Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Terkutuklah Para Pengkutuk!


BESOK adalah 30 September 2012. Aku membayangkan situasi tanah air ketika semua orang kembali mengungkap kisah-kisah kelam tentang sebuah pengkhianatan –demikian kata mereka—yang dilakukan pada tanggal itu, di tahun 1965. Aku membayangkan caci-maki yang diucapkan pada satu organisasi, tanpa melihat dengan jernih, dengan sumber sejarah yang memadai tentang apakah gerangan yang terjadi.

Dahulu, ada teriakan menuding tentang pengkhianatan atas sucinya ideologi. Ada cerita –entah benar atau tidak—tentang mereka yang membunuh tujuh perwira. Ada cerita tentang perwira yang wajahnya diiris dengan silet. Lalu mata balas mata. Nyawa tujuh perwira lalu dibalas dengan nyawa jutaan warga sipil. Luka sayatan silet itu dibalas dengan pembunuhan atas nama negara, dibalas dengan hilangnya hak-hak hidup jutaan orang.

Puluhan tahun negeri ini merdeka, namun tetap tak pernah bisa menyatakan diri merdeka atas segala penjajahan pikiran. Seseorang pernah berkata bahwa apa yang disebut sebagai penjajahan bukanlah dilakukan oleh satu bangsa atas bangsa yang lain, namun penjajahan dilakukan oleh satu corak berpikir atas corak berpikir yang lain. Maka, sosok penjajah bisa menempati wadah apapun. Ia tidak selalu merupakan sosok mereka yang berkulit putih atau bermata biru, namun bisa jadi adalah mereka yang sebangsa, sewarnakulit, mereka yang senasib sepenanggungan.

Maka terkutuklah mereka yang masih membenarkan tafsir sepihak atas masa silam dan membenarkan pembantaian pada pihak lain. Terkutuklah mereka yang masih berkata tentang hantu-hantu politik dan ancaman pengkhianatan, lalu menghilangkan hak-hak hidup orang lain. Terkutuklah mereka yang pongah dan melabel yang lain sebagai anti-Tuhan, lalu menghakimi  mereka yang berbeda dengan dirinya. Terkutuklah mereka yang suka mengkutuk yang lain, membantai, menyate, dan membakar mereka yang beda pendapat dengan dirinya. Terkutuklah para pengkutuk!.(*)



Athens, Ohio, 29 September 2012
Pukul 04.53 pm

Titip Rindu buat Ibu

-->

IBUKU sedang sakit. Hari ini ia akan menjalani operasi. Hatiku teriris-iris kala mengingat dirinya yang jauh. Mungkin saat ini ia membutuhkan anak-anaknya. Ia membutuhkan motivasi serta darah segar dari anak-anak yang dahulu telah dibesarkannya.

Setiap kali mengingat ibu, ada sesuatu yang mengetuk-ngetuk batinku. Aku membayangkan betapa banyaknya masa yang telah lewat. Dahulu ia pernah mempertaruhkan nyawanya saat melahirkanku. Dahulu ia meluangkan seluruh waktunya hanya untuk menggendong, menjagai, dan memastikan diriku baik-baik saja. Dahulu, aku pernah menjalani masa kecil yang seegois anakku sekarang. Semua keinginanku mesti dituruti. 

Ibu adalah sosok pertama yang selalu memenuhi segala yang kuinginkan. Bahkan ketika diriku terbangun tengah malam dalam keadaan haus dan lapar, ibulah sosok pertama dan terakhir sebagai pahlawan untukku. Ibu adalah matahari yang terus menjadi tempatku mendapatkan kehidupan. Ibu adalah embun yang terus-menerus membasahi hatiku dengan segala cintanya.

Aku tak akan pernah sanggup menghitung segala yang diberikannya padaku. Sungguh benar pepatah Arab yang mengatakan, andaikan seluruh samudera bisa jadi tinta, maka tak akan sanggup untuk menuliskan betapa dahsyatnya kasih sayang seorang ibu. Sosoknya ibarat oksigen yang mengisi seluruh paru-paruku. Tanpanya, diriku tak akan pernah seperti hari ini, tak pernah eksis dalam sejarah, tak pernah mengada.

Seorang ibu adalah sosok yang ikhlas mengorbankan dirinya demi kebahagiaan anaknya. Ia tak pernah meminta apapun, kecuali saat-saat bahagia ketika anaknya tersenyum. Ia telah meleburkan segala keinginannya menjadi kupu-kupu bahagia yang hinggap dan beterbangan di hati anaknya. Malah, ia kehilangan keinginan pribadi sebab telah menyerahkan semua keinginan itu demi sang anak.


Kini, sosok yang telah menyerahkan segala-galanya untukku itu terbaring sakit. Aku hanya bisa menitip rindu dan peluk cium dari jauh. Andaikan bisa menanggung sakitnya, maka sudah kupinta sejak dahulu. Namun aku juga yakin kalau dirinya yang jauh lebih siap untuk melakukan apapun demi anaknya. Garis-garis keriput wajahnya adalah prasasti abadi yang hendak berkisah tentang dedikasi dan pengorbanan tertingginya sebagai seorang ibu.

Tinggallah diriku yang tak akan pernah sanggup menggantikan segala energi dan ketulusannya. Dalam setiap tarikan napasku terselip kisah tentang ibu, terdapat cerita tentang manusia paling luar biasa yang membesarkanku, manusia yang melakukan segala pengorbanan, tanpa pernah meminta balas atas apapun. Ia hanya meminta seulas senyum yang abadi terpancar di wajah anak-anaknya.


Athens, 21 September 2012

Kasihan Partai-Partai Islam



SEMUA orang membahas Jokowi. Semuanya dalam suasana euphoria atas kemenangan pria kurus itu. Aku memikirkan hal lain. Aku sedang memikirkan nasib Islam politik yang kian terpuruk. Ternyata, anjuran banyak partai Islam, para ulama, termasuk raja dangdut, tak juga sanggup menggiring suara publik untuk si kumis itu. Lantas, masih layakkah klaim mereka yang merasa didukung umat? Masih lakukah jika ayat-ayat diobral demi kemenangan seseorang?

Sejak negeri ini memasuki gerbang kemerdekaan, banyak pihak yang mengaku Islam dan menyebut-nyebut nama Islam demi memenangkan kelompoknya. Senjata mereka adalah ayat serta sejumlah teks kitab suci yang menjadi magis bagi umat. Lewat ayat itu, mereka memasang kekang pada leher umat dengan harapan bisa menjadi massa yang mengikuti apa kata pemimpin.

Sejatinya tak masalah jika Islam dibawa ke ranah politik, sepanjang tokoh-tokoh Islam itu bisa membawa keteladanan. Masalahnya juga adalah tak banyak terdengar tokoh Islam tanah air yang sekaliber Gandhi dalam hal menolak materi atau sesuatu yang bisa memenjarakan keimanan. Kisah Gandhi yang menggetarkan adalah ketika ia hanya memakai sehelai kain, ke mana-mana berjalan kaki, lalu tidur di rumah sederhana. Ia menunjukkan integritas sekaligus pesan kelangitan bahwa dirinya memang terlahir untuk membela nasib umat yang terpinggirkan.

Nah, bagaimana dengan ulama zaman kini yang tengah memenuhi panggung politik? Mereka tak menawarkan keteladanan. Tak menawarkan daya tahan sebagaimana Rasulullah ketika dilempari di Thaif. Tak menunjukkan kehebatan Rasul ketika menegakkan sendi ajaran Islam yang menjadi berita gembira bagi masyarakat lapis bawah Mekkah. Para ulama itu duduk nyaman di mobil jenis Alphard. Ada petinggi sebuah partai islam yang merangkap sebagai calo anggaran. Bagaimana mau membuat umat percaya ketika mereka sibuk membangun tembok tinggi di rumahnya?

Nah, wajar saja jika kemudian umat lebih percaya Jokowi yang selama menjabat sebagai walikota justru tak pernah mengambil gaji. Inilah integritas. Inilah daya tahan menghadapi godaan gaji dan proyek. Inilai nilai-nilai Islam. Bukannya urusan jenggot dan bekas hitam di jidat, namun ke mana-mana memamerkan kemewahan!

Kekalahan calon ulama itu membuat diriku miris. Aku percaya bahwa agama tak pernah salah. Namun aku amat yakin kalau cara pandang manusia membuat agama kian menjauh dari capaian substansial yang mestinya bisa digapai. Idealnya, agama itu bisa jadi spirit kuat untuk anti-korupsi, menegakkan hukum, menguatkan nilai, mempererat solidaritas sosial, serta melesatkan jati diri bangsa untuk menggapai kemajuan.

Namun, nilai-nilai Islam yang indah itu telah dibengkok-bengkokkan menjadi dukungan pada si kumis. Seolah si Jokowi itu tak sedang membawa nilai Islam, dalam segala kejernihannya untuk menggandeng seseorang yang beda iman, di tengah kesederhanaan Jokowi untuk menjalani kehidupan, serta optimismenya untuk bekerja keras.

Sungguh, aku sedih memikirkan mereka yang melegitimasi ayat demi memenangkan satu kuasa. Mending, agama tak perlu dibawa-bawa jika hanya dipakai untuk meneguhkan satu rezim. Mending agama tak perlu dibawa-bawa jika nilai-nilai yang indah itu direduksi menjadi simbol-simbol. Anda dianggap Islam hanya ketika sering dilihat salat, atau ketika Anda menyapa dengan panggilan khas Arab.

Sementara kandungan maknanya jadi lenyap, entah ke mana. Nilai-nilai yang amat indah seperti kedamaian, ketegasan, serta kebaikan itu tergantikan oleh seruan untuk memenangkan si kumis. Jika Islam yang jadi patokan, maka seluruh kebaikan seharusnya dianggap sebagai nilai Islam.

Celakanya, para ulama itu mudah terjebak dengan simbol. Dan orang-orang jahat tahu persis itu. Salah satu tayangan paling menggelikan bagiku adalah ketika banyak koruptor yang saat disidang datang membawa tasbih, memakai baju koko, atau peci haji. Lucunya, publik mudah tersentuh, mudah digiring para ulama-ulama yang bersembunyi di ketiak penguasa.

Kemenangan pria kurus itu menunjukkan kalau asumsi ini mulai tak relevan. Ada secercah harapan kalau umat makin rasional. Mereka tak selalu sudi diklaim dengan cara demikian. Mereka bisa menghukum para ulamanya. Ketika mereka memilih sosok lain dari yang digariskan ulama, itu bermakna bahwa mereka lebih suka dengan nilai-nilai yang tampak mata, ketimbang diarahkan mereka yang mengaku ulama, namun nihil keteladanan.

Lantas, masih relevankah bicara tentang Islam politik? Ataukah kita menggemakan kembali kata-kata Nurcholish Madjid yang mengatakan “Islam Yes, Partai Islam No?”


Athens, 21 September 2012

Bayi Manis, Cewek Manis, Senyum Manis

-->
HARI ini tak ada yang beda. Aku masih mengenakan kaos yang dekil serta celana yang mulai kusam. Tas punggung tetap tersampir. Anehnya, saat berdiri di depan salah satu bangunan kampus, demikian banyak gadis manis melintas yang tiba-tiba saja tersenyum. Apakah penampilanku beda? Kayaknya tidak. Nampaknya gadis-gadis manis itu tidak menyapaku. Mereka menyapa bayi kecil Ara yang saat itu berada dalam gendonganku.


Sungguh beda antara berjalan sendiri dan berjalan sambil menggendong bayi. Warga  Amerika Serikat (AS) tak pernah malu menunjukkan ekspresi. Jika bertemu temannya, mereka akan teriak-teriak. Ketika mereka melihat bayi, mereka akan spontan tersenyum, lalu memberikan lambaian sambil menyapa “Hi Sweety. U’re adorable!”

Mulanya biasa saja. Tapi semakin lama, semakin banyak gadis manis yang menyapa Ara. Malah, beberapa gadis sengaja datang untuk menggendong dan sekadar mencubit pipi. Untungnya Ara belum bisa ngomong. Ketika disapa “Hi”, maka aku akan segera menjawab. Biasanya, ketika aku menjawab, maka gadis penyapa akan tersipu-sipu. Hehehe.

Sosok bayi memang membawa keceriaan. Bahkan di negeri seperti Amerika sekalipun, bayi bisa mengundang kebahagiaan bagi yang melihatnya. Ini adalah nilai-nilai positif yang ditanamkan kepada banyak orang. Dahulu, aku berpikir bahwa masyarakat setempat adalah masyarakat yang tidak peduli dengan nilai-nilai keluarga. Ternyata itu salah besar.

Buktinya, bayi Ara menjadi idola banyak orang. Sayangnya, ia menolak untuk digendong siapapun. Ia masih merasa lebih nyaman jika digendong oleh ayah dan ibunya. Tapi, jika dipikir-pikir, kondisi ini justru menguntungkan diriku. Gadis-gadis bule itu tak malu-malu untuk mendekat, lalu berebut mencium pipi Ara. Hmm…. Mengapa tak sekalian mencium diriku?


Athens, 20 September 2012

Teka-Teki Cinta di The Ridges

-->
The Ridges di Athens, Ohio
 
DI dekat bekas rumah sakit jiwa The Ridges, aku menemukan sebuah dompet lusuh. Mulanya aku sempat dirayapi kekhawatiran. Maklumlah, The Ridges adalah kawasan rumah sakit jiwa yang disebut sebagai tempat paling horor di Amerika. Dalam berbagai daftar kota seram, Athens di Ohio, menempati posisi puncak sebagai tempat paling seram di Amerika. Nah, mengapa pula ada dompet lusuh di tempat paling menakutkan itu?

Dengan memberanikan diri, kubuka dompet tersebut. Tak ada uang dollar. Tak ada identitas diri. Namun, ada sebuah kertas lusuh yang warnanya kekuningan. Nampaknya, kertas itu adalah sebuah surat yang dibuat dengan tulisan tangan dan bertahun 1944. Kubaca pelan-pelan surat yang mengawali kalimat dengan kata “Dear Michael.”

Surat itu adalah surat yang berisikan permintaan seorang perempuan kepada seseorang bernama Michael Goodwyl agar tidak lagi menemuinya. Pengirim surat bernama Hannah. Ia menulis dalam bahasa Inggris dengan kalimat puitis dan penuh nuansa emosional. Mungkin Hannah bercucuran air mata ketika menuliskannya.

Dear Michael

Kutulis surat ini ketika hujan baru saja usai, dan daun-daun maple di luar sana berguguran. Entah kenapa, hatiku ikut berguguran sebagaimana daun-daun sana. Ayah ibu melarangku untuk menemuimu. Mungkin jalan takdir kita tak harus bersisian sebagaimana dua rel kereta yang berjalan bersama di kampung kita Athens. Hari ini, dengan penuh berat hati, aku memintamu untuk tidak lagi menemuiku. Biarlah langit akan mengirim petir, dan bumi akan membuka lalu menelan diriku bersama seluruh cinta yang kukumpulkan untukmu.

Hannah Hutchinson

Aku terhenyak dan terdiam beberapa saat. Kalimat surat itu laksana pedang yang mengiris-iris hatiku. Ternyata kisah cinta yang terpenggal bisa ditemukan di mana-mana. Tak hanya kisah Romeo dan Juliet yang ditemukan di tanah Eropa. Orang-orang Cina punya kisah Sanpek dan Eng Thay, bangsa Arab punya cerita Khais dan Layla, orang Bali punya cerita tentang Jayaprana dan Layonsari, hingga orang Padang yang punya fiksi Sitti Nurbaya dan Syamsul Bahri.

Di sini, di tanah Athens, Ohio, ada pula kisah cinta yang tak bertepi. Ini bukanlah fiksi. Aku menemukannya pada secarik kertas, yang menjelma sebagai pahatan ingatan yang mengabadikan kisah cinta yang tak bertemu. Aku memperhatikan bagian belakang surat itu. Terdapat coretan tangan yang agak susah kubaca. Aku lalu  melipatnya, lalu memasukkannya ke dalam dompet tersebut.

Mungkinkah surat itu tak pernah sampai? Mengapa pula surat itu bisa ditemukan di The Ridges? Apakah seseorang sengaja menyembunyikan surat itu demi menjaga agar tak ada hati yang berguguran sebagaimana daun-daun Mapple di pepohonan sana? Pikiranku mencoba untuk menjawab misteri dan teka-teki surat itu.

Berbilang hari, dompet itu yang berisikan surat itu tersimpan rapi dalam apartemenku. Hingga suatu hari, aku mendengar cerita tentang seorang pria bernama Dr Vincent Goodwyl yang menjadi pengajar di Patton College of Education, Ohio University. Dalam satu pertemuan, aku bertanya pada Goodwyl apakah ia mengenal seseorang bernama Michael Goodwyl. Dan sungguh ajaib, ia mengenalnya. Ia mempersilakan diriku untuk mencari Goodwyl di satu panti jompo yang terletak di kota kecil Little Miami, Cincinnati.

Dua minggu silam, aku datang ke Panti Jompo itu. Aku lalu menemui seorang perawat dan juga pengelola rumah itu. Rumah itu amat luas dan dikelilingi rumput-rumput serta pepohonan hijau. Nampaknya, tempat ini ibarat surga bagi para lansia yang ingin rehat sambil bernostalgia tentang masa mudanya. Di situlah aku bertemu dengan pria bernama Michael Goodwyl.

Ia sudah amat sepuh. Jalannya agak sempoyongan jika tak dibantu tongkat logam yang selalu dibawa-bawanya. Ketika kutemui, ia sempat kebingungan. Namun, aku tak mau bicara banyak. Langsung kuperlihatkan dompet yang berisikan surat Hannah tersebut. Matanya sontak berkaca-kaca. Ia mencium dompet itu sambil membisikkan kalimat, “Terimakasih karena kamu telah menemukan sekeping hatiku.”

Tanpa kuminta, Michael bercerita. Dahulu dirinya adalah seorang prajurit yang sering ditugaskan ke medan perang. Kekasihnya Hannah adalah seorang gadis muda yang pipinya meranum bak strawberry di musim semi.  Ketika Michael ditugaskan untuk ikut dalam penyerbuan ke Normandia pada tahun 1944, kedua orangtua Hannah memilih untuk memutuskan hubungan anaknya. Kata mereka, ikut dalam operasi tempur ibarat menyetor nyawa.

Dan Michael dikira tewas. Ketika kembali ke Athens, semuanya berubah. Rumah Hannah yang dahulu di tepi bukit-bukit the Ridges, kini menjadi apartemen bernama Carriage Hill. Maka, Michael hanya bisa mengenang sembari merunut ulang episode-episode paling membahagiakan saat bersama Hannah, yang disebutnya sebagai gadis berpipi ranum.

Mendengar kisahnya, mataku basah. Aku tak sanggup berkata-kata.

***

LEBIH sejam aku menunggu sahabatku di sini. Namanya Yannan Zi. Ia adalah sahabat asal Cina yang bekerja sebagai relawan untuk mengurusi warga lanjut usia di tepi pegunungan Applachian. Saat kukisahkan cerita tentang Michael Goodwyl, Yannan mengaku bisa membantu menemukan Hannah. Katanya, ia bisa menemukan kabar tentang Hannah melalui rekan-rekan sejawatnya. Beberapa hari lalu, Yannan meneleponku dengan suara penuh kegirangan. Ia menemukan Hannah. Kami berencana untuk mempertemukan Michael dan Hannah.

Hari itu, Michael datang menemuiku bersama perawatnya. Ia memakai baju kemeja dengan dasi kupu-kupu. Ia tampak gagah. Tubuhnya tetap kekar. Aku serasa melihat Michael yang masih berprofesi sebagai prajurit Amerika. Tak lama kemudian, Yannan datang bersama Hannah. Pipi Hannah tidak lagi seranum strawberry, namun garis-garis kecantikan masih nampak di wajahnya. Ia sudah tidak muda lagi. Jalannya tertatih-tatih. Tapi tidak dengan matanya yang tetap tajam.

“Michael. Kaukah itu?”
“Iya. Kaukah itu Hannah? Apakah kamu masih ingat tempat kita selalu duduk?”
“Apa kamu ingin diskusi tentang pemandangan indah di bawah bukit tempat The Ridges?

Mereka saling mendekat. Keduanya berangkulan dengan isak tangis perlahan. Aku tidak sedang melihat dua orang tua yang sedang bernostalgia. Tiba-tiba saja aku meluhat seorang pemuda dengan dengan celana jeans dengan kemeja serta ada dua tali bersilangan di punggungnya. Di sebelah sana aku melihat seorang remaja putri dengan rok payung. Nah, aku melihat pipi yang merona bak strawberry.

Aku dan Yannan terisak. Aku memilih meninggalkan ruangan. Bagiku, upaya untuk menemukan jawab atas surat yang tersimpan di dompet itu akhirnya terjawab. Yannan bercerita kalau sejak mengirim surat itu, Hannah memutuskan untuk tidak menikah. Demikian pula dengan Michael. Seiring waktu, sejak tahun 1940-an itu, mereka terus bertambah tua sembari mengenang masa silam yang penuh romansa. Mereka saling mencari, tapi tak saling menemukan.

Selanjutnya aku tak lagi mendengar kabar tentang mereka. Seminggu berikutnya, aku mendengar keduanya melangsungkan pernikahan di satu gereja kecil kota Athens. Media setempat menulis kisah mereka sebagai kisah tentang pasangan paling berbahagia di kota kecil itu.

Akupun ikut bahagia sebab surat yang dikirim pada tahun 1940 itu akhirnya menemukan jawabannya. Surat itu tak lagi jadi misteri. Surat itu tak lagi menjadi teka-teki. Melainkan jadi kisah yang amat membahagiakan, sebahagia bunga-bunga yang mekar di musim semi, sebahagia tupai-tupai yang berlarian di tepi pohon-pohon mapple.(*)


Athens, 15 September 2012
www.timur-angin.com
Saat mengenang Michael dan Hannah

gereja kecil di Athens, Ohio


Sensasi Jadi Headline (12)

-->
BEBERAPA tulisan saya menjadi headline di Kompasiana, kanal social blog terbesar di Indonesia. Saya memang berusaha mempertahankan ritme tulisan saya di sini. Seab saya menganggap Kompasiana adalah barometer media warga di Indonesia. Jika tulisan kita tayang di situ dan mendapat atensi luas, maka tentu saja, ini menjadi symbol bahwa tulisan itu diapresiasi orang banyak. Inilah tulisan itu:







Pengemis Kota New York

-->
PENGEMIS tak hanya bisa ditemukan di Kota Jakarta. Pengemis bisa pula ditemukan di jalan-jalan ramai kota New York. Namun yang membedakan mereka adalah metode dalam mengais-ngais duit dari kantong para pejalan. Kusimpulkan kalau dunia pengemis adalah dunia yang sarat dengan manajemen kesan agar semua orang bisa tersentuh dan mengalirkan rezeki.

Suatu hari, di jalanan riuh kota New York, aku melihat badut yang mengingatkan pada karakter boneka Sesame Street berdiri di jalan raya. Aku lalu menghampirinya lalu mengajaknya foto bersama. Setelah pasang senyum sana sini, kamera menjepret beberapa kali. Saat hendak pergi dan berkata "thank you", sang badut tiba-tiba mengucapkan sesuatu. Ia meminta bayaran karena telah mengajaknya berfoto bersama.

Mulanya aku terheran-heran. Baru tahu aku kalau ternyata ia adalah seorang pengemis. Namun, aku salut juga dengan caranya yang unik. Ia tidak sekadar menadahkan tangan, ia kreatif dalam menyiasati kota New York yang dilintasi demikian banyak turis, dan membutuhkan obyek untuk berfoto.

Di Indonesia, para pengemis juga tak kalah kreatif. Mereka bisa merekayasa intonasi suara, penampilan sekumal mungkin, maah kadang sengaja membat luka atau borok di kaki demi membangkitkan rasa iba. Di bulan Ramadhan, para pengemis kian bertambah. Mereka paham bahwa masyarakat ingin berbuat baik dan rela mengeluarkan duit demi amal.

Pada akhirnya aku berkesimpulan kalau dunia sosial adalah dunia di mana semua manusia melancarkan strategi dan siasat. Dunia sosial adalah dunia di mana semua orang akan bertarung demi memenangkan kehidupan. Dalam arena itu, ada yang menang, namun ada yang kalah. Namun bukan berarti bahwa mereka yang kalah benar-benar kalah. Mereka tetap masuk arena dan bertarung demi sejumput rezeki yang mungkin ibarat tai kuku bagi mereka yang menangguk banyak.

pengemis kota New York

-->
Para pengemis adalah mereka yang berusaha bertahan hidup, merendahkan diri, menadahkan tangan. Mereka tak meminta lebih. Mereka juga tak ingin memaksa Anda. Mereka hanya meminta satu sen atau dua sen. Mereka hanya ingin bertahan hidup, sebagaimana pengemis kota New York yang berbaju badut.

Usai mengeluarkan lembaran sedollar, ia mengecup lembaran kertas itu, lalu membuka topeng badutnya. Hmmm.. Ada senyum manis tersungging di situ.(*)


Athens, 14 September 2012
Saat mengenang New York

Berjuang Melawan Lupa di Amerika

peringatan tragedi 9/11 di kampus OU

-->
DI dekat Templeton Memorial, kampus Ohio University, anak-anak muda itu tengah memasang bendera-bendera kecil. Lapangan rumput itu penuh dengan bendera Amerika Serikat, bendera yang berkibar di banyak peperangan, dan kembali dengan penuh kejayaan. Saat aku mendekat dan bertanya, seorang anak muda berambut keemasan itu mengatakan kalau mereka sedang mengenang peristiwa rubuhnya menara kembar. “Kami tak ingin lupa pada satu kepingan sejarah,” katanya dengan penuh semangat.

Bangsa Amerika sedang memperingati peristiwa runtuhnya menara WTC. Media setempat menyebut peringatan itu sebagai upaya untuk melawan lupa. Mereka tak ingin lupa. Mereka ingin selalu mengingat satu masa kelam ketika sekitar 3.000 nyawa terbang ke udara, saat sebuah pesawat menghantam dua gedung kembar.

Di kota New York, peringatan itu ditandai dengan ziarah ke lokasi tempat menara kembar. Di situ taka da bangunan. Hanya ada satu bekas bangunan ketika bumi membentuk kotak persegi, seolah ada bangunan yang amblas. Air mancur memenuhi segi empat itu dan masuk ke lubang persegi di tengahnya. Seolah ada pesan; di sini pernah ada gedung yang kemudian ditelan bumi dan menjelma sebagai air yang membawa kehidupan.

bendera-bendera
proyek melawan lupa

-->
Anak muda di kampus Ohio University itu tak ingin jauh-jauh ke New York. Mereka mengingat peristiwa itu dengan caranya sendiri. Mereka menanam beberapa bendera, lalu menyalakan lilin di malam hari. Mereka membisikkan doa agar jiwa-jiwa yang tewas di hari itu bisa diterima dengan senyum mengembang. Mereka membaca refleksi di tengah gelap dan cahaya redup satu-satu.

Sejarah seringkali tak ingin mencatat kemenangan. Berbagai kemenangan dan kejayaan tempur Amerika tak banyak tercatat di ingatan kolektif bangsanya sendiri. Sementara sebuah kisah kelam, terus-menerus diingat. Bangsa Amerika tak ingin melupakan. Sebab peristiwa itu dianggap sebagai satu alarm yang mengingatkan semua orang untuk terus waspada dan menjagai agar tak ada kemungkinan serupa di masa mendatang. Peristiwa itu cukup sekali saja.

Namun, apakah ingatan memang harus dipertahankan terus? Sampai kapankah mereka akan mengenang? Bisakah mereka juga mengingat bahwa akibat peristiwa itu, kenderaan tempur berangkat ke Taliban, lalu membunuh ribuan orang dalam berbagai operasi yang kemudian dirahasiakan oleh sejarah? Bisakah mereka juga mengingat betapa menderitanya menjadi imigran yang masuk negeri itu, dicurigai sebagai bagian dari kelompok sesat, diawasi di bandara, lalu dipersempit ruang gerak.

Kita memang sedang menyaksikan satu patahan sejarah ketika agama dituding sebagai sebab. Sering aku tak habis pikir. Mengapa tindakan seorang sesat tiba-tiba harus ditimpakan pada banyak orang yang sedang berusaha untuk meniti di jalan yang lurus. Di negeri itu, aku kerap melihat bagaimana diskriminasi serta stereotype ditimpakan pada satu kelompok. Lewat itu, kebenaran seakan diteguhkan.

Namun, benarkah Islam dituding sebagai penyebabnya? Tak semua berpikir demikian. Tepat tanggal 11 September, para pemeluk agama Kristen, Islam, dan Yahudi, bersama-sama melakukan long march di kota Athens, Ohio. Mereka bersama-sama hendak menyatakan ada dunia bahwa sebab tewasnya ribuan orang itu bukanlah karena agama. Terorisme yang jadi sebab. Terorisme yang bisa muncul di mana saja, tak peduli apapun agamanya.

Peace Walk di kota Athens, Ohio
Dwi dan Ara juga ikut peace walk

-->
Bersama keluarga kecilku, aku bergabung dalam aksi itu. Lewat jalan damai itu (mereka menyebutnya peace walk), aku ingin menyatakan bahwa pada dasarnya semua agama datang membawa spirit kemanusiaan. Agama hanyalah sebuah petunjuk, dan semuanya akan dimaknai oleh manusianya. Ketika manusia dikuasai sifat-sifat yang dibenci agama, maka ia akan menjelma menjadi neraka bagi manusia lain. Mungkin filsuf Thomas Hobbes benar saat menyatakan bahwa manusia bisa saling memangsa.

Bagiku, agama ibarat setetes embun. Agama hadir untuk membekukan keindahan di pagi hari, tatkala matahari mulai bersinar, dan bunga-bunga mulai bermekaran. Setetes embun di dedaunan itu tak hanya menghadirkan keindahan, ia juga memadamkan rasa haus manusia yang merindukan satu titik terang dalam kehidupan. Tanpa embun itu, kehidupan serasa hampa.

renungan dengan cahaya lilin
saat berefleksi

-->
Bagiku, agama adalah setetes air. Ia bisa mengatasi dahaga atas perjalanan yang demikian jauh demi menelusuri gurun raya permenungan dan perjalanan manusia. Lewat setetes air itu, manusia akhirnya menyadari bahwa hidup tidak melulu soal menjawab tantangan dengan rasio dan nalar ilmiah. Hidup juga berisikan teka-teki besar yang bisa disempurnakan oleh iman dan keyakinan. Tentu saja, nalar dan iman ibarat dua kepak sayap yang akan menerbangkan seseorang menuju ke puncak-puncak pengetahuan dan kearifan.

Lewat aksi jalan damai itu, aku belajar bahwa agama hanyalah sebuah jalan. Dan momentum untuk mengenang tragedi WTC bisa menjadi momentum untuk menyatakan sebuah proklamasi bahwa yang membedakan manusia hanyalah ras dan suku bangsa. Di luar itu, manusia adalah sama-sama berdiam di tubuh yang fana, sama-sama memiliki darah merah.(*)



Athens, 11 September 2012

Sehari Bersama "Professor" Kecilku


profesor kecilku

SUNGGUH mengagumkan ketika menyadari bahwa seorang bayi memiliki kecerdasan luar biasa. Ia bisa menyerap apapun informasi, memiliki strategi agar ibunya tak pergi jauh darinya, serta bisa mengatur tangisan sebagai cara berkomunikasi atas sesuatu yang tak dikehendakinya. Bayi adalah para pembelajar hebat yang seyogyaya menjadi guru-guru bagi manusia dewasa.

Mungkin kedengarannya menggelikan. Namun saya sedang berusaha untuk belajar banyak hal dari bayi Ara. Dalam keadaan bagaimanapun, ia bisa mengenali emosi siapapun yang bersamanya. Ia bisa tahu kalau kita sedang marah, sedih, atau sedang gembira. Ia kadang bisa reaktif. Ketika anda melarangnya dengan tegas, ia bisa juga melakukan perlawanan, baik melalui tangisan menyayat-nyayat, atau lewat aksi yang akan membuatmu marah.

Jalan terbaik menghadapi bayi adalah biarkan semuanya mengalir. Berikan pengertian dengan jelas, sebagaimana diberikan pada seorang dewasa. Mungkin bayi tak paham informasi yang anda tuturkan, tapi ia bisa mendeteksi intonasi suara, nuansa emosi yang anda keluarkan, serta ketulusan yang terpancar lewat suara. Seorang bayi bisa melancarkan mosi tak percaya ketika menyadari anda sedang tak tulus dalam berbicara. Secara jujur, ia bisa menampik anda seolah hendak berkata, “Go to hell!”

Saya teringat novelis Jostein Gardner. Ia mengatakan bahwa para bayi adalah para filosof. Para bayi adalah mereka yang selalu berpikir, menganalisis, dan mengalami hal-hal baru dalam kehidupannya. Ketika melihat benda yang baru, maka bayi itu akan memperhatikan hal tersebut hingga detail, lalu menyentuh benda-benda itu, kemudian mempelajarinya dengan seksama. Ia belajar lewat sentuhan, amatan, serta merasakan langsung benda-benda. Ketika ia sudah memahami aspek tiga dimensi dari satu benda, maka ia akan membuang benda itu. Mission accomplishes.

memilih mainan yang baik

Jangan pernah meremehkan kemampuan belajar para bayi. Kemampuan bayi dalam memahami bahasa sebenarnya sungguh luar biasa. "Bayi baru lahir bahkan bisa membedakan dua bahasa berbeda dan tanpa kesulitan bisa mempelajari bahasa mana pun," kata George Hollich, psikolog yang banyak melakukan riset mengenai kemampuan bahasa bayi. Menurutnya, bayi bisa memahami tata bahasa di usia 15 bulan.

Yang juga mencengangkan karena bayi bisa mengetahui mana yang suka membantu dan mana yang egois. Ia punya kemampuan yang perlu dimiliki dalam memilih teman. Dan tahukah Anda bahwa kemampuan itu sudah dimiliki manusia di usia dini. Riset menunjukkan bayi berusia 10 bulan cenderung memilih orang yang memiliki karakter gembira dan baik. Makanya, saat hendak bermain-main dengan bayi, saya akan berusaha untuk seceria mungkin. Saya akan berusaha seriang mungkin, sehingga dirinya nyaman denganku.

Demikian kesimpulan atas pelajaran hari ini pada manusia cerdas yang pikirannya sedang tumbuh. Tak kusangka, jauh-jauh berkelana ke negeri orang demi menemui para professor hebat, ternyata professor paling hebat itu ada dalam rumahku sendiri.

Ia adalah bayi mungil bernama ARA.

Hari-Hari Terakhir Sang Imam


JIKA ada buku yang ingin saya baca belakangan ini, maka itu adalah buku karya Fadli Zon yang berjudul “Hari Terakhir Kartosoewirjo.” Menurut, informasi yang saya baca di media online, buku ini memuat berbagai foto yang sama sekali baru dan tidak diketahui publik, termasuk hari-hari terakhir pria yang kemudian menjadi imam dari pemberonakan yang mengatasnamakan Islam.

Saya sendiri tersentak dengan beberapa fakta. Mulai dari jam tangan rolex yang selalu dikenakan sang imam, foto-foto ketika ia dieksekusi di satu pulau kecil di Kepulauan Seribu, jenazah yang dimandikan dengan air laut, sang imam yang tak pernah naik haji, foto makan malam terakhir dengan keluarga, hingga salat tobat terakhir yang sempat dilakukannya. Sang imam itu menghadapi kematian dengan tak berkedip.

detik-detik jelang eksekusi. Jam tangan Rolex dilepas
melaksanakan salat tobat
posisi saat eksekusi
dokter memastikan bahwa sang imam telah tewas
usai dimandikan dengan air laut, kemudian disalatkan

Hal lain yang menarik buat saya adalah fakta tentang kehidupan Kartosoewirjo yang unik. Selama ini, para peneliti dengan gampangnya menyebut ideologi Islam yang dianutnya sebagai  energi utama yang menggerakkan segala pemberontakannya.

Namun, saya meragukan alasan itu. Saya masih percaya dengan analisis yang lebih menyoroti pada aspek ekonomi politik, fenomena keseharian sang imam, serta proses berpikir yang merupakan hasil dari pergulatannya dengan kenyataan. Saya juga meyakini bahwa pemetaan politik pada masa itu, tidak serta-merta dipilah dalam kategori sederhana yakni Islam, nasionalis, dan komunis. Sayang, Fadli Zon hanya menyajikan 81 buah foto, tanpa analisis mendalam. Mungkin tujuannya hanyalah mengungkap teka-teki sejarah tentang sang imam DI/TII.

Strategi memilah-milah dalam kategori Islam, nasionalis, dan komunis ini mungkin banyak berhutang pada pemikir Herbert Feith. Ilmuwan politik asal Australia, Herbert Feith, dianggap berjasa besar atas semakin digunakannya kategori politik aliran ini dalam menjelaskan tentang tokoh pergerakan di Indonesia. Feith (1970) mengungkap lima kutub aliran, yaitu, Islam, Nasionalisme Radikal, Sosialisme, Komunisme, dan Tradisionalisme Jawa. Tumbuhnya kelima aliran itu dipengaruhi oleh dua sumber utama, yakni: khasanah Barat (modern) dan domestik (Hindu-Budha dan Islam). Dari situlah muncul teori heterogenitas partai. Feith melihat kelima aliran itu saling terkait (cross-cutting).

Nampaknya, Feith memaksa kita semua untuk berpikir dalam kota-kotak yang disebutnya mewakili aliran-aliran. Sejarawan Yale, Harry J Benda, mengkritik pandangan Feith ini. Ia menganggap bahwa upaya untuk mengamati Indonesia sering terjebak dengan cara pandang barat sehingga semua kategori dan pembagian itu dianggap operasional di lapangan. Benda mengatakan:

“Perhaps our basic error all along has been to examine Indonesia with Western eyes; or, to be more precise and more generous, with eyes that, though increasingly trained to see things Indonesian have continued to look at them selectively in accordance with preconceived Western models.”

Saya setuju dengan pandangan Benda. Bingkai ideologi itu terlampau menyederhanakan kenyataan dan memosisikan seorang peneliti sebagai pihak yang dominan. Seorang individu (atau aktor sejarah) akan diposisikan sebagai obyek yang pasif. Ia tak berdaya dan ditentukan kategori serta posisinya oleh seorang peneliti yang dominan. Lagipula, asumsi yang mengatakan bahwa seorang individu akan tunduk mengikuti ideologi yang dipilihnya adalah sesuatu yang mustahil. Setiap manusia selalu memiliki pilihan, apakah pada satu titik mengikuti ideologi yang sering diucapkannya, ataukah di sisi lain mengikuti kehendak bebasnya.

Dalam pahaman saya, Benda menginginkan agar ada upaya untuk menemukan upaya untuk memahami Indonesia melalui perspektif orang Indonesia sendiri. Dalam artian, kenyataan social mesti dipahami sebagaimana cara pandang subyek yang akan dituliskan. Dalam hal tokoh sejarah, maka semestinya, para peneliti harus bisa memahami zaman di mana tokoh tersebut berasal, serta bagaimana tokoh tersebut melihat diri dan masyarakat di zaman itu.

Dalam ranah antropologi, ini sering disebut native point of view, yakni bagaimana subyek memandang dirinya, serta bagaimana subyek memandang dunia di sekitarnya. Pada titik ini, pandangan yang melihat bahwa seorang manusia sejarah akan bertindak sesuai pilihan ideologi tidak selalu benar.

Sekarang, marilah kita simak fenomena Kartosoewirjo. Benarkah perjalanan hidup dan kisahnya semata-mata karena dilatari oleh Islam? Saya yakin buku Fadli Zon bersikan banyak data dan fakta, namun tak banyak analisis. Hmmm. Marilah kita coba pahami konteks searah masa itu.

Kartosoewirjo berguru pada salah satu tokoh nasionalis terbesar negeri ini; H.O.S. Tjokroaminoto, atau yang disapa Tjokro. Pada masa itu, Tjokro adalah panutan banyak orang, termasuk Soekarno, Semaun, hingga Kartosoewirjo. Malah, bersama Soekarno, Kartosoewirjo diadopsi sebagai anak oleh Tjokro. Kartosoewirjo juga adalah bagian dari kelas menengah perkotaan yang belajar di Stovia, sekolah Belanda yang diperuntukkan bagi para bangsawan Jawa yang ingin mendalami kedokteran. Pertanyaannya, apa pengalamannya bersama Tjokro? Mengapa ia menempuh jalan berbeda dengan Soekarno sebagai saudara seideologisnya?

Pertanyaan berikutnya, Dari manakah Kartosoewirjo belajar? Ternyata, di masa muda ia belajar langsung pada Mas Marco Kartodikromo, seorang jurnalis hebat pada masa itu yang seangkatan dengan Tirto Adhi Soerjo. Mas Marco adalah paman langsung Kartosoewirjo. Mas Marco kemudian menjadi salah satu tokoh penting bagi berdirinya Partai Komunis Indonesia. Jika Kartosoewirjo belajar dari pamannya, mengapa tak sedikitpun ia berkomentar atas pilihan politik sang paman?

Terakhir, mungkin dibutuhkan satu analisis yang menyangkut life history atau keseharian Kartosoewirjo. Saya sendiri tak terlalu yakin dengan analisis yang dengan mudahnya menuding factor ideologi sebagai penyebab sebuah perlawanan. Mungkin, pendekatan etnografi yang dikaji dengan metode sejarah, bisa menjadi alternatif yang bisa menguak sisi lain seorang tokoh secara lebih detail. Jika punya data yang kaya, mengapa Fadli Zon tak menuntaskan tulisan tentang sang imam?


Athens, 7 September 2012


Tangis Keras di Pelukan Ayah

saat memilih mainan di Walmart

SETAHUN lebih aku menyandang status sebagai seorang ayah, namun tak pernah kurasakan bagaimana nikmat mengurusi keluarga kecil, bagaimana menggendong seorang anak, hingga bagaimana mengganti popoknya ketika basah. Kubukakan sebuah rahasia. Aku meninggalkan bayi kecil itu dan berangkat ke negeri asing ini pada saat usianya dua minggu. Kini, bayi kecil itu berusia setahun lebih sebulan. Dan betapa banyak hal yang berubah.

Beberapa hari sebelum dirinya datang di kota kecil ini, perasaanku seakan galau. Aku ingin mempersiapkan semuanya secara sempurna. Aku merasa nervous kalau-kalau dirinya tak bisa menerimaku. Tapi seorang warga Arab Saudi, yang merupakan tetanggaku di apartemen ini, membisikkan kalimat, “Kamu hanya butuh seminggu untuk berkenalan.”

Dan bayi kecil itu akhirnya tiba di sini. Ia datang bersama ibunya yang nampak lebih kurus ketimbang terakhir kutinggalkan. Terhadap mereka, ada banyak sedih yang terlukis di hati ini. Mungkin aku belum bisa menjadi ayah yang baik, yang bisa mengisi hari-hari mereka dengan bahagia. Melihat mereka, ada sesal tertanam, mengapa harus membiarkan mereka menjalani hari tanpa kehadiran seorang ayah.

Tapi setidaknya mereka sudah di sini. Selama 22 jam perjalanan dari Jakarta, lalu ke Singapura, lalu Jepang, kemudian Washington DC, hingga akhirnya tiba di kota kecil ini. Mereka telah menempuh perjalanan ribuan mil demi menemui diriku yang hanya bisa menunggu di sini. Istri dan bayiku adalah para pejuang yang rela menempuh perjalanan lintas benua demi menegakkan kalimat sakti kebersamaan dan kesucian sebuah keluarga.

Ini Ayah. Jangan nangis Nak!

Ketika bayi mungil itu melihat diriku, ia menangis sekeras-kerasnya. Bahkan ketika ingin kugendong, ia menolakku. Ia histeris dan menangis. Mungkin ia sedang protes karena diriku tak mendampingi hari-harinya. Mungkin ia sedang ingin melampiaskan kekesalan karena ditinggalkan begitu lama. Terhadapnya aku berbisik, “Ini ayahmu Nak. Ini ayah yang pernah mendampingi ibumu saat kamu dilahirkan. Ini ayah yang membacakan iqamat di telingamu ketika kamu terlahir.”

Aku paham jika dirinya terus-terusan menangis. Bukanlah sebuah perkara gampang jika kemudian bertemu seorang asing yang tak pernah kau kenal dalam hidup. Bagiku, tangisan bayi itu seakan mengiris-iris hati yang memang udah merasa bersalah karena lama meninggalkannya. Apalah daya, garis kehidupan harus memaksaku untuk memilih sebuah jalan pedang, hingga dirinya cukup usia untuk ikut bergabung di tepi jalan ini. Mungkin aku butuh banyak waktu untuk akrab dengannya.

Di sini, pada hari pertama kedatangan mereka, aku mengajak mereka berkeliling kompleks. Aku harus mengajarinya beradaptasi. Bayi kecil itu masih tak terbiasa menganakan car seat saat di dalam mobil, masih harus belajar duduk manis di stroller dan membiarkan ibunya di samping, juga masih harus biasa dengan pemandangan yang berbeda dengan pemandangan di kampung kecil kami.


bersama Erika dan putrinya Violeta

pose bersama mama
dekat lapangan

Di perjalanan, kami menyapa keluarga kecil asal Colombia yang dengan senang hati memberikan banyak baju bayi untuk perlengkapan musim dingin. Kami bertemu banyak orang yang dengan sukacita melambaikan tangan pada bayi kecilku. Nampaknya, dunia ini sedemikian bersahabat untuk dirinya. Semoga saja, semesta menyambut mereka dengan penuh cinta, sebagaimana cintanya matahari pada bumi.

Selamat datang di Tanah Amerika …
Kali ini ijinkan aku menjadi ayah yang yang membahagiakan kalian…


Athens, 6 September 2012

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...