Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Pelajaran Cinta dari Seekor Beruang


Putri Merida


TAK butuh biaya besar dan jalinan cerita yang rumit untuk mengemas sebuah film menjadi film paling laris dan ditonton banyak orang. Buktinya, film Brave, yang diproduksi Disney dan Pixar, memiliki kisah yang sederhana, namun punya aspek human interest yang kuat sehingga sanggup mengaduk-aduk emosi. Pantas saja jika film ini ditonton banyak orang di seluruh dunia.

Kisah yang tersaji dalam film ini sangat sederhana. Kisahnya bermula dari seorang putri bernama Merida yang tomboy dan memberontak pada ibunya. Ia lebih suka hal-hal menyangkut ketangkasan memanah, ketimbang berprilaku sebagai putri raja yang tunduk pada adat-istiadat, mengikuti etika, selalu menegakkan tubuh, memelihara keanggunan.

Suatu hari, sang putri hendak dijodohkan oleh ibunya. Ia berontak. Ia pun ikut dalam kompetisi memanah, sehingga ibunya murka besar. Di tengah konflik yang sengit, Merida memilih meninggalkan rumah. Ia berlari ke hutan hingga akhirnya bertemu seorang penyihir.

Ia meminta ramuan yang bisa mengubah watak ibunya yang keras. Ternyata, ramuan itu malah mengubah ibunya menjadi beruang, hewan yang paling ditakuti di kerajaan itu. Di tengah rasa penyesalan itu, Merida lalu berusaha melindungi ibunya dari kejar-kejaran, serta mencari cara untuk mengembalikan ibunya ke keadaan semula.

saat Merida ikut lomba memanah

Di tengah setting pebukitan di Skotlandia, film animasi tiga dimensi ini memaparkan lanskap yang apik dan amat indah. Kita serasa bertualang memasuki rimba Skotlandia yang eksotik, dengan hutan-hutan belantara yang penuh misteri.

Kekuatan utama film ini adalah narasi yang sederhana, namun menyentuh. Temanya juga universal sebab perbedaan pandangan antara ibu dan anak adalah sesuatu yang universal dan bisa terjadi di mana-mana. Seringkali anak selalu ngotot dengan keinginannya, sementara sang ibu juga ngotot dengan keinginannya.

Pada dasarnya, kedua belah pihak sama-sama saling mencintai. Mereka hanya tidak menemukan bahasa yang tepat untuk mengekspresikan cinta masing-masing. Cinta selalu berujung pada rasa memiliki yang besar. Seorang ibu merasa memiliki anaknya, serta merasa tahu apa yang baik buat anaknya, sementara sang anak hidup dalam alam pemikiran yang berbeda.

Film ini mengajarkan bahwa seringkali butuh sebuah krisis demi menemukan kesepahaman. Ketika sang ibu menjadi beruang, ia kemudian melihat dunia dengan cara berbeda. Ternyata, aturan dan adat-istiadat tentang sopan santun hanyalah sebuah konstruksi berpikir yang dilihat pada satu sisi. Ia akhirnya belajar memahami anaknya.

saat Merida berjibaku untuk membela ibunya yang menjadi beruang

Sementara sang anak akhirnya menyadari bahwa sebenci apapun ia pada ibunya, ia ternyata memelihara butiran-butiran cinta yang amat menggetarkan. Saking sayangnya, sang anak tidak rela siapapun menyakiti ibunya yang sedang berwujud beruang. Ia menantang siapapun, termasuk ayahnya sendiri, demi mempertahankan agar ibunya tetap baik-baik saja. 

Sang beruang juga mati-matian menyayangi anaknya. Ketika binatang buas lain datang hendak memangsa anaknya dan semua orang, ia lalu berkelahi hingga titik darah penghabisan. Meskipun berwujud beruang, ia ingin menunjukkan cintanya yang dahsyat itu melalui pengorbanan diri. 


Baik anak maupun ibu sama-sama memahami bahwa cinta yang tertinggi teraktualisasi lewat sikap bersedia untuk mengorbankan apapun demi yang disayangi. Kedua-duanya adalah pencinta sejati yang berani mengorbankan diri demi sosok yang dikasihi. Inilah esensi cinta yang tersaji dalam film ini.

Di akhir film, beruang kembali menjadi sang ibu. Ia akhirnya memahami anaknya, dan kemudian bertingkah sebagaimana anaknya. Sang anak juga menjadi lebih dewasa dalam memaknai hubungannya dengan ibunya sendiri. Ternyata, mantra sihir itu telah mendekatkan keduanya, setelah sebelumnya dipisahkan oleh ego dan keangkuhan. Beruang itu telah mengajarkan cinta yang kemudian mendekatkan hubungan ibu dan anak.

Sebagaimana judulnya, film ini memang mengisahkan keberanian (Brave). Tapi saya rasa, hal paling penting yang hendak dikisahkan bukanlah keberanian. Film ini adalah film tentang cinta kasih serta relasi antara ibu dan anak. Saya jauh lebih suka jika judulnya adalah Love (cinta) atau The Journey of Love (perjalanan cinta). Tapi mungkin saja, judul-judul cinta sudah kelewat banyak. Judul itu tidak semenjual kata Brave yang agak misterius dan menantang. Iya gak?



Athens, 29 Juni 2012

Saat Jadi Pemulung di Amerika


usai memindahkan alas spring bed dan lampu dari tong sampah

USAI wisuda dan musim libur, banyak mahasiswa yang kembali ke kampung masing-masing. Bagi mahasiswa internasional, mereka mesti siap-siap untuk meninggalkan apartemen dan kembali ke negara masing-masing. Di saat seperti ini, tong sampah akan penuh dengan barang-barang berkualitas yang dibuang pemiliknya. Nah, melihat barang mewah dan berkualitas itu, saya tergoda dan ikut-ikut menjadi pemulung. Lho? Gimana ceritanya?

Setiap penyewa apartemen memahami kebijakan untuk membersihkan dan mengosongkan apartemennya. Di apartemen saya, pemilik apartemen sudah mewanti-wanti agar saat meninggalkan apartemen mesti dalam keadaan yang bersih, sebagaimana saat memasukinya. Artinya, kita tak boleh meninggalkan satupun benda milik kita di situ. Jika lalai, maka kita akan dikenakan denda hingga 50 dollar, yang dipotong dari uang muka saat kita pertama masuk apartemen.

Buat yang terlanjur membawa barang, tentu denda ini jadi masalah. Apalagi, beberapa apartemen ditawarkan dalam keadaan unfurnished alias tanpa furniture. Saat pindahan, penyewa harus mengosongkannya, sebagaimana saat masuk. Bagi yang tinggal jauh, atau bagi yang tinggal di negara lain, maka tentunya tak ada pilihan. Mereka mesti membuang semua benda tersebut ke tong sampah. Nah, inilah sebab, mengapa tong sampah dipenuhi dengan barang-barang mewah dan berkualitas.

saat menunggu bala bantuan
sofa yang berhasil dipindahkan ke apartemen

Tadinya, saya tak ingin ikut-ikutan jadi pemulung.  Dua hari lalu, saat melintas di dekat tong sampah, saya terkejut melihat spring bed jenis mahal di Indonesia, sofa panjang, kursi-kursi makan yang berukir, serta lampu hias yang dibuang begitu saja.  Saya teringat kalau tidak lama lagi, keluarga akan tiba di sini. Jika saya pindah ke apartemen baru yang unfurnished, tentunya saya akan mengeluarkan biaya besar untuk membeli perabot.

Iman saya langsung goyah. Saya mengontak beberapa teman untuk membantu memindahkan barang-barang itu. Kami lalu memindahkan beberapa barang. Lumayan, sebab saya bisa dapat barang yang mahal, berkualitas, dan gratis. Saya hanya mengambil barang seperlunya. Seorang teman asal Afrika dapat televisi Toshiba layar datar 20 inch serta microwave. Teman itu memang rajin memonitor tempat sampah. Beda dengan saya yang hanya sekali melintas, langsung memindahkan barang. Hehehe..

spring bad yang diambil dari tong sampah
tulisan ini tertera di banyak tong sampah di Athens, Ohio

Di Athens, Ohio, para mahasiswa tak perlu malu untuk jadi pemulung. Hampir semua orang yang pernah belajar di Amerika, pasti pernah melakukannya. Bahkan beberapa tokoh kondang bergelar professor doktor yang dahulu belajar di sini, juga melakukannya. Memulung barang jelas jauh lebih ekonomis ketimbang membeli yang baru. Apalagi, barang yang dibuang ke tong sampah bukanlah barang yang jelek. Malah, barang itu sangat bagus.

Di saat, menuntaskan tulisan ini, seorang teman cantik asal Cina bernama Long Zhong tiba-tiba menelepon. “Hai Yusran. Apa kamu sedang sibuk malam ini? Saya ingin membuang perangkat DVD player, playstation, serta televisi layar datar di apartemen saya. Apa kamu mau membantu saya untuk membuangnya ke tong sampah?” katanya.

Tiba-tiba saya mengalami dilema, apakah saya akan membuang benda itu ataukah memindahkannya ke tempat saya. Hmmm…


Athens, 26 Juni 2012

Akhir Kisah Avatar Korra


Avatar Korra

SERIAL Avatar Korra atau Legend of Korra akhirnya berakhir. Bukan berarti tak ada lagi Korra, sebab yang berakhir adalah musim pertama yang berjudul water (air). Serial ini cukup singkat sebab hanya 12 episode. Seingat saya, serial Avatar Aang musim pertama terdiri atas 20 episode.

Berbeda dengan Avatar Aang, yang banyak berisi kisah-kisah selipan atau perjalanan Aang, maka Legend of Korra langsung pada inti kisah yang menengangkan. Mustahil anda memahami kisahnya jika tidak mengikuti serial ini secara berurutan. Ketegangan ditata secara perlahan sehingga semakin akhir, penonton semakin penasaran. Teka-tekinya kian menarik. Saya didera penasaran untuk menuntaskan kisah ini.

Di akhir kisah, terungkap satu per satu misterinya. Mulai dari Amon (musuh terbesar Korra) yang ternyata adalah saudara Tarlock, yang memiliki kemampuan yang sama yakni pengendali air dan pengendali darah. Tadinya, saya berpikir bahwa Amon adalah Asami. Atau minimal seseorang yang dekat dengan Korra biar kisahnya semakin mengejutkan. Ternyata Amon adalah sosok lain.

Jenderal Iroh
Sosok yang paling saya senangi adalah Jenderal Iroh, yang suaranya diisi oleh pengisi suara Zuko. Jenderal Iroh adalah cucu Zuko, putra raja api yang menjadi sahabat Aang. Ia digambarkan tampan, berpakaian selayaknya pangeran Kerajaan Inggris, serta memimpin bala tentara yang menempati kapal induk. Sepintas wajahnya mirip Clark Kent. Ia juga hebat, jago berkelahi, dan menguasai ilmu api hingga membuatnya nyaris terbang.

Saya menikmati beberapa adegan pertempuran dalam film. Saat beberapa pesawat berbaling-baling membom kapal induk, saya teringat film Pearl Harbor. Saat Jenderal Iroh mengendarai pesawat tempur, saya teringat film Avatar (yang disutradarai James Cameroon). Sosok Amon mengingatkan saya pada Darth Vader, musuh paling besar dalam film Star Wars.

Beberapa adegan juga dibuat sangat mengegangkan. Mulai dari Korra yang kemampuannya dipreteli oleh Amon, hingga upaya Mako untuk membantu Korra. Di detik-detik terakhir itu, tiba-tiba saja kemampuan Korra untuk mengendalikan udara langsung muncul. Ia lalu mengalahkan Amon dalam duel, dan terungkaplah siapa Amon.

poster serial ini

Adegan terakhir adalah adegan paling menyentuh. Saat itu, Katara gagal mengembalikan kemampuan Korra. Korra lalu pergi ke tepi tebing, lalu bersedih. Di puncak kesedihannya, muncullah Avatar Aang bersama Avatar Roku, Avatar Kiyoshi, dan avatar lainnya.

“Aang?” tanya Korra.
“Kamu akhirnya terhubung dengan kekuatan spiritualmu sendiri,” jawab Aang
“Kok bisa?”
“Ketika kita menyentuh titik terendah, maka kita sedang membuka gerbang perubahan besar dalam diri kita,” kata Aang.

Daam bahasa Inggris, Aang berkata, “When we hit our lowest point, we are open to the greatest change.” Kalimat ini sedemikian kuat. Saya teringat filsuf Lao Tze yang selalu berkata bahwa keterpurukan adalah awal dari perubahan besar pada diri manusia. Ketika manusia menyentuh titik keterpurukan, maka manusia bisa menemukan titik untuk bangkit, menancapkan tekad kuat, dan melejitkan potensinya untuk sesuatu yang lebih besar, yang sebelumnya tidak kamu bayangkan. Lao Tze sering berkata, "Failure is a great oppurtunity."

Avatar Aang lalu mengembalikan kekuatan Korra sehingga ia sanggup menguasai empat unsur, lalu memunculkan kekuatan avatar. Korra lalu mengembalikan kemampuan mereka yang dipunahkan kekuatannya, yang satu di antaranya adalah Lin Beifong, putri Tof Beifong, sahabat Aang.

Korra

Buat saya, ini serial yang hebat. Bukan saja penuh dengan hikmah dan pelajaran berharga. Tapi juga cerita yang penuh lika-liku serta penuh inspirasi. Pantas saja jika serial ini begitu digandrung warga Amerika. Pantas saja, setiap minggunya, begitu banyak orang yang memberi analisis tentang kelanjutan cerita, kemudian mem-publish-nya di Youtube.

Serial ini telah memicu atensi dan ketertarikan besar bagi warga Amerika. Pantas saja jika serial ini disejajarkan dengan Harry Potter dan Lord of the Ring, sebagai serial yang penuh kejutan, sarat hikmah, sarat filosofi, serta perenungan yang mendalam. Serial ini mengajak saya untuk melihat dunia sebagai kontinuitas yang saling berkesinambungan. Manusia belajar hal-hal baik pada kehidupan sebelumnya, juga belajar untuk tidak selalu mengulangi kesalahan di masa silam.

Saya tak sabar menanti kelanjutan serial ini. Jika musim pertama (atau book 1) berjudul water, maka musim kedua direncanakan berjudul energy. Sebab kemampuan Korra telah melampaui kesemua unsur. Ia telah menjadi pengendali energi.


Athens, Kenangan yang Terus Abadi


Ceritakan padaku tentang kenangan?

Kenangan adalah perangkap kesan dalam benak tentang sesuatu. Kenangan adalah himpunan pengalaman-pengalaman yang membentuk satu bangunan konseptual tentang sesuatu dalam genangan pemikiran kita. Kita menilai sesuatu berdasar kenangan, kita melihat hidup berdasarkan kenangan, dan menilai yang lain berdasar kenangan.

prasasti yang membekukan kenangan
prasasti 2
Kenangan cenderung tetap dan tidak berubah, padahal orang yang hidup dalam kenangan itu terus mengalami gerak. Maka nostalgia menjadi momentum di mana kita saling mempertautkan kenangan, memperbarui kenangan, sekaligus kian memperkaya genangan data seseorang sebagaimana diabadikan dalam benak kita sendiri.

Mungkin ini manusia mengabadikan kenangan dalam prasasti, bangunan, symbol, arca, monumen, nama jalan, serta benda-benda yang memicu ingatan atas sesuatu. Mungkin ini sebab, mengapa warga Athens banyak memerangkap nama seseorang menjadi nama sesuatu demi menjaga ingatan atas seseorang itu.

Di Athens, aku ingin memelihara  banyak kenangan. Tentang persahabatan, pelajaran kehidupan, serta dialog-dialog kecil yang membahagiakan dan abadi dalam ruang berpikir. Aku menikmati pengalaman bersama para sahabat yang luar biasa dan mewarnai pengalamanku.
sahabat 1
sahabat 2
suatu sore
sahabat 3

Kami penuh dengan keterbatasan, penuh dengan kekurangan, tapi tidak membuat kami saling menampik. Kami penuh luka-luka, penuh onak dan duri dalam perjalanan kami, penuh kesedihan dan sesekali nestapa atas dinamika kemanusiaan di antara kami. Tapi itu bukan alasan untuk saling menjauh. Kami akan saling melengkapi kekurangan itu, lalu mentransformasi diri sebagai bangunan yang saling menguatkan.

Kami akan menjadi kaki-kaki yang saling menopang tubuh masing-masing. Kami akan menjadi sayap-sayap yang saling menerbangkan. Kami akan jadi cahaya yang saling menerangi gelap hati masing-masing. Kami akan jadi embun yang membasahi hati para sahabat.


Athens, 25 Juni 2012
Saat berkeliling kota bersama sahabat
yang akan segera meninggalkan kota ini

Pustaka Bugis di Amerika Serikat


kampus Harvard University

NASKAH Bugis tersebar hingga Amerika Serikat (AS). Di tahun 2002, sejarawan Roger Tol menulis tentang Husin bin Ismail, penyalin naskah Bugis di penghujung abad ke-18, yang naskahnya tersimpan di Library of Congress di Washington DC.

Husin menjadi salah satu mata rantai penting yang menjelaskan mengapa naskah Bugis bisa ditemukan di beberapa perpustakaan di Amerika, termasuk Library of Congress dan perpustakaan Harvard University. Naskah-naskah itu menjadi koleksi berharga yang kemudian menjadi bukti betapa jauhnya penjelajahan intelektual bangsa Bugis pada masa silam.

Selama ini, publik beranggapan bahwa pustaka Bugis hanya bisa ditemukan di Belanda. Dahulu, kajian tentang Sulawesi Selatan berpusat pada institusi yang dimiliki Kerajaan Belanda di kota kecil Leiden. Namun, seiring dengan beberapa perkembangan terbaru, kajian dan pustaka Bugis bertebaran di banyak perpustakaan serta kampus-kampus besar di AS. Sejak lima tahun terakhir, AS juga menjadi kiblat baru yang mengoleksi segala khasanah tradisi dan kearifan orang-orang Bugis. AS menjadi magnet bagi kajian kawasan dan kajian kebudayaan.

Memang, pada era antropolog Clifford Geertz, sudah terdapat upaya untuk menggeser kajian keindonesiaan, yang dahulu pekat dengan nuansa Nederlandosentris menjadi pekat dengan aroma Amerikasentris. Kini, upaya itu mulai berbuah. Kajian tentang Bugis mulai subur bertumbuh di AS. Belakangan, beberapa peneliti baru bermunculan dan meramaikan khasanah pemikiran tentang Bugis dan Makassar di tanah Amerika.

di depan perpustakaan di kampus Harvard University

Saya beberapa kali tercengang saat melihat koleksi pustaka beberapa kampus seperti Harvard, Ohio ataupun Cornell. Mereka mengumpulkan segala bentuk kajian Bugis, baik berbentuk buku, film dokumenter, serta catatan etnografis yang kemudian bisa menjadi panduan bagi siapapun untuk memahami Bugis.

Di beberapa kampus ini, saya bisa menemukan hampir semua publikasi tentang Bugis. Mulai dari naskah kuno La Galigo, hingga buku-buku terbitan Ininnawa yang berpusat di Makassar.

Tak hanya itu, saya juga menemukan beberapa majalah kampus yang pernah saya buat di awal tahun 2000. Pada akhirnya, saya berkesimpulan bahwa masyarakat bangsa lain adalah masyarakat yang menghargai segala bentuk catatan dan mengumpulkannya sebagai arsip yang berharga di kemudian hari.

Buat saya, fenomena banyaknya pustaka Bugis di AS ini bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, ini merupakan pertanda adanya gairah intelektual yang amat besar terhadap kebudayaan Bugis dan Makassar. Banyak peneliti asing yang mulai menyadari bahwa kajian kawasan dan kebudayaan Bugis bisa jadi gerbang untuk menjelaskan dinamika yang lebih luas.

Library of Congress

Apalagi, orang-orang Bugis merupakan tipe penjelajah yang kemudian tersebar ke banyak tempat di Nusantara, mendirikan Singapura, dan menjadi kekuatan penting yang menggerakkan Malaysia. Mereka memiliki etos kerja yang tinggi dan kemudian mempengaruhi dinamika sosial di manapun mereka berada.

Kedua, kenyataan ini menunjukkan betapa tidak pedulinya kita pada kajian tentang tradisi dan kebudayaan. Saya selalu menyesalkan mengapa naskah-naskah tentang Bugis mesti ditemukan di tempat lain dan bukan di Makassar ataupun daerah-daerah yang basis etnis Bugis bertebaran? Mengapa harus Belanda ataukah Amerika Serikat?

Di tahun 2009, saya melakukan riset tentang tradisi lisan Bugis di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Pada saat itu, saya mengumpulkan beberapa literature, kemudian mengunjungi beberapa perpustakaan di beberapa kampus. Saat itu, saya menyadari bahwa di tanah asalnya, pustaka Bugis – Makassar ibarat barang langka yang sukar ditemukan.

Jika ditengok perpustakaan di beberapa kampus besar seperti Universitas Hasanuddin (Unhas), maka kenyataannya juga amat memiriskan hati. Betapa tidak, koleksi  tentang Bugis menjadi koleksi paling sedikit dari perpustakaan itu.

Kampus seakan enggan untuk berinvestasi pada upaya-upaya penyelamatan khasanah tradisional. Kampus lebih suka dengan sesuatu yang modern, megah, dan terkesan mentereng. Apalagi, banyak kampus ingin mengejar label level dunia. Apakah ini pertanda bahwa generasi baru Bugis-Makassar sudah tidak peduli dengan karya-karya tentang masyarakatnya sendiri?

Keping Fenomena

Fenomena ini mestinya disikapi dengan sikap penuh keprihatinan. Tiadanya perpustakaan besar di beberapa kampus di Makassar sungguh sebuah tamparan bagi visi untuk menjadi perguruan tinggi level dunia. Idealnya, universitas menjadi institusi yang merawat peradaban, menyelamatkan tradisi, serta merekayasa masa depan. Jika universitas hanya menjadi basis bagi politisi di tingkat kampus, maka bisa dibayangkan peradaban seperti apa yang hendak direncanakan di masa depan.

kampus Harvard University

Padahal, investasi pada aspek pustaka tidaklah seberapa besar jika dibandingkan dengan investasi pada bangunan megah di beberapa kampus. Tidak banyak yang menyadari bahwa pustaka dan perpustakaan merupakan jantung serta ruh bagi kegiatan akademik. Ia juga merupakan ruh dari segala proses kebijakan, serta upaya untuk menyerap inspirasi dari dunia sosial. Pustaka adalah mata air yang mengalirkan sungai pengetahuan yang bersumber dari dinamika manusia dari zaman ke zaman.

Aspek yang juga tak kalah penting adalah tentang para pengarang. Kita jarang berrefleksi secara kritis bahwa di kota ini terdapat ratusan doktor dan ribuan sarjana. Tapi mengapa justru tak bermunculan banyak karya-karya yang kemudian bisa menjadi penejlas atas dinamika sosial masa silam dan masa kini? Mengapa keadaannya amat kontras dengan penghujung abad ke-18, ketika Colliq Puji’e dan Husin bin Ismail yang bisa menulis ulang naskah-naskah yang kemudian melanglang buana hingga ke banyak negara?

Kita tak pernah bertanya dengan kritis, seberapa banyakkah publikasi yang muncul dari tanah Makassar? Atau seberapa banyakkah jumlah pengarang muda yang lahir setiap tahun? Manakah yang lebih banyak antara pengarang dan tim sukses kandidat pemimpin daerah?

Seorang sahabat pernah berkisah bahwa sebenarnya publikasi di Makassar tidak parah-parah amat. Malah, beberapa penerbit di Yogyakarta menuturkan bahwa hampir setiap bulan terdapat buku yang dicetak sebagai buah karya pengarang Makassar. Namun setelah ditelusuri lebih jauh, buku yang dihasilkan adalah buku-buku biografi tentang pejabat, yang dibuat berdasarkan pesanan demi untuk memperkokoh pencitraan tentang sang pejabat.

Pustaka-pustaka ini jelas tidak akan menambah panjang jejak pencapaian intelektualitas di kota ini. Pustaka ini hanya menunjukkan seberapa jauh watak narsis para pemimpin kita yang selalu menginginkan namanya dicatat dalam sejarah, meskipun untuk pencatatan itu, mereka tidak segan mengeluarkan uang dalam jumlah banyak.

Mungkin ini menjadi takdir serta tantangan bagi dunia pustaka dan dunia intelektualitas di Sulsel. Di saat bersamaan, kita mesti menumbuhkan daya-daya kreatif untuk mengelola segala potensi demi menumbuhkan respon kebudayaan yang kuat atas segala tantangan yang dihadapi.

Mungkin, tantangan paling besar adalah bagaimana mengembalikan Sulsel sebagai kiblat utama atas kajian menyangkut Sulsel sendiri. Upaya ini jelas tidak mudah, namun mesti ditempuh dengan dalih penyelamatan masa depan.

Tentu saja, kita tak perlu menunggu bangsa asing untuk mengumpulkan segala catatan tentang diri kita. Mesti ada upaya yang sifatnya terorganisir dan terarah untuk menjaga warisan kebudayaan Bugis menjadi pandangan dunia dan cara memandang kenyataan sosial. Saya

Jika tantangan ini bisa disikapi, kita bisa bernapas lega. Kita bisa berharap banyak  bahwa kelak akan tiba suatu masa di mana siapapun yang ingin mendapatkan pengetahuan tentang Bugis-Makassar, tak perlu jauh-jauh belajar ke Amerika Serikat demi membaca pustaka Bugis. Mereka mesti memijak bumi Sulsel dan menyerap saripati pengetahuan lewat mata air pustaka yang bertebaran di mana-mana. Mungkinkah?

Menu Indonesia di Amerika


kari cumi-cumi yang dimasak Eli hari ini. Hmmm...... Sedap!

BANYAK yang mengira kalau selama di Athens, saya setiap hari mengonsumsi makanan ala Amerika. Banyak juga yang bertanya, apakah tidak bosan makan hamburger atau spaghetti? Terhadap pertanyaan itu, tak henti saya jelaskan bahwa hampir setiap hari saya tetap makan menu ala Indonesia. Kok bisa?

Seringkali saya berpikir mengikuti style Amerika. Namun soal rasa dan kenikmatan, saya tak bisa lepas dari tanah air tercinta. Saya tak bisa lepas dari eksotika bumbu masak serta menu-menu tradisional khas Indonesia, yang telah sedemikian akrab degan lidah sejak pertama melihat dunia. Melalui makanan itu, terdapat kisah, sejarah, serta identitas yang kemudian mewarnai hari-hari. Kita bisa bercerita tentang identitas suatu bangsa melalui makanan.

Kita menyebutnya sebagai kebudayaan. Dalam tafsiran sederhana, kebudayaan berisikan resep-resep yang kemudian menjadi panduan bagi manusia untuk menilai sesuatu. Dalam hal konsep enak dan tidak enak, kebudayaan menjadi kompas yang menentukan rasa dan selera. Bagaimanapun saya mencobanya, tetap saja saya belum menemukan kenikmatan pada menu makanan khas Amerika. Bagaimanakah halnya dengan budaya makan ala Indonesia saat berada di Amerika?

Saya tak bisa lepas dari menu khas Indonesia. Masalahnya adalah restoran dengan menu ala Indonesia amat jarang ditemukan di Amerika. Jika rasa kangen itu sudah menggebu, biasanya saya akan singgah ke restoran Cina atau Thailand demi menemukan rasa khas Indonesia. Setidaknya, ada kesamaan karena makanan utamanya adalah nasi. Sering saya bertanya dalam hati, mengapa warga Thailand bisa melakukan ekspansi kultural dalam hal makanan, sementara kita tak bisa melakukan hal yang sama?

Sayangnya, biaya makanan di restoran jauh lebih mahal ketimbang membeli bahan mentah dan mengolahnya sendiri. Makanya, mau tak mau, suka atau tidak suka, saya mesti belajar bagaimana mengolah dan memasak makanan. Jika di tanah air, saya amat jarang menginjakkan kaki di dapur, maka di sini, saya tak punya pilihan. Saya mesti belajar bagaimana masak-memasak demi memenuhi keinginan dan selera lidah yang sering menuntut rasa masakan khas tanah air.

ikan tilapia yang ditumis dengan bumbu terasi
ikan mackerel (tuna) dengan bumbu tomat

Saya lalu belajar secara otodidak. Sering pula saya belajar pada mahasiswa Indonesia lainnya. Namun sejauh ini, percobaan masak yang saya lakukan lebih sering gagal, daripada berhasil. Dahulu, saya beruntung karena punya roommate sesama mahasiswa Indonesia yang bersedia untuk mencoba makanan eksperimen itu. Tapi sejak roommate-ku balik ke Indonesia, terpaksa, saya melakukan percobaan, lalu menikmatinya sendiri. Gimana rasanya? Hmm… Entahlah.

Jika di tanah air, menu utama adalah nasi, maka demikian pula dengan di sini. Saya suka membeli beras Jasmine khas Thailand di Walmart. Rasanya jauh lebih enak dari jenis beras yang sering dibagikan pada PNS di daerah. Untuk lauk, saya suka berkreasi dengan menu ikan. Maklum saja, saya berasal dari pulau kecil. Keluarga saya banyak yang berprofesi sebagai nelayan. Makanya, ikan menjadi menu wajib yang tak mungkin ditinggalkan. Di Athens, ikan yang tersedia adalah ikan jenis pilapia atau ikan salmon. Saya suka berkreasi dengan dua jenis ikan ini.

Bagaimana dengan bumbunya? Saya membelinya di Asian Market. Biasanya, toko-toko Asia menyediakan semua jenis bumbu serta makanan khas Indonesia. Setiap ke situ, saya juga akan membeli indomie sebanyak-banyaknya. Seorang teman sering menyindir, jauh-jauh ke Amrik hanya untuk makan indomie. Iya sih. Hehehe.

semur cumi
ikan goreng dengan bumbu pesmol

Jika tak banyak bahan, maka saya suka membeli bumbu yang sudah jadi. Tak perlu repot, cukup dicampurkan saja, kemudian menunggu. Setelah matang, maka siap-siap dimakan dengan nasi yang mengepul-ngepul. Saya sering menambah menunya dengan sambal goreng terasi. Hmm… Yummy!

Hari ini, sahabat Eli memasak menu kari cumi-cumi. Saya memperhatikan cara-caranya mengolah cumi menjadi masakan enak. Nampaknya, ia menggunakan resep ala Aceh yang amat nikmat. Asapnya mengepul-ngepul. Saya tak sanggup melihat menu seenak itu. Saya lalu menyendok cumi dan mencobainya. Hmm.. Rasanya agak pedes, namun luar biasa nikmat. Saya memberi point Sembilan, untuk skala 1 – 10. Rasanya hebat!

Mungkin besok, saya mesti mencoba resep ini. Saya akan belajar mengkreasikannya dengan saos tiram. Ada yang berminat untuk mencoba?


Athens, 24 Juni 2012

Pustaka Bugis di Amerika Serikat


Tulisan yang tayang di Tribun Timur, Sabtu (23/2).

Belajar Hikmah di Negeri Paman Sam


DI antara berbagai buku yang ditulis sejarawan Baskara T Wardaya, buku berjudul Chicago Chicago: Cinta, Politik, dan Kemanusiaan di Negeri Paman Sam adalah buku yang paling saya senangi. Buat saya, buku ini sangat humanis, menggambarkan banyak sisi perjalanan manusia, mulai dari seorang terpidana, aktivis hingga pengarang besar Pramoedya Ananta Toer yang memelihara delapan ekor ayam, lalu ditukar satu demi satu dengan kertas, demi lahirnya karya-karya besarnya.

Namun aspek yang paling saya senangi dari buku ini adalah dialog-dialog yang dilakukan Baskara atas semua kenyataan yang disaksikannya. Sebagai pembaca, saya diajak masuk dalam pikian dan pengalamannya, serasa dituntun untuk memahami kenyataan di depan mata, serta dituntun untuk menemukan berlian-berlian inspirasi.

Buku ini memang berisikan percikan pengalaman Romo Baskara selama belajar di Amerika Serikat (AS). Ia melakukan perjalanan, mulai dari Wisconsin, tematnya belajar, lalu ke Chicago, Kansas, Texas, hingga dataran Mexico. Isinya mencakup beberapa perjumpaan yag kemudian menggiring Baskara untuk menggugat ulang konsep barat versus timur, atau tentang betapa pengasihnya Tuhan pada manusia di belahan bumi manapun.

Baskara seolah menunjukkan bahwa kedewasaan dan kearifan adalah buah dari proses belajar dari pengalaman, memperkaya diri dengan refleksi, hingga memanen pengetahuan demi pengetahuan. Baskara hendak membisikkan keping kenyataan bahwa esensi belajar bukanlah sekadar membaca buku atau teks teori. Ia merekomendasikan belajar langsung melalui persentuhan dengan kenyataan.

Buat saya, Baskara telah bertransformasi dari seorang yang datang ke luar negeri demi gelar magister atau doktor berlabel Amerika, menjadi pribadi yang memulung kepingan hikmah demi hikmah. Saya tahu betul, banyak mereka yang ke Amerika hanya demi mengejar titel lalu bekerja di korporasi besar, kemudian menyepelekan orang lain, memandang diri hebat, memelihara kepongahan, dan suka menghinakan yang lain.

kota Chicago

Baskara tidaklah demikian. Ia punya kerendahan hati dan kedewasaan untuk belajar dari apapun dan di manapun. Ruang kuliahnya bukan hanya di Marquette University di Milwaukee, Wisconsin. Ruang kuliahnya adalah sebuah ruang besar bernama semesta, di mana beragam manusia saling berdinamika dan menemukan makna di situ., di mana manusia-manusia saling mengasah diri dan memperkaya khasanah pengetahuan.

Saya menyenangi uraian-uraian sederhana dalam buku ini. Apalagi, gaya tuturnya adalah gaya naratif yang menempatkan penulis sebagai orang pertama. Meskipun ia banyak bercerita pengalamannya sebagai pemeluk iman Katolik, namun saya rasa buku ini memiliki makna-makna yang universal, kearifan yang bisa diserap oleh siapapun. Buku ini menambah deretan kekaguman saya pada Baskara, yang selama ini hanya saya kenali melalui email dan karya-karyanya tentang sejarah.

Semoga Tuhan memanjangkan umurnya agar terus menginspirasi rakyat Indonesia.(*)



Athens, 23 Juni 2012

Mereka yang Berani Hidup


PERJUANGAN paling besar manusia adalah perjuangan untuk menjadi diri sendiri. Sepanjang sejarahnya, manusia berupaya menjadi dirinya sendiri demi menemukan jejak atau titian kehidupan. Ada yang berhasil, namun jauh lebih banyak yang gagal. Mereka yang berhasil adalah mereka yang memiliki mata terang untuk melihat ke mana mereka hendak bergerak.

Mereka yang gagal adalah mereka yang menjadi budak dari sistem sosial, mematut-matut diri sesuai dengan apa yang diinginkan orang lain. Mereka adalah bagian dari massa yang berlarian menuju dunia yang semu, dunia yang seolah-olah. Mereka mengklaim dirinya sedang menuju kesejatian, sementara yang mereka lakukan adalah mengejar fatamorgana. Mereka tidak pernah menjadi dirinya sendiri, tidak pernah menghujamkan refleksi sedalam-dalamnya tentang mana yang substansil dan mana yang cuma artifisial.

Aku mengagumi mereka yang menjadi dirinya sendiri. Aku mengagumi mereka yang tahu hendak menjadi apa serta jalan yang akan ditempuh. Dunia masa depan tidak selalu seindah sinetron yang meninabobokkan manusia. Dunia masa depan adalah dunia yang diimajinasikan hari ini, ditatap dengan segala risiko dan konsekuensinya, dihadapi dengan keberanian Musa ketika menghujamkan tongkatnya untuk membelah lautan.

Aku mengagumi mereka yang berhasil membebaskan dirinya dari sistem sosial. Mereka yang melihat sistem itu sebagai neraka saat memikirkan hal-hal baru. Mereka yang bisa menemukan mata terang untuk melihat di tengah pekatnya kehidupan serta kabut yang membatasi titian perjalanan manusia.

Aku mengagumi mereka, yang digambarkan Chairil Anwar, sebagai mereka yang berani hidup, mereka yang masuk menemui malam, mereka yang berpanas-panas ria demi sebuah tuntutan. Aku mengagumi mereka yang digambarkan dalam puisi Chairil Anwar sebagai berikut:


Pemuda-pemuda yang lincah 
yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan 
bintang-bintangnya kepastian
ada di sisiku 
selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !


Misal SUKARNO Hidup di Zaman Kini



HARI ini, 21 Juni adalah hari meninggalnya Sukarno, bapak bangsa Indonesia. Puluhan tahun silam, ia punya mimpi-mimpi besar tentang Indonesia. Masa mudanya adalah masa yang penuh dengan pergulatan gagasan-gagasan. Ia menyerap inti penting berbagai ideologi. Namun ia tidak terjebak dalam pusaran air ideologi-ideologi besar dunia. Ia membuat sintesa, dialog, atau komunikasi dengan alam pemikiran Indonesia. Maka lahirlah senarai gagasan keindonesiaan.

Zaman Bung Karno adalah zaman di mana semua pemimpin menyusun buah-buah pikirannya dalam karya-karya. Bung Karno menulis opini media massa, naskah drama Sarinah, hingga gagasan tentang Pancasila sebagai ideologi. Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka juga menyusun pemikirannya sendiri-sendiri. Mereka digarami samudera intelektualitas, dibakar oleh api dan gelora nasionalisme, sesuatu yang tidak dimiliki oleh satupun pemimpin di masa kini.

Aku tak hendak terjebak dengan nostalgia. Aku hanya ingin membayangkan sesuatu. Apa gerangan yang ada di pikiran Bung besar itu jika ia masih hidup di masa kini? Adakah ia sedang girang dengan kemerdekaan yang kini seolah hampa makna ketika kemiskinan dan keterbelakangan di mana-mana? Masihkah ia berpikir tentang kemerdekaan sebagai 'jembatan emas' yang membawa bangsa ke arah sesuatu yang lebih baik?



Athens, 21 Juni 2012
Saat mengenang hari wafat Bung Karno

Romantika di Musim Panas


orkestra musim panas

MUSIM panas (summer) resmi bermula. Menurut informasi di beberapa media di Athens, Ohio, hari ini, Rabu (20/6) adalah permulaan musim panas. Sejak beberapa hari ini, matahari bersinar lebih terik dari biasanya. Aku berusaha untuk menghindari keluar rumah di sing hari. Perasaanku, cuacanya lebih panas dari cuaca di tanah air. Entahlah. Mungkin karena aku belum lama melewati musim dingin. Makanya terasa lebih panas.

Semesta selalu punya kisah sendiri-sendiri. Aku yang masih asing di sini sering terkaget-kaget dengan perubahan cuaca. Tapi bagi warga Amerika Serikat (AS), mereka sudah punya agenda sendiri di setiap musim. Mereka punya kebiasaan dan kebudayaan yang berbeda pada setiap musim.

Jika musim dingin identik dengan jaket wol serta pakaian tebal-tebal, maka musim panas identik dengan pakaian serba minim. Aku sudah mulai terbiasa melihat gadis-gadis berseliweran hanya dengan mengenakan celana pendek atau baju serba mini. Di tepi University Commons Apartment, tempatku tinggal, terdapat sebuah kolam renang. Nyaris setiap siang, aku selalu menyaksikan banyak yang berenang dengan pakaian renang. Banyak yang cuma berbaring di sekitar kolam.

Musim panas juga identik dengan olahraga. Banyak orang yang kemudian menghabiskan waktu untuk menekuni aneka olahraga di lapangan. Aku melihat, setiap hari lapangan di dekat apartemen penuh dengan orang-orang yang berolah raga. Arena bike track atau jogging track juga penuh dengan mereka yang berolahraga. Musim panas ibarat pit stop untuk mengasah fisik agar kembali kuat saat musim lainnya.

olahraga di musim panas
hmmm... no comment
makanan gratis untuk semua orang

Mungkin ini yang disebut determinisme lingkungan atas kebudayaan. Lingkungan ‘memaksa’ manusia untuk memberikan respon yang berbeda-beda. Anda tak mungkin memakai jaket di musim panas. Anda bisa tersiksa karenanya. Panasnya bisa membuat anda sangat tidak nyaman. Malah, di sini beredar isu tentang panas yang sanggup membunuh manusia. Beberapa tahun silam, terdapat banyak korban di Athens karena suhu yang demikian panas. Makanya, pihak pemerintah sangat ketat memastikan mesin pendingin dan mesin pemanas bekerja efektif di setiap rumah.

Di Athens, musim panas identik dengan rehat atas kegiatan akademik. Kegiatan akademik berkurang drastis (kecuali bagi yang mengambil summer course). Siswa sekolah dasar atau menengah biasanya pergi ke ajang smmer camp atau perkemahan musim panas. Sementara mahasiswa pergi magang atau bekerja untuk semetara demi mengejar dollar sebagai tabungan untuk musim kuliah. Bagi yang berusia lanjut atau dewasa, musim panas adalah saat berwisata dan mengunjungi negara lain.

para pemain musik
para penonton

Hari ini, aku menemukan kegembiraan baru tentang musim panas. Ternyata musim panas juga identik dengan musik di arena outdoor. Tadi, di dekat Blackburn Templeton ada music orkestra di tengah rumput-rumput hijau. Aku menikmati musik orkestra yang mengalun lembut di sela-sela dedaunan. Aku menikmati musik yang terdengar lirih di sela-sela hawa sejuk pepohonan hijau. Aku menikmati udara musim panas, musik-musik indah, serta suasana kehangatan ketika banyak keluarga duduk di rerumputan, anak-anak bermain riang sambil cekikikan, serta kebahagiaan yang terpancar di mana-mana.

Hmm… Sepertinya ini akan jadi musim panas yang amazing. Sekaligus romantis.



Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...