Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Kisah 'Manusia Batu' di Tepi Jakarta



PATUNG itu berdiri tegak di pelataran Kota Tua Jakarta. Patung itu adalah prajurit yang memakai pakaian ala zaman pergerakan. Sepintas ia mirip pakaian Bung Tomo, atau mungkin Robert Wolter Monginsidi. Saat saya mendekat, patung itu lalu bergerak. Ia tiba-tiba saja menyapa, “Hallo Mas.”

Patung itu ternyata bukanlah benar-benar patung. Patung itu adalah seorang pria yang menyerupakan dirinya sebagai patung. Ia membaluri tubuh dan pakaiannya dengan cairan hitam sehingga nampak seperti batu. Ia juga melengkapi dirinya dengan senapan mainan, samurai, serta pisau belati. Ia juga membawa sepeda antik sebagai properti. Di depannya, ada kertas bertuliskan “Manusia Batu (Pejuang), Boleh Foto Bersama, Pasti Unik!”

Saya juga melihat ada keranjang kecil yang berisikan uang. Nampaknya, mereka yang berfoto selalu menyimpan beberapa lembar rupiah di situ. Tak ada pemberitahuan berapa saldo minimal yang mesti disimpan di keranjang itu demi foto berama. Nampaknya, terserah berapa pun menyimpan di keranjang itu demi berpose. Saya pun menyimpan dua ribu rupiah, lalu mengambil senjata, dan foto bersama. Asyik.

Tak jauh dari ‘manusia batu’ itu, saya melihat seorang ibu yang berpakaian noni Belanda lengkap dengan payung putih berenda serta keranjang putih berisikan bunga-bunga. Sebagaimana manusia batu, semua orang bebas berfoto dengannya. Fotonya memang unik.

Ada juga seorang pria dengan topeng khusus. Ia berdiri dengan pose unik. Setiap 10 menit, ia akan berpose dengan gaya berbeda. Anak saya Ara paling suka dengan pria ini. Padahal, saya sendiri tak begitu tertarik. Setiap kali gaya pria itu berubah, Ara akan kegirangan.

Jakarta adalah ruang besar tempat semua orang unjuk kreativitas. Banyaknya orang berfoto dan menyimpan uang di keranjang itu menunjukkan kekuatan sebuah ide atau kreativitas. Bagi saya, ide tentang ‘manusia batu’ dan noni Belanda itu bukanlah baru. Di Eropa banyak yang bergaya demikian. Akan tetapi keberanian untuk menampilkannya di kota tua Jakarta, dengan pakaian khas masa kolonial, adalah strategi kreatif dan unik demi mengundang simpati banyak orang.




Kreativitas adalah hal sederhana. Tak perlu menghabiskan banyak uang demi sebuah gagasan unik. Biasanya kreativitas dimulai oleh mereka yang ‘gila’, mereka yang berani berpikir berbeda. Kata seorang sahabat, kreativitas adalah buah dari imajinasi yang tumbuh dalam pikiran kita. Setiap hari kita melihat kenyataan lalu membangun angan-angan tentang kenyataan itu. Mereka yang kreatif adalah mereka yang mencipta gagasan lalu mewujudkannya dalam hal-hal sederhana.

‘Manusia batu’ dan ‘noni Belanda’ di kota tua itu mengajarkan indahnya kreativitas.

Namun, entah kenapa, saya juga memikirkan hal lain. Saya memikirkan semesta yang saling terkait antara suasana kota tua di masa kolonial dan revolusi, pakaian-pakaian prajurit di masa peperangan, serta pakaian noni Belanda. Di sekeliling bangunan kuno itu, saya menyaksikan sepeda tua serta topi-topi khas para mandor kompeni. Semua kenyataan itu saling bertaut dan membentuk semesta berpikir tentang Indonesia pada masa yang telah lewat.

‘Manusia batu’ itu dengan pakaian ala pejuang telah mengajarkan saya cara-cara sederhana untuk memahami jiwa bangsa serta rasa hayat kebangsaan. Yup. Rasa hayat kebangsaan. Saya memikirkan kata ini dua tahun silam ketika pertamakali meninggalkan Indonesia. Tafsiran sederhana dari rasa hayat kebangsaan adalah kesadaran tentang bangsa yang hidup dan berdenyut dalam pikiran kita. Dengan kata lain, rasa hayat itu adalah sesuatu rasa yang menggenang dalam jiwamu ketika menyaksikan bendera sang saka merah putih berkibar di angkasa, atau rasa yang bersemi ketika mendengar lagu kebangsaan dan melihat indahnya tanah air yang mesti dipertahankan dengan jiwa raga.

Kita mungkin sering memandang remeh rasa hayat kebangsaan ini. Kita memandangnya sebagai indoktrinasi. Namun satu fakta yang tak bisa dipungkiri adalah bangsa-bangsa yang melejit sebagai raksasa dunia adalah bangsa-bangsa yang menemukan perekat rasa hayat bersama, mengolahnya menjadi kekuatan pendorong, lalu melesat demi menggapai mimpi-mimpi sebagai bangsa. Bangsa-bangsa itu menemukan etos dan semangat kemajuan melalui rasa hayat itu, lalu mentransformasikannya menjadi kemajuan.


Kita punya rasa hayat kebangsaan itu. Kita punya banyak semesta yang menanamkan nilai-nilai itu. Kita punya jutaan ‘manusia batu’ lainnya yang mengenalkan tentang revolusi melalui cara-cara sederhana. ‘Manusia batu’ di kota tua Jakarta itu seolah menjadi alarm atas sesuatu yang nyaris hilang. Dan kepadanya kita mesti meletakkan takzim atas pelajaran berharga yang ditebarnya di bebukitan hati kita.(*)


Jakarta, 19 Mei 2013

Kisah Ara dan "Miaw" Liar


Ara dan ikan hiu
 
KETIKA pesawat Cathay Pacific menyentuh landasan bandara Soekarno Hatta International Airport, rasa bahagia sekaligus cemas bersarang di benak saya. Rasa bahagia hadir saat saya menyadari bahwa akhirnya saya akan bertemu dengan suasana keindonesiaan. Saya tak perlu lagi berbicara dalam bahasa Inggris. Tak perlu memikirkan struktur kalimat, grammar, atau seabrek aturan tata bahasa. Tak perlu menyapa semua orang dengan sapaan “Hi Guys..”

Namun, rasa cemas langsung muncul ketika melihat anak saya Ara. Setahun silam, ia berangkat ke Amerika ketika masih merangkak dan belum mengenali apapun. Sekarang, ia sudah mulai berbicara beberapa patah kata dalam bahasa Inggris, serta hanya mengenali kenyataan yang disaksikannya di Amerika. Apakah ia akan menyesuaikan diri? Apakah ia tidak akan kaget melihat segalanya yang berubah?

Ketika keluar dari Bandara Soekarno-Hatta, bulir-bulir keringat membasahi wajahnya. Saya menyentuh bajunya yang basah kuyup. Sewaktu meninggalkan Athens, suhu udara adalah enam derajat celcius. Itulah sebab mengapa saya memakai dua lapis baju. Namun ketika tiba di Jakarta, suhu udara adalah 32 derajat celcius. Pantesan dia mengeluarkan banyak keringat hingga basah kuyup.

Kami tiba di Jakarta pada malam hari. Ketika menuju hotel, jalanan sangat ramai. Di Amerika, seorang anak yang berkendara harus duduk di car seat demi alasan keamanan. Di Indonesia, aturan itu tak berlaku. Ketika Ara menangis di kursi belakang taksi, saya –yang duduk di dekat sopir—lalu memindahkannya ke depan untuk dipangku. Di Jakarta, hal itu sah-sah saja.

Setiba di hotel, kami semua tak bisa tidur. Kami mengalami jetlag. Maklumlah, beda waktu antara Ohio dan Jakarta adalah 12 jam. Malam hari waktu Ohio adalah siang hari waktu Jakarta. Ketika kami tiba di malam hari, perasaan kami adalah siang hari. Makanya, kami tak bisa tidur di malam hari waktu Jakarta. Keesokan harinya, kami justru tertidur pulas di siang hari. Kami tidur sangat nyenyak, mulai jam tujuh pagi hingga azan magrib berkumandang.

Saya hanya butuh dua hari untuk beradaptasi. Selanjutnya tubuh saya mulai mengenali siklus siang malam yang berbeda. Tapi tidak dengan Ara. Beberapa hari di Jakarta, hingga akhirnya di Kota Makassar, Ara tetap saja tak bisa tidur di malam hari. Parahnya, di saat sedang bermain sendirian di malam hari, ia akan melakukan segala cara demi membangunkan saya.

Ia akan naik ke kasur lalu menduduki wajah saya, atau membuka mata saya. Biasanya, saya akan terbangun sambil mengomel jika ada yang melakukannya. Pantang buat saya untuk diganggu saat tidur. Tapi setelah melihat yang mengganggu saya adalah mahluk manis bernama Ara --yang dalam tubuhnya mengalir darah saya--, langsung saya terdiam. Daripada menggerutu, lebih baik jika saya mengikuti keinginannya. Jika tidak, ia akan melancarkan jurus tangisan, yang sejauh ini sangat efektif untuk memaksa saya mengikuti semua keinginannya.

Ara dan ikan
Ara dan miaw...

Sehari di Jakarta, saya membawa Ara keluar hotel. Kami menempati hotel kecil di bilangan Kramat Sentiong, yang di depannya terdapat jalan kecil dan dilalui berbagai kenderaan seperti mobil, truk, motor, bemo, gerobak, serta pedagang yang berseliweran. Ketika Ara pertama tiba di jalan raya, ia langsung tersentak. Ia sangat terkejut melihat kerumunan manusia yang memenuhi jalan raya.

Ia termangu beberapa saat. Saat itu, ia memperhatikan seekor kucing yang sedang akan di tepi jalan, tak jauh dari warteg. Ia lalu memperhatikan kucing itu dalam waktu yang agak lama sambil menunjuk. Saya lalu mengatakan kucing. Ia masih tak paham. Saya lalu menyebut “Miaww..” Mulai saat itu, Ara selalu menyebut “Miaww..”

Di Athens, Ara tak pernah melihat kucing. Ia hanya melihat anjing, kambing, domba, serta pernah sekali ia melihat jerapah ketika rombongan kebun binatang Columbus datang ke Athens. Nah, ketika pertama melihat kucing di pinggiran Jakarta, ia seperti melihat satu mahluk aneh yang misterius namun ramah. Ia lalu mendekati kucing dan menyentuh kepalanya.

Sepertinya, kucing itu tahu kalau yang menyentuhnya adalah seorang anak manis yang pertamakali bertemu mahluk sebagaimana dirinya. Kucing membiarkan Ara untuk membelainya. Ketika ia menoleh dan mengeong, Ara tersentak. Tubuhnya gemetaran. Saya lalu membelai si kucing yang kemudian tenang. Saat kucing itu bergerak dan hendak pindah, Ara lalu berteriak, “No...no...!” Kucing itu cuek. Ia tak paham makna kata yang diucapkan Ara. Di sebelah sana, saya melihat pegawai hotel yang terkejut dan memperhatikan Ara, khususnya saat menyebut kata “No.” Mungkin pegawai hotel itu berpikir, “Kursus di mana yaa?” Entah.

Detik itu adalah detik pertama persentuhan Ara dengan kucing. Saat kembali ke kamar hotel, ia selalu menangis sambil berkata “Miaww..” Saya lebih sering tak tega melihat air mata mengalir di pipinya. Biasanya, saya akan menggendongnya lalu mencari kucing buduk yang biasa memakan nasi basi yang dibuang warteg di tong sampah. Apa boleh buat. Saya harus berdamai dengan ketidaknyamanan demi memuaskan hasrat Ara untuk bertemu kucing.

Di hotel itu pula, Ara pertama kalinya melihat semut. Ia terheran-heran saat melihat barisan semut berbaris rapi demi mendatangi remah-remah kue yang berceceran di lantai. Di Athens, ia tak pernah melihat semut merah. Ia lalu menunjuk sambil berkata “What?” Saya lalu menyebut kata semut dalam bahasa Indonesia. Wajahnya makin bingung.

Saat di Athens, Ara paling suka melihat ikan di akuarium. Biasanya, saat kami ke restoran Cina, ia paling suka mempehatikan ikan hingga lebih setengah jam. Saat saya datang menemaninya, ia akan menunjuk ikan itu, lalu menoleh ke arah saya sambil berkata “Fish!”

Di Jakarta, saya memutuskan untuk membawanya ke Sea World di Ancol. Ia tiba-tiba saja berada dalam akuarium besar yang membuatnya bisa melihat semua jenis ikan. Ia berlarian sambil tertawa gembira. Ia berpindah dari akuarium yang satu ke akuarium yang lain. Ia tidak mau digendong. Ia ingin bebas dan menunjuk semua ikan.

Di tempat itu, ia melihat begitu banyak ikan dan biota laut. Ara paling suka melihat ikan duyung. Tadinya saya tak suka melihat ikan itu terpenjara dalam akuarium sempit. Namun saat pemandu menjelaskan bahwa ikan duyung itu berasal dari Pulau Buton, tempat saya dilahirkan, saya langsung tertarik. Saya ikut menemani Ara melihat ikan duyung.

berang-berang di Sea World

Selanjutnya, Ara suka melihat taman berang-berang. Ia akan histeris ketika penjaga taman itu melempar makanan ke kolam, dan si berang-berang akan berenang di kolam kaca itu yang kemudian disaksikan semua pengunjung. Ia bertepuk tangan sebagaimana anak-anak lain yang menyaksikan atraksi  itu. Ketika saya mendekat dan bertanya “What is that?” Si Ara lalu menunjuk berang-berang itu lalu berkata, “Miaww...!”

Ara benar. Ternyata berang-berang mirip dengan kucing!

Dua hari di Makassar, ia akhirnya melihat ayam. Ketika tidur di rumah yang kami tempati, ia terbangun karena suara ayam berkokok. Ketika bingung, saya kehabisan akal untuk menjelaskan bahwa itu adalah ayam. Pagi hari, saya membawanya berkenalan dengan ayam. Akhirnya ia berkenalan dengan ayam. Saat di Ohio, ia hanya tahu bebek yang berenang di tepi Hocking River. Biasanya saat melihat bebek, ia akan berkata “Duck.”

Hari ini ia melihat ayam. Ia terkejut ketika ayam itu berkotek. Wajahnya menunjukkan ekspresi takut. Saya lalu datang dan membelai si ayam. Ara tenang. Ketika saya bertanya padanya, “What is this? Ia menunjuk ayam itu lalu berteriak dengan amat yakin “Duck!”

Yah, demikianlah nikmat menjadi anak kecil. Kesalahan dalam belajar adalah hal biasa. Malah ia amat cerdas sebab bisa membuat asosiasi atau melihat kemiripan. Secara tidak langsung, Ara selalu mengajari saya untuk memahaminya dengan beragam cara. Ia juga mengajari saya untuk menemukan cara-cara baru atau metode dalam memperkenalkan sesuatu. Ia sangat antusias saat menemukan hal baru dan meminta saya untuk menjelaskan.

Ternyata, seorang anak adalah anugrah terbesar sekaligus guru terbesar yang mengajarkan saya banyak hal. Mulai dari antusiasme, rasa ingin tahu, serta pikiran yang selalu positif untuk melihat sesuatu dengan pandangan simpel serta mencari sisi-sisi yang paling menarik.

Terimakasih Ara. Terimakasih telah memilihku sebagai ayahmu.


Makassar, 23 Mei 2013

Inspirasi Ariel di Sudut Jakarta



SAAT meninggalkan Athens, Ohio, pada Selasa pagi suhu udara adalah lima derajat celcius. Selama di pesawat yang terbang melalui Chicago dan Hongkong, suhu udara juga dingin. Saya tak pernah melepas dua lapis jaket yang saya kenakan. Namun saat keluar dari Bandara Soekarno-Hatta, saya langsung keringatan. Suhu udara sekitar 33 derajat celcius. Saya serasa keluar dari kulkas, dan dipaksa masuk ruang oven.

Sepanjang perjalanan dari bandara menuju hotel tempat menginap, saya tak puas-puasnya memandang Jakarta. Dua tahun lalu, saya meninggalkan kota yang penuh makna buat saya. Kota ini masih sumpek dan sesak sebagaimana dahulu. Jalanan kota Jakarta sungguh beda dengan jalanan kota Athens.

Di Athens, jalan raya hanya dimiliki oleh mereka yang bermobil. Jalanan hanya milik sedikit orang yang bisa melaju kencang di sirkuit kapitalisme. Memang, jalanan nampak rapi, akan tetapi saya melihat ada pemandangan yang seragam. Duduk sambil menyaksikan jalanan bukanlah aktivitas yang menarik di Athens. Semuanya seragam.

Sementara di Jakarta, pemandangannya jauh lebih atraktif. Memang, jalanannya semrawut. Jalanannya berantakan serta penuh lalu lalang manusia. Bagi saya, kesemrawutan itu menunjukkan bahwa semua orang memiliki hak atas jalanan. Tiga hari di Jakarta, saya suka duduk-duduk di tepi jalanan sambil melihat-lihat. Di depan hotel yang saya tinggali, saya melihat jalan sempit yang dilalui berbagsai orang. Tak hanya mobil, namun juga motor, bemo, pedagang asongan, hingga para ojek yang berseliweran di jalanan.

Suasananya ramai. Ada bunyi klakson yang berpadu dengan bunyi kentongan atau teriakan para pedagang. Semua orang memiliki kuasa dan saling bersikut-sikut di jalan raya. Jalanan raya ibarat jendela untuk melihat kompleksitas masyarakat Indonesia. Kesemrawutan di jalan itu adalah potret ketidakhadiran negara untuk mengatur lalu lintas, sekaligus menunjukkan begitu hebatnya publik yang bisa mengatur dirinya.

Dua tahun meninggalkan kota ini, saya melihat sesuatu yang sama. Kota ini masih penuh dengan reklame serta rerimbunan bangunan-bangunan yang dihuni banyak orang. Di sepanjang jalan, saya melihat iklan telepon selular yang menampilkan penyanyi Ariel Peter Pan. Beberapa tahun lalu, ketika saya masih berumah di kota ini, Ariel dihujat kiri-kanan. Ia dimaki karena membuat video porno dengan aktris cantik. Ia dianggap sebagai ikon kemaksiatan. Kini, zaman telah berganti.

Banyaknya poster Ariel Peterpan mengingatkan saya pada ucapan sejarawan Bill Frederick bahwa ingatan orang Indonesia amatlah pendek. Seorang pesakitan bisa jadi hero dalam waktu singkat. Dan seorang hero bisa pula terlupakan dalam sejarah.

Bill mencontohkan sosok Soeharto. Di masa reformasi, ia dimaki setinggi langit. Para aktivis menyobek-nyobek fotonya demi menyampaikan kegeraman pada sosoknya yang disebut sebagai biang segala krisis di tanah air. Di masa kini, sosoknya tak seseram dulu. Ketika survei dilakukan ia dianggap sebagai presiden paling besar dalam sejarah. Malah, namanya diusulkan oleh sebuah partai politik demi menjadi pahlawan nasional. What?

Di ruang-ruang publik Jakarta, Ariel kembali meraih kebintangannya. Di satu pusat perbelanjaan, posternya tersebar di mana-mana. Ia kembali menjadi ikon dari anak-anak muda yang kreatif, tampan, serta berpengaruh. Jika dua tahun silam ia dicaci, kini ia telah dipuji dan menjadi bintang iklan.

Saat merenungi Ariel, tiba-tiba saya melihat televisi yang dipenuhi tayangan tentang kader-kader partai politik yang terindikasi korupsi. Saya juga melihat seorang kader partai itu yang mengkritik lembaga anti-korupsi. Ada semacam kepanikan jika kelak semua kerja keras di dunia politik akan porak-poranda. Ada pula semacam kekhawatiran kalau peran-peran di dunia politik akan tersingkir karena pimpinan partai yang terindikasi korupsi.

Nampaknya, mereka perlu belajar pada Ariel Peterpan. Ia pernah terpuruk, dicaci, lalu dipenjarakan. Dua tahun setelahnya, ia kembali menjadi idola baru. Toh, ingatan orang Indonesia itu pendek. Hari ini pesakitan, besok akan jadi pesohor. Lantas, mengapa harus malu belajar pada Ariel?


Jakarta, 18 Mei 2013

Suatu Hari di Apartemen Shino


bersama Joy, Eli, dan Shino
kue buatan Shino
Joy Hsu
Mohsen Radi

SEORANG sahabat asal Jepang, Shino Rhita Yokotsuka, mengundangku ke apartemennya. Bersama Joy, sahabat asal Taiwan, ia hendak menjamu kami dengan makanan serta kue-kue yang dibuatnya. Ia juga mengundang sahabat asal Indonesia, Eli, untuk memasak hidangan khas Indonesia. Ikut pula sahabat Mohsen Radi asal Iran. Maka lengkaplah pesta kecil kami.

Kemarin, di Universities Apartment, sebuah apartemen yang cukup mewah, kami berkumpul dan sama-sama bergembira. Temanku Eli memasak indomie untuk kami berlima. Sedankan Shino membuat kue, serta makanan jenis kolak manis. Kami bercerita banyak hal sambil tertawa bersama.

Pertemuan-pertemuan seperti ini kelak akan kurindukan. Di tengah canda tawa itu, aku belajar memahami bahwa sesungguhnya ada sesuatu yang universal di antara kami semua. Kami adalah pembelajar dari berbagai bangsa yang memiliki obsesi berbeda, namun dipertemukan pada satu momentum sejarah. Kelak, sejarah pula yang akan mencatat ke mana arah perjalanan kami selanjutnya.


Yang Akan Saya Rindukan dari Amerika


sudut kampus Ohio University

SETIAP kali meninggalkan satu tempat, selalu saja ada jejak yang tergores di pikiran saya. Bukan sekadar ingatan tentang tempat eksotis atau tentang pepohonan, dedaunan, dan bunga-bunga, namun ingatan tentang interaksi dengan manusia lain serta ceceran hikmah yang didapatkan di satu tempat.

Dalam waktu dekat, saya akan meninggalkan tanah Amerika. Saya merasa bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar banyak di sini. Tak hanya tentang materi perkuliahan, tapi juga pelajaran kehidupan serta proses mendewasakan diri. Meskipun saat ini saya masih jauh dari dewasa, namun setidaknya saya melangkah perlahan-lahan. Meski langkah itu selambat siput, setidaknya saya menyadari bahwasanya saya tidak sedang mundur.

Ada beberapa hal yang akan saya rindukan dari tempat ini. Saya akan coba untuk mengurainya satu per satu.

Pertama, saya akan merindukan perpustakaan. Di kampus-kampus di Amerika, perpustakaan adalah tempat paling besar dan diusahakan senyaman mungkin. Jika anda berkunjung ke kampus manapun di Amerika, jantung perkuliahan adalah perpustakaan. Inilah sebab mengapa gedung paling besar di semua kampus adalah perpustakaan yang menyediakan jutaan buku dari seluruh dunia.

Ini sangat kontras dengan kampus-kampus di tanah air, yang rata-rata, gedung paling megahnya adalah rektorat. Kata dosen saya di Universitas Indonesia, rektorat yang megah adalah simbol bahwa kampus-kampus kita tidak mewarisi tradisi ilmiah, melainkan tradisi ala kerajaan, di mana kekuasaan adalah aspek paling penting. Buktinya, simbol penguasa kampus yaitu rektorat selalu paling dominan.

perpustakaan Harvard University di Boston, Massachussets

Saya beruntung bisa menjadi penghuni tetap di perpustakaan kampus Ohio University. Di sini, saya serasa menemukan surga berisikan buku-buku serta film yang didatangkan dari seluruh dunia. Ruangannya sangat nyaman, koleksi bukunya sangat banyak, serta adanya ruangan kecil bagi mahasiswa pasca-sarjana untuk menaruh buku-buku atau sebagai tempat untuk belajar.

Sebegitu lengkapnya koleksi buku perpustakaan memberikan pelajaran buat saya bahwa ilmu pengetahuan dibangun di atas landasan yang kokoh dan saling menopang. Aktivitas membaca ibarat cahaya terang yang memandu manusia untuk menelusuri belantara realitas demi menemukan sisi-sisi paling dalam dari realitas itu. Dan buku ibarat pintu yang membuka gagasan kita untuk bertemu mereka-mereka yang telah menuangkan gagasan demi untuk diskusikan atai didebati. Tanpa membaca, mungkinkah akan lahir refleksi yang jernih?

Kedua, saya akan merindukan kehangatan serta kebaikan dari banyak orang. Selama dua tahun ini, saya tinggal di satu kota kecil yang menyenangkan. Dimana-mana saya bertemu dengan orang-orang yang akan selalu tersenyum dan menyapa dengan tulus, tanpa dibuat-buat. Masyarakat Athens adalah masyarakat yang amat ramah. Setiap berpapasan dengan seseorang, maka selalu ada sapaan “How are you” atau “What’s up.” Saya bukan tipe orang yang suka menyapa orang lain. Namun di kota ini, saya mesti menjawab semua sapaan serta senyuman dari banyak orang.

pemandangan di kampus Ohio University

Pelajaran penting yang saya dapatkan di sini adalah tentang kebaikan. Saya banyak bertemu orang baik yang bersedia berkorban waktu , tenaga dan uang demi kebahagiaan orang lain. Saya sering terkenang pada sahabat saya Erick. Selama dua tahun, ia membantu saya untuk merevisi paper dalam bahasa Inggris, melaih kemampuan memahami diaog, serta kawan diskusi yang mengasyikkan. Setiap kali dimintai bantuan, ia tak pernah menolak. Bahkan, ia mengorbankan kepentingan pribadinya.

Atmosfer di kota ini adalah amosfer kebaikan dan penghormatan kepada orang lain. Terlampau banyak pengalaman saya yang bisa dikisahkan di sini. Mulai dari menunggu bis di tengah salju dan tiba-tiba singgah seorang ibu yang datang demi menawarkan diri untuk mengantar dengan mobilnya, atau saat ketika tidak punya uang tunai untuk membayar segelas kopi dan tiba-tiba saja banyak yang menawarkan diri untuk membayarkan, atau saat berjalan dengan bayi dan semua orang membukakan pintu dan menahannya hingga saya berada di dalam gedung. Terakhir, banyak yang datang memberikan hadiah kepada anak saya sebagai tanda kasih sayang.

Ketiga, saya akan merindukan spirit kerja keras serta disiplin warga Amerika. Saya sering terpesona dengan kemampuan mereka untuk berdisiplin serta menepati janji. Perpustakaan Alden menjadi saksi bagaimana mereka bekerja keras untuk memahami buku-buku teks. Memang, kampus Ohio dikenal sebagai kampus yang mahasiswanya suka pesta. Saya lihat sendiri bahwa hari Sabtu dan Minggu, mahasiswa menggelar pesta-pesta di bar sambil meminum alkohol. Akan teapi di hari Senin hingga Kamis, mereka akan belajar keras di perpustakaan, dan tak punya waktu bersantai.

Semangat kerja dan belajar keras ini membuat saya sangat iri dengan mereka. Beberapa teman saya warga Amerika, sangat disiplin dalam mematuhi silabus perkuliahan. Mereka tahu kapan harus menyelesaikan tugas, serta kapan mulai menyiapkan diri untuk final test. Mereka punya semangat serta perencanaan yang sangat baik. Semangat belajar itu telah dipupuk sejak masa sekolah menengah, ketika mereka mulai diperkenalkan dengan tantangan serta American Dream, mimpi-mimpi yang membuat mereka ingin menyelesaikan studi, lalu menjadi kaya-raya.

Ini sungguh berbeda dengan kondisi ketika saya pertama tiba. Pada saat itu, saya sangat keteteran ketika mengikuti jadwal akademik. Saya sering tak membaca silabus dan serba kebingungan ketika semua mahasiswa menyetorkan tugas kepada para profesor pengajar. Proses yang saya hadapi demikian berat sebab saya harus mengubah budaya malas, mengatasi segala kesulitan bahasa, hingga mesti menanam keberanian agar bisa menyelesaikan perkuliahan pada waktunya.

prasasti kampus

Awalnya memang sulit. Tapi selanjutnya saya mulai menyesuaikan diri dengan ritme serta denyut nadi kebudayaan Amerika. Saya adalah seorang warga Indonesia yang tadinya berlari dengan kecepatan minimal, tiba-tiba dipaksa masuk arena formula satu dan harus berlari secepat kilat. Di akhir kuliah, saya mesti mengamini pepatah pelaut Makassar, “Le'ba kusoronna biseangku, kucampa'na sombalakku, tamassaile punna teai labuang” yang artinya, “Bila perahu telah kudorong, layar telah terkembang, takkan ku berpaling kalau bukan pelabuhan yang kutuju.”

Dan perahu yang saya kemudikan itu berhasil melalui samudera Ohio University.


Athens, Ohio, 10 Mei 2013

Hadiah untuk ARA


Ara memakai baju dari Helen Pang

SUNGGUH beruntung memiliki anak kecil di negara empat musim. Anak saya Ara mendapat limpahan kasih dari banyak orang yang berasal dari negara berbeda. Dua bulan lalu, gadis Jerman bernama Linda memberi hadiah coklat-coklat yang lezat, minggu lalu, perempuan asal Cina, Helen Pang, memberikan hadiah baju, dan kemarin, seorang ibu asal Chile, Luisa Esquival, menghadiahkan bingkisan yang berisi gaun dan selendang. Wow!

Linda adalah sahabat saya. Helen adalah sahabat istri saya. Sedangkan Luisa adalah ibu dari salah seorang teman saya. Ia sangat cantik. Saya belum pernah bertemu dengannya. Akan tetapi, ia selalu me-like semua foto yang saya posting di facebook. Meskipun saya seorang amatiran di dunia fotografi, ia menganggap saya seorang fotografer handal. Makanya, ia memberikan order untuk memotret anaknya. Sayang sekali, pemotretan tidak sempat dilakukan karena masalah koordinasi.
 
hadiah dari Linda
hadiah dari Luisa


Kemarin, ia datang memberikan hadiah untuk Ara. Selain gaun, ada pula selendang khas India, yang sepertinya berhaga mahal. Saat menerimanya, saya tak bisa berkata-kata karena snagat terharu. Saya bahagia karena dalam usia yang begitu muda, ada banyak pihak yang menyayangi anak saya. Saya bahagia karena di bumi yang kecil ini, ada banyak orang baik, yang ikhlas berbagi bahagia dengan keluarga kecil kami.

Dan saya bertekad untuk bisa membalas semua kebaikan yang saya terima, minimal pada skala yang lebih sederhana, sebagaimana kebaikan yang saya terima.(*)

Kisah HABIBIE di meja DON FLOURNOY


Prof Don Flournoy

RUANGAN itu nampak sama dengan ruangan para profesor yang mengajar di program Media Studies. Namun ada sesuatu yang beda di ruangan itu. Saya melihat ada prasasti nama yang ditulis di atas ukiran khas Bali. Saya lalu singgah ke ruangan itu dan melihat nama yang tertulis adalah DON FLOURNOY. Tiba-tiba saja, pintu berderit. Seorang pria tua memasuki ruangan itu dan tersenyum.

Saya tahu kalau dirinya adalah Prof Don Flournoy. Beberapa hari sebelumnya, saya menghadiri kelas perdana International Comparative of Media System yang diasuhnya. Ketika saya menyebut Indonesia pada sesi perkenalan, matanya berbinar-binar. Hingga akhirnya ia mengundang saya datang ke ruangannya.

“Indonesia adalah rumah kedua saya. Saya punya banyak kenangan di negeri itu,” katanya sambil tersenyum. Ketika ia tahu bahwa saya adalah alumnus satu perguruan tinggi di Makassar, ia lalu bercerita tentang kunjungannya ke Makassar saat hendak membuat film dokumenter. Ia datang ke Tana Beru, Bulukumba di akhir tahun 1980-an demi membuat dokumenter tentang pembuatan perahu phinisi.

“Waktu itu, saya datang untuk melakukan riset dan dokumenter tentang aplikasi kearifan lokal pada pengembangan teknologi. Riset saya yang kemudian menjadi rekomendasi bagi Prof Habibie untuk membikin PT PAL di Surabaya,” katanya.

Selanjutnya, kami berbincang hal yang ringan-ringan, demi menjalin keakraban. Ia memperlihatkan sebuah majalah bergambar artis cantik Indonesia yang berperan dalam film Matahari-Matahari. Ia lalu bertanya, “Apakah kamu mengenalnya?” Saya lalu mengangguk. “Dia salah satu mahasiswa saya,” katanya sambil tersenyum.

Saat berbincang dengannya, saya merasakan semangat muda yang menggelegak. Padahal, usianya sudah tidak muda lagi. Tahun ini, ia berusia 76 tahun. Ia juga telah menempati banyak posisi, sebelum akhirnya menjadi profesor paling senior serta berpengalaman di School of Media Art and Studies.

Saya sangat terkesan saat melihat CV-nya yang terdiri atas 27 halaman. Di situ tertulis daftar riset yang impresif, tulisan jurnal yang sangat banyak, serta delapan buah buku karyanya, sebagaimana dipajang di etalase kaca di RTV Building, tempat perkuliahan mahasiswa Media Studies. Ia adalah profesor yang paling banyak mempublikasikan catatan jurnal. Menurut asistennya Victor Sherrick, ia juga pandai mencari funding dan mendatangkan banyak uang ke program. Wajar saja jika kemudian ia tetap dipertahankan meskipun usianya sepuh.

Mary Flournoy dan suaminya Don Flournoy

Apakah ia populer di kalangan mahasiswa? Ternyata malah tidak. Banyak mahasiswa, khususnya mahasiswa Amerika, yang tidak tertarik belajar teknologi komunikasi. Spesialisasi Prof Don Flournoy memang banyak berkaitan dengan teknologi informasi, seperti penggunaan satelit, energi surya, energi terbarukan, serta optimalisasi internet untuk mengatasi kemiskinan dan keterbelakangan. Mungkin karena dikontrak oleh NASA, ia juga mengajar tema-tema space communication. Malah, ia menjadi pemimpin jurnal bergengsi Online Space Journal of Communication.

Tema-tema ini tidak populer bagi mahasiswa yang lebih suka topik seperti media dan dampak budaya. Ketika di kelas, saya mengutip kata-kata Presiden Amerika Ronald Reagen tentang regim otoriter di masa depan yang dikalahkan oleh kemajuan teknologi micro-chip yang memberikan kebebasan pada masyarakat untuk berekspresi di dunia maya, ia langsung menjawab dengan tersenyum, “Pada masa itu, Reagen tidak tahu dan tidak memprediksi seperti apa perkembangan micro-chip.”

Ketika mengambil kuliahnya, hari-hari saya diisi dengan disiplin ala spartan. Ia mewajibkan mahasiswa menyusun lima makalah serta lima kali melakukan presentasi. Setiap kali saya menyetor paper sebanyak 20 halaman, ia akan banyak memberi koreksi atau catatan. Tak ada satu kertas pun yang bersih dari coretannya. Ia membaca semua lembar koreksi, memberi masukan dari sisi pengayaan bahasa, lalu memberikan catatan editorial.

Ketika membuat tugas akhir, saya agak sakit hati ketika melihat paper saya penuh dengan coretannya. Bahkan ketika saya sudah merevisinya, sebagaimana yang diinginkannya, ia tetap mengoreksi lagi hingga empat kali. Sepertinya, ia tahu kekesalan yang saya rasakan. Ia datang memeluk lalu berkata, “Jangan sakit hati. Kamu sudah bekerja keras. Saya ingin menjadi bagian dari proses penguatan intelektualmu.” Belakangan, saya sadar bahwa ia sengaja melakukan itu demi mengajari saya. Ia adalah tipe pengajar yang hendak mengasah disiplin, serta mental tahan banting demi pengayaan kualitas.

Kisah Habibie

Jelang keberangkatan ke tanah air, saya menyempatkan waktu ke ruangannya. Dari sekian ribu buku yang dikoleksinya, ia hanya menyimpan beberapa saja di raknya. Ia mengambil beberapa buku-buku yang bergambar Habibie. Saya lalu membuka buku tersebut. Pada beberapa buku yang ditulis Makmur Makka tersebut, ia telah memberikan terjemahan ke dalam bahasa Inggris. Sayang sekali karena ia belum menerbitkan hasil terjemahannya.

Ia bercerita banyak tentang Habibie serta obsesinya pada teknologi. Ia cukup beruntung karena beberapa kali bertemu dan Habibie dan sama-sama membahas tentang teknologi dirgantara dan kelautan. Siapa yang mempertemukannya dengan Habibie? Muridnya sendiri, Makmur Makka, lelaki asal Parepare, Sulawesi Selatan, yang menjadi mahasiswa Ohio University pada tahun 1981.

Ketika bercerita tentang Makmur Makka, mantan pemred harian Republika, ia menjadi sangat serius. Di tas ransel kecil yang selalu dibawanya, ia memperlihatkan beberapa foto. Ternyata, ia membawa-bawa foto Makmur Makka dan keluarganya yang memakai pakaian Bugis. Ia berkata bahwa Makmur bukan sekadar murid  baginya.

“Saya menganggap Makmur sebagai keluarga saya. Dia yang membuka banyak pintu ketika saya ke Indonesia. Salah seorang keluarganya datang belajar ke sini, kemudian saya rekomendasikan untuk lanjut program doktor ke Texas, kampung halaman saya. Di sana, ia bertemu ibu saya,” katanya.

Hari ini, saya belajar kembali tentang makna hubungan seorang guru dan muridnya. Saya hanya bisa menebak-nebak sedekat apa hubungan mereka. Ketika Makmur Makka datang ke Athens, ia berstatus sebagai mahasiswa yang kemudian belajar pada seorang profesor. Namun siapa sangka jika hubungan itu lalu bertransformasi menjadi hubungan kekeluargaan di mana keduanya saling menjaga silaturahmi, saling mengirim kabar tentang keadaan diri dan keluarga masing-masing.

bersama Prof Don Flournoy

Saya sangat tersanjung ketika Flornoy selalu menembuskan imelnya ke Makmur Makka ke imel saya. Dalam salah satu imelnya, ia berkata seolah ucapan seorang ayah kepada anaknya, “Kamu belum tua. Kamu masih muda. Saya pernah jadi gurumu, dan saya merasa selalu muda.”

Ketika saya wisuda, Prof Flournoy datang menemui saya. Kami saling mengambil gambar lalu berpelukan. Momen-momen seperti ini sering jadi momen yang sangat emosional. Tapi, saya tidak pernah tahu apa yang dirasakannya ketika kami bersama-sama dan saling berpelukan.

Suatu hari, di sela-sela mempersiapkan perlengkapan untuk berangkat, saya mengecek imel. Di situ ada imel dari Flournoy ke Makmur Makka. Tadinya saya pikir imel ini sama dengan imel-imel lainnya. Saat saya mengeceknya, di situ ada foto kami berdua. Ia menulis dengan kalimat yang membuat hati saya basah, “Saya perkenalkan kamu dengan mahasiswa saya di Ohio. Ia bukan hanya mahasiswa. Ia keluarga saya.”


Athens, 9 Mei 2013

Kopi Sumatra, Kopi Termahal di Amerika


kopi Sumatra di Amerika

SORE itu, saya tengah duduk Kafe Donkey, yang terletak di jantung kota Athens, Ohio, Amerika Serikat (AS), sambil menyelesaikan beberapa tugas. Tiba-tiba, seorang wanita dengan rambut pirang datang memesan kopi. Dengan bahasa Inggris, ia berkata kepada pelayan kafe. “Apakah saya bisa memesan kopi Sumatra?” Saya yang duduk tak jauh dari kasir langsung tersentak. What? Kopi Sumatra?

Saya lalu menemui pelayan kafe dan mengajaknya berbincang. Ia bercerita tentang kopi Sumatra sebagai salah satu kopi paling laris di Athens. Ketika saya tanya, apakah ia tahu di mana letak Sumatra? Pelayan itu langsung mengatakan Indonesia. Ia lalu bercerita bahwa kafe itu mendatangkan kopi organik dari beberapa komunitas petani di Aceh. Mantap.

Kopi Sumatra memang telah lama menjadi salah satu komoditas paling laris di Amerika yang dikenal sebagai negera dengan tingkat konsumsi kopi terbesar. Anda bisa bayangkan, satu dari tiga warga Amerika adalah peminum kopi. Dikarenakan kopi hanya bisa tumbuh dari negara-negara yang terletak di sekitar khatulistiwa, maka hampir setiap tahun, pihak pengusaha AS mengimpor kopi dari beberapa negara-negara yang terletak di sekitar khatulistiwa. Urutan terbesar kopi didatangkan dari Brazil, Colombia, selanjutnya Vietnam, Meksiko, Guatemala, dan Indonesia.

Lantas, apa yang membedakan kopi Sumatra dengan kopi negara lain? Ternyata kopi Sumatra adalah kopi termahal. The Guardian melaporkan kopi luwak asal Sumatra sebagai kopi termahal di dunia. Mereka juga melaporkan perbandingan harga kopi Sumatra dengan kopi asal Brazil. Ternyata, harga kopi Sumatra masih lebih mahal. Pantas saja jika kopi ini menjadi favorit bagi warga Athens Ohio.

Tadinya saya tidak percaya dengan fakta-fakta ini. Namun saat menelusuri beberapa kafe di kota kecil ini, saya menyaksikan selalu ada informasi tentang kopi Sumatra. Di Kafe Whits yang terletak tak jauh dari Donkey, saya menyaksikan label tentang kopi Sumatra yang dicampur dengan kopi Kolombia. Saat singgah di Starbucks, informasi tentang kopi Sumatra juga dipajang demi untuk menjaring pelanggan. Bahkan di beberapa pusat perbelanjaan, seperti Walmart, kopi Sumatra juga menjadi komoditas yang laris.

kopi Sumatra di Kafe Whit's
kemasan kopi Sumatra di Walmart

Menurut beberapa warga Amerika yang saya tanyai, kopi Sumatra menjadi favorit karena memiliki cita rasa yang berbeda. Kopi-kopi asal Indonesia seperti kopi Sumatra, kopi Jawa, atau kopi Toraja dikenal berharga mahal serta identik dengan cita rasa berkelas.

Nasib Petani

Mulanya, saya sangat bangga ketika mendengar popularitas kopi asal Indonesia di Amerika. Namun, saya juga miris saat membayangkan nasib para petani kopi di tanah air. Nasib para petani amat kontras dengan nasib kopi yang ditanaminya, dan kemudian mejadi komoditas paling mahal di negara lain.

Dua tahun silam, saya beberapa kali bertemu petani kopi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang bercerita tentang harga kopi yang terus jatuh di tanah air. Kata mereka, harga kopi di tingkat petani hanya berkisar sekitar Rp 3.500 hingga Rp 4.000 per kilogram. Padahal di Amerika, secangkir kopi bisa dihargai hingga lima dollar atau sekitar Rp 45.000 (dengan asumsi 1 dollar sama dengan Rp 9.000). Anda bisa bayangkan, jika satu kilogram kopi bisa diolah hingga berpuluh cangkir, maka berapakah keuntungan yang didapat para pengusaha kopi di kedai Starbuck?

Saya merasa penasaran mengapa harga kopi demikian rendah di kalangan petani. Belakangan, saya menyadari bahwa sebelum tiba di Amerika, kopi telah menempuh perjalanan panjang dan berpindah-pindah. Petani menjualnya ke para kolektor, kemudian kopi berpindah ke pedagang kecil, setelah itu berpindah ke pihak ketiga, kemudian dijual lagi ke pedagang besar, yang selanjutnya diekspor ke perusahaan multi-nasional. Jika pindah ke banyak tangan, pantas saja jika kopi itu jadi sangat mahal.

Saya juga melihat bahwa permainan harga itu banyak disebabkan oleh perusahaan multinasional seperti Starbucks, Kraft, Nestle, Sara Lee, serta Procter & Gamble. Mereka datang ke petani, lalu membeli dengan harga murah, kemudian menjualnya ke manca negara. Beberapa perusahaan multi-nasional mengejar untung berlipat-lipat dengan cara mendatangi langsung para petani. Mereka juga yang mengatur untuk harga beli kopi di kalangan petani.

Ironisnya, para petani tak pernah punya kuasa untuk menentukan harga. Harga kopi dunia ditentukan oleh organisasi International Coffee Agreement (ICA) yang bermarkas di New York dan London. Organisasi ini yang menentukan harga, mengatur kouta perdagangan, serta segala hal menyangkut kopi. Bukankah mata rantai perdagangan ini menjadi sangat kejam ketika nasib 50 juta petani kopi dunia hanya ditentukan oleh segelitir orang di New York dan London?

Harapan di Kafe Donkey

Di tengah fakta miris tentang nasib petani kopi itu, saya tiba-tiba menemukan rasa optimisme di kafe Donkey. Kafe ini didirikan oleh aktivis bernama Chris Pyle yang mengusung misi social justice. Saat berbincang dengannya, ia menjelaskan bahwa para aktivis di Amerika menyadari benar betapa kejamnya mata rantai perdagangan kopi bagi petani. Mereka lalu berjejaring, menyebarkan informasi, lalu membangun gerakan sosial dengan cara-cara sederhana.

Mereka menolak untuk membeli kopi dari para importir kakap. Mereka membangun jaringan dengan organisasi Dean’s Bean serta TransFair USA yang kemudian mendatangi langsung para petani lokal, memberikan harga tinggi bagi petani, kemudian kopi tersebut lalu disebarkan ke beberapa kafe yang mengusung misi yang sama, sebagaimana Donkey. Kata Chris, jangan pernah mau membeli kopi dengan harga murah, sebab petani bermandi peluh demi segelas kopi itu.

kafe Donkey di Athens, Ohio
kopi Sumatra di kafe Donkey

Misi kafe yang didirikannya adalah Caffeine with Conscience diterjemahkan dengan cara membeli mahal semua produk dari petani lokal, kemudian dijual di kafe itu, lalu ampas kopi akan dikembalikan kepada petani untuk menjadi pupuk organic. Sistem kerja jaringan seperti ini diharapkan bisa memutus alur perdagangan yang tak adil itu.

Chris membuka pintu-pintu kesadaran saya tentang apa yang sedang terjadi. Ketika mengingat sistem perdagangan internasional, saya merasa geram. Saya membayangkan sebuah gurita yang membelit para petani hingga tak berdaya. Akan tetapi, ketika mengetahui langkah-langkah kecil perlawanan dari mereka yang berdiam di kafe ini saya menjadi sangat optimis. Meski dampak mereka tak seberapa besar bagi petani secara keseluruhan, tapi langkah itu menunjukkan bahwa ada setetes embun di tengah kegersangaan berita tentang para petani kopi.

Di Kafe Donkey itu, mata saya membuka. Saya melihat lebih terang tentang satu hal yang tadinya tak terlintas di benak. Saya banyak belajar dari diskusi di kafe ini, yang kemudian menginspirasi saya untuk melakukan hal serupa.

Barangkali, perubahan tak akan pernah lahir dari pembicaraan yang dilakukan di hotel-hotel berbintang atau dari ruang-ruang akademik yang penuh target dan seremoni. Perubahan selalu dimulai dari langkah-langkah sederhana yang didasari hati bening serta pikiran jernih untuk menghadirkan senyum di wajah orang lain.  Dan itu yang saya temukan di kafe itu; Kafe Donkey.


Athens, 5 Mei 2013

BACA JUGA:













Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...