Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Undangan Eksklusif dari Kompasiana



KOMPASIANA, situs jurnalis warga terbesar di tanah air, mengundang saya untuk menjadi penulis eksklusif. Mereka ingin saya menulis tema-tema spesifik sebagaimana yang mereka inginkan. Kemarin, saya diminta menulis kisah inspirasi tentang penderita narkoba. Atas ajakan itu, saya menerimanya dengan senang hati.

Kompasiana adalah tempat belajar paling baik dalam hal menulis. Dengan pembaca hingga ribuan orang dalam sehari, kita bisa belajar banyak dari berbagai tanggapan serta komentar orang atas tulisan kita. Saya menyenangi aspek interaktif di Kompasiana. Ada dialog, persahabatan, pertautan emosi, serta pertemuan yang bermakna. Makanya, ketika saya diminta jadi penulis eksklusif, saya menyambutnya dengan gembira.

Lebih menggembirakan lagi, ketika mengetahui bahwa pihak Kompasiana menyediakan honor yang cukup besar untuk satu tulisan. Padahal, tulisan yang diminta hanya sekitar 5.000 karakter. Saya tak menghabiskan banyak energi untuk tuisan itu. Saya cukup duduk selama beberapa saat demi melahirkan tulisan. Honornya masih lebih besar daripada mengedit sebuah buku.

Jika dibandingkan, honor menulis di Kompasiana adalah dua kali lipat honor mengedit buku di sebuah penerbit besar. Padahal, di Kompasiana, saya hanya duduk selama dua jam di depan laptop, sementara mengedit buku, saya butuh sekitar tiga hari untuk memeriksa setiap kata sebanyak 164 halaman.

Selalu saja ada momen untuk berucap syukur pada Yang Kuasa.


Melihat Ijazah, Melihat Diri



SETELAH menunggu selama lebih kurang dua bulan, akhirnya ijazah itu datang juga. Ijazah itu telah menempuh perjalanan yang amat jauh, telah melintasi benua, hingga akhirnya tiba di tanganku. Ketika menggenggamnya, aku tiba-tiba saja membayangkan kerja keras ketika tiba di Amerika, semua kesulitan yang pernah dihadapi, serta kebahagiaan ketika berhasil melalui semua tantangan. Ijazah ini adalah bukti kerja keras demi menghadapi tantangan.

Banyak orang yang mengira bahwa studi di luar negeri ibarat sedang melancong ke negeri lain. Banyak yang menyangka bahwa para mahasiswa di luar negeri adalah para pencari kerja sampingan demi untuk menambah jumlah pundi-pundi uang ketika kembali. Banyak yang berpikir bahwa aku akan kaya-raya ketika kembali dari luar negeri.

Semuanya adalah keliru. Para mahasiswa di luar negeri sama halnya dengan mahasiswa di dalam negeri. Aku menjalani hidup pas-pasan, tak punya banyak waktu jalan-jalan sebab mesti mengirit keuangan demi mencukupi kebutuhan keluarga, serta menjalani hari dengan tugas-tugas perkuliahan. Kampus-kampus di Amerika menempa mahasiswanya dengan keras. Para dosen memperbanyak bacaan, kemudian berdiskusi, hingga akhirnya para mahasiswa diajak untuk membuka wawasan dan melihat banyak hal.


Tadinya aku serba khawatir. Meskipun hari-hariku selalu bergegas, pada akhirnya aku bisa melalui semuanya. Dua tahun di luar negeri adalah waktu yang cukup singkat untuk menjalani perkuliahan, demi membawa pulang simbol keberhasilan di situ. Dan pada akhirnya, aku berhasil melalui semua tantangan yang paling berat.

Ibarat mendaki gunung, aku akhirnya sukses mencapai puncak. Saat tiba di puncak, aku akhirnya menyadari bahwa akan selalu ada puncak lain yang mesti didaki. Hidup adalah perpindahan dari satu masalah ke masalah yang lain. Tak penting seberapa banyak puncak yang telah didaki. Yang jauh lebih penting adalah pada setiap jalan menuju puncak, kita belajar banyak hal yang kemudian memperkaya rasa kemanusiaan serta mengasah nurani. Pada titik ini kita menemukan bahagia menjalani semua proses dan melalui rintangan.(*)


Baubau, 29 Juli 2013

Kisah Matahari, Bumi, dan Udara


Ara dan Dwi

Lima hari mendatang adalah hari paling penting buatku. Tanggal 2 Agustus mendatang, istriku Dwi dan anakku Ara akan sama-sama berulang tahun. Jika Dwi akan merayakan hari lahir yang ke-27, maka Ara akan berulangtahun ke-2. Hingga kini, aku tak pernah bisa menjawab fakta ajaib bahwa mereka punya tanggal lahir yang sama.

Andaikan Ara lahir melalui operasi Caesar, maka boleh jadi, tanggal kelahirannya telah diatur sedemikian rupa. Akan tetapi, Ara lahir melalui persalinan normal. Lantas mengapa tanggal lahirnya bisa sama? Aku hanya punya satu jawaban. Bahwa Tuhan sengaja menitipkan sesuatu ajaib untuk selalu kurenungi bahwa seorang ibu dan seorang anak adalah kesatuan yang mustahil terpisahkan.

Anakku pernah tinggal dalam rahim ibunya. Ia mendapatkan kehidupan melalui ibunya. Ia tumbuh sebagai bagian tubuh ibunya yang kemudian lahir dan dewasa seiring dengan kehidupan yang terus dikucurkan ibunya melalui air susu ibu. Mereka adalah satu jiwa yang terpisah dalam dua tubuh. Mereka memiliki ikatan abadi yang mustahil diputuskan oleh apapun.

Keduanya ibarat matahari dan bumi yang saling menguatkan. Matahari memberikan sinar, dan tak pernah meminta balasan. Sedangkan bumi selalu menumbuhkan pohon-pohon dan keindahan sebagai tanda cinta kepada matahari. Keduanya saling memberi, saling memperkaya, saling menjagai hingga kelak waktu memisahkannya. Istriku adalah matahari, dan anakku adalah bumi.

Diriku? Aku tak sekuat matahari. Aku juga tak setabah bumi. Jika bisa memilih, aku ingin menjadi udara yang tinggal di tengah serta selalu memberikan napas bagi keduanya. Aku ingin menjadi udara yang juga memberikan kehidupan, namun tak pernah mau menampakkan diri. Aku memilih untuk melakukan sesuatu dalam diam, kemudian lenyap, dan menjadi saksi atas matahari dan bumi yang selalu berkasih-kasihan.(*)


Baubau, 28 Juli 2013

Nikmat Bertemu Caleg


ilustrasi

DUA bulan ini, saya selalu ingin berdekatan dengan politisi. Jelang pemilihan legislatif setahun mendatang, para politisi itu sibuk menebar senyum di sana-sini. Mereka berbaik-baik pada semua orang sebab masing-masing orang memiliki potensi untuk memilihnya kelak. Dan saya merasa diuntungkan dengan aksi tebar pesona itu.

*** 
 
Sudah beberapa hari ini saya selalu membeli ikan bakar di tempat langganan saya di Pos Dua, Jalan Erlangga. Saya merasa bebas memilih berbagai jenis ikan laut seperti baronang, kakap, ataupun jenis ikan tuna. Di sini, pembeli bebas menunjuk ikan apapun. Sang penjual lalu membakarkan, kemudian terjadilah transaksi. Setelah itu pulang dan menikmatinya dengan sambal goreng.

Anehnya, setiap kali ke situ, saya selalu bertemu dengan para politisi yang mendaftar sebagai caleg. Biasanya, kami akan ngobrol singkat tentang berbagai hal. Setelah ngobrol, saya lalu duduk-duduk atau sibuk memperhatikan kesibukan penjual. Umumnya, ketika hendak membayar, penjual ikan bakar berkata bahwa semua belanjaan saya telah dibayar oleh pria yang duduk di sudut sana. Ternyata sang caleg itu telah membayarnya. Asyik.

Beberapa kali saya mendapat pengalaman seperti itu. Para caleg selalu membayarkannya. Mungkin mereka berpikir bahwa kelak saya akan memilihnya. Mungkin pula karena saya selalu memesan jenis ikan yang tak seberapa mahal. Entahlah.

Karena keseringan, akhirnya suatu hari, saya berpikir untuk memesan ikan yang lebih mahal. Pasti akan dibayar oleh caleg, demikian pikir saya. Kemarin, saya pun datang ke tempat penjualan ikan bakar. Saya langsung memilih jenis-jenis ikan yang mahal. Mudah-mudahan sang caleg akan datang. Setelah menunggu sampai beberapa belas menit, sang caleg tak datang-datang, sementara pesanan sudah harus dibayar. Yah, apa boleh buat. Dengan sangat terpaksa saya membayarnya sendiri. Hiks.

Nampaknya, mesti ada alat atau detektor yang menginformasikan posisi para caleg biar saya bisa datang tepat pada waktunya, biar saya selalu dapat ikan bakar gratis. Biar kehidupan saya sejahtera sebagaimana janji mereka, biar saya selalu merasakan makanan yang amat nikmat karena gratis. Yang pasti, saya tak mau menjauhi caleg, sebagaimana beberapa orang di kampung ini. Saya ingin mendekati mereka. Siapa tahu bisa selalu dapat ikan bakar secara gratis. Hahaha....


Baubau, 27 Juli 2013

Nasionalisme Amerika dalam Film Superman (1)


poter film Man of Steel

SAYA agak terlambat menonton film Man of Steel. Sebagai pencinta Superman, yang dahulu mengoleksi beberapa komiknya, saya jelas merasa sangat ketinggalan karena baru menyaksikan film ini. Di banding film sebelumnya yakni Superman Returns, film The Man of Steel jelas lebih baik dari sisi cerita maupun special effects.

Dikarenakan telah banyak yang meresensi film ini, saya akan melihat satu gagasan yang selalu ditemukan dalam semua film Superman yakni nasionalisme Amerika. Yup. Kita bisa menemukan tema-tema nasionalisme ini dalam semua versi komik, serta film Superman. Dalam Man of Steel, nasionalisme itu nampak pada upaya Superman untuk melawan para alien yang hendak menghancurkan Amerika.

Di banding semua superhero lain, Superman adalah idola saya. Ia tak pernah nampak membunuh lawannya. Bahkan pencuri kelas kambing pun tak dibunuhnya. Ia selalu menyerahkannya pada polisi. Ia seorang rendah hati dan siap menolong. Bahkan ia siap membantu seorang nenek yang kucingnya naik ke pohon dan tak bisa turun.

Beberapa bulan lalu, saya membaca sebuah buku berjudul Superheroes, The Best of Philosophy and Pop Culture yang dieditori William Irwin dan diterbitkan dalam seri The Blackwell Philosophy and Pop Culture. Dalam buku ini, ada artikel menarik berjudul Is Superman An American Icon?. Saya menemukan tiga relasi antara Superman dan Amerika Serikat yakni (1) apa yang disebut ‘American way’, (2) patriotisme, dan (3) kosmopolitanisme.

Clark Kent dan ibunya Martha Kent dalam Man of Steel

Semua orang tahu bahwa nama asli Superman adalah Kal El. Ia adalah putra Jor El dan Lara, dua sosok yang hidup di Planet Krypton. Ia kemudian dibesarkan oleh dua petani gandum di Kansas yakni Jonathan dan Martha Kent. Ia mendapatkan nama Clark Kent. Setelah besar, Kal El kemampuan supernya akan berlipat ganda saat disinari matahari.

Sebagai Clark, ia seperti manusia lainnya yang nampak lemah, dan mengenakan kaca mata. Meskipun menjadi pahlawan bumi saat berkostum Superman, Clark adalah seorang pekerja biasa yang rajin membayar pajak pada pemerintah Amerika. Ia juga selalu memperbaharui driving license (di Indonesia disebut SIM) secara rutin di Metropolis. Ia pun menikah dengan jurnalis Lois Lane.

Hal paling penting adalah Clark memiliki kewarganegaraan Amerika sejak kecil. Meskipun akte kelahirannya telah hancur di Krypton, ia diakui sebagai warga negara sejak masih kecil di Smallville, Kansas. Dengan semua fakta-fakta ini, bukankah ia adalah simbol Amerika?

Selama beberapa dekade sejak komiknya terbit, Superman dilihat sebagai superhero yang berbeda. Ia bertarung untuk membela nilai-nilai kebenaran (truth), keadilan (justice), dan American way. Sejak tahun 1942, pada saat Amerika berada dalam Perang Dunia kedua, frase ‘The American Way’ telah diperkenalkan ke publik, namun tidak seberapa populer. Akan tetapi frase ini mulai terkenal ketika muncul dalam pertunjukan televisi Superman yang menampilkan aktor George Reeves.

Frase ‘The American Way’ sangat populer pada masa perang dingin (cold war). Istilah ini adalah berkebalikan dengan istilah-istilah yang diproduksi oleh rezim komunisme khas Uni Soviet. Pada tahun 1955, pemikir konservatif Will Herberg mengemukakan pernyataan:

“The American Way of life is individualistic, dynamic, and pragmatic. It affirms the supreme value and dignity of the individual..... The American believes in progress, in self-improvement, and quite fanatically in education. But above all, the American is idealistic.”

“Cara hidup Amerika adalah individualistik, dinamis, dan pragmatis. Cara hidup ini menekankan pada nilai dan kebanggan seorang individu. Seorang Amerika percaya bahwa kemajuan, perbaikan diri, dan fanatik pada pentingnya pendidikan. Di atas semuanya, seorang Amerika adalah seorang yang idealis.”

Pengertian ini menekankan pada hal-hal yang baik saja. Yang menarik, dalam satu terbitan Action Comics edisi #900, Superman menjelaskan tentang apa makna American Way baginya. Dikisahkan, setelah mengalahkan seorang musuh yang hendak menghancurkan Las Vegas, seorang jurnalis Jimmy Olsen (semua penggemar Superman pasti tahu karakter ini) memotret Superman lalu mewawancarainya. Superman berkata:

“That’s what America is about, really. That’s the American way. Life, liberty, the pursuit of happiness –and second chances. None of us are forced to be anything we don’t want to be.. People from all over America – from all over the world – who went to the city to the lives they wanted, to be the people they wanted to be. That’s the idea that America was founded on, but it’s not just for people born here. It’s for everyone.”

“Demikianlah pengertian Amerika. Itulah American way. Hidup, kebebasan, dan menggapai kebahagiaan, juga kesempatan kedua. Tak satupun dari kita yang dipaksa untuk menjadi apapun yang tak diinginkan. Semua orang dari seluruh Amerika – serta dari seluruh dunia—datang ke kota untuk hidup yang mereka inginkan, untuk menjadi orang-orang yang mereka inginkan. Inilah gagasan tentang Amerika, tidak hanya untuk orang yang lahir di sini, tapi juga untuk semua orang.”

Pernyataan ini muncul ketika ia ditanya tentang status kewarganegaraannya. Ia menunjukkan bahwa nilai-nilai Amerika tak hanya terbatas di Amerika, namun juga melingkupi seluruh dunia. Ia mengemukakan sesuatu yang universal dan tak ingin terbatasi oleh satu kewarganegaraan.



Namun, bagaimanakah menjelaskan tentang kaitan Superman dengan patriotisme Amerika? Bebebrapa pengkritik menyebut karakter Superman adalah propaganda nasionalisme. Apakah ini benar? Bagaimanakah halnya jika ini dikaitkan dengan pernyataan filosof Alasdair MacIntyre bahwa patriotisme adalah komitmen non-rasional pada satu negara?

Kita akan bahas aspek patriotisme dan kosmopolitanisme Superman pada kesempatan lain.

Perginya Sebuah Galaxy Tab


 
DUA bulan lalu, saya mendapatkan sebuah Galaxy Tab sebagai hadiah atas lomba menulis blog yang diadakan Oxfam. Selama dua bulan saya menggunakannya, sebelum akhirnya saya mengambil putusan untuk menjualnya. Alasan menjualnya sederhana, sebab saya jarang memakainya. Sebelum mendapatkan Galaxy Tab, saya telah memiliki Kindle Fire yang dibesut Amazon.

Dari sisi spesifikasi dan kecanggihan, Kindle jelas kalah dengan Galaxy yang dikeluarkan Samsung. Akan tetapi, Kindle memiliki sejarah serta menyimpan koleksi berbagai buku yang saya bawa dari luar negeri. Selama dua tahun di luar negeri, saya sering membeli buku dalam format kindle dari Amazon. Saya juga terbiasa membaca buku dalam format kindle sebab ada aplikasi khusus untuk mengecek semua makna kata dalam bahasa Inggris.

Apa boleh buat, Kindle itu lebih berharga buat saya ketimbang Galaxy Tab. Dengan sangat terpaksa, saya mengikhlaskan Galaxy Tab menemukan takdirnya dengan cara dilepas ke orang lain. Semoga ia lebih bermakna dan bermanfaat di tangan orang lain.

Selamat jalan Galaxy Tab.

Senyum Getir di Panti Asuhan Sorawolio


seorang anak di Panti Asuhan

DAHULU, di daerah ini hanya ada satu panti asuhan. Kini, sudah ada beberapa panti asuhan yang semakin banyak menampung anak-anak yatim piatu. Saya selalu bertanya dalam hati, apakah ini pertanda lemahnya kesetiakawanan warga kampung sehingga seorang anak dititipkan ke panti? Ataukah ini juga cerminan dari semakin tingginya tingkat kemiskinan sehingga jumlah panti asuhan bertambah?

***

ANAK kecil itu beberapa kali tersenyum saat melihat kamera. Di saat teman-temannya menghindar untuk disorot kamera, anak itu malah menghadap kamera. Rona keceriaan tak pernah lepas dari wajahnya. Ia tertawa gembira ketika melihat wajahnya di layar kamera. Tanpa canggung, ia datang melihat hasil jepretan saya di tempat itu.

Saya bertemu anak itu di Panti Asuhan Madin Al Ikhlas di Sorawolio, Baubau. Ia adalah satu dari sekitar 40 anak yatim piatu yang tinggal di panti tersebut. Saya datang bersama sahabat-sahabat yang tergabung di Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Baubau. Kami mengadakan sosialisasi internet sehat, sekaligus berbagi pengalaman dengan anak-anak panti asuhan.

Anak kecil itu tak menjawab ketika saya sapa. Ia hanya cengengesan kemudian melenggang pergi. Menurut salah seorang ustad yang duduk tak jauh dari situ, anak itu berasal dari Wawonii, sebuah tempat yang cukup jauh. Seseorang datang menitipkannya ke situ dengan harapan agar anak itu bisa bersekolah. Sayangnya, di panti asuhan itu hanya ada pendidikan di level madrasah ibtidaiyah atau sekolah dasar.

Panti asuhan ini baru berusia sekitar setahun. Panti ini terletak tak jauh dari kota Baubau. Saya berkendara sekitar setengah jam, dan sebelumnya sempat nyasar ke dua panti asuhan lainnya. Perjalanan menuju panti ini membuat saya paham bahwa di kampung kami, telah berdiri beberapa panti asuhan. Jika satu panti menampung 40 anak, maka ada sekitar 250 orang anak yang ditampung di Panti Asuhan.

Saya melihat bahwa rata-rata anak yang tinggal di situ berusia antara lima hingga 14 tahun. Saya tiba-tiba saja membayangkan, ketika mereka lulus sekolah dasar, apakah panti asuhan itu kelak akan membangun pendidikan untuk sekolah lanjutan? Nampaknya tidak. Kemungkinan besar, anak-anak itu mesti berusaha sendiri untuk lanjut sekolah.

Pendidikan adalah senjata yang amat perkasa untuk melakukan perubahan sosial. Demikian kata Nelson Mandela, sang pemimpin Afrika Selatan. Siapa sangka jika kalimat itu sangat tepat untuk menjelaskan visi lelaki bernama Jamali. Meski pendidikannya tak sampai level doktor, ia tetap berniat untuk membangun sekolah sekaligus Panti Asuhan ini.

Seorang ustad di Panti Asuhan itu menuturkan bahwa Jamali menyadari benar pentingnya pendidikan. Pria asal Siompu, pulau kecil di dekat Pulau Buton, mendirikan panti asuhan sekaligus tempat belajar bagi anak-anak yang tidak mampu. Ia menimba pengalaman di Pesantren Hidayatullah, Baubau, yang kemudian memberikan inspirasi baginya untuk membangun sekolah. Sayangnya, kemampuan panti asuan ini hanya menyediakan pendidikan di level sekolah dasar.

“Tadinya kami ingin membangun pesantren. Akan tetapi, sumberdaya di sini sangat terbatas. Kami tak punya banyak ustad. Kami hanya mampu mendirikan Madrasah Diniyah. Untuk sekolah lanjutan, kami belum ada rencana,“ kata ustad yang menolak menyebutkan nama.
“Lantas, bagaimana jika anak-anak itu hendak lanjut sekolah?” saya lanjut bertanya.
“Kami belum memikirkan ketika anak-anak ini lulus,”

Saya tak hendak banyak bertanya. Kondisi Panti Asuhan itu masih amat sederhana dengan anggaran yang sangat minim. Saya melihat bilik-bilik ruangan yang terbuat dari papan serta rapuh. Satu-satunya bangunan tembok di panti asuhan itu adalah masjid. Seorang donatur di Kendari membangun masjid yang agak besar demi menyaingi sebuah gereja yang berdiri kokoh di seberang jalan. Mungkin, sebagai penghormatan pada donatur, nama sang donatur diabadikan sebagai nama masjid yakni Al Yusran (kok sama dengan nama saya yaa). Entah, apakah itu sebuah penghrmatan, ataukah permintaan sang donatur.

plang Panti Asuhan
relawan TIK bersama anak Panti Asuhan (foto: La Ode Syahiddin)

Ketika melihat langsung kehidupan di panti, ada banyak hal lain yang mengganjal di benak saya. Daerah ini bukanlah sebuah kota besar yang kompleks dengan berbagai permasalahan sosial. Ini hanyalah daerah kecil yang sedang tumbuh menjadi sebuah kota. Buhul dan ikatan kekerabatan sosial serta kesetiakawanan masih amat kuat di masyarakat.

Satu hal yang sebelumya tak saya duga, kemiskinan laksana jamur yang tumbuh dan menyebar ke mana-mana. Banyak keluarga yang tak mampu menyekolahkan anaknya. Banyak yang kemudian tak mampu sekadar untuk mencari sesuap nasi. Maka, Panti Asuhan menjadi satu oase bagi anak-anak yang tak mampu.

Saya juga memikirkan kesetiakawanan sosial yang rapuh. Saya teringat saat ikut dalam tim riset tentang panti jompo di Sulawesi Selatan. Mayoritas masyarakat merasa sangat keberatan jika menitipkan orangtuanya ke Panti Jompo. Anak yang melakukan itu akan dianggap anak yang durhaka. Sama halnya dengan Panti Asuhan.

Dahulu, seorang anak adalah milik komunitas. Ketika ada anak yang orangtuanya meninggal, maka keluarga anak itu akan mengambilalih pengasuhan. Anak itu akan tinggal bersama kerabatnya yang lain, dan menerima fasilitas yang sama dengan anak kerabat itu. Inlah kekuatan jaringan sosial dan kekerabatan di kampung-kampung.

Jika hari ini banyak anak yang dititipkan di panti asuhan, maka boleh jadi, nilai-nilai sosial telah bergeser. Kita bisa pula berkesimpulan bahwa kemiskinan menjadi biang keladi yang kemudian membuat satu keluarga secara sukarela menitipkan pengasuhan anaknya ke sebuah Panti Asuhan.

“Om! Ayo foto lagi,” tiba-tiba anak yang tadi datang dan menyapa. Ia kini tak lagi canggung. Setelah memotret beberapa kali, saya memperlihatkan gambarnya. Ia kembali tersenyum-senyum lalu tertawa gembira. Saat itu saya lalu bertanya, “Kalau besar mau jadi apa?”

Tadinya saya pikir anak itu akan menjawab mau jadi dokter atau pilot, sebagaimana jawaban standar yang diberikan anak kecil ketika ditanya cita-cita. Ternyata, anak itu sempat tersenyum getir, kemudian terdiam lalu menundukkan kepala. Mungkin awalnya ia hendak menjawab dokter atau pilot, akan tetapi mulutnya tiba-tiba terkunci saat menyadari keadaannya. Mungkin pula ia tak tahu hendak menjawab apa, sebab cita-cita hanya milik segelintir anak yang orangtuanya dari kalangan keluarga mampu.

Tiba-tiba saya merasa bersalah karena menanyakan itu.


Baubau, 26 Juli 2013

Pengalaman Jadi Editor Buku Jusuf Kalla


Jusuf Kalla

MESKIPUN bukan editor profesional, saya diminta oleh sebuah penerbit besar di tanah air untuk mengedit catatan-catatan mantan Wapres Jusuf Kalla. Selama beberapa hari pula, saya membaca semua catatan, memberikan koreksi editorial, serta masukan-masukan yang sekiranya bisa membuat tulisan-tulisan itu renyah dan enak dibaca. Yah, lumayanlah untuk menambah biaya bulanan.

Saya berusaha untuk mengemasnya sebaik mungkin. Rencananya, buku itu adakan diterbitkan dengan judul “JK Inspiring.” Buku itu berisikan catatan harian Pak JK, baik ditulis sewaktu beliau menjabat sebagai wapres, maupun sesudahnya. Catatannya sangat menarik sebab ditulis dengan gaya khas Pak JK yang lugas dan jujur. Saya suka catatannya yang membahas bagaimana dinamika di istana, serta situasi ketika ia memilih kebijakan yang tidak populer. Ia menjelaskan alasan rasional di balik setiap kebijakan, sesuatu yang sangat berharga bagi siapapun yang tertarik mengkaji dinamika politik.

Saya juga menyukai catatannya tentang pengalamannya selama menjadi mahasiswa, serta saat-saat memulai bisnis. Saya melihat bahwa semua lini kehidupan dan pengalaman ibarat kuas yang kemudian menentukan warna pemikirannya. Pada satu bagian ia bercerita tentang ayahnya yang berpikir praktis. Ia mengakui dengan jujur bahwa logika berpikir ayahnya yang simpel namun praktis itulah yang kemudian mempengaruhi pemikirannya ketika menjadi menteri ataupun wakil presiden.

Selama mengedit, saya teringat pada sejarawan William Frederick. Ketika belajar di kelasnya, ia senantiasa mengajarkan betapa pentingnya mempelajari latar belakang serta pengalaman personal satu tokoh sejarah. Ia beberapa kali mengulangi penjelasan bahwa di balik setiap gagasan yang kemudian mengubah sejarah, terselip kisah-kisah tentang individu yang selalu dipengaruhi oleh konteks an latar pengalaman. Sejarawan yang baik mesti memahami dengan baik interaksi bolak-balik antara agency dan struktur untuk menjelaskan sejarah.

Lagi-lagi saya bukan sejarawan. Saya hanya belajar beberapa metode untuk memahami gejala sosial. Yang pasti, siapapun yang kelak mengkaji Jusuf Kalla sebagai wapres dan tokoh penting atas berbagai solusi perdamaian di tanah air, mesti membaca catatan-catatan hariannya. Sebagai editor, saya beberapa kali tersadar bahwa banyak kejadian besar di tanah air yang dimulai dari pemikiran sederhana dan praktis seorang JK. Tak percaya? Baca buku ini.

Pengalaman mengedit catatan itu membuat saya semakin mengenal sosok JK. Saya yakin, jika beliau diberi kesempatan untuk memimpin bangsa ini, mungkin bangsa ini akan lebih mandiri, percaya pada kekuatan sendiri, serta bisa lebih melejit. Kekuatan utama JK adalah kemampuan menemukan solusi yang sifatnya praktis serta cepat dalam menyelesaikan persoalan bangsa.

Namun, mesti dicatat bahwa ada pemikirannya yang saya tidak sepakati. Saya tak sepakat dengan gagasannya yang menilai hal-hal menyangkut adat dan tradisi adalah sesuatu yang mundur ke belakang. Bagi saya, pemikiran ini terlampau modernis, terlampau progresif, dan bisa menyebabkan kita kehilangan akar dan jati diri bangsa.

Saya juga tak setuju dengan gagasannya ketika menyuruh orang Papua untuk belajar pada orang Bugis. Ia melihat bahwa keterbelakangan masyarakat Papua adalah disebabkan tak adanya kebutuhan untuk kaya, sesuatu yang amat berbeda dengan orang Bugis. Saya merasa bahwa pandangannya tidak didasari oleh pandangan yang komprehensif atas pandangan dunia, filosofi, serta konteks orang Papua.

Terlepas dari itu semua, saya merasa terhormat bisa menjadi editor atas buku yang ditulis seorang mantan wapres. Saya membayangkan jika semua pejabat publik seproduktif JK dalam menyusun catatan, maka kita bisa menyibak secara perlahan-lahan semua kabut yang selama ini menghalangi pandangan kita atas dunia politik di tanah air. Kita kemudian bisa memahami bahwa mereka yang di panggung politik adalah manusia biasa yang sedang berusaha mengatur kemudi bangsa ini ke arah yang diinginkan. Kita akhirnya sadar bahwa para politisi kita berada di bawah banyak tekanan serta pengharapan yang sering serupa ranjau dan mengharuskan mereka untuk hati-hati.

Dan kelak sejarah hanya akan mencatat mereka yang menjaga hati dan menjaga agar senyum tetap mengembang di wajah orang lain.


Baubau, 25 Juli 2013

Tagihan dari Google



DUA hari lalu, sebuah tagihan masuk ke emailku. Pihak Google menagih 10 dollar AS sebagai biaya perpanjangan domain www.timur-angin.com hingga tahun depan. Pada email itu tertulis bahwa jika saya tak membayar hingga tanggal 7 Agustus, maka blog ini terancam akan dihapus, dan semua tulisan akan lenyap. Ini ancaman yang sempat membuat saya panik.

Masalahnya, saldo rekening saya di salah satu bank Amerika telah dikosongkan. Terpaksa, saya kembali mengisinya agar bisa digunakan untuk transaksi. Terus terang, saya sangat khawatir kalau tulisan di sini lenyap. Saya memperlakukan semua tulisan di sini sebagai anak kandung yang dilahirkan pada satu konteks tertentu. Tulisan di sini adalah saksi ke mana langkah kaki saya bergerak, serta ke mana pikiran saya mengembara.

“Ancaman” dari pihak Google membuat saya kembali merasakan betapa berharganya semua catatan di sini. Saya mesti membuat sistem backup agar tulisan-tulisan di sini tidak hilang. Ada banyak tulisan berharga yang ditulis sebagai refleksi atas semua peristiwa dan pengalaman. Saya mesti menjaganya, sebab tulisan-tulisan itu sangat layak untuk diterbitkan.

Saya tak sedang memuji diri sendiri. Sudah dua penerbit besar tanah air yang meminta catatan-catatan di sini untuk diterbitkan. Namun saya terlanjur mengikat kontrak dengan satu penerbit. Ini adalah pertanda bahwa tulisan di sini mendapatkan apresiasi dari orang lain serta memiliki potensi untuk menyapa pembaca lebih banyak. Tentunya, saya senang jika banyak yang kemudian membacanya. Sebab ada kesempatan untuk menjalin silaturahmi dan persahabatan, yang ditautkan oleh tulisan-tulisan blog ini.(*)

Soekarno, Embun, dan Kisah Pengantar Tidur


bacaan minggu ini

DI tangan saya adalah sebuah jurnal tentang Soekarno. Saya masih belum ingin membacanya. Saya masih ingin menimang-nimangnya, sembari sesekali membuka isinya, membaca beberapa kalimat atau diksi dari para penulis tentang sosok Soekarno. Saya ingin menikmati saat-saat emas ketika sebuah buku yang lama diidam-idamkan akhirnya datang untuk dinikmati, dikunyah-kunyah, lalu ditelusuri gagasannya.

Saya selalu berdebar setiap kali membaca tulisan tentang Soekarno. Saya merasa tak hanya membaca pemikiran tentang sosok besar negeri ini, namun juga seakan berhadapan dengan sosok manusia yang hidup pada satu ruang sejarah ketika pemikiran dan gagasan-gagasan besar menjadi fundasi untuk menyusun rumah besar bernama bangsa Indonesia. Saya membayangkan konteks dan dinamika ketika para founding father negeri ini mencipta gagasan, menggali kekayaaan khasanah dan tradisi pemikiran, lalu mendiskusikan keindonesiaan.

Pikiran saya menerawang tentang betapa romantiknya masa-masa yang lewat. Yang selalu membuat saya iri dengan periode awal kemerdekaan adalah mereka yang menjadi pemimpin di masa itu adalah barisan para aktivis yang tak hanya punya semangat berupa api yang menyala-nyala, namun juga punya embun-embun pemikiran yang kemudian saling berdialog, memperkaya, serta menguatkan.

Saya bangga ketika mengingat bahwa mereka bukanlah para pemimpin karbitan yang hanya mengandalkan survei, tim citra serta tim sukses yang setiap saat membobardir massa dengan pesan-pesan tentang kebaikan dan kehebatan. Mereka tak mengikuti anjuran Adolf Hitler bahwa kebenaran adalah kebohongan yang dikali seribu. Pantas saja jika mereka menerbitkan karyanya secara diam-diam, demi sekadar mengisi celah dialog tentang negeri yang masih seumur jagung. Malah, Tan Malaka hanya menulis lembar-lembar pemikirannya, tanpa pernah melihatnya terbit sebagai buku.

Yang bikin saya merinding adalah kenyataan bahwa mereka bukanlah para pemimpin yang membayar –ataupun memiliki-- stasiun televisi demi untuk menampilkan sosoknya yang sedang tersenyum dan menyeru kebaikan. Mereka juga tak berpura-pura alim dengan memakai kopiah, lalu mengutip ayat-ayat Tuhan, setelah itu menyebutkan dirinya sebagai calon pemimpin. Mereka tak sebodoh pemimpin masa kini yang membayar mahal para tim sukses untuk membangun pencitraan tentang sosok baik dan mendengar aspirasi.

Mereka bekerja diam-diam, menulis di tengah desing pertempuran serta bom yang setiap saat bisa memburai usus. Mereka bekerja dalam hening cahaya pelita, di tengah situasi yang penuh ancaman. Mereka menuliskan gagasan demi untuk dikenali dan dipahami. Di tengah situasi serba sulit itu, mereka telah mengisi khasanah intelektual bangsa sekaligus memberikan napas dan arah bagi bangsa.

Sungguh beruntung negeri ini memiliki kisah tentang sosok besar.  Soekarno, Hatta, Sjahrir, ataupun Tan Malaka adalah barisan intelektual yang menjadi benih-benih awal dari para pemikir hebat negeri ini. Mereka menulis sesuatu yang hingga kini tetap aktual dan mengisi debat tentang bangsa. Soekarno menulis tentang nasionalisme, Hatta mendialogkan tentang ideologi-ideologi besar, serta Tan Malaka menulis tentang pahaman filsafat sejarah, demi untuk tidak terjebak pada mitos.

Puluhan tahun setelah mereka mangkat, karya-karyanya pernah dinobatkan Tempo sebagai satu dari sekian buku terbaik yang pernah dituliskan oleh intelektual negeri ini. Buku mereka bukanlah sehimpunan kutipan dari manusia lain yang menulis di belahan bumi lain, melainkan sebuah upaya dialog yang tak berkesudahan demi untuk memahami tanah air yang terus bergerak secara dinamis.

Sayang, jalan takdir mereka tak selalu secemerlang tulisan-tulisannya. Mereka menjadi martir demi bangsa yang dicintainya. Revolusi telah memangsa anak-anaknya sendiri. Bukankah mereka mempersembahkan segala yang mereka miliki bangsa ini?

Yang membuat saya miris adalah tak ada satupun pemimpin atau pemimpin yang mengikuti garis yang mereka torehkan. Mereka yang sedang memimpin atau hendak memimpin di hari ini adalah penulis lagu, pengusaha tambang, penguasaha media, militer yang tak punya jejak prestasi, ataupun sosok yang hanya mengandalkan orangtuanya.

Ah, mungkin negeri ini tengah dikutuk. Negeri ini serupa negeri dalam film The Sleeping Beauty yang warganya disihir hingga tertidur hingga puluhan tahun. Kelak, akan ada manusia berpikir bebas, punya ide-ide yang serupa lilin, datang menerangi kepekatan negeri ini demi menggapai cahaya yang benderang.

Namun, kapankah gerangan? Mungkinkah saat kebangkitan itu hanya menjadi kisah untuk menemani seorang bocah yang hendak terlelap?


Baubau, 22 Juli 2013
Saat menimang buku tentang Soekarno

Terimakasih buat Sukma



SUNGGUH nikmat memiliki banyak sahabat. Sungguh menyenangkan bisa menjaga persahabatan dengan banyak orang di berbagai kota, bahkan di seluruh dunia. Para sahabat itu bisa menjelma sebagai ribuan malaikat yang kelak akan mengulurkan tangan untuk membantumu, di manapun dirimu berada.

Dua minggu silam, saya sangat ingin membaca edisi terbaru jurnal Prisma. Tadinya, saya ingin memesan secara online. Setelah mengontak pihak jurnal, saya mendapatkan jawaban yang serba membingungkan. Pihak Prisma hanya menyebut harga, tanpa menyebut berapa ongkos kirim. Meskipun saya menyebutkan posisi saya di sebuah pulau kecil, mereka tak juga menyebutkan berapa ongkos kirim. Padahal, saya ingin sekali segera men-transfer duit dan membacanya.

Tak kurang akal, saya lalu memajang sampul jurnal itu lewat media sosial. Siapa tahu ada sahabat di tempat lain yang bersedia membantu. Gayung bersambut. Sahabat Sukma Wakti di Yogyakarta memberikan respon. Ia bersedia mengirimkan kopian jurnal tersebut, yang bentuknya sama persis dengan aslinya. Ketika saya bertanya berapa harganya, Sukma menolak memberikan harga. Meski demikian, saya berhutang budi kepadanya.

Inilah nikmatnya punya banyak sahabat di mana-mana. Ini pula nikmatnya sering berselancar di dunia sosial dan merawat pertemanan dengan banyak orang. Sejak pertama menceburkan diri di dalamnya, saya meyakini bahwa media sosial bukan saja tempat untuk mencari informasi, atau sekadar membuat status-status curhat. Akan tetapi media sosial bisa merawat benih pertemanan hingga kelak menjadi pohon rindang yang akarnya menghujam ke dalam bumi, dan rantingnya menggapai mega-mega.

Kelak, pohon itu akan memberikan buah manis untuk dinikmati bersama-sama, sebagaimana yang saya alami hari ini, saat menerima sebuah buku gratis yang merupakan kiriman dari sahabat di tempat jauh sana.

Sekali lagi, terimakasih buat Sukma.


Baubau, 22 Juli 2013

Tradisi sebagai Mata Air Kisah


sampul buku The Lost Heroes

BEBERAPA tahun silam, saya membaca publikasi tentang kelangkaan ide cerita yang dihasilkan oleh para penulis kita. Di layar televisi, kita menyaksikan situasi ‘miskin ide’, ketika para sineas hanya bisa mendaur-ulang semua ide cerita dari film asing. Bahkan daam banyak publikasi, kita sering mendengar istilah copy-paste atau mengkloning tulisan secara semena-mena. Apakah kita sedang mengalami gejala krisis ide?

Kali ini saya ingin bercerita tentang banyaknya ide-ide yang berserakan di sekitar kita. Ide-ide memenuhi semesta laksana udara yang melingkupi bumi. Masalahnya adalah tak semua orang bisa mengolah segaa sesuatu di sekitarnya menjadi ide-ide yang menarik untuk dikemas menjadi bahan cerita.

Sebelumnya saya ingin berkisah tentang bacaan selama dua hari ini. Saya membaca serial The Heroes of Olympus, yang merupakan kelanjutan dari serial Percy Jackson.  Saya baru membaca tiga buku serial ini yang sudah diterbitkan yakni The Lost Heroes, The Son of Neptune, dan The Mark of Athena.

Buku-buku yang ditulis oleh Rick Riordan ini dinobatkan sebagai buku terlaris sebagaimana versi New York Times. Buku-buku ini diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa di dunia. Koleksi buku ini sukses untuk memesona anak-anak dan pembaca di seluruh dunia.

Apakah gerangan isinya?

Isinya adalah cerita tentang demigod atau anak titisan dewa-dewa Yunani dan Romawi. Tokoh utamanya adalah Percy Jackson, sang putra Poseidon, yang dalam versi Romawi, kerap disebut Neptunus. Selain Percy, muncul pula satu sosok remaja yang sakti yakni Jason, putra Zeus, yang dalam versi Romawi disebut Jupiter. Tokoh-tokoh lain adalah putra-putri dewa yang diyakini tetap eksis sebab mengikuti gerak peradaban.


Nah, saya tak ingin berpanjang-panjang atau meresensi buku-buku ini. Saya ingin mengajukan pertanyaan, apakah kisah ini orisinil? Bagi saya tidak. Kisah itu ibarat sebuah bangunan yang fundasinya adalah semua dongeng Yunani dan Romawi. Sang pengarang yang jenius tidak meng-copy-paste, melainkan mengolah semua bahan kisah itu menjadi adonan kisah yang menarik. Ia mengambil inspirasi dari semua dongeng, lalu mengemas menjadi cerita yang lalu laris di seluruh dunia. Orang-orang menyukainya. Bukunya jadi best seller.

Beberapa tahun silam, saya pernah membaca kiat sukses penulis JK Rowling, sang ibu atas serial Harry Potter. Dalam satu wawancara dengan Newsweek, ia mengakui bahwa kisah Harry Potter terinspirasi dari semua cerita-cerita rakyat ataupun legenda yang hidup di masyarakat Inggris yang kemudian diramu dengan kisah dari tempat lain. Kisah-kisah itu lalu saling jalin-menjalin dengan cerita tentang seorang remaja penyihir yang kemudian menjadi pahlawan besar.

Pelajaran berharga dari serial Percy Jackson dan Harry Potter adalah segala dongeng dan cerita di sekitar kita bisa menjadi bahan mentah untuk dikembangkan menjadi cerita yang menarik. Pada dasarnya, ide-ide berseliweran di sekitar kita, yang sejatinya membutuhkan satu kejelian untuk ditangkap, lalu dijejalkan dalam naskah cerita.

Saya merindukan kisah semacam Harry Potter atau Percy Jackson yang bahan bakunya adalah semua dongeng-dongeng Nusantara. Dengan begitu banyaknya suku bangsa di tanah air, maka mestinya para penulis atau sineas kita tak akan pernah kehabisan ide sebab kebudayaan bisa menjadi mata air yang mengalirkan gagasan-gagasan.

Mungkin kita tak begitu percaya diri dengan kekuatan gagasan yang muncul dari khasanah budaya kita. Kita lebih sering berkiblat ke barat atau negara-negara Asia Timur sebagaimana Jepang dan Korea. Kisah-kisah dari banyak negara itu yang kemudian dikloning, dengan risiko besar akan gagal serta dicap tidak orisinil. Padahal, dengan kembali pada khasanah tradisi, maka kita akan menemukan sungai kisah-kisah yang tak pernah berkesudahan.

Nah, apakah anda juga mengalami krisis ide?



Baubau, 22 Juli 2013
Saat menunggu waktu sahur

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...