Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Ode buat Muslinah


ilustrasi

SEBUAH pesan terpampang di jejaring sosial. Seorang sahabat, Muslinah, telah meninggal dunia dengan tenang di Makassar, Sulawesi Selatan. Saya sangat mengenalnya. Saya pernah melalui masa-masa bermahasiswa bersamanya, ketika kami sama-sama hendak mencari jejak kami di rimba kemahasiswaan.

Di masa itu, kampus pernah menjadi tempat para pendekar yang suka menunjukkan kelihaian berkelit atas seliweran badik. Di suatu waktu ketika orang-orang lebih suka dengan hura-hura atau berhamburan ke diskotik, saya kemudian berkenalan dengan banyak anak-anak muda hebat yang mencintai dunia ilmu pengetahuan.

Dari sekian banyak orang itu, saya mengenal Muslinah sebagai satu di antaranya. Di masa itu, kami sama-sama sadar bahwa duduk di koridor kampus Fisip Unhas demi menelaah pengetahuan bukanlah sesuatu yang seksi bagi orang-orang. Tapi, kami sama-sama sadar bahwa upaya untuk mengorek-ngorek jantung pengetahuan mesti terus dilakukan agar mahasiswa tidak terjebak dengan kenyamanan serta birokrasi kampus yang menganggap mereka sebagai gelas yang harus diisi.

Di masa itu, kami semua masih amat muda. Kami masih memelihara satu tunas idealisme bahwa jauh lebih baik menyalakan lilin ketimbang mengutuk keadaan. Maka forum-forum diskusi menjadi jalan keluar bagi kami. Awalnya memang tak mudah. Kami kenyang dengan tuduhan komunis, atheis, hingga membawa-bawa aliran tertentu. Kami juga kebal dengan tuduhan ditunggangi gerakan buruh.

Di masa itu, intelektualitas menjadi mercusuar yang kemudian menjadi cahaya terang ke mana kami bergerak. Bersama sahabat-sahabat yang hebat, generasi Fisip tahun 1995 – 2002, kami membangun tradisi baru yang kemudian berbuah lebat. Hanya dalam tempo beberapa bulan, semua orang tiba-tiba bangga dan ingin jadi anak kajian.

Di masa itu, kami sukses membangun mitos bahwa tidak sah status kemahasiswaan seseorang ketika tidak jadi anak kajian. Tidak pantas seseorang berkeliaran di semua lembaga kemahasiswaan jika tak pernah ikut diskusi, tak punya pengalaman di forum studi, tak pernah menulis di Identitas, atau tak pernah sekalipun berpanas-panas demi demonstrasi dengan jaket merah kebanggan Universitas Hasanuddin.

Muslinah adalah satu dari sejumlah mahasiswi ilmu politik yang amat suka dengan diskusi. Ia termasuk satu dari sedikit orang yang bisa mengurai gender dari aspek filosofis, hingga bagaimana mengoperasionalkan konsep itu di lapangan. Pada masa itu, Muslinah sering bersama beberapa perempuan seperti Sukma atau Dani. Mereka adalah srikandi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang kemudian mewarnai sejarah organisasi itu di kampus Unhas.

Saya tak terkejut ketika mendengar Muslinah menjadi pucuk pimpinan di organisasi perempuan HMI. Ia memang mumpuni dan punya pengetahuan luas. Setahu saya, ia juga seorang periset yang handal. Belakangan, ketika saya memilih karier sebagai jurnalis, ia berkarier di dunia riset dan pergerakan sosial. Ia lalu mengawal lembaga Acsi, yang kemudian jadi kawah candradimuka baginya untuk menempa diri.

Saya mengenangnya sebagai satu orang baik yang kemudian mati muda. Dari sekian banyak sahabat, saya akan mengenangnya sebagai seseorang baik yang pernah mengajari banyak orang untuk menemukan diri. Belakangan, saya semakin menyadari bahwa ilmu pengetahuan tak boleh diperangkap dalam pemikiran seseorang. Ilmu pengetahuan harus menjadi cahaya yang menerangi kegelapan hati orang lain. Lewat cara itulah, Muslinah telah berjihad demi membangunkan banyak orang di kampus bahwa ada cara-cara terang untuk memahami kenyataan.

Dalam satu kesempatan, ia pernah membahas tentang jalan-jalan menggapai kesempurnaan. Kini, ia telah menemukan jalan menyempurna itu. Ia telah mengalami penyatuan dengan Yang Maha Sempurna, sesuatu yang lama dirindukan para sufi-sufi yang mewariskan jejak cahaya di pekatnya ketiadaan pengetahuan.

Hari ini, saya mendengar berita tentang kepergian Muslinah. Saya mnundukkan kepala dan merapal mantra ke udara. Semoga Yang Maha Mengenggam tak pernah melepaskan genggaman kepadanya di alam sana.

Selamat jalan sahabat!

Malaikat Kebajikan untuk Ara


Ara tersenyum saat menerima boneka kecil

DAHULU, ketika memutuskan hendak menikah, saya sempat dilanda kepanikan sebab memikirkan dengan cara apa hendak memberi nafkah buat istri. Saat itu, saya tak punya pekerjaan tepat. Tapi, jalan takdir selalu punya cara sendiri untuk melimpahkan rezeki dengan cara-cara yang ajaib dan tak terduga.

Ketika kemudian saya memiliki anak, kembali saya dipanikkan hal yang sama. Seorang sahabat membisikkan kearifan masyarakat Bugis bahwa seorang anak memiliki rezekinya sendiri-sendiri. Seorang anak ibarat anak panah yang melesat menggapai takdirnya, dan para orang tua adalah busur yang melepaskannya.

Sejak Ara lahir, saya berkarib dengan beberapa kemujuran. Kadang susah menjelaskannya, namun mungkin ini adalah jalan baginya untuk menggapai takdir. Entah kenapa, sejak kedatangannya, saya tiba-tiba saja dikelilingi malaikat-malaikat yang seolah hadir dan menebar kebaikan di setiap jejak langkahnya.

Sejak Ara pertama datang ke kota kecil Athens, ada-ada saja orang yang datang membantu untuknya. Pertama tiba, Camilo dan Erica, sahabat asal Colombia, membawakan baju-baju untuk Ara. Mereka juga membawa sepatu boot, jaket, serta boneka-boneka. Bahkan, mereka juga menghadiahkan satu kursi makan yang amat cantik.

Beberapa sahabat Indonesia juga sering membelikan boneka serta permainan. Saya tak sanggup menghitung banyaknya hadiah yang diterimanya. Ara tak pernah kekurangan kasih sayang di sini. Ada banyak orang yang bersedia menjadi relawan untuk menggendong dan menjaganya. Barusan di facebook, saya dihubungi sahabat asal Laos yang menawarkan diri untuk menjagai Ara. Ia tak meminta apapun. Ia hanya ingin merasakan kebahagiaan bersama anak kecil semanis Ara.

Ara bersama coklat hadiah dari Linda Esch

Kemarin, Linda Esch, gadis manis asal Jerman Timur, menghadiahkan dua bungkus besar coklat asal Jerman. Rasanya jauh lebih enak dari coklat-coklat yang dijual di Indonesia. Tak terhingga rasa terimakasih saya ajukan kepada Linda. Kepadanya, saya menjanjikan pertemanan yang tulus. Semoga saja Yang Maha Mengenggam tak akan pernah melepaskan genggaman kasih kepada Linda.

Setiap kali mengingat kehangatan persahabatan dan persaudaraan di sini, saya tak henti-hentinya bersyukur. Saya tahu bahwa saya bukan seorang kaya. Saya orang biasa yang tak punya apapun. Saya tak punya harta benda yang mentereng dan membuat kagum orang-orang. Saya hanya seorang jelata yang memiliki tanggungan keluarga kecil.

Namun saya amat bahagia karena memiliki sahabat-sahabat dari berbagai negara. Saya bangga bisa dipertemukan dengan banyak orang yang selalu melihat kehidupan secara positif, banyak orang yang selalu melakukan hal-hal baik demi menghadirkan senyum di wajah orang lain, orang-orang yang terlahir untuk mejadi malaikat kebajikan bagi sesamanya. Orang-orang yang mencintai sesamanya dnegan tulus, tanpa mengharapkan sesuatu, semata-semata demi menegakkan kalimat kemanusiaan dan menyirami bumi dengan cinta kasih.(*)


Athens, 29 Maret 2012

Article Review: The Awakening (2012)


MINGGU lalu, saya membedah artikel berjudul The Awakening yang ditulis Emma Larkins di kelas ilmu politik. Presentasinya berjalan sukses. Setidaknya, ini menurut pendapat saya. Presentasi itu sukses membuka mata mahasiswa Amerika bahwa terdapat banyak kisah sedih, tragedi, serta nestapa di belahan bumi lain. Di tengah nestapa itu, harapan mesti selalu dikobarkan demi menjaga api semangat. Berikut, saya tampilkan bahan presentasinya:















Modal Nekad di Amerika Serikat


salah satu bangunan di kampus Ohio University

KETIKA kelas mahasiswa pasca-sarjana berakhir, Omar bergegas keluar. Omar, lelaki asal Nigeria itu, menyegerakan langkahnya. Ia menuju dining hall, aula besar di asrama mahasiswa yang menjadi tempat untuk makan. Di sana, Omar lalu bersalin dengan pakaian para pekerja kantin. Mulailah ia menjalankan tugasnya sebagai pekerja demi membiayai kebutuhannya selama di kota kecil Athens, Ohio, Amerika Serikat (AS).

Omar tak sendiri. Saya banyak bertemu mahasiswa-mahasiswa asal Afrika yang pekerja keras sebagaimana Omar. Mereka berusaha untuk survive, memenuhi kebutuhannya sendiri, lalu membiayai biaya kuliah. Mereka juga brilian di kelas. Mereka bisa menunjukkan prestasi hebat, padahal mereka mesti bekerja yang menyita banyak waktu.

Amerika memang menjadi land of dream. Kadang disebut land of opportunity. Warga dunia berdatangan ke Amerika laksana semut-semut yang merubungi gula. Di dunia akademik, banyak yang datang dengan hanya membawa kenekadan, lalu bertarung dengan kehidupan, mengasah segala potensi, kemudian memenangkan kompetisi.

Ada banyak kisah tentang mereka yang sukses menggapai doktor berkat kerja keras di kampus. Malah, banyak yang menggapai gelar profesor dan menempati posisi akademik terhormat di negara ini. Saya mengenal seorang profesor asal Ghana, yang dahulu menjadi sopir taxi di satu negara Eropa.

Selama hampir dua tahun di Ohio, saya menyaksikan bagaimana etos kerja banyak orang dari berbagai negara. Keberadaan para mahasiswa itu merepresentasikan negaranya masing-masing. Mahasiswa yang hidup mewah, biasanya berasal dari Cina dan negara-negara Arab. Merekalah yang memenuhi Athens dengan membawa mobil mewah. Ada yang datang dengan beasiswa negaranya yang sangat besar, namun jauh lebih banyak yang datang dengan membawa biaya sendiri.

Baker Center, salah satu gedung di Ohio University

Saya tak pernah kagum dengan mereka yang bermobil mewah. Saya amat kagum pada mereka yang datang dengan membawa semangat, lalu sukses menggenggam keberhasilan. Saya melihat semangat itu pada mahasiswa asal Afrika dan India. Mereka bisa bertarung dengan situasi yang serba baru dan asing jika dibandingkan dengan negaranya.

Biasanya, mereka mengembangkan jaringan pertemanan yang kuat. Sewa apartemen memang mahal. Tapi mereka bisa menyiasatinya dengan tinggal bersama-sama di satu apartemen. Mereka melakukannya secara sembunyi-sembunyi, tanpa harus diketahui, kemudian mereka bekerja di kampus.

Mereka diuntungkan dengan penguasaan bahasa Inggris yang amat baik. Rata-rata mahasiswa Afrika sudah bisa berbahasa Inggris sejak masih kecil. Mengapa? Karena bahasa Inggris menjadi bahasa ilmu pengetahuan yang dipakai di sekolah-sekolah. Ketika menghadiri perayaan kemerdekaan Ghana, saya agak kaget kalau ternyata lagu kebangsaan Ghana menggunakan bahasa Inggris. Pantas saja jika mereka bisa survive di negara-negara berbahasa Inggris.  Demikian pula dengan para sahabat asal India. Tak semua datang dengan modal ekonomi yang kuat. Banyak yang pas-pasan, lalu menyiasati hidup dengan bekerja di kampus.

Kampus-kampus di Amerika memang menyediakan banyak kesempatan kerja. Di tanah air, kampus diisi oleh para dosen serta pegawai administrasi yang diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Di Amerika, situasinya berbeda. Dosen adalah akademisi yang digaji tinggi, yang kemudian menjalani jenjang karier di kampus. Sedangkan para pekerja di kampus adalah mahasiswa yang kemudian mendapatkan beasiswa berupa gaji bulanan serta biaya kuliah.

Selain itu, mahasiswa juga dipekerjakan sebagai asisten pengajar, yang biasanya mendapat tugas untuk mengajar di program S1, atau menjadi asisten peneliti yang menopang kerja akademisi. Banyak pula mahasiswa yang menjadi petugas perpustakaan atau petugas laboratorium. Yang pasti, pekerjaan itu tersedia cukup banyak di kampus.

Mengapa Tak Banyak Orang Indonesia?

Sayangnya, kita di Indonesia tak banyak tahu tentang kesempatan kerja ini. Di Indonesia, calon mahasiswa hanya berusaha mengejar beasiswa dari banyak lembaga, tanpa tahu bahwa sesungguhnya semua kampus juga menyediakan beasiswa kerja. Kita sering hanya mengejar beasiswa, tanpa mencari tahu kesempatan bekerja di kampus. Padahal, peluang beasiswa itu sangat kecil di negara kita yang penduduknya sekitar 240 juta orang.

beberapa mahasiswa asal Afrika di kampus Ohio

Apakah ini karena kita tak begitu pintar? Saya menentang asumsi itu. Selama dua tahun di Amerika, saya belajar bahwa kemampuan teman-teman di Indonesia adalah di atas rata-rata. Di Indonesia, pendidikan di level sarjana didesain dnegan begitu berat, di mana seorang mahasiswa sudah diperkenalkan dnegan teori-teori di level filosofis. Malah, di level sarjana, seorang mahasiswa sudah ‘dipaksa’ menyusun skripsi, padahal di Amerika, mahasiswa tidak diwajibkan membuat skripsi. Mereka dianggap masih perlu banyak belajar tentang mengenali lapangan, lalu menuliskan pengalamannya.

Mungkin, kita warga Indonesia tak memiliki hasrat untuk menaklukan dunia serta merentangkan sayap di negeri-negeri yang jauh. Daya jelajah rantau kita hanya sebatas yang kita kenali. Sementara warga India, Bangladesh, Srilangka, serta warga Afrika berani merambah ke Amerika hanya dengan membawa modal nekad. Dengan kerja keras serta kemampuan menghadapi tantangan, banyak di antara mereka yang kemudian sukses menancapkan kaki di negeri lain, kemudian kembali ke negaranya membawa berlian-berlian pengetahuan.

Pada akhirnya, ilmu pengetahuan bisa menjadi kaki-kaki untuk bergerak, sekaligus menjadi berlian yang bisa menerangi negeri. Namun berlian pengetahuan itu tak akan sanggup digali jika tak ada ikhtiar serta semangat yang menyala-nyala. Semangat itu punya daya ledak, daya penghancur, serta daya untuk merubuhkan segala tantangan dan halangan yang menghadang.

Di tanah Athens, saya sedang mengeja aksara pengetahuan dan semangat. Keduanya saya temukan pada banyak saudara-saudara hebat yang datang ke mari demi prestasi serta pengharapan akan kehidupan yang lebih baik. Kelak, mereka akan membawa pulang berlian pengetahuan.(*)


Athens, Ohio, 28 Maret 2013

Mekar Sakura di Salju Lebat



PEREMPUAN Jepang itu tertunduk malu dengan pipi bersemu kemerahan. Ia datang menemuiku di sudut kampus demi menyerahkan sebuah undangan untuk menghadiri Sakura Festival. Sejujurnya, aku tak dekat dengannya. Namun, ia memaksaku untuk menerima pemberiannya. Aku pernah membantunya untuk mengitari kampus ini. Bagiku, tindakan itu biasa saja. Tapi tidak baginya.

Perempuan itu datang bersama sekitar 89 orang mahasiswa Jepang dari Chubu University, Jepang, yang hendak memperdalam kebudayaan Amerika, serta bahasa Inggris. Mereka datang berombongan, dan selalu ke mana-mana bersama-sama. Aku paham benar bahwa di negara yang serba asing ini, bahasa telah menjadi kendala yang paling besar. Wajar saja jika mereka selalu bersama.

Pertama kali, kulihat perempuan bermata sipit itu sedang kebingungan di depan Baker Center. Dengan niat membantu, aku lalu menyapanya. Mulanya ia kesulitan untuk berbicara. Ketika kutanya dalam bahasa Inggris, ia menyodorkan kertas kecil. Dengan tangan yang menunjuk ke kertas, ia memintaku menuliskan apa yang hendak kutanyakan. Setelah itu, ia lalu mengambil kamus elektronik di tasnya, lalu menerjemahkan pertanyaanku ke dalam bahasa Jepang. Ia lalu tersenyum. Pipinya merona, lalu memberikan jawaban lewat tulisan di kertas.

Sejak saat itu, ia seakan menungguku melintas di depan gedung itu setiap hari. Dan setiap kali melintas, aku juga berharap bisa melihat senyum manisnya yang serupa kembang Sakura yang mekar di tepi sungai Chigoridafuci di tepi kota Tokyo. Kadang kami saling menyapa. Akan tetapi lebih sering kami diam, mata kami bertaut, alu sekian detik berikutnya aku melihat seulas senyum di wajah itu, yang diikuti rona merah di pipi.

Di kampus ini, mahasiswa asal Asia sering memiliki kendala bahasa. Maklum saja, bahasa Inggris tidak menjadi bahasa pergaulan di Asia. Aku pun termasuk salah satunya. Namun seriring waktu, aku mulai bisa memahami percakapan. Bukan paham detail kata per kata, namun aku bisa mengetahui arah pembicaraan.

Kondisi ini sangat beda jauh dengan mahasiswa asal Afrika. Rata-rata, mahasiswa Afrika sangat fasih berbahasa Inggris. Negara Ratu Elizabeth itu mewariskan pengetahuan bahasanya pada kawan-kawan di benua hitam itu. Bahkan, rata-rata lagu kebangsaan di Afrika menggunakan bahasa Inggris. Pantas saja jika para intelektual Afrika bisa dengan mudahnya menembus level dunia, lalu menjadi intelektual terkemuka di Amerika. Sungguh beda dengan kondisi intelektual di negeriku yang hanya menjadi jago kandang.

Namun, apakah adil jika melihat sesuatu dengan tolok ukur penguasaan bahasa Inggris?

Bagiku, ini jelas amat tak adil. Di kelas Politics of Developing Area, yang diasuh Dr Clemente, intelektual yang menguasai Amerika Latin, aku belajar banyak tentang keajaiban negara-negara Asia Timur seperti Jepang, Cina, dan Korea. Jika dibandingkan dengan negara-negara Afrika atau Amerika Latin, maka semuanya jelas lewat.

Negara Asia Timur adalah contoh dari hebatnya kemajuan serta semangat Asia yang dikobarkan melalui  inovasi, kemajuan, serta spirit wirausaha. Ajaibnya, kemampuan bahasa Inggris warga Asia, khususnya Asia Timur, tidaklah sehebat teman Afrika. Tapi, tetap saja negara-negara Asia amat hebat dalam membangun negaranya menjadi imperium bisnis yang hebat. Dan mahluk manis di hadapanku ini adalah salah satu dari manusia-manusia hebat yang terlahir di Asia Timur, mahluk manis yang tiba-tiba datang untuk menyodorkan tiket.

“Kamu harus datang,” pintanya dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.
“Entah. Saya sibuk mempersiapkan ujian.”
“Usahakan datang,” pintanya.

Ia seakan merajuk. Makin cantik dirinya. Aku hanya bisa memandangnya sekilas, kemudian memutuskan untuk segera berlalu menuju Alden Library. Hari-hari belakangan ini, aku sedang sibuk mempersiapkan ujian serta kepulangan. Hari-hariku adalah berpindah-pindah dari satu topik ke topik lain. Aku kehilangan nikmatnya saat-saat bersantai sambil menulis blog atau sekadar melepas lelah di tepi The Ridges, salah satu tempat indah di Athens.

Hampir setiap tahun, komunitas Jepang di Athens merayakan Sakura Festival. Biasanya, festival ini dilakukan ketika bunga-bunga sakura mulai mengembang di tepi Hocking River. Orang-orang akan datang lalu duduk di bawah pohon sakura sambil menengadah, menyaksikan mekarnya sakura di musim semi, sembari berbincang-bincang dengan banyak kolega.

Tahun ini, musim semi seakan tak mau singgah. Musim dingin jadi terlampau panjang sehingga dengan sangat terpaksa, mahasiswa Jepang merayakan sakura di tengah musim salju lebat. Sakura terpaksa mekar di tengah salju. Namun ada yang beda di tahun ini. Di pamflet Sakura Festival yang kulihat di tepi perpustakaan, kubaca informasi kalau tahun ini ada seorang penyanyi Jepang yang juga hadir. Ah, aku tak ingin hadir. Aku memilih berkarib dengan sunyi di perpustakaan.

***

RASA lelah masih menyergap tubuhku ketika tanpa terasa tertidur selama beberapa jam. Aku lalu bangun sambil merapikan buku-buku. Seorang sahabat datang ke Alden Library demi menjemputku untuk menghadiri Sakura Festival. Aku tak sadar kalau hari festival itu akan datang juga.

 
tarian di acara Sakura Festival

Dengan malas-malasan, aku lalu mendatangi gedung Baker Center. Seorang MC membuka acara, kemudian diikuti banyak penampilan. Aku melihat judo serta beladiri kendo yang keras bagai batu karang, lalu tarian yang lembut memikat degan penghayatan yang mengalir sebagaimana air di sungai. 

Tiba-tiba saja, festival itu memasuki bagian paling penting. Pemandu acara memperkenalkan penyanyi terkenal yang akan datang. Aku tak begitu tertarik. Ketika suara bening itu mengalun, aku mulai terpesona. Semua orang di sekitarku ikut terpesona. Ketika tatapan kuarahkan ke panggung, aku langsung tersedak. Tenggorokanku seakan tercekat. Perempuan muda yang sedang menyanyi itu laksana titisan dewi-dewi kahyangan. Kuperhatikan dengan teliti. Ternyata, ia adalah perempuan yang memberikan tiket pertunjukan, perempuan yang pipinya merona merah, perempuan yang senyumnya sanggup untuk melumerkan gunung es di dasar hatiku.(*)



Athens, 28 Maret 2013

Benarkah Hidup Serupa Lotre?



ilustrasi

SEMALAM saya menulis bahwa nasib baik adalah serupa permainan lotre. Kita ibarat memasang satu taruhan, kemudian menunggu. Ini permainan yang banyak kalahnya, ketimbang menangnya. Namun ketika kemenangan hinggap di taruhan kita, maka saat itulah hidup berubah. Bisakah kita memastikan kemenangan sebelum hasilnya keluar?

Belakangan ini, saya mulai memikirkan pernyataan ini. Jika saya merenungi ke belakang, saya menemukan begitu banyak pengalaman serta patahan kejadian yang terasa ajaib dan tak diduga-duga. Saya mengalami banyak hal-hal ajaib, yang tak pernah direncanakan sebelumnya, namun hadir secara tiba-tiba sebagaimana Aladin ketika menggesek lampu wasiat. Dikarenakan saya tak punya penjelasan atas hal ajaib itu, saya menyebutnya sebagai ‘peristiwa ketika menang lotre.’ Yup. Inilah hidup.

Setelah merenunginya lagi, saya berpikir bahwa barangkali perumpamaan lotre kurang tepat. Ada sebuah proses yang sering terabaikan. Ada sebuah masa ketika seseorang menempa diri dan menyiapkan segala hal yang dibutuhkan demi memenangi sebuah lotre. Kita hanya mengenal Bill Gates sebagai orang terkaya di dunia, tanpa tahu bahwa beliau pernah mengalami periode ‘berdarah-darah’ ketika mendaki tangga demi tangga demi kesuksesan. Kita hanya mengenal Albert Einstein sebagai fisikawan besar, tanpa tahu bagaimana Einstein muda harus belajar dan menempa diri dengan ide-ide, yang mungkin dianggap aneh oleh fisikawan di masa itu.

Sewaktu kecil, seseorang pernah berbisik bahwa Anda tak perlu banyak membuat peta atau rencana masa depan. Anda cukup memastikan bahwa hari ini akan lebih baik dari hari kemarin. Formula ini memang amat sederhana. Namun jika ini dilakukan secara konstan dan kontinyu, maka kehidupan akan menjadi amat dahsyat. Kelak, di masa mendatang, nasib baik akan hadir dengan sendirinya. Nasib baik ibarat buah yang menunggu saat untuk dipanen, setelah sebelumnya kita telah menanam benih dan menjaganya dari hal-hal yang bisa menghambat pertumbuhannya.

Jika kita mempersiapkan masa depan seperti ini, maka kalimat hidup serupa lotre menjadi tidak relevan. Kita bisa menciptakan lotre di masa mendatang. Kita bisa menciptakan keajaiban. Caranya sederhana. Lakukan hal-hal yang lebih baik dari hari kemarin. That’s it!


Athens, 21 Maret 2013

Sebait Puisi di Hari Perempuan

poster di luar ruangan

SEORANG sahabat asal India ke panggung di tengah ruangan itu. Ia lalu membacakan puisi tentang penderitaan seorang gadis di India yang menjadi korban perkosaan. Kalimatnya bertenaga. Saya tiba-tiba saja terbawa suasana. Saya bisa merasakan ulang bagaimana penderitaan sang gadis yang diperkosa, kemudian disiksa hingga nyaris tewas.

Para perempuan di Athens, Ohio, sedang merayakan hari perempuan internasional. Selain perempuan India itu, saya juga menyaksikan sahabat asal Afrika yang juga mempresentasikan pengalamannya melihat kekerasan. Di ruangan itu, saya melihat  kesedihan yang dipancarkan ke udara. Tapi, ada juga pengharapan bahwa dengan membangun kerjasama serta jejaring yang kuat, maka perempuan bisa saling menguatkan. Luka seorang perempuan adalah luka bagi semua perempuan lainnya.

Di kampus Ohio University ini, acara International Women’s Day dirayakan dengan meriah. Ada panggung untuk berekspresi. Ada pameran, serta diskusi tentang advokasi. Ada pula beberapa atraksi tari yang diiringi sebait puisi yang menikam-nikam hati.

Sebagai lelaki, saya tiba-tiba saja membayangkan para perempuan hebat yang menjadi matahari atas perjalanan saya menelusuri rimba raya kehidupan. Saya membayangkan ibu, dua saudara perempuan, istri, serta anak kecil berjenis kelamin perempuan yang memanggil “ayah” kepada saya. Para perempuan ini memiliki satu kekuatan yang sering sukar saya definisikan. Mereka memiliki dilema masing-masing, namun sama-sama memiliki semangat hebat untuk menyelesaikan segala hal secara mandiri.
parade busana
perempuan Jepang

Dalam konsepsi saya yang sederhana, para perempuan dilahirkan untuk hebat. Tanpa mereka, peradaban ini sudah lama punah, sebab mereka sekaligus menjadi guru, ibu, bulan, serta matahari yang menyirami peradaban dengan kearifan dan kebijaksanaannya. Namun, mengapa ada saja yang melakukan kekerasan pada perempuan?

Para perempuan di Athens, Ohio, ini sedang menyamakan visi. Lewat gerak tari dan peragaan busana, mereka hendak berkata bahwa segenap erbedaan hanyalah napak di permukaan. Di balik lapis perbedaan itu, mereka memiliki dagng, darah, serta otot penderitaan yang sama. Lewat kesesamaan itulah mereka hendak menegaskan posisinya ke hadapan dunia.

Para perempuan itu seakan memberikan pernyataan bahwa penindasan pada perempuan bisa terjadi di mana-mana. Bahwa sebagai perempuan, mereka inginkan kedamaian serta kebebasan untuk melukis dunia dengan caranya masing-masing. Mereka ingin sebebas burung merpati yang bisa melesat ke mana saja dan menyaksikan keindahan sebagaimana burung lainnya.

tarian
di luar ruangan

Di ruangan itu, saya mengeja aksara perempuan. Sungguhpun penindasan pada perempuan terjadi di luar sana, namun semangat kuat yang beterbangan di ruangan itu menjadi pertanda tentang adanya harapan. Saya membayangkan sebuah kesadaran yang tumbuh di hati masing-masing, lalu tumbuh menjadi pohon rindang yang kokoh, dengan daun-daun lebat yang kemudian memayungi dunia. Saya membayangkan dunia yang berkeadilan, ketika semua orang dihargai, dengan tidak memandang ras dan jenis kelamin.

Di ruangan itu, saya memandang putri saya Ara. Saya membayangkan dunia yang didiaminya kelak adalah sebuah dunia yang indah, dunia yang dipenuhi perempuan yang membaca bait puisi tentang kasih sayang, dan para lelaki akan berdendang tentang kebenaran dan keadilan.


Athens, 21 Maret 2013

Catatan Jelang Kepulangan


saat bertualang bersama seorang teman di Pulau Buton
 
TAK lama lagi saya akan kembali ke kampung halaman. Tak terkira rasa senang serta bahagia memenuhi relung-relung hati ini. Dua tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membayangkan sebuah negeri yang seluruh udara, air, dan tanahnya menjadi saksi dari setiap jejak kaki serta tarikan napas.  

Saya cukup bahagia karena memiliki kesempatan untuk melihat tanah air dari pinggiran, dari satu titik yang jauh, namun tetap tidak kehilangan tebalnya rasa cinta pada negeri. Pada akhirnya saya berpikir bahwa kosa kata tanah air bukan sekadar kata yang menggambarkan materi berupa tanah dan air, namun sebuah genangan perasaan yang memenuhi benak kita kala membayangkan tempat diri kita dilahirkan dan dibesarkan.

Di tanah Amerika, saya telah berkelana ke banyak tempat. Saya tak hanya menelusuri rimba raya gedung-gedung tinggi kota New York atau bangunan bersejarah di Washington DC. Saya juga pernah menelusuri pedesaan suku Indian, lalu menyapa masyarakat Amish yang memelihara pola hidup tradisional. Di seua tempat itu, saya merasakan bau petualangan, sesuatu yang membangkitkan hasrat saya untuk mengenali banyak manusia di berbagai situasi.

Dari sedikit penjelajahan itu, saya selalu merindukan tanah air yang jauh di sana. Ada sebuah rasa, mungkin kita bisa menyebutnya suasana hati, ketika membayangkan tanah air, dengan segala dinamikanya. Ibarat benih, rasa itu lalu menumbuhkan hasrat untuk berbuat sesuatu, meskipun sederhana. Saya paham bahwa banyak ketidakberesan di tanah air, apalagi jika hendak dibandingkan dengan negeri lain.

Namun, pengalaman di sini mengajarkan saya untuk membenarkan kalimat Bunda Theresa, bahwa ketimbang mengutuk kegelapan, jauh lebih baik jika menyalakan lilin. Ketimbang memaki keadaan, jauh lebih baik jika melakukan sesuatu, walaupun sederhana. Meskipun hingga detik ini, saya masih menerka-nerka, apakah gerangan sesuatu yang kelak akan saya lakukan?

Yang pasti, selama dua tahun ini, saya menjadi seorang pengelana yang belajar untuk menyerap kearifan dari banyak sisi. Pelajaran besar yang saya terima di negeri ini adalah keikhlasan untuk mengapresiasi yang lain. Ini adalah negeri yang dihuni banyak orang yang selalu berpikir positif terhadap sesamanya. Dengan segala kesulitan yang saya hadapi, negeri ini menjadi tempat untuk menata serta mengembangkan diri.

saat di Ternate

Saya amat sadar. Bahwa kebijaksaan yang saya lihat pada banyak orang tidak lantas membuat saya ikut bijaksana. Di sana-sini, saya masih melihat diri saya sebagaimana apa yang saya saksikan dua tahun silam. Namun, bukankah jauh lebih baik jika kita memiliki kesadaran bahwa kita sedang berpijak di titik yang sama, ketimbang dibutakan perasaan bahwa kita telah berubah?

Beberapa teman menyarankan untuk bertahan demi mencari kerja atau melanjutkan studi. Tapi hasrat kepulangan terlalu kuat memenuhi dada ini. Biarlah nasib yang akan menentukan jalan takdir selanjutnya. Hingga detik ini, saya masih berpikir bahwa kehidupan seringkali serupa permainan lotere yang lebih banyak kalahnya, akan tetapi ada peluang untuk mendapatkan skenario yang tak terduga. Kamu tak akan tahu kapan bisa menang. Namun sekali menang, hidupmu akan berubah. Biarlah takdir yang memberikan kejutan, atau malah tidak sama sekali.

Yang pasti, ada banyak hal yang saya rindukan dan ingin saya lakukan di tanah air. Obsesi saya selanjutnya adalah melakukan perjalanan yang sejauh-jauhnya, dan menelusuri pelosok-pelosok tanah air. Saya ingin melihat langsung betapa luasnya Indonesia dengan segala kekayaan alam dan ragam budayanya.

saat di Pulau Bali

Saya tak ingin menjadi katak dalam tempurung yang hanya mengenali wilayah sekitar rumah. Saya ingin berkelana, melanjutkan petualangan untuk menelusuri setiap sudut-sudut Indonesia, mereguk air di sungai-sungai yang terpencil, lalu merasakan hawa gunung yang segar di pagi hari. Saya juga ingin menyelam di lautan dalam yang selama ini hanya bisa dibayangkan. Saya ingin mengunjungi pantai-pantai perawan yang belum banyak dijamah para turis bodoh, yang hanya berbekal brosur pariwisata.

Kelak, saya ingin mengisahkannya pada si kecil Ara, yang mungkin akan terkesima mendengar sejauh mana perjalanan ayahnya demi menemukan diri. Entah, apakah saat kepulangan nanti saya akan terjebak dengan rutinitas, yang pasti, inilah keinginan saya. Semoga alam semesta akan memeluk semua keinginan itu.


Athens, 20 Maret 2013

saat mandi di pantai

Debus ala Banten di Baker Center

pemain sirkus

PRIA berkumis itu tiba-tiba saja membuka karung di tangannya. Ia menumpahkan banyak pecahan botol di atas sebuah karpet. Ia lebih dahulu meminta orang-orang untuk menguji apakah itu pecahan botol asli. Setelah itu, ia mulai membuka sepatunya. Di tengah tatapan ngeri orang-orang, ia lalu melompat di atas pecahan botol itu. Semua berteriak. Ada yang histeris. Dan pria itu baik-baik saja.

Minggu lalu, saya menyaksikan pria itu di ajang sirkus yang diadakan di Baker Center, kampus Ohio University. Di ajang itu, pria berkumis melintang itu mendemonstrasikan beberapa kemampuan, seperti menginjak pecahan botol, tidur di atas papan yang dilapisi paku-paku, hingga memasukkan selang ke dalam hidung, lalu ujungnya keluar lewat mulut.

aksi melipat tubuh
memasang jerat kelinci di lidah

Bagi saya, sirkus ini tidak seberapa berbahaya. Saya pernah menyaksikan pertunjukan debus ala Banten, di mana tubuh para pemainnya serupa baja yang amat liat. Mereka tak hanya kebal terhadap benda tajam, namun tahan terhadap siraman air keras. Malah, para pemain debus itu sanggup melakukan hal-hal berbahaya, misalnya bermain-main dengan golok, hingga memakan pecahan kaca.

aksi menginjak kaca
Yang membedakan sirkus ini dengan debus adalah kemasan. Jika debus hanya menampilkan skill serta kemampuan olah fisik, maka sirkus yang saya saksikan ini adalah sebuah tontonan yang menghibur. Para pemain sirkus bisa berkomunikasi dengan penonton, melemparkan banyolan-banyolan khas, serta melakukan atraksi yang unik-unik, misalnya memakai sepeda mini, memakai kaki yang sangat panjang, atau permainan bola kaca yang bisa diputar-putar.

Saya membayangkan permainan debus yang bisa menghibur, yang tak cuma mengandalkan aksi-aksi maskulin seperti bermain silat di atas pecahan kaca, atau kesurupan roh kuda liar lalu memakan benda apapun. Jika saja debus bisa dikemas menjadi tontonan menghibur, maka pastilah kesenian ini bisa mendunia dan dikenal mancanegara.

Mungkin, para pelaku kesenian tradisi seperti debus mesti meng-update kemampuan. Mereka tak boleh hanya mengandalkan skill atraksi maut, tapi juga mesti belajar public speaking, seni memahami audience, lalu mengemas tontonan yang menarik untuk disaksikan segala lapisan usia. Para pemain debus harus menguasai kemampuan sosiologi, antropologi, sekaligus komunikasi massa. Dengan cara mempelajari kemampuan-kemampuan ini, debus bisa memiliki daya jangkau ke publik yang lebih luas. Bisakah?


Athens, 19 Maret 2013

Kiat Menulis Dahsyat!

saat Dumbledore (dalam serial Harry Potter) menarik ingatannya untuk disimpan dalam pensieve

SEORANG sahabat mengirim pesan yang besisi pertanyaan bagaimana kiat memenangkan lomba menulis blog. Sahabat itu tahu kalau beberapa tulisan saya sering memenangkan lomba menulis di skala nasional. Ia merasa penasaran. Dipikirnya saya menulis berdasarkan pola-pola atau panduan tertentu.

Padahal, saya hanya menulis berdasarkan kesenangan saja. Kalaupun menang, maka itu hanyalah efek samping dari hobi menulis hal-hal tidak penting. Kepadanya saya menjelaskan bahwa menulis buat saya adalah sebuah kanal untuk melepaskan gagasan yang bertumpuk di kepala. Menulis bagi saya adalah cara untuk mengingat sesuatu agar tidak lupa.

Bagi saya, menulis serupa dengan proses ketika Prof Albus Dumbledore, dalam serial Harry Potter, mengeluarkan benang-benang ingatan, yang kemudian disimpan dalam baskom bernama pensieve. Kata Dumbledore, pensieve menyimpan pengalaman dan rekaman-rekaman kejadian. Ketika ia hendak mengingat, maka ia akan melihat pensieve. Demikian pula ketika ia sedih, maka ia akan mencari hal-hal bahagia dalam pensieve yang kemudian mengobati segala sedihnya. Indah khan?

Sayangnya, sahabat itu tak mau menerima penjelasan saya. Ia tetap memaksa untuk menjelaskan kiat-kiat itu. Baiklah. Saya akan coba menuliskan beberapa strategi demi menulis yang bagus, setidaknya dalam pahaman saya. Kalaupun tulisan itu menang lomba, maka itu hanyalah efek samping atau dampak lain dari aktivitas menulis ebagai proses pendewasaan dan pematangan diri.

Mulailah dari Ide

Hal paling penting dalam dunia kepenulisan adalah ide atau gagasan. Ide ibarat ruh yang menjadikan satu tulisan bisa bertenaga, bergerak, dan berpengaruh. Tanpa ide yang kuat, maka satu tulisan akan kehilangan tenaga. Ide adalah langkah pertama dalam perjalanan menulis.

Penulis-penulis hebat selalu memulai dengan ide-ide yang berputar-puar di kepala, kemudian mencari ruangnya untuk dituliskan. Penulis JK Rowling, mendapat ide untuk menulis Harry Potter ketika sedang dalam perjalanan dengan kereta api. Tiba-tiba saja, imajinasinya menemukan gagasan tentang seorang anak yang nampak biasa, urakan, namun kemudian menjadi penyihir besar dan menantang Lord Voldemort, sang penguasa kegelapan.

Pertanyaannya, bagaimanakah cara menemukan ide-ide atau gagasan tersebut? Apakah ia datang sendiri atau dicitakan? Jawabannya adalah sering-sering berkhayal atau berimajinasi. Ide bisa diasah dengan cara membaca atau melihat-lihat banyak hal. Sering-sering saja berselancar di Facebook, perhatikan topik-topik diskusi. Bisa pula dengan cara membaca banyak majalah atau buku. Bisa juga dengan membaca fiksi. Temukan inspirasi lalu tuliskan. Simpel khan?

Berpikir Out of The Box

Maksudnya adalah berani berpikir beda dengan orang lain. Bayangkan, dalam sebuah lomba menulis, ada ratusan orang yang mengirimkan naskah. Ketika anda menulis sebagaimana orang lain menulis, maka yakinlah tulisan anda akan jadi nampak biasa. Meskipun tulisan itu bagus, namun kalau tidak unik, alias biasa-biasa saja, maka tulisan itu akan kehilangan momentum.

ilustrasi

Saya punya pengalaman ketika ikut lomba menulis di Kompasiana yang berhadiah Iphone 4. Jumlah pesertanya adalah ratusan orang dari seluruh Indonesia. Waktu itu, lombanya bertajuk Ngeblog Seharian. Dalam waktu sehari, semua blogger di seluruh Indonesia mengirim tulisan hingga terkumpul 667 tulisan. Pada saat itu saya berpikir, jika saya menulis tema-tema yang sedang dibahas di televisi, maka pasti tulisan itu akan biasa. Demikian pula ketika saya menulis catatan perjalanan. Saya membayangkan ada ratusan orang yang berpikir sama.

Saat itu, saya sedang di kampung halaman, di Pulau Buton. Demi menemukan ide, saya lalu berjalan-jalan di dekat dermaga. Saya melihat bocah-bocah kecil yang berperahu. Saya melihat betapa cekatannya mereka berenang dan menyelam hingga 20 meter, ketika orang-orang melempar koin. Saya teringat media televisi nasional yang sering menyebut anak-anak itu sebagai pengemis lautan, padahal anak-anak itu adalah putra para pemilik kapal. Bermain di laut adalah cara bagi mereka untuk menyiapkan diri untuk jadi pelaut hebat di masa mendatang.

Bingo!! Saya tiba-tiba mendapatkan ide. Saya serupa fisikawan Isaac Newton yang kejatuhan apel. Ketimbang menulis apa yang terjadi di kota-kota atau layar televisi, mengapa saya tidak mengeksplor sesuatu yang dekat dengan diri saya. Sesekali, Indonesia harus dilihat dari pinggiran, harus dlihat dari titik paling jauh, demi mendapatkan gambaran tentang bangsa secara utuh. Indonesia tak harus dilihat dari cara pandang Jakarta. Bagi saya, tema tentang anak kecil itu serupa cara untuk memahami Indonesia dari sisi yang terabaikan, namun amat penting untuk memahami wajah bangsa ini. (tulisan itu bisa dibaca DI SINI)

Segera Lakukan Riset

BANYAK penulis yang langsung menuliskan apa yang disaksikannya. Namun, jauh lebihbaik jika kita melakukan riset lebih dahulu. Riset sangat penting untuk mengetahui kalau-kalau tulisan serupa pernah dibuat. Nah, setelah itu, yang kita lakukan adalah melakukan fill the gap, atau mengisi celah-celah kosong yang belum dilakukan orang lain.

saat Ara menulis. kok pakai tangan kiri?

Riset juga penting untuk memperkaya gagasan. Ketika menulis tentang seorang tokoh, sebaiknya kita punya sedikit background tentang tokoh itu, ada gambaran tentang masyarakat dan budaya, serta sebaiknya kita bisa memahami big picture atau gambaran besar tentang satu persoalan. Ini sangat penting untuk memahami sesuatu dari banyak sisi. Saya suka memakai istilah kamera yakni zoom in dan zoom out.

Ketika menulis tentang satu hal atau satu hal menarik, kita akan berusaha mendekati sesuatu itu secara dekat sehingga kita bisa merasakan degup jantung dan getar urat nadinya (zoom in). Namun, kita juga harus bisa memahami sesuatu dari kejauhan, agar bisa melihat satu orang dengan orang lain serta masyarakat luas (zoom out). Nah, kita harus pandai-pandai menempatkan diri, kapan masuk dari jarak paling dekat, dan kapan sedikit melihat dari jauh.

Saatnya Menulis

SETELAH ide ditemukan serta riset dilakukan, maka selanjutnya adalah rancanglah bangunan tulisan, atau sering disebut plot. Biasanya, sebelum menulis, saya sudah mereka-reka ke mana arah satu tulisan. Saya mulai membuat gambaran kasar di kepala saya, bahwa tulisan itu akan dimulai dari A, dan berakhir ke B. Biasanya, gambaran ini sangat penting bagi pemula. Bagi yang sudah ahli, biasanya tak perlu bangun rancangan tulisan. Ia akan menyerahkan kejutan-kejutan itu pada proses menulis serta ke mana angin mengarahkan pena. Makanya, bagi sebagian orang, menulis adalah perjalanan.

Nah, bagaimana proses menuliskan gagasan? Ini memang tak mudah. Banyak orang yang hendak menulis, namun tak bisa menuliskan satu lembar pun gagasan. Benar kata novelis Dewi Lestari, bahwa musuh utama seorang penulis adalah halaman kosong. Bagi saya, yang pertama kita taklukan dalam menulis adalah diri kita. Mengapa? Sebab serigkali kita terlalu membebani aktivitas menulis.

Kadang kita takut tulisan itu jelek? Kita takut dilecehkan orang lain, takut dianggap ngawur, takut dibilang idenya biasa saja, atau takut dibilang tulisan yang tidak menarik. Sering pula kita ingin dianggap hebat, ingin dianggap terpelajar, ingin dikira kontemplatif, atau macam-macam. Jika ini menghinggapi pikiran kita saat menulis, maka yakinlah, sampai kapanpun kita tidak akan bisa menulis.

menulis apa yaa?

Yang terbaik adalah biarkan aktivitas menulis mengalir secara bebas. Tulis apapun yang ada di pikiran kita. Jangan terlalu banyak membebani sebuah tulisan. Kalaupun tulisan tu dianggap jelek oleh orang lain, jangan pernah patah semangat. Sebab dalam dunia menulis, penilaian baik dan buruk lebih sering diberikan oleh orang yang tak pernah menulis. Baik dan buruk dalam dunia menulis adalah soal sudut pandang. Ketika anda menghakimi satu tulisan sebagai tidak baik, maka saat itu anda menggunakan satu sudut pandang. Tapi di sisi lain, boleh jadi tulisan itu punya kekuatan, yang tidak dipahami oleh orang lain. Iya khan?

Seorang penulis sejati akan menghargai semua tulisan yang dibuat, sebab ia tahu bahwa membuat tulisan tidak mudah. Seorang penulis sejati akan selalu menghargai keberanian serta keihlasan orang lain untuk menulis dan berbagi pengetahuan. Sebab hanya dengan menghargai tulisan orang lain, kita bisa belajar dari orang tersebut, lalu menyempurnakan tulisan setahap demi setahap.

Nah, bagaimana proses memulai tulisan dahsyat? Nampaknya akan saya uraikan pada tulisan lain. Maafkan saya yang terpaksa harus mengakhiri tulisan ini.



Athens, 15 Maret 2013

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...