Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Putri Salju, Dongeng, dan Ancaman Kepunahan


poster serial Once Upon A Time

PEREMPUAN itu bernama Emma. Ia datang ke kota kecil Storybrook di Boston, Massacussets demi mengantarkan anak kandungnya. Kota kecil itu nampak biasa saja, sebagaimana kota-kota kecil lainnya. Namun siapa sangka, penduduk kota kecil itu adalah mereka yang hidup di negeri dongeng, yang kemudian mendapatkan kutukan yakni terlempar ke masa kini, dan melupakan siapa dirinya.

Emma tak menyadari kalau dirinya adalah putri dari karakter dongeng Putri Salju (Snow White), yang kemudian jadi sahabatnya. Di tempat itu, ayahnya Prince Charming, juga sedang berusaha untuk mendekati Snow. Namun, apa daya, ibu ratu penyihir, yang menjadi walikota, berusaha untuk menggagalkan semua jalinan cinta. Jadilah kota itu sebagai kota yang hampa dengan karakter-karakter yang melupakan dirinya.

Aku sedang menyaksikan serial berjudul Once Upon A Time yang sedang ditayangkan stasiun televisi ABC. Kisah ini memang berdasarkan berbagai dongeng, namun diberikan nuansa baru sehingga jadi lebih segar dan adaptif dengan perkembangan. Kisah-kisahnya lalu ditulis ulang, dipertautkan dengan banyak kisah dongeng lainnya, sehingga memunculkan kisah baru yang berbeda dengan sebelmnya. Jadilah sebuah kisah dongeng modern yang dahsyat dengan karakter dongeng klasik.

Bagiku, kisah ini biasa saja. Tak begitu istimewa, sebagaimana serial Merlin yang diputar di BBC. Tapi, kisah ini sukses untuk mengawinkan dua masa yakni masa dinging dan masa kini, lalu meleburkan batas keduanya. Sehingga mereka yang hidup di masa dongeng bisa menyeberang ke masa kini (melalui kutukan penyihir), dan mereka yang di masa kini bisa lenyap ke masa dongeng. Melalui dua dunia itu, terbentanglah kisah-kisah yang belum tuntas, dan hendak ditemukan.

Aku cukup menikmati kisah dalam serial ini. Tema-tema seperti Putri Salju, Ciderella, atau Pinokio adalah kisah-kisah masa kecil pernah mewarnai hari-hariku. Saat belajar antropologi, kian kusadari kalau semua kisah dongeng ibarat kuas yang kemudian melukis karakter manusia. Pantas saja jika karakter suatu bangsa bisa dideteksi melalui kisah-kisah dongeng yang beredar dan dihasilkan bangsa tersebut.

tokoh-tokoh dalam Once Upon A Time

Jelang akhir serial ini, aku tiba-tiba saja dicegat dengan beberapa pertanyaan tentang nasib dongeng-dongeng Nusantara. Aku membayangkan ribuan –bahkan jutaan—khasanah dongeng yang sedang terancam kepunahan. Ternyata, Putri Salju tak cuma berhasil mengalahkan penyihir, namun juga sukses menenggelamkan Malin Kundang, Cindelaras, serta ribuan kisah dongeng lainnya.

Namun tepatkah jika kita semata menyalahkan Putri Salju, atau menyalahkan globalisasi, sebagaimana mahasiswa yang katanya anti-globalisasi, namun sering kedapatan mengisap Marlboro atau suka minum Coca-Cola?

Bagiku, tak pernah ada sebab tunggal. Boleh jadi, kita sebagai anak bangsa sering tak menemukan satu formula atau racikan segar untuk mem-preservasi semua kekayaan bangsa kita. Boleh jadi, kita ikut membiarkan smeua kisah-kisah dongeng itu mengalami kepunahan. Kita tak peduli. Kita tak menganggapnya penting. Kita sering abai pada khasanah yang dimiliki. Kita hanya peduli, ketika ada bangsa lain yang hendak mengklaim kekayaan tersebut. Nah, bisakah kita membangkitkan kepedulian tanpa diawali pengklaiman orang lain?

Mungkin kita tak terlalu pandai mengelola kekayaan itu menjadi kisah segar di masa kini. Kita membiarkan kisah itu hanya sebagai pengantar tidur, tanpa mengayakannya di masa kini. Padahal, banyak riset sosial terbaru yang justru mengolah dongeng sebagai bahan baku untuk mengenali suatu masyarakat.

Atau mungkinkah kita meremehkan dongeng sebagai sesuatu yang tak berguna?

Aku teringat Jules Verne, sang pengarang. Di masa hidupnya, ia produktif membuat kisah-kisah imajinatif. Di masa ketika manusia masih menggunakan kuda sebagai tunggangan, ia sudah menulis tentang kisah manusia yang bisa mencipta pesawat demi menaklukan angkasa. Ia menulis tentang kenderaan yang bisa menyelam. Di masanya, semua jadi olok-olok. Namun, di masa kini, imajinasinya menjadi hebat sebab semua yang dituliskannya menjadi kenyataan.

Mungkin, pada titik ini, aku membenarkan kalimat Einstein bahwa imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan. Tanpa imajinasi, sains kehilangan visi, kehilangan tujuan, serta kehilangan energi besar untuk mendobrak kemapanan. Tanpa imajinasi, sains serupa mesin jahit yang digerakkan dnegan tenaga manual, dan kelak akan tersimpan di musem tua. Imajinasilah yang kemudian mengubah mesin itu menjadi mesin digital, terhubung dengan komputer sehingga bisa mendesain sesuatu secepat kilat, lalu menenunnya dengan amat mudah.

kisah dongeng Nusantara
Hanoman dan Sugriwa

Kisah-kisah dalam dongeng Nusantara seyogyanya dilihat sebagai jalan terang untuk melihat masa lalu sekaligus menaklukan masa depan. Kita mesti menyerap sukma dan raga kisah itu sehingga menjadi sukma masa kini. Kita mesti mengolahnya dengan sentuhan baru, tanpa harus mengabaikan moral dasar yang menyusunnya. Hanya dnegan cara ini kita bisa menemukan jati diri dan karakter sebagai anak bangsa.

Namun, apakah kita benar peduli pada dongeng-dongeng kita sendiri, tanpa harus minder dengan kisah Putri Salju yang bercelana jeans? Entah. Kita sering mengidap sikap inferirotas yang kian kompleks. Kita sering tak ingin menjadi diri sendiri. Kita tak terlalu mau untuk mengolah kekuatan lokal kita untuk menjadi tuan di negeri sendiri. Kelak, akan tiba saat di mana anak cucu kita akan kehilangan jati diri. Mereka tak cuma kehilangan sejarah. Tapi juga kehilangan kearifan sebab kisah Malin Kundang terlanjur lenyap di generasi sebelumnya.


Athens, Ohio, 30 Desember 2012

Salju yang Tak Seindah Drama Korea

 
apartemenku yang dipenuhi salju

DAHULU aku membayangkan salju sebagai kapas-kapas putih empuk yang turun dari langit. Sering kubayangkan salju seempuk sofa, yang kemudian bisa diduduki sesuka hati. Aku juga membayangkan betapa nikmatnya jika salju itu ditampung dalam wadah lalu ditetesi syrup DHT (ala Makassar), kemudian disajikan sebagai es krim. Yummy!

Jika saja salju turun di kampungku, maka pastilah para penjual es pisang ijo akan menjadi mahluk paling bergembira sejagad. Mereka tak perlu kesulitan memarut es batu. Tak perlu menyiapkan papan persegi yang ditancapi paku, lalu digunakan sebagai pengenggam es batu, yang kemudian diparut hingga keluar es. Salju akan meringankan kerja para penjual es pisang ijo.

Dahulu, kubayangkan salju sebagai musim yang romantis. Aku membayangkan duduk di beranda rumah sambil menyeruput teh hangat yang ditaburi kayu manis. Kulihat salju turun satu demi satu, lalu aku akan merangkai puisi. Aku membayangkan seorang samurai bernama Katsumoto dalam film The Last Samurai, yang di saat kematian hendak menjemput, ia masih bisa menyelesaikan satu bait puisinya. Bukankah akan sangat romatis jika menulis puisi di tengah salju turun ke bumi?


Dahulu, aku membayangkan salju sebagai saat-saat menyatakan  perasaan. Dalam serial drama Korea berjudul Winter Sonata, kebanyakan adegan romantis dibuat di tengah salju yang turun bagai gerimis. Sang pria akan memandang sang perempuan di kejauhan sambil menyeka air mata yang turun satu demi satu. Di tengah hamparan salju dan sayatan biola yang melengking hingga mengiris-ngiris hati, sang wanita lalu mengikatkan syal di lehernya, lalu berjalan di tengah pepohonan. Pria itu memanggilnya, namun perempuan itu bersembunyi di dekat bukit salju sambil meneteskan air mata. Biola lalu berbunyi dan menyayat hati. Bukankah itu sangat romantis?

***

KINI, aku melihat salju dengan cara lain. Di luar sana, salju sedang lebat. Aku tertahan di kamar sempit yang terbantu oleh pemanas ruangan. Suhu udara minus sepuluh. Aku tak mungkin ke mana-mana sebab salju akan menutupi jalanan, membuat transportasi publik tak bisa bergerak, membuat semua toko dan kampus akan tutup.

Kini, salju mendatangkan kekhawatiran baru. Aku jadi rajin memantau ramalan cuaca. Sebagaimana orang-orang bule lainnya, aku mulai khawatir dengan badai salju. Ketika badai itu datang, pohon-pohon bisa bertumbangan. Kamu tak bisa ke mana-mana. Ketika bahan makanan habis, kamu hanya bisa menahan lapar. Salju itu telah mematikan aliran nadi lalu lintas.

Salju membuat alam tak lagi indah. Sebelum salju turun, pohon-pohon terpaksa menggugurkan daunnya. Bunga-bunga langsung lenyap ditelan bumi. Semua pohon menjadi meranggas. Bahkan rumput pun enggan untuk tumbuh. Salju merusak lukisan semesta yang warna-warni menjadi satu warna yakni putih.

kolam renang yang tertutup salju
kampus jadi seperti kastil yang tertutup salju

Kameraku tak lagi melihat warna-warni alam berupa pohon-pohon hijau, danau biru, bunga-bunga merah. Salju memaksa semuanya jadi berwarna putih. Baru kutahu kalau salju itu seperti penguasa diktator yang memaksa warganya menjadi satu warna.

Yang paling kukhawatirkan adalah sakit asma yang bersarang di dadaku. Salju ini seakan mempersilakan sakit itu untuk keluar dan menyiksa diriku. Salju itu telah bersekongkol dengan sakit asma demi membuat diriku remuk di tengah dingin. Aku membayangkan sbeuah horor. Jika sakit ini menikam dadaku, dan di luar sana jalanan tak bisa dilalui, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku menggapai-gapai karena napas tertahan dengan langkah tertatih menuju pusat rehabilitasi? Inikah saat untuk melafalkan kalimat-kalimat yang dulu  kupelajari dalam kitab suci?


Athens, Ohio, 29 Desember 2012

BACA JUGA:




Indahnya Natal di Desa Kecil Amerika

 
suasana di desa Milford

DI tanah air, aku tak pernah ikut melihat perayaan natal. Dikarenakan aku lahir dan besar di masyarakat Muslim, natal tak terlalu istimewa. Aku hanya mengenalinya sebagai ritual bagi umat Kristen untuk memperingati lahirnya Kristus. Namun dua hari lalu, aku menyaksikan bagaimana Natal dirayakan di desa kecil Milford, yang terletak di Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat. Suasananya demikian hangat, akrab, serta semua orang saling menebar cinta dan kebahagiaan. Mataku berkaca-kaca. Inikah spirit Natal?

Dua hari silam, seorang sahabat mengajakku untuk ke rumahnya di Milford. Ia juga mengajak serta istri serta anakku yang baru berusia setahun. Ikut pula, pasangan asal Indonesia lainnya. Kami sama-sama berniat untuk berjalan-jalan demi mengisi waktu liburan di musim dingin (winter break). Kami sama-sama dipenuhi hasrat untuk mengetahui bagaimana denyut kehidupan di desa-desa kecil di Amerika.

Ajakan ini kusambut dengan antusias. Aku teringat penulis Paolo Coelho. Dalam bukunya yang berjudul Like the Flowing River, ia mengatakan bahwa untuk mengetahui denyut nadi suatu masyarakat, Anda tak perlu mengunjungi museum atau bangunan bersejarah. Anda mesti bergaul dan hidup bersama masyarakat itu, mengikuti kebiasaan mereka, berdialog berbagai topik, dan -kalau perlu-tinggallah di rumah mereka demi mengetahui denyut nadi percakapan mereka.

Sebagai Muslim, awalnya aku ragu. Namun, kupikir bukankah akan sangat menarik jika aku melihat langsung bagaimana masyarakat memandang peristiwa religius itu, bagaimana mereka menggelar ritual lalu memaknainya secara bersama-sama? Bukankah ini akan menjadi pengalaman hebat yang akan mengayakan perjalanan spiritual yang kutempuh? Aku sedang belajar bahwa semua manusia sedang bergerak untuk menggapai kesempurnaan. Dan agama adalah salah satu jalan terang menuju kesempurnaan itu.

Dengan pikiran positif, kami lalu bergegas menuju Milford. Wilayah ini terletak di perbatasan antara negara bagian Ohio dan Kentucky. Dahulu, Milford hanyalah hutan lebat. Namun sejak kedatangan para imigran asal Jerman dan Irlandia, wilayah ini menjadi ramai. Rumah-rumah rimbun di tengah hutan belukar. Sebagai desa kecil, hampir semua warga Milford saling mengenal. Mereka hidup dalam satu ikatan kekeluargaan yang cukup kuat.

Di malam Natal, keluarga yang kudatangi itu menggelar acara makan-makan. Aku melihat puluhan orang berkumpul di rumah seorang nenek bernama Mary Shue Villardo. Meskipun usianya adalah 75 tahun, namun ia sangat energik. Ternyata, seluruh tetangga dan keluarganya akan selalu berkumpul di setiap malam Natal.Momen ini menjadi momen untuk saling mengenal serta meng-update kembali ikatan kekerabatan di antara mereka.

pohon natal di Cincinnati
pohon natal di satu rumah

Ketika rombonganku datang, kami disambut dengan meriah. Tanpa bertanya tentang siapa dan latar belakang kami, semua orang memeluk kami dengan hangat. Mereka langsung menganggap kami sebagai keluarga. Anakku dipeluk banyak orang di situ. Mereka ikut gelisah ketika anakku menangis. Mereka bertanya, apa yang kubutuhkan. Bahkan mereka menyiapkan satu kamar sebagai tempatku untuk beristirahat. Benar-benar sebuah keramahan yang mengagumkan.

Aku melihat seorang pemuda yang mengalami keterbelakangan mental dan ikut bergabung. Yang menakjubkan, semua orang mendengarkan kisahnya dengan antusias, tanpa sekalipun menginterupsinya. Orang-orang memberikan apresiasi, memposisikannya sama dengan orang lain, lalu di akhir acara, semua saling berpelukan hangat dan saling mendoakan. Betapa bedanya dengan perlakuan beberapa orang dari masyarakat kita yag sering mengabaikan orang lain hanya karena dianggap tdak pintar atau tidak kaya.

Ketika ikut dalam perbincangan mereka, pikiranku seakan dibasahi oleh kearifan-kearifan baru. Masyarakat Amerika yang sedang kutemui dan berbincang ini amat berbeda dengan gambaran yang muncul dalam berbagai film Hollywood. Mereka yang kutemui ini adalah mereka yang melihat sesuatu dengan pandangan optimis, menghargai yang lain, serta tak henti-hentinya memberikan motivasi.

Usai berbincang dan makan-makan, sesi selanjutnya adalah saling memberikan hadiah. Semua yang datang lalu memberikan hadiah bagi nenek itu, lalu membisikkan kalimat-kalimat bahagia. Nenek itu beberapa kali mengucap syukur sambil berucap bahwa dirinya adalah orang paling bahagia sedunia. Setelah itu, ia pun memberikan hadiah kepada semua orang yang diterima dengan penuh kebahagiaan.

Keesokan harinya, mereka lalu bersama-sama pergi ke gereja. Di depan gereja, aku menyaksikan patung-patung yang mengisahkan kelahiran Yesus Kristus. Usai ibadah, semua orang akan saling menyapa, mengembangkan senyum, sambil berucap “Merry Christmas.” Aku tiba-tiba saja teringat dengan suasana Lebaran di kampungku, ketika semua orang memberikan tatapan hangat, lalu mengulurkan tangan demi meminta maaf.

anakku Ara menangis saat menerima hadiah
istriku ikut membuat salad di dapur
keakraban di meja makan

Selanjutnya, aku lalu diajak ke rumah seorang ibu bernama Emily Rich. Di sini, istriku Dwi ikut menyiapkan masakan bersama Emily. Selanjutnya, kami makan bersama. Aku menyenangi perbincangan di meja makan. Sebab di situ, semua orang saling menghargai dan mendengarkan cerita masing-masing. Di situ, aku banyak belajar dari cara-cara mereka yang memperlakukan selua orang sebagai bagian dari keluarga sendiri.

Usai makan, selanjutnya adalah pemberian hadiah. Kembali aku terkejut sebab pada malam hari, acara pemberian hadiah telah dilakukan. Ternyata, keluarga Emily telah menyiapkan hadiah khusus untuk kami. Bahkan anakku Ara pun mendapatkan hadiah boneka cantik yang disukainya.

Berbagi Kasih

Dua hari bersama keluarga Katolik di Cincinnati menjadi dua hari yang membuka mataku untuk melihat sesuatu dengan jernih. Aku menyukai ritual untuk saling memberikan hadiah. Bagiku, itu adalah momen untuk menunjukkan rasa perhatian sekaligus pernyataan bahwa semua orang adalah penting dan pantas mendapatkan hadiah.

Nilai materi hadiah itu mungkin tak seberapa. Namun keikhlasan, ketulusan, serta perhatan yang tertera di situ adalah sesuatu yang tak ternilai. Aku menyaksikan bahwa cinta pada sesama adalah nilai-nilai universal yang kemudian menjaga hati semua orang untuk selalu bertaut. Aku menyaksikan bahwa kasih sayang pada sesama adalah jantung dari sehatnya satu komunitas. Ketika anggota satu komunitas saling menyayangi, mereka akan menjadi satu kesatuan yang utuh. Mereka akan saling membantu, serta memperhatikan, demi menjaga satu sama lain.

foto bersama

Aku adalah seorang Muslim yang bahagia menyaksikan Natal. Aku bahagia menyaksikan spirit komunitas. Bagiku, seringkali kita terbatas oleh berbagai kategori -yang kita ciptakan sendiri- saat menilai orang lain. Dahulu kuanggap bahwa masyarakat Amerika adalah masyarakat yang angkuh dan kehilangan kehangatan keluarga. Ternyata, anggapan itu tak selalu benar. Mereka tetap berbagi cinta, dengan caranya sendiri-sendiri.

Mereka juga belajar padaku untuk melihat orang-orang Indonesia tidak sebagaimana berita yang mereka saksikan di media. Media di Amerika sering mencitrakan Indonesia sebagai negeri penuh konflik dan huru-hara. Mereka belajar bahwa Indonesia pun memiliki keramahan khas sebagaimana halnya mereka, keramahan dari negeri yang aroma rempah-rempahnya telah menyengat nenek moyang mereka.

Apakah makna Natal? Aku bukan seorang yang belajar teologi. Aku tak layak mendefinisikannya. Aku seorang pembelajar ilmu sosial yang melihat sesuatu secara bebas. Di Milford, aku melihat bahwa Natal menjadi sebuah momen, dari sekian banyak momen, untuk memelihara kasih, menebar benih-benih kasih sayang kepada sesama, lalu menguatkan kesadaran kemanusiaan untuk saling berbagi. Natal adalah pucuk-pucuk cemara bahagia yang di atasnya bersinar bagai bintang, lalu menerangi satu komunitas. Itu yang kusaksikan di Milford.


Athens, Ohio, 26 Desember 2012

BACA JUGA:













Bayangan Aneh yang Berkelebat di Museum

 
museum minyak dan gas di West Virginia

DI kota kecil Parkersburg yang terletak di negara bagian West Virginia, aku singgah selama menit. Di dekat balai kota (town hall), aku melihat bangunan kuno yang seakan terjepit di tengah bangunan-bangunan modern. Saat kudekati, bangunan itu adalah museum minyak dan gas. Pantas saja jika di sekitarnya terdapat besi-besi tua yang pernah digunakan di areal tambang.

Di depan bangunan itu tertera tulisan “Open.” Aku lalu mencoba masuk ke dalam bersama istriku Dwi, bayi Ara, dan seorang sahabat. Begitu masuk ke dalam, suasananya kurasakan mencekam. Aku seolah berada di tengah setting pembuatan serial Friday the 13th yang seram itu. Tak ada satupun orang di museum ini. Bahkan penjaganya pun tak berada di tempat.

Begitu masuk, aku melihat dua manikin yang berpakaian prajurit pada era civil war. Keduanya menatap lurus dengan pakaian ala prajurit serta senjata di tangan. Tak ada yang istimewa selain pakaian. Namun, saat memperhatikan beberapa kali, kurasakan kalau patung itu seakan berkedip. What?

dekat museum
foto-foto lama
bangunan depan

Aku lalu terus berjalan. Di situ terdapat beberapa ruangan. Semuanya memajang benda kuno yang terkait pertambangan. Di situ juga terdapat beberapa artefak sejarah kota Parkersburg yang dahulu merupakan salah satu sentra pertambangan di Amerika. Barulah aku paham kalau kota ini adalah saksi dari era revolusi industri di Amerika.

Industri dan pertambangan serupa dua sisi koin yang selalu berjalan beriringan. Industri memungkinkan manusia untuk menciptakan mesin-mesin yang meningkatkan produktivitas. Namun, sejarah juga mencatat kisah-kisah kelam ketika produk industri lalu menjadi neraka bagi bangsa lain. Demi memenuhi bahan baku industri, beberapa negara lalu merambah ke timur jauh, lalu merebutny dnegan senjata dan bedil.

Cahaya di ruangan itu hanya samar-samar. Karena gelap, aku lalu menyalakan beberapa lampu. Beberapa lampu tak bisa dinyalakan. Kemudian, aku melihat sarang laba-laba di mana-mana. Ini adalah museum. Tapi suasananya mencekam seolah-olah tempat ini tak pernah disinggahi manusia selama beberapa tahun.

Selama 10 menit berada di ruangan ini, aku berada dalam sirkuit kecemasan. Mataku menjadi lebih waspada. Yang mengejutkanku, bayi kecil Ara ternyata juga merasakan ketakutan yang sama. Ia mencengkeram ibunya, dan tak ingin dilepaskan dari gendongan. Ia memang tak menangis. Tapi wajahnya penuh ketakutan dan sesekali terlihat ada bulir keringat yang menetes dari wajah itu.

Bersama yang lainnya, kami memutuskan keluar. Baru saja meninggalkan tempat itu, aku melihat satu sosok berkelebat di satu ruangan. Aku tak ingin menoleh. Aku tak ingin menambah ketakutan buat yang lain. Bialah rahasia itu kusimpan, hingga akhirnya kubuka hari ini.

samping gedung
samping gedung

Pelajaran berharga hari ini adalah setiap benda tak hanya menyimpan kenangan. Namun juga menyimpan spirit serta energi tentang satu masa, serta tentang satu sosok. Aku tak mengerti apakah ada semacam ‘penampakan’ di museum itu. Namun kurasakan ada sesuatu dari masa silam yang tersisa di situ. Bisa berupa kenangan. Bisa pula tentang satu jiwa yang pernah berdiam di situ, memilih tempat itu sebagai rumah, dan menyaksikan semua yang hadir dengan napas tertahan. Entah, apakah kelak kita pun akan menunggui satu tempat, sebagaimana ‘sesuatu’ di museum itu.



Parkersburg, West Virginia, 26 Desember 2012




Melihat Salju di Kota Athens


KALI ini saya tak ingin banyak berkata-kata. Saya hanya ingin memuat parade foto yang saya ambil di saat salju. Saya menyenangi saat-saat ketika memotret suasana yang berbeda. Semoga saja ini bukan salju yang terakhir buat saya di Amerika. Semoga saja, saya masih bisa menemui musim salju pada tahun-tahun mendatang. 
















Bule-Bule Amerika Cinta Indonesia


mahasiswa Amerika sedang bermain angklung di bawah arahan pengajar bahasa Indonesia, Budi Winurseto
DI Amerika Serikat (AS), kajian Indonesia menjadi salah satu kajian yang populer. Bermula dari riset keindonesiaan yang marak sejak tahun 1960-an, pada masa perang dingin, kajian Indonesia menjadi pintu gerbang untuk mengenali Indonesia. Tak heran, jika banyak warga Amerika yang memendam asa dan keinginan kuat untuk berkunjung ke Indonesia demi belajar kebudayaan, memperdalam pengetahuan tentang sejarah, serta belajar pada komunitas. What?

Pria itu bernama Nick. Ia warga asli Amerika Serikat (AS) yang tengah menempuh pendidikan pascasarjana di Ohio University at Athens. Di antara para sahabatnya, ia terbilang cukup aneh, sebab memilih kelas bahasa Indonesia hingga level mahir (advance). Saat ditanya mengapa pria yang kerap mengenakan jaket coklat itu menggemari pelajaran bahasa Indonesia, ia menjawab singkat, “Bahasa Indonesia akan segera menjadi bahasa dunia. Sebab penuturnya menempati posisi keempat terbesar di dunia.”

Tak hanya belajar bahasa Indonesia. Ia juga mempelajari sejarah serta kebudayaan Indonesia. Malah, ia hendak menulis karya ilmiah tentang Kartosuwiryo. Dalam satu kesempatan, ia mengatakan bahwa sejarah dan budaya Indonesia amat unik sebab lahir dari keragaman serta intensitas dialog-dialog yang kaya. Ia yakin bahwa kelak, sejarah yang panjang itu akan menjadi energi yang akan menggerakkan bangsa Indonesia menjadi bangsa unggul di masa datang. Ini soal waktu, katanya.

Di kampus Ohio University, wacana keindonesiaan cukup kuat. Kampus ini menjadi basis pengkajian Asia Tenggara atau Center for Southasian Studies di Amerika. Tak heran jika di sini, pustaka tentang Indonesia sedemikian banyak. Saya sudah pernah menuliskan tentang buku-buku Indonesia yang malah sulit ditemukan di tanah air, namun bertebaran di perpustakaan Ohio. Bahkan komik-komik karya RA Kosasih juga lengkap di Ohio (baca DI SINI).

Selain kekayaan studi pustaka, di kampus ini, bahasa Indonesia menjadi salah satu mata kuliah yang ditawarkan kepada mahasiswa asing. Seiring waktu, peminatnya juga cukup banyak. Yang menarik, peminat mata kuliah ini kebanyakan adalah warga asli AS yang justru belum pernah mengunjungi Indonesia. Bahasa adalah gerbang kebudayaan. Melalui bahasa, terbentang minat yang luas untuk mempelajari khasanah dan pengetahuan tentang budaya serta sejarah yang kaya.

Prof William Condee sedang mementaskan wayang Bali di hadapan warga Amerika

Sebagai mahasiswa Indonesia, saya diuntungkan dengan keberadaan para pengkaji Indonesia ini. Mereka sangat membutuhkan mahasiswa Indonesia sebagai conversation partner atau teman berdialog demi melancarkan kemampuan bahasa Indonesianya. Di saat bersamaan, saya juga hendak melancarkan kemampuan bahasa Inggris. Maka berkawanlah saya dengan beberapa orang. Kami menjalin simbiosis mutualisme. Saya mengajarinya bahasa Indonesia, dan mereka mengajari bahasa Inggris. Simbiosis yang adil khan?

Saat berdialog dengan mereka, saya sering senyum-senyum saat melihat mereka begitu kesulitan mempelajari bahasa Indonesia. Saya membayangkan, bahwa mereka pun akan senyum-senyum saat mendengar bahasa Inggris saya yang kacau-balau atau Toefl saya yang hancur-hancuran. Tapi, nampaknya mereka lebih kesulitan. Seminggu lalu, saya berdialog dengan salah seorang di antaranya. Ia bertanya dengan logat Amerika, “Apa kamu suka makan kandang?” Saya langsung kaget. What? Kok bisa makan kandang? Melihat saya bingung, ia langsung mengatakan “I mean potato.” Ooo. Itu sih kentang, bukan kandang. Hehehe.

Saya menikmati saat-saat ketika berbahasa Indonesia dengan mereka. Sebagai mahasiswa dengan kemampuan bahasa yang pas-pasan, saya merasakan betul bagaimana sulitnya beradaptasi di tengah masyarakat Amerika yang suka berbicara dnegan cepat sehingga maknanya susah dicerna. Bahasa Inggris memang simbol kekuasaan. Bahasa ini menjadi bahasa yang dipakai di jurnal internasional, serta digunakan dalam pergaulan antar bangsa. Masyarakat kita sering memposisikan penutur asli bahasa Inggris seolah lebih ketimbang warga sendiri.

Nah, ketika melihat mereka kesulitan dan terbata-bata berbahasa Indonesia, saya seolah menikmatinya. Ternyata, bukan cuma saya yang sulit menembus skor Toefl atau mencapai level berbahasa yang baik agar dimengerti. Mereka pun mengalami kesulitan yang sama ketika harus belajar bahasa Indonesia. Impas khan?

mahasiswa Amerika dan mahasiswa Cina sedang memainkan wayang golek
kolaborasi latiha kuda lumping antara mahasiswa Amerika dan Indonesia

Di antara sekian banyak teman, saya menjalin persahabatan dengan pria bernama Erick, yang berasal dari Cincinnati, Ohio. Selain belajar bahasa, ia sudah lama memendam keinginan untuk pergi ke Indonesia. Ia berharap agar kelak dirinya bisa berkelana mengunjungi beberapa kota. “Saya ingin menyaksikan langsung sebuah negeri yang telah memesona dunia dengan keberagaman suku bangsanya, “ katanya dengan bahasa Inggris.

Apa yang paling menarik dari Indonesia? Erick menyebut kebudayaan dan beberapa folklore Nusantara. Ia menganggap Indonesia sebagai negeri yang paling unik, dengan segala keanekaragaman budaya dan bahasa, namun tengah berjuang untuk melepaskan diri dari keterpurukan. Ia juga terkagum-kagum saat membaca sejarah bangsa Indonesia yang berperang selama sekian abad demi melepaskan diri dari belenggu penjajahan. “Anda sangat beruntung sebab lahir di satu bangsa dengan semangat dahsyat, yang tidak dimiliki semua bangsa.”

Suatu hari, ia menghadiri pagelaran wayang Bali yang dibawakan dalam bahasa Inggris oleh Prof William Condee. Ia terkagum-kagum dan berkali-kali mengatakan bahwa ada kesesamaan antara orang Bali dengan orang Indian. “Mereka sama-sama meyakini bahwa alam semesta memiliki spirit atau jiwa. Mereka juga sama-sama yakin bahwa spirit para leluhur tetap ‘hidup’ bersama komunitas,” katanya.

Sebagaimana Erick, mahasiswi bernama Jessica juga memendam kekaguman yang sama. Ia setia mengambil kuliah yang diasuh oleh pengkaji Indonesia, misalnya Prof Gene Ammarell (penulis buku Navigasi Bugis), Prof Elizabeth Collins (penulis buku Indonesia Betrayed atau Indonesia Dikhianati), dan Prof William Frederick, salah satu begawan studi sejarah Indonesia. Para professor ini memiliki reptasi hebat yang kemudian menjadikan Indonesia sebagai bidang kajian yang memiliki pesona kuat.

Berbeda dengan Erick, Jessica memperdalam pengetahuan akan musik angklung. Dalam beberapa hajatan mahasiswa internasional, ia ikut menampilkan permainan angklung bersama mahasiswa Amerika lainnya. Bagaimana rasanya saat memainkan angklung? “Bagi saya ini pengalaman unik. Sungguh nikmat bisa memainkan instrument music. Namun akan lebih asyik jika saya paham tentang filosofi, kekuatan lirik, serta makna setiap syair. Mudah-mudahan saya bisa menguasainya,” katanya.

Para pengkaji dan pemerhati Indonesia itu telah membersitkan optimisme di hati saya. Dahulu, saya tak banyak memiliki kebanggaan sebagai anak bangsa. Namun mereka telah menyalakan kesadaran bahwa Indonesia adalah negeri yang besar, dan memiliki pesona kuat di jajaran bangsa-bangsa. Mereka telah membantu saya untuk menanamkan kebanggaan pada tanah air yang demikian kaya dengan khasanah tradisi dan kebudayaan.

Mereka seolah membisikkan rasa cinta serta keyakinan bahwa selalu ada harapan di tanah air. Bahwa selalu ada cahaya yang memancar di tengah-tengah pekatnya pesimisme banyak anak bangsa. Bahwa selalu ada embun sejuk di tengah rasa dahaga ketidaktahuan kita sebagai warga negara tentang potensi besar yang sedang kita miliki. Kita hanya butuh keberanian untuk menerabas benalu masalah, serta menanam optimism bahwa negeri ini bisa menggapai impian Bung Karno, sebagai negeri yang menjadi mercusuar, cahayanya menyinari semua bangsa. Semoga!


Athens, Ohio, 21 Desember 2012


BACA JUGA:










Buku Baru di Tengah "Kiamat"


 
DESEMBER ini adalah salah satu Desember yang paling indah. Hari ini, pihak Nora Books (anak perusahaan Mizan) memperlihatkan sampul buku Indonesia Jungkir Balik. Buku yang merupakan kumpulan esai ini memuat salah satu esai yang kubuat. Tahu bagaimana rasanya? Serasa mendengar berita bahwa hari ini akan kiamat. What? Tulisanku diterbitkan Mizan?

Prosesnya sudah dimulai sejak beberapa bulan silam. Seorang editor menghubungiku. Ia memberi tawaran kerjasama untuk menerbitkan tulisanku di blog. Tak berhenti di situ, ia juga memintaku untuk berpartisipasi pada proyek buku lainnya. Gayung bersambut. Aku pun dengan senang hati bersedia untuk bekerjasama dalam hal penerbitan. Sejak dulu, aku memang ingin menebar gagasan dan perenungan agar dibaca oleh publik.

Aku tak memikirkan duit. Bagiku, gagasan dan inspirasi tak harus dibayar. Menulis adalah ibadah sosial yang kutunaikan ke banyak orang. Berkat menulis pula, aku bisa mengepakkan sayap hingga ke negeri Paman Sam. Bagiku, itu sudah cukup. Tak usah lagi mengambil untung materi lewat menulis.


 
Hari ini, hari yang diramalkan banyak orang akan terjadi doomsday (hari kiamat), salah satu buku tersebut akhirnya diterbitkan. Meskipun yan duluan terbit adalah karya kolaborasi, aku tetap saja senang. Bukan soal bersanding dengan penulis senior, namun aku lebih melihat kesempatan untuk berbagi pengalaman ke banyak orang.

Hari ini, aku juga bahagia karena mendapat kesempatan emas untuk melihat sampul buku, lalu ikut mempromosikannya. Dalam konteks menulis, hasil akhir tak penting. Bagiku, tak penting memperdebatkan baik dan buruk suatu tulisan. Aspek penting adalah proses-proses yang dilalui seorang penulis, proses ketika pikirannya dipenuhi ide dan gagasan-gagasan, lalu bersusah-payah untuk melahirkan gagasan tersebut.

Ini adalah buku kelima yang di sampulnya tercatat namaku selaku penulis. Ini adalah buku yang menyimpan satu rekaman atas kilatan atau sekelumit gagaan yang pernah aku pendalam pada satu waktu. Aku bahagia bukan karena buku yang akan segera terbit dan beredar. Aku bahagia karena satu beih gagasan telah dilepas ke ladang pemikiran. Semoga tunas gagasan itu terus tumbuh, disuburkan oleh motivasi dan niat baik, serta ranting dan akarnya akan menantang angkasa. Semoga!


Athens, 20 Desember 2012

Dewi Lestari dan Dialog yang Tak Usai


Dewi Lestari dan buku Supernova

MUNGKIN agak terlambat buat saya untuk menuntaskan novel Supernova: Partikel. Selain karena bukunya agak telat tiba di Alden Library di kampus Ohio University (OU), Amerika Serikat (AS), saya juga agak disibukkan dengan banyak aktivitas kuliah. Mumpung libur, saya bebas untuk membaca novel apapun. Dan karya Dee atau Dewi Lestari ini adalah pilihan pertama.

Novel ini adalah kelanjutan dari seri Supernova lainnya. Sebelumnya, kita disuguhi kisah Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh (Supernova I), lalu Akar (Supernova 2), hingga Petir (Supernova 3). Meskipun terpisah-pisah, saya bisa merasakan adanya satu benang merah pada novel-novel karya Dee.

Benang merah itu adalah tema-tema kontemporer yang menjadi tanda-tanya manusia modern. Dee ingin berbicara tema seperti New Age, spiritualitas, sains, hingga pencarian akan makna. Tema ini memang telah menjadi perbincangan lama di kalangan masyarakat perkotaan yang melek dengan bacaan-bacaan filosofis. Akan tetapi, Dee mengemas tema tersebut dalam rangkaian narasi tentang manusia yang bergulat dengan tanda tanya yang tak berkesudahan.

Rata-rata, tokoh yang menjadi sentral cerita adalah anak-anak muda. Mereka adalah bagian dari masyarakat biasa dengan profesi yang setiap hari sering kita saksikan. Akan tetapi, mereka memiliki karakter unik dengan kisah dan misterinya sendiri-sendiri. Mungkin saja, Dee sebenarnya ingin menunjukkan bahwa tanda-tanya dan pergulatan filosofis bisa dialami siapa saja. Anda tak harus menjadi seorang kutu buku yang berdiam di perpustakaan demi mempertanyakan hakekat realitas. Semua manusia bisa saja memelihara banyak tanda tanya demi menemukan hakekat dirinya, tak peduli apapun profesinya.


Kisah Supernova: Partikel berkisah tentang seorang perempuan bernama Zarah yang hendak mencari ayahnya. Pencarian itu membawanya pada satu petualangan demi memecahkan beberapa teka-teki kehidupan. Ayahnya (Firas) adalah seorang dosen cemerlang di Institut Pertanian Bogor (IPB) yang berpikir di luar mainstream. Sang ayah yang mendalami mikrobiologi ini menjadi sosok penting yang mengajari Zarah segala hal di luar sekolah formal dengan caranya sendiri.

Sang ayah lalu mengajarkan tentang mikrobiologi pada usia yang sangat dini. Ia memperkenalkan Zarah dengan fungi (jamur) yang disebutnya sebagai muasal kehidupan. Begitu pentingnya fungi, Sang ayah menekankannya berkali-kali pada Zarah. Katanya:

Fungi adalah nenek moyang species manusia.  Sama-sama menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida, sama-sama berintelgensia tinggi, sama-sama mahluk jejaring. Karena kemiripan itu fungi dan manusia memiliki hubungan unik. Semua antibiotika terbaik pernah diciptakan manusia dibuat dari fungi. Manusia tidak bisa membuat antifungal dengan baik karena efeknya akan mencelakan kita sendiri...(halaman 24).

Sampai di sini, kisahnya masih datar-datar. Tapi selanjutnya terdapat pemberontakan-pemberontakan. Hingga akhirnya Firas lalu menghilang, setelah sebelunya meninggalkan banyak catatan-catatan yang tersimpan rapi demi anaknya, Zarah. Catatan-catatan itu lebih mirip puzzle atau teka-teki yang membawa Zarah ke petualangan-petualangan.

Sebagaimana ayahnya, Zarah lalu memberontak pada sistem. Di sekolah, ia menjadi siswa yang dianggap atheis. Ia mempertanyakan dasar ketuhanan, sebagaimana diyakini agama samawi. Lewat sains, ia mengajukan berbagai versi serta tanda-tanya, yag kemudian membuat murka para guru.

sampul buku Partikel

Di rumah pun, Zarah melakukan pemberontakan. Hingga akhirnya, ia lalu memilih hidup sendiri, mengajar bahasa Inggris, hingga akhirnya menjadi fotografer yang memilih untuk menetap di pusat penangkaran orangutan di Tanjung Puting, di rimba raya Kalimantan. Takdir sebagai fotografer alam liar lalu membawa Zarah untuk berkelana ke Inggris, lalu mencoba untuk memecahkan misteri demi misteri tentang ayahnya.

Saya menganggap kisah-kisah serta dialog-dialog dalam novel ini adalah bagian dari tanda-tanya manusia modern. Dalam salah satu esainya, Goenawan Mohammad mengangkat aspek religiusitas serta gugatan terhadap agama dalam novel ini (bisa dibaca DI SINI). Tapi saya melihatnya lebih dari itu. Novel ini hendak memotret beragam tema yang sejatinya menjadi denyut nadi masyarakat kita, tanpa harus terjebak pada pemitosan satu keyakinan.

Novel ini sesungguhnya menawarkan sikap kritis atas dogma di masyarakat, meskipun pada beberapa bagian, saya juga menemukan bahwa Zarah pun menerima dogma. Ketika Zarah melancarkan gugatan pada agama, sebagaimana diyakini keluarga dan sekolah, ia justru menerima begitu saja beberapa penjelasan tentang sains, khususnya mikrobiologi, tanpa berupaya secara intens untuk mencari jawaban atas hal tersebut. Bagi saya, dalil-dalil dalam mikrobiologi akan menjadi dogma ketika berhenti sebagai kebenaran, tanpa upaya kritis menelaahnya.

Saya membayangkan, Zarah akan terus mencari jawaban, tanpa harus menerima begitu saja kebenaran versi ayahnya. Namun, sayangnya, hal-hal yang sesungguhnya masih merupakan bagian dari teka-teki ilmiah itu diterima begitu saja, tanpa telaah kritis.

Namun, saya amat nikmat membaca novel ini. Sebagaimana serial sebelunya, novel ini membuat saya tersentak dan tak berhenti untuk membacanya hingga lembar terakhir. Pada beberapa bagian, bulu roma saya agak merinding, khususnya bagian ketika Zarah memasuki bukit Jambul. Itu bagian yang paling saya suka.

Namun, saya agak sedikit kecewa ketika teka-teki itu mengarah kepada alien atau mahluk luar angkasa sebagai pangkal teka-teki. Kisah ini mengingatkan saya pada film berjudul Knowing (2009) yang dibintangi Nicholas Cage. Film ini membuat saya merinding di awal serta penasaran dengan teka-teki yang disajikan, namun ketika semua teka-teki itu mengarah ke alien, saya agak kecewa sebab misterinya jadi tak menarik lagi.

Dewi Lestari dan istriku, Dwi

Namun, apa boleh buat. Munculnya tema-tema seperti alien memang bagian dari ketidakberdayaan sains kita demi menemukan aneka jawaban. Seringkali, kita memunculkan istilah alien demi menegaskan betapa terbatasnya sains kita untuk menjawab sesuatu, lalu menciptakan mitos baru di atas landasan sains. Saya tiba-tiba jadi teringat pada Arief Budiman, yang pada buku Mencari Ideologi Alternatif, mengatakan bahwa ilmu pengetahuan selalu memunculkan mitos baru ketika mengalami keterbatasan untuk menjawab satu permasalahan.

Apapun itu, saya cukup menikmati novel ini. Saya menikmati diksinya yang khas. Saya menikmati racikan segar atara sains, spiritualitas, serta petualangan seorang anak manusia yang berkelana demi memecahkan teka-teki ilmiah. Saya menyenangi gaya bahasa serta kontemplasi tokoh-tokohnya yang unik. Saya juga menikmati dialog-dialog yang tak berkesudahan. Bukankah ini adalah esensi dari pencarian ilmu pengetahuan?

Novel ini mengajarkan saya bahwa kearifan dan perenungan bisa lahir dari siapa saja. Bahkan bisa datang dari seorang pekerja seks, pembuat tato, ataupun seorang fotografer alam liar yang tak menamatkan universitas. Sebab kearifan adalah milik mereka yang senantiasa mengeja aksara semesta dan melihat semua realitas sebagai tanda-tanda yang mesti disibak maknanya.(*)


Athens, 18 Desember 2012


BACA JUGA:





Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...