan. Ia harus dipelajari dengan penuh keriangan serta dialami dalam dialog dan percakapan sehari-hari. Pantas saja jika para linguis selalu menekankan pada keberanian untuk bercakap, serta keikhlasan untuk belajar dari segala kesalahan.

Sebulan setelah bertemu perempuan itu, aku kembali menjalani tes Toefl. Saat itu, mulai ada perbaikan yang cukup signifikan. Aku juga lebih percaya diri untuk bercakap di kelas berbahasa Inggris. Aku sangat bahagia atas pencapaian itu. Pada satu hari, langkah kakiku kembali ke kafe di Jalan Jaksa. Aku berharap agar bertemu perempuan itu dan menyampaikan ucapan terimakasih.

Sayangnya, malam itu perempuan itu tak tampak. Bahkan beberapa malam setelahnya. Hingga kini, aku masih menyimpan rasa terimakasih yang seharusnya kusampaikan atas pencerahan yang dibisikkannya di suatu malam.

Reportase Kompasiana, Reportase Kehidupan


bocah penyelam koin di Pulau Buton

DI pesisir laut Buton, saya menyiapkan pancing dan mulai bersiap-siap naik sampan kecil jenis katinting bersama beberapa kawan, tiba-tiba saja handphone saya berdering. Rupanya, admin Kompasiana, Iskandar Zulkarnain, yang menelepon untuk mengabarkan bahwa saya terpilih sebagai Kompasianer of the Year. Saya sempat tak percaya dan bertanya, “Really?”

Di kalangan kompasianer, saya bukanlah seseorang yang populer. Sejak bergabung di bulan Desember tahun 2009, saya hanya menulis sebanyak 185 artikel. Jumlah ini sangatlah kecil jika dibandingkan pencapaian dari banyak Kompasianer lainnya. Interaksi saya dengan para Kompasianer juga terbatas.

Saya banyak mengenal Kompasianer senior seperti Bang Asa, Lintang, Mariska Lubis, Faizal Assegaf, Linda Djalil, Omjay, Kong Ragile, Dian Kelana, Herman Hasyim, Hazmi Srondol, Ahmed Tsar, dan beberapa teman lainnya. Beberapa tahun silam, saya juga beberapa kali kopi darat dan ngobrol akrab dengan mereka. Sayang, tak semua dari teman-teman itu yang masih setia menulis di rumah sehat ini.

Dengan pengalaman yang minim, serta interaksi yang terbatas, mengapa saya yang terpilih sebagai Kompasianer of the Year?

Entahlah. Barangkali admin memiliki kriteria dan argumentasi sendiri. Namun jika saya merenungi pengalaman menulis, saya akhirnya menyadari bahwa ada semacam chemistry kuat yang tak terbahasakan antara saya dan Kompasiana. Pengalaman kepenulisan saya bertunas, lalu tumbuh subur di media ini. Hingga pada satu titik, pengalaman itu menjadi ranting pohon di ketinggian yang berupaya menjangkau mega-mega.

Pada mulanya, seorang teman yang berprofesi sebagai staf ahli Wapres Jusuf Kalla mengajak bergabung ke Kompasiana. Pada masa-masa awal, energi menulis saya sangat menggebu-gebu. Saya menulis berbagai topik mulai dari sejarah, sosial budaya, hingga refleksi atas pengalaman sehari-hari. Dahulu, ada rubrik “Terpopuler.”

Pada masa itu, penguasa rubrik “Terpopuler” adalah Mariska Lubis dan Bang Asa. Mereka penulis paling piawai dan produktif di ranah maya ini. Saya pun meramaikan rubrik itu dengan beberapa tulisan sosial budaya yang dikemas dalam tema-tema sederhana. Saya belajar bahwa sebuah tulisan akan memiliki daya ledak ketika dikemas dalam bahasa yang simpel dan bisa dijangkau banyak orang. Kompasiana mengajari saya untuk humble dan tidak terjebak dengan bahasa-bahasa melangit generasi perguruan tinggi yang kerap kali membingungkan pembacanya.

Sejak awal bergabung, saya selalu berusaha untuk menulis reportase. Bagi saya, reportase adalah jenis tulisan yang paling sulit dibuat. Seorang penulis mesti menjadi mata, telinga, serta hidung bagi semua pembacanya. Ia dituntut untuk bisa menggambarkan sesuatu secara detail, kemudian menghamparkan kenyataan itu ke hadapan pembaca. Ia harus bisa menjadi kamera sekaligus alat perekam yang baik yang bisa melihat satu kenyataan dari banyak sisi amatan, serta merangkum suara-suara yang berbeda.

ilustrasi perahu nelayan tradisional
saat meliput demonstrasi di depan White House di Washington DC

Dalam sebuah reportase, penulis mesti melakukan wawancara mendalam serta dialog demi menemukan nuansa emosional dari apa yang hendak ditulisnya. Ia juga mesti berkarib dengan data-data serta literatur. Penulis yang baik adalah penulis yang rela ‘berdarah-darah’ demi menemukan makna besar, lalu menyajikannya ke hadapan pembaca.

Seiring perjalanan waktu, saya menyadari bahwa reportase yang baik bukanlah sekadar reportase yang merangkum kenyataan. Reportase yang baik tak hanya merekam darah dan daging, namun juga jiwa, sesuatu yang tak tampak, akan tetapi memegang peranan yang amat vital dalam kehidupan. Seorang penulis mesti menukik ke lapis-lapis makna, lalu mengurai lapis-lapis misteri itu sehingga pembaca memahami duduk perkara serta asal-muasal sesuatu. Kerja-kerja ini jelas tak mudah, sebab menuntut disilin serta ketelitan untuk mencatat dan mendokumentasikan.

Reportase yang baik juga harus mengandung satu refleksi yang kuat serta merekam butir-butir hikmah yang kemudian menjadi pembelajaran bagi pembacanya. Ia harus bisa merekam saripati kehidupan di tengah dunia yang terus bergerak bagaikan sebuah kereta cepat sehingga tidak memungkinkan setiap orang untuk melakukan refleksi. Di tengah dinamika hidup yang bergerak cepat, reportase yang jernih menjadi oase sejuk di mana orang-orang bisa menimba inspirasi. Dan itu saya dapatkan di Kompasiana.

Media ini mengajari saya untuk berkarib dengan realitas sosial. Saya tak hanya menulis tentang orang-orang besar seperti Presiden Obama, Presiden SBY, ataupun Pangeran William dan permaisurinya Kate Middleton. Saya juga menulis tentang anak kecil yang berprofesi sebagai penyelam koin di Pelabuhan Baubau, seorang pemulung dan pekerja seks di sudut kota, nakhoda Bugis yang piawai membaca bintang di langit, penari sepuh di Yogyakarta, misteri di balik potret gadis manis di monumen bom Bali, hingga kisah tentang seorang lelaki penjaga benteng di Ternate. Reportase itu menjadi catatan perjumpaan saya dengan banyak keping kehidupan.

Maria Loretha, pahlawan di tanah Kupang

Suatu hari, ketika terbuka seleksi beasiswa di satu lembaga internasional, saya lalu memberanikan diri untuk mengikuti seleksi dan mengajukan dokumentasi liputan di Kompasiana tentang orang-orang biasa yang sedang melukis bumi dengan caranya masing-masing. Ajaib. Kerja keras itu terbayar. Saya dinyatakan sebagai penerima beasiswa ke Amerika Serikat berkat reportase yang sering saya buat di Kompasiana.

Sungguh, saya tak membayangkan sebelumnya. Bahwa Kompasiana tak hanya menyediakan ruang yang amat luas bagi saya untuk belajar, namun juga memberikan kesempatan untuk mengunjungi negeri-negeri yang jauh. Kompasiana menjadi sayap-sayap bagi saya untuk mengangkasa dan melihat banyak kenyataan yang sebelumnya tak saya bayangkan.

Maka sejak tahun 2011, saya mulai menulis reportase tentang Amerika. Saya menulis hal-hal sederhana, mulai dari hal yang baik, lucu, hingga hal yang tak menyenangkan. Identitas keindonesiaan dalam diri, saya jadikan sebagai lensa untuk melihat sesuatu. Ada banyak hal yang bisa menjadi inspirasi tentang Amerika, namun ada juga banyak kenyataan yang menunjukkan inspirasi Indonesia, yang kemudian dirindukan oleh orang Amerika. Keduanya adalah dua sisi yang saling melengkapi kenyataan, menjadi puzzle yang saling melengkapi, serta memperkukuh gambaran tentang tanah air serta perlunya berbagi energi positif.

Setelah kembali dari Amerika, saya disadarkan berulang-ulang bahwa aktivitas menulis di Kompasiana telah menjadi jalan pulang bagi saya untuk menemukan sisi luar biasa dari kampung halaman, lalu menyelami degup jantung warga biasa yang setiap hari memperkaya pohon kehidupan, dan memekarkan bunganya bagi generasi mendatang. Pengalaman itu mengajarkan saya tentang pentingnya berbagi pengalaman positif dengan orang lain, serta perlunya melihat sisi-sisi baik dari banyak kejadian. Saya lalu memelihara tekad baru untuk menggugah dan menggerakkan orang lain demi berbagi energi positif.

***

DUA hari lalu, saya dinyatakan sebagai Kompasianer of the Year 2013. Silih berganti orang mengucapkan selamat. Saya tahu persis bahwa ada banyak orang yang jauh lebih baik. Saya tahu bahwa ada banyak orang yang menulis dengan hati dan menggerakkan orang lain. Merekalah guru-guru tempat saya menimba ilmu. Saya hanyalah noktah kecil di rumah sehat Kompasiana. Kalaupun saya yang terpilih, maka saya menganggap pilihan itu sebagai keberuntungan belaka.

 
salah satu pantai di Buton

Pada akhirnya saya mengamini petuah Master Oogway dalam film Kungfu Panda bahwa tak ada sesuatu yang sia-sia dalam hidup. Segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan dan spontan begitu saja, namun selalu ada butiran-butiran hikmah dan endapan makna yang ditemukan dalam satu aktivitas sederhana yang mungkin diabaikan banyak orang. Yup. Menulis reportase di Kompasiana adalah menulis reportase tentang kehidupan yang kelak akan menjadi pupuk bagi kita untuk tumbuh dan menjangkau mega-mega.


Baubau, 25 November 2013

BACA JUGA:









Tamasya Ilmu di Ranah Digital


SELAMA dua hari, aku meluangkan waktu untuk membaca dan menuntaskan buku karya Don Tapscott yang berjudul Grown Up Digital. Buku ini membuka wawasan dan mengejutkan nalarku tentang perkembangan dunia digital, lahirnya generasi baru yang melek internet, serta perubahan sosial yang sedang dan akan terjadi.


Tesis utama yang diusung buku ini adalah lahirnya generasi internet telah mengubah banyak hal. Mulai dari lanskap pertemanan, bisnis, industri hiburan, serta konsep kekuasaan. Dunia memang sedang berubah drastis sejak hadirnya generasi baru ini. Dalam usia muda, mereka punya kecerdasan, kreatifitas, serta solidaritas yang sangat kuat. Mereka dengan cepat bisa membangun kolaborasi dan jejaring, kemudian bersama-sama mendorong terjadinya perubahan.

Argumentasi dalam buku ini memang sangat kuat, dan bertabur banyak bukti. Wajar saja sebab buku ini diolah dari hasil riset. Saat membaca metode penelitiannya, aku tercengang. Tapscott membangun sebuah tim peneliti, kemudian mewawancarai hampir 10.000 anak muda, serta menghasilkan 40 laporan. Melalui proses yang panjang, termasuk kerjasama dengan beberapa penulis, buku ini lalu lahir dengan bahasa yang renyah dan bertenaga sehingga memudahkan siapapun yang membacanya. Sejak awal membacanya, aku sangat tercengang dan serasa diajak memasuki dunia baru yang berubah. Argumentasi yang dibangun sangat kokoh, dan sangat terlihat kalau buku ini disiapkan secara serius.

Tak berlebihan jika buku ini bisa memotret dari jarak paling dekat tentang generasi baru serta peta lanskap ekonomi, sosial, dan budaya. Generasi baru ini disebutnya jauh lebih akrab dengan teknologi ketimbang generasi sebelumnya. Tapscott mencontohkan pengalaman ketika kantornya menghadiahi sebuah handphone yang mahal. Ia tak tahu bagaimana menggunakannya sehingga hanya meletakkannya di meja. Ternyata, anaknya lalu mengambil benda itu, dan dalam waktu sejam, handphone itu dipenuhi dengan banyak program, lagu-lagu, foto-foto, serta berbagai kustomisasi yang menunjukkan bahwa Tapscott adalah penggunanya.

Aku juga melihat contoh ini pada anakku Ara. Meskipun usianya baru dua tahun dan belum lancar berbicara, ia sangat pandai memainkan beberapa aplikasi pada Iphone. Ketika saya menyodorkan Iphone, ia langsung tahu cara membuka kuncinya, mencari aplikasi kamera, lalu sibuk memotret sana-sini. Ia juga pandai mengedit beberapa gambar sebelum di-publish. Padahal, tidak semua orang di rumahku yang mengetahui cara mengoperasikan teknologi sebagaimana dirinya. Bahkan ibuku pun hanya menjadikan handphone sebagai alat komunikasi belaka.

Generasi baru ini melihat masalah dengan cara berbeda dari generasi sebelumnya. Generasi ini bisa memaksakan cara pandang mereka yang kemudian mengubah kultur bisnis, lanskap ekonomi, pendidikan, serta perubahan sosial. Tak percaya?

Tapscot memberikan contoh. Hampir setiap tahun, ajang penganugerahan Grammy Award ditonton jutaan orang. Beberapa tahun ini, ajang ini mengalami penurunan drastis dari sisi jumlah penonton. Mengapa? Sebab generasi sekarang tidak ingin terjebak untuk menonton tivi pada jam tertentu dan hari tertentu. Generasi internet lebih memilih menunggu hingga acara itu selesai, kemudian menyaksikan adegan-adegan penting dari acara itu melalui Youtube. Hal ini sungguh beda dengan generasi sebelumnya yang memiliki jadwal nonton tivi. Artinya, kebiasaan dan kultur generasi baru telah membuat banyak industri hiburan yang berubah. Industri ini lalu mencari cara-cara baru yang kreatif untuk menggaet generasi bari sebagai konsumen, sekaligus produsen. 

Di masa depan, industri yang survive adalah yang berbasis kolaborasi banyak pihak, seperti Wikipedia ataupun Google. Industri ini dibangun sebagaimana layaknya semut membangun sarang. Publik menjadi kreator yang mengembangkan kecerdasan kolektif, lalu bersama-sama mengisi satu demi satu pilar-pilar kekuatan industri itu. Padahal, pada masa sebelumnya, publik adalah massa yang pasif. Kini, publik menjadi kekuatan yang bisa mengkreasi dan menguatkan perusahaan. Tantangannya adalah bagaimana menemukan aspek yang kemudian mendorong partisipasi banyak orang untuk memperkuat satu perusahaan.

Dalam dunia industri hiburan, generasi baru ini memang memiliki kebiasaan serta pola menonton yang berbeda. Sambil menonton, mereka selalu mengaktifkan internet sambil membuat status di facebook, lalu nge-tweet di twitter, kemudian mengunggah beberapa file, sambil mengunduh lagu secara bersamaan. Mereka melakukan hal-hal yang multi-tasking sebab pada saat bersamaan mereka juga bisa menyelesaikan satu pekerjaan.

Anda bisa bayangkan ketika generasi ini memasuki pasaran kerja. Mereka bisa mengubah pola bekerja di kantor enjadi lebih fun dan menyenangkan. Berbeda perusahaan seperti Google atau Yahoo! bisa menangkap dan memahami kultur kerja generasi baru. Di Google, seorang karyawan sangat diizinkan untuk membuat proyek pribadi di kantor. Perusahaan percaya bahwa inovasi pribadi yang dibangun dari hasrat dan keinginan bisa menjadi energi untuk penciptaan hal-hal baru. Makanya, kantor dirancang seperti gelanggang remaja, penuh hiburan, makanan, serta fasilitas. Semua orang bebas untuk online dan menggunakan facebook.

Aku sangat menyukai beberapa konsep yang dijelaskan Tapscott. Mustahil untuk menguraikan smeua konsep-konsep dan argumentasi itu dalam artikel singkat ini. Yang pasti, berbeda dengan pemikir lain yang pesimis melihat dampak perkembangan teknologi, Tapscott justru sangat optimis. Ia menunjukkan banyak bukti bahwa generasi internet (sering disebut Net Gen) memiliki kapasitas yang lebih cerdas dan lebih kreatif di bandingkan generasi sebelumnya.

Generasi ini juga bisa memaksakan berubahnya lanskap bisnis yang berbeda dengan masa sebelumnya. Generasi ini mendefinisikan ulang pekerjaan sebagai hobi yang snagat menarik untuk dikutak-atik. Generasi ini menafsirkan aktivitas berselancar di ranah maya bukanlah aktivitas yang membuang-bunag waktu, sebagaimana dituduhkan generasi tua. Mereka membuktikan bahwa jagad maya bisa menjadi tamasya ilmu, sumber kreativitas, serta wahana untuk membangun jejaring dengan orang lain, lalu membangun kekuatan secara kolaboratif.


Catatan:

Tulisan ini hanya pembuka untuk menelaah gagasan Tapscott.

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...