Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Orang Hitam Dilarang Hidup!

salah satu sekolah untuk warga kulit hitam di Washongton DC tahun 1942

DI kelas filsafat, saya membaca buku Critical Thinking yang ditulis Prof Bell Hooks. Saya terkejut saat mendapati kenyataan tentang rasisme dan segregasi sosial yang hingga kini melanda bangsa Amerika. Di sini, di negeri yang mengklaim dirinya penganjur dan penyebar nilai-nilai demokrasi di seluruh dunia, warga kulit hitam sering menjadi warga kelas dua. Itu masih terjadi, bahkan di era ketika Presiden Amerika Serikat adalah seorang kulit hitam! 

Sejarah Amerika adalah sejarah perebutan hak-hak hidup. Dahulu, para pendatang memenuhi tanah ini dengan harapan menemukan ruang untuk kebebasan dari kungkungan sistem, baik itu politik, agama, ataupun sosial. Mereka mendamba kebebasan dan keluwesan dalam menjalankan apa yang diinginkannya. Ketika Inggris datang dan mencaplok wilayah itu, mereka berontak dan berperang demi harga diri dan kebebasan. Mereka mengobarkan revolusi hingga mencapai gerbang kemerdekaan. 

Selanjutnya para kapitalis datang dan membuka perkebunan kapas, yang masa itu disebut white gold. Lalu, mereka menyerbu California ketika ditemukan berton-ton emas di situ. Perkampungan tumbuh. Kapitalisme dan industrialisasi kian bermekaran. Sehingga para kapitalis sombong itu lalu membutuhkan para budak yang didatangkan dari Afrika. Maka dimulai episode yang menikam ide-ide demokrasi dan kemanusiaan. Sebab apa yang disebut kemanusiaan itu adalah harkat dan derajat bangsa kulit putih. 

Ini tahun 2012. Tapi entah kenapa, bel sejarah masih saja berdentang sebagaimana puluhan tahun silam. Membaca ulasan Bell Hooks, saya serasa dihadapkan kembali dengan keping-keping kenyataan yang dahulu dihadapi bangsa ini dalam proses pencarian identitas. Apalagi, tiga minggu lalu, saya membaca artikel tentang adanya larangan bagi sejumlah warga kulit hitam untuk belajar di beberapa sekolah publik di kawasan Arizona, Amerika. Kata sahabatku Ercik, di beberapa negara bagian, khususnya daerah selatan, rasialisme itu masih hidup. Orang-orang hitam itu dilarang bersekolah, dilarang ke dokter, selalu identic dengan kriminalitas serta hal-hal yang negatif. 

Angela Tucker saat mempresentasikan dokumenter
tentang bangsa kulit hitam di AS (foto: Rashmi Sharma)

Kata Bell Hooks, problemnya terletak pada representasi orang hitam dalam media dan persepsi publik. Sekian tahun Amerika menjadi negara demokratis, orang hitam masih saja dipandang dengan tatap negatif. Pada titik ini kita bisa membahas bagaimana bingkai (framing) media massa, bagaimana film Hollywood mempengaruhi citra, bagaimana isi kepala kita diatur oleh sesuatu di luar diri kita. 

Bulan lalu, sat ke Washington DC, saya menyaksikan presentase Angela Tucker, seorang pejuang kulit hitam abad modern. Ia melakukan resistensi (perlawanan) terhadap semua stereotype tentang orang hitam. Ia membuat seri dokumenter yang bertemakan Black Folk Don’t. Isinya adalah suara bangsa kulit hitam di Amerika, yang memaparkan apa yang dialami, stereotype serta pengalaman yang tidak enak ketika berinteraksi dalam berbagai aspek kehidupan. Angela membuka lapis-lapis kenyataan yang selama ini tertutup dari kita yang tinggal jauh dari negeri ini. Kerja-kerja Angela bisa dilihat DI SINI. 

Di tahun 2012 ini, saya tiba-tiba saja teringat relevansi pidato seorang hitam yang kemudian menggemparkan Amerika. Saya teringat Martin Luther King Jr. Saat berkunjung ke Lincoln Memorial, saya sengaja berfoto di tempat dirinya berpidato yang kemudian menyihir dunia. Pidato itu masih saja relevan sebab rasisme pada bangsa hitam adalah produk sejarah yang di masa kini dimapankan oleh insitusi seperti perfilman Hollywood. 

saat Martin Luther Jr berpidato tentang "I Have a Dream" di Lincoln Memorial, tahun 1963
saya berpose di tempat Martin Luther King Jr berpidato "I Have a Dream", tahun 2012


Martin Luther masih saja menyihir dengan kalimat yang penuh api menyala-nyala. Kalimatnya masih saja bertenaga pada periode puluhan tahun setelah dirinya mengeluarkan kalimat yang menggetarkan itu. Perhatikan beberapa kalimat dalam pidatonya di sini: 

But one hundred years later, we must face the tragic fact that the Negro is still not free. One hundred years later, the life of the Negro is still sadly crippled by the manacles of segregation and the chains of discrimination. One hundred years later, the Negro lives on a lonely island of poverty in the midst of a vast ocean of material prosperity. One hundred years later, the Negro is still languishing in the corners of American society and finds himself an exile in his own land. So we have come here today to dramatize an appalling condition.  
I have a dream that my four children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character. 

Membaca Bell Hooks seakan membaca ulang nasib yang dialami bangsa Amerika. Waktu memang sering nisbi dan relatif. Seringkali, apa yang terjadi di masa silam, masih saja terjadi di masa kini. Kita serba ketakutan. Kita serba khawatir bahwa kelak masa silam menjadi masa kini. Sebab kita tak pernah belajar dari sejarah. Kita mengulangi kebodohan sama di masa silam. Mungkin, kita mesti banyak belajar pada sejarah bangsa Amerika, yang di masa kini, sebagaimana kata Angela Tucker, masih saja berkata, “Orang hitam dilarang hidup!”


Athens, Ohio, 29 Februari 2012

Apakah Indonesia Pusaka adalah Plagiat?


SEORANG sahabat asal Cina, Shuyi, mengirimkan tautan tentang video klip di negerinya. Mulanya, saya pikir itu cuma sebuah klip biasa yang menampilkan seorang gadis Cina sedang menyanyi. Setelah saya mengklik tautan itu, maka terkejutlah saya. Ternyata, klip itu menampilkan seorang gadis Cina sedang menyanyikan lagu yang nadanya sama persis dengan lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki. Tak percaya? Silakan bandingkan dua lagu ini (DI SINI dan DI SINI)




Dua malam lalu, Shuyi menghadiri Indonesia Night di Athens, Ohio. Ia mendengar lagu Indonesia Pusaka (kita sering menyebutnya Indonesia Tanah Air Beta) dinyanyikan. Ia terkejut karena mengenali nada lagu itu sama persis dengan lagu yang sedang naik daun di Cina. Setelah mengklik link yang dikirimkannya, saya akhirnya mengakui kalau dua lagu itu sama persis. 

Terhadap kesamaan ini, saya punya dua asumsi: Pertama, jangan-jangan, lagu Cina tersebut adalah versi terjemahan dari Indonesia Pusaka. Namun, Shuyi menjelaskan bahwa dalam versi Cina, lagu itu mengisahkan seorang gadis yang jatuh cinta dan belum berani menyampaikan isi hatinya. Artinya, asumsi ini gugur. Kedua, jangan-jangan lagu Indonesia Pusaka yang di negeri kita dikenal sebagai lagu patriotik itu adalah lagu plagiat. 

Setelah melihat beberapa kanal informasi, saya menemukan fakta bahwa penulis lagu Ismail Marzuki memperkenalkan lau itu pada tahun 1940-an. Makanya, lagu ini termasuk lagu perjuangan yang liriknya sangat patriotik dan menjadi bagian sejarah. Kata Shuyi, lagu Cina ini muncul belakangan ini. Setahun lalu, ketika dirinya masih di Cina, lagu ini belum dikenal. 

saat lagu Indonesia Pusaka diperdengarkan di Athens, Ohio

Makanya, saya berkesimpulan kalau lagu Indonesia Pusaka telah dijiplak oleh seseorang di Cina, dan dikemas ulang menjadi lagu cinta. Mungkin, agak sulit untuk mendefinisikan apa yang disebut plagiat dalam musik. Saya masih ingat dengan musisi Ahmad Dhani yang punya kriteria yakni ketika terdapat 12 not yang sama persis, maka kita bisa menyebutnya plagiat. 

Kita sedang berhadapan dengan kian menyempitnya batas-batas negara. Malah, batas itu mulai mengabur. Sebuah proses kreatif yang ada di satu negara bisa dengan mudahnya berpindah ke negara-negara lain. Dalam contoh di atas, agu Indonesia dijiplak di Cina. Tapi dalam banyak contoh lain, Indonesia pun sering mengklaim ulang lagu negeri lain. 

Jika kita sedikit menelaah sejarah, maka sesungguhnya apa yang kita sebut sebagai plagiat itu sudah terjadi sejak masa silam. Budayawan Remy Silado pernah menulis bahwa lagu kebangsaan Malaysia, “Negaraku” justru berasal dari lagu berjudul “Terang Bulan” karya seniman Indonesia. Malah, pada tahun 1957, pihak RRI dan pemerintah Indonesia, sepakat untuk tidak memutar lagu Terang Bulan demi penghargaan pada Malaysia yang menjadikan lagu itu sebagai lagu kenegaraan. 

Jangan melulu menyalahkan Malaysia. Negeri ini pun sering melakukan hal yang sama. Kita pernah mendengar lagu patriotik “Dari barat sampai ke timur berjajar pulau-pulau,” dan lagu “Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati.” Lagu pertama mengingatkan pada lagu Perancis ciptaan Rouget de Lisle. Memang hanya bagian depan, yang juga dijiplak The Beatles. 

Sementara lagu kedua, “Kulihat ibu pertiwi sedang bersusah hati,” adalah 100 persen jiplakan atas lagu gereja “What a friend we have in Jesus.” Entah kenapa, grup asal Surabaya Dara Puspita menyanyikan lagu itu jadi patriotik pada tahun 1960-an. Padahal, kata Remy Silado, lagu ini aslinya diciptakan Horatius Bonar pada lirik dan Charles Crozat Converse pada musik. Hak ciptanya dicatat lewat Biglow & Main. 

konser Indonesia Pusaka di Sydney

Kembali ke lagu Indonesia Pusaka, benarkah Ismail Marzuki tidak sedang menjiplak? Saya berharap demikian. Meskipun reputasi komponis ini tidak bagus-bagus amat. Konon, Presiden Sukarno pernah memberikan penghargaan pada Ismail Marzuki karena menciptakan lagu Halo-Halo Bandung. Padahal, sejatinya, lagu itu ciptaan prajurit Siliwangi bernama Lumban Tobing. Bersama peleton Bataknya, ia melakukan long march dari Yogya ke Bandung pada zaman revolusi, dan sepanjang jalan menyanyikan lagu Halo-Halo Bandung. Malah si Marzuki yang dapat credit point. Hmm...


Athens, Ohio, 27 Februari 2012

Saat Menari Minang dengan Baju Aceh di Amerika


SAYA bukanlah seorang penari. Seumur-umur, saya tak pernah menari. Naik ke atas panggung sekalipun, bisa dihitung dengan jari. Namun, di tanah Amerika Serikat (AS), saya tiba-tiba saja masuk tim penari untuk tarian tradisional Indonesia. Mulanya saya menolak. Namun dikarenakan jumlah mahasiswa Indonesia terbatas, mau tak mau, saya tergerak untuk mencoba. Ini bukan soal tarian. Ini soal mengenalkan nama bangsa ke panggung internasional. 

tampilan layar Indonesian Night (foto: Rashmi Sharma)

Teman-teman mahasiswa Indonesia di Athens ingin menampilkan tarian dan kesenian tradisional pada acara Indonesia Night 2012. Acara ini dikemas menjadi pagelaran seni yang kolosal dan dihadiri ratusan warga Athens. Apalagi, dari tahun ke tahun, Indonesia Night seakan menjadi menu yang selalu ditunggu-tunggu warga di kota kecil ini. 

Berbekal kenekadan, saya menjalani latihan selama sebulan. Rata-rata, kami yang akan menari, belum punya pengalaman sebelumnya. Malah, ada dua dari anggota penari itu yang berkebangsaan Jerman dan Cina. Padahal, tari yang akan ditampilkan adalah tari saman, asal Aceh. Belakangan, tari ini direvisi dan digantikan dengan tari indang. Tapi, gerakannya dimodifikasi sehingga mirip tari saman. Apakah sulit? Buat saya yang sama sekali tidak pernah nari, jelas gerakannya amat sulit. 

saat menari (foto: Rashmi)
bersama teman-teman seusai menari (foto: Yuyun Sri Wahyuni)

Saya kian grogi ketika seorang sahabat asal Amerika latin hendak membuat film dokumenter, dimana saya menjadi salah satu subyek dalam film tersebut. Sejak latihan, mereka mengikuti ke manapun saya bergerak. Mereka mengambil gambar, kemudian mewawancarai saya dalam bahasa Inggris. Saya jelas grogi. Namun, saya bertekad untuk menuntaskan semua proses ini dengan baik. (Saya akan menceritakan tentang ini pada tulisan lain). 

Tari indang ini adalah tarian khas dari Pariaman, Sumatra Barat. Konon, tarian ini menggambarkan paduan yang aduhai antara Islam dan tradisi lokal di Minangkabau sejak abad ke-14. Peradaban Islam diperkenalkan pedagang asal Aceh melalui pesisir barat Sumatra, dan selanjutnya menyebar ke Ulakan, Pariaman. Di Pariaman sendiri, tari indang memiliki banyak jenis-jenis nyanyian maqam, iqa’at, dan avaz, serta ditarikan dengan instrument musik gambus. Makanya, tarian ini menunjukkan tangga-tangga pendakian spiritual. 

Dahulu, terdapat tujuh orang lelaki yang meramaikan tari ini. Mereka dipimpin guru yang disebut tukang zikir. Dari tradisi ini bisa diketahui kalau indang merupakan manifestasi budaya Islam di Minangkabau yang nuansanya kental dengan tradisi surau. 

Belakangan, lagu ini amat identik dengan lagu badindin dengan irama khas. Konon, lagu ini pertama diperkenalkan biduan Tiar Ramon dan Elly Kasim. Penarinya tidak cuma lelaki, namun juga berpasangan dengan perempuan sehingga tari ini menjadi lebih dinamis dan energik.  

mahasiswa Indonesia di Selandia Baru
yang juga menampilkan Tari Indang

Semalam, bersama teman-teman, saya ikut menari indang. Kami sama-sama bukan berasal dari Sumatra Barat. Makanya, kami belajar menari Indang melalui youtube. Menarik juga untuk diamati kalau situs jejaring sosial di interet telah membantu kami untuk mendefinsikan ulang makna tarian tersebut serta memperkuat buhul identitas keindonesiaan kami di negeri jauh.

Satu masalah yang dihadapi adalah kami tidak punya pakaian khas Sumatra Barat. Namun kami memiliki pakaian khas Aceh, yang sering dipakai untuk menari saman. Mengingat sejarah Islam di Minangkabau yang mata airnya berasal dari Aceh, kami memutusan untuk memakai pakaian Aceh. Namun spirit tari tersebut tetap kami pertahankan. 

Semalam saya amat grogi menarikannya. Apalagi, tarian ini sangat mengandalkan kekompakan. Mungkin ini manifestasi dari spirit kolektivisme dan kebersamaan di tanah Minang. Mungkin pula ini manifestasi dari adat dan tradisi Minang yang amat kaya dan menjadi nafas bagi segala kehidupan masyarakatnya. 

Entah tarian saya bagus atau tidak. Saya hanya melakukan dengan sebaik-baiknya. Yang jelas usai menari, saya mendengar tepuk tangan membahana dan menyebabkan gedung itu gemuruh dengan tepuk tangan. Bukankah ini pertanda kalau tarian saya dan temen-teman sukses memikat khalayak? 


Athens, Ohio, 25 Februari 2012


bersama si kecil Adit (foto: Yuyun)

Kupinang Kau dengan Karya Pramoedya Ananta Toer

hantaran pengantin berisi karya lengkap Pramoedya Ananta Toer

NAMANYA Shakira. Ia adalah sahabat dekat saya yang belum lama ini menikah. Saya amat iri dengan pernikahannya yang belum lama berselang. Bukan iri karena kemegahan pestanya. Bukan karena ia menikah dengan adat Bugis dan adat Buton. Juga bukan karena banyaknya hantaran (dalam bahasa Bugis disebut erang-erang) yang diberikan mempelai pria kepada dirinya. Saya iri karena di satu hantaran itu, terdapat karya lengkap sastrawan Pramoedya Ananta Toer saat di Pulau Buru. What? 

Mereka yang menikah dengan adat Bugis, sama-sama tahu kalau isi erang-erang adalah segala hal yang dibutuhkan seorang perempuan. Lelaki akan mempersembahkan semua yang dibutuhkan itu, mulai dari perhiasan di kepala, baju, hingga sepatu. Dahulu, ketika saya menikah, saya pun mempersembahkan semua benda-benda itu kepada calon istri. Biasanya, hantaran itu akan dibawa oleh sejumlah gadis dengan memakai baju bodo. Melihat dokumentasi pernikahan Shakira, kepala saya seakan terantuk. Mengapa dulu saya tidak mempersembahkan karya lengkap Pramoedya sebagai mas kawin? 

Mungkin saat itu semuanya sibuk. Baik calon istri maupun saya sama-sama sibuk. Saya malah stres memikirkan berapa orang yang datang, serta berapa jumlah mobil yang akan mengantar rombongan kami. Semuanya tidak sederhana. Sebab dalam pernikahan, terdapat kontestasi, dinamika, serta upaya mempertemukan dua keluarga besar, serta bagaimana mendialogkan keinginan banyak orang. Kini, saya hanya bisa iri dengan sahabat Shakira. 

Saya sering berpikir, mengapa saat itu saya tidak berpikir untuk mengantarkan karya-karya sastra? Bukankah itu akan jadi momen paling unik dan dikenang selamanya? Yah. Semuanya sudah berlalu. Jika hidup ibarat pertunjukan, maka tak ada siaran ulang untuk itu. 

Pramoedya Ananta Toer
Entah kenapa, saya tiba-tiba terkenang-kenang dengan Pramoedya, lelaki yang punya sihir untuk menaklukan semua kata-kata hingga menjadi gelombang samudera yang menampar-nampar, serta dalam sekejap bisa menjelmakan kata itu sebagai telaga bening di tepi pepohonan hijau. Saya merindukan pria yang hingga kini belum ada bandingannya dalam sejarah sastra Indonesia. Saya merindukan pria yang ketika dipenjara, mampu menghasilkan kalimat-kalimat yang bertenaga dan setajam pedang hingga menggemakan suaranya menjadi lebih nyaring terdengar di ruang beku sejarah.

Beberapa tahun silam, saya membaca banyak karyanya dengan penuh antusias. Saya teringat obsesi masa silam. Dahulu, mimpi terbesar saya adalah suatu saat bisa makan malam bersama Pramoedya. Saya tahu bahwa saat itu Pramoedya sudah berusia lanjut. Tapi saat itu saya tidak menyangka kalau ia akhirnya berpulang ke rahmatullah dalam waktu yang tidak terlalu lama sejak saya mencanangkan mimpi. Akhirnya saya sadar bahwa impian itu tak akan tercapai. 

Kini, Pramoedya telah berpulang. Saya belum pernah membekukan ingatan tentangnya. Saya juga menyesal tidak mempersembahkan karyanya sebagai kado pernikahan. Tapi saya bahagia karena sahabat Shakira memiliki obsesi yang sama. Ia memang melakukan itu bukan untuk saya. Ia melakukan itu untuk dirinya. Tapi saya amat yakin jika saya dan dirinya sama-sama terbius oleh pesona kata Pramoedya. Kami sama-sama dibakar oleh panasnya api sastra, dan digarami oleh lautan kata Pramoedya. Selamat berbahagia buat Shakira!


Athens, Ohio, 23 Februari 2012

Shakira bersama suaminya dalam pakaian adat Buton

Aroma Sejarah dalam Secangkir Kopi


ENTAH siapa yang memulai, namun kopi bisa menjadi penanda atau ikon kebudayaan. Di balik aroma kopi, terselip sebuah kisah, romansa, tragedi, ataupun sejarah tentang bagaimana manusia berusaha menyajikan sesuatu yang rasanya nikmat di lidah. Melalui pesona budaya, manusia menyebarkan rasa nikmat itu ke seantero bumi, bersintesa dengan lokalitas, lalu menjadi ikon globalisasi. 

Hari ini, Rabu (22/2), saya menghadiri Global Meet and Greet yang bertemakan International Coffee Tasting di kampus Ohio University at Athens, Amerika Serikat (AS). Di sini, terpajang aneka kopi dari berbagai negara. Meskipun rasa dan aromanya berbeda-beda, namun tetap saja ada sesuatu yang universal. Ada sesuatu yang menjadi penanda dan menjadi pengikat semua negeri-negeri itu. Ada sesuatu yang bisa menjadi pengikat. Bahwa di semua tradisi dan kebudayaan, kopi bisa ditemukan sebagai ikon budaya. 

kopi Sumatra, Indonesia
kopi asal Kenya, yang rasanya mirip teh
kopi asal Mexico

Dahulu, antropolog Levi Strauss amat kondang dengan teorinya tentang "tabu incest" yang disebut-sebut sebagai aspek universal dalam budaya. Hari ini, saya berpikir lain. Barangkali Strauss tidak melihat hal lain yang menyatukan budaya. Ia tidak pernah mengamati fenomena kopi yang menyatukan bangsa-bangsa melalui rasa universal dan aroma yang bisa ditemukan di mana-mana. 

Secangkir kopi merepresentasikan universalitas, menggambarkan kekayaan ranah kebudayaan, menguatkan identitas dan respek antar bangsa. Kopi adalah penanda peradaban yang menjadi jembatan antar bangsa. Melalui kopi, terdapat dialog yang saling memperkaya dan menguatkan. Setidaknya, demikian amatan saya ketika menghadiri acara ini. 

Kita memamg bisa membahas globalisasi melalui kisah secangkir kopi. Konon, pada tahun 1.000 SM, kopi mulai dikenal Suku Galla di Afrika Timur. Selanjutnya menyebar ke Ethiopia, lalu diperkenalkan bangsa Arab. Sejarah mencatat, bangsa Arablah yang pertamakali memperkenalkan kopi sebagai minuman energi buat mereka yang begadang. Meskipun, ilmuwan masyhur Ibnu Sina, lalu menerbitkan risalah yang membedah zat kimiawi kopi, dan tercatat sebagai pembedahan pertama yang paling detail tentang kopi.

Selanjutnya, kopi memasuki babakan baru ketika Kekhalifahan Ottoman (bangsa Turki) mengenalkannya dalam kedai kopi pertama yang disebut Kiva Han pada tahun 1475. Kopi lalu memicu kontroversi dan dialog ketika Paus Clement VIII mengatakan bahwa budaya kopi mengancam agama. Ia berkata bahwa peminum kopi sedang menanam dosa yang kelak akan dituai di hari akhir. Sebuah pernyataan yang kemudian diralatnya. 

kopi Honduras
kopi lokal di Athens, Ohio

Laksana virus, kopi menyebar ke Asia, Eropa hingga Amerika Latin. Berbagai bangsa mulai mengenal kopi sebagai tradisi. Ketika bendera kapitalisme terkerek, kopi lalu memasuki babakan baru. Kopi menjadi komoditas yang dijajakan di kafe-kafe berkelas. Namun kopi juga menjadi ikon peninadasan ketika para kolonialis busuk itu memaksa rakyat negara berembang untuk menanam kopi demi sebuah rasa nyaman di lidah. 

Hari ini, saya menghadiri acara yang memungkinkan saya untuk mencicipi kopi dari berbagai bangsa. Entah kenapa, saya tidak menemukan beda rasa kopi di berbagai negara. Mungkin saya bukan seorang peminum kopi, sebagaimana teman-teman lain yang datang ke situ. Saya ingin mencicipi aroma kopi Amerika Latin. Walaupun kata seorang teman, kopi Sumatra jauh lebih nikmat. Saat saya mengambil secangkir kopi asal Amerika tersebut, seorang gadis Amerika Latin tiba-tiba datang dengan senyum manis. Ia memanggil saya, lalu menjabat tangan, dan mendaratkan ciuman. Hmm.. Kayaknya yang satu ini lebih nikmat dari kopi...


Athens, 22 Februari 2012
Usai pesta minum kopi

Desa, Ketenangan, dan Keledai Pemalu

suasana pedesaan

SETIAP desa selalu menyimpan magma. Bukan saja karena adanya semangat yang membara untuk menjaga hubungan-hubungan sosial agar tidak punah, namun juga ketenangan yang menghanyutkan kala bertemu keluarga, para sahabat, relasi, ataupun relasi. Tak hanya di Indonesia, bahkan di Amerika pun, desa menghadirkan ketenangan. Saya bisa merasakan ketenangan dan suasana yang sukar terlukis oleh kata tersebut. 

Di beberapa desa, suasananya amat jauh dari bising. Penduduknya senang menyapa dan semua orang saling mengenal pada radius tertentu. Saat berkunjung ke desa kecil dekat Buckeye Lake, Ohio, saya serasa pulang kampung. Hanya saja, desa-desa di sini tak banyak berpenghuni. Warganya memilih suasana privat. Rumah berjauhan. Mungkin mereka butuh ketenangan. Entah. 

depan rambu kereta kuda
sudut desa
dekat danau

Desa yang saya lewati ini adalah desa yang berdekatan dengan komunitas Amish. Komunitas ini hamper sama dengan suku Baduy di Indonesia. Mereka menolak penggunaan teknologi dan hidup seolah di abad pertengahan. Baik itu pakaian, maupun rumah maupun pergaulan. Mereka juga menghindari penggunaan listrik. Inilah sebab, mengapa di desa-desa ini, saya melihat banyak rambu lalu lintas bergambar kereta kuda. Sebab warga Amish menolak penggunaan mobil. Mereka memakai sarana kereta kuda. 

Saya menikmati suasana di beberapa desa di sini. Saya juga singgah satu peternakan biri-biri. Pertamakalinya pula saya melihat hewan aneh bernama Lama. Hewan ini mirip dengan jenis hewan yang saya saksikan di film Avatar. Kata seorang teman, dalam satu peternakan, Lama berfungsi sebagai penjaga atau penggiring biri-biri menuju ke satu tempat. Apakah Lama berbahaya? Tidak. Hanya saja, Lama bisa menggiring dan sesekali mengancam. Tapi tidak menyakiti.

keedai pemalu, kok mirip boneka ya?
dua Lama sedang menjaga biri-biri
bergaya

Saya menyukai hewan ini. Saat saya hendak mendekat dan memotret, hewan ini tak menunjukkan takut sedikitpun. Ia malah berdiri dan menatap kea rah saya, sehingga proses pemotretan berjalan lancar. Lama itu sedang menjagai biri-biri dan seekor keledai. Sempat kaget juga melihat keledai yang bentuknya lucu, serupa boneka kecil. Saat saya mendekat, keledai itu lalu kabur bersama biri-biri. Nampaknya, keledai itu amat pemalu, sebagaimana saya. 

Saya menikmati ketenangan di desa. Mungkin, desa yang saya saksikan ini sangat berbeda dengan desa-desa di Buton, ataupun Buton Utara, namun saya bisa merasakan ketenangan dan suasana yang mengalir. Pada akhirnya, kita, manusia modern, selalu membutuhkan ketenangan yang menderas bak anak sungai. Kita rindu dengan kedamaian yang serupa embun menetes di sela-sela dedaunan. Kita rindu spiritualitas, yang kita temukan di desa-desa, saat semua orang saling menyapa di tengah udara besih, tanpa ada asap dan bising kendaraan.

Mungkin kelak saya akan menghabiskan hari di desa bersama anak dan cucu. Mungkin kelak saya akan duduk di teras atau beranda rumah, menyapa semua orang, menghadiri semua acara kampung, sesekali ikut sabung ayam, dan di malam hari duduk di dekat danau dekat rumah sambil menulis puisi. Bagi saya, definisi bahagia itu sederhana. Bukannya saat duduk manis di satu gedung mewah di kota. Namun saat duduk sore hari di depan rumah, sambil minum teh dan ada sepiring gorengan, bersama istri dan anak yang terus mengoceh. Sayup-sayup, terdengar suara parau Louis Amstrong saat menyanyi, What's a wonderful world...!!


Athens, Ohio, 22 Februari 2012

Kereta Kuda Boleh Lewat



DI beberapa kawasan pedesaan Amerika Serikat (AS), saya melihat rambu lalu lintas yang agak unik. Rambu itu bergambar kereta kuda. Ini pertanda kalau jalan ini tidak cuma dilalui para pengendara mobil, namun juga para pengendara kereta. Pernahkah anda melihat rambu seperti ini di kampung Anda?

Ara 3 Bulan

BANGUN pagi, saya langsung melihat wajahmu. Ibumu telah mengirimkan video saat dirimu berumur tiga bulan. Hati ini bahagia campur sedih. Dirimu dan ibumu adalah harta paling berharga dan tak ternilai yang kumiliki hari ini. Semoga Yang Maha Pengasih tak pernah lelah untuk menjaga dan melindungi kalian. Semoga!




Cinta yang Menaklukan Kata



LELAKI itu bernama Veer. Ia telah ditahan dalam jeruji besi selama 22 tahun. Sepanjang hari ia membisu, tanpa ada yang tahu apa sebabnya. Ia dituduh sebagai seorang mata-mata yang menyelusup ke Pakistan. Dua negeri: India dan Pakistan, adalah dua bersaudara yang saling mencurigai. Benarkan Veer seorang intelijen? Entah. Selama 22 tahun, ia menyimpan misteri yang tak bisa dijabarkan siapapun. Di penjara itu, kata-kata dikalahkan oleh sunyi senyap. Ia hanya duduk sambil menyentuh sebuah gelang, yang terus dipegangnya hingga lembaran hari terus berganti. Misteri apa yang tersimpan pada gelang itu? 

Suatu hari, seorang pengacara idealis datang untuk menangani kasusnya. Ajaib! Veer tiba-tiba saja mau bersuara. Maka terurailah sebuah kisah cinta yang lama terpendam. Ia seorang pemimpin squadron angkatan udara India. Demi cinta, ia menerobos perbatasan. Ia mengorbankan segala hal demi sebuah nama yang terpahat di dasar hatinya. Ia ikhlas menjalani apapun, demi wanita yag wajahnya telah memenuhi seluruh atmosfer kehidupan. Ia laksana lilin yang ikhlas ditelan cahaya api demi menghadirkan setitik cahaya di kegelapan hati kekasih hatinya. Apakah cintanya bersambut? Lantas, misteri apa yang disimpannya selama 22 tahun? 


*** 


PEREMPUAN itu bernama Zaara. Ia putri seorang politisi hebat Pakistan. Demi ambisi dan karier, ayahnya menjodohkannya dengan putra seorang politisi lainnya. Ia rela menerimanya. Semua baik-baik saja. Hingga suatu hari, ia menyeberang ke India demi mengantar abu jenazah perempuan yang lama menjadi pengasuhnya. Ia akhirnya bertemu keping hatinya yang lama lenyap. Ia tersentuh dengan pria itu, yang dengan lirihnya bersedia menjadi awan yang kemudian lenyap oleh hujan, sekadar untuk menghadirkan senyum di wajahnya. 

Namun cinta itu tidak seindah kisah dalam negeri dongeng. Keluarga Zaara menolak kisah cinta itu. Zaara adalah korban dari sistem sosil yang berhamba pada ambisi dan kekuasaan. Ia juga bagian dari sistem sosial yang tidak memberi ruang bagi suara seorang perempuan, sebagaimana dirinya. Di tengah keterbatasan itu, Zaara dalam dilema antara ambisi keluarga dan cinta sejatinya. Di sisi lain, ia punya sejumput mimpi-mimpi tentang sekolah buat perempuan dan anak-anak, yang hari-harinya adalah keriangan serta gelak tawa. Zaara menginginkan hidup bersama pria yang rela menerjang badai demi dirinya. Pria itu bernama Veer. Namun, ini adalah kisah 22 tahun silam. Seperti apakah kisah di masa kini? 


*** 



SAYA agak terlambat menyaksikan film India berjudul Veer Zaara ini. Padahal, film ini dibuat tahun 2004. Tapi tetap saja film ini membuat saya sampai terharu. Kisahnya memang agak biasa, bagi para kritikus (yang suka menjelek-jelekkan satu karya, namun tak bisa menghasilkan satu karyapun). Akan tetapi dari tema sederhana itu, saya justru tertarik pada kemasan tentang cinta yang hadir sebagai ruh utama film ini. 

Cinta memang tema klasik dalam film. Cinta menjadi benang merah yang memintal semua adegan, menyelipkan isu politik dan kekuasaan di situ, demi menyampaikan sekeping cinta yang digdaya. Cinta yang perkasa. Cinta yang menjadi cahaya kecil yang menerangi seseorang selama 22 tahun di dalam pengapnya penjara. Cinta yang mengatasi segala diam seribu bahasa. Cinta yang menaklukan kata. Juga cinta yang membara di hati seorang wanita yang kemudian meninggalkan negerinya demi menjaga hangatnya api cinta. Film ini memang mengharu-biru dan menguras air mata.

Pantas saja jika pada tahun 2004, film ini menjadi film Bollywood yang terbanyak ditonton. Film ini telah diganjar banyak penghargaan, termasuk the Most Popular Film Award pada ajang National Film Awards di India. Saya menyukai pemerannya Shahrukh Khan dan Pretty Zinta (saya paling suka memandang senyum dan lesung pipinya. Cantik!). Permainan keduanya serupa dua keping puzzle yang kemudian disatukan. Keduanya klop. Hanya dengan melihat sorot matanya, kita bisa tahu bahwa keduanya memendam perasaan yang cukup lama. 

Usai menonton film ini, saya tiba-tiba saja bertanya pada diri, jika saya dalam posisi Veer, apakah kelak saya bersedia menjadi sebatang korek yang kemudian habis ditelan api demi menghadirkan cahaya senyum di wajah seseorang gadis? 


Menyambung Blog dengan Facebook

SAYA belum ingin pindah blog. Beberapa teman pindag dari blogspot ke detik. Tapi saya belum ada keinginan pindah. Saya termasuk tipe rumahan yang cepat nyaman berada di satu tempat. Berada di tempat kecil, yang kini jadi rumah blog ini, juga mendatangkan kenyamanan buat saya. Lantas kenapa harus pindah? 

rubrik komentar yang baru

Ada sejumlah alasan yang diajukan teman. Pertama, kemudahan untuk berinteraksi di satu komunitas. Blog-blog tertentu seperti detik dikelola dengan prinspi berjejaring, sehingga informasi dengan cepat menyabar sehingga ada interaksi. Kedua, mungkin saja ini terkait suasana hati. Bagi sebagian blogger, berlama-lama di satu blog justru membuat jenuh. 

Namun, saya jutsru sama sekali tidak jenuh. Justru saya sangat ketagihan untuk terus mengisi blog ini, sebagai catatan atas kesaksian. Demi menjaga napas menulis itu, minggu ini, saya memasukkan fitur baru di blog. Saya memasukkan rubrik komentar yang baru dan langsung terintegrasi dengan facebook. Caranya? Mudah. Cukup mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan DI SINI

Saya berasumsi bahwa semua yang membuka blog saya, pastinya juga sedang membuka situas facebook. Dengan mengintegrasikan komentar blog dengan facebook, saya memberi kemudahan bagi siapapun yang hendak berkomentar. Saya juga bisa dengan mudah memantau perkembangan blog, sebab facebook akan rajin mengirimkan notifikasi blog tersebut. 

Perubahan kedua yang saya tambahkan ke blog adalah diaktifkannya sistem mobile blogging. Beberapa orang, termasuk istri saya, memprotes karena blog agak 'berat' jika diakses melalui telepon selular. Makanya, saya lalu mengaktifkan sistem agar blog itu mudah dibaca melalui ponsel dengan cara merancang agar file-nya tidak bgitu berat.

Mudah-mudahan semangat menulis ini taka an pernah padam. Amin!

Buku, Kafe, dan Sepotong Brownies Cinta


NAMANYA Amel. Ia bekerja sebagai Art Director yang cemerlang dan sukses. Wajah cantik dan rajin merawat diri. Kecantikannya digambarkan bak pualam yang disentuh langsung oleh Yang Maha Memahat. Wanita kosmopolitan yang merupakan bagian dari selebrita ibukota. Ia sering tampil di majalah wanita sebagai ikon wanita muda yang sukses. Cantik, sukses, rapi, serta high class. 

Sayang, kehidupan cintanya tidak secemerlang kariernya. Ia terjebak dalam permainan cinta dengan seorang playboy yang kemudian menjebaknya dalam isakan duka lara. Dalam keadaan pedih, ia selalu melarikannya dnegan menyibukkan diri membuat kue brownies. Ia mencoba segala resep namun gagal. Ia tak paham filosofi bahwa brownies senantiasa jujur untuk mengungkapkan rasa. Ia tak tahu bahwa emosi bisa menjadi bumbu rahasia yang menentukan rasa brownies. Ia mesti menemukan cinta. Akankah ia menemukannya? 


**** 


NAMANYA Are. Seorang pemuda urakan, jarang mandi, berantakan, serta drop out dari kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia cerdas, menguasai banyak buku. Ia bisa melayani siapapun untuk diskusi selama berjam-jam demi membahas buku, serta pemikiran terbaru. Penggemar berat sastrawan Pramoedya Ananta Toer dan Arswendo Atmowiloto. Dengan entengnya, ia bisa membahas Karl Marx dan Friedrich Nietzsche sambil menyeruput es doger. Ia pembaca novel, serta punya kisah hidup yang juga serupa novel. Pernah menggelandang kemudian mengamen di Jalan Malioboro Yogyakarta, yang disebutnya sebagai bagian dari proses penemuan diri. 

Ia mewujudkan mimpi-mimpi kecilnya secara perlahan. Ia membangun kafe kecil di dekat Taman Ismail Marzuki (TIM) yang dipenuhi buku-buku berkelas. Ia membangun komunitas. Pengamen jalanan yang sering diundang bernanyi, penjual es doger yang dimintanya bermitra di kafe itu. Ia seorang pembuat brownies yang ulung. Saat membuat brownies, ia akan membayangkan almarhum ibunya, seorang wanita perkasa, yang kemudian membesarkannya seorang diri. Ia berharap bisa memiliki cinta sedahsyat ibunya. Akankah ia menemukannya? 


*** 


Saya terlambat membaca novel Brownies karya Fira Basuki ini. Untunglah, saya menemukan novel ini di Alden Library. Saya membaca tuntas hanya dalam dua jam. Saya hanyut dalam tuturan yang mengalir bak anak sungai. Saya menikmati dialog dua dunia antara Amel dan Are. Keduanya bagai bumi dan langit, tetapi selalu saja ada semacam medan magnet yang kemudian menautkan mereka. Saya serasa menemukan mimpi-mimpi saya pada sosok Are. Seperti Are, saya tak pernah bermimpi untuk kaya. Saya hanya ingin memiliki perpustakaan kecil dan kelak di situ ada kafe yang kemudian menjadi tempat pertemuan banyak orang. 

Saya menyukai dialog lintas kelas ini. Are, seorang filosof yang belajar dari setiap keping kehidupan. Sementara Amel adalah seorang pekerja keras di rimba raya perkotaan, yang sering lupa untuk berkontemplasi. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Keduanya dari dunia yang amat jauh berbeda. Keduanya berdialektika, dan mencari titik-titik yang bisa mempertemukan mereka. Brownis menjadi benang merah yang kuat sekaligus menjadi medium yang melepaskan rasa. Brownies menampakkan perbedaan mereka, yang kekuatannya  serupa pelangi telah mewarnai hari-hari dan menjelma sebagai pohon kukuh bernama cinta, yang fundasinya menghujam bumi, dan ranting-rantingnya menggapai mega-mega.

Dan biarkanlah brownies yang mengungkapkan rasanya.



Syair Sedih Para Prajurit Beku

the frozen soldiers

SETIAP kali melihat jejak peperangan, setiap kali pula hati saya teriris-iris. Saya membayangkan jiwa-jiwa yang kemudian tewas di medan perang demi sesuatu yang bernama negara. Saya membayangkan para keluarga yang ditnggalkan. Saya membayangkan orangtua yang kehilangan anak, istri yang kehilangan suami, atau bayi-bayi yang kehilangan ayahnya yang gugur di medan laga. Mengapa harus ada perang? 

Kita bisa mengatakan itu sebagai panggilan negara. Seolah-olah, negara serupa Tuhan yang punya kuasa memanggil semua warganya. Satu hal yang lucu buat saya, seringkali negara disimbolkan sebagai orangtua, sementara warga negara sering disebut sebagai anak. Di Indonesia, saya sering mendengar kalimat, “Ibu pertiwi telah memanggil putra-putrinya.” 

Ternyata, di Amerika, negara juga seolah orangtua, dan warga negara adalah anaknya. Saya menyaksikan prasasti perang Korea di kompleks World War II Memorial di Washington DC. Di situ tertera tulisan: “Our nation honors her sons and daughters who answered the call to defend a country they never knew and a people they never met.” 

depan World War Memorial
prasasti seribu bintang
inikah harga kebebasan?
seribu bintang

Jika negara adalah ayah-ibu, mengapa harus ada warganya yang tewas demi membela ayah-ibunya? Kenapa bukan ayah-ibu yang berkorban demi anaknya menganyam masa depan, menata generasi mendatang, serta kelak akan meletakkan bunga saat mengenang ayah-ibunya? Kita memang tak melihat bentuk konkret dari negara. Tapi kita bisa merasakan nasionalisme yang menggelora dan menggemuruh dalam sanubari kita. Ketika melihat nama-nama yang tewas, apakah gerangan yang kita rasakan? Apakah kita melihatnya sebagai patriotik dan nama yang harum semerbak? Haruskah kita mengangkat topi kemudian memberikan salam penghormatan kepada para prajurit yang gugur di medan peperangan? 

Di kompleks itu, saya menyaksikan patung “The Frozen Soldier.” Mereka adalah sekumpulan patung prajurit yang seolah-olah tengah di medan tempur. Mereka memakai jas hujan demi menghindari basah. Saya membayangkan mereka adalah prajurit amphibi yang hendak mendarat di Pantai Normandia. Inilah penyerbuan yang terus dikenang dalam sejarah. Semua literatur sejarah militer memuji-muji operasi ini sebab diangap sebagai kunci kalahnya Hitler. 

ibu pertiwi memanggil
Tapi jiwa saya justru teriris-iris. Saya amat sedih membayangkan peperangan dan dampak sosial kutlural dari peperangan itu. Semua monumen di sini hanya menggambarkan kemenangan. Tanpa mau menggambarkan bagaimana kesedihan ditata sebagaimana opera musik klasik yang kadang menikam-nikam lara. Kesedihan adalah sisi lain dari koin peperangan yang melulu didominasi kisah kemenangan. Kita sering mengejar kejayaan yang gilang-gemilang, dan di saat bersamaaan mengabaikan fakta tentang mereka yang tewas. 

Di kompleks itu, saya banyak melihat prasasti yang berisi kalimat untuk mengenang mereka yang gugur. Malah, saya juga melihat prasasti berupa bintang-bintang yang sedianya disematkan di dada para prajurit yang gugur. Cukupkah itu? Bagi saya, semuanya nampak aneh. Negara sedang membodohi warganya, menjadikan mereka sebagai pion dmei ambisi politik dan kuasa. Ketika warganya tewas, didirikanlah monumen sebagai tanda penghormatan. Namun, apakah keluarga yang hidup itu butuh kata hormat itu? 

Mereka yang gugur itu hanya menjadi monumen untuk dikenang bagi generasi selanjutnya. Mereka hanya menjadi barisan nama-nama yang tertera di museum. Mereka ditenggelamkan sejarah, sebab sejarah hanya mau mencatat para pemimpin mereka. Mereka terlupakan, dan menjadi obyek turisme bagi mereka yang datang demi untuk berpose dengan prajurit beku dan memajangnya di facebook. Sementara pengorbanan dan keikhlasan mereka menjadi barang mahal yang susah ditemukan di museum manapun. 

prasati perang Korea

Di kompleks itu, saya tidak terbawa gelora nasionalisme Amerika yang terjebak euphoria atas kemanangan. Saya sedang merenungi tragedi kemanusiaan berupa peperangan yang silih berganti. Entah, apakah para prajurit beku itu tengah bergembira ataukah tengah berbisik tentang syair sedih. Entah apakah setelah melihat prasasti itu, kita akan mengalami pencerahan, kemudian tergerak untuk membangun peradaban yang lebih sederhana, lebih humble, dan lebih memanusiakan zaman yang kian renta dan lelah berpacu dengan waktu. Ataukah kita hanya berpose dan mencatatnya sebagai kemenangan besar. Ataukah kita mencatatnya sebagai tragedi?


Athens, Ohio, 14 Februari 2012

apakah kebebasan adalah ketidakbebasan?
(foto: Rashmi Sharma)

30 Hari Mencari Masjid di Amerika Serikat

saat Aman Ali mengunjungi masjid kecil di Rhode Island

DAHULU, tokoh seperti Malcolm X berjuang dengan gigih agar kaum Muslim di Amerika Serikat (AS) tidak dipandang dengan rasis. Ia memimpin organisasi modern lalu melawan segala pandang yang merendahkan Islam melalui orasi yang menggetarkan dan membelah angkasa. 

Kini, puluhan tahun setelah Malcolm X berpulang, generasi baru Muslim Amerika masih memperjuangan hal yang sama. Namun, mereka lebih memilih bergerilya lewat dunia maya demi mengubah stereotype yang menghinakan itu. Mereka berjuang dengan cara yang amat kreatif, namun punya daya ledak yang tak kalah dengan pendahulunya. 

*** 

SOSOKNYA seperti aktor Will Smith. Hari itu, Sabtu (11/12), ia datang dengan mengenakan pakaian berupa jas dan topi. Ia selalu tersenyum ke sana kemari, sebelum akhirnya naik ke panggung dan menjadi salah satu pembicara. Di ajang konferensi Media That Matter 2012 di American University at Washington itu, ia memaparkan pengalamannya ketika mengampanyekan wajah Islam yang penuh kedamaian di negeri Paman Sam itu. 

saat Aman Ali emmpresentasikan 30 Mosques, 30 Days

Namanya Aman Ali. Ia pemuda Amerika, keturunan India. Sepintas, sosoknya biasa saja. Namun, ia dicatat oleh media sekelas CNN sebagai salah satu dari sedikit pemuda Muslim di Amerika yang memberikan inspirasi dan kedamaian. Berbeda dengan Malcolm X, ia tidak memilih cara-cara yang garang. Ia tidak memasuki labirin pemikiran filosofis dan menunjukkan di mana posisi pijak pemikirannya. 

Pria yang tinggal di New York ini memilih cara-cara yang sederhana, namun memiliki daya gedor yang dahsyat. Di zaman sekarang ini, cara-cara yang ideologis sering hanya dipahami mereka yang berumah di langit pengetahuan. Ia memilih cara berbeda. Dalam kehidupan sehari-hari, ia adalah seseorang yang bergelut dengan ranah hiburan dan komunikasi massa. Ia seorang komedian dan storyteller. Ia juga reporter yang pernah melaporkan badai Katrina serta upaya rehabilitasi korban di New Orleans hingga beritanya bergema ke Capitol Hill di Washington DC. 

salah satu pose
saat presentasi di depan Deplu Amerika

Ia mulai membuat heboh Amerika melalui seluruh saluran media sosial seperti facebook dan twitter. Ia menggugah nurani publik Amerika tentang indahnya Islam melalui program 30 Mosques in 30 Days. Program ini adalah program keliling 50 negara bagian selama 30 hari dan mencatatkan seluruh pengalamannya melalui blog kemudian di-link melalui facebook. Ia juga membuat tayangan dokumenter yang adegannya banyak dimuat di semua media besar. Total jarak tempuh perjalanannya adalah 25.000 kilometer. 

Nampaknya, cara ini tidak seberapa istimewa. Tapi ia menggalang kampanye melalui facebook, hingga berhasil menggugah nurani publik Muslim di Amerika yang berjumlah 1,8 juta orang. Kampanye itu bersambut. Blognya menjadi jembatan yang kemudian mempertemukan berbagai kelompok Muslim di Amerika sekaligus menjadi catatan penyaksian tentang kelompok Muslim yang sering menerima diskriminasi seolah semuanya adalah teroris. 

Pada setiap masjid yang dikunjunginya, ia membangun komunikasi dan jaringan serta kesepahaman agar umat Islam bersatu dan sama-sama menolak semua prasangka. Ia mulai menjadi komentator di CNN saat membahas masalah social, khususnya menyangkut realitas sosiologis umat Muslim. Aman Ali menghadirkan kedamaian, menjelaskan tentang prasangka yang terlanjur mengakar, sekaligus memberikan pesan tentang wajah Islam yang damai dan penuh kasih sayang. 


perjalanan Aman sebagaimana dimuat CNN

Itu ditempuhnya melalui cara sederhana, yakni melalui blog. Ia menjadi populer. Donasi mengalir dari mana-mana demi membiayai perjalanannya berkeliling masjid bersama sahabatnya Bassam Tariq. Hampir semua stasiun televisi besar seperti CNN, HBO, ABC News, dan NPR telah mengundangnya untuk membahas fenomena Islam. Ia juga pernah diundang Departemen Pertahanan AS demi mempresentasikan gagasan tentang Islam. Bahkan di situs seperti Youtube banyak ditemukan wawancaranya tentang fenomena Islam di Amerika. Saya mengaguminya. 

Dakwah Aman Ali tidaklah bergema di masjid-masjid atau pusat-pusat Muslim. Ia berdakwah melalui Facebook, melalui tulisan menyentuh di blognya tentang perjuangan kaum Muslim mencari identitas, melalui tampilan Islam yang jenaka, riang, dan selalu menebar senyum ke mana-mana. Ia menghadirkan sesuatu yang lebih bermakna, ketimbang pernyataan ideologis serta ikhtiar berjuang di garis depan pertempuran. Ia memasuki jantung media sosial, sebuah arena yang di dlaamnya ada pertarungan wacana dan gagasan, dan dirinya sukses membidik segmen tertentu. 

Motivasi 

Saat bertemu dengannya, saya berkesempatan untuk berbincang tentang apa yang sudah dilakukannya. Menurut Aman, inspirasinya datang ketika jelang Ramadhan. Saat itu, ia termotivasi untuk melakukan sesuatu agar prasangka terhadap Muslim bisa dikikis perlahan-lahan. 

“Kita orang Muslim adalah minoritas di sini. Kita sama tahu kalau warga kita dipersulit saat masuk bandara, dianggap sebagai teroris di mana-mana. Makanya, saya tiba-tiba terinspirasi untuk melakukan perjalanan mencari masjid selama 30 hari serta membagikan catatan perjalanan itu di semua situs media sosial.” 

saat saya bertemu Aman Ali di Washington DC

Ia lalu berkisah tentang pengalamannya tersebut. Mulanya ia hanya menulis status di Facebook. Ternyata gayung terus bersambut. Ia lalu membuat blog yang rajin memuat pengalamannya. Blognya lalu dikunjungi ribuan orang dalam sehari. Mulailah ia merencanakan sesuatu yang lebih serius tentang perjalanan mencari masjid lalu mengabarkan kondisi terkini umat Islam di negara yang mengklaim dirinya paling demokratis tersebut. 

Menurut Aman, citra Islam dirusak oleh sekelompok orang yang suka mengatasnamakan Islam, lalu menebar teror. “Analoginya sama dengan ketika kita sama-sama menghadiri sebuah pesta, namun ada seorang Muslim yang menumpahkan minuman ke karpet. Tiba-tiba saja semua Muslim dituduh melakukan hal yang sama. Kita dipaksa untuk minta maaf di mana-mana. Padahal itu ulah satu orang. Itulah yang saya rasakan selama ini. Makanya, berhentilah minta maaf sebab tindakan bodoh bisa dilakukan siapapun, dari agama apapun,” katanya. 

Saat saya tanya, apa rahasia utama untuk menyentuh nurani publik? Ia hanya menjawab singkat, “Lakukan sesuatu dengan penuh semangat. Lakukan dengan passion dan penuh keceriaan.” Aman memang sosok inspiratif. 


Yang saya kagumi adalah ia memilih cara-cara yang efektif melalui media massa dan situs jejaring sosial. Makanya, di ajang konferensi media yang dihadiri para sineas dokumenter serta praktisi komunikasi di Amerika, ia menjadi teladan yang memberikan inspirasi. Melalui aksi di media sosial, ia bertindak jauh lebih efektif, bisa menyentuh banyak kalangan, mulai dari yang muda hingga yang tua, demi menghadirkan wajah Islam yang lebih damai. 

Melalui pemuda seperti Aman Ali, kita akan melihat wajah yang penuh kedamaian penuh keceriaan, penuh kebahagiaan. Bukankah itu wajah yang mestinya ditampakkan seorang Muslim? 



Athens, Ohio, 14 Februari 2012

BACA JUGA:







Obelisk Mesir, Obelisk Amerika

Monumen George Washington

DI lapangan itu, sebuah obelisk berdiri kokoh eakan menantang langit. Ini bukan Mesir, yang kondang dengan piramida, bangunan limas, yang hingga kini terus memancing misteri itu. Di Mesir, obelisk adalah bangunan yang seolah menunjuk langit dan menjadi simbol pemujaan pada Dewa Ra, sang dewa matahari. Di sini, di tanah Amerika Serikat, obelisk adalah simbol monumen nasional, yang kemudian penanda atas kehadiran founding father George Washington. 

Mengapa harus obelisk? Saya menanyakan itu pada banyak orang, namun tidak menapatkan jawaban. Buat saya, obelisk bukanlah sesuatu yang lahir dari rahim kebudayaan Amerika. Obelisk adalah anak kandung peradaban Mesir kuno, yang kemudian diadopsi di tanah Amerika, lalu diberikan makna baru. Mungkin inilah yang disebut dinamika pertandaan. Dalam ranah semiotika, tanda selalu memiliki makna yang didefinisikan si pemberi tanda. Maknanya terletak pada siapa si pencipta simbol. 

Obelisk di kejauhan

Di Mesir, obelisk adalah simbol pemujaan atas dewa, tapi di Amerika, obelisk adalah simbol untk mengenang bapak bangsa yang kemudian menjadi presiden pertama. Pertanyaannya, dalam konteks Amerika, obelisk itu hendak mengatakan apa?


Athens, Ohio, 13 Februari 2012

Ke Washington, Aku Kan Kembali

Gedung Putih, kediaman Presiden Amerika Serikat

DESEMBER lalu, saya mengira kalau Washington DC adalah gadis molek yang hanya dikunjungi sekali. Saat itu saya berpikir, dengan padatnya jadwal akademik serta keharusan untuk menjalani aktivitas di kampus Ohio, nampaknya saya hanya bisa mengunjungi kota ini cuma sekali. Ternyata anggapan itu salah. Setidaknya untuk sekarang. Mudah-mudahan kelak saya akan terus merevisi anggapan ini. 

Jumat, 10 Februari 2012 lalu, saya memasuki ibukota Amerika Serikat (AS) ini. Saya bersama rombongan teman-teman dari Ohio yang ingin mengikuti konferensi Media Matters 2012 di American University at Washington DC. Rombongan saya terdiri atas dua warga Indonesia (termasuk saya), dua sahabat asal Kolombia, dua Vietnam, satu Jamaika, satu Ethiopia, satu India, satu Afghanistan, dan satu sahabat asal Jerman. Makanya, rombongan ini lebih mewakili keragaman asal geografis dan keragaman dalam melihat satu masalah. 

rombongan Ohio
suasana diskusi
di tengah peserta
seusai diskusi
Tadinya, saya tak punya keinginan untuk ikut konferensi. Namun setelah membaca temanya tentang pengaruh media, khususnya media social, saya tiba-tiba saja tertarik. Saya jadi ingin tahu lebih banyak tentang hal ini. Kebetulan pula, saya sedang membaca buku Futuretainment karya Mike Walsh. Saya jadi penasaran dengan fenomena media sosial ini. Apalagi, Amerika merupakan negara yang paling getol dengan trend baru ini, mendirikan banyak pusat riset tentang media sosial, serta penduduknya yang kemudian menciptakan, dan menjadikannya sebagai trend global ke mana-mana. Maka bertualanglah saya ke Washington DC untuk kedua kalinya. 

Kami berangkat dengan mobil yang dipinjam dari pihak kampus. Selanjutnya, kami menginap di sebuah hostel internasional bertarif murah di jantung kota Washington. Kamar-kamarnya berbentuk seperti barak tentara, di mana terdapat sekitar 10 ranjang di situ. Namun, dari sisi kenyamanan, kamar ini cukup standar. Apalagi, biayanya sangat murah untuk ukuran orang yang cuma datang dua hari demi mengikuti seminar. Konferensi ini dilakukan hanya sehari, yakni Sabtu.  Akan tetapi, waktu yang sangat singkat ini menjadi sangat efektif sebab materinya sangat menarik, memperteukan para sienas dan sponsor dokumenter, serta diisi dengan perbincangan menarik antar peserta. 

Saya sendiri sangat kagum dengan seorang pemateri Aman Ali, seorang Muslim asal New York, yang membuat dokumenter tentang perjalan selama 30 hari mengunjungi 30 negara bagian di Amerika demi mencari masjid. Saya tidak tertarik pada film dokumenter yang dibuatnya. Saya tertarik pada caranya mengorganisir para pembaca blog, kemudian membuat kampanye di facebook, sehingga donasi dari pembaca blog itu mengalir padanya. Saya kagum pada caranya memanfaatkan media social untuk meraih dukungan banyak orang. Saya kagum karena ia bisa berpikir sederhana, namun amat efektif. Kok selama ini saya tidak terpikirkan yaa? 

depan Lincoln Memorial
National Monument di kejauhan.
Sayang, kolam reflektif (reflective pond) sedang direnovasi
bersama Lady Lincoln
the frozen soldiers
depan Union Station
bis tingkat untuk tur keliling kota

Setelah konferensi, saya dan teman-teman lalu keliling-keliling. Kami berkunjung ke Lincoln Memorial, singgah ke White House demi menyapa Pak Obama (Sayang sekali karena pintunya tidak terbuka. Lagian, siapa sih kami? Hehe), lalu ke Capitol Hill atau gedung parlemen Amerika, dan berakhir dengan makan malam di Stasiun Union Street. Sebenarnya, saya sudah pernah mengunjungi tempat-tempat ini. Namun waktu perjalanan yang singkat, membuat saya tak punya banyak pilihan. 

Sungguh saya tak menyangka jika akhirnya saya kembali tiba di kota ini. Mudah-mudahan ini bukanlah kunjungan yang terakhir. Dulu, saya berjanji untuk datang kembali, meski saya tak begitu yakin. Ternyata janji itu membuat saya selalu kembali ke kota ini. Mudah-mudahan kelak janji itu menjadi mercusuar dan penanda yang akan menggiring kaki saya untuk selalu datang berkunjung dan melihat banyak hal-hal ajaib di kota ini. Semoga gadis cantik bernama Washington ini tak akan pernah jemu melihat kedatangan saya ke sini. Entah, boleh jadi di masa mendatang, saya bisa berumah di tempat indah ini. Who knows?



Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...