Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Penjajahan Budaya atas Perut

Hampir semua restoran dan mal-mal di Jakarta penuh dengan menu makanan dari luar. Harganya bisa berlipat-lipat dari harga makanan di sekitar rumah kita. Kemarin siang, saya makan siang di sebuah warteg dan hanya membayar lima ribu rupiah. Malamnya, saya makan di sebuah restoran Jepang yang harga makanan per porsi lima puluh ribu rupiah. Bagaimana dengan rasa? Nggak ada bedanya. Rasanya sama. Ketika di leher seolah beda, namun saat di perut, sama saja. Kelak, makanan itu akan jadi tai busuk dan keluar lewat dubur. Lantas, di manakah letak pengaruh mahal dan tidaknya sebuah makanan?

makanan Jepang
Soal mahal dan tidak, itu hanyalah masalah selera yang dikonstruksi oleh konsep-konsep di sekitar kita. Kebudayaan menjadi bingkai yang mengatur-ngatur selera di pikiran kita, termasuk membisiki mana yang berselera tinggi dan mana yang berselera rendah. Kita seperti kuda delman yang berjalan lurus karena ada penutup mata yang hanya menggiring ke satu arah yakni ke depan. Penutup mata itulah yang disebut kebudayaan dan menentukan ke manakah kita hendak bergerak.

Nah, kebudayaan telah membuat kita mengidap satu paradoks. Pilihan kita akan sangat berbeda saat hendak makan di rumah, dan saat makan di sebuah mal. Saat di rumah, Anda tidak terlalu suka milih. Sepanjang makanan itu mengenyangkan dan bisa menyingkirkan lapar, maka pastilah Anda menikmatinya. Tapi akan berbeda ketika Anda berada di mal. Di sini, Anda akan memilih sesuatu berdasarkan kriteria keren atau tidak, nyaman atau tidak, ataukah suasananya nyaman ataukah tidak. Nah, Anda mulai membahas suasana. Mulai membahas mana yang bisa membuat citra diri naik. Bukan lagi soal makanan. Anda mulai membahas bagaimana kebudayaan bekerja.

Pernah sekali saya memberanikan diri makan donat di J.Co. Tahukah Anda, usai makan donat itu, saya terus-menerus membandingkan dengan roti donat yang dijual di pinggiran rumah saya di Bau-Bau, yang hanya seharga Rp 200. Sementara di J.Co, nilai donat itu adalah Rp 50.000. Dari sisi rasa sama, namun harga amat beda. Bukankah ini paradoks? Lantas, apa yang dicari saat makan di J.Co, jawabannya adalah sebuah petualangan mencoba sesuatu yang mahal, serta konsep kita tentang citra diri yang berkelas. Nah, bagaimanakah menjelaskan fenomena ini?

Saya menyebutnya penjajahan pikiran atas perut. Di saat perut hanya butuh kepuasan kenyang, pikiran bisa bercabang-cabang dan minta macam-macam. Pikiran kita begitu tinggi hati dan menuntut macam-macam. Ia bisa minta donat J.Co atau minta makanan fast food atau minta makanan lain yang mahal-mahal. Itulah kerja pikiran. Sebuah kerja yang seringkali tinggi hati. Nah, kerja pikiran itu selanjutnya diserahkan pada perut yang segera mengolahnya. Perut amat rendah hati dan tak mau milih-milih. Semua makanan mahal itu akan diperlakukan sama. Semua makanan itu akan digiling oleh usus, disimpan dalam lambung dan diberi enzim penghancur, diremas usus besar, dan keluar melalui dubur.

Tapi saat di perut, semua yang mahal itu diperlakukan sama. Semua diolah menjadi tai yang busuk dan keluar lewat dubur. Mungkin ini semacam isyarat alam bahwa pada akhirnya semua yang kita lihat dan kagumi itu hanyalah permukaan belaka. Pada akhirnya semua tak lebih dari sesuatu yang dibuang percuma, yang levelnya tak beda dengan apapun sepertinya, tak peduli berapa harganya. Makanya, jauh lebih bijak jika melihat sesuatu pada level substansial, ketimbang hanya melihat permukaan saja.(*)

Theater of Dream di Kafe MU, Sarinah

suasana kafe MU di Jakarta

SABTU (27/11) saya menghadiri acara ultah ke-2 Kompasiana di MU Cafe, Sarinah, Jakarta. Suasananya meriah. Selain menikmati acara, saya juga sangat menikmati suasana kafe yang seperti Stadion Old Trafford di Manchester. Saat pertama masuk kafe, terpampamg tulisan besar Welcome to The Theater of Dream. Di dalam, saya disambut gambar para pemain Manchester United (MU) serta kalimat inspiratif. Mulai dari generasi lama seperti Bobby Robson, Eric Cantona, Roy Keane, hingga generasi masa kini seperti Wayne Rooney. Suasananya sangat hebat. Atmosfernya sangat MU hingga meninggalkan jejak di benak. 


Jika ingin menemui suasana Manchester United, singgahlah ke kafe ini. 
Saya akan menceritakannya pada kesempatan lain.

Sensasi Jadi Headline (6)

MESTINYA postingan ini saya gabung dengan postingan sebelumnya. Namun, akan terlalu padat jika sekaligus diturunkan dalam satu artikel. Mudah-mudahan pada kesempatan lain saya bisa mengatur jadwal postingan headline (HL). dengan baik sehingga tertata rapi. Seorang kawan bertanya, apa sih menariknya HL? Banyak. Selain sebagai satu capaian di sebuah blog yang anggiotanya 40 ribu orang, juga menjadi catatan untuk terus membenahi kualitas. Semakin banyak yang membaca, semakin banyak yang komentar, dan semakin banyak pula yang bisa dipelajari dari komentar tersebut.

Daftar yang kerap saya tampilkan di sini tidaklah komplet. Seringkali saya tidak sempat mendokumentasikan tulisan yang terpilih sebagai headline. Sebab jadwal penayangan tulisan tersebut biasanya bervariasi. Sering saya tidak punya waktu untuk memantau apakah tulisan tersebut berhasil menjadi HL ataukah tidak.Bagi saya, HL atau tidak, itu tidak penting. Yang jauh lebih penting adalah semangat berbagi dan mengabadikan setiap momen penting dalam hidup. Itu jauh lebih bermakna. 

dimuat pada 14/10/2010

dimuat pada 31/10/2010

dimuat pada 9 November 2010

dimuat pada 11/10/2010

dimuat pada 14/11/2010

dimuat pada 20/11/2010

Genealogi Kekuasaan Ilmu Sosial Kita

KEMARIN saya membeli buku Genealogi Ilmu Kekuasaan Ilmu Sosial Indonesia karya Hanneman Samuel di lapak buku dekat UI di Salemba. Saya cukup mengenal Pak Hanneman sebagai pengajar Sosiologi Pengetahuan di Universitas Indonesia (UI). Meskipun belum pernah mengambil kuliahnya, tapi saya beberapa kali berbincang dengan alumnus salah satu universitas di Australia ini di kantin kampus. Saya juga paham bagaimana penguasaannya tentang ilmu sosial, khususnya isu-isu filsafat dan sosiologi pengetahuan.

Ada beberapa alasan mengapa saya tertarik dengan buku ini. Pertama, buku ini membahas tentang genealogi kekuasaan ilmu sosial. Dalam pahaman saya yang sederhana, genealogi adalah asal-muasal lahirnya sesuatu. Semacam sejarah, tapi tidak spesifik membahas tentang urutan waktu dan rangkaian kejadian, sebagaimana sering dibahas para sejarawan. Genealogi lebih spesifik pada proses diskursif atau atmosfer gagasan yang muncul pada suatu masa dan mempengaruhi pemikiran orang-orang.

Asumsinya adalah semua pengetahuan adalah sesuatu yang menyejarah, dalam artian pernah lahir pada suatu masa. Genealogi akan membahas proses lahirnya pengetahuan tersebut, serta apa relasi di balik pengetahuan tersebut. Apakah itu sesuatu yang bernama kepentingan,ataukah sebuah hasrat kuasa. Jika hari ini kita sedang membahas ilmu sosial di Indonesia, maka ada saat-saat di mana ilmu tersebut hadir, bagaimana ilmu itu lahir dalam rahim penguasa, serta digunakan untuk menaklukan sesuatu. Itulah tragic ilmu sosial Indonesia.

Kedua, setahu saya amat langka buku yang membahas genealogi di Indonesia. Seingat saya hanya ada beberapa buku. Selain karya Daniel Dhakidae tentang Cendekiawan dan Kekuasaan, Hilmar Farid dan Vedi R Haditz dalam Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia, juga buku karya Yudi Latif yang berjudul Genealogi Cendekiawan Muslim Indonesia. Di luar dari buku-buku ini, saya belum pernah menemukan satupun buku yang ditulis tentang kajian genealogi khususnya menyangkut ilmu sosial di Indonesia.

Ketiga, saya menyenangi kajian semacam ini sebab bisa membuat mata kita lebih terang untuk menyorot banyak hal. Pada akhirnya, kita jadi lebih curiga dengan formasi pengetahuan kita, mempertanyakannya kembali secara kritis, kemudian memunculkan gagasan tentang perlu lahirnya sebuah ilmu sosial baru yang lebih grounded, berangkat dari satu realitas, sehingga tidak mengawang-awang. Saya menyenagi kajian semacam ini karena menunjukkan kepada kita sesuatu di balik netralitas ilmiah. Dengan menelusuri jejak sejarah pengetahuan, kelak akan membawa kita pada satu kesimpulan bahwa pada akhirnya segala sesuatu tak pernah luput dari kuasa. Tinggal bagaimana mengelola kekuasaan tersebut menjadi sesuatu yang membawa emansipasi bagi banyak orang.

Pertanyaannya, setelah melakukan pembongkaran pada bangunan ilmu sosial, apakah kita sanggup melahirkan satu formasi epistemologis ilmu sosial baru yang berbeda dengan sebelumnya? Apakah ilmuwan sosial kita sanggup merumuskan satu mazhab pengetahuan yang orisinil dan digali dari bumi tanah kita? Mungkin pertanyaan ini akan terjawab setelah menuntaskan buku ini. Tapi sejauh ini, saya tidak terlalu yakin kalau para ilmuwan sosial kita akan sanggup melakukannya. Mungkin kita terbiasa memamah-biak berbagai teori barat dan dikutip sesuka hati agar tampak keren, tanpa paham genealoginya.(*)

Belajar Menulis pada Dewi Lestari

Dewi Lestari (Dee) saat bersama Dwiagustriani

SETIAP penulis selalu memulai langkah dengan cara meniti jalan seseorang yang lebih dulu membangun jalan setapak di rimba kepenulisan. Ia akan menelusuri tapak di belukar yang telah dibersihkan, mencari titik paling aman demi melepaskan gagasan, lalu menelusuri bangunan ide lalu perlahan menyusun fundasinya sendiri, membangun konstruksi ide, lalu mengisinya dengan napas dan sukma baru.

Siapapun yang menjejakkan kaki di dunia kepenulisan, pastilah memahami bahwa inspirasi adalah sesuatu yang amat mahal untuk digapai. Makanya, setiap penulis pasti punya penulis favorit, kepada siapa ia belajar bagaimana menarik garis di satu halaman kosong, kepada siapa ia belajar menyapukan warna-warna, dan sosok yang menunjukkan bagaimana memulai tradisi kepenulisan, menghadirkan bunga-bunga untuk disematkan dalam karya.

Istri saya Dwiagustriani tengah menganyam impian untuk melahirkan sebuah tulisan. Ia membaca beberapa karya tulis demi menentukan pada koordinat manakah kelak ia akan berpijak dan meneropong sesuatu lewat kata. Ia mengidolakan seorang penulis yang pernah mengejutkan jagad kepenulisan sastra negeri ini. Ia mengidolakan Dewi Lestari, seorang penulis yang sebelumnya berprofesi sebagai penyanyi. Ia membaca semua karya Dewi Lestari, mulai dari Supernova (Ksatria Putri dan Bintang Jatuh), Supernova 2 (Akar), Supernova 3 (Petir), Filosofi Kopi, hingga Perahu Kertas.

Ia melahap karya Dewi sebagaimana kerakusan ketika melahap mie pangsit atau bakso Mas Panjul di Jalan AP Pettarani Makassar. Ia menggemari bait-bait kata Dewi dan dibacanya dengan cara pelan-pelan, agar semua kata-kata itu meresap dan memberikan rasa dalam jiwa. Kerap saya perhatikan, saat-saat ketika dirinya bertemu karya Dewi dan menikmati karya itu dengan ekspresi seperti sedang menikmati es krim Magnum. Degan cara pelan-pelan, es krim tersebut akan lama habis. Dan selama proses menikmati itu, jiwanya terus dipenuhi genangan rasa yang sukar dilukiskan dalam kata. Ia tengah menikmati sebuah soul soup, sebuah sup bagi jiwa.

Bagaimanakah rasanya jika benar-benar bertemu dengan penulis idola? Pasti rasanya akan sangat luar biasa. Beberapa tahun lalu, saya pernah merasakannya ketika bertemu langsung Seno Gumira Adjidarma, sang penulis idola saya sejak kuliah. Setelah Pramoedya Ananta Toer, Seno adalah penulis favorit yang semua karyanya saya koleksi. Saat bertemu, rasanya sukar dijelaskan dalam kata. Saya tak pernah lupa dengan momen-momen itu, hingga blog inipun saya beri nama Timur Angin, sesuai nama putra Seno. Sebagaimana Timur Angin yang merupakan anak kandung Seno, bukankah blog ini adalah anak kandung semua gagasan saya?

"Mbak Dewi,... gimana caranya jadi penulis seperti Mbak?"

Saya telah merasakannya. Sayapun ingin agar Dwi merasakannya. Beberapa hari yang lalu, saya sukses mempertemukan mereka. Tidak sekadar bertemu, Dewi juga mengajarkan beberapa trik menulis, serta pengalaman pribadi bagaimana memulai dan mengisi sebuah tulisan. Sebagai seorang yang menggemari menulis, sayapun ikut larut dalam pertemuan tersebut. Bahkan ada beberapa kata-kata Dewi Lestari yang membekas dalam pikiran, khususnya saat mengatakan, “Musuh utama seorang penulis adalah halaman kosong. Makanya, ia akan menghabiskan waktu untuk mengisi halaman kosong tersebut dengan tulisan.”

Sungguh mengasyikkan bisa bertemu Dewi. Tak hanya manis dalam menyihir kata-kata. Ia juga manis dalam menjelaskan gagasannya. Saya kian paham kalimat seseorang, bahwa tulisan adalah cermin bagi bagi jiwa. Jika jiwa kita jernih, maka akan tercermin lewat kejernihan tulisan kita sendiri. Kejernihan dan ketenangan, serta kecerdasan itulah yang saya temukan lewat sosok Dewi lestari, idola istri saya. Semoga kelak jalan setapak yang dibangun Dewi akan disusuri banyak penulis pemula yang tengah mencari bentuk, termasuk Dwi sendiri.(*)
Hanya ada satu kalimat:
Saya bahagia.”

Identitas Tukang Cukur "Madura"

foto ilustrasi koleksi Dwi Joko

TADI saya singgah memangkas rambut di Tukang Cukur Madura. Baik di Bau-Bau, Makassar, ataupun Jakarta, saya selalu mengunjungi tukang cukur Madura. Saya cukup familiar dengan cara kerja mereka. Saya juga cukup paham bagaimana proses mencukur, mulai dari menggunakan alat elektronik, hingga gunting manual. Saya cukup menikmati prosesnya. Meskipun terkadang saya kesal juga dengan handuk yang sejak puluhan tahun lalu sudah dipakai mengelap wajah, dan tidak pernah dicuci hingga saat mengelap wajah saya. Jangkrik!

Saya cukup bisa berdamai dengan peralatan seperti handuk, serta kain busuk yang terhampar di badan untuk menutupi dari rambut yang berjatuhan. Sebab saya selalu menunggu bagian akhir dari proses bercukur yakni proses pijat di tengkuk dan kepala. Ketika seorang tukang cukur Madura memijat, saat itu juga semua beban di kepala seakan berguguran. Usai dipijat, pikiran jadi lebih plong. Saya lebih enteng berjalan.

Tadi, saat bercukur, saya mendengarkan dialog antara dua pria sesame tukang cukur. Nah, saat dialog itu, saya menemukan sebuah fakta yang cukup menarik. Ternyata keduanya bukan berasal dari Madura. Mereka berdialog dengan bahasa Sunda dengan fasih. Di tempat itu, hanya ada empat kursi yang menadakan bahwa hanya ada empat orang pencukur. Dan kesemuanya menggunakan bahasa Sunda saat berdialog. Saya merasa amat aneh mendengarnya. Mengapa aneh? Sebab jelas-jelas di luar terdapat plang yang bertuliskan “Tukang Cukur Madura.” Lantas, apakah plang itu berbohong?

Jika dilihat dari kesesuaian antara plang dan identitas mereka, maka tentu saja ada proses pembohiongan di situ. Tapi jika dilihat dari sisi ekonomi, maka yang sedang terjadi di situ adalah sebuah siasat atau strategi untuk menggaet konsumen sebanyak mungkin. Para tukang cukur tersebut memahami kekuatan sebuah branding tukang cukur Madura, sehingga mereka memutuskan untuk memakai nama itu saat memulai bisnis. Bukankah mereka sangat kreatif?

Entah, sejak kapan dan siapa yang memulai, ada sejumlah profesi yang tiba-tiba melekat dan menjadi milik etnis tertentu. Mungkin ini hanyalah semacam konvensi di masyarakat, yang entah apakah disepakati ataukah tidak. Yang jelas, tukang cukur selalu identik dengan Madura, demikian pula dengan warung makan yang identik dengan Padang. Tapi jika kita teliti satu per satu tukang cukur atau warung makan itu, maka kita akan terkejut akan menemukan fakta bahwa tidak semuanya berasal dari daerah tersebut.

Lantas, apa menariknya membahas hal ini? Dari sisi ilmu sosial, ini jelas menarik. Sebab kian terang menunjukkan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang jatuh darilangit, namun merupakan sesuatu yang dikonstruksi secara terus-menerus. Anda memang tidak bisa memilih hendak lahir dan besar di mana, namun Anda bisa memilih hendak menjadi apa dan berpenampilan seperti apa. Malah, Anda bisa memanipulasi sesuatu.

Memang, kebudayaan akan menentukan cara-cara kita melihat dan menginterpretasi sesuatu, namun manusia memiliki kapasitas kreatif untuk mengkonstruksi identitas, serta memilih apa yang tepat bagi dirinya, tanpa harus dipaksa oleh lingkungan dan sejarah asal-usul. Buktinya, seorang Sunda bisa saja memilih identitas Madura. Nah, dalam kasus tukang cukur asal Sunda itu, ia telah memilih sebuah identitas sebagai penanda di satu plang. Ia membuktikan dirinya sebagai manusia yang kreatif, yang tidak bersedia dikendalikan oleh sesuatu. Ia memilih identitas Madura sebagai bentuk strategi dagang, sekaligus pernyataan bahwa manusia bisa lahir di mana saja, namun manusia selalu memiliki kapasitas memilih hendak ke mana dan jadi seperti apa. Bukankah demikian?

DIOBRAL: Kesenian Tradisional Jakarta

pengamen ondel-ondel di Museum Sejarah Jakarta (foto: yusran darmawan)

NASIB kesenian tradisional serupa kerakap yang tumbuh di atas batu. Hidup segan dan mati tak mau. Semakin berkurangnya order pada pelaku kesenian tradisi, menyebabkan mereka banting stir dan menjajakan kesenian itu demikian murah. Mereka mengamen di jalan-jalan, di lorong-lorong, sambil mengumpulkan receh demi receh. Seberapa pedulikah pemerintah kita kepada mereka?

Kemarin, saya menyaksikan pemain ondel-ondel yang lengkap beserta musiknya di jalan kecil di dekat rumah. Semua sound system ditaruh di gerobak. Para pemainnya bermain biola, gendang, dan alat music sembari berjalan. Sementara dua orang berkostum ondel-ondel sembari menari mengikuti irama. Di rombingan itu, ada sejumlah orang yang memegang kantong kecil dan meminta recehan di mana-mana.

Saya sedih melihatnya. Saya membayangkan nasib kesenian tradisional kita yang dijual murah karena masyarakatnya jadi terlampau modern. Mungkin ini adalah gejala pergeseran orientasi sosial kita yang semakin meminggirkan mereka. Ataukah ini fenomena ketidakpedulian pemerintah yang hanya bisa berpangku tangan, hanya bisa memandang pada anak bangsa yang mengais rezeki di jalan raya sambil memainkan kesenian tradisi, lalu menadahkan tangan. Duh, sedemikian murahkah kesenian tradisional kita?

Sensasi Jadi Headline (5)

KEMBALI saya menampilkan bebrapa tulisan yang jadi headline (HL) di Kompasiana. Selama beberapa bulan ini, saya kurang produktif menulis di social blog terbesar di Indonesia tersebut. Saya hanya sesekali saja menulis. Tapi anehnya, tulisan yang sedikit itu selalu menjadi headline (HL). Beberapa teman Kompasioner juga sudah mulai hapal style menulis saya. 

Dalam gathering yang saya ikuti, mereka sangat mengenal saya dan sering membaca beberapa tulisan yang saya buat. Saya bahagia dengan semua kenyataan ini. Setidaknya, saya sudah punya sebuah rumah alias alamat tetap di dunia online. Dikarenakan banyak daftar tulisan yang HL, maka saya memuatnya secara mencicil. Inilah daftar selama bulan Agustus dan September. Anda bisa mengklik tulisan tersebut....

Nyanyi Sunyi Bung Hatta, dimuat pada 13/08/2010

dimuat pada 18/10/2010

dimuat pada 17/09/2010

Filsuf Cantik, Seksi, Menggairahkan,
dimuat pada 21/09/2010

Mantra Harry Potter, Mantra Keabadian

poster film
HARRY Potter menyihir Jakarta. Hampir semua bioskop serentak memutar film Harry Potter and the Deathly Hallow. Meskipun banyak pihak yang jauh lebih suka bukunya, namun harus dicatat bahwa setiap kemunculan film Harry Potter pasti diiringi dengan naiknya frekuensi penjualan buku, serta genangan kesan yang kembali memenuhi ruang-ruang berpikir tentang penyihir ini.

Saya tercengang dngan antusiasme public yang dahsyat. Begitu banyak orang membicarakannya. Bahkan halaman Facebook pun penuh berita tentang fenomena Harry Potter. Entah, apakah bocah kecil yang terlahir sebagai penyihir ini benar-benar telah memantrai Jakarta, yang jelas, ia sukses menyihir pembicaraan semua orang, menginsepsi gagasan dalam benak, memberikan jampi-jampi mantra yang memaksa banyak orang untuk setia mengantri di bioskop demi melihat sang penyihir.

Harry Potter adalah fenomena luar biasa di abad 21. Siapapun yang hendak menulis tentang penanda zaman ini, mesti menempatkan kisah Harry Potter sebagai satu kisah besar yang memenuhi imajinasi banyak orang, menggoreskan jejak-jejak baru di patahan sejarah kita, serta mencatatkan dirinya sebagai ikon yang mempengaruhi kebudayaan popular abad 21.

Bukan saja karena penjualan tujuh serial novelnya yang fenomenal dan menempatkan sang pengarang (JK Rowling) sebagai pengarang terkaya dalam sejarah kesusastraan dunia. Bukan saja karena jutaan orang yang tersihir dan menjadi pembaca setia. Bukan saja karena film-filmnya telah sukses secara komersial sebagaimana novelnya yang ditunggu setiap tahun. Bukan saja karena sukses menggempur opini banyak orang dan membalikkan banyak konsep tentang penyihir, memicu perdebatan tentang kontroversi novel ini dalam iman Kristiani, serta menarik tetes-tetes hikmah dalam pergulatan seorang penyihir muda yang hendak menemukan kedewasaannya.

Bagi saya, semua fenomena di atas tidaklah memadai saat membahas Harry Potter. Hanya ada satu kata yang tepat untuk membahasakannya yakni: keajaiban. Yup. Novel ini serupa mukjizat yang pernah terjadi muka bumi, serupa cahaya biru yang keluar dari tongkat sihir dan tiba-tiba saja membuat kita serentak menjadi pengagum berat. Mungkin, ada mantra yang memenuhi pemikiran kita tentang betapa dahsyatnya kisah di dunia penyihir. Tapi jika ditilik lebih jauh, mantra bukanlah satu-satunya penjelasan. Keajaiban kisah ini tidak terletak pada seorang anak kecil ceking yang tiba-tiba menjadi fenomena dalam dunia sihir. Tapi lebih dari itu.

JK Rowling sang pengarang Harry Potter
Buat saya, letak ajaibnya Harry Potter karena kisahnya yang serupa dua kepak sayap dan menerbangkan imajinasi hingga menelusuri kastil-kastil di ruang yang jauh di sana, menerbangkan daya khayal hingga titik terjauh yang bisa digapai, menelusuri teka-teki dan aneka kemungkinan, bertemu mahluk-mahluk yang menakjubkan dan menyeramkan, serta para penyihir bijak yang menjalani hari dalam laku kebajikan dan nilai-nilai kepahlawanan.

Dalam kisah Harry Potter kita menemukan sebuah dunia dengan logika sendiri. Sebuah dunia yang mengubah ketidakmungkinan menjadi kemungkinan. Keajaibannya terletak pada sebuah logika yang dijungkir-balikkan, kemudian disusun ulang dalam satu format kisah yang kadang mengerikan, mencekam, namun selalu ada hikmah serta pesan bijak di balik setiap kejadian. Selalu ada sebuah konklusi bahwa kebajikan akan selalu menang, meskipun jalannya berliku-liku. Dan penemuan jalan berliku-liku itu adalah proses pendewasaan dan pematangan yang tidak sekejap sebagaimana mantra. Proses itu adalah kombinasi dari kesetiakawanan, kebijaksanaan, hasrat belajar yang menyala-nyala, keberanian tanpa kata takut, serta sikap lurus hati dan bening yang diasah para guru yang bijaksana. Itu yang saya temukan dalam kisah Harry Potter.

Kita melihat dunia Harry Potter sebagai sebuah dunia yang terus tumbuh dan membesar. Hampir setiap novel selalu menyisipkan teka-teki dan kejutan-kejutan. Mulai dari hewan-hewan aneh hingga karakter baru tentang penyihir yang simpatik, ataupun penyihir yang nampak jahat namun memiliki hati yang bening hingga menjadi telaga buat Harry menemukan keberanian dan kebijaksanaan.

Sebenarnya, kisah itu tidaklah seberapa istimewa. Kita sering menemukannya dalam kehidupan sehari-hari, dalam kisah para rahib, atau tuturan tentang para rasul atau orang suci yang menyiapkan dirinya untuk menggempur ketidakadilan. Kisah itu tersimpan dalam setiap fragmen kehidupan termasuk tercatat dalam manuskrip kuno; bahwa setiap kebajikan akan selalu menemukan kaki-kakinya untuk bergerak. Kelihatannya simpel, namun betapa tidak mudahnya menegakkan itu dalam kehidupan sehari-hari. Di saat agama bermunculan, justru moralitas seakan bertumbangan. Tapi kisah itu tetap penting untuk menunjukkan bahwa kebajikan harus tetap hadir, apapun resikonya.

Semua kisah itu juga mengajarkan kita bahwa meskipun sebuah pesan bijak bisa saja datang, namun manusia selalu punya kehendak memilih; apakah memilih mejadi seorang penjahat ataukah seorang pembawa kebaikan. Setiap pilihan senantiasa membawa konsekuensi dalam kehidupan. Dalam kisah Harry Potter, para penyihir hidup dalam dunia yang juga selalu bergerak. Dalam situasi ini, seorang penyihir muda bersama teman-temannya menempa dirinya dalam satu kawah pembelajaran. Harry bukanlah yang terbaik di situ. Justru ia adalah remaja yang meledak-ledak, sering merasa hebat dan dirayapi setitik keangkuhan.

trio pemeran Harry Potter

Tapi ia memiliki banyak sahabat dan guru-guru yang serupa perisai baja melindungi dirinya, dan menjadi kekuatan yang seperti air bah dan menjebol. Ia belajar banyak hal, mengeliminasi keangkuhan tersebut, dan menemukan kristal-kristal cinta kasih yang menyerap keangkuhan. Harry menemukan kedewasaan dalam dekapan cinta kasih yang seperti selubung cahaya. Bersama sahabatnya, Harry adalah tim yang lengkap. Ia mendapat amunisi kecerdasan dan keberanian hingga memungkinkannya menjalani misi berbahaya untuk menegakkan kebenaran. Bersama sahabat, guru, serta orang terkasih, ia menemukan selubung cinta, sesuatu yang menjadi senjata dan melindunginya dari segala kemungkinan, menjadi kekuatan yang tampak tampak hingga luput dari pantauan Lord Voldemort sang musuh abadi. Dan kekuatan cinta pulalah yang kemudian mengalahkan sang musuh abadi. Ah…. betapa ajaibnya imajinasi, dan kekuatan cinta dalam kisah ini.

Sebuah Kisah yang Tumbuh

Selain kisah yang mempesona, saya rasa kisah ini adalah sebuah kisah yang tumbuh dan membesar. Saya pertama membaca kisah ini pada tahun 1998, saat terdaftar sebagai mahasiswa semester tiga di satu perguruan tinggi negeri di Makassar. Sejak pertama mmbaca kisahnya, saya seperti tersihir untuk mengikuti lanjutan serialnya. Selama lebih sepuluh tahun, saya menunggu lanjutan serialnya lalu menebak-nebak kelanjutan kisahnya. Kisah ini pulalah yang membuat saya pertama mengenal internet, mencari informasi tentang kelanjutan kisah, hingga bergabung dengan komunitas maya yang sering mendiskusikan novel ini.

Bisakah anda bayangkan, selama sepuluh tahun pemikiran saya selalu ditumbuhkan oleh kisah ini. Bahkan setiap kali melihat sampul sebuah buku Harry Potter, saya selalu teringat kejadian serta suasana hati saat pertama membaca buku ini. Sungguh ajaib sebab buku ini serupa buku harian Tom Rieddle --dalam Harry Potter 2—yang menyimpan catatan pengalaman hidup seseorang. Buku-buku Harry Potter serupa pensieve kepunyaan Dumbledore, serupa genangan kesan yang terus berputar dan menjadi rekaman atas pengalaman kita yang seperti film-film berisi kejadian dan pengalaman yang kita jalani. Saya bisa mengisahkan banyak hal, mengingat kejadian penting dalam hidup saat melihat buku tersebut. Kisah Harry Potter ibarat soundtrack dalam banyak episode kehidupan saya dan keluarga.

Saudara sayapun juga pencinta Harry Potter yang selalu berebut untuk membacanya. Bahkan ketika mulai pacaranpun, pacar saya seorang penggemar Harry Potter yang pernah memaksa saya untuk ke sebuah mal di tengah malam demi peluncuran buku Harry Potter and The Half Blood Prince. Pacar saya –kini sudah jadi istri—menjalani masa kecil, remaja, dan dewasa bersama kisah ini. Ia menjadi fans setia dan setiap tahun membaca ulang kisah ini dan menyaksikan filmnya.

sepuluh tahun silam

Saya dan keluarga tumbuh dewasa dalam balutan kisah ini, dalam kemurkaan pada kejahatan seorang penyihir jahat, dalam setiap inchi pertarungan kebajikan dan kemungkaran yang serupa kilatan cahaya dari tongkat sihir, dalam tatap bijak dan kedewasaan para penyihir yang menemukan kesempurnaannya dalam setiap fragmen kehidupan. Saya berani bertaruh bahwa saya dan istri tidaklah sendirian. Ada begitu banyak orang yang menemukan masa remajanya yang tumbuh dalam kisah ini, dalam setiap lembaran kisah tentang pencarian nilai kepahlawanan dan kedewasaan dalam kisah ini.

Saya bahagia karena tumbuh dalam kisah yang mendewasakan, menyalakan sesuatu dalam diri kita bahwa di balik setiap patahan kejadian, selalu saja ada pesan bijak yang mesti ditemukan. Dan jalan panjang menemukan kebenaran serupa jalan pedang yang menerabas setiap ilalang kejahatan, jalan pedang yang memotong ketidakdewasaan, serta menumbuhkan mawar cinta kasih. Bukankah ini adalah esensi kehidupan itu sendiri?



Jakarta, 20 November 2010

Ingin Menulis tentang Harry Potter


MALAM ini saya ingin menulis tentang Harry Potter. Kota Jakarta tengah demam Harry Potter. Hampir semua layar bioskop penuh dengan kisah sang penyihir remaja ini. Mereka sedang tersihir sehingga rela berdesak-desakan demi menyaksikan kisah Harry Potter. Dan saya pun adalah bagian dari mereka yang tersihir itu. Mantra Harry Potter sudah terlampau lama mengobrak-abrik imajinasi, memenuhi sel-sel pemikiran, serta membuat jantung saya berdebar kala menanti petualangan dan mantra terbaru. Ah…. Saya akan menulisnya malam ini.

Orang Buton yang Mencari Sejarah

ANAK-anak muda Buton itu tengah mencari sejarah yang obyektif. Mereka pikir sejarah itu serupa emas berlian yang segera setelah ditemukan lalu dibanggakan. Mereka pikir sejarah itu serupa mercu suar yang akan membuat kita jadi pusat perhatian karena masa silam yang hebat. Mereka ingin diakui. Makanya, anak muda itu lalu mengkritik dan menjebol warisan sejarah para tetua mereka. Tapi ternyata mereka hanya bisa jalan di tempat. Mereka tidak menawarkan apa-apa. Mereka memang menguasai banyak teori, tapi justru pengetahuan itu hanya membuat mereka jalan di tempat.

dua buku tentang Buton yang saya susun bersama teman-teman Respect.
sebuah langkah awal yang harus terus dilanjutkan bersama

Kesimpulan ini saya petik setelah mengamati lalu-lintas diskusi di sebuah milis diskusi anak-anak muda Buton. Mereka memang kritis. Mereka ingin menafsir ulang sejarah Buton sebagaimana pernah diwartakan para sejarawan lokal yang sudah sepuh. Tapi yang saya lihat, mereka hanya bisa mengkritik. Ketika ditanya apakah gerangan sejarah alternatif yang ditawarkan itu, mereka tak berkutik. Jauh lebih mudah menanyakan bagaimana teori Marx ketika membedah sejarah sosial, ketimbang menanyakan bagaimana kisah manusia-manusia Buton masa silam, dan apa hikmah yang bisa kita petik demi masa kini. Lantas apa yang salah?

Barangkali sudah saatnya menghentikan semua kritikan-kritikan hebat pada sejarawan lokal. Para tetua itu tidak pernah belajar metodologi sejarah. Makanya mereka harus dimaklumi. Tapi, dengan pengetahuan yang terbatas itu, mereka telah memberikan cahaya terang bagi siapapun generasi Buton yang ingin mengetahui sejarahnya. Mereka memberikan jawaban, meskipun jawaban itu tidak selalu memuaskan. Tapi para tetua itu telah memulai sesuatu. Mereka membuka rintisan jalan, menyiangi semak-belukar yang menghalangi perjalanan sejarah, serta memberikan gelas-gelas pengetahuan yang mengatasi dahaga pencarian kita akan kebenaran.

Nah, sekarang tantangannya adalah bagaimana kita yang muda ini bisa memberikan tafsir yang lebih segar. Rintisan jalan yang telah dibuat para tetua itu harus dilihat ulang, kemudian dibuat jalanan baru yang lebih lebar dan tegas ke mana arahnya. Nah, pertanyaannya adalah sudah sejauh manakah jalan itu kita lakukan? Ataukah kita juga hanya bisa mencaci-caci sambil mengutip banyak teori barat, namun kita alpa menemukan jalan kita sendiri? Jika seperti ini kondisinya, jauh lebih cerdas para tetua yang telah menyusun jalan pedang kebenaran lewat publikasi dan tuturan mereka tentang sejarah. Selagi kita tak sanggup memberikan tafsir yang lebih segar dan bukti yang lebih kuat serta argumentasi yang kokoh, maka kebenaran mereka akan jauh lebih abadi. Bukankah demikian?

Merindukan Belanda

suasana pedesaan negeri Belanda
HARI ini semua teman-teman peraih beasiswa IFP-Ford Foundation yang hendak ke Belanda mulai sibuk. Mereka mulai menyiapkan semua berkas-berkas yang dibutuhkan. Berkas mereka akan segera dikirim ke beberapa kampus di Belanda. Saya dan kawan-kawan yang tidak berniat ke Belanda hanya bisa iri. Belum ada pemberitahuan kapan saya dan teman-teman lain mesti memasukkan berkas.

Kawan-kawan yang hendak ke Belanda berjumlah 17 orang, lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya yang cuma di bawah 10 orang. Mereka mengincar sejumlah kampus favorit yang berlokasi di tempat strategis seperti Leiden, Utrecht, Gronongen, Wageningen, atau Amsterdam. Mereka akan bergabung dnegan para penerima beassiwa Ford yang sudah lebih dahulu berada di sana. Belanda memang tempat terbaik untuk memperdalam pengetahuan humaniora, sejarah, antropologi, dan penataan kota. Mereka yang ingin memperdalam pertanian juga mengincar Belanda. Kota-kota di negeri tulip itu sangat kaya dengan atraksi kultural, kesenian dan sejarah. Saya pun menginginkan agar suatu saat bisa menginjakkan kaki ke negeri itu. Namun, karena suatu alasan, saya lalu mengalihkan tujuan studi.
 
suasana kampus Utrecht Universiteit
Di saat menyaksikan persiapan mereka, saya sering bertanya pada diri, sebenarnya apa yang hendak didapatkan dengan beasiswa ini? Setiap orang bisa punya jawaban sendiri. Demikian pula saya sendiri. Saya harus selalu menanyakan ini kepada diri agar keberangkatan nanti tidak sia-sia. Saya tidak ingin narsis dan berbangga diri dengan kesempatan serta pengalaman yang akan diperoleh. Saya ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Tanpa bermaksud sok idealis, saya melihat beasiswa sebagai jalan terang untuk menggapai sebuah visi atau cita-cita.

Beasiswa ke luar negeri bukan sekadar pengalaman untuk belajar dalam iklim multikultural, namun kesempatan untuk melakukan sesuatu buat bangsa ini. Belajar di luar negeri adalah jalan pulang untuk menemukan timbunan kekayaan pengetahuan di negeri lain untuk di bawa pulang dan disentesakan dnegan pengetahuan lokal kita hingga kita beranjak maju. Bukan berarti kita harus mengikuti jalan bangsa lain, namun dengan cara mempelajari pengalaman bangsa lain, kita bisa menemukan efek-efek dinamik dalam diri kita untuk terus maju dan berkembang. Mungkin itu yang ingin saya temukan.(*)

Selamat Idul Adha


APAPUN agama dan keyakinan Anda, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha. Semoga tetes-tetes hikmah membasahi hati kita, menjadi sejuk di hati, mendinginkan pikiran, dan senantiasa menjadi embun bijaksana dalam sanubari. Selamat!


Yusran Darmawan & Dwiagustriani

Hijrah ke Flash


MULAI kemarin, saya hijrah dari IM2 ke Telkomsel Flash. Saya melakukannya atas dasar beberapa alasan. Pertama, sewa bulanan IM2 sangat mencekik; Rp 200 ribu per bulan, sementara Flash hanya Rp 100 ribu. Kedua, sinyal IM2 di rumah saya tidak begitu jelas. Malah lebih sering lenyap. Saya agak stres selama pakai IM2 karena soal sinyal ini. Sementara Flash sangat kencang di sini. 

Sejauh ini, saya puas dengan Flash. Cepat dan murah. Kebutuhan internet saya sangat tinggi sehingga butuh modem dan kartu yang pas untuk menjawabnya. Thanks buat Ismet Karnawan yang telah menjadi guide untuk kiat-kiat menginstall Flash ke modem dan laptop.

Bukankah Engkau Juga Tuhannya Sapi dan Kambing?

IDUL Adha kembali menjemput. Hampir semua sudut-sudut Jakarta dipenuhi kambing dan sapi yang dijual untuk menjadi hewan kurban. Kita menyebut mereka sebagai kurban atau persembahan atas sebuah kejadian sekian abad silam ketika Ibrahim hendak menyembelih Ismail. Sekian abad silam, Tuhan menguji keimanan Ibrahim dan Ismail yang lolos ujian. Tuhan lalu memerintahkan agar sesembelihan itu diganti dengan hewan.

Selama berabad-abad manusia merayakan peristiwa itu. Dan sudah jutaan hewan yang dipenggal untuk menguji keimanan manusia. “Idul Adha adalah pembantaian bagi semua hewan,” kata seorang kawan di kampus UI di Depok, beberapa tahun silam. Idul Adha adalah perayaan atas kemenangan pada masa ratusan tahun silam, namun menjadi aneh karena dirayakan pada masa modern, pada masa ketika kita kehilangan darah, daging, serta napas dari kejadian tersebut. Puluhan abad silam, Ibrahim hanya menyembelih seekor kambing. Dan di zaman ini, kita telah menyembelih jutaan kambing dan sapi, kemudian merayakan kematian mereka.

Melihat begitu banyak hewan di pinggiran Jakarta, saya tiba-tiba saja sedih. Kita para manusia sedemikian barbar dengan menjadikan daging mereka sebagai santapan. Hari ini, saat melintas di satu sudut yang banyak kambing, saya mendengar teriakan kambing yang lirih. Saya merasa teriakan itu seperti tangisan yang merobek-robek nurani saya. Saya sepakat bahwa Idul Adha adalah momen perenungan atau kontemplasi tentang seberapa besar keimanan, namun haruskah mengurbankan hewan untuk dipenggal lalu membagikan dagingnya kepada sesama? Bisakah makna perayaan itu tetap hidup dalam hati kita tanpa harus membunuh banyak hewan?

saat-saat yang menegangkan bagi hewan
Kita menyebutnya sebagai pengurbanan. Kita menyebutnya kegembiraan karena lepas dari ujian. Kita menyembelih hewan dan merayakannya sebagai hari kesetiakawanan sosial. Kita menebalkan rasa solidaritas pada sesama, justru di saat kita tak punya perasaan pada sesama mahluk hidup. Kita berbahagia di atas penderitaan semua hewan yang menanti saat-saat untuk dieksekusi, saat-saat ketika pisau tajam itu membelah leher dan memuncratkan darah. 

Andai Tuhan menjelmakan diri kita sebagai mereka, bagaimanakah perasaan kita saat menanti saat-saat seperti ini? Apakah para hewan itu punya pilihan?

Tuhan yang berdiam di sana, bukan sekadar Tuhannya manusia saja, namun Tuhannya seluruh alam semesta, Tuhannya seluruh benda langit, Tuhannya seluruh binatang termasuk kambing dan sapi. Jika pesan ini sampai, berilah jalan terang untuk para sapi dan kambing yang mengurbankan dirinya sebagai martir demi mengasah solidaritas manusia. Tuhan yang berdiam di sana. Berilah jalan yang jauh lebih terang bagi semua binatang itu di alam sana. Jalan yang jauh lebih terang dari manusia yang menjadikan mereka sebagai martir tak berdaya demi sebuah perenungan. Jalan yang jauh lebih benderang di banding manusia yang merayakan perintah-Mu dan memenggal hak hidup mereka. Bukankah Engkau juga Tuhannya para sapi dan kambing? 

menyeret sapi dengan tali
kepala sapi
saat-saat menegangkan

Jenuh....

SUDAH dua bulan saya tinggal di kota ini. Rasanya saya mulai bosan karena menjalani hal-hal yang monoton. Saya mulai jenuh karena menjalani rutinitas. Bangun pagi, masuk kuliah, pulang sore, belajar, dan istirahat. Rutinitas ini butuh energi besar dan ketekunan untuk bertahan. Juga ketabahan. Nah, sejauh manakah saya sanggup bertahan di sini?

Rahasia Facebook, Rahasia Kegilaan

Eduardo Saverin dan Mark Zuckenberg
dalam film The Social Network

DARI kamar yang sempit di sebuah asrama mahasiswa, pemuda itu meradang. Dalam keadaan sedih karena diputus sang pacar, ia melepaskan semua kekesalannya di blog. Ia menulis sekasar mungkin sebagai bentuk ekspresi. Setelah menenggak beberapa botol Heineken dan nyaris mabuk, ia memulai sebuah ide gila. Ia menembus jaringan sistem komputer kampusnya demi mengunduh semua foto mahasiswi-mahasiswi cantik. Ia lalu memajangnya di website, kemudian menyilahkan semua orang untuk memvoting siapa paling cantik.

Sebuah sejarah tentang kerajaan bisnis seringkali tidak dimulai dari pidato hebat atau pengguntingan pita. Sebuah sejarah bisa saja dimulai dari keisengan. Sebuah sejarah bisa lahir dari sepotong kegilaan. Pemuda bernama Mark Zueckenberg –yang lahir tahun 1982-- tidak menyangka jika sebuah ide kurangajar itu justru mendapat respon yang dahsyat. Situs iseng Facemash yang didirikannya menjadi favorit puluhan ribu mahasiswa sehingga dalam waktu semalam, sistem jaringan komputer di Harvard University jebol karena tak kuasa menampung lalu lintas (trafiic) yang sangat besar akibat animo yang amat tinggi.

Mark dipanggil pihak kampus dan diadili. Di hadapan petinggi kampus, ia sengit menjawab, “Apapun yang anda katakan tentang kehebatan system jaringan kampus, yang jelas saya telah mengobrak-abrik benteng pertahanan anda.” Ia lalu diberi hukuman percobaan. Adakah yang menyangka jika keisengan itu adalah awal dari lahirnya sebuah kerajaan bisnis bernama Facebook? Bisakah kita membayangkan bahwa sebuah hasrat kebencian yang tak tersalurkan dalam kata, lalu berujung pada kalimat serapah di sebuah blog, tiba-tiba menjadi awal sebuah situs yang bernilai miliaran dollar?

Kisah Mark tersebut saya temukan dalam film The Social Network yang disutradarai David Fincher. Kemarin saya menyaksikan film tersebut saat nonton bareng bersama ratusan kompasioner yang bermukim di Jakarta. Filmnya hebat. Pantas saja jika disebut sebagai kandidat peraih Oscar. Filmnya penuh inspirasi yang bertaburan tentang seorang anak muda pemimpi yang aneh, pemuda yang memulai sebuah bisnis dari sebuah rasa kesal karena diputus cinta dan ingin menunjukkan siapa dirinya, ia memelihara idealisme, menganyam mimpi, dan merentang visinya hingga jauh. Ia tidak berkhayal untuk penghasilan sejuta dollar. Ia mengincar satu miliar dollar. Bisakah kita membayangkan hasrat yang meluap-luap itu?

Mark bukanlah sosok malaikat yang datang dari langit. Ia adalah remaja biasa yang bermimpi bisa masuk sebuah klub elite di kalangan mahasiswa, bermimpi menjadi atlit dayung universitas, atau berkencan dengan kekasihnya yang cantik. Namun, apa daya jika dirinya tidak cukup mumpuni untuk masuk klub elite tersebut. Ia juga menyayangi kekasihnya. Namun, ia terlampau pemalu. Ia tidak tahu bagaimana mengekspresikan rasa sayang tersebut. Sebagai seorang remaja yang sedikit urakan, ia lalu memutuskan untuk menemukan eksistensinya lewat kelana di dunia maya. Dan kejeniusannya adalah jalan tol yang membawanya melaju kencang di dunia ini. Film ini menunjukkan bahwa dirinya adalah remaja biasa yang terobsesi dengan banyak hal, namun tak kuasa menemukan jalan yang tepat untuk berekspresi. Sifatnya pemalu dan agak urakan.

Dunia maya menjadi penyaluran dari hasrat serta ide-ide gilanya. Dan pada suatu malam, ketika para sahabatnya tengah menggelar pesta-pesta dan alkohol, ia lalu menemukan ide tentang Facebook. Bersama sahabatnya Eduardo Saverin, ia lalu mengembangkan gagasan itu menjadi sebuah situs yang sederhana.

Meskipun dituduh mencaplok ide orang lain, ia tak bergeming. Di tangan Mark, sebuah ide mentah ibarat sebuah lempung yang bisa disentuh menjadi porselen. Ia mengembangkan ide tersebut hingga menjadi sebuah situs jaringan sosial yang menjadi penanda baru zaman ini. Sebagaimana kata sahabatnya, “Kita hidup di zaman baru. Tidak lagi tinggal di rumah atau ladang. Kita hidup di dunia internet. Orang akan mencari alamat kita di internet.”


Ia memang jenius luar biasa hingga dosennya hanya bisa membiarkannya pergi meninggalkan kelas, ketika Mark dengan nada cuek menjawab pertanyaan dosen tentang sebuah soal rumit. Tapi saya kira point utama kelebihannya bukanlah terletak pada kejeniusan itu. Di kampus seperti Harvard, kejeniusan adalah perkara yang biasa ditemukan. Point utama kelebihannya adalah kecepatan menangkap sebuah peluang dan kreativitas dalam mengemas sebuah gagasan. Bagi Mark, sebuah gagasan tak perlu menunggu saat untuk matang. Ketika gagasan itu lahir, maka saat itu juga gagasan itu harus memiliki tubuh, jiwa, dan kaki-kaki untuk bergerak.

Tatkala Mark tengah tertidur dalam sebuah kuliah, seorang mahasiswa datang curhat dan menanyakan apakah seorang gadis yang diicarnya sudah menikah atau belum. Ia curhat, andaikan ia tahu jika gadis itu tengah mencari pacar atau belum, maka ia akan sangat girang. Tiba-tiba saja, Mark seperti Isaac Newton yang kejatuhan apel. Ia berlari kencang ke apartemennya lalu menambahkan fasilitas relationship dalam Facebook. Demikian pula saat berbincang dengan sahabatnya Eduardo, ia lalu menambahkan fasilitas wall, serta tempat untuk saling memberi komentar atas foto atau dokumentasi kehidupan sosial. Ia memang kreatif. Tidak heran, dengan kecepatan serta kreativitas seperti itu, ia berhasil menggapai semua mimpi-mimpinya yakni menjadi jutawan di usia muda.

Taburan Hikmah

Namun, apakah harga dari sebuah kesuksesan? Sebagai seorang muda, sosoknya memang tidak matang secara emosional. Dirinya adalah sebuah paradoks. Tatkala ia memiliki jutaan pengagum di dunia maya, ia harus ikhlas kehilangan satu per satu sahabat dekatnya. Uang menjadi pemicu dari konflik serta perdebatan yang tak kunjung henti. Demikian pula ketika ia bertemu teman baru yang dianggapnya lebih cakap dalam hal visi bisnis. Di titik ini, Mark hanyalah seorang pemuda yang tidak cakap mengelola emosi.

Bahkan seorang sahabat dekatnya pun tiba-tiba tersingkir. Emosi yang meledak-ledak itu adalah api yang membakar dirinya. Sebagai pebisnis muda, ia sukses menggapai semua impian. Namun, sebagai manusia, ia mesti belajar hal-hal yang tidak selalu ditemukannya di dunia nyata yakni; kematangan, kecerdasan emosional, serta kehati-hatian dalam melakukan tindakan. Mungkin, ia butuh jam terbang yang tinggi untuk menjadi seorang manusia yang paripurna.

Dalam film ini, saya sering menemukan gambar-gambar yang bernuansa paradoks. Bagaimana music hingar-bingar dan pesta khas anak muda di Amerika Serikat (AS), dikontraskan dengan keseharian Mark yang lebih banyak kesunyian. Di saat sahabat dan karyawannya berpesta, Mark justru sendirian di satu ruangan, memperhatikan Facebook, sambil mengirimkan undangan pertemanan kepada mantan kekasihnya, lalu me-refresh status undnagan tersebut selama beberapa saat. Mark kehilangan dunia sosial di saat ia menciptakan sebuah program yang bisa menjadi jembatan bagi dunia sosial.

Saya rasa film ini sangat layak untuk mendapatkan banyak penghargaan bergengsi. Baik sutradara David Fincher, penulis scenario Aaron Sorkin, hingga actor Jesse Eisenberg yang sukses menghidupkan karakter Mark Zuckenberg. Meskipun film ini dikritik habis Mark Zuckenberg –khususnya pada bagian keinginan untuk gabung di klub elite Harvard--, namun tetap saja menampilkan kecemerlangan Jesse memainkan sosok eksentrik seperti Mark. Salut juga layak diberikan kepada penata music yang kerap menghadirkan kontras antara music berdentum di bar, serta dunia kesunyian Mark. Bagian paling saya suka adalah music The Beatles yang muncul di akhir film. Suara John Lennon sangat khas ketika bersyair “Now .. u rich..”


Bagi saya, film inspiratif ini menyisakan beberapa catatan berharga. Pertama, sebuah ide segila apapun bisa menjadi tambang emas tatkala kita sanggup mengemasnya dengan baik. Inspirasi seorang Mark justru lahir dari hal-hal yang dialaminya sehari-hari. Ia paham bagaimana dinamika komunikasi serta hasrat mahasiswa untuk saling mengenal di satu ruang maya. Ia hanya menyediakan jalan buat mereka untuk berselancar, bertemu di satu situs, kemudian saling menyapa. Kedua, sebuah usaha memang membutuhkan konsistensi untuk ditumbuhkan dan dibesarkan. Perjalanan sebuah usaha ibarat roller coaster yang suatu saat bisa meninggi dan bisa terhempas ke bawah. Daya tahan serta kreatifitaslah yang membuat usaha itu bisa bertahan dan tumbuh besar. Ketiga, selalu ada yang dikorbankan ketika hasrat dan impian hendak mengangkasa. Mungkin Mark kehilangan pertemanan, tapi ia mendapatkan ladang emas pencariannya. Ini sesuai dengan kalimat yang tertera di poster film, “You don’t get 500 million friends without making a few enemies.” Apakah anda sepakat dengan kalimat ini?




Jakarta, 14 November 2010

About Brenda Song


KEMARIN, saya menyaksikan gadis ini dalam film The Social Network. Komentar saya adalah gadis ini sangat cantik. Khas wanita Asia. Setelah berselancar di google, saya akhirnya tahu kalau namanya adalah Brenda Song. Ia memang tidak seberapa popular sebagaimana Zang Zi Ying atau Jackie Chan. Tapi, paras dan permainannya yang apik akan melesatkan dirinya sebagai bintang besar Hollywood. Nah, gimana menurut anda. Apakah gadis ini memang cantik?


Obama Versus SBY

PADA awalnya adalah suara senyap. Namun ketika sosok itu mulai berbicara, sorak-sorai membahana serentak memenuhi ruangan. Tepat di auditorium Universitas Indonesia (UI), pria itu berbicara dengan kalimat yang amat bersahabat, menarik, serta penuh keakraban. Pria berkulit gelap itu adalah seorang presiden. Namun ia tidak sedang berbicara di hadapan bangsanya sendiri. Ia berbicara di hadapan bangsa lain, pada negeri yang didiaminya selama beberapa tahun. Namun simpati yang didapatkannya luar biasa dahsyat.

saat Obama berpidato di kampus UI
Saya sedang membahas seorang pria bernama Barrack Husein Obama, pemimpin sebuah negara adidaya dan superpower Amerika Serikat (AS). Ia datang di satu negeri yang warganya demikian lama menantikan kedatangannya. Saya berani bertaruh. Saat dirinya berpidato, pasti ada begitu banyak pasang mata yang menantikannya melalui layar televisi dengan berdebar-debar. Obama menjawab semua harapan public dengan antuasiasme serupa. Ia menyebut hal-hal yang menggembirakan dan menjadi benang merah yang mempertautkan dirinya dengan bangsa Indonesia.

Kemarin, saat dirinya berpidato di kampus UI, kembali semua berdecak kagum. Dengan gaya retorik yang piawai dan khas, ia mendulang simpati publik. Seorang kawan mahasiswa tak kuasa menahan rasa bahagia yang teramat sangat. Ia mengirim SMS kepada saya dengan ucapan singkat, “Andaikan dia memilih naturalisasi dan mencalonkan diri sebagai Presiden Indonesia, maka saya akan menjadi orang pertama yang akan memilihnya. Saya akan menciptakan sejarah bersamanya.”

Sehebat itukah respon kepadanya? Pantaskah kita memberikan respon demikian besar pada presiden dari negeri yang jauh? Saya termenung kala mengamati pesan teman tersebut, serta menyaksikan komentar yang berseliweran di fesbuk. Mengamati begitu banyak komentar tentang Obama, saya sering merasa terheran-heran. Saya sedang menyaksikan sebuah gelombang kekaguman yang mengalir rapi sejak berita kedatangan Obama di negeri ini. Ia memang banyak dikritik, khususnya oleh kelompok tertentu, namun fakta juga mengatakan bahwa ia dinanti bak seorang selebritis kesohor. Media televisi ramai-ramai menurunkan liputan eksklusif, yang paling meriah jika dibandingkan Presiden AS manapun yang pernah berkunjung ke negeri ini.

Memang, kita dengan mudah bisa mengatakan bahwa semua antusiasme itu dipicu oleh fakta tentang sosok Obama yang pernah tinggal di Jakarta selama beberapa tahun. Ia mengenal dan mengingat negeri ini dengan baik, dan beberapa kali mencatatnya dalam buku, atau disampaikan dalam pidato yang menggemuruh di negeri Paman Sam. Namun, saya justru melihat sesuatu yang lebih luas.

Bagi saya, simpati dahsyat itu tidak semata-mata karena factor hubungan kultural yang kuat. Saya melihat bahwa simpati itu lahir dari pidato yang mempesona, pribadi yang charming dan bersahabat, serta visi yang mengalir deras dan membangkitkan optimisme. Selain itu, bangsa ini memang merindukan satu sosok yang memiliki pidato yang menyentuh, memiliki kecerdasan dan sikap yang tegas dan mengalir lewat pancaran kata-kata. Kelebihan Obama, sebagaimana yang saya saksikan di televisi, adalah gaya retorika yang menyihir, kemampuan menyerap idiom-idiom lokal, kemudian membahasakannya pada audiens lokal. Kombinasi dari semua ini memunculkan sebuah pidato yang amat menyentuh hati dan memekarkan semangat. Inilah kekuatannya.

Retorika Dua Presiden

jamuan dua presiden
Mengapa public demikian gemuruh? Sebab selama ini public dipertontonkan gaya pidato yang agak monoton dan cenderung textbook. Pada saat Obama didampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan sama-sama berbicara, saya melihat ada kesamaan di antara mereka yakni sama-sama terpilih dari pemilu yang pesertanya adalah jutaan orang. Nah, jika membandingkan keduanya, tentu akan sangat menarik sebab kedua-duanya sangat menjaga citra sebagai unsure utama yang menggiring ke pucuk pimpinan. Namun, bagaimanakah kiat mereka membangun retorika? Apa yang bisa dicatat dari perbedan gaya retorik mereka? Nah, pembahasan ini hanya focus pada gaya retorika saja. Tidak melebar ke hal-hal lainnya.

Pertama, Obama amat fleksibel dalam hal bahasa tubuh (body language). Ia melemparkan senyum sana-sini, dan menjawab pertanyaan berdasarkan spontanitas. Sepintas, ia seolah tidak sedang serius dalam menghadiri sebuah acara kenegaraan. Ia seperti sedang bermain-main dan berprilaku seperti seorang sahabat yang santai, namun tetap serius. Sesekali ia melontarkan kalimat yang melahirkan gerr atau tawa. Dengan bahasa tubuh yang demikian akrab dengan siapa saja, ia mencitrakan dirinya bukan sebagai orang lain. Sangat jarang ia memasang satu sikap sempurna yang kaku, jarang menoleh kiri kanan, serta wajah yang ditekuk seolah-olah sedang menghadapi arena pertempuran. Senyumnya mengembang. Sejak pertama turun dari pesawat, ia tersenyum lebar dan menyapa semua orang. Ia tidak sekadar berjabat tangan dengan senyum kaku dan dipaksakan. Ia singgah sejenak lalu mengajak siapapun untuk berbincang.

Saya melihat bahasa tubuh ini amat berbeda dengan Presiden SBY. Mungkin karena besar dari latar militer, membuat SBY amat menaati keprotokoleran. Sepintas, sikapnya agak kaku. Senyumnya agak datar. Saya jarang menyaksikan SBY tertawa lebar sebagaimana Gus Dur ketika sedang berguyon atau ketika sedang diledek oleh pelawak Srimulat. Ketika berjalan, SBY agak kaku dengan langkah yang amat tegap, seperti prajurit yang sedang menuju medan laga. Ia memang lebih banyak diam, dan memancarkan kharisma. Namun, dengan style seperti itu, ia jadi misterius dan seperti membangun benteng kehati-hatian. Berbeda dengan Obama yang fleksibel.

Kedua, pilihan kata. Bagi saya, Obama adalah seorang maestro yang pandai memilih kata. Media massa amat senang mengutip kalimat Obama karena pilihan katanya yang tepat serta menyentuh. Kalimatnya tidak sekadar berisi, namun juga penuh daya pesona yang membelit semua pendengarnya. Saya mencatat kutipan pidatonya saat terpilih sebagai Presiden AS. Ia mengatakan, “If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible, who still wonders if the dream of our founders is alive in our time, who still questions the power of our democracy, tonight is your answer. This is America!”

Kemarin, saat ia memulai pidato di UI, ia tidak memulai dengan kalimat “Yang terhormat……” sebagaimana sering dipakai para pejabat kita. Ia justru memulai dengan menatap ke segala arah, kemudian tersenyum dan sedikit mendehem, lalu berkata, “Pulang kampung nih..”. Anda tahu sendiri bahwa reaksi public adalah gemuruh bertepuk tangan. Sims Wyeth, seorang pelatih dan konsultan komunikasi oral, mencermati dimana kekuatan pidato Obama. Ia mengatakan kekuatan Obama adalah concern audience. Ia selalu membuka pidato dengan cerita-cerita yang menarik dan membuat siapapun tersenyum. Saat inilah ia akan mengeluarkan kalimat yang berisi.

Nah, saya justru tidak menemukan itu pada pidato SBY. Sejak masa Presiden Soeharto, kita selalu menyaksikan retorika yang agak menjemukan. Boleh jadi, para pemimpin kita hanya mengandalkan para intelektual bergelar professor untuk menyusun pidato. Makanya, retorika yang muncul adalah retorika ilmiah dan tidak membawa kekuatan apapun. Gaya pidato Presiden SBY adalah sering membaca naskah yang disodorkan dengan intonasi yang datar, tanpa ekspresi.

gerakan tangan yg khas
Dari sisi content, saya jarang menemukan kalimat-kalimat yang berisi dan terngiang-ngiang dalam benak. Sering saya berpikir, mengapa pemimpin kita hanya mempekerjakan para ahli hukum seperti Yusril Ihza Mahendra (penyusun pidato Suharto) untuk menyusun pidato? Demikian pula SBY yang sempat mempercayakan naskah pidato pada Dino Patti Jalal yang latarnya ahli politik. Mengapa SBY tidak berkonsultasi dengan penyair seperti Goenawan Mohammad untuk menyusun kalimat yang berisi dan menyentuh hati? Bukankah pidato yang kering itu akan basah dan mengalir lembut jika diberi sentuhan humaniora?

Ketiga, sentuhan emosi. Obama pandai membaca apa yang sedang ditunggu-tunggu para audiensnya. Dengan cara mengutip beberapa kalimat tertentu, ia menjadikan dirinya sebagai bagian dari audiensnya. Ia mengatakan, “Indonesia bagian dari diri saya.” Ia lalu menceritakan dalam bahasa Inggris, ibunya menikahi pria Indonesia, Lolo Soetoro. Kemudian Jakarta yang dikenalnya. Ia masih ingat Hotel Indonesia dan juga pusat belanja Sarinah. “Ada bemo, banyak mobil juga sekarang.” Obama juga bercerita dulu dia tinggal di Menteng Dalam. Ucapan ini disambut teriakan-teriakan mahasiswa. Obama pun tertawa sambil berucap, “Hei, ada yang dari Menteng Dalam juga ya,” cetusnya sambil tertawa.

Sehari sebelumnya, ia memuji masakan Indonesia. Feeling saya, mungkin Obama tidak menghapal lagi hingga detail. Tapi, saya yakin Obama memiliki sejumlah tim yang datang lebih dulu, mengumpulkan banyak informasi tentang Indonesia, dan memberikan masukan apa yang harus diucapkannya. Makanya, jangan pula terkejut ketika Obama membahas Pancasila dan dikaitkan dengan semangat pluralism, Unity in Diversity. Semuanya berkat masukan dan kerjasama apik dengan tim kerjanya. Dengan mengambil idiom cultural seperti ini, ia akan diterima bak warga setempat yang pulang merantau. Luar biasa!

Lagi-lagi saya tidak menemukan pendekatan cultural dalam pidato SBY. Dengan pidato yang datar serta bahasa yang baik dan benar itu, SBY terkesan kaku dan agak serius. Presiden SBY yang jarang mengadopsi pendekatan cultural dalam naskah pidatonya. Ia jarang mengutip pendapat sosok besar negeri ini di masa silam. Sangat berbeda dengan pidato Bung Karno yang melahirkan banyak kalimat popular yang membekas, misalnya “jangan sekali-kali merubah sejarah” (jasmerah), atau kalimat “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya.” Atau mungkin anda masih ingat kalimat “Go to hell with your aid.” Memang, di antara semua pemimpin kita, hanya Bung Karno yang bisa mengalahkan kepiawaian Obama ketika berpidato.

Tapi bukan berarti pidato SBY tidak menarik. Justru pidatonya akan sangat menarik jika di banyak negara, Presiden SBY juga mengadopsi pendekatan kultural, mengidentifikasi apa strategi kultural yang tepat di negara tersebut, kemudian menerapkannya dalam pidato. Saya yakin pidatonya akan lebih bermakna. Sebagai seorang yang berasal dari daerah, dalam hal ini Pulau Buton, saya membayangkan suatu hari Presiden SBY akan berkunjung, kemudian menyampaikan salam dalam bahasa Buton. Bukankah Buton adalah bagian dari wilayah kekuasaannya yang semestinya dikenali nilai kearifan lokalnya? Saya membayangkan, ia akan berpidato dan sesekali mengutip falsafah Buton. Apakah susah melakukannya? Tidak. Ia tinggal menurunkan tim, kemudian mempelajari idiom kultural, lalu mengemasnya menjadi pidato yang menarik dan menyentuh hati warga setempat.

***

Masih banyak yang hendak saya sampaikan di sini. Mulai dari substansi pembicaraan, wawasan, isu penting pembicaraan, gerak tangan, hingga bagaimana mengelola perhatian audiens. Sayang sekali karena tidak dibahas dalam tulisan ini, sebab bisa kepanjangan dan melelahkan anda semua para pembaca.

Catatan penting yang bisa diketengahkan di sini adalah kebanyakan pemimpin negara kita justru bukan mereka yang cakap dan pandai berpidato dengan bahasa yang menyentuh. Saya sudah terbiasa menyaksikan gaya retorik para pemimpin kita yang datar, tanpa ekspresi, dan terkesan membaca teks. Banyak pemimpin kita yang tidak berwawasan luas. Tidak semua mengenali khasanah kekayaan bahasa serta petuah bijak yang terangkum dalam sejarah.

Ketika Obama dielu-elukan, maka itu adalah cerminan dari kerinduan pada sosok yang kalimatnya menyentuh, tertata rapi serta menunjukkan wawasan yang luas dan pemahaman yang baik atas sebuah permasalahan. Kita menginginkan ada sosok yang tegas, dan membangkitkan harga diri bangsa dalam pergaulan internasional. Lebih dari itu, kita merindukan sosok sejuk yang kalimatnya mempesona, menjerat semua hati dan simpati, serta membangkitkan optimism. Bukankah itu hal-hal yang kita harapkan dari seorang pemimpin?



Jakarta, 11 November 2010

Saat terbangun subuh-subuh

Kompas, Merapi, dan Topeng Kepalsuan

foto yang tayang di Kompas edisi Sabtu lalu
MERAPI mengamuk! Pesan itu bergema di mana-mana. Awan panas dengan kecepatan 200 km/jam menyerbu. Penduduk panik lalu berlarian dan mengungsi. Saya membayangkan sebuah bunyi berdentum, lalu jerit tangis manusia yang memenuhi angkasa. Merapi tidak lagi menjadi tempat eksotis yang indah disaksikan di pagi hari. Bukan lagi menjadi hamparan pemandangan indah yang memesona sebagaimana sering diabadikan para penjelajah. Merapi akhirnya menampilkan wajah yang lain, sebuah wajah yang menakutkan. Seperti Faust dalam kisah karya Goethe yang punya dua wajah, merapi bisa menjelma sebagai horror yang mengerikan bagi siapa saja.

Belum kering air mata kita saat mendengar bencana banjir di Wasior. Belum juga kering air mata kita saat mendengar bencana di Mentawai. Kini, Merapi kembali membasahi hati kita dan menjadi isak lirih dari seluruh anak bangsa. Inilah negeri yang berkarib-karib dengan bencana. Negeri ini terus saja dihantam bencana alam, yang seakan melengkapi bencana sosial yang disebabkan para manusianya. Kita seakan duduk di atas bara api yang setiap saat bisa meremukkan daratan kita. Mengapa negeri yang elok ini selalu dirundung bencana? Mungkinkah -sebagaimana dikatakan Ebiet G Ade-bahwa Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, ataukah alam mulai enggan bersahabat dengan kita?

Sebagai warga baru di Jakarta, saya hanya bisa menyaksikan Merapi dari jauh. Hasrat saya sangat besar untuk menjadi relawan. Namun, apa daya rutinitas Jakarta seakan memantek langkah saya untuk tetap bertahan di kota yang sumpek ini. Saya hanya bisa mencatat beberapa kejadian serta sesekali membeli media cetak dan melengkapkan semua informasi yang bersarang bak puzzle di dalam kepala. Hal paling penting yang saya catat adalah letusan ini telah membuka lapis-lapis kenyataan yang sangat penting sebagai penanda sosial baru masyarakat kita. Merapi telah membuka tiga hal yang selama ini tidak terlalu nampak yakni; posisi media, watak negara, serta menguatnya masyarakat kita. Nah, mari kita diskusikan sama-sama.

Pertama, Merapi membuka lapis kenyataan tentang negara yang lebih sering tidak hadir dalam bencana. Entah kenapa, setiap kali bencana, maka agenda pemerintah hanya berkunjung saja, kemudian menyerahkan sumbangan yang disebut dengan suara tinggi kalau nilainya mencapai miliaran rupiah. Bisakah kita mengatakan bahwa pemerintah telah hadir? Ada paradoks yang nampak sebab seolah-olah sumbangan itu adalah kemurahan hati sang pejabat. Sebagai masyarakat, kita bisa bertanya balik. Bukankah dana sumbangan itu berasal dari kas negara yang kemudian digunakan untuk masyarakatnya sendiri? Tepatkah kata sumbangan atau bantuan tersebut?

merapi mengamuk
Hal menarik lainnya adalah setiap bencana, pasti selalu diikuti dengan kunjungan kepala negara. Bukannya saya tidak sepakat dengan kunjungan, namun ada kesan dengan melakukan kunjungan, lalu mendengarkan suara sedih rakyat, seolah-olah pemerintah sudah bekerja. Saat presiden kita memeluk pengungsi, seolah-olah semuanya selesai. Padahal, semuanya cuma simbolik. Apalah artinya berpelukan, setelah itu rakyat kembali menderita karena bencana. Pemerintah bisa disebut bekerja ketika semua perangkatnya turut bekerja, melakukan sesuatu, dan memastikan bahwa mereka yang tersakiti oleh bencana bisa segera pulih dan kembali seperti sedia kala. Pemerintah disebut hadir dalam suatu bencana tatkala ia menjalankan perannya semaksimal mungkin untuk membantu rakyatnya, memastikan bahwa bukum dan aturan telah bekerja untuk melindungi, serta memastikan semua rakyatnya tidak sedang kekurangan.

Seorang kawan Kompasioner, Irman Rusli, menulis dengan sangat baik bahwa kunjungan kepala negara yang justru menimbulkan masalah baru. Dalam keadaan bersedih, warga dipaksa ke lapangan menunggu kepala negara. Mereka berpanas-panas selama berjam-jam, kemudian semua agenda harian tiba-tiba batal karena kunjungan pejabat. Padahal, apa sih yang dilakukan kepala negara? Cuma merangkul dan isak sedih. Imran mencatat, “Gara-gara presiden dan wakil presiden datang, penanganan para korban dan pengungsi terpaksa dihentikan sementara, karena mereka kan harus disambut, harus dilayani.“

Kedua, Merapi telah membuka topeng kepalsuan dan watak pejabat kita yang lebih banyak narsis dan tidak peduli. Betapa saya kecewa berat ketika mendengar pernyataan ketua DPR yang justru menyalahkan warga yang tinggal di pesisir. Betapa saya juga jengkel ketika membaca berita tentang banyaknya spanduk partai politik di sekitar lokasi pengungsian. Dan lebih kesal saat membaca berita tentang Gubernur Sumbar yang memilih ke Jerman dengan agenda promosi potensi daerah. Lalu, anggota DPR yang sibuk studi banding di banyak negara Eropa hingga Arab.

Wah, inilah negeri yang para pejabatnya justru tidak peka. Semalam, saya juga kesal ketika membaca berita tentang pernyataan Menpora Andi Alifian Mallarangeng yang usai memberikan bantuan, tiba-tiba mengatakan, “Menurut saya penting memberikan kegiatan positif bagi pengungsi. Saya lihat mereka itu sudah cukup sebenarnya, makan sudah siapkan dan MCK sudah ada. Mereka ini tinggal menunggu bunyi klenteng-klenteng lalu sarapan, klenteng-klenteng lalu makan siang dan klenteng-klenteng lalu makan malam,” katanya di Gedung Agung, Jl Malioboro, Yogyakarta, Minggu (7/11/2010). Saya menmukan pernyataan itu dalam tulisan dan komentar yang sangat baik dari Kompasioner Hadi Some.

Ketiga, Merapi telah membuka mata bahwa rakyat tidak tidak terlalu yakin jika pemerintah (sebagai representasi negara) bersedia mengatasi kemalangan mereka. Mereka tidak yakin bahwa pemerintah akan bekerja, melakukan sesuatu dengan ikhlas. Pantas saja jika mereka mudah membangkang atau mengabaikan pemerintah. Ketika presiden dan juga menko kesra sudah berjanji akan mengganti ternak warga yang tewas, warga justru mengabaikan pernyataan itu pada saat dilontarkan. Mereka tetap nekad untuk melihat ternak, mengabaikan keselamatannya, hingga kembali ke desa untuk melihat ternak. Ini fenomena apa? Buat saya ini adalah tanda bahwa mereka tidak terlalu yakin kalau janji itu akan terealisasi. Mungkin saja merekas berpikir akan menempuh prosedur birokrasi yang ruwet, dana itu akan dipotong, atau mekanisme yang berbelit. Di negeri ini, hal-hal semacam itu sudah menajdi kelaziman.

Keempat, letusan Merapi telah menyadarkan orang-orang tentang posisi media sebagai pisau bermata dua. Selama ini orang-orang cukup sadar bahwa media kita -khususnya elektronik-terlampau sensasional demi mengejar target rating dan pengiklan. Memang, fungsi media adalah memberikan alaram agar warga tetap waspada. Namun, tanpa dikelola dengan baik, fungsi itu bisa menjelma menjadi horror yang meningkatkan ketakutan public hingga kepanikan yang luar biasa. Selama ini, saya sudah sering menemukan kekecewaan dari para konsumen media. Hanya saja, kekecewaan itu lebih diungkapkan sebagai gumaman, tanpa melakukan sesuatu. Namun, letusan Merapi telah meningkatkan kesadaran itu menjadi sebuah tindakan.

Banyaknya tulisan di Kompasiana yang mengkritik detik.com, atau kritik buat TVOne, serta surat yang dilayangkan ke KPI hingga akhirnya ditutupnya tayangan Silet menjadi pertanda penting bahwa masyarakat mulai sadar media dan mulai bersikap kritis pada tayangan media yang sensasional dan tidak empati. Kemarin, saat ke kampus UI, saya mendengar dua orang tukang ojek yang membahas kekesalan karena gambar mayat korban dimuat di halaman depan sebuah media. Sang tukang ojek itu kesal dan mengatakan, “Wah, gambar ini kan tidak etis tayang di halaman media.”

Selama puluhan tahun, masyarakat dijejali retorika khas pemerintah Orde Baru bahwa media sangat penting untuk keberlangsungan pembangunan. Media membanjir hingga desa-desa dan menyebarkan informasi. Kini, setelah letusan Merapi, semua orang tiba-tiba menyadari bahwa media bisa menjadi musuh yang lebih berbahaya ketimbang Merapi sendiri. Media bisa menghadirkan ketakutan yang berlebihan sehingga menimbulkan kepanikan massal.

Bagaimana Posisi Kompas?

Dalam cekaman kekalutan seperti ini, kita bisa berharap banyak dengan hadirnya harian Kompas yang lebih empati kepada korban. Setiap membaca Kompas saya selalu optimis bahwa meskipun pemerintah tidak terlalu bisa diharapkan, namun ada begitu banyak lapisan masyarakat yang bekerja untuk membantu sesamanya. Kompas membangkitkan optimism bahwa di tengah awan kelabu bencana, selalu ada harapan atas masyarakat yang solidaritas sosialnya kian menebal dan membantu sesamanya.

Selama dua hari ini saya membaca Kompas dan mencatat begitu banyak hal menarik. Saya menangkap agenda peliputan Kompas yang banyak memberi porsi berita tentang bagaimana simpati publik bangkit, serta upaya public untuk mengkoordinasi dukungan sesama dan melakukan tindakan nyata. Mulai dari para gitaris yang sibuk mengumpulkan dana, anak-anak sekolah dasar yang menyumbangkan celengan, hingga lapis kelas menengah masyarakat yang semuanya turun tangan untuk membantu korban Merapi. Bukan hanya dari sisi berita, Kompas juga memuat beberapa opini yang spesifik mengangkat tentang simpati masyarakat dan upaya membantu sesamanya. Sabtu lalu, saya membaca esai Harry Tjahjono yang amat menyentuh tentang bagaimana bencana Merapi ditransformasikan oleh public sebagai kesadaran membantu sesama.

Kompas memberikan ruang yang cukup besar bagi melimpahnya simpati publik atas nasib sesamanya. Saya tidak terkejut dengan liputan ini sebab saya tahu persis banyak yang turun tangan untuk membantu di lapangan, semata-mata demi keikhlasan. Saya mengenal banyak sahabat yang turun tangan menjadi relawan, tanpa mengharapkan sepeserpun imbalan. Tanpa tendensi politik apapun. Ketika masyarakat turun tangan dan melakukan segala hal yang semestinya di lakukan negara, maka itu adalah isyarat bahwa masyarakat tidak terlalu yakin negara akan melakukan tugasnya untuk mengkoordinasikan bencana.

Mungkin, liputan Kompas itu hendak membahasakan hal sederhana yakni; negeri ini bisa bangkit untuk membantu sesamanya, tanpa harus menunggu bagaimana negara bertindak. Ada semacam paradigma baru yang tumbuh di benak warga, ketimbang menyaksikan kelambanan negara yang turun membantu bencana, atau ketimbang menyaksikan politik pencitraan Partai Demokrat yang memenuhi tenda pengungsi dengan bendera partai, jauh lebih baik jika warga turun tangan, menyingsingkan lengan baju, dan melakukan sesuatu untuk sesama anak bangsa.

Ketika masyarakat lain turun tangan sendiri mengkoordinasi bantuan dengan caranya sendiri-sendiri, ketika rakyat tidak mau mengemis mengharapkan bantuan dari negara, ketika masyarakat memenuhi jalan untuk mengampanyekan solidaritas public, maka semuanya adalah tanda-tanda sedang terbentuknya lapis-lapis generasi baru yang mulai mandiri melihat masalah sosial di negeri ini.

Masyarakat kian tercerahkan bahwa niat mulia untuk membantu sesama tidak bisa diserahkan hanya pada negara, sebagai institusi yang mengemban amanah untuk melindungi warganya. Masyarakat membangun jejaring sosial baru, menyingsingkan lengan baju tanpa mengharapkan imbalan, serta bergerak bersama, adalah oase embun di tengah bencana. Sikap tersebut melahirkan genangan optimism bahwa kelak negeri ini akan jauh lebih baik karena masyarakatnya mulai kuat dan mandiri. Dan saya amat bahagia dengan kenyataan ini, sekaligus sedih ketika membayangkan aparat negara yang masih sibuk berkoordinasi.


Jakarta, 9 November 2010
Saat siap-siap sarapan pagi

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...