Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Inspirasi Agnes Monica



DI tahun 2010, perempuan itu mendapat kehormatan sebagai presenter di ajang Amerian Music Awards (AMA). Perempuan yang berprofesi sebagai penyanyi itu nampak kikuk dan hanya bisa cengengesan. Banyak orang yang mengatakan bahwa bahasa Inggrisnya masih belum memadai untuk tampil di acara sekelas itu. Ia grogi dan lebih banyak diam serta tersenyum. Beberapa hari lalu, penyanyi itu akhirnya me-launching albumnya di level internasional.

Perempuan itu adalah Agnes Monica, yang di luar negeri disebut Agnez Mo. Pada situs-situs berbahasa asing, komentar tentang Agnes selalu positif. Agnes disebut sebagai fenomena baru. Situs globalgrind.com menyebut, bahwa meskipun Indonesia aalah negeri dengan kepadatan penduduk keempat dunia, Agnes akhirnya tampil di Amerika Serikat (AS) dan bekerjasama dengan produser hebat Timbaland. Kolaborasi mereka telah menelurkan album “Coke Bottle.”

Ibarat sebuah perjalanan, Agnes memang baru berjalan satu langkah di blantika musik dunia. Ia masih berada di tepi kancah musik dunia, di mana kompetisi dan artis baru selalu bertumbuhan. Ia memang masih jauh dari pencapaian seniornya Anggun C Sasmi. Beredar isu kalau album Agnes sempat dijual secara bajakan, sehingga ditarik oleh pihak i-Tune. Gosip juga beredar tentang cover albumnya yang meniru simbol Illuminati, semacam sekte tertentu yang dikabarkan anti-agama.

Di dunia maya, Agnes memiliki banyak pembenci. Kelompok yang menamakan dirinya Agnes Haters ini membuat satu grup di media sosial yang isinya adalah kecaman pada Agnes. Segala hal tentang dirinya dicibir. Mulai dari gaya bernyanyi, peluncuran album yang dianggap terlalu dibuat heboh, hingga fakta penjualan album Agnes yang biasa saja. Segala tingkah Agnes akan dikritik habis-habisan oleh penggemarnya.

Ketika Agnes menyebut ambisinya untuk go international, ia langsung dianggap arogan. Demikian pula ketika Agnes memajang fotonya yang sedang bersaa seorang penyanyi Amerika di Instagram. Orang-orang langsung menganggapnya pamer. Padahal, apa yang dilakukan Agnes dilakukan pula oleh banyak orang di media sosial. Dan jika ditelaah, semua kritikan itu selalu menyangkut hal remeh-temeh atau tidak substansial. Semua pengkritik hanya menyoroti soal yang tidak penting, seperti style ketika berbicara, postingan di media sosial, atau soal klaim-klaim.

Hebatnya, Agnes tak pernah menanggapi kritikan itu. Ia terus berbenah dan mengasah diri. Di ranah musik, barangkali Agnes adalah penyanyi dengan jumlah penghargaan paling banyak di Indonesia. Ia memenangkan puluhan trofi, termasuk 10 Anugerah Musik Indonesia (AMI), tujuh Panasonic Awards, dan empat MTV Indonesia Awards. Ia juga telah dipercaya menjadi duta anti narkoba se-Asia serta duta MTV EXIT dalam memberantas perdagangan manusia.

sampul album

Pengamat musik Bens Leo menyebut bahwa Agnes adalah satu-satunya penyanyi wanita yang sudah pantas menjadi seorang diva dan penerus Anggun C Sasmi. Ia dianggap mampu menjual CDnya sebanyak 1 juta kopi dalam waktu singkat, berkolaborasi dengan musisi dunia, sampai mengonsep video klipnya sendiri.

Di level internasional, ia berhasil meraih penghargaan dua tahun berturut-turut atas penampilannya di ajang Asia Song Festival di Seoul, Korea Selatan, pada tahun 2008 dan 2009. Hingga akhirnya, ia menjadi satu-satunya artis Indonesia yang pernah menjadi presenter dan berkesempatan menyanyi di Red Carpet American Music Awards di Los Angeles, AS, pada 2010 lalu. Barangkali, ia pula satu-satunya artis Indonesia yang menjadi aktris utama pada dua drama Asia yakni The Hospital dan Romance In the White House yang dibuat oleh sebuah rumah produksi di Taiwan.

Dengan prestasi yang segudang, mengapa Agnes banyak dikritik di media sosial? Bukankah kiprahnya adalah representasi dari semangat kerja keras dan hasrat untuk berprestasi serta ikhtiar untuk menggapai impian?

Bagi saya, semua kritikan itu semakin menunjukkan pijakan kakinya yang sudah kian jauh di dunia entertain. Makian itu semakin menunjukkan bahwa Agnes adalah sosok penting yang namanya semakin berkibar. Harus dicatat, di usianya baru 27 tahun, ia telah mencapai semua hal yang kian menempatkannya sebagai diva musik tanah air. Ia telah ‘melambung jauh’ dengan segala prestasi yang untuk menandinginya mesti menggapai jalan terjal.

Belajar pada Agnes

Pada diri Agnes Monica, kita bisa memetik hikmah demi menyuburkan benih-benih kerja keras dan semangat dalam diri kita. Ia bisa menjadi inspirasi buat kita semua bahwa kesuksesan bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit. Kesuksesan hanyalah dari kerja keras serta proses menyempurnakan diri untuk terus belajar. Ia membuka mata kita semua bahwa usia muda tak selalu bermakna hijau alias tak matang. Pada Agnes, kita bisa belajar beberapa hal:

Pertama, kita belajar tentang bagaimana menanam mimpi dan menyuburkannya secara terus-menerus. Beberapa tahun silam, Agnes selalu menyebut ambisinya tentang go international. Demi mimpi itu ia tak pernah surut. Ia memiliki langkah-langkah kecil untuk menggapai mimpinya. Ia tak mau sekedar diam dan menunggu. Ia berbuat dan melakukan beragam daya dan upaya untuk menggapai mimpinya itu. Penulis Paolo Coelho mengatakan, tak masalah sebesar apapun mimpimu, namun semuanya tergantung pada seberapa kuat ausaha untuk menggapai mimpi itu.

Kedua, Agnes mengajarkan kita tentang pentingnya kerja keras dan perubahan. Saya tak pernah lupa tayangan ketika dirinya menjadi presenter di acara American Music Awards. Ia dikritik karena kemampuan bahasanya yang rendah. Kompas mencatat, bahwa setahun setelah acara itu, ia tampil membawakan presentasi dalam bahasa Inggris di hadapan ratusan orang di Pacific Place Mall, Jakarta. Ia berbicara tentang “Dream, Believe, and Make It Happen” dalam bahasa Inggris yang fasih dan mengundang decak kagum. Bahkan, seorang moderator berkebangsaan AS sempat memberikan pujiannya terhadap Agnes, “Penggunaan bahasa Inggris-nya lebih baik ketimbang saya berbicara bahasa Indonesia.”

sampul album

Ketiga, Agnes mengajarkan kita tentang dedikasi pada profesi. Sejak masih kecil, ia tahu bahwa jalan hidupnya adalah menjadi seorang penyanyi. Demi pilihan itu, ia mengasah diri. Di tanah air, tak banyak penyanyi cilik yang sukses bertransformasi menjadi penyanyi dewasa yang penuh prestasi. Ia sukses melakukannya sekaligus sukses menuai prestasi.

Keempat, Agnes mengajarkan kita untuk berani menghadapi tantangan-tantangan baru. Ia tak hendak berpikir nyaman dengan menikmati ketenaran sebagai diva musik tanah air. Ia menjemput tantangan baru dengan memasuki jantung musik dunia. Kalaupun ia belum sesukses Anggun, ia telah meniti di atas jalan yang sama, dan kelak akan menempatkannya pada posisi yang sukar digapai penyanyi tanah air lainnya.

Di tanah air, kita terbiasa dengan hidup yang datar-datar saja. Seringkali, kita tak siap dengan hidup ala roller coaster. Ketika melihat seseorang hendak keluar dari zona datar, kita sering tak nyaman dan merasa terganggu. Kita lalu melekatkan berbagai label seperti ambisius, gila, cari popularitas, dan banyak sebutan lainnya. Kita memelihara energi negatif, yang semakin membuat kita semakin tidak produktif dan sibuk memperhatikan orang lain.

Sebagaimana halnya Agnes, jauh lebih jika kita mengasah diri, dan menyalakan motivasi dalam hati kita, yang kemudian menjadi cahaya terang untuk menemani batin kita di belantara kehidupan. Jauh lebih baik jika kita menyerap energi positif dari semua orang, kemudian mentransformasikannya menjadi kerja keras yang menghiasi setiap langkah kita sehingga ladang kehidupan kita akan semerbak dengan bunga-bunga prestasi serta jejak-jejak indah dalam sejarah kehidupan kita.


Baubau, 28 September 2013

Kiat Mengalahkan Amarah


ilustrasi

BETAPA seringnya kita menyaksikan amarah. Betapa seringnya kita melihat orang yang tiba-tiba murka, menyalahkan keadaan, meledakkan amarah kepada orang lain, setelah itu menyalahkan diri sendiri. Rasa amarah itu kemudian menjadi belati yang menyakiti diri sendiri. Di ujung rasa amarah itu, sebuah derita bersemayam. Untuk apa memerlihara amarah jika akhirnya adalah penderitaan?

Pengetahuan modern bisa menyebabkan manusia melesat jauh hingga mencapai bulan. Akan tetapi pengetahuan itu tak selalu bisa mengajarkan manusia untuk menjaga hati. Pengetahuan itu tak pernah bisa mendidik manusia untuk selalu bersikap tenang, tetap berkepala dingin saat menghadapi keadaan sulit, serta melatih orang untuk selalu melihat sisi-sisi positif dari setiap kejadian.

Sesungguhnya, masyarakat kita memiliki kearifan untuk mengalirkan semua amarah. Tapi kita lebih banyak mengabaikannya, dan memilih untuk menuruti kata-kata ego yang bersemayam dalam diri. Kita seringkali alpa bahwa daya upaya untuk mengendalikan amarah itu ada dalam diri. Kita hanya butuh diam sesaat, kemudian menarik napas panjang, lalu menenangkan diri. Kita hanya perlu mendengarkan suara-suara hati, mengikuti cahaya keikhlasan dalam diri, serta kesediaan untuk melepaskan segala hal yang memuat marah.

Kita hanya butuh mendengar suara hati, sesuatu yang nampak sederhana, namun betapa sulitnya melakukan itu di tengah kepungan ego serta hingar-bingar kemarahan yang membakar kesadaran kita. Namun haruskah kita terjebak dalam satu rasa yang kemudian membakar diri kita?


Baubau, 27 September 2013

Perginya Perempuan yang Penuh Kasih


ilustrasi

TAK ada sedikitpun isyarat bahwa dirinya akan segera pergi. Ia sehat dan segar bugar sebagaimana biasanya. Beberapa hari lalu, ketika saya memposting foto anak saya Ara di satu situs jejaring sosial, ia langsung memberikan respon, sebagaimana biasanya. “Ara....! I miss u,” katanya. Semalam, saya mendengar kabar tentangnya yang meninggal setelah tertabrak sebuah mobil di kampung halamannya, di Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Dahulu, kami sama-sama terdaftar di Universitas Hasanuddin (Unhas). Di masa itu, kami tak seberapa akrab. Maklumlah, saya dan dia terpaut empat tahun. Belakangan, kami sama-sama menempuh jalan yang sama yakni kembali ke kampung halaman. Dunia maya kemudian menyatukan hubungan sosial kami. Kami lalu saling kontak dan berkirim kabar.

Tadinya, hubungan itu tak seberapa intens. Ketika saya mulai memposting foto Ara, ia akan rajin me-like dan mengomentarinya. Tanpa sungkan, ia jujur mengatakan amat mencintai Ara. Pernah, ia bercanda, jika kelak aku mengabaikan Ara, ia bersedia untuk membesarkan dan mencintainya.

Selalu ada keajaiban di dunia maya. Dunia maya tak hanya berisikan sejumlah orang yang rajin mengumbar energi negatif, mengekspresikan ketidaksukaan atau memaki orang lain. Dunia ini juga berisikan sejumlah orang yang rajin berbagi energi positif. Sejumlah orang ini menebar bahagia dan spirit cinta kasih kepada sesamanya.

Saya amat bahagia bisa bertemu dengan sejumlah orang yang sering berbagi energi kasih di dunia maya. Saya bersyukur kala menyadari bahwa pada usia yang amat dini, ada banyak orang, dari seluruh dunia, yang rajin memberikan komentar positif atas pertumbuhan Ara. Saya meyakini bahwa semua komentar positif adalah energi yang akan menyelubungi dan memberikan kekuatan pada kaki Ara untuk menjejak bumi. Energi itu juga akan menjadi sayap-sayap agar kelak dirinya bisa terbang mengangkasa.

Kini, sosok yang selalu berbagi energi positif itu telah berpulang. Satu kecelakaan maut telah merenggut nyawanya. Ketika mendengar berita itu dari seorang kawan, saya sesaat termenung. Saya membayangkan tentang kalimat-kalimat positif yang pernah ditulisnya ketika menyapa Ara. Saya membayangkan doa-doa yang pernah ditulisnya untuk menguatkan sayap-sayap Ara demi merengkuh impiannya.

Saya berharap ia tetap melakukannya di alam lain. Pada waktunya, saya akan kisahkan pada Ara tentang orang-orang yang mencintainya dengan sepenuh hati. Saya akan ceritakan tentang mereka. Di antaranya adalah Luisa Esquival, seorang ibu di Chile (Amerika Latin) yang mengirimkan baju untuk Ara. Saya juga akan cerita tentang Linda Esch, gadis pirang asal Jerman yang mengiriminya coklat serta pengharapan positif. Juga tentang dirinya dan beberapa orang yang selalu menyampaikan rindu dan sayang ketika melihat foto Ara.

Di sini, saya hanya bisa berdoa untuknya. Semoga semua cinta yang dititipkannya kepada Ara akan menjadi cahaya yang menuntunnya melewati perjalanan di dunia lain. Semoga dirinya terus menjadi bara yang menghangatkan cinta pada Ara, baik di sini maupun di dunia yang lain. Selamat jalan sahabat. Selamat jalan Reni Azis.


Baubau, 26 September 2013

Sepucuk Surat dari Setkab RI



SEBUAH surat datang ke rumah. Surat itu datang dari Sekretariat Kabinet RI. Isinya berupa selembar piagam juara lomba penulisan esai. Di surat itu ada tanda tangan dari Menteri Sekretaris Kabinet Dipo Alam. Perasaan saya biasa saja. Tak ada satu yang istimewa dari sebuah piagam penghargaan. Saya tak tahu piagam itu hendak dikemanakan. Paling, hanya akan menambah deretan prestasi di CV. Tak lebih.

Sesungguhnya saya tak butuh piagam. Saya tak butuh plakat penghargaan. Yang paling saya senangi dan butuhkan dari lomba ini hanyalah hadiah uang tunai bagi juara pertama. Bagi saya, hadiah sebesar Rp 20 juta itu terlampau besar sebagai penghargaan atas artikel yang hanya tiga lembar.


Nasib baik memang sedang menyapa saya. Dewi Fortuna sedang ingin tersenyum kepada saya. Di tiga lomba menulis, saya bisa berjaya. Mudah-mudahan, bulan depan masih akan ada berita gembira atas karya tulis yang saya ikutkan di sau lomba. Meskiun tak ada jaminan untuk menang, saya tak ingin berhenti berharap. Sebab harapan adalah satu-satunya yang saya miliki. Harapan itu juga yang menjadi nyala api kecil yang menghangatkan semangat dalam diri saya.


Baubau, 25 September 2013

Menunggu Pesan Politik Anas


SEMINGGU silam, saya selalu menantikan berita tentang Jokowi. Minggu ini, saya tak lagi menantinya. Saya sekarang menunggu-nunggu semua berita tentang Anas Urbaningrum. Segala hal tentang Anas selalu menarik. Apalagi, ia tengah memasuki bidak catur dan memainkan pion yang berhadapan dengan bidak catur Presiden SBY.

Saya tahu bahwa Anas adalah tersangka. Ia dituduh terlibat dalam kasus korupsi. Namun entah kenapa, saya selalu menyenangi penampilan dan langkah politiknya. Walau dirinya dibuang oleh partai besar itu, ia masih punya langkah-langkah politik demi menunjukkan bahwa dirinya tetap eksis dan tidak tenggelam begitu saja. Dengan posisinya yang di luar lingkaran kuasa, ia lebih leluasa dan lincah dalam memainkan buah catur. Di situlah letak menariknya.

Saya menyenangi gaya komunikasinya yang tetap tenang dan secara halus menyampaikan sindiran. Ia pandai memanfaatkan semua elemen di seitarnya demi menyampaikan pesan. Saat wawancara di rumahnya, ia selalu duduk di dekat foto mertuanya, seorang kiai yang cukup disegani. Tadi, saya melihat dirinya diwawancarai di satu ruangan, di mana ada banyak orang sedang berpakaian Islami. Sepertinya ia tengah berada di satu pesantren. Ia cukup cerdas mengirim pesan politik.

Jika terbukti ia korupsi, saya sangat menyayangkannya. Seorang politisi muda yang cemerlang sepertinya, terlampau cepat untuk masuk dalam peti es dunia politik. Akan tetapi jika ia bisa lolos dalam kasus ini, namanya akan semakin melejit. Ia akan kembali mendapatkan nama besar serta pengaruh yang pernah ditanamnya sejak menjadi aktivis mahasiswa hingga menjadi ketua umum partai.

Yang jelas, saya tak sabar untuk menunggu perkembangan kasus ini.

Sensasi Jadi Headline (16)


SEBULAN ini saya sangat produktif menulis di Kompasiana. Sengaja saya perbanyak menulis di kanal blog ini demi untuk berinteraksi dengan banyak orang. Yang saya rasakan, Kompasiana terus tumbuh. Banyak penulis di awal-awal yang kemudian menghilang. Hanya sedikit yang kemudian bertahan. Mungkin, banyak dari Kompasianer senior yang kemudian menjajal bidang lain. Entah. Setidaknya, saya bisa kembali menjalin pertemanan dengan beberapa sahabat baru di kanal blog terbesar itu. Berikut, beberapa tulisan yang jadi headline selama dua bulan ini.



Jurnalisme Makna ala Pepih Nugraha 

Penulis, Peneliti, dan Pencatat Kehidupan

Zaskia Gotik, Potret Sosial Kita

Inspirasi Vicky Prasetyo


Kini "Jebret", Dulu Sambas


saat Indonesia U-19 juara (foto: viva.co.id)

ANAK muda itu berjalan pelan menuju ke bola yang diletakkan di depan gawang. Ilham Udin Armayn bersiap-siap hendak menendang bola. Jutaan pasang mata terpaku ke arahnya. Di layar televisi, seorang komentator meminta agar jutaan orang yang menyaksikan itu ikut mendoakan agar tendangan anak muda itu tidak meleset.

“Jebreeeeettttt,” komentator berteriak kala tendangan Ilham berhasil merobek jala gawang. Ilham spontan berlari dan berteriak demi melapkan kegembiraan. Kiper Indonesia Ravi Murdianto ikut mengejar dan merayaan kebahagiaan itu. Ribuan penonton di stadion langsung bersorak-sorai. Di tengah kegembiraan yang memenuhi hati para penonton, sang komentator lalu mengutip kalimat Bung Karno, “Berikan aku sepuluh orang tua, akan kucabut Gunung Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, akan kuguncangkan dunia.”

Saya yang menyaksikan layar televisi langsung merinding. Saya ikut larut dalam puncak kegembiraan tersebut. Saya ikut berteriak “Gooolll!”. Saya bisa merasakan bagaimana rasa gembira serta dahaga akan penantian gelar selama 22 tahun. Malam itu, semua rasa haus itu langsung berakhir. Indonesia bukan lagi spesialis runner up atau partisipan di ajang pertandingan bola. Indonesia adalah juara. Saya semakin merinding ketika komentator mengutip Bung Tomo, “Selama banteng Indonesia berdarah merah, yang mampu membikin secarik kain putih jadi merah dan putih, maka kita tidak akan menyerah!”

Kini, sehari setelah pagelaran sepakbola AFF U-19, pertandingan final itu masih membekas di hati banyak orang. Bukan saja karena Indonesia sukses meraih titel juara. Namun juga karena drama, ketegangan, serta nasionalisme yang dikerek tinggi-tinggi. Ketika mengenang pertandingan itu, tiba-tiba saya terkenang pada sang komentator yang bisa membuat pertadingan itu jadi lebih heboh dan menegangkan. Ia sukses menghidupkan suasana. Ia telah menyebar virus dan kosa kata baru yakni “Jebret..!!”

Valentino Simandjuntak, sang komentator Jepret

Seusai kemenangan Indonesia atas Vietnam, banyak orang ikut memopulerkan kata Jebret. Di jagad Twitter, Jebret menjadi kata sakti yang diucapkan banyak orang atas kemenangan Indonesia. Tak hanya Jebret, beberapa kata lain juga populer yakni Jeger, aw aw, ahay, dan ‘melambung jauh’ (kata ini mengingatkan pada bait lagu Anggun).

Tak hanya itu, sang komentator menggelorakan semangat dan nasionalisme lewat kutipan kalimat-kalimat para founding fathers. Selain Bung Karno dan Bung Tomo, ia juga mengutip Soedirman, Kartini, hingga Bung Tomo. Siapakah komentator yang telah mengharubirukan nasionalisme kita semua?

Pria itu bernama Valentino Simanjuntak. Tadinya saya mengira ia sudah berusia 50-an tahun. Gayanya ketika mengomentari pertandingan mengingatkan saya pada reporter Radio Republik Indonesia (RRI) yang kerap menyiarkan pertandingan secara langsung, berdasarkan pandangan mata. Namun saya melihat fotonya, saya agak terkejut. Ternyata ia masih cukup muda dan ganteng. Di akun twitter-nya, ia menulis bahwa dirinya adalah: “

Kepada Tempo, ia mengaku bahwa awalnya ia disuruh membawakan komentar dengan gaya khas komentator Italia dan Amerika Latin. Ia melihat bahwa gaya kometator kita seringkali terlampau dingin dan tidak memasukkan emosi dalam laporannya. Ketika ia mendengar komentator di Amerika Latin, ia teringat pada gaya reportase khas RRI. Gaya seperti itu dulu sangat ppuler dan bisa bikin emosi warga turun naik. Kosakata Jebret telah dikenalnya sejak kecil. “Sebenarnya kata “jebret” itu biasa saya pakai kalau main bola waktu kecil. Di kampung saya, di Srengseng Sawah, kalau kita nendang kenceng, istilahnya kan “kita jebretin kipernya aja”.  Atau “Awas loe ya, gue jebret loe.” 

Mengenang Sambas

Mengapa ia selalu menyuruh penonton untuk berdoa? “Itu saya tiru dari Bung Sambas, komentator TVRI era 1980-an.  Ia selalu mengajak penonton untuk berdoa. Selain itu, kita juga di dalam studio tegang, lho. Sambil meyakinkan diri sendiri, saya ajak juga penonton untuk berdoa. Seperti yang saya bilang, harapan itu selalu ada, “ katanya.

Sambas Mangundikarta, sang komentator legendaris

Mereka yang menyaksikan siaran olahraga tahun 1980-an, pastilah mengenal sosok bernama asli Sambas Mangundikarta. Pria yang lahir di Bandung tahun 1926 ini memulai karier dari RRI. Ia dikenal piawai menyiarkan tayangan olahraga secara langsung melalui radio. Pada masa itu, tak semua orang memiliki televisi, Tak semua orang memiliki akses untuk datang langsung ke lapangan. Melalui RRI, Sambas menyiarkan tayangan olahraga sekaligus menggelorakan semangat nasionalisme ke seluruh penjuru tanah air.

Gaya Sambas menjadi trendsetter yang mempengaruhi semua liputan olahraga. Sosok asal Jawa Barat ini adalah sosok fenomenal yang bisa membuat semua tayangan olahraga jadi lebih dramatis dan menghibur. Ia bisa mengaduk-aduk emosi dan bisa membuat penonton bersemangat dan merasakan atmosfer dalam stadion. Lagu ciptaannya “Manuk Dadali” pernah menjadi lagu wajib yang sealu dinyanyikan The Viking, kelompok suporter Persib Bandung sebelum tim itu berlaga.

Di awal tahun 1990, saya sering melihat Sambas memandu tayangan bulu tangkis. Sambas tak pernah obyektif. Ia akan membela Indonesia mati-matian dalam liputannya. Pernah, shuttlecock pemain Indonesia keluar, Sambas berkata bahwa bola seharusnya masuk. Suara baritonnya sangat khas. Demikian pula pilihan-pilihan katanya. Dan saya sangat yakin ketika Valentino berkata, “Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,” kalimat ini dikutip dari Sambas, yang mengutipnya dari Soekarno.

Selain olahraga, Sambas juga mengasuh acara Dari Desa ke Desa yang tayang di TVRI. Ia amat sukses membawakan acara ini. Bahkan ketika ia pensiun pada tahun 1982, Presiden Soeharto tetap memintanya untuk membawakan acara itu. Maklumlah, suaranya yang khas itu membuat acara tentang pertanian itu menjadi sedemikian menghibur dan disukai orang.

Hingga kini, gaya tersebut masih sering hadir di layar televisi. Saat masih tinggal di Makassar, saya tahu bahwa jika tak sempat ke stadion Mattoanging untuk menyaksikan PSM bertanding, maka cukup menyalakan radio dan mencari siaran RRI. Di situ, akan ada siaran langsung yang mereportase semua yang terjadi di lapangan bola persis sebagaimana adanya. Kadang-kadang, penyiarnya lebay atau melebih-lebihkan apa yang nampak. Namun saya justru melihat itu sebagai bagian dari strategi untuk mmbuat tontonan jadi semakin menarik. Para komentator bola di luar negeri pun melakukan hal yang sama.

Bagi saya, yang menarik dari seluruh tayangan olahraga bukanlah fakta siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang membuat acara olahraga sangat menarik adalah drama dan ketegangan yang dihadirkan, serta sosok-sosok yang berhasil menjalankan misi-misi penting. Kita menjadi tegang karena mengetahui betapa beratnya perjuangan seorang atlet untuk membela negara. Kita juga bahagia saat mengetahui bahwa pengorbanan itu membuahkan hasil yang positif.

saat juara

Tugas seorang komentator adalah memindahkan ketegangan seorang atlet ke dalam pikiran semua penonton. Dan komentator seperti Sambas dan Valentino sukses membuat publik menjadi lebih bersemangat, lebih nasionalis, dan lebih mencintai tim tanah air. Mereka telah menebalkan nasionalisme, merawat kebanggan kita pada bangsa, serta menunjukkan kepada semua orang bahwa hanya dengan semangat tinggi, negeri ini bisa mengalahkan segala yang mustahil. Bravo buat mereka. Jebrettt...!!!!


Baubau, 24 September 2013

Di Sini KFC, Di Sana Tuna


restoran KFC di Baubau

PADA mulanya, tak pernah ada restoran cepat saji bernama Kentucky Fried Chicken (KFC) di kampung kami. Namun ketika restoran asal Amerika itu berdiri, sontak bertambah pula kebutuhan anak-anak gaul di kampung kami. Restoran itu bukan lagi menjadi tempat mengganjal perut lapar, akan tetapi menjadi gaya hidup serta simbol kelas atas di kampung kami.

Sewaktu tinggal di Amerika Serikat (AS), saya melihat kenyataan berbeda. Restoran KFC bukanlah simbol kelas atas. Ia bernasib sama dengan restoran lain seperti McDonald, Wendy’s, dan Pizza Hut. Tempat-tempat itu disinggahi warga biasa yang menginginkan sesuatu yang cepat saji. Maklumlah, masyarakatnya sering terburu-buru dan dikejar waktu.

Seorang kawan yang merupakan warga asli Amerika mengatakan bahwa mereka yang mengakses restoran ini adalah mereka yang memiliki ekonomi pas-pasan. Mengapa? Sebab makanannya murah, cepat disajikan, serta bisa ditemukan di banyak tempat. Mereka yang ekonominya mapan akan menghindari restoran ini. Mereka yang kaya akan membeli makanan berupa buah atau sayuran organik yang tak banyak diolah. Makanan itu dianggap jauh lebih sehat ketimbang ayam Kentucky.

Pembicaraan tentang makanan ini sangatlah menarik. Sebab makanan bisa membawa kita untuk memahami budaya serta selera di berbagai tempat. Ketika warga Indonesia menganggap KFC dan McD sebagai tempat makanan yang elite, warga Amerika justru menganggap makanan itu kelas rakyat kebanyakan.

Saya tak sedang bercanda. Pernah sekali, saya iseng makan di KFC, kemudian memotret makanan itu lalu meng-upload di sebuah situs jejaring sosial. Linda, sahabat asal Jerman, langsung memberikan respons. Katanya, hindari makanan itu sebab tidak sehat. Katanya, ayam itu mengandung banyak lemak dan unsur-unsur lain yang berpotesi mendatangkan penyakit.

Pernah, ketika mengambil kuliah Critical and Cultural Studies yang diasuh Prof Jaylyne Hutchinson, semua peserta kuliah ditanya makanan apa yang identik dengan kelas atas di kampung halaman masing-masing. Ketika saya menyebut McDonald dan KFC, semua mahasiswa Amerika tiba-tiba melongo dan menatap saya seolah melihat alien yang turun dari planet lain.

Seorang teman bernama Francis langsung menyelutuk, “Apakah wargamu menganggap KFC sebagai makanan Amerika sehingga mereka ingin meniru Amerika?” Saya tersenyum lalu mengatakan bahwa harga seporsi ayam KFC cukup mahal di kampung saya. Tak cukup dengan penjelasan itu, saya lalu memberikan analogi, “Di kampung saya, harga seporsi hamburger di McDonald atau ayam KFC lebih mahal dari harga seekor ikan tuna jenis sirip kuning yang baru saja ditangkap nelayan.”

What? Beberapa mahasiswa Amerika langsung histeris. Bagi banyak warga Amerika, makanan laut seperti tuna, lobster, dan ikan napoleon adalah makanan kelas atas yang hanya bisa dibayangkan. Makanan itu hanya bisa ditemukan di restoran-restoran mahal yang ongkos masuknya pun sudah tak terjangkau warga biasa. Sementara di kampung saya di Pulau Buton, tuna adalah jenis ikan yang mudah ditemukan di pasar-pasar dengan harga amat murah.

Inilah dinamika kebudayaan. Masing-masing kebudayaan merekonstruksi konsep-konsep seperti selera, rasa, serta makna enak dan tidak enak. Di satu tempat, satu makanan dianggap rendahan atau milik warga kebanyakan. Di tempat lain, makanan itu justru amat bernilai dan menjadi simbol pergaulan kelas atas.

Biasanya, saat mengenang ini, saya selalu bersyukur menjadi warga pulau. Saya bisa melihat persoalan dengan cara berbeda dengan kebanyakan orang yang sering tak memahami betapa berlimpahnya sumberdaya alam di sekitar. Saya bahagia karena sebagai warga pulau, saya bisa mengakses semua makanan laut seperti ikan, lobster, udang, kepiting, dan cumi-cumi dengan harga yang amat terjangkau. Saya bersyukur karena bisa mengakses semua sayuran segar dan buah-buah yang belum lama dipetik dari pohonnya.

Sayang, dibukanya KFC di kampung saya membuat segalanya jadi berbeda. Namun saya tak ingin latah dengan selera kebanyakan orang. Sampai kini dan sampai kapanpun, saya tetap akan menjadi penikmat utama semua jenis makanan laut (sea food) yang segar. Saya tetap jadi fans berat masakan ikan dari seorang ibu di tepi Pasar Wameo, yang kelezatan ikannya telah membuat saya lupa dengan semua masalah yang sedang mendera. Nyam... Nyam....


Baubau, 21 September 2013

Tai Chi, Meditasi, dan Ketenangan yang Mengalir



MENONTON film Man of Tai Chi yang disutradarai Keanu Reeves serasa menikmati menu yang rasanya sudah amat dikenali saking seringnya dicicipi. Saya agak telat menyaksikan film ini. Saya tak menyesal karena tak ada yang istimewa. Ceritanya mudah ditebak. Gak beda jauh dengan film Bloodsport yang dibintangi Van Dame. Akting pemain juga serba hambar.

Di Indonesia, film ini menyerap atensi publik karena salah satu aktor laga Iko Uwais muncul di akhir film. Itupun hanya beberapa menit saja. Ceritanya, Iko mesti bertarung dengan Tiger Chen, seorang pendekar Tai Chi. Sayang, pertarungan itu tak terjadi sebab sang Tai Chi Master memilih untuk menghindari pertarungan.

Sepanjang film, saya menanti-nanti filosofi atau makna dari seni bertarung ala Tai Chi. Dalam satu film yang dibintangi Jet Li yakni Tai Chi Master, ada penjelasan yang cukup menarik. Kalau tak salah, Jet Li menyebut bahwa Tai Chi adalah proses menyatunya seorang manusia dengan alam semesta. Tai Chi adalah upaya memahami alam, memahami angin yang bertiup, daun-daun yang mengikuti angin, hingga upaya menyelaraskan gerak dengan alam. Tai Chi tak punya serangan mematikan, namun bisa menyerap energi yang dipancarkan lawan, kemudian dikembalikan dengan kekuatan yang sama.

Sayang, film Man of Tai Chi tidak banyak membahas hal-hal filosofis. Sejak awal, yang nampak adalah pertarungan demi pertarungan, serta dilema seorang pendekar Tai Chi yang tak ingin menggunakan kemampuan bertarungnya demi untuk mencari uang.

Satu hal yang saya senangi dari film ini adalah dialog-dialog antara guru dan murid yang sama-sama memperdalam Tai Chi. Sang guru atau sang master beberapa kali mengingatkan muridnya agar mengontrol chi atau energi yang terus mengalir dalam tubuhnya. Ketika energi tak bisa dikontrol, maka yang terjadi adalah sebuah penghancuran.

Iko Uwais
Sang guru menganjurkan muridnya untuk melakukan meditasi demi mengontrol chi. Saya sangat menyukai dialog ini. Jiwa saya seakan dibasahi oleh pencerahan baru. Dalam kehidupan, kita seringkali dihinggapi rasa kesal, amarah, benci, dendam, cemburu, serta berbagai energi negatif. Semua rasa tersebut adalah sesuatu yang alamiah dan bisa menghinggapi siapa saja. Hanya saja, energi tersebut harus dikontrol sedemikian rupa sehingga tidak menjadi kekuatan yang menghancurkan tubuh manusia.

Beberapa tahun silam, saya membaca literatur yang menyebutkan bahwa banyak penyakit yang justru disebabkan oleh energi negatif. Makanya, dalam konsep tradisional, ketika seseorang dihinggapi penyakit tertentu, maka orang tersebut mesti dirawat di satu pusat rehabilitasi di satu tempat yang sepi dan dipenuhi bunga-bunga. Mengapa demikian? Sebab orang tersebut mesti mendamaikan hati, menemukan ketenangan, dan tidak diganggu oleh berbagai hal yang menjadi aktivitas hari-harinya. Jiwanya mesti dibasahi dengan embun ketenangan serta refleksi. Inilah kekuatan yang bisa menyembuhkan seseorang dari pusaran energi negatif.

Mungkin, inilah kekuatan sebuah meditasi. Saya memaknai meditasi sebagai proses membangun rumah ketenangan dalam jiwa. Meditasi itu adalah upaya untuk mengistirahatkan pikiran dari berbagai jalinan persoalan yang terus-menerus menguras energi berpikir. Melalui meditasi, seseorang akan menemui kedamaian dan membebaskan dirinya dari sungai-sungai emosi serta hawa nafsu yang sesekali deras dan tak terkendali.

Sungguh ajaib, meditasi ini bisa ditemukan dalam berbagai tradisi agama ataupun spiritualitas. Ketika seseorang berdoa atau bersembahyang, ia sesaat mengistirahatkan seluruh pikiran dan emosinya demi proses penyatuan diri melalui dialog dengan Sang Pencipta. Melalui doa, seseorang menemukan ketenangan, yang amat berguna untuk menyehatkan jiwa. Seusai proses doa, maka batin seseornag akan bercahaya. Ia tiba-tiba saja menemukan ketenangan serta kedamaian dalam membuat pilihan-pilihan di belantara kehidupan. Sungguh amat disayangkan, banyak orang yang berdoa, namun tetap saja dikalahkan oleh hawa nafsunya.

Pesan bijak yang saya dapatkan dari film ini adalah refleksi atau perenungan amatlah berguna untuk mengendalikan hawa nafsu serta emosi seseorang. Ini juga berguna untuk menjaga fokus dan tetap tenang menghadapi berbagai situasi serta membuat pilihan-pilihan hidup.


Seusai menonton film ini, saya terkenang pada seorang profesor yang kemudian memilih karier sebagai petani di satu desa di Athens, Ohio. Ketika saya tanya mengapa ia memilih jadi petani, ia memberikan jawaban yang mengejutkan saya. “Kerja di kampus membuat saya berjarak dari kenyataan. Saya ingin kerja yang bersentuhan dengan alam. Saya ingin memiliki banyak waktu untuk menyapa bumi dan langit. Saya ingin menjadi orang biasa yang punya banyak waktu serta bisa bermeditasi setiap saat.”


Baubau, 20 September 2013

Pilkada, Pil Pahit


ilustrasi

DI tanah Makassar sana, sekelompok orang bersorak-sorai merayakan kemenangan atas pilkada. Di tanah itu pula, ada sekelompok orang yang kemudian terisak karena kekalahan di depan mata. Mungkin seperti itulah lagu kehidupan. Ada sorak-sorai kemenangan, dan ada isak tangis karena kekalahan.

Kekuasaan memang memabukkan. Demi kuasa itu, miliaran, bahkan triliunan uang dihamburkan demi memasuki kancah pertarungan. Politik adalah arena untuk saling menjegal dan saling serang demi kemenangan. Mereka yang masuk ke dalam rimba raya politik adalah mereka yang membangun barisan panjang, dan di situ terdapat semua pasukan yang berjibaku demi kemenangan.

Beberapa tahun silam, saya menulis tentang politik sebagai industri. Hingga hari ini, saya tak pernah berniat untuk merevisi pandangan itu. Yang saya maksudkan dengan industri adalah satu mekanisme atau mata rantai yang melibatkan banyak bagian, dan masing-masing bagian itu saling membutuhkan. Lihat saja mereka yang bertarung di arena pilkada. Mereka di-backup oleh banyak tim, mulai dari tim citra, tim akademis, tim preman, hingga tim pemasang baliho.

Jika anda punya akses pada satu tim sukses, cobalah hitung berapa biaya untuk menggerakkan mesin politik itu. Apakah semiliar? Rasanya, dana semiliar tak cukup untuk pilkada. Apalagi untuk konteks Makassar. Pastilah dana yang dibutuhkan sangat berlipat ganda. Uang menjadi benda wajib yang dikucurkan demi memenangkan kuasa. Politik butuh modal. Minimal untuk memanaskan mesin politik atau mengalirkan energi pada setiap lini agar mesin itu terus bekerja.

Sejak dulu hingga sekarang, saya tak pernah percaya pada proses politik bernama pilkada. Saya juga tak percaya tim sukses. Mereka ibarat para penyabung ayam yang jelang pertandingan sibuk mengelus-elus jagonya. Pilkada menjadi arena game atau permainan menang kalah. Mereka yang menang akan sukses dan memanen rezeki, sedang yang kalah akan menangis terisak ketika membayangkan uang yang terlanjur dibelanjakan.

Yup. Pilkada adalah arena yang bisa ditafsir dari banyak sisi. Bagi rakyat, pilkada adalah ajang yang menawarkan janji surga. Bagi politisi, pilkada adalah awal dari pergeseran kekuatan. Bagi pengusaha, pilkada adalah arena untuk memasang taruhan dan siap-siap memanen keuntungan jika menang. Bagi birokrat, pilkada adalah permulaan dari rasa was-wasa apakah akan digeser ataukah tidak. Bagi preman, pilkada adalah saat tepat memanen duit lewat kerja-kerja intimidasi.

Bagi saya, pilkada adalah pil pahit, sebab untuk kesekian kalinya kita memelihara harapan, sebelum akhirnya dipatah-patahkan oleh para cukong dan pemimpin yang sesumbar dengan keberhasilannya, namun minim pengorbanan bagi masyarakat.(*)

Baubau, 19 September 2013

Lelaki Bersendal Jepit


restoran bernuansa alami

LELAKI itu datang dengan sandal jepit. Ia juga hanya mengenakan pakaian yang tak istimewa. Sepintas, ia seperti jongos atau pelayan. Namun sesungguhnya, ia adalah pemilik beberapa buah villa, restoran dengan konsep alami, serta beberapa resort dan diving center. Ia seorang pria kaya yang penampilannya amat bersahaja.

Jika ia tak memperkenalkan diri, mungkin saya tak mengenalinya. Maklumlah, pertama melihatnya, ia mengendarai sebuah motor bebek bersama istrinya. Kedua kali melihatnya, ia kembali mengendarai motor bebek itu. Saya sempat melihat ponselnya yang seharga sekitar 100 ribu rupiah. Ponsel dan motor itu amat kontras dengan profesi serta kekayaan yang dimilikinya. Apa yang istimewa dari lelaki itu?

Ketika ia mulai bercerita, saya langsung tahu kehebatan pria itu. Gagasan demi gagasan keluar dari kepalanya. Ia tak pernah kehabisan stok ide tentang peluang bisnis serta bagaimana membangun usaha. Ia juga punya segudang misi idealis, seperti membersihkan sampah plastik, membangun rumah amat murah untuk warga tak mampu, serta memperkuat promosi pariwisata.

Dan ia tak sedikitpun menyombongkan diri atas langkah-langkah kecil yang ditempuhnya. Ia meyakini bahwa semua orang bisa melakuannya, sepanjang punya gagasan serta langkah kecil untuk menerapkan gagasan tersebut.

Saat menemuinya, ia berkisah awal mula ketika membangun resort dan banyak villa. Ia tak peduli dengan cap gila yang diberikan orang-orang. Sekali ia meyakini bahwa satu gagasan akan bernyawa, ia akan konsekuen untuk mempertahankan gagasan tersebut.

Sebuah ide memang selalu punya kaki-kaki untuk bergerak. Ketika ia membangun restoran di tengah hutan, ia hanya berniat untuk membangun tempat-tempat yang membiatnya bahagia. Di restoran itu, ia menemukan suasana alami, ketenangan, serta suara-suara alam. Saya tak takin kalau ia mengejar profit atau keuntungan di situ. Yang pasti, ia seorang lelaki yang hobi dengan hal-hal natural serta menemukan bahagia saat memandang semesta dengan pepohonan menghijau.

Dua bulan di kampung kelahiran, saya telah bertemu banyak manusia hebat yang menginspirasi. Banyak di antara mereka yang melakukan ide-ide sederhana, namun memiliki daya pukul yang amat besar. Mereka bukanlah orang terkenal yang selalu wara-wiri di dunia politik atau dunia sosialitas di pulau kecil ini. Mereka adalah orang biasa yang menolak publikasi dan memilih untuk menjadi warga biasa. Akan tetapi, mereka berbuat lebih dari mereka yang diberi amanah oleh rakyat.

Saya bahagia bisa mengenal manusia-manusia hebat yang selalu menolak dibilang hebat.


Baubau, 18 September 2013

Fang Yin yang Meretas Penjara Ingatan


Leony yang berperan sebagai Fang Yin

PEREMPUAN itu tiba-tiba saja dicekam ketakutan. Seluruh tubuhnya sontak gemetaran. Ia menyaksikan lima pemuda yang datang hendak menyakitinya. Perempuan itu lalu mengambil pisau. Diacungkannya pisau itu ke para pemuda itu sambil berteriak, “Awas! Akan kubunuh kalian.” Setelah itu, sang perempuan ambruk dan terkulai dalam pelukan ayahnya. Lima pemuda itu hanya ada dalam mimpi buruk yang hampir setiap malam selalu datang dan menyiksa pikirannya.

Perempuan itu sedang dicekam trauma. Batinnya dipenuhi imaji yang melintas-lintas tentang tragedi dan kesedihan yang mencekamnya. Di tahun 2000-an, di tanah Los Angeles, Amerika Serikat (AS), di tanah yang disebut sebagai tanah para malaikat (city of angel), trauma telah terlanjur memiliki akar yang kokoh dan menghujam sebagai parasit dalam dirinya. Hari-harinya diisi oleh kesedihan yang terus hadir dan membawanya pada situasi yang memilukan.

Kisah perempuan bernama Fang Yin itu saya saksikan dalam film Sapu Tangan Fang Yin karya Hanung Bramantyo dan Denny JA. Film ini diilhami oleh puisi Denny JA yang juga memiliki judul yang sama dengan film. Sebelumnya, kisah Fang Yin pernah pula hadir dalam pementasan teater dan monolog di berbagai kota di Indonesia. Film berdurasi sekitar 45 menit ini ibarat sebuah nyanyi sunyi tentang para korban kekerasan yang jarang diketahui publik. Kisah dalam film ini mengalir apik melalui jalinan narasi yang kuat. Narasi dan gambar adalah dua sisi pedang yang menggores-gores sisi kemanusiaan siapapun yang menyaksikannya.

Di tahun 1998, perempuan itu adalah satu dari sekian banyak perempuan keturunan Tionghoa yang diperkosa. Di masa itu, kekerasan dan diskriminasi ibarat udara yang hadir di mana-mana. Masyarakat turun ke jalan-jalan demi menjarah dan membakar rumah-rumah warga yang perekonomiannya mapan. Entah siapa yang memberi komando, masyarakat menjadi demikian beringas dan menebar ketakutan di kalangan warga minoritas.

Di masa itu, Indonesia ibarat bara yang terus-menerus dibakar oleh kemarahan. Indonesia adalah menjadi tanah yang menebar horor dan mimpi buruk bagi banyak orang, termasuk Fang Yin. Tragedi perkosaan yang menimpa Fan Yin menjadi satu titik curam bagi garis kehidupannya yang sebelumnya penuh cita-cita dan obsesi. Ia kehilangan segalanya. Ia kehilangan energi hidup dan secara perlahan-lahan kehilangan semua harapan. Ia lalu mengikuti ayahnya serta ratusan warga lain yang memilih pindah ke Amerika dan negeri-negeri lain demi sekadar menemukan rasa aman.


Trauma ibarat penjara ingatan yang menghujam dalam benak seorang korban. Beberapa tahun silam, saya juga menyaksikan trauma yang sedemikian kuat menyakiti beberapa masyarakat di Pulau Buton yang dahulu mendapatkan stigma sebagai anggota komunis.  Korban-korban komunis yang saya temui itu adalah mereka yang terus-menerus berusaha untuk melawan semua ingatan kelam yang dibawa-bawa sejak puluhan tahun silam. Mereka masih memendam duka, serta kegeraman atas nasib buruk yang ditimpakan negara kepada mereka. Mereka dihantui trauma tentang keluarganya yang tewas, hilangnya segala hak milik, serta hilangnya akses mereka di ruang publik.

Kisah Fang Yin dalam film ini adalah kisah tentang bagaimana mengatasi trauma yang terlanjur menjadi duri dalam daging. Dalam kisah-kisah seperti ini, senantiasa terselip demikian banyak pertanyaan, khususnya gugatan pada sistem sosial dan sistem hukum Indonesia yang sering diskriminatif dan tak berlaku adil.

Sejak bangsa ini merdeka, kita sering menyaksikan dua jenis kekerasan yakni kekerasan yang dilakukan masyarakat atas nama mayoritas, dan kekerasan yang dilakukan negara pada rakyatnya sendiri. Atas nama mayoritas, diskriminasi terus terjadi dan menimpa mereka yang minoritas. Kasus yang dialami jemaah syi’ah di Sampang, pengikut Ahmadiyah, serta jemaat GK Yasmin di Bogor adalah potret buram tentang gagalnya masyarakat kita merawat keragaman dan menganyam solidaritas sosial. Kekerasan negara terjadi ketika negara, yang memiliki instrumen kuasa, justru membiarkan segala kekerasan yang terjadi di depan mata.

Film ini adalah sebuah gugatan pada sistem sosial dan sistem politik Indonesia yang sering tak berlaku adil. Film ini bisa menjadi gerbang untuk mengetahui sejarah sosial dan sejarah politik Indonesia pada masa-masa jelang reformasi, sebuah masa yang kemudian menjadi titik balik sejarah. Film ini juga merupakan sebuah upaya untuk menolak lupa pada banyak praktik kekerasan dan diskriminasi yang terjadi di masyarakat kita.

Banyaknya kekerasan dan kepedihan tidak harus diuapkan begitu saja ke udara. Sebagai warga, kita mesti mencatat dan menolak untuk lupa, dengan harapan agar peristiwa yang sama tidak terjadi lagi di masa depan. Dengan cara mengingat, maka peristiwa ini akan terus terekam dalam ingatan publik sehingga menjadi alarm agar masyarakat tidak mengulangi hal yang sama di masa mendatang.

Makna Indonesia

Satu hal yang saya rasakan janggal dari film ini adalah bagian akhir atau penyelesaian yang datar. Fang Yin merenungi tentang makna Indonesia, berdiskusi dengan psikolog, serta mendengar kalimat ayahnya yang berulang-ulang tentang Indonesia. Ia lalu menutuskan untuk kembali ke tanah air. Prosesnya agak simpel dibandingkan dengan kenyataan yang saya lihat di lapangan.

Olyvia Zalianty berperan sebagai Fang Yin dalam pementasan teater

Proses meretas penjara-penjara ingatan itu tidaklah mudah. Korban-korban kekerasan senantiasa membutuhkan sebuah kanal atau saluran untuk melepas semua trauma tersebut. Korban komunis di Pulau Buton melepaskan trauma dalam kisah-kisah tentang nasib nahas penyiksa. Para korban menemukan keadilan dalam kisah, yang mirip dengan ajaran tentang karma; bahwa siapapun yang berbuat kekerasan, pasti akan menuai bala atau bencana.

Demikian pula dengan korban kekerasan di belahan bumi lain. Di Thailand, para korban kekerasan membuat pementasan teater yang skenarionya dibuat para korban, dan merupakan suara mereka atas tragedi tersebut. Di Colombia, korban kekerasan membuat boneka-boneka, dan menjadikannya sebagai medium untuk pementasan cerita.

Di film ini, Fang Yin melepaskan traumanya dengan cara membakar sapu tangan, yang menyimpan air mata serta kesedihannya selama ini. Ketika membakar sapu tangan itu, ia memutuskan untuk berdamai dengan masa silam, sekaligus membuka lembaran baru. Hanya saja, ini tak cukup. Semua kelompok sosial mesti menekan pemerintah agar menyelesaikan berbagai kasus kekerasan sehingga trauma korban benar-benar pulih. Hukum dan keadilan yang tegak adalah kunci utama untuk membangun rekonsiliasi dengan masa silam, sekaligus menyelamatkan masa depan.

Lantas, apa makna keindonesiaan bagi Fang Yin? Pertanyaan itu mencuat di awal film. Hingga akhir, tak ada jawaban tegas tentang makna Indonesia baginya. Akan tetapi, saya menemukan jawabannya dalam satu adegan yang sangat kuat, ketika Fang Yin menyalakan lilin demi mengusir gelap.

sungguh menyenangkan jika semua orang bisa tersenyum sebagaimana anak ini

Saya mendapat isyarat kuat bahwa keindonesiaan adalah proses yang harus dilakukan untuk menyingkirkan semua gelap demi menghadirkan cahaya terang. Indonesia adalah proses atau gerak untuk terus mendekati cahaya. Indonesia adalah negeri yang terang benderang, negeri yang lepas dari gelapnya masa silam yang penuh kekerasan dan diskriminasi. Indonesia adalah negeri yang menjadi rumah nyaman bagi siapa saja, tak peduli apapun agamanya, ras, etnis, serta keyakinan. Indonesia adalah sebuah cahaya lilin, yang meskipun redup, sanggup untuk mengalahkan semua gelap dan menghadirkan rasa aman dan rasa adil bagi siapapun.(*)


Baubau, 18 September 2013

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...