Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Dua Sahabat yang Mati Muda


KEMARIN, dalam sehari saya mendengar dua berita duka. Dua sahabat yang masih berusia muda meninggal dunia dengan alasan berbeda. Yang satu meninggal di Baubau karena ditebas oleh seseorang yang tak dikenal. Satu lagi meninggal karena sakit di Makassar.

Saya tidak begitu mengenal sahabat yang meninggal di Baubau. Tapi saya pernah mewawancarainya secara intens saat sedang menyusun karya ilmiah. Usianya tidak jauh berbeda dengan saya. Saya sedih saja mendengar bahwa ia meninggal karena ditikam seorang preman yang sama sekali tak dikenalnya. Pertanyaannya, mengapa harus ada yang tewas karena tindakan sekejam itu? Mengaa harus dirinya? Ah.., maut memang sering tak punya alasan ketika menjemput seseorang. Ia bisa saja menjemput seseorang di tempat tidur, atau di tepi jalan sekalipun. Dan kita manusia tak punya alasan untuk menampik. Itulah tragik yang dialami seorang sahabat di Baubau.

Satu lagi adalah sahabat di Makassar. Ia bekerja pada sebuah stasiun televisi lokal. Ia wartawan yang tangguh dan sering menembus medan-medan berat demi sebuah liputan. Saya dan dia satu angkatan saat belajar di Universitas Hasanuddin (Unhas). Saya cukup mengenalnya karena pernah melewati sekian tahun bersama-sama.

Sahabat ini memang pendiam. Namun ketika mengenalnya dengan akrab, ia adalah sahabat yang selalu ceria. Saya juga mengenal baik istrinya, yang dahulu pernah menjadi mahasiswa saya. Ia juga punya seorang anak yang masih berusia balita. Saya bisa membayangkan bagaimana perasaan istri dan anaknya.

Kehidupan memamg punya syair dan logikanya sendiri-sendiri. Hari ini kita bisa bersama seseorang dan tertawa bersama saat menjalani hari, keesokan harinya episode dan judul syair bisa berubah. Bumi hanyalah pijakan sementara, yang untuk selanjutnya semua orang akan bergerak menuju keabadian. Dalam usia yang amat singkat ini, kita seringkali ditanya apa yang sudah dilakukan buat orang-orang di sekitar kita?

Pertanyaan ini memang amat ambisius. Namun jawabannya juga sederhana. Kita hanya berefleksi dalam dri kita yakni seberapa banyak kita melakukan hal yang positif bagi sedikit orang. Minimal bisa menyisakan kenangan indah bahwa saat berpijak di muka bumi ini kehadiran kita tidak sedang membawa bencana bagi semesta. Minimal kita menikuti garis dan ketentuan semesta. Minimal kita menjadi bagian dari daur kehidupan yang terus menyempurna dan mencari bentuk terbaiknya. Minimal kita sedang belajar untuk menjadi yang terbaik, tak peduli seberapa terjalnya jalan menuju ke titik ideal tersebut.

Kehidupan ibarat dua sisi yang amat kontras. Hari ini kita sedih, esok bisa tertawa. Kemarin bisa gembira, hari ini bisa sedih saat mengingat segala jejak yang telah diwariskan. Dalam sunyi mencekam saat mengenang sahabat itu, saya tiba-tiba saja teringat kalimat seorang sahabat yang arif. “Wahai manusia. Ketika dirimu lahir, semua orang tertawa bahagia, dan dirimu yang menangis seorang diri. Maka berusahalah semampumu, sehingga ketika dirimu berpulang, semua orang menangisimu, dan dirimu seorang diri yang tertawa bahagia.”



Athens, Ohio, 31 Desember 2011
Saat baru bangun pagi

Melihat Aceh di NIAGARA

air terjun Niagara di perbatasan AS dan Kanada

Niagara adalah air yang menghujam di tepi tebing-tebing tinggi dan daratan di seberang sana yang tampak mengabur. Jutaan gallon air mengalir dalam satu wadah, bergerak mencari dataran rendah, hingga akhirnya menghujam turun dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Kabut air memenuhi pandangan sehingga mengaburkan pemandangan di seberang sana. Dari tepi Niagara, saya tak bisa memandang ke seberang. Hanya ada kabut putih dan samar-samar ada daratan yang nampak. Apakah Niagara adalah tepi langit?

***

PRIA itu bernama Xi. Ia adalah seorang pria yang berumah di perkampungan Suku !Kung di Gurun Kalahari, Afika. Pria yang hanya bercawat kulit kayu serta selalu menyandang busur ke manapun ia hendak pergi itu, menemukan sebuah botol coca-cola yang jatuh dari langit. Dalam film God Must Be Crazy, ia menganggap botol itu adalah properti kepunyaan dewa langit yang mesti dikembalikan.

Sebuah botol adalah tanda sebuah peradaban, sekaligus tanda yang secara kultural telah memosisikan Xi sebagai ikon keterbelakangan. Tapi Xi tak hendak tunduk dengan pendefinisan itu. Ia menjelajah dunia demi mendefinsikan makna botol tersebut. Ia melihat segala sesuatu dari lanskap berpikirnya. Ia lalu memulai perjalanan dengan satu misi yakni menemukan tepi langit, lalu membuang botol, demi sang dewa. Perjalanan itu adalah perjalanan yang mendewasakan dirinya sebagai prajurit satu suku bangsa di Afrika. Hingga akhirnya ia tiba di tepi Niagara.

Hari ini, saya pun tiba di tepi Niagara dengan ketakjuban ala Xi. Saya tidak membawa botol Coca Cola. Saya tak tahu hendak membuang apa di air terjun besar itu. Tapi saya mengenggam ketakjuban yang sama sebab melihat Niagara laksana tepian langit, tempat segalanya dilabuhkan. Di sore ini, tanggal 26 Desember 2011, saya akhirnya menyaksikan jutaan kubik air yang menghujam ke daratan sana. Suaranya gemuruh bagaikan sedang berteriak sekencang mungkin hingga menggetarkan mereka yang menyaksikannya. Niagara adalah raksasa air yang kekuatannya serupa hantaman dinding baja yang menjebol apapun yang dilewatinya. Sebagaimana Xi, saya pun hendak bertanya, inikah tepi langit tempat para dewa bersemayam?

poster film The Gods Must be Crazy

Mungkin Xi tidak keliru. Dongeng kuno bangsa Indian juga menuturkan kata Niagara sebagai ‘titik di mana bumi terbelah jadi dua’. Di masa kini, kita mudah saja mengaitkan makna dongeng itu dengan perbatasan antara dua negara yakni Amerika Serikat dan Kanada. Lantas, jika cakrawala kita sedikit menukik ke masa silam, apakah yang dimaksud bangsa Indian kuno dengan kata terbelah di sini? Apakah makna yang hendak diwariskan buat generasi yang suka menyebut dirinya modern?

Saya hanya bisa menduga-duga. Dulu, Musa –atas berkat Tuhan-- pernah membelah lautan menjadi dua. Tapi itu terjadi di Timur Tengah. Di Niagara, pernah ada legenda tentang dewa langit bangsa Indian yang bertahta di atas awan, dan kerap turun ke bumi dalam wujud binatang-binatang. Sesekali ia muncul sebagai elang rajawali, sesekali ia hadir sebagai beruang. Suatu hari, ia kemudian murka pada manusia hingga memberikan kutukan. Ia membelah alam menjadi dua hingga air memuncrat deras bagai air bah. Inilah prasasti agung tentang konsekuensi, saya lebih suka menyebutnya kutukan, atas manusia yang lalai pada alam dan abai pada dewa. Maka dewa yang memilih berumah di awan itu mengabadikan Niagara sebagai prasasti yang bisa diihat siapa pun anak manusia, keturunan generasi para perusak tersebut.

Saya sering termangu saat mendengar kisah-kisah hebat itu. Dalam segenap kisah-kisah tradisional itu kita sukar menemukan peta waktu yang bertaut hingga masa kini. Kita menemukan sebuah patahan, namun betapa pentingnya patahan itu untuk menjelaskan tafsir atas Niagara di masa kini. Melalui dongeng dan mitos itu, terbentang tafsir lokal atau eksplanasi tentang kejadian-kejadian yang jika ditautkan akan membentuk kosmologi bangsa Indian yang amat arif kepada alam.

Bangsa Indian melihat semesta sebagai sesuatu yang hidup, berdenyut, di mana manusia dan alam sama-sama tunduk pada Ruh Agung (the great spirit). Bangsa Indian adalah pembelajar abadi yang melihat Niagara sebagai prasasti peringatan para Dewa atas alam semesta di mana posisi manusia sebagai penjaga wibawa semesta. Dan para Dewa itu pun bisa mengutuk, membelah bumi, dan menenggelamkan manusia dalam air bah yang deras dan menggiriskan. Manusia sering mempermainkan air. Di tangan Dewa, air itu bisa jadi kekuatan dahsyat yang menelan semuanya. Apakah ini benar wahai Dewa yang bersemayam di langit?

air terjun Niagara

Hari ini, 26 Desember 2011. Saya tiba-tiba saja terkenang dengan tragedi yang pernah menikam tanah Aceh di tahun 2004 silam. Pada masa itu, saya tersentak saat melihat tayangan media di seluruh dunia memberitakan air bah yang mengalir derat. Air bah itu menyapu semua yang di depannya. Bangunan, kendaraan, monumen, patung, segala yang berdiri di atas bumi pada radius tertentu disapunya dengan rata. Tak cukup di situ, ribuan nyawa ditelannya, tanpa sedikitpun memberikan belas kasihan.

Air bah mengalir seperti pasukan malaikat maut yang menjemput semua nyawa. Di situ, semua dewa seakan bersatu dan mengamuk dengan kekuatan penuh. Dewa lamgit bangsa Indian bersatu dengan Poseidon dan melagukan syair pedih yang menyayat di Banda Aceh. Semua dilibas. Semua ditelan. Air bah tak peduli siapa dan apa yang ada di hadapannya. Bunyi gemuruh itu menghantam semuanya dan memperdengarkan suara laksana ribuan jerit yang membelah angkasa.

Nun di satu masjid kecil di kawasan Meulaboh, Aceh, terdapat suara lirih seorang anak kecil sedang mengaji. Suaranya kecil, namun seakan menembus seluruh benteng air bah yang hendak menjebol. Suaranya menembus segala bunyi gemuruh dan membukakan satu ruang yang menganga di jantung siapapun yang mendengarnya. Suaranya memang kecil dan tak ada artinya jika dibandingkan dengan air bah yang menggemuruh itu. Tapi suara lirih yang serupa bisikan itu serupa mantra Musa ketika membelah lautan. Air bah membelah dan menyisakan jejak berupa sebuah masjid kecil yang tegak berdiri dan di dalamnya terdapat bocah kecil sedang melafalkan bait-bait suci tersebut. Duhai Gusti Allah, apa yang sebenarnya hendak kau bisikkan atas gemuruh air tsunami serta tanda-tanda kuasa-Mu yang bertebaran di alam ini?

***

Niagara dan Aceh adalah prasasti abadi yang selalu mengetuk ruang-ruang kesadaran kita. Niagara hanyalah sebentuk air terjun biasa yang disaksikan sebagai atraksi wisata. Namun, Niagara menjadi simbol nyata tentang seberapa perkasanya air mengalir dan manusia hanyalah serpih kecil yang tak berdaya di situ. Niagara menyimpan potensi, sementara Aceh adalah sesuatu yang mengaktual. Kita menyaksikan dampak dahsyat itu di Aceh, di mana manusia hanyalah satu sekrup kecil yang tak berdaya di hadapan kekuatan alam. Kita bisa memelihara kesombongan, tapi di tengah air sehebat Niagara atau sedahsyat tsunami Aceh, kita bukanlah siapa-siapa. Kita hanya manusia yang rapuh dan kelak akan tersapu kehidupan.

Sore ini, 26 Desember 2011. Saya sedang mengingat tragedi Aceh dari tepi Niagara. Saya memandang ke seberang sana, di mana tepi langit itu mulai berkerlap-kerlip. Di sana telah berdiri sebuah kota yang terletak di Ontario, Kanada. Tak ada tepi langit di sana. Mungkin anggapan Xi keliru. Tapi, saya tiba-tiba saja melihat ada pelangi yang turun bagai garis dari langit dan langsung menuju ke tengah air terjun. What? Apakah ada Dewa Indian yang sedang melintas di situ?



Niagara, 26 Desember 2011
www.timurangin.blogspot.com

tim ekspedisi Niagara

Demo Indonesia di Amerika

PERNAHKAH Anda mengalami bagaimana merancang demonstrasi di Amerika Serikat (AS) tentang situasi di negerimu yang jauh sana? Saya sudah mengalaminya. Dua minggu silam, kami merancang aksi solidaritas untuk seorang aktivis Sondang Hutagalung yang tewas karena aksi bakar diri.

Apapun kata orang, saya mengagumi aktivis muda itu. Ia luar biasa sebab telah memilih jalannya, di saat banyak orang termangu dan tak tahu hendak melakukan apa. Ia tahu hendak melakukan apa dan pada saat bagaimana. Banyak yang menyebutnya konyol. Tapi saya tidak akan sebodoh itu dalam melemparkan tuduhan atasnya. Tindakan apapun yang dilakukan seorang aktivis adalah kerikil-kerikil yang kelak akan menggiring sebuah rezim ke tepi jurang kehancuran.




Mungkin kita terlampau lama dicuci-otak bahwa sejarah adalah sebuah letupan dahsyat yang menggetarkan alam. Kita sering menganggap bahwa bola sejarah digelindingkan para panglima perang atau para kaisar. Kita tak menghargai hal-hal yang dianggap kecil, namun amat menentukan bangunan besar bernama sejarah. Bangsa Indonesia pernah mengenal kata reformasi. Tak banyak yang menyadari bahwa reformasi itu justru disangga oleh sejumlah peristiwa sederhana baik itu menyangkut hak asasi manusia (HAM), keadilan, ekonomi, hingga hak-hak dasar warga negara. Semuanya dimulai dari satu peristiwa biasa, namun menjalar sebagai virus yang membangkitkan bara perlawanan di mana-mana. Maka pekik berkumandang. Revolusi lalu menjadi keniscayaan sejarah.

Demi menghargai aktivis muda itu, saya dan teman-teman menggelar aksi. Kami beruntung berada pada satu negara di mana semuanya dimudahkan. Di sini tak banyak prosedur atau izin kaku yang seringkali serupa pasung atas hak-hak demokratis sebagai warga. Saat itu, tujuan kami cuma satu yakni memberikan pengumuman bagi bangsa Indonesia bahwa kami di sini sedang memikirkan bangsa kami. Mereka harus tahu bahwa kami bukanlah sejumlah anak kecil yang hanya bisa duduk manis saat membahas negara. Kami ingin berbuat banyak, memberikan kontribusi, dengan langkah-langkah kecil yang kami miliki.

Demonstrasi itu akhirnya terlaksana dengan sukses. Kami hanya membentangkan spanduk, mengajak diskusi, dan saling berbagi pengalaman dengan siapapun yang melintas dan bertanya ada apa gerangan. Saya dan teman-teman amat bahagia karena merasa telah melakukan sesuatu yang kemudian menjadi wacana publik. Media sekelas Kompas, Seputar Indonesia, Okezone, hingga koran-koran lokal justru memberitakan berita itu. Kami hanya ingin menghangatkan bara diskusi sekaligus memberikan alarm bagi pemerintah kalau ada sesuatu yang salah di tanah air kita. Ada semacam praktik diskursif yang membuat wacana ini tenggelam dan dipelintir menjadi isu akidah. Maka betapa senangnya ketika media massa justru bersedia membantu kami.

Sungguh! Bukannya publisitas yang kami cari. Yang selama ini kami harapkan adalah wacana yang kami usung bisa didengar banyak pihak, menggugah wacana bahwa ada sesuatu yang salah di negeri ini. Kami hendak menyasar substansi, sesuatu yang mungkin selama ini diabaikan. Lewat substansi itulah kami menyatakan diri bahwa kematian Sondang bukanlah hal yang sia-sia. Ia tahu hendak melakukan apa dan saat bagaimana. Ia adalah martir yang mengorbankan dirinya untuk tegaknya nilai. Ia adalah lilin kecil yang ikhlas mengorbankan dirinya untuk sebuah nyala terang. Andaikan saya bisa bertemu dengannya, saya ingin bertanya, "Bisakah kamu mengajari saya agar berani dalam mengambil sebuah keputusan?"



Pittsburgh, 28 Desember 2011
Foto: Yazid Sururi

Tantangan Menulis di Winter Quarter


TEMAN-teman di Respect kembali menerbitkan buku. Kali ini buku berjudul Tafsir Ulang Sejarah dan Budaya Buton. Judulnya memang agak ambisius sebab seolah hendak menjawab banyak hal. Judul ini agak bombastis. Tapi saya justru salut dengan pemilihan judul ini. Sebab teman-teman telah memulai sesuatu yang tidak mudah, namun terus dilakukan secara spartan agar vitalitas kebudayaan Buton lebih terjaga.

Sejatinya, buku ini sudah lama selesai dicetak. Kalaupun baru diedarkan, ini semata disebabkan kendala teknis. Kami anak-anak muda yang sering ragu dan takut mengambil langkah. Kami amat hati-hati dan ingin memastikan bahwa apa yang kami lakukan tidak akan merugikan banyak orang, atau tidak merugikan satu pihak.

Melihat buku ini, saya tiba-tiba saja merasa kembali 'panas.' Saya ketagihan untuk menggarap sebuah buku dan tiba-tiba saja dibakar api semangat. Dalam proses seperti ini, apapun hasilnya jadi tidak penting. Sebab yang amat penting adalah proses ketika digarami semangat menulis, dibakar api semangat melahirkan karya, serta kebahagiaan ketika karya tersebut dipajang di toko buku.

Karya ini telah melecut semangat saya untuk menulis. Mudah-mudahan saya bisa menulis karya yang lebih serius di winter quarter ini. Semoga kado tersebut bisa jadi jejak pencapaian setelah pindah ke sini, tempat baru yang kian menantang buat saya. Saya memang merencanakan sesuatu yang berbentuk karya. Saya tak ingin terjebak dengan desain akademik di bangku perkuliahan. Saya ingin menyeriusi sejumlah proyek pribadi, mulai dari peningkatan kapasitas (membaca sebanyak mungkin), menulis di media massa (saatnya saya kembali menembus media-media cetak), serta membuat buku. Ini tantangan yang mesti saya wujudkan. 

Semoga Yang Maha Menggenggam tak henti melepaskan genggamannya demi pencapaian semua cita dan harapan di masa depan. Amin!

Di Tepi Manhattan


TAK ada yang istimewa dari foto ini, selain dari lokasi pengambilan gambar. Saya sedang berada di Manhattan, New York, saat ke tepi laut untuk menyeberang ke Ellis Island. Pemandangannya tidak banyak beda dengan kota-kota besar lain yakni gedung-gedung pencakar langit. Namun di New York, anda bisa menemukan banyak tempat yang berisi rerimbunan pohon-pohon, yang tidak saja menjadi oase atau penyedia oksigen bagi kota, juga menjadi ruang-ruang social, tempat warga kota bisa berinteraksi bersama. Inilah New York.

NEW YORK: Kota yang Luka

Patung Liberty (foto: Yuyun Sri Wahyuni)

DI siang cerah dan agak dingin itu, perempuan berambut pirang yang dipenuhi uban itu tengah berjalan bersama pria berusia lanjut di depan Natural History Museum, New York. Mereka lalu berjalan ke samping dan duduk mengaso di depan Planetarium yang tertutup kaca dan terdapat benda sebesar bola dunia di dalam gedung itu. Mereka menuntun seekor anjing kecil jenis pudel yang berwana coklat. Mereka lalu duduk di taman yang didedikasikan untuk mantan Presiden Theodore Roosevelt sembari membiarkan anjingnya berlarian ke sana kemari. Mereka nampak amat bahagia.

Saat ke taman itu, saya memberanikan diri untuk mengajak berbincang. “Anda nampak sangat bahagia. Apakah anda pernah merasakan kesedihan selama tinggal di kota ini?” Tiba-tiba saja, pasangan yang berusia sepuh itu lalu terdiam. Saya jadi merasa ada yang salah. Perempuan itu menatap kosong ke depan sembari berkata, “Aku sudah puluhan tahun di sini. Terlampau banyak peristiwa sedih di sini. Salah satunya adalah runtuhnya menara kembar WTC. Aku menyaksikannya. Tapi aku harus bangkit dan menatap ke depan bersama anak cucu,” katanya. Saya tertegun.

Dua minggu lalu, saya menginjakkan kaki di kota New York. Saya merindukan kota ini sejak lama. Sewaktu belajar di sekolah dasar (SD) di satu desa kecil di Pulau Buton, almarhum ayah pernah bercerita bahwa New York bukan hanya kondang karena patung Liberty. Bukan juga karena sejarah masa silamnya yang pernah diklaim oleh Belanda. New York adalah kota yang menjadi saksi hidup atas perang pertama dalam revolusi Amerika setelah deklarasi kemerdekaan (declaration of independence) dikumandangkan. Perang antara Amerika dengan induknya Inggris inilah yang melambungkan nama pria kaya asal Virginia yang kemudian menjadi komandan perang dengan strategi intelijen jitu. Pria itu adalah George Washington, yang kini wajahnya selalu saya temukan dalam setiap lembar satu dollar.

memandang New York dari atas kapal

Perempuan di taman itu telah menggiring saya pada jalinan kisah panjang kota ini sebagai saksi dari aneka peristiwa. Mulai dari perang revolusi Amerika atas Inggris yang menelan ribuan korban jiwa, hingga perang di abad ke-21 yang amat menggoncang jiwanya, saat sebuah pesawat menabrak menara kembar WTC yang kemudian membuatnya luluh lantak hingga menewaskan sekitar 3.000 jiwa. Semuanya menjadi nestapa yang bukan saja meninggalkan memori buruk atas kota ini, namun menjadi pengalaman traumatik yang bisa perlahan menikam warga kota. Ajaibnya, warga kota ini justru bisa bangkit kembali dan menata kehidupannya dengan lebih baik.

New York laksana gadis yang selalu menjaga kemolekannya. Sejatinya ia berusia tua, sebagaimana perempuan yang saya temui di taman itu namun selalu nampak fresh sebab tak pernah lelah berdandan. Saat berkeliling di situ, saya menyaksikan kota yang megah, modern, dengan gedung-gedung pencakar langit. Saat menelusuri Manhattan, saya selalu tersadarkan bahwa saya sedang menelusuri sebuah dunia yang amat jauh berbeda dengan kota kecil Athens di Ohio, tempat saya berumah. New York adalah kota tua yang terus berbenah hingga menjadi kota yang amat cantik bagi siapapun yang memandangnya. Di kota ini, saya mengunjungi museum, kemudian duduk santai di Central Park, semacam hutan kota yang amat luas di jantung kota. Saya juga menyempatkan diri untuk singgah menyaksikan Patung Liberty yang kesohor itu. Di malam hari, saya dan para sahabat singgah ke Times Square yang masyhur sebagai tempat nongkrong dan dikitari banyak gedung pagelaran tater Broadway. New York memang mempesona.

Pengalaman bertemu perempuan tua di taman itu membuat saya susah tidur selama beberapa hari. Saya membayangkan kalimatnya yang mengatakan bahwa dirinya teah menyaksikan aneka tragedi yang menghantam kota ini. Kota ini memang kerap disebut “The Wounded City” yang jika diterjemahkan secara bebas bisa bermakna “kota yang luka.” Istilah ini saya temukan saat membaca tulisan Georgina Kay berjudul The Resilient City, New York after 9/11 and the New WTC Designs. Tulisan itu dimuat dalam karya JM Nas berjudul Cities Full of Symbol, yang diterbitkan Leiden University Press tahun 2011 (kebetulan, saya punya versi PDF buku ini. Tertarik untuk baca?).

Istilah “The Wouded City” ini sangat tepat sebab amat dekat dengan tragedi ribuan jiwa yang tiba-tiba tewas terkena reruntuhan bangunan serta ancaman bom yang silih berganti. Kota ini menyimpan banyak bekas luka yang menjadi jejak tentang tragedi, tentang peristiwa dahsyat yang pernah melanda kota ini.

Ground Zero atau Memorial 9/11
pemandangan di malam hari (foto: Rashmi Sharma)
air terjun menuju bumi (foto: Rashmi Sharma)
prasasti nama-nama di sekeliling air terjun

Bersama sahabat –sesama petualang dari Athens--, saya lalu berkunjung ke Ground Zero, yang dulu menjadi tempat berdirnya menara kembar. Di bekas bangunan tersebut terdapat sebuah prasasti yang disebut Memorial 9/11. Di tanah persegi yang dahulu terdapat bangunan, telah dibangun dua buah kolam besar yang merefleksikan jejak menara kembar. masing-masing memiliki air terjun setinggi 30 kaki (9 meter) yang mengalir deras di setiap sisi. Di sekeliling kolam itu terdapat batu hitam yang di atasnya terdapat pahatan nama-nama sebanyak 2.983 korban dalam serangan tersebut. Juga terdapat 1993 nama yang ditulis di atas perunggu.

Sang desainer Michael Arad menginginkan memorial yang dikelilingi 400 pohon ek ini sebagai tempat warga New York berkumpul. Ia menggambarkan prasasti itu sebagai sebuah bekas luka. "Ini bekas luka, dan bekas luka yang sementara sembuh," katanya kepada New York Daily News. "Ini bukan bekas luka yang kita sembunyikan. Itu hanya bagian dari hari-hari kehidupan kota," tambahnya.

Saya menemukan optimisme serta pengharapan dari kalimat ini. Ini menunjukkan kemampuan bertahan dari setiap tragedi dan ingatan traumatik yang seringkali serupa hantu masa silam dan mencekik kita di masa kini. Dengan memilih tema air terjun serta lubang persegi di dasarnya, saya menangkap simbol bahwa semua yang pernah berdiri di situ akan kembali ke bumi, kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Sementara air dan pohon-pohon menjadi simbol kehidupan yang terus bersemi dan kelak akan menyatu dengan air terjun itu dan menuju ke pelukan bumi. Mungkin memorial ini dimaksudkan untuk mengingat sekaligus merenungi hakekat kehdupan yang selalu terus berputar dan mengikuti daur tertentu (life cycle).

Di hadapan memorial itu, saya merenung. Yang menakjubkan bukanlah memorial ini. Tapi daya tahan warganya saat harus mengingat semua tragedi, menjalani hari-hari yang diliputi suasana mencekam, hingga kemampuan membaca masa depan, sebagaimana yang telah digariskan dalam visi masing-masing individu. Kehidupan memang terus berjalan, namun alangkah bijaksananya jika kita bisa mengenyam lapis-lapis hikmah dari masa silam, bahkan pada kejadian yang paling pahit sekalipun.

Saya langsung teringat tentang negeri saya yang jauh di sana. Negeri saya jauh lebih perkasa sebab sejak pertama didirikan sudah berkarib dengan kekerasan dan tragedi. Bukan hanya tragedi karena peperangan, namun juga tragedi karena kejahatan negaranya sendiri yang sering memosisikan rakyatnya sendiri sebagai tameng musuh. Tapi rakyat negeri saya jauh lebih perkasa dari pemerintahnya sendiri. Mereka tidak hendak larut dalam kesedihan bertahun-tahun. Mereka tak hendak menuntut negara atas tragedi dan kekerasan yang dialami. Mereka terus bergerak dan menorehkan jejak kehidupan dengan segala energi terbaik yang dimilikinya. Merekalah pahlawan sesungguhnya negeriku.(*)



Athens, Ohio, 23 Desember 2011
www.timurangin.blogspot.com

tim petualang Athens saat di depan White House


Kisah Aktivis Petani di Amerika

produk lokal di Athens

PRIA itu bernama Tom. Wajahnya dihiasi cambang lebat yang mulai dipenuhi uban. Ia nampak berumur. Siang itu, ia sengaja datang dan duduk di tengah-tengah bar Casa Nueva di Court Street, Athens, Ohio. Bersama rekannya yang juga hadir dengan jenggot lebat, ia mendiskusikan tentang pertanian organik serta upaya meningkatkan nasib petani di Amerika Serikat (AS).

Ia memang berapi-api saat membahas petani. Matanya seakan menyala pertanda dirinya menggemari topik tersebut. Maklumlah, lebih 20 tahun hidupnya dihabiskan untuk mengadvokasi para petani dan mengampanyekan produk lokal melalui lembaga Ohio Foodshed. Ia memang tidak muda lagi. Tapi tidak dengan semangatnya. Bersama rekan-rekannya, ia menjadi harapan bersemi bagi petani lokal di Ohio dan sekitarnya.

Kurang lebih 20 tahun silam, ia lulus dari Ohio University (OU). Namun ia lebih memilih bekerja dengan petani. Katanya, kuliahnya di bidang sains tidak begitu diminatinya. Ia jauh lebih menikmati upaya mengorganisir petani, memperkaya pengetahuan dengan belajar bersama komunitas, hingga memecahkan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat lokal. Kedengarannya sangat heroik. Tapi ia menganggap itu sebagai pilihan hidupnya.

bersama Tom di Casa

Hari ini, saya datang menemuinya bersama sahabat Iqra Anugrah dan Rashmi Sharma. Kami sama-sama tidak mau terjebak dengan rutinitas akademik sehingga menjalin pertemanan dengan banyak pihak. Kami datang setelah membaca undangan untuk berdiskusi tentang pertanian dan gerakan mempromosikan makanan lokal (local food movement). Saya tak begitu tertarik dengan pertanian. Namun saya sangat tertarik dengan dinamika manusia-manusia di balik ranah tersebut. Dinamika yang membuat mereka bertahan hidup, berbuat sesuatu bagi masyarakatnya, serta daya tahan menghadapi kebijakan yang tak mendukung mereka.

Saya memang cukup dekat dengan beberapa petani. Saya mengenal Jeff, seorang petani labu (pumpkin) yang selalu bersedia untuk tukar pikiran tentang dunianya. Belakangan, saya juga mengenal beberapa orang aktivis petani yang rajin mempromosikan produk lokal. Salah satu di antaranya adalah Tom. Persahabatan dengan mereka telah membuat saya menilai Amerika dari perspektif berbeda, yang sering dilihat salah kaprah oleh kita yang berumah di luar negara ini.

Tak banyak yang tahu kalau Amerika Serikat (AS) bukan sekadar negara industri maju. Imajiku tentang negeri ini adalah mesin-mesin industri modern dengan teknologi canggih serta mesin peperangan. Tapi setelah berumah di Athens, aku mengambil kesimpulan kalau negeri ini sesungguhnya adalah negeri pertanian di mana warganya menggantungkan hidupnya pada tanah subur yang menumbuhkan tanaman untuk kemudian dikonsumsi dan dinikmati banyak orang.

Tom berkisah kalau dirinya kerap berinteraksi dengan orang-orang Amish, kelompok religious yang hingga kini masih mempertahankan pertanian tradisional. Katanya, populasi Amish yang terbesar di AS dalah di Ohio. Inilah sebab mengapa ia sering berinteraksi dengan mereka. Orang Amish menolak penggunaan listrik dalam kehidupan sehari-hari, dan tetap setia dengan mekanisme pertanian tradisional. Tom membantu warga Amish -yang rata-rata adalah petani– untuk mempromosikan produk mereka sehingga bisa terserap oleh pasar.

Tom menjelaskan dinamika gerakan mempromosikan makanan lokal. Ternyata, para petani di AS juga berhadapan dengan kepungan globalisasi serta tekanan industrialisasi dalam hal makanan. Kata Tom, kebanyakan produk pertanian yang beredar di pasaran adalah produk impor yang sesungguhnya sangat jauh dari standar kesehatan. Produk tersebut membanjiri pasar sehingga mengancam penghasilan para petani lokal. Inilah sebab mengapa ia dan rekan-rekannya lalu berinsipatif membuat gerakan sosial.

salah satu pelatihan bagi petani
kampanye produk lokal

“Apakah kamu tahu bahwa makanan yang setiap hari kamu beli di toko dan pasar itu justru tidak sehat?” tanyanya. Saya lalu mengangguk. Ia semakin bersemangat menjelaskan mengapa produk lokal sangat penting. Ia menjelaskan pengalamannya mengorganisir petani, membuat program yang mempertemukan mereka dengan para pembeli (buyer), hingga membuat daftar toko yang menjadi rekanan dan menjual produk lokal dari para petani. Di antara daftar yang menjadi rekanannya, terdapat nama Kroger, pusat belanja produk sehari-hari yang amat kondang di Ohio.

Cara kerjanya adalah membangun sebuah lingkaran saling ketergantungan antara petani atau pekebun dengan masyarakat lokal. Hasil perkebunan lalu dipasok ke semua restoran, selanjutnya ampas yang telah digunakan kembali ke petani untuk diolah menjadi pupuk organik. Demikianlah mata rantai yang dibangun. Seorang teman memberitahu kalau kafe yang sering kami singgahi yakni Donkey juga membangun jaringan (network) dengan para petani kopi. Petani memasok kopi, selanjutnya ampas kopi akan dikembalikan ke petani sebagai pupuk. Bukankah ini simbiosis mutualistik yang sangat apik?

Menurut Tom, kemitraan atau jaringan hanyalah satu aspek dari gerakan yang mereka bangun. Gerakan yang memiliki moto Local Food for Local People itu memiliki beberapa program yakni mempertemukan pekebun atau petani dengan produsen, pasar petani (farmers market), lelang produk, relasi dengan restoran, community gardens, toko-toko yang menjajakan produk, rumah hijau (greenhouse), pengorganisasian, komunitas masyaakat yang menopang pertanian (dalam bahasa kerennya Community Supported Agriculture).

Yang membuat saya tercengang adalah saat ia mempresentasikan apa yang dilakukannya untuk mempromosikan pasar lokal. Ia menunjukkan data yang dihimpun dengan sangat detail, termasuk statistik kunjungan ke pasar tersebut. Ia bisa menghitung sejauh mana dampak kegiatan yang telah mereka lakukan, termasuk rekomendasi apa saja yang akan dikerjakan. Saya mengagumi cara kerja yang sedemikian teliti dan mencengangkan tersebut. Mungkin cara kerja ini bisa diterapkan oleh gerakan sosial di tempat lain demi menguatkan basis data serta bekerja dengan lebih terukur dan professional.

Hari ini, saya belajar banyak dari Tom. Semoga ia tak lelah untuk membukakan pengetahuannya yang luas tentang dunia yang sedang digelutinya. Semoga ia bisa menjadi inspirasi banyak orang, termasuk para petani di Indonesia.(*)


Athens, Ohio, 21 Desember 2011

Selamat Datang Abdul Hakim

Akhirnya sahabat Abdul Hakim tiba juga di Athens, Ohio. Semalam, saya melihat momen mengharukan ketika dirinya tiba-tiba saja tersungkur dan sujud syukur saat menginjakkan kaki di tanah Athens. Ia telah melampaui perjalanan yang sangat panjang. Tiga bulan lalu, saya dan dirinya sudah menggenggam tiket keberangkatan.

Saat itu, kami amat bahagia. Jelang Lebaran, kami lalu mendatangi rumah mantan Wapres Jusuf Kalla. Kami bertemu banyak tokoh penting negeri ini pada acara silaturahmi dan buka puasa dnegan beliau. Hakim lalu berfoto dengan banyak orang penting, sambil memperkenalkan diri. Saya masih ingat saat ia berjabat tangan dengan Anis Baswedan. Ia lalu berkata, “Bang, minggu depan saya akan ke Ohio.” Anis memberi ucapan selamat. Ternyata minggu depannya, justru dirinya yang tidak berangkat. Sementara saya yang sejak awal malah adem-ayem justri berangkat ke Amrik.

Dirinya lalu tertahan di Indonesia. Apakah ia jenuh? Pasti. Selama tiga bulan, ia hidup dalam keadaan waswas dan tak menentu. Beberapa kali pihak sponsor menyatakan bahwa dirinya tidak akan berangkat. Visanya tertahan. Saya dan sahabat Yazid lalu melobi professor berpengaruh untuk menjamin agar visanya segera keluar dan berhasil. Seseorang di pihak sponsor bilang kalau kampus tidak menerimanya. Saya dan teman-teman di Ohio lalu menggalang dukungan untuk membantunya. Kami menelusuri beberapa sudut kampus ini untuk memastikan apakah ia diterima ataukah ditolak.

Hidup memang penuh keajaiban, khususnya bagi yang percaya dengan keajaiban tersebut. Kami di Ohio sangat mempercayainya. Demikian pula dengan Abdul Hakim. Apapun yang terjadi, kami tetap yakin bahwa selalu ada jalan terang untuknya. Hingga akhirnya setelah beberapa kali bernegosiasi dan melobi, kami mendapatkan titik terang yang kemudian menjaga pelita harapannya.

Malam ini ia sudah tiba di Athens. Kami semua larut dalam nuansa emosional yang dalam saat melihat dirinya tersungkur karena bahagia. Saya lalu membayangkan masa-masa stress saat membantunya. Untuk pertama kalinya saya dan teman-teman merasa sukses mengadvokasi satu persoalan. Mungkin kontribusi kami tak seberapa. Tapi setidaknya kami telah menjaga harapan Abdul Hakim agar tetap menyala redup sehingga menjadi jalan penuntun baginya untuk tiba di Athens.

Hari ini, saya ikut larut dalam kebahagiaan saat melihatnya mencium tanah Athens. Selamat datang!

Menelusuri Stasiun Bawah Tanah Washington

kereta bawah tanah atau subway di Washington DC

SATU hal yang cukup mencolok dan membedakan antara kota-kota besar di Amerika Serikat (AS) dan kota besar di Indonesia adalah penataan sarana transportasi yang sangat baik. Selama menelusuri kota Washington dan New York, saya belum pernah menyaksikan kemacetan panjang.

Ini disebabkan adanya subway atau kereta listrik yang berseliweran di bawah dua kota tersebut. Karcisnya juga bisa dibeli di mesin (serupa mesin ATM) di setiap stasiun, sekaligus mudah untuk mengisi pulsa di tempat tersebut. Nyaman khan?

Bagi yang pertama memasuki dua kota ini, maka hal pertama yang mesti dilakukan adalah miliki peta kota. Anda tak perlu membelinya di toko buku. Cukup mengecek beberapa situs di internet, kemudian men-download-nya dengan mudah. Saya sendiri cukup meng-copy peta dari google, kemudian menjadikannya sebagai kompas saat menelusuri kota. Peta itu membantu kita untuk menentukan lokasi di mana kita hendak bepergian. Selanjutnya yang dibutuhkan adalah peta jalur subway atau kereta bawah tanah. Anda mesti memperhatikan dengan baik ke mana anda hendak bepergian, serta apakah bisa dijangkau dengan subway ataukah tidak.

suasana di stasiun bawah tanah
bersama Iqra Anugrah
suasana di dalam kereta

Di Washington dan New York, kereta bawah tanahnya punya banyak stasiun dan menghubungkan titik-titik strategis di kota itu. Ke manapun kita hendak pergi, kita akan mudah menjangkaunya dengan kereta tersebut. Bahkan di New York, kereta itu juga bisa menghubungkan atar pulau. Saya menyaksikan sendiri bagaimana kereta tersebut melewati jalan di bawah jembatan demi menjangkau pulau terdekat.

Inilah sebab mengapa kota-kota itu tidak pernah mengalami kemacetan. Kita jarang melihat antrian enderaan serta penumpang di tepi jalan. Sebab semua penumpang bergegas masuk ke bawah tanah dan menunggu kereta di situ. Di kota ini, memiliki mobil pribadi justru menelan ongkos yang mahal. Anda mesti menyiapkan dana besar untu biaya parkir. Tak semua tempat bisa menjadi lahan parkir. Anda juga mesti siap dnegan asuransi serta biaya ekstra saat harus mereparasi mobil. Biayanya bisa sama dengan membeli mobil baru.

Pantas saja jika warga Washington dan New York justru sangat menikmati keberadaan subway atau kereta bawah tanah tersebut. Mereka bebas ke mana-mana dalam waktu yang relative singkat.

Saat menjajal kereta tersebut, saya selalu berpikir, jika mungkinkah trasportasi massal jenis subway ini diterapkan di Jakarta? Mungkin tidak. Ketika Jakarta banjir, maka ruang bawah tanah itu akan jadi kolam besar yang menenggelamkan semua kereta. Wihh.. Kok saya jadi ngeri?

Buku Gratis di Kantor World Bank

satu sudut kantor World Bank (foto: Yuyun)

BEBERAPA tahun silam, saya mengikuti demonstrasi yang dilakukan untuk menentang keras keberadaan Bank Dunia (World Bank). Saya tak terlalu paham apa yang terjadi. Tapi dalam berbagai literatur tentang pembangunan, Bank Dunia kerap dituding sebagai biang kemiskinan negara dunia ketiga. Benarkah?

Konon, Bank Dunia adalah instrument yang dibangun oleh negara maju untuk melakukan penghisapan kepada dunia ketiga. Bank Dunia memberikan pinjaman dengan tarif tertentu kepada negara berkembang, kemudian menagihnya secara periodik. Sebagaimana adagium bahwa tak ada sesuatu yang gratis, maka Bank Dunia kerap meminta agar ada langah-langkah ekonomi dan politik yang ditempuh sesuai skema yang mereka susun. Maka dimulailah mata rantai penindasan dan ketergantungan.

bersama teman-teman di depan World Bank (foto: Rashmi Sharma)

Saya terseret arus berpikir yang melihat Bank Dunia laksana setan yang menjarah. Sejak dulu, saya penasaran seperti apakah sekretariat lembaga yang berdiri sejak 27 Desember 1945 tersebut dan ketap menjadi sasaran kritik para aktivis. Makanya, ketika singgah ke Washington DC, saya menyempatkan diri berkunjung ke markas Bank Dunia. Saya ingin melihat langsung jantung imperium ekonomi tersebut.

Dan ketika berkunjung, saya tak menemukan jejak pengisapan tersebut. Bangunan Bank Dunia adalah bangunan bertingkat yang tak terlalu menyolok jika dibandingkan gedung sekitarnya. Saat masuk ke dalam, saya menjalani pemeriksaan yang cukup ketat. Tas diperiksa. Seorang satpam bertanya-tanya tentang siapa yang hendak ditemui di gedung itu. Ketika kita tak bisa menyebutkan hendak bertemu siapa, maka dengan segara akan dilarang masuk ke gedung tersebut.

Saya tak jadi masuk ke dalam. Saya lalu singgah ke toko buku dalam kompleks gedung tersebut. Di sinilah saya banyak menyaksikan buku-buku tentang kemiskinan yang kemudian banyak dipakai sebagai formula untuk menyelesaikan problem di negara berkembang. Uniknya, banyak buku di toko itu yang dibolehkan untuk dibawa pulang secara gratis. Saya tak terlalu tertarik untuk memilikinya. Saya membayangkan tas saya yang kecil dan agak berat itu akan dipenuhi buku-buku.

Ketika hendak beranjak, saya agak tersentak ketika melihat tumpukan CD musik. Salah satu CD bergambar seorang pria berbaju Makassar dan terdapat tulisan Tradisi Musik Makassar. Saya lalu menemui kasir dan bertanya, “Apakah CD musik di situ juga gratis?”

Washington DC: Kota yang Muram

Washington Monument

KISAH sebuah kota bukan sekadar kisah tentang keperkasaan dan kejayaan. Kisah sebuah kota adalah kisah tentang manusia-manusia yang saling berdinamika dan mencari keseimbangan. Di situ terdapat manusia-manusia yang saling bersaing dan berebut ruang dalam kota. Bahkan pada ibukota sebuah negeri digdaya seperti Amerika Serikat (AS).

Seminggu silam, saya berkunjung ke Washington DC bersama para sahabat yakni Eka, Eli, Yuyun, Rashmi, dan Iqra. Kami memasuki kota ini setelah sebelumnya berkendara dengan menggunakan bus Greyhound dari Pittsburgh dan Colombus. Kami sama-sama belum pernah berkunjung ke kota ini. Kami sama-sama diikat oleh hasrat petualangan serta penjelajahan di jantung negeri Paman Sam ini. Berbekal secarik peta yang di-print lewat internet, kami berkelana dan menelusuri jalan-jalan kota ini.

Tentu saja, kami tidak ingin berfokus pada keindahan dan keanggunan yang nampak. Kami ingin menembus jantung kota ini, melihat denyut nadi dan aliran darah, serta menyaksikan langsung bagaimana sel-sel yang ibarat keping telah menyusun bangunan kota ini. Kami bertualang dengan dana pas-pasan demi melihat langsung sisi lain sebuah kota, yang selama ini tidak terungkap ke publik, namun eksis sebagai bagian dari sejarah masa kini.

Kami memasuki kota ini di tengah gerimis. Kami singgah beristirahat di stasiun Amtrax. Saat itu, seorang pria datang mengajakku berbincang. Ia sok akrab. Saya menjawab sekenanya. Ia memakai pakaian lusuh serta memegang sebuah buntalan plastik berisikan pakaian. Nampaknya, ia bersama beberapa temannya tidak punya tempat tinggal. Di Amerika, mereka disebut homeless yakni mereka yang menggelandnag di jalan-jalan. Pertemuan dengan pria ini menjadi awal bagiku untuk melihat langsung sesuatu yang tidak banyak terungkap ke mata publik. Inikah wajah Amerika Serikat?

white house, kediaman Presiden AS
saat di kereta bawah tanah atau subway
old post office bulding

Jalan-jalan kota ini tidak begitu lebar. Gedung-gedung juga tidak seberapa tinggi. Jantung kota ini adalah gedung Capitol Hill yang menjadi simbol politik AS. Aku melihat kubah yang berbentuk bulat, serupa kubah masjid, atau serupa pula dengan kubah Synagog kaum Yahudi. Di puncak kubah itu terdapat patung perempuan sebagai lambing kebebasan. Pematung Thomas Crawford, seorang pencinta wanita yang rela dibakar oleh rasa kecintaannya, meletakkan patung itu sebagai wakil dari kebebasan yang meluap-luap. Apakah wanita identik dengan kebebasan?

Di hadapan gedung itu, terbentang luas sebuah padang rumput luas yang menuju ke sebuah monument bernama Washington Monument. Monumen ini berbentuk obelisk, yang merupakan anak kandung kebudayaan Mesir. Beberapa teman Indonesia menyebutnya monas, sebab bentuknya serupa Monas yang berupa tiang tegak yang menjulang tinggi. Tapi gak mungkin jika bangunan ini meniru Monas. Sebab bangunan ini berdiri sejak tahun 1840 yang bertujuan untuk mengenang nama George Washington sebagai bapak republik dan pendiri negara (founding father) Amerika Serikat. Pertanyaan yang menggelayut dibenakku, mengapa harus berbentuk obelisk? Mengapa tidak mengambil bentuk yang digali dari ranah kebudayaan Amerika sendiri? Bukankah bangunan-bangunan suku Maya cukup perkasa untuk menjadi inspirasi bagi pembuatan monument?

depan Lincoln statue
Takjub melihat itu, saya lalu menyusuri padang rumput dengan kolam di tengahnya. Menurut petunjuk yang tertera di sekitar, kolam itu bernama Reflective Pond. Kolam ini berbentuk bujur sangkar dan menghubungan tugu obelisk itu dengan bangunan bsar bernama Lincoln Memorial. Bersama teman-teman, saya bergerak menuju Lincoln Memorial dan menyaksikan patung Abraham Lincoln.

Saya membayangkan bahwa di sorot mata pria ini terhampar kasih sayang pada bangsa kulit hitam hingga menjadikan dirinya sebagai martir pada tahun 1865. Ingin rasanya kutembus sorot mata itu dan mengurai sejarah perbudakan bangsa AS, sejak kedatangan imigran Inggris hingga datangnya kapal May Flower yang membawa kaum berkulit hitam dari Afrika. Betapa besar hasratku untuk menelusuri jejak perbudakan yang kemudian dihapus dengan berdarah-darah oleh Lincoln, Presiden AS terbesar sepanjang masa yang tumbuh dalam balutan kemiskinan di Kentucky dan Indiana di tahun 1818.

Terdapat banyak bangunan di Washington DC yang bertujuan untuk melestarikan ingatan atas sosok presiden. Tak hanya Lincoln Memorial, ada pula Thomas Jefferson, Kennedy, hingga Benjamin Franklin. Para presiden tersebut dibuatkan memorial sehingga pemikiran mereka tetap abadi dalam sejarah. Dalam beberapa literatur yang kubaca, setiap pendirian patung, monument, maupun bangunan raksasa tak pernah bisa dilepaskan dari bekerjanya politik ingatan. Setiap bangsa akan mendirikan monumen demi melestarikan ingatan tertentu atas atas satu sosok, satu kejadian, satu tempat, atau satu kepingan kenyataan melalui bangunan-bangunan.

Kita bisa saja mengatakan bahwa para presiden tersebut diposisikan serupa para rahib yang ajarannya diabadikan dalam kitab, sosoknya diabadikan dalam arca, dan diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi sesudahnya. Kita juga bisa menelaah bahwa sejarah bangsa Amerika dimulai dari periode ketika para presiden hadir. Sebelum itu, sejarah mereka tidak punya satu catatan penting atau tidak terdapat satu peristiwa yang bisa memberikan inspirasi bagi bangsa Amerika. Yup. Inilah dinamika atau politisasi sejarah. Maafkan karena diri saya belum sanggup mengeksplorasi gagasan ini ebih jauh. Setahuku Eric Wolf, penulis buku Europe and the People Without History yang bisa menjelaskan apa yang terjadi di sini.

Occupy Washington

pengemis yang tinggal di sela-sela bangunan
tenda kaum miskin dalam gerakan Occupy Washington
bersama dua kaum miskin yang menanti jatah makan
tenda-tenda aksi yang juga ditinggali
saat saya di salah satu tenda

Kota ini menyimpan banyak symbol kejayaan dan kehebatan. Apakah semua pemandangan yang tersaji di sii adalah tentang kehebatan? Sepertinya tidak. Saat melintas di depan Ronald Reagen World Center, kami melihat sebuah lapangan luas yang diisi tenda-tenda para penggiat gerakan Occupy Washington. Di tenda itu terdapat banyak para pelaku gerakan social dan kaum miskin yang sedang menuntut hak-haknya. Mereka menyebut dirinya kaum 99 % sebagai simbolisasi bahwa mereka berasal dari kelompok mayoritas negeri itu yang menuntut haknya atas golongan 1 % yang menguasai ekonomi. Mereka meneriakkan kegeraman pada ekonomi yang disebut-sebutnya sebagai biang dari kemiskinan warga.

Kali ini, bertambah lagi konsepsi saya tentang negeri ini. Kejayaan dan kemegahan hanyalah tampilan luar yang menutupi apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini. Kebesaran itu hanyalah sebuah lipstick untuk menutupi satu keeping kenyataan yang juga terjadi di sini yakni kemiskinan. Saya teringat pria yang saya temui di stasiun, pria yang tinggal di sela-sela bangunan hanya dengan berbekal selimut serta plastik berisi pakaian, hingga para kaum miskin yang bergabung di lapangan ini.

Inilah Washington yang di dalamnya terdapat dua sisi mata uang koin; ada kemegahan atau kejayaan, tapi ada pula kemiskinan yang hidup bagai rumput liar di sela-sela tembok kekuasaan. Inilah kota yang warga kayanya telah menjelajah dunia dan meninggalkan jejak kejayaan, sementara warga miskinnya tengah bertarung demi sesuap nasi agar tetap eksis. Washington kota penuh memori kejayaan, tapi sekaligus memori kota yang sedih, sebagaimana kesedihan warganya yang bertarung demi hidup. Washington kota yang jaya, sekaligus kota yang muram.(*)

Foto: Rashmi Sharma dan Yuyun Sri Wahyuni

Bersambung


Di Athens, Mata Kami Membuka

DI Indonesia ada yang mati bakar diri. Para sahabat di Athens memilih untuk menyatakan solidaritas. Kami tak hendak mendukung aksi bakar diri itu. Tapi kami respek pada substansi yang hendak disampaikan. Mata kami terbuka lebar bahwa ada sesuatu yang salah di negeri jauh sana. Ada semacam ilusi tentang kesejahteraan, namun mengabaikan fakta-fakta lapangan yang kerap membuat dahi kami berkerut, membuat kami sama sedih, membuat kami sama sedih dan tiba-tiba saja ingin mencatat ulang apa yang pernah dicita-citakan para pendiri republik.

saat menyatakan solidaritas untuk Sondang di kampus Ohio University, Senin (12/12)

Di tanah yang jauhnya ribuan kilometer dari tanah air, kami menggelorakan segala kecintaan kami pada negeri. Kami tak hendak silau pada kehebatan negeri tempat kami berpijak saat ini. Kami tak hendak terkagum-kagum pada apa yang dicapai bangsa lain, dan kemudian melecehkan gerak bangsa kami yang masih bergelut dengan problem sosial semacam kemiskinan, ketertindasan, dan setiap saat ada letusan senapan. Kami tak hendak menghina anak bangsa yang mesti belajar ulang tentang banyak hal. Kami ingin belajar bersama pada kearifan bangsa yang selama ratusan tahun kokoh bertahan dan menyediakan jawaban atas segala soalan kehidupan.

Kami sama bersedih ketika mendengar mereka yang muda, kemudian memilih untuk membakar diri demi meneriakkan sebuah tuntutan. Namun kami jauh lebih sedih ketika memikirkan bangsa kami yang sering dipandnag sebelah mata. Sejauh-jauh kami melangkah, ingatan tentang bangsa kami selalu saja tentang keterbelakangan. Kami ingin mendobrak semua stigma negatif itu. Tapi kami sadar kalau kami hanyalah anak muda yang masih belajar. Kami masih tertatih-tatih di tepi rimba pengetahuan, dan sedang mencari jalan terbaik untuk kembali ke tanah air dan melakukan sesuatu.

Kami bangga menyandang menyandang kalimat anak muda. Mereka yang muda bukanlah mereka yang duduk manis di balik meja dan di awal bulan menanti gaji yang dimasukkan dalam selembar amplop atau terkirim melalui rekening. Mereka yang muda adalah mereka yang masuk menemui malam, dan di siang hari berpanas ria demi sebuah tuntutan. Mereka yang muda adalah mereka yang jiwanya senantiasa mendidih ketika melihat keadilan dimangsa negara, dipenuhi gelora idealisme untuk melakukan sesuatu, meskipun risikonya adalah melepaskan milik paling berharga.

Kami sama bersedih karena ada anak muda melepaskan satu-satunya jiwa yang dimilikinya. Tapi kami jauh lebih sedih memikirkan bangsa ini. Ada begitu banyak pekerjaan besar, dan harus dituntaskan satu demi satu. Untuk itu, jiwa dan semangat perubahan mesti dikerek tinggi-tinggi hingga menggapai ujung tertinggi negeri ini hingga menggerakkan semangat dan keberanian.

Di titik inilah kami berpijak. Di titik inilah kami mengeja semangat perlawanan kami yang redup laksana pijar lilin kecil, namun sanggup mengatasi kegelapan hati. Dari api yang redup itu, kelak akan membakar hingga menyalakan jiwa kami dan jiwa bangsa kami. Inilah kami. Inilah semangat kami.



Athens, 12 Desember 2011
Usai menyatakan sikap di kampus Ohio University

Paddycab: Becak ala Amerika



SIAPA bilang becak hanya ada di Indonesia? Saat jalan-jalan di dekat Central Park, New York, saya menyaksikan sejumlah pria yang mengendarai becak berwarna kuning. Jangan bayangkan becak seperti di Tanah Air. Becak di Amerika berbentuk seperti sepeda balap, dan pengendaranya berada di depan. Penumpangnya berjumlah dua orang. Becak itu berama Paddycab. Pengendaranya berbaju rapi dan mangkal di tepi jalan, pada area tertentu yang sengaja dikhususkan. Saya tidak tahu apakah mereka memungut bayaran ataukah tidak. Namun, mereka menanti penumpang di sekitar itu.(*)

Sondang, Martir, dan Misi Kerasulan

SEMBAB seolah tak hendak lepas dari wajah wanita tua yang keriput itu. Ia tiba di kamar mayat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dini hari tadi. Melihat foto di dekat satu peti mati, ia tiba-tiba saja meraung-raung. Ia berteriak sekuat tenaga sambil meneriakkan nama pemilik tubuh muda yang terbaring di peti itu sambil terbakar. "Sondang.. Kalau ibumu ini tidur, siapakah yang kelak akan mencabut uban di kepala ibumu ini?"

Perempuan bernama Saur Dame Br Sipahutar itu terus sesunggukan. Ia masih sempat mengucap lirih di hadapan peti mati itu, "Pergilah kau anakku. Lihatlah mamakmu ini," katanya. Ia memang tak paham mengapa anaknya nekad membakar diri di depan Istana Merdeka, rumah yang menjadi kediaman pemilik supremasi kekuasaan negeri ini. Ia tak paham politik.

Ia hanya paham satu hal bahwa Sondang adalah putra terkasih yang ketika dirinya tidur kan mencabuti uban di rambutnya. Bahwa Sondang adalah harapan besar yang kelak akan menyandang nafkah keluarga. Ia membayangkan akan hadir di saat-saat terpenting hidup Sondang. Baik itu saat pernikahan hingga saat penting ketika anak itu mencatatkan sesuatu di lembar sejarahnya. "Tega kau Sondang, anakku baik-baik pergi. Gantengnya kau anakku Sondang. Kenapa begini Sondang, apa yang ada di pikiranmu Sondang, anakku," ceracau sedihnya.

Revolusi memang telah memangsa anak-anaknya sendiri. Perempuan itu tak paham kalau anaknya seorang Sukarnois sejati yang besar dengan kisah-kisah perlawanan. Puluhan tahun silam, Marx pernah berujar kalau ideologi bisa menjadi kesadaran palsu (false consciousness) yang membutakan seseorang atas realitas. Ideologi memang palsu dan melenakan seseorang. Boleh jadi, Sondang kehilangan kesadaran kritis untuk menalar apa yang sedang terjadi di hadapannya. Hantu-hantu revolusi telah membangkitkan ketakutannya untuk berbuat sesuatu dan segera mengenyahkannya. Mungkin ia benar terbius oleh virus ideologi. Tapi mesti dicatat bahwa ideologi juga bisa menggerakkan. Ideologi bisa menjadi api yang membakar semua semangat oang-orang untuk bergerak laksana air bah dan menjebol semua kekuatan yang menghambat. Pada titik inilah Sondang sedang berpijak.

Sondang Hutagalung saat aksi
Kita menatap sedih. Satu lagi generasi muda telah gugur sebelum memekarkan kembang bangsa yang semerbaknya tercium hingga bangsa-bangsa yang jauh. Satu lagi anak muda yang mencatatkan drinya pada baris terdepan mereka yang menyalakan perlawanan. Sejarah kita mencatat nama Arief Rahman Hakim, selanjutnya para korban Trisakti, Soe Hok Gie, Sondang, dan entah siapa lagi yang kelak akan mencatatkan namanya.

Sondang memang seorang aktivis muda yang belum lama dipanggang bara semangat revolusi. Ia aktif di kelompok Sahabat Munir, yang setia meneriakkan keadilan untuk almarhum Munir, satu-satunya aktivis yang membuatnya merinding. Sebagai mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK), ia jelas paham jargon revolusi, nasionalisme, dan demokrasi yang dicita-citakan Bung Karno. Mungkinkah ia bersedih saat menyadari negeri ini berjalan amat jauh dari kereta besar kebangsaan yang pernah dirakit oleh pendiri negeri ini?

Apapun itu, Sondang hendak menyatakan sesuatu. Kematian hanyalah satu metode demi menggemakan pesan yang didengarnya di berbagai tempat diskusi. Ketimbang melakukan deminstrasi terus-menerus dan penguasa tetap lalim, jauh lebih baik jika berbuat sesuatu yang kelak akan menghebohkan seluruh negeri.

Saya yakin, ia tak bermaksud mencatat namanya dengan tinta emas di lembar sejarah. Ia hanya ingin menyatakan sesuatu di hadapan tembok kuasa yang setiap saat bisa abai pada apapun yang hendak disampaikannya. Aksinya memang heboh. Semua orang sedih. Dan pesannya dengan segera mendengung di telinga banyak orang bahwa ada sesuatu yang salah di negeri ini. Anak-anak muda lahir dengan kecemasan tentang nasib bangsa ke depan, sementara barisan tua tetap setia menimbun kekayaan dari hasil bumi bangsa ini. Anak-anak muda hidup dengan kecemasan hendak bekerja dan hidup di mana, sementara generasi tua sibuk merusak tubuh bangsa ini.

solidaritas atas Sondang di Jakarta

Sondang memang tewas. Tapi ia tidak benar-benar tewas. Misi suci para mahasiswa idealis telah ditunaikannya. Ia menyandang tugas martir sebagaimana pernah disandang Rasul ketika menumbangkan kepongahan dan keserakahan. Semangatnya ibarat cahaya lilin yang mengarahkan ke mana hendak bergerak. Ia sedang menyulut nyala revolusi pada negeri-negeri yang rakyatnya tertindas. Ia berteriak dengan segala daya hingga melepaskan tubuh yang dimilikinya. Tapi mungkinkah ia sedang tersenyum di sana saat melihat seluruh anak bangsa sedang menyadari bahwa negeri ini sudah tiba pada titik kritis? Mungkinkah ia sedang menjelmakan dirinya sebagai malaikat yang sedang sedih melihat gerak bangsa ini?



Athens, Ohio, 11 Desember 2011

Monumen Kasih untuk ARA

depan Patung Liberty di New York
Anakku sayang. Sedianya surat ini ditulis delapan hari silam, yakni tanggal 2 Desember demi merayakan usiamu yang menapak empat bulan. Sungguh amat disayangkan. Saat itu aku sedang sibuk menyiapkan perjalanan mengunjungi beberapa kota. Aku telah melewati banyak tempat di negeri paman sam ini, menyaksikan banyak monument yang hendak membekukan ingatan, melihat ulang pencapaian manusia di banyak bidang; artistik, seni, teknologi, hingga menelusuri rimba raya dalam berbagai museum.

Entah kenapa, dalam perjalanan ini, sosokmu tak bisa lepas dari benakku. Kamu hadir di semua tempat yang kulihat. Saat menyaksikan banyak monumen, aku senantiasa berpikir bahwa manusia sengaja membekukan ingatan tentang satu masa dan satu saat agar ingatan tersebut abadi dalam sejarah. Tiba-tiba saja aku ingin membangun satu monumen penting. Tentu saja, aku tak sanggup jika harus membangun sebesar obelisk raksasa di Washington sana atau seperti Patung Liberty di New York. Aku ingin membangun monumen di hatimu, agar dirimu kelak senantiasa mengingat diriku pada steiap fase penting perkembanganmu.

Anakku sayang. Rindu ini mulai menikam-nikam. Setiap hari kubayangkan apakah gerangan yang dirimu bayangkan saat mengunjungi bebeapa tempat. Kata ibumu, kamu sering tak betah berada di satu kamar yang sama sepanjang hari. Rupanya, hasrat petualangan telah mendarahdaging dalam dirimu sehingga kamu tak bisa lama berada di satu tempat. Kita adalah generasi penjelajah yang terlahir untuk belajar banyak hal pada setap inchi tempat yang bisa ditapaki manusia. Kita pembelajar hikmah, peminum saripati pengetahuan, hingga kelak menumbuhkan segala hal baik dan positif di sekitar kita. Itulah mata air kehidupan yang kita cari sepanjang hayat.

Ibumu bercerita bahwa dirimu sekarang sudah bisa tengkurap. Di tengah malam, kata ibumu, dirimu sering terbangun dan tba-tiba saja ingin tengkurap. Kamu mencoba dengan segala cara hingga berhasil. Setelah itu, kamu tak bisa kembali terlentang. Kamu lalu berusaha keras, kemudian menangis agar ibumu membalikkan posisimu. Nak, kamu hebat! Sebab kata ibuku, pada usia segitu, aku hanya bisa terlentang dan menanti-nanti air susu. Tapi kamu berbuat lebih. Kamu seorang pekerja keras yang kemudian meminta ibumu menuntaskan apa yang telah kamu rintis. Diriku bangga atas segala yang kamu capai pada setiap fase penting kehidupanmu.

sudut kota di Manhattan, New York

Di saat menulis surat ini, aku tengah kelelahan setelah bepergian. Entah kenapa, belakangan ini fisikku tak begitu baik. Mungkin aku merindukanmu. Jiwa dan ragaku lelah dengan perjalanan, yang tak bisa tidak, mesti kutuntaskan. Aku merindukanmu, merindukan tangis dan tawamu. Aku merindukan ikatan abadi antara dirimu dan diriku. Kita memiliki ikatan yang mustahil bisa diputuskan. Kita memiliki ikatan kasih yang akan abadi dan tak lekang dipanggang matahri terik, ataupun dibekukan dingin malam. Aku menyayangimu. Aku berjanji untuk membangun monument indah di hatimu.

Setelah menjelajah selama seminggu beberapa kota penting di negeri adidaya ini, aku akhirnya tiba pada kesimpulan bahwa hanya ada satu monument yang bisa membahagiakanku. Tempat terbaik untuk direnangi adalah keluasan samudera hatimu dan ibumu yang mengikhlaskan diriku berkelana hingga ke titik ini. Itulah tempat terindah untuk kukunjungi. Itulah tempat yang membersitkan maahari kebahagiaan di hatiku. Dirimulah monumen terindah yang pernah kutemui. Dirimulah sekuntum mawar indah yang tumbuh di hatiku, dan akan kusirami dan kujagai, lebih dari diriku sendiri.


Athens, OHIO, 10 Desember 2011

Aku Butuh Persinggahan


SESEKALI kita harus singgah untuk melepas penat. Sebuah mobil balap pun membutuhkan persinggahan untuk mengisi bahan bakar. Orang-orang menyebutnya pit stop. Di persinggahan itu, sang mobil lalu mengisi bahan bakar, mengganti ban, mengganti suku cadang, hingga pengemudinya beristirahat.

Alam semesta juga memberikan metafor yang sama. Persinggahan sangat penting bagi ulat yang buruk rupa untuk menyiapkan diri menjadi kupu-kupu yang cantik rupawan. Beruang kutub butuh berhibernasi selama musim dingin demi menjaga kondisi fisik tubuhnya. Bahkan alam semestapun butuh persinggahan sesaat dari ketenangannya demi menstabilkan kondisinya. Kita menyebutnya bencana. Tapi bagi semesta itulah cara untuk mereorganisasi dirinya, sebagaimana kata fisikawan Ilya Prigogine.

Laksana metafor alam itu, aku pun membutuhkan persinggahan. Aku tak butuh tempat-tempat hebat untuk melepas lelah ini. Aku hanya merindukan kalian di tanah air sana. Aku merindukan suasana yang riang, penuh gelak tawa, penuh dengan dialog-dialog kecil yang menancap di hati kita. Aku merindukan saat-saat berumah di hatimu, saat-saat ketika hati kita berbincang, saling menyapa, dan berbagi kehangatan. Apakah dirimu juga demikian?

Menjelmakan Impian



HIDUP ini adalah perpindahan dari satu kejutan ke kejutan lainnya. Pada tahun 2007, saya mengkhayal sedang berjalan-jalan di depan Capitol HIll, dekat White House, yang merupakan istana kepresidenan Amerika Serikat (AS). Hari ini, saya sedang rapat bersama beberapa teman untuk membahas keberangkatan ke Washington DC, ibukota AS. Ini serupa impian, namun akan segera menjadi kenyataan.

Bagaimanakah rasanya jika mimpimu akan segera tergapai? Saya sulit menjelaskannya. Saya hanya bisa mencatat ulang bahwa apapun yang saya alami sekarang adalah apa yang sebelumnya sudah pernah dibayangkan, pernah dikhayalkan, dan diharapkan akan segera terwujud. Alam semesta telah berkonspirasi untuk mewujudkan apa yang pernah dikhayalkan pada tahun 2007 silam. Saya hanya menunggu selama empat tahun, sebelum akhirnya impian itu akan terpenuhi.

Jika memang hukum tarik-menarik itu benar ada, dan semesta akan membantu mewujudkan semuanya, apakah gerangan impian yang ingin saya gapai empat tahun mendatang? Saya belum punya tabungan mimpi. Yang saya pikirkan hanyalah keluarga yang tenang dan damai, serta tetap dalam lindungan Tuhan YME. Semoga.


Inilah catatan di tahun 2007 tersebut:



SAYA sedang berjalan-jalan di Washington DC. Menyusuri jalan-jalan kota yang menjadi jantung Amerika Serikat (AS), negeri yang mencengkramkan kuku di tatanan politik internasional. Saya menghirup udara di depan Capitol Hill, simbol politik AS yang kubahnya berbentuk bulat dan ada patung perempuan sebagai lambang kebebasan. Pematung Thomas Crawford, seorang pencinta wanita yang rela dibakar oleh rasa kecintaannya, meletakkan patung itu sebagai wakil dari kebebasan yang meluap-luap. Apakah wanita identik dengan kebebasan?

Takjub melihat itu, saya lalu menyusuri padang rumput di depan LincolnMemorial dan menyaksikan langung patung Abraham Lincoln. Di sorot mata pria ini terhampar kasih sayang pada bangsa kulit hitam hingga menjadikan dirinya sebagai martir pada tahun 1865. Ingin rasanya kutembus sorot mata itu dan mengurai sejarah perbudakan bangsa AS, sejak kedatangan imigran Inggris hingga datangnya kapal May Flower yang membawa kaum berkulit hitam dari Afrika. Betapa besar hasratku untuk menelusuri jejak perbudakan yang kemudian dihapus dengan berdarah-darah oleh Lincoln, Presiden AS terbesar sepanjang masa yang tumbuh dalam balutan kemiskinan di Kentucky dan Indiana di tahun 1818.

Ini adalah kompleks bersejarah yang dilestarikan sebagai tanda kehadiran masa silam di situ. Memandang keluar gedung itu, saya menyaksikan Washington Monuments yang berdiri tegak dan kokoh seperti sebuah batu runcing yang tertancap di dasar bumi. Batu itu menjadi prasasti atas kiprah George Washington, seorang komandan militer yang menyulut revolusi Amerika sebagai awal lahirnya Amerika Serikat. Dalam genggaman pria berkuncir ini, AS meletakkan visinya sebagai bangsa baru yang kelak menjadi superpower dan melihat dunia secara tunggal untuk ditekukkan dalam satu kriteria.

Selanjutnya, saya singgah menyaksikan langsung National World War II Memorial, yang menjadi saksi atas kejamnya Perang Dunia II. Saya menangis tertahan di saat membayangkan jenazah mereka yang terbaring demi membela negerinya. Apakah itu benar-benar dilatari tindakan heroik ataukah itu hanya reaksi atas proses pembodohan yang dilakukan secara sistematis atas nama negara? 

Ah, tangis tertahan itu kian deras tatkala saya berjalan sedikit ke dapan dan menyaksikan Vietnam Veterans Memorial yang berbentuk tembok hitam berbentuk huruf V. Di situ ada tergurat nama mereka yang tewas di Perang Vietnam. Seperti halnya warga AS yang tak pernah mengerti apa tujuan perang itu, hati ini hendak bertanya, apakah itu demi sebuah kehormatan ataukah buah kebodohan yang sukses ditanamkan negara.

BRUKK!!!!! Ada bunyi suara keras. Kepalaku sakit. Mataku berkunangan. Busyet!! Ternyata saya jatuh dari ranjang setelah lelap tidur seharian. Di tangan kananku ada buku karya Jack Canfield berjudul “American Dream.“

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...