Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Yang Lucu-Lucu di Kampung Athens (2)

Makan Siang Gratis di Gereja 

Gereja Good Shepherd di kampus Ohio (foto: Rashmi Sharma)

DI kampung Athens, Ohio, Amerika Serikat, harga makanan di restoran terbilang mahal bagi mahasiswa. Apalagi jika hendak dihitung dengan kurs Indonesia. Jangan pernah sekali pun membandingkannya dengan harga makanan di warteg yang banyak tersebar di penjuru tanah air. Sebab harganya serupa bumi dan langit. Makanya, saya terbilang jarang makan di restoran. Solusinya adalah mesti masak sendiri. Namun, ketika kemalasan menghampiri, solusinya adalah segera mencari makanan gratis. Di manakah gerangan? 

Seorang teman memberikan informasi tentang makan siang gratis setiap hari Rabu di Gereja Good Shepherd di kampus Ohio. Gereja itu letaknya tidak jauh dari Alden Library, yang kesohor dengan pustaka tentang Indonesia. Uniknya, teman ini punya daftar lengkap di mana saja ada makanan gratis. Ia mencatat beberapa gereja yang menyediakan makanan gratis di hari berbeda. Ia juga tahu kapan Islamic Center alias Masjid Athens memberikan makanan gratis. Malah, ia juga punya catatan kapan sinagog alias rumah peribadatan orang Yahudi memberikan makanan gratis. 

Jangan kaget, dalam hal makan siang, jangan sekali-sekali membahas masalah ideologi. Ini soal perut Bung! Pernah sekali, saya dan teman itu salat Jumat di Islamic Center alias masjid. Usai salat, dikeluarkanlah makanan berupa sapi panggang ala Arab. Melihatnya, saya langsung tergiur. Pihak pengurus masjid –yang kebanyakan adalah mahasiswa Arab—lalu mengumumkan kalau makan-makan itu adalah demi merayakan tewasnya Moammar Khaddafi, sang pemimpin Libya. Saya langsung tercekat. 

saat makan gratis di masjid

Tentu saja, saya dan teman itu sangat tidak setuju dengan perayaan kematian Khaddafi dengan cara makan-makan. Bagi kami, terlepas dari perbedaan sikap dalam politik, tidak selayaknya memperingati tewasnya saudara sesama Muslim dengan cara makan-makan dan bergembira. Memang, si Khaddafi itu seorang diktator, tapi jangan ikut merayakan tewasnya dia dengan amat gembira. Ambil saja hikmahnya yakni jangan ikut membangun sistem politik seperti Khaddafi. Namun karena saat itu saya dan teman sedang kelaparan, maka kami cuma diam saja. Ngapain protes-protes. Bisa-bisa, kami tidak dikasih makanan gratis. Apalagi asap daging sapi panggang itu mengepul-ngepul. Yah, demi mengatasi rasa lapar, kami manut-manut aja deh. Jadi ingat Mbah Karl Marx yang bilang kalau sebelum bicara ideologi, maka manusia mesti mengatasi rasa lapar dulu. Makanya, kebutuhan material menjadi basic atau landasan dalam setiap struktur masyarakat. 

mereka yang ngasih makan gratis di gereja
makanan ala bule

saat saya dan teman2 menikmati makan siang gratis
jeruk yang dibagi gratis
suasana makan siang gratis di gereja

Nah, hari ini, saya memberanikan diri ke gereja demi makan siang gratis. Seorang teman yang berjilbab jug ikut bersama kami. Ternyata, rombongan pencari makanan gratis bukan hanya kami saja. Saya melihat sejumlah teman asal Cina juga datang ke gereja itu. Mungkin tujuan pemberian makanan siang gratis ini bukan untuk mahasiswa. Sebab saya melihat banyak kaum homeless (kaum tunawisma) yang datang antri. Banyak juga pekerja miskin yang tinggal di kampung Athens ikut-ikutan datang demi makan siang gratis. Meski ditujukan untuk kaum miskin, tetap saja para mahasiswa ikut ngantri demi makan siang. Kayaknya, mahasiswa di Indonesia dan Amrik punya kesamaan dalam hal mencari makan gratis. Hehehe.

Saya dan teman-teman ikut antri di situ. Makanannya adalah makanan ala barat yakni berupa salad, kacang merah serta macaroni, buah-buahan, dan kue-kue. Saya cukup menikmati makanan ini. Tapi seorang sahabat asal Indonesia justru tidak bisa menikmatinya. Ia hanya melihat kami makan bersama, tanpa menyentuh piringnya sendiri. Usut punya usut, ternyata ia ingin makan nasi. Ia juga ingin makan ikan yang ditumis sambal kecap. Saya menggumam, susah juga nih. Udah jelas makan gratisan, mestinya terima aja apa yang dikasih. Eh, si dia malah ngotot dan pengen minta nasi serta ikan tumis sama pihak gereja. Wah kalo udah gini, mending saya kabur aja deh! 


Kami Anak Muda, Bung!

HIDUP yang berkeadilan adalah milik mereka yang muda. Aku tak hendak menyalahkan mereka yang berpanas-panas ria dan saling berkelahi dengan aparat. Mereka yang muda itu punya idealisme, sesuatu yang mulai hilang di kalangan mereka yang tua, atau pada mereka yang muda namun berpikir ala orang tua. Idealisme anak muda itu menjadi bara yang selalu memanaskan ruang berpikir di kepala mereka. Bara itu lalu menyalakan sesuatu dalam dirinya. Lalu bergeraklah mereka. 

polisi bersiap menghadang mahasiswa Makassar (foto: Abbas Sandji)

Dengan tinju kepal yang masih muda itu mereka hendak meninju kekuasaan. Mereka tahu kalau tinju itu kelak akan berdarah dan menyisakan rasa perih. Mereka juga tak sepandai generasi tua, sebab generasi tua itu pernah melewati fase sejarah sebagaimana mereka. Tapi mereka punya semangat yang menjadi hulu ledak gerakan sosial. Mereka hendak menggurat namanya di buku-buku sejarah. Mereka percaya bahwa kebenaran harus disampaikan. Tak peduli apa hasilnya kelak, yang jelas kebenaran harus disuarakan. Keadilan harus disampaikan, meskipun untuk itu, manusia harus bertarung demi menggapainya. Dan anak-anak muda itu memilih untuk menjadi martir. Demi negerinya. 

Aku sangat paham bahwa banyak yang menuduh mereka sedang diperalat. Dalam iklim di mana politik menjadi panglima, politik sering menjadi kambing hitam atas segala situasi. Dahulu, generasi muda seperti Wikana dan Sukarni juga dituduh pemerintah kolonial Belanda telah diperalat oleh tokoh pergerakan Sukarno-Hatta. Dahulu, pemuda Sukarno juga dituduh diperalat oleh generasi Tjokroaminoto. Dahulu Tan Malaka pernah dituduh menghasut massa rakyat. Tapi, tanpa mereka, Indonesia tak pernah lahir sebagai bayi merdeka. Tanpa anak-anak muda itu (yang dituduh telah diperalat oleh pemerintah kolonial Belanda), republik ini hanya menjadi angan-angan kolektif. Tanpa mereka, bangsa ini tak akan mekar di tepi taman bangsa-bangsa.

Maka cuekkan saja tuduhan bahwa kalian sedang diperalat itu. Bangsa ini sedang bergolak dan tidak menyadari seberapa nyaring jeritan rakyatnya. Tak usah peduli dengan kalimat tuduhan dari kelas menengah yang hari-harinya adalah menyusu di putting penguasa negeri ini. Mereka sedang didera kenyamanan. Mereka sedang tak ingin kenyamanannya diganggu. Mereka adalah lapis-lapis kelompok angkuh negeri ini yang melihat persoalan hanya dari balik kaca mobilnya yang gelap. Anak-anak muda yang di jalan itu sedang menyampaikan banyak hal. Mulai dari jeritan anak bangsa, politik yang dipermainkan para pemegang kuasa, hingga pemerintah yang pekak telinganya. 

foto: Abbas Sandji

Di jalan itu, anak-anak muda sedang memendam harapan. Banyak yang menyebut mereka sebagai generasi kurang ajar. Jika mereka benar kurang ajar, bukankah generasi yang melahirkannya jauh lebih kurang ajar dari mereka? Mungkin mereka merusak kantor polisi. Sesekali tak apa. Sebab mereka melakukannya dengan penuh kesadaran bahwa negara ini punya banyak duit untuk sekadar menggantinya. Bahkan pengelola negara ini malah senang dengan rusaknya fasilitas itu. Proyek baru akan muncul. Penguasa tersenyum membayangkan ada lagi duit yang akan ditilep. Dengan tindakan itu, mereka hendak merayakan masa muda yang semuda-mudanya. Mereka hendak merubuhkan tembok kuasa, yang untuk itu akan menelan ongkos yang tak sedikit. 

Maka teruslah mencari cara agar penguasa bebal itu bisa sekadar menoleh dan memahami nasib semua rakyat. Pak sopir tak akan marah jika dalam sehari rezekinya berkurang. Pak sopir akan jauh lebih sedih ketika semua harga-harga naik dan dirinya kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sesekali negeri ini harus dikejutkan biar mata dan pikiran mereka terbuka bahwa ada sesuatu yang salah di negeri ini. Sesekali semua orang harus dibangunkan bahwa dalam beberapa hari mendatang kemiskinan akan kian mencekik semua warga negara.

Tak perlu takut dengan kata-kata media massa yang menuduh kalian telah anarkis atau telah memacetkan ekonomi. Tak usah dengarkan suara para pengusaha-pengusaha yang sekarang menguasai media massa itu. Yang perlu kalian perhatikan adalah jeritan semua orang di facebook dan twitter yang mengabarkan naiknya harga-harga. Di tangan anak-anak muda seperti kalian, kita meletakkan harapan atas negeri ini. Kita menanam niat baik agar kelak negeri ini masih lebih baik dari negeri mereka yang sekarang menjadi generasi tua dan tak mau mendengar itu. Kita akan lebih baik dari generasi tua yang buta sejarah. Biarlah mereka dikutuk oleh sejarah. Jangan pernah takut untuk berteriak, "Kami anak muda, Bung!"



Athens, Ohio, Maret 2012
dari tanah yang menjadi rahim bayi kapitalisme

De Maccasare Zee Rovers, Bajak Laut Makassar

(Ini adalah catatan sahabat E.S Ito tentang dinamika mahasiswa Makassar. 
Sengaja saya muat kembali demi memberikan motivasi bagi mahasiswa Makassar yang sedang bergolak demi menantang rezim)


saat mahasiswa Makassar beraksi
(foto: Masyudi Syachban Firmansyah)

Di Makassar anak muda tidak pernah menjadi tua. Dengan kesadaran penuh mereka mengerti bahwa orde ketertiban hanyalah kerangkeng kelas yang memenjarakan anak-anak muda. Mereka senantiasa bergemuruh, penuh semangat dan tiada henti memaki kekuasaan. Di Makassar, kampus-kampus masih milik anak muda berlapis kelas, beragam latar belakang dan berjenis-jenis manusianya. Itu sebabnya energi mereka terpelihara dengan baik. 

Terkadang mereka melakukan latihan layaknya pasukan terlatih, dengan batu dan parang saling baku hantam sesamanya. Tidak usah panik, inilah anak muda. Tanpa kelahi, mana mungkin palu mereka terlatih merobohkan pintu kekuasaan. Dengan kelahi, anak-anak muda itu telah menjadi generasi bunga dengan cara mereka sendiri. Sebab mereka percaya, kesantunan, senyuman, adat istiadat jongkok kemayu adalah feodalisme terselubung ala seberang pulau sana. Di kaki Dewi Celebes sana, mereka menolak untuk tertib. Sebab ketertiban hanyalah senda gurau penguasa mengatasi kepanikan. 

Di Jakarta, jalanan bukan lagi milik anak muda apalagi mahasiswa. Kampus-kampus beraneka warna jaket mereka telah terhubung baik dengan industri televisi. Organisasi mahasiswa masih mengumpulkan massa, tetapi mereka tidak perlu lagi menyewa bus kota. Mereka masih mengenakan jaket almamater tetapi tidak lagi menantang teriknya mentari. Mahasiswa-mahasiswa Jakarta magang di televisi, menjadi massa bodoh yang senantiasa bergantian menjadi audiens talkshow televisi. 

foto: Abbas Sandji

Di kampus UI, yang jumlah mobil mahasiswanya lebih banyak dibanding total mahasiswa miskin yang kuliah, keseragaman menguntungkan penguasa. Bagi anak-anak mami itu, gerakan sosial adalan ancaman untuk kemapanan rutinitas mereka. Bocah-bocah yang tidak pernah beranjak dewasa itu itu dimanja oleh kampus. Mereka tidak perlu berdiskusi macam-macam, cukup main futsal saja di waktu senggang. Sebab di setiap fakultas tersedia lapangan futsal yang mungkin jadi mimpi bagi mahasiswa di kampus-kampus luar daerah. Beginilah cara kampus melayani anak-anak mami, dengan cara memaksa mereka tetap menjadi bocah-bocah mapan yang takut dengan jalanan. 

Hari ini 9 Desember, karnaval besar di Jakarta. Di panggung jalanan, tidak tampak lagi anak-anak muda dengan jaket almamater. Orang-orang mengatakan, inilah kebangkitan kelas menengah melawan korupsi. Beginilah cara damai orang-orang muda menyampaikan sikap dan pendapat. Di tengah kerumunan massa, aktor-aktor kelas menengah ini dan tentu saja minus mahasiswa Jakarta di panggungnya, membacakan deklarasi. Mahasiswa Jakarta terbiasa menjadi penonton sebab mereka biasa dibayar oleh televisi. Tidak punya inisiatif dalam aksi, sebab mereka percaya belum saatnya menjadi bagian dari kelas menengah tercerahkan. 

Sementara aktor-aktor kelas menengah tidak bisa lagi dibilang muda, terlalu banyak rekam jejak yang perlu dipertanyakan, berkeluarga sehingga tidak berani ambil risiko apa-apa. Beginilah karnaval jalanan Jakarta, hanya pertunjukan televisi penuh sopan santun, tanpa gairah dimana peserta aksi sama takutnya dengan penguasa. Di Jakarta, penguasa dan penggugat dikalahkan oleh ketakutan mereka sendiri. Tetapi di Makassar dimana istilah kelas menengah dan agen perubahan hanya milik mahasiswa; mereka menolak untuk takut. Di sana demonstrasi tidak pernah berubah menjadi karnaval. Tangan tidak boleh berhenti terkepal. Dan bila aparat keamanan telah menyiapkan tameng dan tongkat, itu artinya jangan pernah bermimpi untuk pulang di siang bolong. Mudah menuding aksi mereka rusuh, tidak terkendali, anarkis dan segala macam tudingan lainnya. 

Tetapi bukankah memang demikian tabiat anak muda, sedikit konyol tetapi penuh gairah. Dalam sistem sosial politik dimana semuanya terpusat di Jakarta maka daerah-daerah bahkan sebesar Makassar tidak pernah diisi oleh elit-elit yang diakui secara nasional. Semua elit berkumpul di Jakarta, mulai dari elit politik hingga pelacur kelas tinggi. Itu sebabnya panggung jalanan mereka tidak memberi ruang untuk orang-orang tua yang berusaha sok muda. Jalanan milik mahasiswa dan anak muda. Jaket-jaket almamater mereka tidak pernah wangi untuk acara televisi, mereka kumal dibakar terik mentari dan debu jalanan. 

foto: Abbas Sandji

Maka bila di Makassar sana, anak-anak muda masih berkelahi melawan ketertiban sambil sesekali memungut batu sebagai senjata; dengan semua kekonyolan mereka itulah anak muda –semuda-mudanya mereka-. De Maccasare Zee Rovers, bajak laut Makassar, ungkapan ketakutan VOC pada Karaeng Galesong lebih dari 3 Abad yang lampau masih menjadi ketakutan penguasa pada masa sekarang. Di kampus-kampus Makassar sebagaimana pernah saya datangi, ragam kelas sosial latar belakang mahasiswa masih terjaga. Kampus masih menjadi tempat yang nyaman untuk menyampaikan gagasan dan bukan bermain futsal. 

Nyali mereka senantiasa terpelihara sebab mereka tahu, jauh dari pusat kekuasaan tidak satu kekuatan pun akan melindungi mereka. Di antara kegelisahan kita melihat mahasiswa-mahasiswa wangi dan centil yang berdandan menor mengendarai mobil orang tuanya, ada asa di timur sana. Jakarta mungkin saja tetap akan menjadi pusat kekuasaan tetapi rasa-rasanya tidak akan lagi pernah menjadi pusat perlawanan mahasiswa. Matahari terbit dari timur, perlawanan anak muda memberi cahaya dari ufuk sana. Makassar adalah kiblat gerakan mahasiswa Indonesia. Selamat tinggal mahasiswa Jakarta.

Yang Lucu-Lucu di Kampung Athens

Antara Tuksedo Bertopeng, Pangeran, dan Jaket The Beatles

selamat ultah!
HIDUP dengan beban akademik yang tinggi, tidak selalu membuat warga Indonesia di kampung Athens, Ohio, kehilangan hal-hal kecil yang lucu dan membahagiakan. Di sini, kelucuan itu menjadi sentuhan warna pada kanvas pengalaman kami. Lewat kelucuan –dan juga keisengan-- itulah kami membangun rumah solidaritas, rumah kepercayaan, dan jalan keluar dari situasi sumpek karena beban akademik dan hal lain. Salah satu bentuk keisengan yang kami lakukan adalah memberi kejutan pada sahabat yang sedang ulang tahun. 

Ulang tahun sering identik dengan kejutan. Di Tanah Air, ada seribu cara untuk mengerjai teman saat momen ulang tahun. Kejutan itu biasanya diakhiri dengan tawa besama serta ucapan selamat ultah yang deras mengalir bak anak sungai. Nah, dalam beberapa ultah terakhir, kami punya keisengan baru yakni menghadirkan sosok yang menjadi idola atau sosok terganteng maupun tercantik yang sering dibahas. 

Meski jauh tinggal di Ohio, saya dan beberapa sahabat di sini kadang-kadang membicarakan sosok ideal dalam persepsi kami. Seorang sahabat mengidolakan cewek Jerman. Kami sering menemaninya berinteraksi dengan cewek Jerman itu. Sungguh menyenangkan melihatnya tersipu-sipu, dengan pipi yang bersemu kemerahan, ketika cewek Jerman itu memberikan kecupan di pipi saat hendak pisah ke satu tempat. Bagi sang cewek, itu hal biasa, sebab sudah jadi budayanya. Tapi bagi sang cowok, pipinya langsung bersemu merah kayak kepiting rebus. 

Lain lagi dengan seorang sahabat yang suka membahas cewek Jepang. Tapi ia agak malu untuk mendekat, bahkan untuk sekadar memotret gadis itu. Berbekal sedikit kenekadan dan keberaniaan saat menjadi jurnalis, saya sering menawarkan diri. Biasanya, saat saya menenteng kamera jenis Nikon dengan lagak bak fotografer professional, sang sahabat lalu berbisik, “Mas, coba potret si Jepang itu. Ntar di-upload di facebook, dan jangan lupa untuk nge-tag saya.” Dalam hati, saya berkata, ini sih namanya lempar batu sembunyi tangan. Demi kesukaan sang sahabat, saya selalu menyanggupinya. 

Kembali ke momen ulang tahun. Seorang sahabat perempuan hendak merayakan ulang tahun. Kebetulan pula, sahabat ini masih lajang. Sebelum hari H, kami sudah berembug untuk memberikan kejutan. Nah, kejutan yang direncanakan adalah menemukan pria yang dianggapnya terganteng untuk mengantarkan kue ulang tahun sambil bernyanyi lagu “Happy Birthday.” 

Setelah berdiskusi selama beberapa saat, kami semua sama-sama sepakat kalau pria terganteng di mata sahabat ini adalah seorang pria asal Iran, yang merupakan mahasiswa program doctor. Kebetulan pula, kami semua sangat dekat dengan pria ini sebab sering keluar dan jalan sama-sama. Gayung bersambut. Saat kami mengutaraan niat kami untuk meminta pria itu mengantarkan kue dengan lilin di atasnya, ia sangat antusias. Satu misi terselesaikan. 

opsi pertama: dandanan ala tuksedo bertopeng dalam serial Sailor Moon

Selanjutnya adalah diskusi tentang pakaian yang dikenakan sang pria. Seorang sahabat menawarkan tiga opsi. Pertama, sang pria mengenakan baju tuksedo serta kacamata hitam ala tokoh Tuxedo Bertopeng dalam serial Sailor Moon. Nantinya, pria itu datang dengan ditemani seorang sahabat yang berperan sebagai pelayan. Tak perlu susah mencari sang pelayan, sebab semua teman langsung menunjuk seorang sahabat yang lama tinggal sebagai di kampung Bajo. Sahabat ini tertawa terbahak-bahak dan menjawab, “Saya siap mengenakan sarung biar dikira pelayan. Hehehe” 

Pilihan kedua adalah si pria Iran ini mengenakan baju ala pangeran di zaman Majapahit, dengan mahkota terbuat dari emas. Nantinya, akan ada dua sahabat yang mengiringi di kiri dan kanan dengan mengenakan pakaian khas berupa sarung batik dan tidak mengenakan baju. Nantinya, badan sang pengiring ini diolesi minyak goreng biar ototnya bertonjolan (Jika tak ada otot, tulang-belulang yang akan bertonjolan. Hiks…). Trus, pengiring ini memegang gada dan di bahunya ada gelang tersampir. Tak perlu susah mencari pengiring. Sebab kami semua langsung menunjuk sahabat dengan kriteria punya tubuh kekar seperti Ade Rai. 

opsi kedua: pengiring memegang gada dan tak berbaju

Pilihan ketiga, sang pria Iran ini mengenakan baju berupa jaket khas The Beatles sebagaimana sering dikenakannya. Kebetulan, teman yang akan ultah ini pernah berkata kalau kegantengan pria itu akan memancar kala mengenakan jaket ala The Beatles. Rencananya, pria ini akan datang lalu mengetuk pintu apartemen sang perempuan, sambil membawa kue yang di atasnya terdapat lilin bertuliskan angka kelahiran sang perempuan. Dengan lagak khas seorang aktor, ia akan mengucapkan lagu “Happy Birthday” lalu memintanya tiup lilin, kemudian bercerita kalau dirinya tiba-tiba saja mengingat momen penting ini. 

Menurut rencana, sang perempuan akan jatuh hati dan menganggap ini sebagai ultah paling romantis. Rencananya, si ganteng akan pura-pura heran dan bertanya, “Mana yang lain? Kayaknya mereka tidak peduli dengan ultahmu.” Tujuannya adalah biar sang perempuan tidak merasa dianggap penting. Biar sang perempuan merasa dicuekin, lalu marah dan mengumpat di hadapan pria ganteng itu. Lalu ending dari semuanya, kami yang bersembunyi di balik pintu akan masuk dan berteriak “Happy Birthday!” Kami akan membawa pizza dan selanjutnya makan bersama. Hmm.. Ide yang kreatif dan semuanya langsung setuju. 

opsi ketiga: jaket ala The Beatles

Semalam, opsi ketiga inilah yang dipilih, sebab tak perlu mencari tuksedo. Juga tak perlu mencari pengiring dengan badan sekekar Ade Rai. Kami hanya butuh meyakinkan sang pria ganteng agar bersedia memuluskan skenario yang kami susun. Semalam, skenario itu dijalankan. Kami sembunyi di balik gang apartemen sang sahabat. Si ganteng lalu mengetuk pintu sambil mengucapkan “Happy Birthday!” Sayangnya, sang sahabat sedang salat malam. Terpaksa si ganteng menunggu sendirian. 

Tadinya, kami hendak meninggalkan si ganteng itu biar kejutannya sempurna. Tapi niat itu urung. Menurut laporan intelijen, seusai salat, sang sahabat lalu keluar dan terkejut menemui si ganteng itu. Ia mau saja meniup lilin sambil tersenyum-senyum, Tadinya kami berharap intelijen akan melaporkan kalau sahabat ini akan terkejut lalu terharu dan berkata, “Romantis bangetz!” Ternyata, ia malah berteriak dengan bahasa Indonesia logat Sumatra, “Siapa sih yang mengirim manusia aneh ini ke sini? Apa gak ada kerjaan lain? Apa lagi kurang makan di rumah sampai-sampai punya ide-ide aneh kayak mendatangin si manusia ini. Sembunyi di mana kalian? 



Athens, 26 Maret 2012

NB

Berikut foto-foto rangkaian kejadian itu secara lengkap, sebagaimana dipotret Rashmi Sharma, sang roommate. Silakan menyimak!



saat datang dengan kue, serta mengenakan jaket ala The Beatles
terkejut
tiup lilin
How are u? 
Surprise!
nyalakan lagi lilinnya!
saatnya makan bersama!



Kuliah Inspiratif Sejarawan William Frederick

tiga tokoh pembuat sejarah Indonesia: Sjahrir, Sukarno (tengah), dan Hatta

SEJARAH itu laksana pohon besar yang tumbuh di atas cabang dan dahan fakta-fakta. Sejarah adalah kuncup bunga yang mekar setelah mendapatkan nutrisi dari kejadian dan peristiwa, dibesarkan dengan matahari filsafat pengetahuan, dan tumbuh berkat sintesis gagasan-gagasan. Lewat sejarah, manusia menemukan dirinya, menyerap saripati pengetahuan, serta menangkap makna yang bertebaran di sekujur tubuh peradaban manusia dari masa ke masa. 

Saya menggoreskan paragraf di atas usai menghadiri kuliah perdana sejarawan William Frederick di Bentley Hall Amex, kampus Ohio University. Saya merasa amat sangat beruntung bisa menghadiri kelas yang diasuh pria sepuh yang kerap disapa Bill. Saya tahu bahwa Bill amat kondang di jagad penulisan sejarah tanah air. Saya bangga bisa berada di kelas yang diasuhnya, mendengarnya merangkai fakta-fakta sejarah, sekaligus mengajak tamasya ke lorong-lorong sejarah demi mengorek jantung pengetahuan masa silam untuk menumbuhkan masa kini dan masa depan. Untuk soal ini, Bill adalah salah satu begawan yang meletakkan landasan sejarah nasional Indonesia. 

buku karya Bill Frederick sebagaimana dikoleksi almarhum ayah saya

Saya juga diliputi kebahagiaan saat menemui sosok yang bukunya telah lama memenuhi rak buku almarhum ayah saya di kampung kami, Pulau Buton yang terpencil itu. Ketika masih belajar di sekolah dasar (SD), ayah saya rajin memesan buku lewat pos. Ayah saya, seorang guru sejarah di sekolah menengah di kampung kami, adalah seorang yang melahap berbagai jenis buku sejarah dan fiksi. Ia membaca banyak karya sastra, puisi, dan filsafat, dengan intensitas yang tak bisa saya tandingi di masa kini. Meskipun cuma seorang guru biasa, ia mengoleksi banyak buku penting dalam sejarah nasional, salah satunya adalah buku Pemahaman Sejarah Indonesia: Sebelum dan Sesudah Revolusi karya William Frederick. 

Saya masih ingat sampul buku ini yakni berwarna merah. Bahkan, hingga kini buku itu masih ada di rumah saya di kampung. Saya masih ingat betul bahwa ayah rajin mengutip komentar Frederick pada bagian awal buku yakni sejarah berasal dari bahasa Arab yakni dari kata syajaratun yang artinya pohon. Kata ayah, mungkin dikutip dari buku karya Bill Frederick, kata pohon bermakna bahwa sejarah tersusun dari cabang dan dahan pengetahuan serta kejadian yang terserak-serak di masa silam. 

Bill Frederick
Apa yang disebut dengan masa kini tidak lebih dari himpunan pengetahuan serta pengalaman, ataupun kejadian yang pernah terjadi di masa silam. “Tak hanya peristiwa dan fakta yang mengokohkan pohon sejarah. Tapi juga tafsir dan juga dinamika ingatan manusia atas peristiwa itu,” kata almarhum ayah pada suatu ketika. 

Hari ini, Senin 26 maret 2012, saya duduk di kelas yang diasuh Bill. Ingatan tentang almarhum ayah kembali memenuhi ruang-ruang berpikir saya. Sosok Bill adalah sosok yang jangkung. Ia kelihatan sudah sepuh. Rambutnya memutih. Konon, kata seroang sahabat, ia sudah pensiun dari Ohio Univ (OU), namun sesekali masih mengajar. Pada spring quarter ini, ia mengajar untuk dua subyek kajian yakni Sejarah Asia Tenggara, dan Memahami Sejarah Melalui Biografi. Saya sudah mendaftar untuk dua mata kuliah tersebut. 

Hari ini, saya duduk di kelas Sejarah Asia Tenggara. Ia memulai perkuliahan dengan menjelaskan aturan main di kelas. Saya tersentak ketika ia tiba-tiba saja mengatakan bahwa dirinya tidak menuntut seorang mahasiswa untuk menghafal setiap peristiwa. “Sejarah selalu terkait dengan opini dan subyektifitas. Kemudian ada judge yang kita berikan atas dinamika fakta dan opini tersebut. Saya menginginkan agar kalian membangun satu mata rantai sintesis antara bacaan dan sekaligus opini,” katanya. 

Lebih tersentak lagi saat ia menjelaskan beberapa buku yang wajib dibaca. Tak semuanya buku sejarah yang seringkali ketat dnegan data dan angka. Ia menawarkan buku puisi epik Vietnam berjudul The Tale of Kieu yang ditulis Nguyen Du tahun 1766. Selanjutnya, ia merekomendasikan beberapa novel yakni Burmuse Days karya George Orwell yang ditulis tahun 1934, lalu buku Not Out of Hate karya Ma Ma Lay (yang diedit oleh Bill sendiri tahun 1991). Dan terakhir, sekaligus yang paling saya senangi adalah This Earth of Mankind atau terjemahan dari Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, yang disebut Bill sebagai pengarang Indonesia paling hebat sepanjang sejarah. 

Saya membayangkan betapa nikmatnya kuliah sejarah yang dikisahkan dengan cita rasa novel dan puisi. Pada akhirnya, sejarah bukanlah sesuatu yang ketat memperdebatkan sumber dan pendekatan atau kesahihan informasi, tapi sejarah menjelma sebagai genangan perasaan serta cara-cara manusia memandang kejadian pada suatu masa, cara-cara manusia meresapi makna kejadian, memberikan sentuhan rasa dan emosi, sekaligus menjadi rekaman perjalanan tentang ikhtiar manusia untuk mengukir sesuatu di tebing terjal bernama sejarah.(*) 


Malaikat-Malaikat Kota Boston

BEBERAPA tahun silam, antropolog kawakan Universitas Hasanuddin (Unhas) pernah mengatakan bahwa seorang sahabat ibarat malaikat yang kelak akan membantu dirimu. Sekarang, kalimat itu membekas benar dalam diri saya. Saya baru saja menjalani tur atau perjalanan mengunjungi beberapa kota. Di satu kota, saya menemukan betapa banyak sahabat yang membantu, berbagi suka dan duka, serta tak pernah lelah mengulurkan tangan. Merekalah manusia terbaik yang pernah saya temui. 

bersama rekan perjalanan Iqra Anugrah dan Elizarni
saat berpose di Natural History, New York

Berkunjung ke Waltham, Boston, saya serasa berkunjung ke kota kecil Athens. Di sini, saya bertemu banyak sahabat dekat yang selalu membuat saya merindukan kampung halaman. Saya menikmati saat-saat bersama teman seperjuangan saat belajar bahasa di Jakarta, juga beberapa sahabat yang membantu saya dan teman-teman untuk mengeksplorasi Waltham. Setiap kali mengenang para sahabat ini, saya kembali terngiang ucapan Mattulada bahwa para sahabat adalah barisan malaikat yang kelak akan menerbangkan dirimu ke langit-langit impian. Itu yang saya temukan pada kawan-kawan di Boston. 

Mungkin, ada sejumlah asumsi filosofis di balik makna kalimat tersebut. Saya melihatnya sebagai bagian dari hukum alam. Ketika kamu berbuat kebaikan, maka selalu akan ada kebaikan yang mengalir dan akan menghampiri dirimu. Saya teringat kata seorang teman yang merupakan pedagang di Tanah Bugis. Ia tak henti-hentinya mengeluarkan duit demi membantu sesama. Saat saya tanya mengapa ia melakukan itu, ia lalu menjawab singkat, “Kelak ketika saya kesusahan, maka akan selalu ada jalan dari siapapun untuk membantu saya.” 

Mungkin jalan yang dimaksud itu adalah pertolongan sahabat. Tapi, dengan tulusnya ia berkata, tidak selalu sahabat yang membantu. Bisa jadi, pertolongan itu datang dari seseorang yang justru sama sekali tidak kita kenal. Sahabat itu mengemukakan kalimat inspiratif. Bahwa ketika dirimu berbuat kebaikan, maka semesta akan mencatat kebaikan tersebut dan membalasnya dengan cara yang amat ajaib, yang seringkali tidak diduga. 

bersama Siti Nurlaili Djenaan di kampus Brandeis University, Boston

Demikian pula sebaliknya, ketika kamu membenci atau sedang menghina seseorang, maka semesta juga akan memberikan balasan dengan cara yang amat tak diduga. Inilah hukum alam yang tak tercatat, namun terus berdenyut di jantung kehidupan kita semua. Pada dasarnya, ujaran-ujaran kebaikan itu adalah bagian dari nilai-nilai yang tumbuh di masyarakat. Sewaktu kecil, saya sering diajarkan bahwa memiliki sahabat seribu orang, amatlah sedikit. 

Sementara memiliki musuh satu orang, amatlah banyak. Namun, saya sadar benar, betapa sulitnya memiliki sahabat seribu ornag tersebut. Betapa sulitnya membangun persahabatan dan keakraban lalu menjelmakannya sebagai sesuatu yang abadi. Betapa sulitnya membangun benang merah saling pengertian, lalu menjaganya sebagaimana menjaga porselen hingga terus abadi. 

sahabat di Waltham sedang latihan nari sama.
Dari kiri: Irfan Amalee, Zainal Abidin, Siti Nurlaili Djenaan, dan Harli Abdul Muin

Hari ini, saya merenungi betapa baiknya kawan-kawan di Boston. Mulai dari Endri yang meyediakan tempat bermalam, Zainal yang rajin mengantar ke manapun, Lily, Harli, Agus dan Irfan yang ikut menemani saat hendak menghabiskan waktu di tepi kampus Brandeis University. Juga terimakasih tak terhingga buat rekan seperjalanan Elizarni yang membantu saya untuk menelusuri padang ilalang kota Boston, menemani saya menelusuri pelosok kota, berbagi ceria dan nikmat di perjalanan, berbagi bahagia, serta berbagi ruang-ruang dalam hati masing-masing untuk saling belajar, menerima kekurangan, serta hasrat untuk bertualang sampai batas terjauh di persada kehidupan ini. Terimakasih para sahabat! 


Athens, 25 Maret 2012

Representasi Indonesia di New York

DALAM ruang persepsi masyarakat Amerika Serikat (AS), Indonesia adalah bagian dari kepulauan Pasifik. Secara geologis dan geografis, mungkin demikian. Tapi dalam hal kebudayaan, saya rasa tidak demikian. Indonesia memiliki karakteristik budaya yang berbeda dengan mereka yang berumah di Kepualauan Pasifik. Indonesia adalah rumah budaya yang merupakan persilangan berbagai tradisi dan kebudayaan yang dalam tuturan Denys Lombard disebut Le Carrefour Javanais atau Nusa Jawa, Silang Budaya. 

Tapi di New York, sebagaimana yang saya saksikan di Museum of Natural History, Indonesia adalah bagian dari Kepulauan Pasifik. Indonesia disetarakan dengan gugusan kepualauan yang membentang di Kepualauan Pasifik. Padahal, jika ditelaah dengan seksama, hanya bagian-bagian tertentu saja dari Indonesia yang merupakan bagian Pasifik. Lainnya tidak demikian. 

Indonesia bagian dari Pasifik? 
penduduk Pasifik

Inilah problem representasi. Seringkali kita direpresentasikan sebagaimana cara pandang barat terhadap timur. Ini juga hanya satu aspek. Jika ditelaah lagi, apa yang disebut sebagai kebudayaan Indonesia seringkali hanya diwakili kebudayaan Jawa dan Bali. Pada titik ini, saya bisa paham. Sebab jumlah suku bangsa di Indonesia amat banyak. Kita sering mendengar ungkapan adanya lebih dari 400 suku bangsa. Padahal, catatan Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat sekitar 1.128 suku bangsa. 

diorama ritual di Bali
wayang kulit 
wayang golek
topeng
kain

Inilah problem representasi. Apa yang disebut kebudayaan seringkali mengalami pendefinisian sesuai dengan konteks serta kultur sang penafsir. Bagi saya ini menunjukkan dinamika penafsiran yang banyak berkiblat ke barat, penafsiran yang hanya melihat Indonesia secara simplistis. Padahal, jika saya ditanya, apakah definisi dan representasi Indonesia, saya pasti akan menjawab, "Indonesia adalah negeri dengan tingkat keragaman paling tinggi di dunia."


New York,  19 Maret 2012

Melihat Kuasa di White House

White House atau Gedung Putih, kediaman para presiden amerika serikat (AS)

PARA pemimpin adalah serupa seorang peragawati. Hampir setiap saat menjadi perhatian banyak orang. Apapun yang dilakukan, apapun yang dipikirkan, bahkan kediaman sekalipun bisa menjadi tontonan banyak orang. Sering saya tidak memahami mengapa kediaman seorng kepala negaran seperti Gedung Putih (white house) justru menjadi tujuan para wisatawan. 

Mungkin, orang-orang hendak meresapi sejarah di negeri yang menjadi super power ini. Ataukah orang-orang datang untuk bertanya inikah negeri yang menancapkan kuku kuasa dan menyebarkan tentakel bisnis ke seluruh belahan dunia? 

Saya berkunjung ke Gedung Putih dengan membawa pertanyaan-pertanyaan itu. Penjagaannya cukup ketat. Di mana-mana saya melihat polisi berseragam yang mengamati pengunjung dengan seksama. Bahkan di atap gedung, saya bisa melihat para penjaga berseragam. Pada jam tertentu, mereka sangat tegas meminta semua orang untuk segera meninggalkan tempat itu. Mungkin tempat ini adalah simbol Amerika Serikat (AS), makanya dijaga dengan ketat. Saya membayangkan, apapun kejadian di tempat ini, maka akan membawa dampak bagi dunia. 

depan White House

Di sinikah semua keputusan penting menyangut dunia dibahas? Mungkin. Di luar aspek politik, gedung ini menyimpan catatan sejarah. Berlokasi di 1600 Pennsylvania Avenue NW di Washington DC, gedung yang didesain arsitek kelahiran Irlandia bernama James Hoban ini dibangun pada tahun 1792 dan 1800. Konon, bangunan ini dicat putih dengan gaya neo-klasik. Konon pula, beberapa Presiden Amerika Serikat (AS) telah melakukan penambahan interior di gedung bersejarah ini. Sayang sekali, karena saya hanya sampai di pagar depan, tanpa berkesempatan melongok langsung ke dalam bangunan ini. 

Saat berkunjung ke situ, saya melihat sebuah tenda dari seorang demonstran yang berdiri tepat di depan pagar Gedung Putih. Seseorang memasang poster anti-nuklir serta desakan agar Amerika melarang semua praktik senjata nuklir di banyak negara. Demonstran itu menulis, "Ban all nuclear weapons or have a nice doomsday." Ia juga menulis, “Live by the bomb, die by the bomb.” 

demonstrasi anti-nuklir 
tenda demonstran
saah satu poster

Pengalaman di tanah air mengajarkan bahwa setiap kali ada demonstrasi, maka selalu saja ada diskursus atau wacana yang sedang bekerja di situ. Saya sempat berbincang dengan sang demonstran. Ia melihat negerinya sebagai penyelamat nuklir. Ia tidak tahu apa yang dilakukan negerinya sendiri ketika membom banyak tempat di belahan dunia lain. Tapi inilah kekuatan diskursus atau wacana. Rakyat Amerika tidak banyak tahu apa yang sedang terjadi di negeri lain. Mereka hanya tahu tentang negerinya yang perkasa dan sesekali menjadi ‘polisi dunia.’ 

Saya tak begitu paham tentang politik. Tujuan saya ke tempat itu adalah untuk berkunjung sebagaimana turis lainnya, lalu berpose, kemudian meninggalkan tempat tersebut. Sempat singgah diskusi dengan turis Jepang, setelah itu saya lalu beranjak. Bersama para sahabat, saya lalu singgah menyaksikan sakura yang bersemi di Washington Monument. Kelak, saya akan menceritakannya pada kesempatan lain.(*)
turis Jepang


Seribu Mitos di Kampus Harvard University

ENTAH apa gerangan yang dirasakan patung John Harvard tersebut. Hampir setiap hari, manusia dari berbagai penjuru negara datang ke dekat patung tersebut, lalu menyentuh sepatunya. Mereka datang karena mitos bahwa siapapun yang menyentuh sepatu tersebut, maka telah memiliki peluang sebanyak 51 persen untuk diterima di kampus paling bergengsi di dunia. 

mereka yang menyentuh sepatu John Harvard dan berpose

Patung itu menjadi ikon dari Harvard University, yang merupakan universitas paling bergengsi di dunia. Kampus ini selalu berada di posisi teratas dalam daftar peringkat perguruan tinggi terbaik. Kampus ini ibarat magnet yang kemudian membuat banyak orang untuk selalu datang, memelihara impian kelak akan kuliah di kampus ini, sembari membayangkan betapa cerahnya masa depan. 

Maka ribuan orang yang datang menyentuh sepatu itu adalah mereka yang didorong oleh hasrat untuk kelak bisa menjadi bagian dari sejarah hebat kampus tertua, yang didirikan sejak tahun 1636 tersebut. Mereka yang menyentuh sepatu adalah mereka yang terbius oleh ribuan mitos atau kisah tentang para manusia hebat sekaligus manusia kaya yang punya kesempatan untuk belajar di kampus semegah dan setenar itu. 

John Harvard
salah satu gedung kuliah
salah satu gerbang kampus Harvard University

Kemarin, saya mengunjungi kampus yang terletak di Cambridge, Boston, Massachusets. Saya pun ikut menyentuh sepatu John Harvard. Bukan untuk ikut-ikutan menganyam mimpi kuliah di tempat itu, namun hanya untuk sekadar mengetahui bagaimanakah perasaan mereka yang berharap bisa diterima di tempat itu. Menjadi mahasiswa Harvard bukan hanya mensyaratkan kecerdasan, namun juga kemampuan finansial yang memadai. 

Namun, jangan-jangan ini hanya mitos belaka. Ketika kita membahas mitos, maka kita sedang membahas bagaimana sesuatu yang tampak biasa, namun dimegah-megahkan sedemikian rupa sehingga batas antara benar dan tak benar itu menjadi kabur. Kita tak banyak tahu apa yang sedang terjadi di kampus megah itu. Kita hanya melihat capaian kuantitatif yang seringkali membuat kita silau dan terkagum-kagum. Namun saat ditanya apakah kaitannya dengan capaian kemanusiaan, kita hanya bisa menggeleng. 

saat ikut menyentuh sepatu

Pada akhirnya, semua akan kembali berpulang pada individu. Kampus hanyalah menjadi tempat persinggahan bagi sejumlah orang untuk menempa diri lalu menentukan ke manakah gerangan ia akan berlabuh. Kampus hanyalah sebuah pit stop, untuk selanjutnya, seseorang akan kembali ke arena balapan yang yang sesungguhnya. 

Pada akhirnya, interaksi dengan kehidupanlah yang kemudian menempa dan mencatat apakah seseornag akan menjadi yang terbaik ataukah tidak. Dunia kehidupan tak akan pernah peduli dengan capaian akademis seseorang. Dunia kehidupan hanya akan mencatat sejarah tentang mereka yang mengasah diri, meletakkan kebahagiaan orang lain sebagai tujuan hidup, serta melakukan sesuatu bagi masyarakat banyak. 


Massachusets, 22 Maret 2012
Usai menyentuh sepatu John Harvard

Indahnya Islam di Masjid Indonesia, New York

KOMUNITAS Muslim asal Indonesia di New York, Amerika Serikat (AS), adalah salah satu komunitas warga Indonesia paling hebat yang pernah saya lihat. Betapa tidak, di tengah mahalnya bangunan serta adanya ketakutan kepada Islam, mereka sanggup untuk membangun sebuah masjid di New York, yang kemudian didedikasikan kepada warga Muslim. Bukankah mereka sangat membanggakan? 

saat di depan masjid

Saya tahu bahwa menjadi Muslim di Amerika tidaklah mudah. Pasca-tragedi WTC, ruang gerak orang Islam justru kian menyempit. Saat memasuki bandara, selalu saja ada pemeriksaan yang melelahkan. Saya punya beberapa pengalaman yang tidak nyaman tentang itu. Di New York, semua mahasiswa Muslim dimata-matai pihak New York Police Department (NYPD). Yang bikin saya kagum karena komunitas Muslim justru kian solid. Mereka bergandeng tangan, berbagi pengalaman bersama, dan saling menjaga solidaritas. 

Salah satu tempat di mana warga Muslim saling sharing dan berbagi kisah tersebut adalah Masjid Al Hikmah. Saya sering tercengang karena menyadari bahwa masjid ini didirikan komunitas Indonesia. Di bagian depan masjid itu terdapat tulisan besar Masjid Al Hikmah: Indonesian Muslim Community. Bahkan, saat saya singgah, di belakang masjid terdapat van atau mobil sejenis ambulas, yang juga bertuliskan Indonesian Muslim Community. 

Saya sangat bangga melihatnya. Selama ini, saya sering berpikir bahwa Muslim Indonesia di luar negeri bukanlah kaum berpunya yang menggelontorkan duit demi membangun tempat ibadah. Bahkan di kalangan mahasiswa pun, saya sering berpikir bahwa mahasiswa Indonesia di luar negeri berasal dari kelompok penerima beasiswa yang menyibukkan diri dengan kegiatan akademik, atau anggota masyarakat kota yang seringkali angkuh dan tidak peduli dengan dunia sekitar. 

Dalam salah satu novel karya Dewi Lestari, ada penggambaran tentang mahasiswa Indonesia yang kaya-kaya di luar negeri. Kata Dewi, mereka sering menghinakan sesama bangsa sendiri, luar biasa ramah saat bergaul dengan bangsa asing, serta asosial alias tidak peduli dengan dunia sekitar. Dewi lupa kalau tidak semua mahasiswa demikian berasal dari latar elite masyarakat kita. Banyak yang dari latar sosial menengah ke bawah, namun tetap saja memelihara sikap sombong pada bangsa sendiri (hingga berada pada level menghinakan rekan sebangsa), dan amat berlebihan caranya mengagumi bangsa asing.  

bagian dalam masjid
mobil di depan masjid

Tapi nampaknya, di New York, asumsi itu berubah drastis saat melihat langsung jejak keberadaan Muslim Indonesia di sana, serta upaya mereka untuk menggemakan Islam sebagai pemberi cahaya terang bagi masyarakat sekitarnya. Mereka tidak cuma memikirkan dirinya. Tidak juga cuma memikirkan masyarakat Muslim Indonesia di New York sebanyak 1.816 orang. Mereka memikirkan masyarakat Muslim internasional lewat pendirian sebuah masjid. 

Saya seakan disadarkan kembali bahwa Indonesia adalah negeri yang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia. Mestinya, Indonesia bisa memainkan peran yang lebih strategis dalam percaturan global. Sayangnya, kebijakan ekonomi yang kian memiskinkan warga, serta lemahnya sikap para pemimpin, justru membuat Indonesia kian tenggelam dan menjadi bulan-bulanan negeri lain. Mungkin ini adalah takdir sekaligus tantangan buat kita sebagai bangsa Indonesia. Mungkin ini adalah takdir bahwa kita hanya bisa menganyam asa. 

Di New York, asa tentang negeri dengan populasi Muslim terbesar yang membantu sesama itu kian merekah saat menyaksikan masjid yang dirikan komunitas Indonesia. Umat Indonesia di sana menyadari bahwa masyarakat Muslim adalah satu tubuh dan satu solidaritas yang lahir untuk saling berbagi dan menolong. Masjid adalah oase yang menjadi tempat bertemu serta saling mengasah solidaritas bersama. 

Kemarin, saya berkesempatan mengunjungi masjid tersebut. Buat seorang pejalan seperti saya, masjid bukan sekadar tempat untuk beribaah dan menggumamkan munajat kepada Tuhan. Masjid juga berfungsi sebagai tempat singgah dan melepasan lelah. Dalam berbagai perjalanan ke beberapa kota di Tanah Air, saya seringkali singgah ke masjid untuk sejenak beristrahat serta memperlakukannya serupa hotel yani tidur di situ. 


dilarang berkumpul hingga 287 orang


Saya singgah ke masjid untuk bermalam dan bersiap-siap untuk perjalanan keesokan harinya. Pihak pengurus masjid juga sangat welcome dan mempersilakan saya dan teman-teman untuk bermalam di bagian dalam masjid itu. Malah, di masjid itu tersedia pula muniman teh, kopi, serta roti untuk dimakan. Saya langsung berpikir kalau ini srupa hotel tapi gratis. Saat berada di masjid ini, saya merasa sebagai tuan rumah. Apalagi, di sini, saya bertemu beberapa warga Indonesia. Bahkan pengurus masjid pun adalah warga Indonesia. 

Sayangnya, imam masjid ini bukan lagi seorang warga Indonesia, melainkan warga Bangladesh. Padahal, beberapa tahun lalu, saya membaca publikasi tentang imam Masjid Al Hikmah di New York adalah pria asal Sulawesi Selatan. Saya dengar beliau sekarang lebih banyak bergelut dengan aktivitas keagamaan di Washington DC. Apapun itu, saya bangga melihat masjid ini. Saya bangga melihat di tengah komunitas masyarakat yang sering memelihara stereotype tentang Islam sebagai teroris atau penyebar bencana, justru ada juga masjid yang didirikan warga Indonesia dan menjalankan aktivitas keumatan dan hendak memubmikan Islam sebagai rahmat bagi sesamanya. 

Saya takjub dengan kenyataan yang amat membahagiakan ini. Lebih takjub lagi saat mendengar bahwa masyarakat Muslim di New York bekerja keras untuk membangun image tentang Islam yang indah dan membahagiakan sesamanya. Mungkin ini adalah salah satu aspek paling indah bagi Islam yakni memberikan cahaya bagi sekitarnya.(*) 


Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...