Bahaya Buku Andrea Hirata


poster film Laskar Pelangi


SEORANG telah mengirimkan pesan yang berisi perkenalan serta permintaan agar saya membimbingnya hingga lulus program beasiswa. Ia mengirimkan surat panjang, dimulai dengan kata “Yang Bertandatangan di Bawah Ini”. Kemudian paragraf berikutnya adalah data diri. Lalu, informasi kalau orangtuanya telah meninggal, skill yang terbatas, serta keinginan untuk keluar dari belenggu kemiskinan.

Ini bukan kali pertama saya menerima surat demikian. Puluhan email bernada demikian pernah saya terima gara-gara beberapa tulisan di blog ini. Pernah, saya menerima surat dari pemuda Aceh yang berkata bahwa dirinya siap jadi apapun, bahkan pembantu sekalipun, asalkan bisa dibawa ke luar negeri. Ada juga email dari seseorang di Surabaya yang mengaku bahasa Inggrisnya sangat pas-pasan serta dirinya tak punya pengalaman. Ia lalu bertanya, “Apa bisa saya diluluskan program beasiswa?”

Terhadap banyak email itu, saya hanya bisa mengelus dada. Dipikirnya saya adalah tim penyeleksi beasiswa. Padahal saya cuma seorang warga biasa di Pulau Buton yang sedikit beruntung karena bisa sekolah di luar negeri. Di luar itu, saya bukan siapa-siapa. Saya hanya seseorang yang masih suka makan indomie karena uang pas-pasan, masih harus jalan kaki di tengah salju karena uang pas-pasan untuk membeli kartu bis. Mengapa banyak orang yang melakukan segala cara untuk ke luar negeri?

Belakangan ini, animo untuk memijakkan kaki di luar negeri semakin kuat di tanah air. Entah apa penyebabnya. Saya menduga ini dipicu oleh booming buku Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Hirata. Tentu saja, dugaan ini bisa salah. Banyak yang mengira bahwa lulus beasiswa ke luar negeri adalah jalan pintas untuk hidup yang lebih baik. Banyak yang menganggap bahwa di luar negeri semua orang akan hidup kaya, makmur, serta berkecukupan. Padahal tidak demikian. Kenyataannya sama saja dengan negeri sendiri. Anda harus kerja keras, tahan banting, serta punya mental kuat. Tanpa itu, anda tak akan mendapatkan apa-apa.

Buku Laskar Pelangi disebut-sebut sebagai salah satu buku best seller. Beberapa waktu lalu, saya membaca kritik Nurhady Sirimorok atas buku ini. Ia melihat bias modernisme yang sangat kuat dari novel itu. Pandangan saya jelas dipengaruhi oleh kritik Nurhady dalam bukunya.

Ada banyak hal yang bisa dikiritisi dari buku ini. Mulai dari penggunaan istilah latin, pandangan tentang ilmu-ilmu teknik yang lebih unggul ketimbang humaniora hingga kalimat-kalimat yang memosisikan luar negeri segala-galanya. 

Ada banyak yang bisa dibedah. Namun saya hanya fokus pada satu hal yakni ending atau bahagian akhir dari novel. Tahukah anda apa akhir buku terpopuler itu? Tokoh utamanya tiba-tiba mendapat beasiswa ke Sorbonne, Perancis, lalu kembali ke kampungnya. 

Beasiswa itu membuatnya ‘naik kelas’ lalu merasa diri ‘lebih berhasil’ ketimbang sahabatnya Lintang yang hanya jadi pemetik kelapa. Tokoh utamanya yakni Ikal dianggap bekerja sangat keras sehingga buahnya adalah beasiswa ke luar negeri. Sementara sahabatnya yang cerdas bernasib miris sebab hanya menjadi pemanjat kelapa.

Okelah kalau Ikal berhasil menggapai mimpinya. Namun, apakah mimpi bersekolah di luar negeri adalah satu-satunya mimpi? Apakah sosok seperti Lintang tak berhak untuk punya mimpi di dunia yang pilihan-pilihannya serba terbatas? Lantas, selama di luar negeri, tidak adakah sesuatu yang bisa dilakukan Ikal untuk membantu sahabat-sahabatnya, minimal dengan mengidentifikasi sebab-sebab kemiskinan struktural di situ lalu menerabasnya bersama-sama?

Saya mencatat beberapa pertanyaan. Terserah, apakah anda sepakat atau tidak, saya khawatir kalau buku-buku sejenis semakin menegaskan rasa inferior kita sebagai bangsa sebab menganggap barat lebih hebat, pendidikannya lebih berkualitas, serta lebih beradab. Jangan-jangan, kita ikut-ikutan menganggap diri dan komunitas kita masih dikepung tradisionalisme sehingga harus dientaskan. Benarkah?

Jika kita berpikir demikian, maka kita sedang berada dalam cengkeraman satu kuasa pengetahuan yang menganggap pengetahuan di luar lebih baik ketimbang di dalam negeri sendiri. Jangan-jangan, banyak di antara kita yang dihinggapi rasa bangga ketika memiliki label luar negeri. Padahal, kualitas pendidikan tak bisa dilihat dari labelnya. Kita butuh pandangan yang lebih holistik dan utuh tentang apa definisi kualitas.

Lagian, apakah sekolah menjadi satu-satunya parameter untuk mengukur sejauh mana keberhasilan seseorang? Apakah seorang biasa harus dipandang sebagai sosok yang dikasihani karena tidak punya kesempatan sekolah tinggi?

Pandangan yang melihat sekolah sebagai satu-satunya parameter adalah pandangan yang merupakan buah dari proyek modernisasi. Dahulu, Pemerintah Orde Baru beranggapan bahwa sekolah adalah satu-satunya instrumen pengajaran. Anak-anak dipaksa sekolah, dikeluarkan dari habitat dan komunitasnya, kemudian secara perlahan didoktrin tentang kemajuan. Kelak di masa depan, anak-anak itu akan menjadi agen pembangunan yang kemudian memencilkan kampung halamannya sendiri.

Terserah, apakah anda sepakat atau tidak. Bahaya membaca buku-buku sejenis adalah adalah ketika menimbulkan anggapan bahwa pendidikan ala Eropa adalah segala-galanya. Sungguh bahaya ketika kita mendongak dan memandang kagum pada segala yang bernama barat, baik itu pendidikan, gaya hidup, serta kemajuan, kemudian di saat bersamaan kita memandang rendah apa yang ada di negeri kita sendiri.

Pandangan ini mengingatkan saya pada teori modernisasi yang berasumsi bahwa barat adalah kemajuan, dan timur identik dengan tradisionalitas. Para penganut teori modernisasi percaya bahwa demi meraih suatu kemajuan, maka orang-orang harus bersekolah di barat, mereguk pengetahuan di sana, lalu kembali ke tanah air untuk membaratkan semuanya, termasuk cara berpikir.

Sungguh bahaya ketika kita gagal menemukan elemen dinamik dalam kebudayaan kita. Sungguh menyedihkan ketika kita kehilangan akar kultural, melabelnya dengan kata tradisionalitas, kemudian memandang masyarakat sekitar kita sebagai masyarakat terbelakang, karena tidak seperti sosok yang berhasil sekolah ke Sorbonne itu. Sungguh miris ketika kebudayaan serta khasanah tradisi dan kekayaan intelektual bangsa harus dipaksa kalah ketika berhadapan dengan ilmu-ilmu barat. Maka kian menanglah sosok dalam novel Laskar Pelangi yang telah sukses menempuh pendidikan di barat.

Pandangan yang melihat pendidikan di luar negeri adalah segala-galanya adalah pandangan yang amat keliru. Jangan-jangan, mereka yang memuja buku sejenis bisa terjebak pada pandangan yang memuja-muja barat secara berlebihan sebagai kiblat pendidikan, lalu menganggap diri lebih berhasil dari mereka yang tinggal dan bekerja keras di tanah air. Saya tak pernah bersepakat dengan pemikiran yang melihat bahwa menjadi Ikal, seorang alumni luar negeri, lebih sukses dari teman-temannya yang setia menunggui tanah Belitung.

Dan sungguh bahaya ketika kita tidak menganggap kerja-kerja di kampung sebagai kerja yang luar biasa dan memberikan kontribusi bagi ekonomi negeri ini. Sungguh bahaya ketika kita semua dihinggapi cara berpikir modern yang kemudian membuat kita sinis dengan khasanah dalam bangsa kita sendiri. Apakah demikian?

Lebih parah lagi kalau ada yang beranggapan bahwa ketika pulang dari luar negeri, maka akan menjalani hidup ala sinetron, kaya-raya, berkecukupan, lalu punya mobil dan rumah mewah. Inilah impian semua anak Indonesia yang merupakan buah dari doktrin ala Orde Baru dengan wacana pembangunanisme dan kemajuan.

Salah kaprah yang muncul dalam novel itu mesti diluruskan. Proses mengasah kualitas itu bisa dilakukan di mana-mana. Tak harus berangkat ke luar negeri. Seorang alumni kampus luar negeri bisa menjadi sampah masyarakat ketika dirinya tak punya skill atau keahlian. Masyarakat butuh bukti tentang apa yang sudah dilakukan atau apa yang bisa dilakukan. Mustahil jadi orang hebat kalau hanya bermodal pengakuan bahwa anda pernah belajar di luar negeri.

Yang tak kalah penting, pendidikan bukanlah satu-satunya parameter untuk mengukur capaian seorang anak manusia. Yang jauh lebih penting adalah keikhlasan untuk memahami alam semesta, memuliakan semua manusia lainnya, serta memandang semua orang sebagai keluarga yang sama-sama menjadi bagian kecil dari alam semesta.

Yang terpenting dari pendidikan adalah proses mengasah diri. Sekolah ke luar negeri hanyalah satu jalan untuk mengasah diri. Masih ada banyak jalan lain. Bahkan jika anda tak sekolah pun, sepanjang anda mengasah diri, pasti akan hebat. Lihat saja Pramoedya Ananta Toer. Ia bukan anak sekolahan. Ia tak pernah belajar di perguruan tinggi. Tapi ia punya semangat untuk mengasah diri dan mengembangkan kapasitasnya. Maka jadilah ia sebagai pengarang tersohor yang karya sastranya menjadi rujukan banyak sejarawan hebat di luar negeri.

Pramoedya adalah contoh dari semangat yang kuat, serta keinginan yang sekuat baja. Meski tak belajar di perguruan tinggi yang hebat-hebat, ia mengasah dirinya untuk menjadi sastrawan hebat. Bahkan, ia juga ikhlas menjalani tahanan oleh sebuah rezim militer yang menganggapnya sebagai musuh yang bisa merusak rakyat. Di tengah pengapnya sel penjara, ia menulis dengan hanya mengandalkan ingatan. Ia tak membaca pustaka, sebagaimana para sarjana zaman kini. Ia hanya bermodalkan semangat serta daya ingat yang kuat.

Susahnya tak banyak anak muda yang mau mengikuti jejak Pramoedya. Generasi hari ini adalah pembaca Laskar Pelangi yang kemudian dipengaruhi oleh novel itu. Maka berbondong-bondonglah mereka untuk mengejar beasiswa dan setelah itu mengubah nasib. Mereka bersaing demi berangkat ke luar negeri, setelah itu hidup kaya-raya dan terhormat. Anak muda tak tertarik kembali ke desa, juga tak tertarik untuk melakukan hal-hal sederhana, namun punya efek bagi masyarakat. Anak-anak muda lebih sibuk mengejar sekolah ke kota, setelah itu keluar negeri demi mejadi orang hebat dan kaya.

Pertanyaannya, apakah masih ada anak-anak muda idealis yang ingin kembali ke desa dan melakukan hal-hal bermanfaat bagi masyarakatnya? Ataukah anak-anak muda itu ingin kembali ke desa sebagai alumni kampus luar negeri sebagaimana kisah dalam novel Andrea Hirata yang kemudian tertunduk sedih saat melihat temannya yang hebat hanya menjadi tukang pemanjat kelapa?


Athens, Ohio, 11 Februari 2013

Catatan:

Sebagai bacaan lebih lanjut mengenai Andrea Hirata, bacalah buku karya Nurhadi Sirimorok, yang judulnya adalah Laskar Pemimpi: Andera Hirata. Pembacanya dan Modernisasi Indonesia, terbitan Insist Press tahun 2008. Ini adalah buku terbaik yang membantu kita untuk melihat sisi-sisi lain dari novel ini yang luput dari pandangan para pemujanya.


BACA JUGA:



103 komentar:

Anonymous said...

Betul...tdk hrus ke luar negeri utk jdi hebat.mental pejuang dan kerja keras yg akan membawa pd kesuksesan.

SYM said...

Terlepas dari apapun motivasi seseorang keluar negeri, akan selalu terlihat hebat dan luar biasa dimata orang lain. Pakemmnya (mungkin) seperti itu.

Yusran Darmawan said...

sepakat. intinya adalah kerja keras dan mengasah diri.

Yusran Darmawan said...

iya. salah paham itu yang mesti diluruskan.

Nurulnulur said...

Andrea dan Fuady menuang kisah inspiratif pada novel2nya (yang katanya berdasarkan kisah nyata), yang mereka tularkan adalah semangat luar biasa untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Mungkin ke awaman pemikiran pemuda kitalah yang membuat semangat inspiratif tersebut kemudian menjadi racun bagi pembaca yang terlanjur menganut pakem bahwa ke luar negeri akan selalu terlihat hebat. begitu mungkin. Pembaca sedikit lupa bahwa Fuady juga bercerita terntang Baso yang sukses menjadi guru di kampung halamannya.

Anonymous said...

mereka yang belajar ke luar negeri denga beasiswa biasanya sudah melalui perjuangan yang cukup berat karena mereka harus berkompetensi untuk mendapatkan peluang itu berbeda dengan mereka yang belajar dengan biaya sendiri karena berasal dari keluarga kaya sehingga kualitas mahasiswa indonesia dengan beasiswa biasanya cukup baik. tetapi satu hal yang menarik bahwa keberhasilan dalama hidup ini tdk harus selalu diukur dari tinggi rendahnya tingkat pendidikan seseorang bahkan seorang tukang panjat kelapa sekalipun jika dia mampu memanfaatkan keahliannya untuk hidup lebih baik sudah termasuk berhasil.

ivannanto said...

Saya alumni dr LN yg mw bkontribusi utk desa, smg AlLah mbukakan jalannya utk k sana :)

ivannanto said...

Saya alumni luar negeri, yg mbawa teknologi dr luar negeri utk memajukan Indonesia :D

Yusran Darmawan said...

bung Ivannanto. great! berarti anda adalah tipe alumni luar negeri yang bisa berbuat sesuatu untuk masyarakat kita.

Yusran Darmawan said...

mungkin niat mereka baik. sayangnya, apa yang diniatkan itu tidak selalu demikian realitasnya bagi orang lain. yang kemudian terjadi adalah semua orang langsung silau dengan kehidupan di luar negeri, tanpa mau 'berkubanglumpur' demi memahami bangsa sendiri. ada bgitu banyak orang yang kemudian jadi korban dari novel inspiratif itu lalu menganyam mimpi untuk memperbaiki ekonomi, yakni menjadi seperti apa yang dilihatnya di luar negeri sana.

Anonymous said...

Baiknya para terpelajar kembali ke desa, jangan terpaku pada keinginan hidup kaya raya. Sumbangkan pengetahuan untuk desa, majukan desa. Saya rasa pemahaman yang kurang baik atas buku seperti ini bisa berkurang bila para terpelajar berbagi bersama, untuk desa. Sistim yang mengatur kita memang mengecewakan, tapi para terpelajar bisa, dan saya rasa sanggup untuk mengubahnya. Jangan menuhankan uang untuk hidup enak.
Kaum Muda Terpelajar Pasti Bisa

Anonymous said...

Kisah-kisah inspiratif sesungguhnya tidak masalah. Yang masalah adalah ketika ia menciptakan utopia--seakan-akan kerja keras dan kemauan sudah cukup untuk mewujudkan mimpi. Nah, masalahnya realitas tidaklah sesederhana itu. Apa yang terjadi bila tokoh Laskar Pelangi adalah tokoh dari anak-anak yang orangtuanya aktif di Partai Komunis Indonesia? Apakah hidup mereka akan happy ending? Atau bila mereka hidup di wilayah Daerah Operasi Militer dan orangtuanya adalah para pejuang yang menentang militerisme?

Dari perjalanan-perjalanan yang saya lakukan, kesuksesan (sebagaimana pikiran orang awam) sungguh jauh dari mereka.

Yusran Darmawan said...

saya setuju dgn pernyataan bahwa keberhasilan tak diukur dari pendidikan, tapi pada kemampuan untuk memanfaatkan keahlian.

Yusran Darmawan said...

setuju. alangkah indahnya jika semua yang terpelajar bisa kembali ke desa lalu berbuat sesuatu.

rumayya said...

yg dibutuhkan mgkn novel lanjutannya. para pemuda yg studi di LN ini kmudian berkarir di LN, berkarir mapan/sukses, lalu membangun jejaring global untuk membantu kawan2nya di Indonesia. sbnarnya yg lbh bermanfaat bg bangsa adalah apabila semakin banyak anak2 bangsa yg berkarir di sektor2 strategis di negara maju. agar Indonesia punya "agen" untk memperjuangkan kepentingan2nya di negara itu. dalam hal ini kita msh kalah ma temen2 dr China & India. klo jauh2 sekolah ke LN trs pulang cr kerja di Indo itu malah bs membebani ekonomi, karena klo lulusan LN rame2 cr kerja kompetisi di pasar kerja makin sulit (inflasi gelar di pasar kerja), harga (upah/gaji) kawan2 berijazah kampus domestik bs jatuh karenanya.

rumayya said...

yg dibutuhkan mgkn novel lanjutannya. para pemuda yg studi di LN ini kmudian berkarir di LN, berkarir mapan/sukses, lalu membangun jejaring global untuk membantu kawan2nya di Indonesia. sbnarnya yg lbh bermanfaat bg bangsa adalah apabila semakin banyak anak2 bangsa yg berkarir di sektor2 strategis di negara maju. agar Indonesia punya "agen" untk memperjuangkan kepentingan2nya di negara itu. dalam hal ini kita msh kalah ma temen2 dr China & India. klo jauh2 sekolah ke LN trs pulang cr kerja di Indo itu malah bs membebani ekonomi, karena klo lulusan LN rame2 cr kerja kompetisi di pasar kerja makin sulit (inflasi gelar di pasar kerja), harga (upah/gaji) kawan2 berijazah kampus domestik bs jatuh karenanya.

Lontong Sapi said...

Saya setuju sepenuhnya dengan tulisan di atas.

Namun kiranya perlu juga diimbangi dengan kenyataan bahwa sekolah di Indonesia memang rata-rata lebih jelek, dan kadang, mungkin jarang sekali, sekolah di luar negeri adalah alat perjuangan yang tepat.

Dan sekali-sekali, sekolah ke luar negeri, atau bekerja di luar negeri, adalah sebuah tujuan yang tepat. Sekolah iya, dan bekerja, tentu saja iya. Tapi luar atau dalam negeri sebetulnya adalah label rasisme yang lain.

Dan dengan menjadikan sekolah ke luar negeri sebagai ending dan prestasi, sebetulnya Andrea Hirata menghina perjuangan gurunya sendiri yang mati-matian memajukan pendidikan di dalam negeri, di daerah terpencil.

Dan komentar di atas, betul sekali, bagaimana kalau mereka adalah anak-anak anggota/simpatisan PKI dan organisasi yang berafiliasi dengannya?

Remaja Indonesia perlu lebih banyak membaca novel/roman seperti tetralogi Pulau Buru, Amba, Pulang dll.

Anonymous said...

pesan buku itu bukan sekedar perkara sekolah ke luar negeri. Pesen utama buku itu adalah raih impian. Mimpi itu milik semua.

Anonymous said...

situ sendiri ngapain di Athena? Setelah dr Athena mau plg ke desa mana? Mau bikin apa di desa itu?

Lontong Sapi said...

Iya, pesan bukunya Andrea Hirata adalah raihlah mimpiMU SENDIRI, selamatkan dirimu, jadilah kaya dan naiklah kelas sosialmu dengan sekolah di luar negeri.

Bukan raihlah mimpi membebaskan rakyat! Memiliki negeri yang merdeka 100% sebagaimana dicita-citakan oleh Bapak/Ibu bangsa kita.

Unknown said...

saya sudah baca semua buku tetralogi AH, menurut saya bahayanya bukan di belajar di LN-nya, di buku keempat malah diceritakan AH jadi pengangguran :D . Di laskar pelangi diceritakan bagaimana dia meraih mimpinya, sayangnya mimpinya terlalu dangkal (jalan2 di UK). Seharusnya diceritakan juga lebih lanjut, setelah pulang dia ngapain aja, nasib teman SD nya sekarang, apa kontribusinya setelah pulang dari LN. Jauhh dari menginspirasi, cukup dinikmati saja pembawaan ceritanya yang detail dan jenaka.

AMILIA said...

Kak yusran ngikutin perdebatan damar julianto vs andrea hirata ?

Yusran Darmawan said...

iya. sy ikuti perdebatan mereka.

Yusran Darmawan said...

setuju. kita berpikir sama.

AKM said...

hati-hati loh, Mas, kalau dimeja-hijaukan. hehe

lebah ratu said...

karena laskar pelangi, saya semakin mantap bermimpi keluar negeri. tapi ngapain?? saya baru tahu loh ini... :D

Anonymous said...

semua tergantung kepada bagaimana kita menyikapinya........dengan cara bijak atau dengan cara yang lain....saya membaca buku andrea hirata dan pramoedya ananta toer keduanya penulis yang hebat tapi mungkin cara pandang mereka berbeda,kita tidak blh terlalau saufanistik terhadap sesuatu,,,karena di dunia ini hanya satu kepastian yaitu ketidakpastian.....itu kata (albertenstain)......tapi ada benar juga menurutku.........esensi yang dapat ku ambil dar buku-buku yang di tulis andrea dan pramoedya bahwa "tidak ada jalan pintas untuk sebuah kesuksesan"

Anonymous said...

semua tergantung kita bagaimana menyikapinya dengan cara yang bijak atau dengan cara yang lain, hakikat kebenaran itu tidak akan di temukan klu kita terlalu saufanistik terhadap sesuatu.....karena di dunia ini hanya satu kepastian yaitu ketidak pastian, itu kata albertenstain tapi menurtku ada benarnya juga .....aku membaca buku-buku yang di tulis ANDREA dan PRAMOEDAYA semua penulis yang hebat hanya cara pandang mereka yang berbeda ESENSI yang dapat dari keduanya adalah "bahwa tidak ada jalan pintas untuk sebuah kesuksesan"

Anonymous said...

luar biasa kanda.. sehat selalu

Anonymous said...

yaelah kalo mau salah-salahan kenapa banyak orang pengen ke LN ga gara2 buku A.Hirata dan A.Fuady juga kali.
Sentimen banget tulisannya,
tujuannya bagus sih buat ngingetin membangun tanah air dulu, tapi ga pake sentimen sama karya anak negeri juga dong.
NH Dini juga penulis Indonesia yang tinggal di LN, mbuat beberapa novel yang latar belakangnya kehidupan LN, kok ga di sentimen-in. Belum pernah baca ya, atau bacanya cuma karya A.Hirata, A.Fuady, dan Pramudya saja? Maaf, tapi opini anda terlalu mentah.

Anonymous said...

Padahal di ceritakan bhw sepulang dr LN, andrea jd penunggu kedai kopi... Tp yg jd pikiran sy nih.. Kok bs orang men-judge karya fiksi orang lain dg: meracuni, berbahaya? Apa bahayanya irang belajar di LN? Apa bahayanya orang sukses? Apa bahayanya orang bekerja keras meraih mimpi dan prihatin sbgmn di novel fiksi andrea? Itu mah gak berbahaya... Tp kalau orang lain lalu sirik atas keberhasilan tsb, sangat mungkin sih, berbahaya...

Anonymous said...

Biasa politik...sirik liat org lain sukses menulis, bginilh pnyalurannya

heri said...

hmmm tapi bagi saya apapun alasannya entah itu belajar, melancong, apa aja yang bau bau keluar negeri pokoknya keren, ga semua orang bisa melakukan, dan anak muda sekarang memang banyak memimpikannya, ga tau juga mungkin karena mencari sebuah kebahagiaan mungkin, yang jelas gengsi dapet lah

Anonymous said...

Bnyak sekali sebenarnya alumni LN yg ingin mengabdi di Indonesia, ttp knyataannya, mereka malah sulit mndaptkn pekerjaan di Indonesia. Pemerintah kurang siap menampung para lulusa LN itu, akhirnya malah mereka bnyak d tawari kerja di LN.. Contoh, di malaysia bnyak skali para ahli, profesor, dokter, teknisi,dosen, dll baik lulusan dalm maupun luar negeri, jumlahnya ada skitar 500 orang. Dan itu orang Indonesia lho.. Kenapa ndak bkerja di indonesia.? Ya karena gak ada ksempatan, bnyaknya praktik2 KKN yg mnghalangi.. Semoga kita bisa berbuat baik untk ngeri tercinta, Indonesia Jaya..

Unknown said...

Saya kira Mas Yusron terlalu cepat mengambil kesimpulan, ditambah dengan judgment. Namun karena ini artikel dalam blog, dan bukan karya ilmiah, hal ini tidaklah jadi masalah, apalagi ini blog Mas Yusron sendiri. Saya cuma pengen tanya, apakah Mas Yusron sudah benar2 baca buku-nya? keempat2nya? Kalimat manakah yang anda tengarai sebagai racun yang menjadikan anak bangsa ingin kaya dengan instant melalui sekolah ke luar negeri?

Banyak petuah dan motivasi yang saya kira bisa didapatkan dari buku laskar pelangi, bahwa mendapatkan pendidikan adalah hak semua anak bangsa, bahwa mimpi dapat dilayangkan setinggi langit, tidak harus kaya, tidak harus berduit, tapi tetap harus punya mimpi, bahwa persahabatan itu indah, bahwa pengabdian (Ibu Muslimah) itu indah dan mulia.

Saya juga penerima beasiswa luar negeri, pembaca buku Andrea Hirata, tapi saya tidak pernah berharap bahwa saya akan plang kaya raya, punya rumah seperti rumah yang kita lihat dalam sinetron, tidak pernah

Saya belajar ilmu pasti yang kebetulan di Indonesia, kemajuannya belum sejauh apa yang saya dapati dan pelajari di sini, dan saya sangat ingin pulang ke Indonesia, ke kampung halaman saya untuk paling tidak membaktikan apa yang saya dapatkan di sini untuk kemajuan negara

Bukannya klise, tapi saya kira banyak juga orang yang terinspirasi bukan teracuni oleh karya Andrea Hirata. Mungkin kalau dibuat survey, dengan jumlah responden representatif, pasti akan lebih mengasyikkan lagi ulasannya, jadi bukan hanya judgment isinya

Maaf kepanjangan, salam!

Randi Syafutra said...

"Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu..."
Tunjukkan sportifitas anda dengan cara membuat Mahakarya sehebat atau malah lebih hebat dari Tetralogi Novel Andrea Hirata...
Saya tunggu karya anda...

Yusran Darmawan said...

bung rendi syafutra. sebuah karya yang baik mesti didukung oleh sebuah kritik yang memadai. sebuah kritik menyebabkan karya itu akan tetap membumi, serta bisa terus melakukan penyempurnaan. tanpa energi kratif dalam bentuk kritikan, maka seorang pengarang bisa terjangkiti semangat narsis serta sikap toritatif bahwa semua yang dilakukannya selalu benar. sayangnya, di negeri kita, energi kritik sering dilihat negatif. ini yang harus dibenahi.

Jamal Je said...

Saya mahasiswa sastra inggris dan saya berencana ingin melanjutkan kuliah saya ke luar negeri demi indonesia, khususnya daerah tempat tinggal saya, Madura. :O
semangat

Anonymous said...

(Y)

Anonymous said...

Kritik memang baik, tapi mustinya sesuatu yg niatnya baik disampaikan dg cara yg baik jg. Bukan dg menuding menyalahkan, tanpa punya solusi apapun atas yg ia sebut sbg masalah.
Menyebut org lain jumawa, tp justru dg cara & ucapan yg lebih jumawa. LOL...
Bagi saya, cuma memperlihatkan piciknya cara berfikir anda. Tidak suka melihat orang lain punya karya yg dianggap bagus oleh orang lain. Sementara bung Yusran sendiri, karya apa yg sudah anda hasilkan?
Atau jangan2 tulisan ini sbg bentuk kecemburuan saja (kalau sy ga boleh sebut sbg sirik aja, hehe...)

Angkasa Kata said...

maaf mas...tapi tulisan ini dangkal sekali. mengritik prilaku orang lain tapi dengan menyalahkan sesuatu yang belum tentu prilaku itu tercipta akibat dari yang mas tundingkan. beberapa komen malah bisa menilai bahwa laskar pelangi ataupun negeri 5 menara justru mendidik agar kita bisa meraih impian dan berusaha lebih giat untuk mencapai impian. kalau mas masih ingat, ada kalimat: "Man Jadda Wa Jada" yang selalu digadang-gadangkan di Negeri 5 Menara. semoga mas mengerti artinya. lebih bijaklah untuk melihat hal-hal lain kedepannya. salam. :)

FW Adi said...

ah, isi artikelnya kaya orang mabuk
nulis.. lebih banyak iri daripada
penekanan maknanya, lbh banyak
menyalahkan makna tersirat dr buku
andrea hirata tsbt. andrea hirata
tetap penulis yg inspiratip

Laskar Jagad said...

Menarik opini dan perbincangan di sini. Meski tema AH telah muncul sejak 10 tahun silam, tapi pengaruhnya baru mulai terasa skrg bahkan mungkin akan berjalan hingga 100 tahun lagi. Ini bukan krn AH belajar ke LN. Melainkan ia cerdas menulis perjalanan hidupnya dg cara yg unik, ya jadinya LP itu, antara lain. Saya cenderung salut krn ia bisa memantik diskusi tak berkesudahan.

Laskar Jagad said...

Perbincangan menarik. Lebih menarik lagi ada yg marah sama Mas Yusron. Boleh lagi... Bisa melebihi LP lho artikel ini... Heheh

Anonymous said...

ini tulisan sentimen banget. . .
mungkin kalah pamor kali ya. . .

Anonymous said...

ini tulisan sentimen banget. . .
mungkin kalah pamor kali ya. . .

Abu Fauzan said...

Saya termasuk orang yang menghargai kritik, postingan ini memberi sudut pandang berbeda. Tapi apapun itu tetaplah berkarya......

www.abufauzan.com

Anonymous said...

Salam kenal Mas. Saya lulusan Belanda dan pulang ke Indonesia untuk berbuat sesuatu yang sesuai kapasitas saya. Saya setuju dengan bagian "mengasah diri" yang Anda tuliskan. Saya merasakan bagaimana bisa menjadi mandiri dan betul2 mengasah diri ketika berada di LN. Apabila banyak orang yang ternyata bermimpi untuk menjejakkan kaki ke negeri seberang, menurut saya itu patut diapresiasi, semoga dengan itu, semangat juangnya juga meningkat. Karena bagaimanapun, untuk bisa lolos seleksi beasiswa tentunya bukan orang yang sembarangan. Tapi tentu saja, tidak perlu ada arogansi karena telah mengenyam pendidikan di negeri orang, apalagi jika lupa pada bangsa dan malah tidak bisa memberikan manfaat dengan ilmu yang sudah didapat.

Terima kasih, tulisannya sangat menginspirasi :)

joesatch said...

Lho, memangnya pesan utama Laskar Pelangi adalah supaya pembacanya pada sekolah ke luar negeri tho? :v

Ayu Welirang said...

Aha! Keren ini analisisnya Pak... :)

wira said...

Ya, semua kembali kepada perspektif masing2 orang menurut saya. Dan semua kembali kepada pilihan. tidak salah ketika org milih hidup diluar negeri dan tidak salah juga ketika org tetep di indonesia. mgkn ini komentar dari saya.

Wira

Anonymous said...

tks. indonesia itu hebat.

Ary Yogeswary said...

Thanks mas Yusran. Saya belum pernah baca buku Laskar Pelangi, tapi saya setuju dengan poin mas Yusran. Saat saya mencari kerja terasa sekali bedanya tanggapan perusahaan terhadap yang lulusan luar negeri (atau bahkan sekadar pernah tinggal di luar negeri). Padahal belum tentu yang dipelajari di luar negeri beda/lebih bagus daripada yang dipelajari di dalam negeri. Disana cuma lulusan setara D3 tapi disini bisa digaji setara S1 atau bahkan lebih cuma karena modal "luar negeri". Untungnya saya masih punya skill dan bisa bersaing. Tapi setelah saya menikah dan tinggal di luar negeri, saya masih sering mendapat komentar: "Enak ya tinggal di luar negeri..." Padahal sama saja, disini juga masih dikejar-kejar bayar listrik air kontrakan etc, masih banting tulang seperti di Indonesia, masih penuh usaha dan banyak istigfar :P

Anonymous said...

sy kurang setuju opini bung yusran kl setiap yg kuliah di luar negeri pingin hidup enak di kota. banyak kok tmn tmn sy yg lulus dr ln mlh turun kedesa krn muak dgn sistem yg ada di Indonesia. tetapi sy setuju dgn statemen anda yg berbunyi : Yang tak kalah penting, pendidikan bukanlah
satu-satunya parameter untuk mengukur capaian
seorang anak manusia. Yang jauh lebih penting
adalah keihlasan untuk memahami alam
semesta, memuliakan semua manusia lainnya,
serta memandang semua orang sebagai keluarga
yang sama-sama menjadi bagian kecil dari alam
semesta.

Anonymous said...

kalau ingin besar, mmg sdh sepatutnya terbuka thd kritik bkn malah menuntut ke meja hijau, dari situ saja kt sdh bs melihat apakah pribadi tokoh yg ditulis mmg sebaik kenyataannya, pny karya yg dibaca publik sdh sewajarnya mendapat pro dan kontra dan justru itu yg memperkaya diri dlm arti yg sesungguhnya, go ahead mas yusran!!!!

Anonymous said...

Erlina

Opini saudara penulis terlalu melihat sesuatu dari sudut negatifnya. Spirit Andrea Hirata dalam buku itu menurut saya bagus, kerja keras untuk mearih mimpi. Kalau ternyata ada orang yang hanya melihat dari sisi negatif "kebanggan tamat sekolah luar negeri " saja, itu sah-sah saja. Tapi jangan sampai se-ekstrim ini juga kali. Kesannya malah bung penulis agak iri dengan kesuksesan buku Andrea Hirata. Kalau mau kriit yang adil, seharusnya, sis posiitifnya juga dibahas dong...

rianty said...

Gak gitu juga kali. Analisa yang berlebihan. Mosok buku dianggap berbahaya. Macem rezim Orba yang nganggep buku Pramoedya berbahaya :D Sebelum ada buku Andrea, orang Indo emang udah silau ama hal yg berbau luar negeri. Justru buku Andrea memotivasi, ke luar negeri cuma bagian dari memperluas wawasan dan pengetahuan. Bukan mendewakan luar negerinya, apalagi blanja blanji gak jelas. Hikmah bertebaran di mana saja di dalem dan luar negeri. Ya...tapi emang sih susah kalo sudut pandangnya negatif melulu,

Anonymous said...

Saya yang mungkin punya kemampuan tapi hanya kecil kesempatan untuk bisa dapat beasiswa ke LN karena faktor umur saja. Saat saya muda kesempatan itu sedikit sekali, kendala lain yaitu tanggungjawab sebagai seorang ibu menjadi faktor yang menghalangi. apa saya harus merasa rendah diri karena tidak pernah berkesempatan ke LN? harusnya sih tidak, tapi begitulah ... kadang muncul juga penyesalan ... Apakah perasaan itu muncul karena pengaruh gambaran pada buku AH, saya tidak tahu! Tapi, memang begitulah presepsi umumnya orang Indonesua saya kira,kalau bisa sekolah ke LN dianggap hebat. Yang tidak bisa melakukannya, merasa rendah diri.

ovie said...

Tapi lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya....sebagai inspirasi bukan sebagai racun....kita harus mengakui keunggulan iptek bangsa maju...

Anonymous said...

Saya rasa kita hrs melihat perspektif yang berbeda dari tulisan ini, bahwa karya itu sebuah fragmen....kritisisme itu bukan sebuah sinisme....justru sinisme itu ketika membenarkan semuanya ketika melihat ada satu titik kebenaran dan kebaikan yg dimiliki....nah sains dan sastra itu di mn mn berkembang dengan kritisisme bukan puja2 puji mas bro

Martina said...

Saya kebetulan belum membaca novel Laskar Pelangi dan bukan penyuka filmnya. Jadi saya bukan fans Andrea Hirata.
Saya setuju dengan pendapat anda bahwa tidak perlu ke luar negeri untuk menjadi orang yang hebat dan bahwa kesuksesan tidak bisa dinilai hanya dari studi di luar negeri. Namun membaca tulisan anda saya melihat bahwa anda terlalu menyudutkan Andrea Hirata. Apa buku buku "sejenis" yang anda maksud? Kenapa hanya buku Laskar Pelangi yang anda tulis jelas-jelas judul dan pengarangnya? Dan apa bukti bahwa bahwa novel Laskar Pelangi yang memberikan pengaruh paling besar dalam pandangan orang-orang mengenai kesuksesan yang anda sebut di tulisan anda? Berapa persen dari orang-orang yang menghubungi anda yang mengaku bahwa pemikirannya dipengaruhi oleh buku Laskar Pelangi? Silahkan tambahkan dengan fakta.

savagedisquiet said...

Terima kasih atas perspektifnya Pak. Baik sekali anda bisa mengungkapkan sisi lain. Bagi saya, ke luar negri adalah upaya melarikan diri dari kekangan totalitarian sistem hierarki pendidikan dan karir akademik di Indonesia. Saya bisa maju lebih cepat daripada jika saya tinggal di Indonesia karena saya bebas bekerja sesuai kemampuan saya, dengan dukungan sepenuhnya yang tut wuri handayani dari pembimbing LN saya yang mentalitas mendidiknya jauh lebih baik daripada pembimbing saya di Indonesia. Bagi saya, tidak ada jalan lain selain S3 ke luar negri, dengan harapan bisa menjadi pembaharu di Indonesia ketika saya kembali. Tidak ada generalisasi yang tepat untuk setiap orang, hanya yang saya rasakan, tergantung pada apa yang anda cari, ada tempat yang paling tepat untuk tiap orang. Tidak semua orang sanggup hidup di LN, jadi ketika ada kesempatan, syukurilah, masih banyak yang mampu dan ingin tapi belum berkesempatan.

Anonymous said...

sama seperti kebanyakan masyarakat yg memuja secara berlebihan kpd seseorang yg hebat dalam berbahasa Inggris (asing).
Padahal esensi sebenarnya dari sebuah skill adalah karya. Apa gunanya sebuah skill yg bagus, jika individu tersebut tak bisa menelurkan sebuah karya. Menurut saya, kreatifitas berkarya mempunyai nilai yg lebih luhur dari pada sekedar skill mandek.

Anonymous said...

ga pa pa lah, ini komen anda, tapi jelas, lulusan luar negeri itu bisa membawa perkembangan bila balik ke indonesia, dan, jangan salah, tidak semua lulusan luar negeri seperti itu, kalo saya liat, anda membuat tulisan ini seperti untuk mematikan rejeki orang lain, ini hanya cerita, bukan kisah nyata,

Anonymous said...

tidak ada yang salah dengan mimpi ke luar negeri untuk belajar, ilmu bisa dari mana saja, asal berguna bagi manusia...kalau saya baca otobiografi jenaka AH, yang saya lihat adalah semangat untuk lepas dari "keterkungkungan"..semangat itu bagus kok menurut saya...btw, saya juga S1 dan S2 semua didalam negeri kok, dan saya juga waktu itu berusaha cari sekolah keluar dari kota provinsi di sumatra ke Jawa, apakah akan dipandang negatif juga karena "benci" dengan "keterkungkungan" di Sumatra sedangkan Jawa lebih menjanjikan kehidupannya??...saya sih setuju dengan pendapat deng xiaoping...tak peduli kucing hitam atau putih asal itu kucing bisa menangkap tikus...artinya terserah belajar dimana saja yang penting ilmunya berguna..:)

Anonymous said...

alih-alih ingin menasehati orang lain agar ngga perlu ke luar negeri tapi yang nulis malah menetap di luar negeri. alih-alih pengin kelihatan tulisannya berbobot tapi ngga penting banget isinya. jangan mau terkukung dengan tanah sejengkalmu maka pergilah mencari ilmu hingga ke negeri cina. eh tapi bener juga sih, yang nulis ini produk dari luar negeri jadi bisa dimaklumi kalo tulisannya begini hahahahaha :))))

makbul mubarak said...

saya rasa yang luput dari amatan bung yusran adalah cerita selepas tokoh Ikal kembali dari luar negeri. Kita amati dia tidaklah hidup glamor sebagaimana yang mas kaitkan dengan pembangunanisme orde baru, melainkan menjadi pengangguran dan kembali mengeruk timah, dekat sekali dengan profesi sahabatnya Lintang si pemanjat kelapa. Menurut saya, di sini tokoh Ikal sedang melancarkan mekanisme self-critique, dimana dia menyadari bahwa pendidikan di luar negeri tidak akan berpengaruh tanpa adanya skill yang memadai seperti yang bung yusran utarakan di atas. Saya hargai upaya kritis bung yusran, tapi alangkah lebih baiknya jika kita tidak mengamati narasi keseluruhan sebuah novel (apalagi tetralogi) secara parsial saja (bagian belajar ke luar negeri dan segala atribut-atribut eksotis nan modernya), melainkan mengamati keseluruhan cerita dan membicarakannya dalam bingkai yang utuh sebelum merefleksikannya untuk mengomentari permasalahan sosial seperti bias modernisme, dan isu lain sebagainya. Memang benar bahwa ada imajinasi populer bahwa belajar ke luar negeri adalah lebih baik dibanding belajar di dalam negeri, tapi itu sudah ada jauh sebelum Laskar Pelangi, dan seperti yang bung katakan sendiri, adalah warisan orde baru, sebuah era sebelum Laskar Pelangi diterbitkan, jadi saya rasa, mengalamatkan isu seperti pada sebuah novel populer bisa jadi beresiko terbaca sebagai sebuah upaya pengkambinghitaman yang bukan saja parsial dalam cara menganalisa karya, melainkan juga kurang solid dalam merunut kronologi sejarah dimana karya tersebut berasal. ini pendapat saya saja.

Anonymous said...

tuntutlah ilmu hingga ke negeri cina...
ga ada yang salah dengan keinginan sekolah atau bekerja di luar negeri. positif kok novelnya. benar, yang penting jangan sombong. that's it. Dan saya pikir andrea tidak ingin mengecilkan temannya lintang, dia hanya prihatin dengan pendidikan yang kurang diperhatikan dan kurang memfasilitasi orang-orang seperti lintang di indonesia. Jangan batasi mimpi orang, selama itu positif. Dan tidak etis menyalahkan seorang penulis atas persepsi pembaca yang diluar kendali sang penulis. novel laskar pelangi adalah novel yang positif.

Anonymous said...

Wah luar biasa tulisannya, kuat dan mempengaruhi. Saya setuju seratus persen apa yang anda tulis. Bahkan saya merasakan sendiri yang disebut dilema akan kehidupan ala modernisme. Hingga kini pun justru saya ingin sekali pulang ke kampung halaman menikmati kehidupan pedasaan.

Anonymous said...

Bukan menjadi permasalahan untuk belajar ke LN.. Selama ada kesempatan dan modal (skill) kenapa tidak..
Kemuliaan seseorang itu tidak hanya dilihat dari dia membantu masyarakat sekitar desa...
Orang yang mulia itu orang yang memiliki ilmu luas sesuai dengan sabda Nabi Muhammad.. Nabi berpesan juga untuk kita berhijrah ke lain tempat untuk memperluas ilmu.. Dan berguna bagi sesama.. Bagi sesama di sini berarti ke siapapun yang penting baik (Allahuallam) Yang saya liat dari buku ini adalah bagaimana AH bersemangat untuk mencoba itu.. Dan sebaiknya kita jangan langsung men-jugde AH menjadi biang kerok masalah ini.. Dangkalnya pemikiran orang yang menyebabkan itu semua.. Mari kita semua intropeksi diri kita..

Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Yusran Darmawan said...

teman-teman sekalian, saya kesulitan untuk membalas semua komentar satu per satu. sy masih gatek di dunia blog. format blog ini tidak memungkinkan sy untuk langsung replay setiap komentar. sy udah coba perbaiki, tapi gak bisa2 juga. ditambah lagi, akses internet di kampung sy sangatlah lambat. sy akan usahakan utk merespon satu per satu keberatan maupun kritik atas tulisan ini.

Yusran Darmawan said...

Anonymus menulis: "Bukan menjadi permasalahan untuk belajar ke LN.. Selama ada kesempatan dan modal (skill) kenapa tidak.. Kemuliaan seseorang itu tidak hanya dilihat dari dia membantu masyarakat sekitar desa... Orang yang mulia itu orang yang memiliki ilmu luas sesuai dengan sabda Nabi Muhammad.. Nabi berpesan juga untuk kita berhijrah ke lain tempat untuk memperluas ilmu.. Dan berguna bagi sesama.. Bagi sesama di sini berarti ke siapapun yang penting baik (Allahuallam) Yang saya liat dari buku ini adalah bagaimana AH bersemangat untuk mencoba itu.. Dan sebaiknya kita jangan langsung men-jugde AH menjadi biang kerok masalah ini.. Dangkalnya pemikiran orang yang menyebabkan itu semua.. Mari kita semua intropeksi diri kita."

==>
sy setuju dengan masukannya tentang hijrah. namun hijrah bisa diinterpretasikan secara berbeda. sy melihat pemaknaan hijrah lebih pada substansi, yakni meninggalkan segala yang buruk, kemudian berpindah ke arah yang baik. dalam konteks pendidikan, sah-sah saja seseorang belajar ke tempat jauh, namun yang tak kalah penting adalah kesadaran tentang konteks sosio historis serta kultural harus tetap melekat dalam dirinya. ketika ia bisa berbuat sesuatu bagi tempat asalnya, maka itu jauh lebih baik. ia bisa membuktikan bahwa ketika perantauan itu bisa membawanya ke butir-butir hikmah.

Yusran Darmawan said...

Anonymous menulis: "Wah luar biasa tulisannya, kuat dan mempengaruhi. Saya setuju seratus persen apa yang anda tulis. Bahkan saya merasakan sendiri yang disebut dilema akan kehidupan ala modernisme. Hingga kini pun justru saya ingin sekali pulang ke kampung halaman menikmati kehidupan pedasaan."

==>
kita berada pada kereta yang sama. salam kenal.

Yusran Darmawan said...

Anonymous menulis, "tuntutlah ilmu hingga ke negeri cina... ga ada yang salah dengan keinginan sekolah atau bekerja di luar negeri. positif kok novelnya. benar, yang penting jangan sombong. that's it. Dan saya pikir andrea tidak ingin mengecilkan temannya lintang, dia hanya prihatin dengan pendidikan yang kurang diperhatikan dan kurang memfasilitasi orang-orang seperti lintang di indonesia. Jangan batasi mimpi orang, selama itu positif. Dan tidak etis menyalahkan seorang penulis atas persepsi pembaca yang diluar kendali sang penulis. novel laskar pelangi adalah novel yang positif."

==>
(1) memang gak ada yang salah dengan mimpi sekolah ke luar negeri, sebagaimana mimpi Ikal yakni raih impian keluar negeri, segera jadi kelas menengah, dan biarkan teman-temanmu dengan nasibnya sendiri. mimpi ikal lainnya adalah tak perlu melakukan sesuatu bagi masyarakat di pertambangan timah itu yang nasibnya mengenaskan.

(2) sy tak pernah menyalahkan Andrea. sy hanya mengkritisi karya2nya. fokus sy adalah pada teks-teks yang dihasilkannya, serta dampak yang ditimbulkannya.

Yusran Darmawan said...

Makbul Mubarak menulis: "saya rasa yang luput dari amatan bung yusran adalah cerita selepas tokoh Ikal kembali dari luar negeri. Kita amati dia tidaklah hidup glamor sebagaimana yang mas kaitkan dengan pembangunanisme orde baru, melainkan menjadi pengangguran dan kembali mengeruk timah, dekat sekali dengan profesi sahabatnya Lintang si pemanjat kelapa. Menurut saya, di sini tokoh Ikal sedang melancarkan mekanisme self-critique, dimana dia menyadari bahwa pendidikan di luar negeri tidak akan berpengaruh tanpa adanya skill yang memadai seperti yang bung yusran utarakan di atas. Saya hargai upaya kritis bung yusran, tapi alangkah lebih baiknya jika kita tidak mengamati narasi keseluruhan sebuah novel (apalagi tetralogi) secara parsial saja (bagian belajar ke luar negeri dan segala atribut-atribut eksotis nan modernya), melainkan mengamati keseluruhan cerita dan membicarakannya dalam bingkai yang utuh sebelum merefleksikannya untuk mengomentari permasalahan sosial seperti bias modernisme, dan isu lain sebagainya."

==>
semua yang sy ungkapkan hanyalah bagian kecil dari hasil analisis teks yang sudah dilakukan sahabat sy Nurhady Sirimorok. setahu sy, hanya beliau yang pernah melakukan riset atas Laskar Pelangi. sementara orang lain hanya menyebut inspiratif, lalu terjebak pada persepsi yang mainstream, tanpa nalar kritis untuk membedahnya secara serius.

Yusran Darmawan said...

anonymous menulis, "alih-alih ingin menasehati orang lain agar ngga perlu ke luar negeri tapi yang nulis malah menetap di luar negeri. alih-alih pengin kelihatan tulisannya berbobot tapi ngga penting banget isinya. jangan mau terkukung dengan tanah sejengkalmu maka pergilah mencari ilmu hingga ke negeri cina. eh tapi bener juga sih, yang nulis ini produk dari luar negeri jadi bisa dimaklumi kalo tulisannya begini hahahahaha :))))

==>

sy hanya menanggapi mereka yang niat utk berdiskusi. kalau anda pengagum andrea, pasti anda bisa menyampaikan gagasan kritis atas tulisan sy. lagian, kalo gak penting, ngapain anda tanggapi?

Yusran Darmawan said...


anonymous menulis, "tidak ada yang salah dengan mimpi ke luar negeri untuk belajar, ilmu bisa dari mana saja, asal berguna bagi manusia...kalau saya baca otobiografi jenaka AH, yang saya lihat adalah semangat untuk lepas dari "keterkungkungan"..semangat itu bagus kok menurut saya...btw, saya juga S1 dan S2 semua didalam negeri kok, dan saya juga waktu itu berusaha cari sekolah keluar dari kota provinsi di sumatra ke Jawa, apakah akan dipandang negatif juga karena "benci" dengan "keterkungkungan" di Sumatra sedangkan Jawa lebih menjanjikan kehidupannya??...saya sih setuju dengan pendapat deng xiaoping...tak peduli kucing hitam atau putih asal itu kucing bisa menangkap tikus...artinya terserah belajar dimana saja yang penting ilmunya berguna..:)"

==>
memang, tak ada yang salah dengan belajar di luar negeri. tak salah pula semangat Ikal untuk meraih mimpi keluar negeri, dan biarkan teman2nya dgn nasib masing2, kemudian pandang sebelah mata para nelayan dan pekerja pabrik timah, tanpa membantu mereka utk memetakan secara struktural sebab2 ketertindasan yang dialami di situ. bagi sy, mimpi ini amat utopis dan tak sesuai dengan semangat pendiri bangsa kita untuk membebaskan seluruh bangsa Indonesia.

Yusran Darmawan said...

anonymous menulis: "ga pa pa lah, ini komen anda, tapi jelas, lulusan luar negeri itu bisa membawa perkembangan bila balik ke indonesia, dan, jangan salah, tidak semua lulusan luar negeri seperti itu, kalo saya liat, anda membuat tulisan ini seperti untuk mematikan rejeki orang lain, ini hanya cerita, bukan kisah nyata,"

==>
(1) Amin. sy senang kalau alumni luar negeri bisa membawa pengetahuan dan berbakti untuk bangsanya.
(2) anda bilang sy mematikan rezeki? wah.. Andrea Hirata udah kaya-raya gara2 novel itu, yang kemudian telah anda beli. tulisan sy ibarat angin lewat, yang mudah diabaikan. mana ada yang terpengaruh oleh sy yg hanya orang biasa ini.

Yusran Darmawan said...

anonymous menulis: "sama seperti kebanyakan masyarakat yg memuja secara berlebihan kpd seseorang yg hebat dalam berbahasa Inggris (asing). Padahal esensi sebenarnya dari sebuah skill adalah karya. Apa gunanya sebuah skill yg bagus, jika individu tersebut tak bisa menelurkan sebuah karya. Menurut saya, kreatifitas berkarya mempunyai nilai yg lebih luhur dari pada sekedar skill mandek"

==>
setuju. that's a good point.

Yusran Darmawan said...


anonymous menulis: "Terima kasih atas perspektifnya Pak. Baik sekali anda bisa mengungkapkan sisi lain. Bagi saya, ke luar negri adalah upaya melarikan diri dari kekangan totalitarian sistem hierarki pendidikan dan karir akademik di Indonesia. Saya bisa maju lebih cepat daripada jika saya tinggal di Indonesia karena saya bebas bekerja sesuai kemampuan saya, dengan dukungan sepenuhnya yang tut wuri handayani dari pembimbing LN saya yang mentalitas mendidiknya jauh lebih baik daripada pembimbing saya di Indonesia. Bagi saya, tidak ada jalan lain selain S3 ke luar negri, dengan harapan bisa menjadi pembaharu di Indonesia ketika saya kembali. Tidak ada generalisasi yang tepat untuk setiap orang, hanya yang saya rasakan, tergantung pada apa yang anda cari, ada tempat yang paling tepat untuk tiap orang. Tidak semua orang sanggup hidup di LN, jadi ketika ada kesempatan, syukurilah, masih banyak yang mampu dan ingin tapi belum berkesempatan."

==>

makasih atas tanggapannya. sy sangat senang membaca kalimat bijak anda. sy setuju bahwa tidak semua kasus bisa digenerlisir. semua punya dinamika masing2.

Yusran Darmawan said...



Anonymous menulis, "Saya kebetulan belum membaca novel Laskar Pelangi dan bukan penyuka filmnya. Jadi saya bukan fans Andrea Hirata. Saya setuju dengan pendapat anda bahwa tidak perlu ke luar negeri untuk menjadi orang yang hebat dan bahwa kesuksesan tidak bisa dinilai hanya dari studi di luar negeri. Namun membaca tulisan anda saya melihat bahwa anda terlalu menyudutkan Andrea Hirata. Apa buku buku "sejenis" yang anda maksud? Kenapa hanya buku Laskar Pelangi yang anda tulis jelas-jelas judul dan pengarangnya? Dan apa bukti bahwa bahwa novel Laskar Pelangi yang memberikan pengaruh paling besar dalam pandangan orang-orang mengenai kesuksesan yang anda sebut di tulisan anda? Berapa persen dari orang-orang yang menghubungi anda yang mengaku bahwa pemikirannya dipengaruhi oleh buku Laskar Pelangi? Silahkan tambahkan dengan fakta."

==>

(1) buku sejenis yang sy maksudkan adalah buku2 yang berlabel inspiratif. mengajarkan orang2 untuk meraih mimpi menjadi kelas menengah dan borjuis.
(2) sy tak pernah menyudutkan Andrea. sy hanya fokus pada karyanya saja. menurut sy, seorang sastrawan atau penulis yang baik akan selalu membutuhkan seorang kritikus atau orang lain yang bisa membantu melihat celah-celah dari karyanya yang sring tak disadari. justru sy menyenangi Andera makanya sy coba melihat karyanya dari sisi berbeda.
(3) Anda bertanya ttg bukti? Hmm… apakah bukti yang anda maksudkan buktu material ataukah sebuah riset? Jika riset, satu-satunya riset adalah yang dilakukan Nurhady Sirimorok (2008). karyanya telah diterbitkan menjadi buku. di luar itu, maka semua bergerak pada tataran asumsi saja. apa anda juga pernah riset dan punya bukti bahwa karya itu baik2 saja?
(4) Berapa persen? hmmm. ini pernyataan yang sangat kuantitatif. riset-riset ilmu sosial tak selalu kuantitatif, tapi lebih ke arah kualitatif yang lebih menakankan pada kedalaman argumentasi serta informasi yang detail. tulisan sy di atas adalah upaya penghampiran ke argumentasi yang kokoh.

Yusran Darmawan said...

Anonymous menulis: "Saya rasa kita hrs melihat perspektif yang berbeda dari tulisan ini, bahwa karya itu sebuah fragmen....kritisisme itu bukan sebuah sinisme....justru sinisme itu ketika membenarkan semuanya ketika melihat ada satu titik kebenaran dan kebaikan yg dimiliki....nah sains dan sastra itu di mn mn berkembang dengan kritisisme bukan puja2 puji mas bro"

==>

setuju. idealnya Ah harus berterimakasih atas berbagai tulisan dan kritik atas karyanya. dengan cara demikian, dia bisa menyempurnakan karyanya pada masa mendatang, serta bisa melihat sisi lain yang selama ini luput. sayangnya, di tanah air, banyak orang yang terbiasa dengan puja-puji, dan tak menyiapkan diri menghadapi kritikan. makasih bro.

Yusran Darmawan said...

anonymous menulis, "Tapi lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya....sebagai inspirasi bukan sebagai racun....kita harus mengakui keunggulan iptek bangsa maju.."

==>
pada suatu masa, barat pernah tenggelam, timur yang berjaya. kemudian barat bangkit, dan timur tenggelam. barat lalu memaksakan anggapan bahwa mereka lebih beradab, sehingga timur harus mengikuti jalan yang pernah dilalui barat. benar kata seorang pengarang, penjajahan terbesar di negeri kita adalah penjajahan melalui pikiran. itu yang sedang terjadi.

widyarahayu said...

mungkin memang mengesalkan melihat anak muda mengukur mimpi dari bisa atau tidak keluar negeri.
tapi tidak ada mimpi yang salah.
biar saja mereka jatuh ketika berusaha. setidaknya mereka punya mimpi dan mengusahakannya.

Anonymous said...

Seberapa mahal sih harga novelnya?

Unknown said...

*menyimak*

Unknown said...

*menyimak* :)

Salam.

Anonymous said...

lho mas...anda sendiri jelas2 nulis judul: Bahaya Buku Andrea Hirata...jelas-jelas sudah jadi racun untuk menjatuhkan Andrea. pembukannya aja sudah negatif, membaca ke isinya makin ngga karuan lagi mau ngomong soal beasiswa tapi bawa-bawa Andrea dan A. Fuady dan menyalahkannya tanpa ada bukti dan hanya asumsi pikiran negatif anda. Sepertinya haternya Andrea ya? ujung-ujungnya selalu dibandingkandengan Pramoedya oh ya saya sendiri bukan pendukung Andrea.

Yusran Darmawan said...

anonymous menulis, "lho mas...anda sendiri jelas2 nulis judul: Bahaya Buku Andrea Hirata...jelas-jelas sudah jadi racun untuk menjatuhkan Andrea. pembukannya aja sudah negatif, membaca ke isinya makin ngga karuan lagi mau ngomong soal beasiswa tapi bawa-bawa Andrea dan A. Fuady dan menyalahkannya tanpa ada bukti dan hanya asumsi pikiran negatif anda. Sepertinya haternya Andrea ya? ujung-ujungnya selalu dibandingkandengan Pramoedya oh ya saya sendiri bukan pendukung Andrea."

==>

(1) Jadi, menurut anda, saya harus ikut memuji-muji karya itu ya? apa saya gak boleh menyampaikan opini yang berbeda? hmmm…. di mana-mana, semua pengarang selalu membutuhkan orang lain untuk melihat sisi lain dari karyanya. dengan cara demikian, karya-karya sastra bisa terus mengalami penyempurnaan, serta pengarang bisa belajar dari segala kelemahannya sendiri.

(2) isi gak karuan? di bagian mana. mari sama-sama kita diskusikan. siapa tahu sy keliru ketika menyusun argumentasi. let me know.

(3) jelas sekali. tulisan sy dibuat dengan menggunakan asumsi teoritik yang kuat. sy menggunakan teori modernisasi dan orientalisme untuk melihat karya Andrea. sy memang tidak menyebut nama ahli dalam analisis sy. tapi bagi yang rajin membaca wacana pembangunan, kemudian membaca teori orientalisme dari Edward Said, pasti mengerti arah yang sy maksudkan. Lantas letak salahnya di mana? apa anda punya argumen yang bisa dipake untuk meng-counter apa yang sy tulis?

(4) satu-satunya yang pernah riset ttg Andrea adalah Nurhady Sirimorok. Silakan baca bukunya yang berjudul Laskar Pemimpi. Malah, anda yang ngomong hanya berdasar asumsi. sebab sy yakin anda tak pernah melakukan riset tentang karya2 Andrea.

(5) jelaslah harus dibandingkan dengan Pramoedya. hanya Pramoedya yang pernah masuk dalam nominasi peraih nobel. hanya dia juga yang karyanya jadi bacaan wajib di kelas2 sejarah asia tenggara di amerika.

Unknown said...

well klo mnrt saya sih simplenya ni fenomena sosial mencerminkan adanya kejenuhan yang terjadi di dalam negeri sendiri, jenuh akan mslh hukum, jenuh akan jaminan kesehatan dan sosial yg mereka anggap di luar negeri akan memberikan kehidupan yg lebih layak drpd di negeri sndri

Anonymous said...

Hey Dude, congrats you've made it. Kamu expert sekali di bidang kritik. You know how to get a great attention. Just pick somebody who's famous as your target then boom ! Your blog get a massive attention. Hasil belajar strategy di luar negerinya berhasil. I am looking forward to read your article about yur own contribution and achievements, dude! aaannnd Ditunggu kritikan lainnya. next time Agnes Monica maybe?

Yusran Darmawan said...

Anonymous menulis, "Hey Dude, congrats you've made it. Kamu expert sekali di bidang kritik. You know how to get a great attention. Just pick somebody who's famous as your target then boom ! Your blog get a massive attention. Hasil belajar strategy di luar negerinya berhasil. I am looking forward to read your article about yur own contribution and achievements, dude! aaannnd Ditunggu kritikan lainnya. next time Agnes Monica maybe?"

==>

Expert? what do u mean? Ketika sebuah karya diluncurkan, maka karya itu tak lagi seutuhnya milik pengarang. Karya itu menjadi publik, yang kemudian akan dilihat dengan perspektif masing2. menurut saya, adalah hal yang sangat wajar ketika muncul keragaman perspektif dalam melihat karya itu. boleh jadi, ada yang menyebutnya inspiratif, namun ada pula yang menyebutnya biasa saja. apakah itu salah? tidak khan. Saya hanya menawarkan satu perspektif. semua orang berhak untuk sepakat atau tidak sepakat dgn apa yang saya ajukan. bagaimana dgn anda sendiri? Jika tak sepakat, marilah kita berdiskusi dengan santun. makasih.

Anonymous said...

1. Darimana ada bisa menyimpulkan itu bahaya? Apakah sebahaya dengan cara pikir anda yang cetek? Sementara belum tentu benar keinginan orang keluar negeri karena novel itu..peranan sosial media (FB, twitter, blog) pun punya andil besar memicu orang untuk ke luar negeri tidak hanya buku LP atau Negeri 5 Menara

2. Yang anda kritik tentang tokoh ikal ternyata juga salah besar. Banyak komen yang bilang bahwa ikal sendiri juga tidak sukses dan kesulitan mencari kerja selepas kuliah dari luar negeri. Bagaimana orang lain akan berpikir bahwa sekolah diluar negeri itu akan sukses sementara di cerita LP tidak seperti itu kenyataannya.

3. Ada beberapa komentar yang menanyakan "Ngapain anda belajar keluar negeri?" kalau pun ternyata di blog ini ada menyuruh agar orang lain tidak perlu belajar keluar negeri? Dan Pertanyaan itu belum juga anda jawab. Tau ngga, dari dulu Kartini juga ngebet banget pingin keluar negeri. Tau ngga "Habis Gelap Terbitlah Terang" sudah lebih dulu muncul daripada Laskar Pelangi ataupun Negeri 5 Menara

4. Bung, sekali-kali jangan terlalu bawa-bawa Pramodya. Sudah terlalu banyak orang-orang yang (sok) ngerti sastra menjadikan nama beliau untuk tameng mengritisi orang lain. Beliau (pak Pram) orangnya sangat rendah hati dan rasanya ngga etis membandingkan dengan LP atau Negeri 5 Menara. Saya yang bodoh saja bisa memastikan bahwa karya beliau yang sudah makan asam garam memang jauh telak dibanding 2 karya milih Andrea dan A. Fuady.

Terima Kasih bila berkenan untuk menjawab

Yusran Darmawan said...

Anonymous menulis, "Darimana ada bisa menyimpulkan itu bahaya? Apakah sebahaya dengan cara pikir anda yang cetek? Sementara belum tentu benar keinginan orang keluar negeri karena novel itu..peranan sosial media (FB, twitter, blog) pun punya andil besar memicu orang untuk ke luar negeri tidak hanya buku LP atau Negeri 5 Menara 2. ........... (lihat di atas)

==>

1. Argumentasi ttg bahaya itu sudah sy jelaskan dalam tulisan. sy mengkhawatirkan kalau ada anggapan berbeda yang melihat novel itu sebagai motivasi utk melihat luar negeri segala-galanya. Anda benar bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi anggapan itu. dalam ilmu sosial, sy pernah belajar bahwa tak ada sebab tunggal. selalu ada banyak kenyataan yang kemudian berkontribusi pada munculnya anggapan tertentu. namun dalam koteks tulisan di atas, sy fokus pada teks-teks dalam novel. sy memosisikan teks itu sebagai gerbang untuk memahami realitas sosial.

2. Bagi sy, anggapan ttg Ikal itu sangat tepat. dengan senang hati, sy bisa tunjukkan bagaimana Ikal begitu memuja barat, dan menggambarkan kemiskinan sebagai keterbelakangan. pada bab-bab awal pun, Ikal sudah menggambarkan Lintang dan ayahnya berpakaian kotor. ada asumsi kelas yang snagat kuat pada teks-teks tentang Ikal. Bagi sy, mimpi Ikal itu adalah mimpi kelas menengah kebanyakan yakni pengen sukses, keluar negeri, dan kaya-raya. soal dia gagal mendapatkannya, maka sy melihatnya sebagai elemen dramatik dalam satu karya.

3. Sy memang belajar keluar negeri. tapi belajar di sini bukan dalam konteks melihat barat segala-galanya. sy belajar antropologi yang memosisikan pengetahuan di setiap level sangatlah penting. barat hanyalah catatan kaki dari gelas besar pengetahuan yang saya dapatkan di kampung halaman. sy tidak kagum dgn barat. dalam hal pengetahuan, sy terobsesi utk mendialogkan pada posisi sejajar antara pengetahuan yg sy dapat di desa, dan pengetahuan yg sy dapat di barat. dan secara epistemologis, itu dimungkinkan. kalau tak jelas, kita bisa diskusi lebih lanjut.

Konteks sosial zaman Kartini sangat berbeda dgn konteks yang dihadapi Ikal. Pada masa Kartini, feodalisme dilihat sebagai masalah, dan modernisme adalah jalan terang untuk lahirnya negara bangsa. dalam upaya merebut kemerdekaan, sy setuju dgn pandangan Kartini, krn pada masa itu, kaum feodal adaah musuh pergerakan. Namun di masa Ikal, situasinya berbeda. tugas negara adalah bagaimana memastikan semua kelompok tradisional bisa memasuki gerbang modern, tanpa harus kehilangan akar kulturalnya. Mestinya, tugas Ikal adalah bagaimana mengemansipasikan masyarakatnya, dan tidak harus egois hanya memikirkan dirinya. mimpi Ikal adalah mimpi naik kelas, lalu mengabaikan sekitarnya. buktinya, ketika menggaai luar negeri, ia merasa sudah sukses. memang, tak ada yang salah dnegan impian. tapi impian itu sangat naif. sangat beda dgn mimpi Kartini yang ingin membebaskan bangsanya.

4. Pramoedya sengaja saya kutip untuk menggambarkan kerendahhatiannya. Juga untuk menjelaskan bagaimana proses kreatifnya, serta visi yang kuat ttg kebangsaan dalam karyanya. Yang bikin saya kagum, ia meladeni semua pengkritik karyanya dengan dialog-dialog yang konstruktif. Bahkan ketika ia sudah tua sekalipun, Pram meladeni semua pengkritik karyanya melalui dialog2 yang konstruktif. dan publik bisa belajar banyak dari dialog itu. publik bisa tercerahkan. Pertanyaannya, apakah pengarang yang anda kagumi itu pernah meladeni kritik keras dalam buku Laskar Pemimpi yang ditulis Nurhady Sirimorok?


Anonymous said...

Terima kasih sudah berkenan menjawab. Tapi maaf ya saya tetap dengan pendapat saya sendiri juga bahwa saya melihat anda ya ngga lebih baik dari karya AH meskipun saya juga tahu prilaku AH juga banyak yang menilai negatif. Sah-sah saja kan. :)

Yusran Darmawan said...

Anonymous menulis, "Terima kasih sudah berkenan menjawab. Tapi maaf ya saya tetap dengan pendapat saya sendiri juga bahwa saya melihat anda ya ngga lebih baik dari karya AH meskipun saya juga tahu prilaku AH juga banyak yang menilai negatif. Sah-sah saja kan. :)"

==>

Anda benar. semua penilaian tetap sah. bahkan ketika anda menilai negatif pun tak masalah. kalaupun anda mau mengakhiri diskusi juga gak apa. padahal, sy merasa kalau diskusi ini baru saja dimulai. banyak hal yang masih bisa kita gali sama2. dalam diskusi, sy selalu terbuka. kalau pendapat sy salah, maka sy akan mengakuinya. sayang sekali kalau diskusi ini berakhir.

Anonymous said...

Agak buang waktu sebenarnya diskusi disini. Sebenernya ada ingin mengritik keadaan sosial di negeri ini tapi ada malah terjebak mendiskriditkan novel AH dan AF. Yang mau dibenahi yang mana? Keadaan sosial kita atau buku2 AH dan AF. Toh keadaan sosial yg anda kritik tadi ngga ada sangkut pautnya dengan dugaan anda negatif (yang saya amati ada beberapa tindakan negatif timbul karena ada beberapa pihak yang ingin menyerang AH karena prilaku AH yang kurang rendah diri dan umumnya mencatut nama PAT sebagai tameng...ayolah terlalu dini membandingkan kedua nama itu dengan PAT). Jadi mana yang mau anda benahi? Menyalahkan buku ngga akan membenahi prilaku yang anda tuduhkan tadi dan ini malah sama saja anda membuka luka lama bagi PAT yang dulu bukunya dianggap berbahaya. Apa anda ngga malu menuduh sebuah buku adalah sesuatu yang berbahaya seperti orde baru menuduh buku PAT berbahaya? Ayolah. Saya yakin orang-orang yang anda bilang punya prilaku buruk tadi rasanya buka tipe2 orang yang suka membaca buku. Tipe2 orang yang ingin semuanya serba instan. Membaca buku perlu waktu lama. Saya yakin LP atau N5M gga ada sangkut pautnya dengan prilaku miring anak2 muda sekarang. Saran saya mas perbaiki dulu diri anda. Niat dan tujuan anda benar untuk memperbaiki keadaan sosial di negeri kita tapi kalau cara yang anda lakukan salah (menuduhkan buku LP bahaya terlebih menjadi sebuah judul) ya tampak sia-sia. Semua memang ada sisi positif dan negatif tapi kalo lebih banyak manfaat buat apa yang negatif digaungkan. Orang bijak juga pernah bilang sebuah pensil runcing bisa dijadikan alat untuk membunuh....tapi apa iya anda menggunakan alat itu untuk membunuh. Ngga perlu mengungkap sisi negatif dari sebuah pensil runcing kan?
Hahahhahah ternyata saya memiliki banyak waktu yang terbuang disini ya..

Salam

Yusran Darmawan said...

Tadinya sy pikir anda ingin mengakhiri diskusi. Baiklah. Saya akan menjawab satu per satu:

“Agak buang waktu sebenarnya diskusi disini. Sebenernya anda ingin mengritik keadaan sosial di negeri ini tapi ada malah terjebak mendiskriditkan novel AH dan AF”

== Anda mesti paham bahwa novel itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Novel adalah representasi dari apa yang terjadi di dunia luar. Bagi sy, hubungan antara novel dan realitas adalah hubungan dialektis yang saling mempengaruhi. Realitas mempengaruhi penulisan novel, demikian pula sebaliknya. Novel Laskar Pelangi (LP) dibuat berdasarkan cara pandang penulis, yang dipengaruhi oleh dunia sekitar, kemudian nove ini juga mempengaruhi kenyataan. Saya mengamati jendela dunia sosial, dengan memakai lensa dalam novel ini. Apakah itu salah? Toh, peneliti Saya Sasaki Siraishi menjelaskan zaman Orde Baru dengan masuk pada narasi novel karangan Yudhistira Massardi. Demikian pula William Frederick menjelaskan situasi politik, dengan masuk pada teks lagu Rhoma Irama.


“ada beberapa pihak yang ingin menyerang AH karena prilaku AH yang kurang rendah diri dan umumnya mencatut nama PAT sebagai tameng.”

==Come on guys. Masak, ketika ada seseorang yang mengajukan interpretasi berbeda ttg satu karya, tiba-tiba dianggap sedang menyerang. Di sini gak ada perang-perangan. Yang muncul adalah seorang pembaca yang melahap semua bacaan, kemudian punya interpretasi berbeda, serta mengkhawatirkan dunia sosial. That’s it. Sebagaimana telah sy katakan berkali-kali, mestinya pngarang berterimakasih pada pembaca yang memberikan masukan dari sisi berbeda.


“Menyalahkan buku ngga akan membenahi prilaku yang anda tuduhkan tadi dan ini malah sama saja anda membuka luka lama bagi PAT yang dulu bukunya dianggap berbahaya. Apa anda ngga malu menuduh sebuah buku adalah sesuatu yang berbahaya seperti orde baru menuduh buku PAT berbahaya?”

==Ketika sy mengkritik buku, sy meletakkannya sebagai sebuah diskursus atau wacana. Jelas beda dgn apa yang dilakukan Orde Baru atas PAT. Dulu Orba tidak pernah menjadikan buku PAT sebagai wacana utk didiskusikan. Melalui tangan2 kekar negara seperti kejaksaan, rezim Orba langsung menyatakan buku itu sesat dan berbahaya, kemudian buku itu ditarik dari peredaran. Apakah sy melakukan itu? Tidak. Yang sy lakukan adalah membuka ruang diskusi seluas-luasnya tentang karya itu. Sy tak ingin terjebak dengan puja-puji serta label inspiratif yang disematkan orang lain atas buku itu. Lagian, apa sih yang sy miliki selain catatan2 tak penting di blog ini. So, keresahan anda terlampau tergesa-gesa.

Baiknya, diskusi kita lebih difokuskan pada gagasan2. jika sy tak bisa membuat anda puas. sy minta anda menuliskan gagasan2 anda ttg sisi positif novel itu. biar diskusinya lebih menarik. Gimana? Dimana dan pada situs apa sy bisa membaca gagasan anda ttg hal2 baik dalam novel itu?

Anonymous said...

Hahhaah saya bukan tukang ngritik novel mas....ngga perlu lah.
Yang anda jelaskan cukup buat saya untuk menilai bahwa anda memang niatnya ngritik novel...bukan berniat mengubah pola minus di masyarakat.
Niatnya emang udah ngga bener. Wasalam

Yusran Darmawan said...

Anonymous berkata, "Hahhaah saya bukan tukang ngritik novel mas....ngga perlu lah. Yang anda jelaskan cukup buat saya untuk menilai bahwa anda memang niatnya ngritik novel...bukan berniat mengubah pola minus di masyarakat. Niatnya emang udah ngga bener."

==>

Sejak kapan kritik dianggap gak bener? Indonesia itu dimulai dari kritik yang diberikan oleh para founding father pada awal kebangkitan. Tanpa kritik, tak akan pernah ada transformasi sosial atau perubahan. Anda pernah menyebut Kartini. Kalau pernah baca tulisan Kartini, pasti akan tahu bagaimana kritik yang dia berikan pada pemerintah kolonial, serta tradisi. Kritik itu harus dilihat positif sebab bisa mengubah paradigma. Tanpa kritik, tak akan ada perubahan, atas apa yang anda sebut 'pola minus di masyarakat'.

Btw, sejak awal diskusi dgn anda, saya tak melihat sedikitpun ada gagasan yang anda sampaikan. Di setiap kalimat anda selalu ada prasangka. Okelah, kalau anda menuduh sy juga membawa prasangka. tapi sy menuliskan argumentasi serta penalaran logis di balik semua asumsi yg sy kemukakan. sementara anda? sejak awal hanya memberikan komen2 yang menghindari dialog atau diskusi.

Sy semakin yakin kalau argumentasi sy semakin terang. Sy menemukan satu fakta ttg penggemar novel yang hanya bisa marah2 dan tak siap dialog. Dan sy yakin, semua pembaca debat ini akan melihat betapa tak imbangnya debat ini serta bisa melihat sekuat apa argumentasi anda. hahaha..

Btw, nama anda siapa? apa kita bisa berteman, sebagaimana pertemanan Ikal dan Arai?

Anonymous said...

Benar kata Anda, tanpa kritik tak kan ada perubahan. Sayangnya, menurut saya kritik yang Anda tuliskan bukanlah kritik yang membangun, tapi menyudutkan. Bagian mana dari tulisan Anda yang berisi kritik membangun? Saya rasa tidak ada. Kalau Anda ingin berkomentar banyak soal buku LP ini, saran saya bacalah novel selanjutnya, buku ini tetralogi, ada sambungannya, tentang bagaimana kemudian kisah Ikal selama SMA, kuliah di Jakarta, Sorbonne, sampai kisahnya ketika pulang dari Prancis dan menetap sementara di Belitong.

Diawal Anda menuliskan: "Beasisiwa itu membuatnya "naik kelas, merasa lebih berhasil dibanding sahabatnya Lintang yang hanya jadi pemetik Kelapa. Tokoh utamanya yakni Ikal dianggap bekerja sangat keras sehingga buahnya mendapat beasiswa ke luar negri. Sementara sahabatnya yang cerdas bernasib miris hanya sebagai pemanjat kelapa." --> Menurut pandangan saya dari sudut pembaca, kisah yang ditulis AH tentang takdir hidup dia (Ikal) dengan Lintang yang sangat bertolak belakang, bukanlah untuk menyiratkan bahwa dirinya merasa lebih berhasil dari Lintang berkat kerja kerasnya. Justru yang saya tangkap, ada pesan moral yang hendak sang penulis sampaikan kepada pembaca: Bahwa ada seseorang yang diberikan anugrah kecerdasan luar biasa dari Tuhan namun tidak memiliki kesempatan duduk di bangku sekolah yang lebih tinggi untuk mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya karena dililit kemiskinan. Tapi ketika ada seseorang yang memiliki kehidupan berkecukupan, cerdas, dan mudah sekali rasanya untuk mewujudkan apa yang dia impikan, malah menyia-nyiakan semua nasib baik yang sedang berpihak kepadanya. Menjadi malas belajar dan berfoya-foya dengan kekayaan orang tua. Padahal jauh di kampung sana, ada anak yang ingin sekali meraih impiannya, tapi untuk menjangkaunya sehasta pun tidak sanggup.

Lalu apakah Lintang tidak berhak punya mimpi? Pasti punya hak. Tapi kemudian bukan masalah mimpi atau masalah siapa diantara mereka yang menjadi sukses dikemudian hari yang hendak penulis sampaikan kepada pembaca dari kisah hidup Lintang ini.

Tapi, "Bersyukurlah dengan setiap apa yang kau miliki, berbuatlah lebih banyak dengan apa yang kau miliki, karena sebenarnya banyak orang yang ingin memiliki, tapi tak bisa memiliki apa yang kau miliki sekarang."

Berikutnya ketika Anda menuliskan: Apa yang telah Ikal lakukan untuk membantu teman-temannya yang setia menunggu Belitong setelah pulang dari Prancis? Maka cobalah buka mata Anda lebar-lebar dan lihat sekarang.

1. Tahukah Anda, sejak munculnya novel LP, Belitong mulai dikenal masyarakat luas dan untuk pertama kalinya menjadi tempat pariwisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara?

2. Tahukah Anda bahwa berkat banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Belitong, pendapatan penduduk Belitong meningkat menjadi berkali-kali lipat?

3. Taukah Anda, bahwa di Belitong sampai saat ini belum ada toko buku? Dan berkat royalti yang diterima dari laris manisnya novel ini, sang penulis bisa mendirikan sebuah museum sastra di kampungnya, sehingga masyarakat Belitong mendapat kesempatan melihat dunia lebih luas lewat buku-buku gratis yang dapat dibaca di museum tersebut?

4. Tahukah Anda, berkat hadirnya LP, anak-anak Belitong mendapat kesempatan untuk mengasah bakat seninya lewat media film, yang kemudian royalti yang diterima anak-anak tersebut dari hasil bermain di film di LP bisa digunakan untuk membantu biaya pendidikan mereka?

5. Tahukah Anda, bahwa sang penulis lebih suka menghabiskan waktunya di Belitong daripada di Ibukota, membaur dengan masyarakat kampungnya, dan sering memberikan kursus gratis Bahasa Inggris kepada anak-anak Belitong saat pulang kampung?

6. Taukah Anda, bahwa sang penulis berniat mendirikan sebuah sekolah gratis untuk anak-anak yang tidak mampu dari hasil royalti buku ini?

Anonymous said...

Continue..
Anda lihat, lewat karyanya inilah Ikal perlahan membangun desanya. Lewat karya inilah dia berkonstribusi untuk kampungnya setelah menuntut ilmu di Sorbonne, tidak hanya kepada Bu Muslimah atau sahabat LPnya, namun hampir menyeluruh kepada semua masyarakat Belitong.

Buku ini berbahaya? Apakah Anda telah melakukan survey terkait dari berbahaya atau tidaknya buku ini kepada jutaan pembaca LP di tanah air? Yang Anda terima puluhan email, yang membaca LP mungkin sudah puluhan juta orang. Dan dari puluhan email yang Anda terima, apakah Anda sudah memastikan si pengirim satu persatu bahwa mereka sangat ingin keluar negri akibat membaca LP?

Ketika ada yang bercita-cita sekolah ke tempat yang jauh untuk mencari ilmu, apa salahnya? Bukankah ada pepatah yang mengatakan, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Bukankah ketika semakin baik kehidupan seseorang setelah mempunyai ilmu yang cukup banyak, akan semakin besar kesempatan baginya untuk membantu orang-orang disekitarnya?

Saya kemudian bertanya kepada Anda. Apa saja yang sudah Anda perbuat untuk orang-orang di kampung Anda di Pulau Buton sana?

Post a Comment