Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

PEGGY GISH; Setetes Embun di Kota Athens

Peggy Gish dan Prof McGinn saat berdemonstrasi di Court Street

DUA tahun silam, saya melihat wanita itu berdiri di depan Court House di Athens, Ohio, sambil membentangkan poster yang bertuliskan "It's a lie that the war is protecting us". Di tengah terik yang menyengat, ia memperlihatkan poster itu kepada semua pengguna jalan. Di sebelahnya, seorang lelaki tua juga memegang poster yang bertuliskan “Prevent Future Wars.”

Seminggu berikutnya, saya kembali melihat pemandangan yang sama. Bahkan dua minggu sesudahnya. Ternyata, wanita itu selalu melakukan hal yang sama di setiap minggu. Dan sering, ia melakukannya bersama pria itu. Ketika saya mem-posting foto mereka di jejaring sosial, seorang warga Athens tiba-tiba menginformasikan kalau lelaki tua yang memegang poster itu adalah Professor McGinn, seorang warga Amerika yang mencintai Indonesia dengan sepenuh hati. Tapi siapakah wanita tua bermata teduh itu?

Suatu hari saya menghadiri acara piknik yang diadakan oleh komunitas interfaith atau dialog antar-iman di Athens. Di acara ini, banyak pemuka agama Kristiani, Yahudi, serta Islam yang hadir dan saling berkenalan. Saya sempat berbincang dengan seorang pendeta, yang dengan cueknya menyebut petugas imigrasi Amerika sebagai “ridiculous and stupid” saat saya bercerita tentang pengalaman di Bandara Detroit yang sempat ditahan imigrasi hanya karena nama depan saya adalah Muhammad.

Saat perbincangan itu, saya melihat wanita tua yang selalu memegang poster di Court Street. Saya lalu mendekat dan berkenalan. Kebetulan, ia sedang bersama Yojo Surjana, seorang warga Indonesia. Tahulah saya bahwa perempuan itu adalah Peggy Gish. Saya juga diceritakan kalau ia adalah istri dari almarhum Art Gish, seorang pemeluk Kristen yang juga menjadi aktivis perdamaian. Dikisahkan pula kalau Art pernah berkunjung ke Indonesia.

Beberapa tahun silam, saya pernah membaca buku Art Gish yang berjudul Hebron Journal, terbitan Mizan. Catatan Art Gish adalah kesaksian langsung dari seorang yang menyaksikan peperangan yang meluluhlantakkan Palestina. Art berbeda dengan para akademisi yang menulis peperangan hanya berdasarkan riset pustaka serta tak pernah melihat perang. Para akademisi itu hanya berada di tepi atau pinggiran. Art Gish masuk ke dalam kancah peperangan. Dengan penuh keberanian, ia menghadapi tank lapis baja Israel dengan mata tak berkedip demi melindungi rakyat Palestina. Ia membuka mata orang-orang bahwa perdamaian adalah sesuatu yang amat mulia, sebagaimana mulianya wahyu dalam kitab suci. Dan ia membumikannya lewat aksi heroik.

Art Gish dan Peggy Gish

Sayang sekali, saya tidak sempat bertemu dengan Art Gish. Ia telah meninggal dunia beberapa tahun sebelum saya tiba di Athens. Konon, ia meninggal akibat akibat kecelakaan saat sedang bertani organik. Namun saya amat beruntung sebab bisa bertemu dengan istrinya, perempuan bermata teduh yang setiap minggu akan memegang poster anti perang di Court Street. Sebagaimana suaminya, Peggy adalah aktivis perdamaian yang tinggal di Irak. Ia juga mendokumentasikan pelanggaran HAM yang dilakukan tentara AS. Di saat melihat dirinya, saya bertanya dalam hati, bisakah cinta mengalahkan kebencian? Bagi Peggy, jawabannya adalah bisa. Ia telah membuktikannya. Ia merasakan bagaimana diculik oleh militer AS. Ia menunjukkan bahwa cinta kasih adalah embun yang bisa memadamkan segala api amarah yang menyala-nyala.

Pada pertemuan itu, ia lebih banyak mendengarkan. Kami bercerita pengalaman. Ia hanya sesekali tersenyum. Saat bercerita tentang pengalamannya di Irak, ia terdiam sesaat lalu berkisah bagaimana perasaannya saat berada di satu kota yang dijatuhi bom. “Saya bersama mereka saat bom jatuh dan menghancurkan kota. Saya ketakutan sambil bertanya, di manakah kau Tuhan? Apakah Kau sedang bersama mereka yang menderita di peperangan ini?”

Kami tak lama berbincang. Sepulang dari acara itu, saya lalu mencari beberapa informasi tentang Peggy. Bersama suaminya, ia menjadi relawan pada Christian Peacemaker Teams sejak Oktober 2002 di Irak. Ia menjalani banyak profesi, tak hanya sebagai seorang ibu, namun juga sebagai nenek, petani organik, mediator komuitas, instruktur pelatihan manajemen konflik, hingga pernah memimpin Applachian Peace and Justice Network di Athens. Ia juga menulis sebuah buku yang berjudul Iraq: a Journey of Hope and Peace (Herald Press, 2004) yang mengisahkan pengalamannya saat berada di Irak.

Bersama almarhum suaminya, Peggy adalah seorang pejuang anti-kekerasan. Ia adalah anggota Church of the Brethern, yang beraliran pasifis dan meyakini bahwa semua perang adalah dosa, dan juga meyakini bahwa Yesus memerintahkan untuk memaafkan semua musuh. Saya pernah mendengar cerita bahwa pada masa perang Vietnam, banyak anggota jemaat ini yang menolak wajib militer dan memilih dipenjara.

Gereja Berthen ini memiliki tradisi yang sama dengan orang-orang Amish. Mereka tidak merokok, juga tidak dibolehkan meminum alkohol, serta tidak menyekolahkan anak di sekolah sekuler. Pantas saja, ketika melihat foto Art Gish, saya serasa melihat gambaran seorang lelaki Amish yang bertani organik dan menolak penggunaan teknologi.

Peggy Gish dalam satu diskusi

Pengalaman berbincang dengan dirinya membuka mata saya lebih lebar. Di tanah air, saya sering melihat warga Amerika dengan cara pandang tunggal bahwa semuanya sesuai karakter yang diwartakan televisi atau media, atau diteriakkan sekelompok orang. Di tanah Athens, saya menemui manusia-manusia seperti Peggy yang melihat orang lain tidak berdasarkan pada asal-usul, agama, atau materi yang dimiliki seseorang. Mereka melihat manusia sebagaimana adanya. Kesadaran kemanusiaan telah merasuk dalam sukma mereka, lalu menjelma sebagai sikap yang ramah, menghargai siapa saja, membela perdamaian, dan menentang kezaliman.

***

HARI ini saya janjian untuk bertemu Peggy di Alden Library. Ia hendak menyerahkan buku yang kelak akan saya bawa ke Indonesia. Ketika mengirim pesan lewat email, ia mengingatkan bahwa hari ini adalah hari Jumat. Ia juga mengingatkan agar saya tidak meninggakan salat Jumat. Saya amat tersentuh dengan pesannya yang amat bijak.

Seorang sahabat di Islamic Center bercerita bahwa suami Peggy adalah seorang muslim. Buktinya, ia selalu hadir untuk salat Jumat bersama-sama. Di bulan Ramadhan, ia juga berpuasa, serta tak pernah absen salat Magrib, Isha, dan Tarawih. Namun, seorang warga Athens juga bercerita kalau Art Gish juga seorang Yahudi yang tak pernah absen saat ibadah di sinagog. Ia juga masih seorang Kristen yang rutin hadir di gereja.

Saya menangkap pesan universal dari berbagai informasi itu. Bagi orang seperti Art dan Peggy, agama adalah sebuah jalan keselamatan. Ketika membaca buku Art Gish yang berjudul Muslim, Christian, and Jew (2012), saya menemukan kalimat menyentuh hati bahwa ia menemukan rasa keimanan yang kuat saat berada di masjid, gereja, atau sinagog. Ia menemukan rasa hayat ketuhanan, satu rasa yang membuat seseorang merasakan kehadiran kekuatan maha dashyat yang kemudian membuat seseorang merebahkan dirinya pada Sang Pencipta.

saat di Court Street

Jika Peggy dan suaminya mendiskusikan hal yang sama, pantas saja jika Peggy melihat kesadaran kemanusiaan sebagai sesuatu yang melampaui kesadaran sempit tentang agama sebagai kategori sosial yang membeda-bedakan manusia. Ia telah menemukan satu jalan, yang kemudian membuat dirinya sebagai embun yang mengatasi dahaga akan spiritual serta dahaga untuk menemukan kebenaran lewat sikap dan tindakan terpuji.

Hari ini saya akan bertemu Peggy. Saya amat bahagia bisa bertemu salah satu orang baik yang juga menjadi embun kebaikan bagi sebagian orang di Athens. Saat sedang menunggu sambil merenung, ponsel saya tiba-tiba berbunyi. Ada pesan masuk. Ternyata, Peggy mengirimkan pesan yang berbunyi, “Apakah kamu sudah selesai salat Jumat? Jika sudah, saya akan segera menuju ke situ.”



Athens, 28 April 2013
www.timur-angin.com

Mitos-Mitos Para Pencari Beasiswa Amerika


saat berada di depan Capitol Hill di Washington DC

SESEORANG tiba-tiba saja menyapa. Ia mengajak diskusi tentang sekolah di luar negeri. Ia bertanya banyak hal. Ia tidak membahas tentang tema-tema riset terbaru atau perkembangan dalam satu bidang. Ia bertanya, tentang apakah dirinya bisa mencari kerja tambahan di luar negeri? Apakah dirinya bisa membawa pulang banyak uang setelah belajar?

Gara-gara tulisan di blog ini, saya sering mendapat pertanyaan dari para pencari beasiswa. Banyak pertanyaan yang lucu dan ajaib. Anehnya, rata-rata meminta informasi tentang link atau jaringan tentang beasiswa. Dipikirnya, saya tahu banyak tentang jenis-jenis beasiswa. Yang juga aneh, seseorang di ujung Sumatera mengirimkan email tentang dirinya yang harus menanggung keluarganya sejak kecil, serta harapan agar bisa keluar negeri demi meningkatkan harkat dan martabat keluarga. What?

Berdasarkan banyak pertanyaan yang diajukan orang-orang, saya mencatat ada sejumlah kesamaan ataupun anggapan dari para pencari beasiswa tentang studi di luar negeri. Baiklah. Marilah kita mendiskusikannya satu per satu.

Pertama, banyak pencari beasiswa yang mengira bahwa belajar di luar negeri adalah jalan pintas untuk kaya-raya. Mereka pikir bahwa dengan keluar negeri, pasti akan membawa banyak uang, sehingga kelak akan beli rumah, tanah, mobil, atau apa saja. Anggapan ini tak selalu benar. Malah sering salah. Beberapa teman yang belajar di Australia setahu saya, pulang membawa banyak duit. Namun ini tak bisa digeneralisir. Untuk negara seperti Amerika Serikat (AS), anggapan ini jelas salah besar.

Jumlah beasiswa untuk satu orang terbilang pas-pasan. Berdasarkan observasi saya pada penerima beasiswa, jumlah yang diterima hanya pas untuk bertahan hdup selama sebulan. Separuh dari biaya bulanan, akan habis untuk biaya apartemen. Jika membawa keluarga, sebagaimana saya, maka jumlah pengeluaran pasti akan bertambah. Konsekuensinya adalah mesti hidup dengan biaya pas-pasan. Boro-boro mau jalan-jalan dan lihat keindahan negara bagian lain, untuk makan saja sering harus masak indomie. Simpanan? Hmm. Jika makan susah, apa masih bisa menabung?

Mungkin, ada juga yang berhasil menabung. Namun biasanya ini dilakukan mereka yang luar biasa ketat dalam hal anggaran. Mereka rela hidup sangat pas-pasan di negeri orang demi untuk membawa duit. Maafkan. Saya tidak dalam posisi demikian. Saya tak ingin memberikan makanan yang pas-pasan demi anak kecil saya hanya demi membawa uang ke tanah air.

Kedua, mitos tentang kerja sambilan. Banyak yang mengira bahwa di Amerika, pasti mudah mendapatkan kerja sambilan dengan gaji tinggi, kemudian hidup kaya. Benarkah? Lagi-lagi ini salah. Soal kerja sambilan selalu tergantung pada tinggal di kota mana. Tak semua tempat memilii banyak lowongan kerja. Kalaupun ada lowongan, biasanya akan diprioritaskan pada warga Amerika, bukan warga internasional. Ini yang sering menjadi dilema sehingga kerja sambilan jadi sulit. Di tengah kondisi pengangguran di Amerika yang mencapai angka 7 persen, akan sangat sulit menemukan lowongan yang tidak diserbu warga setempat yang menganggur.

Bagi mahasiswa internasional dan penerima beasiswa, hal yang juga jadi masalah adalah jenis visa J1 yang tidak membolehkan pemegangnya untuk mencari beasiswa. Jika ketahuan, maka sponsor beasiswa pasti akan memotong beasiswa. Sponsor beasiswa pasti tahu sebab semua pengeluaran dan pemasukan akan dicatat rekening, sekaligus laporan pajak. Mungkin bisa sembunyi-sembunyi, namun cara ini jelas berisiko. Nah, apakah masih sempat bekerja sambilan?

di kampus Ohio University

Ketiga adalah mitos tentang jalan-jalan. Banyak yang mengira bahwa ketika menjadi mahasiswa di Amerika, maka akan berkesempatan untuk keliling kota-kota besar yang dahulu hanya bisa dibayangkan. Benarkah? Menurut saya, anggapan ini tak selalu benar. Ada dua hal yang mesti diperhatikan setiap kali akan melakukan perjalanan. Pertama adalah waktu, dan kedua adalah uang.

Berdasarkan pengalaman saya, waktu luang adalah sesuatu yang amat mahal bagi seorang mahasiswa pasca-sarjana. Ketika kampus Ohio University menerapkan sistem quarter, mahasiswa tak punya banyak waktu luang. Biasanya, penerima beasiswa punya batas minimum kredit mata kuliah yang diambil.

Dengan sistem kuliah didesain dengan sangat ketat, maka hari-hari seorang mahasiswa pasca-sarjana adalah membaca buku, artikel, menulis paper review, menyiapkan presentasi di kelas, menyiapkan bahan diskusi, serta menulis paper akhir. Semester ini, waktu luang saya hanya ada di hari Sabtu dan Minggu. Itupun, ketika masuk hari Minggu, saya akan mulai deg-degan karena harus menyelesaikan tugas untuk seminggu berikutnya. Nah, jelas saya tak sempat memikirkan jalan-jalan.

Cara murah biasanya adalah melakukannya bersama teman-teman. Kita bisa menghemat sewa hotel serta biaya perjalanan. Cara ini bisa dilakukan. Namun, cara ini tak bisa dilakukan tiap saat. Dikarenakan semua orang sibuk, biasanya hanya bisa dlakukan saat libur jelang semester. Itupun waktu jalan-jalan hanya bisa empat atau lima hari. Jika lebih dari itu, saya memilih untuk tidak keluar kota. Saya membayangkan rasa lelah serta butuh waktu untuk memulihkan tenaga demi menghadapi kuliah.

Keempat adalah mitos bahwa kondisi di luar negeri akan lebih menyenangkan ketimbang di tanah air. Menurut saya, ini adalah hal yang keliru. Luar negeri tak selalu nyaman sebab kita harus beradaptasi dengan segala situasi. Ketika salju pertama turun, saya sangat senang dan tak bosan-bosan menyentuh salju. Saya suka heran-heran melihat ada butiran es halus yang turun dari langit. Namun setelah lewat dua minggu, musim salju mulai jadi mimpi buruk. Di tengah cuaca yang beku, harus bergegas menuju kampus lalu tinggal di perpustakaan demi tugas. Salju membuat mobilitas terganggu. Setiap keluar mesti memakai baju setebal astronot, lalu menahan dingin sembari mengoleskan krim di bibir. Salju jadi mimpi buruk. Biasanya, saat salju turun, saya lalu membayangkan betapa nyamannya di tanah air yang setiap saat musim panas.

saat di depan White House di Washington DC

Kita juga mesti adaptasi dengan makanan. Semua mahasiswa yang belajar di luar negeri punya ketergantungan dengan makanan beku. Jenis-jenis ikan, daging, atau ayam mesti dibekukan biar bisa diolah kapan saja. Saya termasuk pihak yang tidak cocok dengan jenis-jenis makanan di sini. Saya hanya cocok dengan ikan, itupun ikan di sini tak sesegar di tanah air. Lagian, ikannya hanyalah ikan air tawar.

Keempat adalah mitos hidup tenang karena semua terjamin. Pada uraian di atas, saya sudah menjelaskan semuanya. Saya juga khawatir dengan biaya kesehatan di Amerika. Anak saya pernah dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Saktnya bukan termasuk sakit parah, hanya sedikit infeksi telinga. Dokter menyuruh membeli antibiotik yang murah. Anak saya hanya 10 menit di rumah sakit. Sebulan kemudian, datang tagihan untuk membayar 300 dollar untuk rumah sakit, dan 600 dollar untuk dokter. Jika ditotal, tagihannya adalah sebesar 900 dollar atau kira-kira sebesar sembilan juta rupiah. Padahal, di tanah air, sakit seperti itu hanya cukup dibawa ke Puskesmas, dan tak harus bayar.

***

Saya mencatat banyak mitos. Namun cukuplah empat argumentasi yang dibahas di atas. Setelah dua tahun di Amrika Serikat, saya berkesimpulan bahwa tinggal di luar negeri tak seindah yang diangankan para pencari beasiswa. Butuh daya tahan, kesabaran, serta ketekunan untuk menyelesaikan studi.

Yang tak kalah penting adalah mesti ada keikhlasan untuk menjalani semuanya sebagai ujian untuk pematangan jiwa. Tanpa melihatnya sebagai sesuatu yang mengayakan batin, maka semua tantangan itu bisa menjadi beban. Yang pasti, belajar di luar negeri sangat baik untuk melatih mental agar tahan banting menghadapi semua masalah. Melatih diri agar tidak cengeng menghadapi masalah. Sekian. Tabik!


Athens, Ohio, 27 April 2013

Lelaki yang Memahami Tumbuhan



Di Athens, Ohio, saya mengenali pria ini sebab sering berada di sekitar kampus. Namanya tidak seberapa saya ingat, akan tetapi beliau saya kenali karena sering bermain music di tepi-tepi jalan, sangat ramah dan suka tersenyum. Beberapa hari silam, saya lama berbincang dengannya. Tahulah saya kalau beliau seorang florist atau naturalist yang sangat mencintai lingkungan.

Ia mengantar saya dan beberapa orang teman untuk mengelilingi kampus. Ia lalu menjelaskan jenis-jenis tumbuhan yang ada serta makna dan khasiat tumbuhan tersebut. Pengetahuannya luas sebab ia bisa mengaitkan tumbuhan itu dengan legenda atau cerita rakyat. Ia memahami sejarah lokal serta tradisi bangsa Indian di sekitar Ohio, serta pengetahuan bangsa Indian akan tumbuhan.

Ia bersahabat dnegan tumbuhan serta alam semesta. Ia menyebut tetumbuhan sebagai anak-anak semesta yang ditumbuhkan oleh bumi. Dan sebagaimana halnya tumbuhan, manusia pun adalah anak semesta. Sayangnya, manusia sering arogan dan memandang diri lebih unggul dari tumbuhan tersebut. Padahal, manusia dan tumbuhan punya derajat sama. Semuanya sama-sama anak semesta yang semestinya mencintai semesta.

Sahabat ini mengantarkan saya pada pahaman bangsa Indian tentang tumbuhan. Ia amat mencintai pengetahuan lokal. Mungkin, kecintaan pada pengetahuan lokal itulah yang membuatnya tak ingin belajar pengetahuan modern di kampus. Meski sering di sekitar kampus, ia bukanlah mahasiswa. Ia menyenangi atmosfer sekitar kampus sebab suasananya sangat internasional serta menjadi tempat pertemuan berbagai mahasiswa internasional. Kepada mahasiswa internasional itu, ia menawarkan persahabatan serta pertemanan, juga keikhlasan untuk berbagi pengetahuan.

Minggu lalu, ia mengajarkan saya tentang pengetahuan akan tumbuhan. Sayangnya, saya belum pernah mengajarkan apapun kepadanya. Padahal ingin sekali saya ceritakan padanya tentang negeri saya yang dahulu diremuk oleh kolonialisme, namun kemudian bangkit, dan hingga kini masih berjuang untuk lepas dari belenggu keterbelakangan.

Kelak, pada saatnya, saya akan menceritakan tentang negeri-negeri yang jauh dan belum pernah disaksikannya.

Article Review: The game changer: Coping with China’s foreign policy revolution (2010)


Author: Elizabeth C Economy




In 2010, an incident occurred between the Chinese and Japanese. A Chinese ship along with the captain, Zan Qishiong, was detained by Japanese authorities because they were near uninhabited islands in the South China Sea. Japan had insisted that the Chinese man would be prosecuted. The Chinese official government threated Japan that they will terminate the supply of rare earth minerals that would have an impact on the demise of the industrial technology in Japan.[1]
            Some analysts interpreted the Chinese government provocative reaction to Japan as a sign of rising Chinese aggressiveness and arrogance that came with its growing military and economic capability.[2] The incident was a warning that the Chinese began to show strength and began to threaten other countries due to the economic and military progress. China began proclaiming himself to be an important player in the international world.
            The article The Game Changer: Coping with China’s Foreign Policy Evolution that was written by Elizabeth C. Economy explained that China began to evolve. As a country with second largest economic power, China began to change their passive approach to be more active. This article provides empirical evidence that China has certainly risen up and become a major global economic power: in only three decades, it has transformed its economy into the world's second largest exporter, and largest provider of loans to the developing world.
            The author discusses the idea of ​​revolution, either from within and outside. The revolution was started from inside through the vision of Chinese leader who wanted to transform the economy. Now, China wants to export the idea of revolution to the outside world. In order to support the rise of China in a soft way, China did a few strategies. Until 2011, Beijing spent was about five billion euros for the development of foreign media. Most of the money was spent for English-language television stations under the Xinhua News Agency, "Global Times" which was launched in April 2010.
            While most scholars focused to see Beijing’s weak “attractiveness” in areas such as human rights and their authoritarian political system, the author of this article observes the inside perspective about how Beijing’s management of soft power created a proactive agenda setting ability that allows it to achieve much more important goals at the strategic level. This article also gives recommendations on the important role that can be taken by the United States (U.S.). However, I noted several interesting things to discuss.
            First, this article does not offer a new perspective about China. Predictions about the rise of China have been widely voiced by many political scientists. Samuel Huntington in his book The Clash of Civilization also predicted the future conflict that was marked by the rise of China. Although Huntington's book is considered to be inadequate to explain the current reality, it has been predicted that China will be a major force that will ally with Russia and Islamic countries, and then face off with the U.S.[3]
            Second, this article states that the architect of China's economic progress is Deng Xiaoping in the late 1970s. The desire to be a superpower country rests on this nation's great history as an empire that was ruled for over 5000 years. This pride can be the basis of nationalism and a key element of Chinese people in order to regain superpower status.
            As noted by Zhang (2012), China's rise is the result of a zhenxing zhonghua philosophy that was started Sun Yat Sen, the founding father of modern China. The founder of modern China saw China's economy was too weak to support the superpower status. That's why China's economy must be built strong to restore the glory.[4]
            Third, this article does not provide a detailed mapping of the hard power and soft power of China. In fact, the approach of hard power and soft power has become a benchmark for the Chinese government to synergize economic growth and military power. As widely known, the concept of soft power, a non-coercive agenda-setting ability, was originally coined and popularized by Joseph Nye (2005). In recent years, soft power has drawn increasing attention among academics. The term also appears with higher frequency in the speeches of more and more global political leaders who uniformly call for their countries to make greater efforts to cultivate and enhance their soft power.[5]
            It is interesting to see how Beijing maintains soft power and hard power. China's hard-power assets have become significantly stronger, as evidenced by its expanded economy and foreign currency reserves, impressive space programs, and rapidly modernizing weapon systems. These developments have engendered widespread anxieties about China's true intentions and willingness to continue with past policies. In particular, a series of events involving China since 2009 have given rise to wide speculation that Beijing is discarding its past "smile diplomacy" and is becoming increasingly aggressive.[6] The soft power will improve our understanding of China’s development, its future intentions, and possible changes in Chinese foreign policy that may impact the lives of billions of people, inside and outside China.
            Fourth, this article only sees positive aspects, without noticing several negative aspects that can be generated by China. South Asia and Southeast Asia in general assume that China has territorial ambitions. Some African countries also began to doubt the Chinese government's agenda.

            
I noted several disputes concerning China including: (1) disputes in the South China Sea. China has a conflict with almost all countries of Southeast Asia that are related to claims over the Spratly and Paracel Islands. While the negotiations have not reached common ground, China has put its military in the region. (2) The territorial conflict between China and India plus Southeast Asian countries. The conflict was triggered when China government released a map which includes Vietnam, the Philippines, and India. (3) China-Japan dispute. In 2010, Chinese fishing vessels entered Japanese waters. When Japan arrested some of the fisherman, China’s reaction threatened to embargo Japan. (4) Conflict with Myanmar. The conflict arose when the leader of Myanmar's military junta tried to break away from dependence on China. (5) Potential conflicts with some African countries. When China approached Africa, all African countries welcomed China. Now, many Africans begin to complain. The projects were built by Chinese companies, supervised by a Chinese company, assessed by a Chinese company, and audited by a Chinese company without benefit to any African countries.
            With various political developments that occurred, some developing countries began to turn to the west, including the United States. Western countries could be a force to counterbalance China's dominance, while maintaining the stability of the region. Lastly, I agree with the conclusion of the authors that the United States (U.S.) must continue to assert its own ideals and strategic priorities and continue to work closely with other like-minded nations. This initiative has been pursued by several Southeast Asian countries who invited the United States to establish military bases on its territory. Although in the future this strategy could be a problem, this option is considered appropriate for this moment.




[1] For detail explanation, see Paul Krugman’s article: http://www.nytimes.com/2010/10/18/opinion/18krugman.html
[2] Blumentghal, D (2011) “Riding a tiger: China’s resurging foreign policy aggression.” Foreign Policy, April 15, at http://shadow.foreignpolicy.com
[3] Huntington, S (1996) The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order. New York, Simon & Schuster.
[4] Zhang, Wanfa (2012) Has Beijing Started to bare Its Teeth? China’s Tapping of Soft Power Revisited. In Asia Perspective 36, 615-639
[5] Nye, Joseph (2005) “The Rise of China’s Soft Power.” Wall Street Journal, Dec 29
[6] Lee, john (2010) “The End of Smile Diplomacy?” National Interest, September 23, at http://nationalinterest.org

Melihat Perahu Bugis di Amerika


perahu Bugis yang dipamerkan di Alden Library, Athens, Ohio

PRIA itu memperlihatkan beberapa replika perahu layar Bugis yang terbuat dari kayu. Ia menjelaskan jenis perahu, makna, serta filosofi di balik pembuatan perahu. Ia lalu menguraikan tentang keperkasaan para pelaut Bugis ketika membaca perbintangan, menafsir semilir angin, hingga membaca gelombang samudra. Jangan terkejut. Pria itu bukanlah seorang Bugis. Ia bernama Gene Ammarell, warga negara Amerika yang sangat menguasai dunia navigasi orang Bugis.

Seminggu silam, bertempat di Alden Library di kampus Ohio University di kota kecil Athens, Amerika Serikat (AS), Gene menjelaskan tentang perahu Bugis pada acara pameran perahu tradisional Bugis. Saat acara tersebut, ia memakai kopiah serta sarung sebagaimana dikenakan oleh tetua Bugis di kampung halaman. Ia menyapa satu per satu semua warga Indonesia serta Amerika yang hadir dalam diskusi itu.

Ia memang sangat ramah. Sebagai profesor bidang antropologi yang memiliki spesialisasi pada kajian Asia Tenggara, Ammarell sangat menguasai topik tentang perahu layar Bugis. Maklum saja, ia menulis disertasi tentang Navigasi Bugis di Yale University at Connecticut Demi penulisan disertasi itu, ia lalu tinggal di Pulau Balobaloang yag terletak di dekat Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Dengan bahasa Inggris ia menjelaskan pengalamannya melakukan riset tentang navigasi serta ketertarikannya untuk belajar navigasi Bugis. Mengapa tertarik belajar tentang Bugis? Ia hanya menjawab satu kata yakni “serendipity” atau kebetulan.

“Sejak dulu, saya tertarik dengan perbintangan dan navigasi. Saya pernah bekerja sebagai relawan di Peace Corps di Malaysia. Kebetulan, saya bertemu seorang kolega yang pernah berlayar dengan perahu Bugis untuk studi post-doktoral. Saya lalu bertanya, apakah orang Bugis menguasai navigasi? Kolega saya berkata Buginese people are good navigators,” tuturnya.

Setelah bercerita tentang pengalamannya, ia lalu mengajak semua orang untuk melihat perahu-perahu. Di perpustakaan yang dikenal sebagai salah satu perpustakaan yang menyimpan koleksi studi Asia Tenggara yang terlengkap di Amerika Serikat, terpajang perahu-perahu Bugis yang berukuran kecil. Perahu itu dibuat oleh penduduk Pulau Balobaloang.

saat Prof Ammarell membuka diskusi
buku Navigasi Bugis

Ammarell lalu menjelaskan jenis-jenis perahu, seperti lambo, bago, dan jolloro. Seorang kawan yang terlahir sebagai suku Bugis hanya bisa terkesima. Ia sendiri tidak paham tentang detail-detail dalam dunia laut orang Bugis. Sementara Ammarell yang terlahir sebagai warga Amerika bisa menjelaskan segala hal dengan amat fasih.

Tak hanya perahu yang dipamerkan di perpustakaan itu. Saya juga melihat jenis-jenis peralatan yang dipakai orang Bugis saat membuat perahu. Saya juga melihat bahan untuk membuat layar, yang setelah saya perhatikan, ternyata terbuat dari nilon, sebagaimana sering dipakai untuk menyimpan beras.

Yang menarik, perahu-perahu itu ditata dengan posisi yang snagat rapi, serta terdapat keterangan tentang jenis serta maknanya. Dengan cara itu, setiap pengunjung bisa belajar banyak hal sambil memperhatikan perahu. Di situ juga terdapat beberapa foto perahu yang digunakan para nelayan di perkampungan Bugis.

Selama ini, saya hanya mengenal perahu Bugis yang disebut phinis yang kemudian menjadi ikon Sulawesi Selatan Namun di ruangan itu, saya belajar tentang banyak jenis perahu yang digunakan oleh para nelayan dan pelaut Bugis untuk berbagai keperluan. Jika hendak memancing, mereka akan jenis perahu tertentu, sedangkan saat berdagang, mereka memakai jenis perahu lain.

Hal yang mencengangkan adalah kemampuan navigasi orang Bugis. Sebagai pelaut, mereka tidak bergantung pada alat modern. Mereka membaca bintang di langit, melihat tanda-tanda alam seperti gelombang, arus laut, serta semilir angin. Seorang pelaut dibekali kemampuan mengenali alam, sebagai pengetahuan yang diwariskan oleh generasi sebelunya. Inilah yang kemudian dicatat Gene Ammarell dalam bukunya.

Saya sempat didera kepenasaranan. Mengapa tertarik mengkaji navigasi Bugis? Apa bedanya dengan navigasi yang digunakan orang barat? Ia menjelaskan dengan kalimat singkat. “Navigasi barat sangat matematis dan tergantung pada alat-alat mekanis seperti Global Positioning System (GPS), kompas magnetik, dan lainnya. Ketika alat itu tidak bekerja, pelaut tidak bisa berbuat apapun. Sedangkan navigasi Bugis mengandalkan bintang, arah angin, cuaca, serta kemampuan membaca laut. Bukankah itu menakjubkan?” katanya.

Kekuatan Tradisi

Di perpustakaan itu, saya hanya bisa terkagum-kagum dengan indahnya tradisi serta pengetahuan nenek moyang yang tersimpan rapi dalam catatan etnografis, dan kemudian mempesonakan bangsa-bagsa lain.

Sejak ratusan tahun silam, nelayan Bugis telah memiliki pengetahuan bagaimana menaklukan ombak, serta membaca semua tanda-tanda alam. Pengetahuan itu sedemikian kaya sebab telah ditempa oleh sejarah yang panjang dan diasah melalui pertautan dengan berbagai bangsa-bangsa besar di dunia.

Pantas saja jika pelaut Bugis bisa berkelana hingga tempat-tempat yang jauh, bisa bergerak mengikuti apa yang dikatakan Raja Gowa, Sultan Alauddin, bahwa “Tuhan menciptakan darat dan laut, maka lautan adalah milik semua orang. Belum pernah saya dengar ada orang yang dilarang karena melayari lautan.”

perahu layar 1
perahu layar 2
 
generasi Bugis termuda yang ikut mengamati diskusi

Maka berkelanalah para pelaut Bugis dan Makassar sejauh kapalnya terbawa angin. Di sepanjang pesisir itu, mereka membangun peradaban, beranakpinak dengan penduduk setempat, dan menyebarkan pengetahuan navigasi yang sangat kaya itu hingga bertahan selama beberapa generasi.

Namun, di ruangan itu, saya juga mengkhawatirkan nasib tradisi yang kini seakan dilupakan oleh bangsa sendiri. Pengetahuan tentang tradisi yang kaya itu secara perlahan mulai tergerus karena ketakjuban kita pada pengetahuan ala barat. Pengetahuan lokal mulai ditinggalkan dan perlahan tersaput angin modernisasi. Mungkin kita terlalu takjub dengan kemewahan artifisial yang dipamerkan orang barat, dan di saat bersamaan kita mengabaikan kekayaan tradisi kita sendiri.

Saya membayangkan bahwa kelak generasi baru Bugis Makassar akan kehilangan kemampuan navigasi serta kapal. Kelak, generasi baru Bugis akan berkelana ke negeri-negeri yang jauh demi untuk mempelajari pengetahuan yang dimiliki oleh nenek moyangnya. Mungkin kelak mereka mesti ke Leiden, atau Ohio demi belajar pengetahuan itu. Di titik ini, saya tak bisa berkata apa-apa. Saya langsung sedih.(*)


Athens, Ohio, 22 April 2013

BACA JUGA:










  

Ironi Kisah Dua Bocah Cilik


Isabella Barrett dan Tasripin

Perkenankan saya untuk bercerita tentang sebuah ironi.

DI negeri Paman Sam, seorang anak kecil bernama Isabella Barret menghabiskan uang sebesar 4,8 juta rupiah setiap kali ke salon. Saat bepergian, ia selalu memilih tinggal di hotel mewah dengan biaya hingga 2000 dollar AS atau sekitar 18 juta rupiah. Ia bermewah-mewah dan bergelimang harta. Ia kehilangan waktu untuk bermain dan belajar di sekolah.

Isabella ibarat boneka barbie yang hidup dalam sangkar emas. Di usia 12 tahun, ia benar-benar menjelma sebagai sosok sebagaimana barbie setelah memenangkan kontes “Toddlers and Tiara”, kontes kecantikan khusus anak-anak yang disiarkan di TV. Orangtuanya membuka jalan restu atas semua kemewahannya. Tak ada edukasi bahwa gaya hidup itu bisa jadi bom waktu baginya di masa depan.

Saat menjadi peserta kontes kecantikan tersebut di tahun 2011, Isabella sudah mengundang kontroversi. Ia menggunakan kostum Julia Roberts di film “Pretty Woman”. Ia memilih kostum seksi saat Julia berlakon sebagai wanita pekerja seks di film itu. Seksikah ia? Mungkin. Tapi banyak penonton yang kemudian sinis melihatnya. Ia dianggap meniru-niru orang dewasa. Ia seolah dikarbit untuk melebihi usianya.

"Bagaimana mungkin aku tak suka jadi miliuner? Aku superstar, aku punya label perhiasanku sendiri dan aku sangat suka jadi bos. Aku tak pernah kalah, aku menang hampir semua kontes kecantikan yang kuikuti. Tapi yang lebih kusukai, aku sangat suka sepatu. Hingga saat ini aku memiliki 60 pasang sepatu," ujarnya pada harian Daily Mirror dengan pongah, sebagaimana dikutip Yahoo.


Ibunya, Susanna, sengaja memanjakannya. Sang ibu khawatir kalau kelak anaknya akan depresi dan hendak membunuh diri. "Kalian lihat kan apa yang terjadi pada Britney Spears? Aku tak ingin itu terjadi pada anakku. Tapi ia memang menyukai barang-barang mewah, jadi ya kita biarkan ia mendapatkannya," katanya.

Uang yang dimiliki Isabella adalah hasil dari label Glitzy Girl yang menjual lipgloss, gelang dan sebagainya. Ide membuat label aksesori dan perhiasan itu datang saat Isabella mengikuti banyak kontes kecantikan. Banyak fans yang menginginkan perhiasan milik gadis cilik tersebut, dan Susanna dengan cerdik mengambil kesempatan itu dan menjadikannya bisnis yang bagus. Dan Isabella lalu menjadi boneka kapitalis yang mnjadikan tubuh kecilnya sebagai lanskap untuk pemasaran produk.

***

Di negeri Banyumas sana, seorang anak usia 12 tahun bernama Tasripin harus hidup sebagai seorang ayah bagi ketiga adiknya. Sebagaimana Isabella, Tasripin juga kehilangan waktunya untuk bermain atau belajar di sekolah. Ia terpaksa menjadi buruh tani dei menghidupi ketiga adiknya. Ia juga berperan sebagai kepala rumah tangga bagi adik-adiknya.

Kemiskinan adalah bencana yang memisahkan anak itu dengan ayahnya. Tasripin membuktikan dirinya sekuat baja. Ia menolak untuk menyerah. Ia berkeras untuk bekerja sebagai buruh tani, yang gajinya ibarat setitik nila pada jumlah uang yang dihabiskan Isabella untuk gaya hidup ke salon.

Di subuh hari, sang bocah telah bangun pagi. Ia menanak nasi di dapur yang lembab. Ketiga adiknya dibangunkan, lalu satu per satu dimandikannya. Setelah itu, ia bersiap-siap untuk kerja sebagai buruh tani yang mengangkut gabah. Lalu ke rumah, demi mengurus adik-adiknya. Di usia sekecil itu, ia adalah seorang pekerja tangguh yang menolak untuk dikalahkan nasib.

Saya sedang memikirkan betapa kontrasnya dunia. Ada yang bermandikan fasilitas, ada pula yang tak berfasilitas. Namun, jika kehidupan adalah proses melalui terjalnya beragam tantangan serta karang-karang persoalan, maka bocah Tasripin itu telah menunjukkan watak seorang petarung yang tak pernah mau kalah.

Tasripin dan ketiga adiknya (foto: Kompas)

Ia seorang prajurit yang bertarung di medan kehidupan demi sesuatu yang luhur, demi mempertahankan hidup orang lain. Ia mempertatuhkan masa depannya demi masa kini. Ia melakukan sesuatu yang besar demi menyelamatkan sesuatu yang kecil. Namun, apakah kita punya tafsiran tentang perkara besar dan kecil dalam kehidupan kita?

Saya juga memikirkan hal yang lain. Bagi saya, potret Isabella dan Tasripin adalah potret dari dua bangsa. Isabella adalah potret kemajuan secara ekonomi, namun miskin secara spiritual. Sementara Tasripin adalah potret matangnya sebuah pribadi, namun terpuruk secara material. Potret Tasripin adalah potret buram dari jutaan anak Indonesia yang masi harus berkelahi dengan nasib.

Selama puluhan tahun merdeka, bangsa kita tak juga merasakan tinggal landas. Jutaan anak harus bekerja sebagaimana orang dewasa, mempertaruhkan masa depan, lalu menggadaikan masa kini. Puluhan tahun bangsa ini lepas dari kolonialisme, negara ini tak juga berhasil mengangkat harkat dan nasib warganya, khususnya mereka yang tinggal di pelosok negeri, yang dipaksa oleh nasib lalu meninggalkan keluarganya.

Inilah negeri yang membiarkan warganya hidup dengan duit yang tak sampai satu dollar dalam sehari. Ketika Tasripin hidup membanting tulag demi seusap nasi, banyak pembesar negeri hidup bergelimang kekayaan dan memperbesar kantung pribadi.Ketka anak kecil 12 tahun itu bekerja untuk hidup, banyak pejabat yang bekerja untuk membangun kemegahan pribadi, dan memakan uang sejatinya diperuntukkan bagi bocah sekecil Tasripin.

Maka menjadi amat lucu ketika presiden Indonesia hanya mau membantu seorang Tasripin, tanpa membersihkan jajarannya sendiri yang menilep uang rakyat kecil, tanpa mampu menghardik wakil presidn yang konon juga memakan uang negara.

Sungguh ironis ketika Tasripin dibantu dengan segala daya oleh presiden, padahal sejatinya, Tasripin yang harus menajari presiden bagamana membanting tulang demi amanah yang dijaganya.

Bagaimanakah dengan kekayaan Isabella? Mungkin kita perlu menunggu beberapa tahun untuk melihat ending kisah ini. Yang pasti, waktu tidak sedang diam. Waktu sedang mencatat.(*)


Athens, 21 April 2013

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...