Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Tantangan Lomba Teriak

SEUMUR-UMUR, saya tak pernah melihat ada lomba seaneh ini; lomba teriak. Mungkin Anda sedang menganggap saya bercanda, tapi sungguh! Ini serius. Kemarin, saat berkunjung ke Pesta Blogger 2010 di Epicentrum Rasuna Walk, saya melihat ada lomba teriak yang diadakan di stand detik.com. Bagaimanakah mekanismenya? Gampang. Anda cukup berteriak pada satu microfon yang disiapkan panitia. Nanti, computer yang akan mengkalkulasi seberapa keras teriakan Anda. Komputer lalu menerjemahkan teriakan itu dalam grafik yang langsung tampak. Kalau teriakannya tinggi, maka Anda akan menang.

salah satu finalis lomba teriak

ini bukan audisi nyanyi. tapi lomba teriak....

Semudah itu? Memang. Tapi tidak semudah kelihatannya. Buktinya, saat beberapa orang mencobanya, mereka justru gagal. Yang menaril, pihak panitia tetap memberikan hadiah bagi peserta yang gagal. Saya melihat banyak yang tertarik dan mencobanya. Tapi saya agak malu mencoba. Siapa sih yang gak mau berteriak sambil disaksikan banyak orang di situ?

Yang lucu, jika teriakan itu amat keras dideteksi computer, maka segera muncul tulisan “Selamat, Anda bener-bener gila!”. Dan ketika suaranya kurang keras, yang muncul adalah tulisan “Anda kurang gila!”. Wah, diledek computer seperti itu, membuat saya jadi kurang pede untuk jadi peserta. Tapi Dwi, istri saya, justru percaya diri. Ia ikut sebagai peserta dan berteriak sekeras-kerasnya. Sayang sekali, teriakannya kurang kencang. Ia hanya mendapat hadiah hiburan. Tapi, setidaknya saya salut karena ia berani ikut lomba teriak, sementara saya justru tidak percaya diri.(*)

Ingin ke AS? Segera Daftar Beasiswa Fullbright...


APAKAH anda tertarik dengan beasiswa? Jika jawabannya YA, maka sudah saatnya anda berselancar di dunia internet untuk menemukan lembaga-lembaga yang menawarkan beasiswa. Beasiswa itu bukan hanya kesempatan untuk jalan-jalan gratis ke negeri lain. Namun, untuk memperluas wawasan, serta kesempatan untuk belajar banyak hal dari bangsa lain, menyerap pengetahuan hingga ke inti-intinya, kemudian membawa semua bekal pengetahuan itu untuk membangun negeri.

Kemarin, saat berkunjung ke stand Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS), saya melihat pengumuman tentang beasiswa Fullbright. Ini adalah salah satu beasiswa bergengsi yang member kesempatan untuk belajar ke Amerika Serikat (AS). Hampir setiap tahun, terdapat sekitar 200-an orang yang mendapatkan beasiswa Fullbright untuk ke AS. Nah, jika anda tidak ingin kehilangan kesempatan, sebaiknya segera mendaftar. Jangan sampai kesempatan emas itu jatuh ke orang lain. Gimana?

Televisi Milik Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Jakarta





NAH, perhatikan tulisan di baju pria dan wanita ini. Di situ tertulis LSPR TV. Ini adalah singkatan dari London School of Public Relation (LSPR) Television (TV). Mereka bukanlah kru satu televisi swasta, melainkan kru sebuah televisi yang dikelola lembaga pendidikan yakni LSPR. Di Jakarta, LSPR adalah universitas yang mengkhususkan diri pada ilmu komunikasi. Jadi, tidak mengejutkan jika mereka membuat satu stasiun televisi sendiri, lengkap dengan presenter serta penyiarnya sendiri.

So, jangan tertipu dan mengira mereka dari stasiun televisi swasta. Di Jakarta, rata-rata pendidikan yang mengkhususkan diri pada ilmu komunikasi memiliki laboratorium yang cukup handal untuk pengembangan ilmu. Mungkin ini adalah konsekuensi dari tuntutan dunia praktis yang mensyaratkan mahasiswa memiliki kemampuan yang handal.

Nah, saat menyaksikan kedua kawan di atas, saya jadi membayangkan bagaimana fasilitas yang dimilki mahasiswa komunikasi di Amerika Serikat (AS). Pasti akan jauh lebih canggih.(*)

Pin Kreatif untuk Bencana Merapi


BANYAK cara untuk menggalang dana demi korban bencana alam. Salah satunya adalah menjual pin dengan tema tertentu. Seorang kawan dari komunitas blogger Yogyakarta menjual pin ini seharga Rp 10.000 demi sumbangan untuk korban merapi. Saya sangat salut juga dengan cara-cara yang kreatif seperti ini. Semoga sumbangan itu membukit dan sampai ke tangan mereka yang membutuhkan. Semoga.(*)

Blogger: Dari Dunia Senyap Hingga Dunia Hiruk-Pikuk

BAGAIMANA rasanya bertemu dengan ribuan blogger? Mulanya saya membayangkan dunia blogger adalah dunia yang sunyi senyap. Kita menulis sendirian di satu sudut kamar, dan dikonsumsi seorang diri. Sering saya berpikir kalau para blogger adalah mereka yang asosial, punya masalah dengan pergaulan di dunia sosial, kemudian memilih mengasingkan diri di blog. Pernah pula saya membayangkan bahwa para blogger itu bekerja diam-diam, reflektif, kontemplatif, tidak terlalu suka keramaian. Sering juga saya membayangkan para blogger adalah mereka yang narsis dan senang memamerkan dirinya di ranah maya.

suasana pesta blogger 2010

Hari ini, saat menghadiri Pesta Blogger 2010 di Epicentrum Rasuna Jakarta, semua anggapan itu saya kubur dalam-dalam. Untuk pertamakalinya saya berinteraksi dengan semua blogger dalam satu ruangan besar, saling menyapa, dan bertemu dengan banyak komunitas. Di sini saya bertemu dengan para blogger yang malang-melintang dari banyak tempat. Ada komunitas blogger Bekasi, Malang, Yogyakarta, Bogor, hingga blogger Makassar. Banyaknya blogger di banyak daerah itu kian menegaskan keyakinan saya bahwa dunia blog bukan lagi dunia yang senyap. Blog adalah dunia yang hiruk-pikuk, didasari prinsip yang sama yakni prinsip untuk saling berbagi dan menyapa dengan siapa saja.

Dari sisi penampilan, ternyata blogger itu berasal dari banyak kalangan. Tidak cuma mereka yang dekil dan menulis di pinggiran seperti saya, ternyata banyak juga blogger yang berasal dari kelas sosial yang mapan. Tidak cuma mereka yang bersandal jepit, namun banyak juga yang datang dengan dandanan seksi dan parfum mahal. Malah, jumlah yang nyentrik itu bisa dihitung jari. Di ajang pesta blogger, semua batasan sosial itu mengabur. Semuanya lebur menjadi satu sebab didasari oleh semangat yang sama untuk merayakan perbedaan.

Satu hal yang juga menonjol adalah kreatifitas. Saya tersentak melihat pameran yang menampilkan desain-desain kaos yang amat kreatif, komunitas blogger yang unik-unik, hingga komunitas blogger yang isinya para animator. Kesimpulan saya: blog adalah dunia yang amat kreatif, yang anggotanya adalah mereka yang tidak bersedia berpangkutangan. Blog adalah komunitas yang terus bergerak, penuh dengan gagasan baru, dan di-share dalam komunitas maya yang besar, saling terkoneksi, dan bersama melahirkan ide-ide kreatif.

Yang tak kalah menarik adalah usia. Saya jarang melihat ada blogger berusia tua di ruangan itu. Kebanyakan yang hadir berusia belasan tahun, 20-an atau 30-an. Di atas itu sangat jarang terlihat. Mungkin ini adalah gambaran lahirnya generasi baru yang lebih melek media dan menyadari pentingnya berbagi informasi. Tidak heran jika suasananya sangat meriah. Ada music, animasi, serta poster-poster kreatif. Suasana yang meriah ini terasa hingga acara berakhir. Bahkan sebuah acara diskusipun dikemas dengan kreatif. Sangat berbeda dengan suasana seminar di perguruan tinggi yang memusingkan dan bikin keing berkerut.



Yang menarik adalah pesta blogger ini dikemas sebagai acara yang besar. Banyak sponsor besar yang urun rembug seperti Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS), Fullbright, VOA News, hingga perusahaan sebesar Acer. Banyaknya lembaga yang nimbrung ini menjadi isyarat kalau blog ini punya sesuatu yang berdampak besar. Blog serupa api kecil yang perlahan-lahan membakar ilalang. Memang, api itu masih kecil. Namun, saya yakin dalam waktu yang tidak seberapa lama, api itu akan membakar satu padang ilalang. Saya berani bertaruh bahwa waktunya adalah tidak terlalu lama lagi. Terserah jika anda berpikir berbeda.

Di sini saya bertemu dengan banyak nama yang tidak asing. Ternyata, melalui sebuah tulisan yang diposting di satu sudut negeri ini, bisa menyentuh banyak orang. Sebuah tulisan bukan sekedar diskusi tentang satu masalah. Sebuah tulisan ibarat jembatan yang mempertemukan hati, menyatukan kehendak, menyamakan karsa untuk berbuat hal yang sama dan positif. Dan blog menjadi kekuatan yang memungkinkan semuanya bisa bertemu pada satu titik. Itulah yang saya temukan di Pesta Blogger.

Mungkin pula ini gambaran dari lahirnya kekuatan sosial baru di negeri ini yang lebih kreatif, lebih demokratis, dan menyenangi aktivitas di dunia maya. Mudah-mudahan kekuatan sosial baru ini akan mengubur generasi lama yang kehilangan semangat untuk berubah, generasi lama yang suka meninabobokan orang banyak dengan retorika, namun tidak melakukan apapun. Sementara di dunia blogger, sebuah tulisan justru punya potensi untuk menggerakkan. Sedikitpun saya tidak meragukan kenyataan ini.

bersama istri di stand kedubes AS

Dunia maya ini telah mempertemukan visi, membentuk komunitas, dan melahirkan solidaritas yang kuat. Dengan semakin gencarnya perkembangan teknologi komunikasi, maka kelak blog akan menjadi kekuatan sosial baru. Blog akan menjadi jejaring yang mempertemukan visi, menguatkan kehendak, dan kelak akan menjadi rumput-rumput yang menyebar dan meruntuhkan tembok kekuasaan. Inilah yang saya harapkan dan mudah-mudahan akan terwujud.

Diskusi Makassar

Usai bergabung dalam acara di aula besar, saya lalu bergabung dnegan komunitas blogger Makassar yang lazim disebut Anging Mammiri. Kami menggelar diskusi bertemakan Makassar Tidak Kasar. Kebetulan, panelis diskusinya adalah Aan Mansyur, seorang sahabat yang juga menjadi penyair. Kami sama-sama mendiskusikan konstruksi berpikir yang mengasosiasikan Makassar seolah identik dengan hal-hal yang kasar. Kami sama-sama berkesimpulan bahwa liputan media yang paling banyak membentuk image seperti itu.

istri saya berpose dengan blogger asal bandung
utk kampanye anti kantong plastik

Sayapun ikut berkomentar dalam diskusi itu. Saat saya menyebutkan nama blog saya timurangin.blogspot.com, tiba-tiba beberapa orang langsung berkata kalau mereka adalah pembaca blog saya. Bahkan, usai acara diskusi, beberapa orang menyempatkan diri untuk berbincang tentang blog saya tersebut. Saya merasa surprised. Bayangkan, blog itu awalnya dibuat untuk tujuan curhat dan sesekali narsis. Sering saya berpikir bahwa hanya di dunia blog kita berhak untuk angkuh. Ternyata, tulisan disitu bisa menyapa banyak orang. Tulisan itu bisa mempertemukan saya dengan banyak orang yang membaca tulisan itu. Saya tiba-tiba menemukan kesamaan tema serta kesamaan cara berpikir dalam melihat banyak isu.

Dan itu saya temukan melalui blog, melalui tulisan yang saya posting di satu sudut terpencil, namun bersuara lebih nyaring hingga didengar banyak orang.(*)



Jakarta, 31 Oktober 2010

Sebulan bersama Sahabat IFP Fellowship

SUSAH hampir sebulan saya memperdalam kemampuan bahasa di Lembaga Bahasa Internasional (LBI) Universitas Indonesia (UI). Di sini, saya adalah bagian dari 50 sahabat para peraih beasiswa International Fellowship Program (IFP) yang didanai Ford Foundation. Saya menikmati kenyamanan belajar bersama teman-teman yang kemampuan bahasanya pas-pasan demi meraih titik aman untuk belajar di negeri lain.

bersama kawan-kawan di kelas B
bersama miss rahma

bersama Cohort 9, IFP Fellowship

Sering saya berpikir bahwa belajar itu sesuatu yang membosankan. Tapi, belajar bersama para sahabat yang punya kemampuan sama denganmu, tentulah berbeda. Di situ ada solidaritas serta rasa setia kawan yang dipupuk bersama-sama demi meraih kesuksesan bersama. Di kelas ini, kami tak merasa bersaing. Di sini juga tak ada rengking satu. Kami adalah partner yang sama-sama berupaya menggapai mimpi. Kami adalah rekan sejawat yang sama-sama mendapat anugrah keberuntungan, dan akan memaksimalkan keberuntungan tersebut. Kami belajar bersama sebab didorong oleh semangat yang sama untuk mencapai mimpi.

Mimpi? Mungkin bagimu ini aneh sebab pada usi seperti ini saya masih bermimpi. Mungkin pula kamu akan terkejut dengan fakta kalau ini hanya kepingan kecil dari impian saya. Justru saya masih punya timbunan mimpi lain yang insyallah akan saya raih dengan menata kerja keras di hari ini. Dan saya amat beruntung bisa belajar di kelas yang isinya adalah para pemimpi seperti yang sedang saya jalani.

Seorang kawan pernah berkata bahwa suasananya akan membosankan. Mungkin benar membosankan kalau dihadapi dengan stres atau pikiran berkecamuk. Namun jika dihadapi dengan tenang, serta semangat tinggi untuk belajar, maka pastilah segala hal yang membuat stres itu akan menjelma jadi hal menyenangkan. Bersama teman-teman sekelas, kami saling membangkitkan motivasi. kami tak boleh patah, sebab perjuangan masih panjang. Kami masih membutuhkan banyak energi untuk menyiapkan langkah-langkah terbaik di masa mendatang. Semoga semesta memberi jalan terang untuk cita-cita putih itu.(*)

Lukisan Wajah Orang Buton di Museum Nasional Jakarta

SAAT berkunjung ke Museum Nasional atau kerap disebut Museum Gajah, saya melihat peta besar Indonesia. Di tepi peta itu, berjejer lukisan wajah dengan pakaian adat tertentu yang merupakan representasi banyak etnis di Indonesia. Biasanya, kalau melihat lukisan seperti ini, saya selalu abaikan. Tapi entah kenapa, tiba-tiba saya tertarik karena melihat raut wajah dan pakaian adat khas Muna, Buton, dan Bugis. Saya lalu berusaha mendekat dan memotretnya dari dekat. Sayang sekali karena wajah orang Muna tidak sempat saya ambil dari jarak dekat.


Saya bangga melihat gambar itu. Saya serasa melihat diri saya. Meskipun saya berasal dari etnis kecil yang tak begitu benderang dalam sejarah negeri ini, namun saya melihat representasi diri saya di bingkai besar suku bangsa di Museum nasional itu. Saya menemukan noktah kecil yang merupakan potret diri di museum megah itu.(*)

Surat buat Soe Hok Gie

DI SINI, di makam ini, aku sedang menyusun kepingan-kepingan ingatan tentang sosokmu, Soe Hok Gie. Di Museum Taman Prasasti ini, aku melihat pusaramu yang di atasnya terdapat malaikat kecil bersayap tengah khusyuk berdoa. Mungkin malaikat itu adalah personifikasi sosokmu yang sedang di alam sana. Di situ ada harapan dan pengharapan yang dipersembahkan bagai ribuan mantra yang dirapal untuk menembus langit sana. Dirimu serupa malaikat yang berdiam di sana dan sesekali ke bumi menyaksikan sesuatu lalu terbang ke sana untuk memberi kabar buat penguasa alam raya.

pusara Soe Hok Gie
Di sini, di pemakaman Keerkhoof Laan, atau yang kerap disebut Kebun Jahe Kober, aku menyaksikan pusaramu. Kata banyak sahabat, di dalam tanah itu, tulang-belulangmu sudah lama raib. Teman dan keluargamu telah menumbuknya hingga jadi abu, kemudian menyebarkan debu belulang itu ke Puncak Semeru, di tengah-tengah hamparan edelweiss, di tengah-tengah kabut putih Lembah Mandalawangi. Orang Jawa percaya dengan magis Semeru sebagai puncak tertinggi tempat bersemayam para dewa. Dirimu –setidaknya debu tulangmu– telah menjadi udara di negeri para dewa itu, dirimu bukan lagi sebuah sosok, namun sesuatu yang memberi napas, membawa kehidupan, dan mengaliri denyut nadi hingga menembus jantung.

Aku tak peduli jika dirimu sudah tidak di Kober ini. Setidaknya kamu pernah berbaring di sini pada suatu waktu, dan pusara ini pernah menjadi jejak penanda atas dirimu. Setidaknya aku bisa menyaksikan atmosfer sesuatu yang menjadi penanda atas dirimu. Dan di pusara itu aku melihat namamu terukir. Tertulis: Soe Hok Gie, 17 Desember 1942 - 16 Desember 1969. No body knows the troubles, I see no body knows my sorrow.

pusara Soe Hok Gie

Aku tersentak membaca sepenggal kalimat terakhir. Kesedihan adalah buah dari penghayatan. Dirimu menghayati negeri ini, membangkitkan cinta yang lalu berujung sedih. Di saat semua orang bergembira merayakan kemerdekaan, dirimu tetap sedih karena melihat ketertindasan. Sebagaimana kau katakana, “Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…” Dirimu sedang berduka atas bangsa ini.

Pernah kubaca kalimat sedih itu dalam catatanmu. Dirimu adalah seorang martir yang bergerak sendirian dan tidak ingin terseret dalam arus besar. Dirimu pernah mengatakan, “Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.” Kalimat ini begitu tajam menohok anak muda seperti diriku yang bermalas-malasan.

Di kota ini, diriku menjalani kehidupan seperti seorang mapan yang hanya bisa berleha-leha. Pantas pula jika dirimu menulis, “Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

Yup benar. Kita tak pantas mati di tempat tidur. Kita adalah anak muda yang digarami samudera petualangan dan dibakar oleh api semangat yang menyala-nyala. Kita adalah anak muda yang menghabiskan malam dengan membaca buku filsafat dan di siang hari berpanas-panas demi sebuah tuntutan. Namun, seberapa jauhkah kita mempertahankan nyala api semangat itu? Apakah kelak kitapun akan menjelma menjadi borjuis baru yang hanya berkarib dengan bir di malam hari dan di siang hari berdansa dengan gadis-gadis cantik lalu terlelap sambil berpelukan?

di tepi pohon rindang ini.....

Di pusara ini, aku kembali merenung. Mungkin kesendirian adalah harga yang pantas untuk menegakkan sebuah kalimat kebenaran. Di sini aku tidak berusaha menemukan sosokmu. Aku sedang menemukan diriku yang lama memudar entah ke mana.

Beberapa tahun silam, aku membaca catatanmu dengan gairah meluap-luap sebagaimana anak muda yang baru saja belajar di kampus dan sedang gandrung dengan bacaan kritis. Aku membaca kalimat-kalimatmu yang setajam pedang, kalimat yang hingga kini tersimpan abadi bagi anak-anak muda yang gelisah melihat zaman yang liar berlari dan tidak memberikan ruang memadai bagi mereka yang tertindas.

Di negeri ini, ketertindasan adalah sesuatu yang abadi. Penguasa silih-berganti. Para presiden baru terus bermunculan. Tapi entah kenapa, tak ada juga yang peduli dengan ketertindasan. Hukum digunakan hanya untuk membodohi yang lemah. Pengadilan hanya alat untuk melanggengkan kuasa. Dan mereka yang di parlemen masih sibuk memikirkan tur ke negeri-negeri yang jauh. Ah, aku jadi teringat bait yang kau tuliskan dengan berapi-api. Aku teringat aksi yang kau lakukan ketika mengirimi mereka gincu dan bedak agar mereka terus berdandan biar tetap cantik penampilannya di sana. Mereka pantas dikirimi bedak.

Mereka memang mesti cantik. Kata mereka, ini demi pencitraan. Bangsa ini sudah serupa sinetron. Para politisinya berdandan cantik demi simpati. Mereka bermewah-mewah, namun dalam hitungan detik segera memasang tampang memelas agar rakyat simpati. Tetapi, apakah pantas jika kemewahan itu dipertontonkan di saat banyak anak bangsa yang mati meregang nyawa hanya karena tak punya daya untuk membeli sesuap nasi? Pantaskah ketika mereka -baik parlemen maupun presiden itu-ke mana-mana mengendarai mobil mewah, sementara di tepi jembatan sana ada orang yang mengais sampah demi melanjutkan hidup esok hari?

Ah,….. Akhirnya aku sadar bahwa dirimu memang tak pernah modar. Kalimat yang kau tuliskan terus abadi sebab negeri ini tidak bisa beranjak dari masalah yang sama. Kita adalah anak negeri yang hanya bisa berjalan di tempat. Zaman boleh berganti, penguasa silih berganti.

menyentuh pusara
Dan kalimatmu telah membangkitkan sesuatu dalam diri untuk terus bergejolak, kalimat yang tidak sekedar tangis sedih mereka yang cengeng melihat zaman, namun catatan yang menyimpan api semangat untuk membakar sesuatu hingga berkobar-kobar. Kalimat yang kau goreskan dalam Catatan Seorang Demonstran adalah buku wajib buat mereka yang gelisah melihat kemapanan. Dirimu memang terlahir sebagai anak kandung zaman yang mencintai negeri ini pada takaran yang melebihi nasionalisme sebagaimana dikhutbahkan para penguasa, yang menterjemahkan nasionalisme sebagai pembodohan atas nama negeri.

Sebuah ide memang tak pernah mati. Sebuah ide akan selalu mengalir dan menemukan kaki-kaki untuk bergerak.Kau telah menuliskan semua kegelisahan itu dalam baris-baris kalimat. Tugasmu telah selesai. Namun, pernahkah kau berpikir bahwa gagasan yang pernah kau torehkan telah mengalir laksana air bah dan menjebol segala rintangan dan beban yang menggunung dalam pikiran. Pernahkah kau berpikir bahwa hasrat muda yang menggelegak dalam dirimu ibarat gelombang topan yang menderu dan menderas jutaan anak-anak muda untuk bangkit gergerak dan tidak pasrah melihat kesewenangan?

Tuan Soe Hok Gie. Di sini aku sedang merenungi dirimu. Aku membayangkan kalimatmu yang serupa pedang dari alam sana. Dirimu bukan Tan Malaka yang bernah berujar, “Dari dalam kubur, suaraku lebih nyaring terdengar.” Tapi dalam diammu, kau telah mewariskan kata-kata yang abadi dan menggema. Dan diriku adalah satu darinjutaan anak muda yang masih menyimpan rapi semua kalimatmu. Sayang sekali karena diriku tidak sekuat dirimu yang tahan dengan kesendirian…


Jakarta, 23 Oktober 2010
Usai mengunjungi pusara Soe Hok Gie



Plafon Langit Biru

saat mengunjungi pameran pendidikan Amerika
SAAT mengunjungi pameran pendidikan Amerika Serikat (AS), saya tertarik dengan plafonnya yang serupa langit biru dengan rasi bintang di tengahnya. Saya lalu meminta sahabat Umar untuk memotret saya dan Dwi. Hasilnya tidak terlalu bagus, tapi cukup bisa mengabadikan momen yang cukup cantik ini. Thanks Umar!


Dibuang Sayang....

memotret siluet mozaik cahaya di bank mandiri

lorong tempo doeloe
berpose di depan tumpukan emas murni

gimana rasanya wajah diabadikan di uang?

Eat, Love, and Pray

poster film Eat, Love, and Pray

ADAKAH catatan harian yang dibukukan lalu difilmkan? Di tahun 1980-an kita sempat mengenal serial Little House in the Prairie, kisah yang dituturkan bocah Laura Inggals Wilder tentang hari-harinya di tepi padang pertanian di Amerika Serikat (AS) pada awal negeri itu tumbuh. Kita pernah pula mengenal kisah The Diary of Anne Frank, catatan yang terselip dari seorang bocah di tengah-tengah pembantaian bangsa Yahudi di Jerman, sebuah catatan yang amat menggetarkan.

Di Indonesia sendiri kita mengenal Soe Hok Gie, yang catatan hariannya dibukukan dengan judul Catatan Harian Seorang Demonstran. Buku ini lalu difilmkan oleh Miles Production, namun sayangnya tidak seberapa berhasil memvisualkan situasi masa-masa bergolak di tahun 1965, masa ketika rezim hendak berganti dan di situ hadir sososk pemuda gelisah yang memotret semua keadaan dalam catatan harian. 

Kebanyakan catatan harian yang difilmkan adalah catatan tentang pemikiran atau pengalaman. Namun, bagaimana jika catatan tersebut adalah sebuah catatan perjalanan mengarungi beberapa negeri untuk menemukan makna? Bagaimakah jika catatan tersebut adalah catatan mengunjungi banyak negeri dengan laku serupa turis namun menemukan butiran-butiran makna?

Kemarin, Rabu (14/10), usai kelas bahasa Inggris di Salemba, saya nonton film Eat Love and Pray di Metropole XXI di Jakarta Pusat. Film yang dibintangi Julia Roberts ini berisikan kisah perjalanan seorang perempuan bernama Elizabeth yang mengunjungi tiga negara untuk menemukan ceceran makna, memerasnya menjadi hikmah, lalu menaburi luka-luka hatinya. Film ini diilhami dari catatan pengarang AS Elizabeth Gilbert. Pada sampul buku ini di Toko Gramedia, saya melihat judul Eat, Pray, and Love. Dan di bawahnya adalah tulisan one womens search for everything across Italy, India, and Indonesia. Ini adalah salah satu buku terlaris dan bertengger di peringkat atas bestseller selama 187 minggu.

Julia Roberts, peraih Oscar 2001 memerankan Elizabeth Gilbert (Liz) seorang jurnalis perempuan yang resah mencari makna kehidupan. Pada usia 30, Liz telah mendapatkan semua yang diinginkan oleh seorang wanita Amerika modern. Selain seorang suami dan sebuah rumah, Liz yang ambisius dan terpelajar juga punya karier yang cemerlang.Namun, bukannya bahagia, dia justru menjadi panik, sedih, dan bimbang menghadapi kehidupan. Ia merasakan pedihnya perceraian, depresi, kegagalan cinta dan kehilangan pegangan dalam hidupnya.

Untuk memulihkan dirinya, ia pun mengambil langkah yang cukup ekstrem. Dia memilih untuk meninggalkan  pekerjaan dan orang-orang yang dikasihinya untuk melakukan petualangan seorang diri berkeliling dunia. Bagi seorang perempuan yang berpenampilan menarik, perjalanan solo ini jelas petualangan seru. Eat, Pray, and Love adalah catatan kejadian di bulan-bulan pencarian jati dirinya itu.

saat berada di Italia
Dalam petualangannya itu, ia menetapkan tujuan ke tiga tempat berbeda. Pada setiap tempat tersebut, ia belajar banyak hal dari setiap pengalaman yang dialaminya. Italia menjadi tempat tujuan pertamanya. Di Italia, Liz mempelajari seni menikmati hidup dan bahasa Italia. Saya suka kutipan kalimat seorang pria di Italia ketika menyindir Liz. “Kalian warga Amerika hanya tahu bagaimana memperkaya diri. Hari-hari kalian adalah bekerja keras hingga kelelahan. Kalian tidak tahu bagaimana caranya menikmati hidup seperti orang Italia. Tidak tahu cara mentertawakan hidup,” katanya.

Liz juga mengumbar nafsu makannya dengan menyantap aneka masakan Italia yang enak-enak. Wajar saja jika kemudian bobot tubuhnya pun bertambah 12 kilogram. Lewat makanan itu, ia menemukan filosofi bahwa selagi anda memiliki kesempatan, nikmatilah apapun yang ada di hadapanmu, tanpa banyak terbebani. Ia seakan menyindir orang-orang yang takut gemuk atau takut kehilangan penampilan menarik.

Dari Italia, ia bertolak menuju India. Di negeri ini dia mempelajari seni penyerahan diri di sebuah Ashram atau padepokan Hindu. Ia menghabiskan waktu empat bulan untuk mengeksplorasi sisi spiritualnya. Di India, ia belajar menemukan keheningan, melepaskan semua beban hidup, dan menjalani hidup dengan penuh spiritualitas, sebagaimana seorang pertapa. Ia melepaskan dunia, namun tidak benar-benar lepas. Ia merengkuhnya, namun tidak berada di bawah kendali dunia. Ia yang mengendalikan semesta.

Akhirnya, Bali menjadi tujuan terakhirnya. Di Pulau Dewata inilah wanita yang kian matang ini menemukan tujuan hidupnya yakni keseimbangan antara kegembiraan duniawi dan ketenangan batin. Ia menjadi murid seorang dukun tua bernama Ketut Liyer yang juga seorang pelukis dan peramal lewat garis tangan. Yang mebgejutkan, Ketut Liyer justru tidak mengajarkan Liz meditasi selama beberapa waktu sebagaimana yang dipelajarinya di India. Ketut justru memintanya untuk menikmati hidup sebagaimana orang Bali. Ia harus tersenyum dalam menghadapi apapun. “Senyum bukan hanya di wajah, tapi juga di pikiran dan hatimu,” kata Ketut.

Gilbert juga bersahabat dengan Wayan, penjual jamu tradisional Bali (diperankan Christine Hakim). Pada penggalan pengalaman tentang Bali, kita bisa menemukan spiritualitas yang amat kental di sana, serta filosofi mengapa Bali menjadi sentral kosmos sebagai penjaga keseimbangan. Di Bali pula, Liz menemukan patahan cintanya yang sempat porak-poranda. Ia jatuh cinta pada Felipe, pria asal Brasil yang lebih tua darinya.

Makna Perjalanan

nikmat buku serupa nikmat capuccino
Sebenarnya apa makna yang hendak disampaikan dalam film ini? Saya mencatat beberapa hal penting. Pertama, Elizabeth bukanlah sekadar turis yang melakukan perjalanan bukan untuk mengagumi keindahan alam di satu tempat. Tidak juga untuk melepaskan refreshing atas segala beban yang dialaminya di New York. Ia mengunjungi tiga negara dengan membawa satu tujuan yakni menemukan tetesan-tetesan makna demi menguatkan dirinya dalam menghadapi derasnya samudera kehidupan. Inilah perjalanan menemukan makna, perjalanan yang membenturkannya pada kesadaran bahwa hidup bukanlah perkara yang dihadapi dengan penuh depresi, dengan stress yang menggumpal-gumpal, atau emosi yang menggelegak.

Kedua, hidup adalah sesuatu yang semestinya dinikmati dengan penuh keriangan. Hidup serupa sungai yang mengalir dan kita kemudian berenang mengikuti semua arus, tanpa sedikitpun kehilangan senyum. Seberat apapun beban yang kita hadapi, seberat apapun masalah yang mendera, kita tidak boleh kehilangan keriangan dalam menghadapinya. Tapi bukan berarti kita harus menyerah pada apapun yang terjadi atau sikap kepasrahan buta, tanpa melakukan apapun. Saya kira tidak demikian. Mungkin, yang dibutuhkan adalah semangat yang menyala-nyala, ketenangan menjalani hari-hari sebagaimana ketenangan seorang biksu yang bermeditasi, serta sikap untuk selalu tersenyum saat menyaksikan apapun yang ada di hadapan kita. Keseimbangan atas motivasi yang menyala-nyala serta ketenangan yang serupa air tenang ini adalah titian utama yang bisa mengantarkan seseorang pada telaga kesejukan dalam menikmati hidup. Itulah yang ditemukan Elizabeth Gilbert dalam perjalanannya.

Ketiga, amat jarang seseorang melakukan perjalanan untuk menemukan makna. Di Indonesia, mungkin hanya haji dan umroh yang merupakan perjalanan menemukan makna. Di luar itu, kita jarang menemukannya. Kebanyakan orang yang melakukan perjalanan berpikir seperti seorang turis yang suka dengan hal-hal eksotis, lalu berfoto di belakang obyek menarik, kemudian dipajang di facebook biar banyak orang yang iri hati. Atau banyak orang yang melakukan perjalanan untuk menghabiskan uang di hotel-hotel berbintang, minum bir sampai teler, setelah itu berenang sampai bosan. Amat jarang orang yang melakukan perjalanan, namun berusaha menyelami filosofi berpikir warga setempat, menyelami kebudayaan yang berdenyut, lalu memperkaya khasanah pengalaman batinnya. Dan Elizabeth adalah satu dari sejumlah mahluk langka tersebut.

Keempat, sebuah catatan harian adalah harta karun yang sangat berharga. Membaca sebuah catatan harian serupa menelusuri labirin pengalaman seseorang yang berliku-liku, menemukan sisi-sisi lain seorang manusia. Mungkin kita menemukan kerapuhan, sikap yang nyaris putus asa, atau keluh kesah dalam menghadapi hidup. Bagi saya, semuanya adalah sisi-sisi manusiawi seseorang, sisi-sisi yang membuat seseorang tersadar bahwa dirinya adalah manusia biasa. Namun, kita juga bisa menemukan sisi-sisi yang mendewasakan, sisi-sisi yang menguatkan. Sisi yang membuat kita sadar bahwa manusia bisa rapuh, bisa patah menghadapi terjangan gelombang kehidupan. Namun manusia juga bisa menemukan keperkasaan, kekuatan yang menumbuhkan dirinya serupa beringin sehingga menjelma laksana karang kokoh kehidupan.

Itulah yang saya temukan dalam film yang diangkat dari catatan perjalanan Elizabeth Gilbert.(*)


Jakarta, 14 Oktober 2010

Tuan dan Noni Belanda

foto pada jaman budi utomo
SESEKALI saya pun ingin dipotret dengan nuansa kuno. Saat hari Minggu lalu saya ke kawasan kota tua bersama istri, saya lalu menyewa sepeda onthel dan bergaya layaknya seorang tuan Belanda. Kebetulan, istri saya sengaja memakai baju putih panjang sehingga penampilannya pun seperti Noni Belanda.

Kami adalah pasangan yang terobsesi dengan masa silam. Bagi kami, masa silam itu eksotik, menggairahkan, dan penuh misteri sebagaimana terpahat pada bangunan tua, naskah kuno, ataupun berbagai peninggalan lainnya. Nah, apa kesan Anda terhadap foto-foto ini? jangan lupa untuk memberi komentar tertulis. Thanks..




Eeveryday is English

 
MAAFKAN karena blog ini lama tidak ter-update. Saya sedang menjalani hari-hari yang bergegas. Saya mulai kerepotan membagi waktu. Jam delapan pagi hingga jam tiga sore, saya sudah harus berada di kampus UI Salemba untuk belajar bahasa Inggris. Dan di malam hari, saya langsung istirahat. Sesekali saya membaca buku atau majalah.

Saat libur hanya Sabtu dan Minggu. Itupun saya gunakan untuk berjalan-jalan mengunjungi tempat wisata. Saya memang butuh refreshing. Hanya itu cara untuk melepas kepenatan atas kerja keras untuk belajar bahasa secara intensif ini. Terus terang, saya mulai lelah atas semua ini. Saya sering berpikir untuk merevisi mimpi-mimpi yang pernah saya anyam. Tapi saya juga sering merasa malu pada sekeliling. Semua orang berharap banyak agar saya bisa sukses melewati semua ini. Terlampau banyak orang yang menitipkan harapan. Dan saya tidak boleh mengabaikan semua suara-suara tersebut.

Hari-hari saya adalah bahasa Inggris. Sungguh membosankan karena setiap hari hanya mendengar kata-kata dalam bahasa Inggris. Saya belajar banyak hal. Mulai writing, listening, speaking, structure, hingga vocabulary. Sering saya bertanya, mengapa pula bahasa ini tidak intensif dipelajari sejak dulu? Mengapa pula para pendiri negeri ini tidak mengajarkan bahasa ini sejak dini? Bukankah kemajuan beberapa negara seperti Malaysia, Filipina, atau India justru ditunjang oleh kemampuan mereka mengenal bahasa dunia? Mengapa pula kita harus abai pada fakta-fakta ini?

Pada saat ini, saya hanya bisa bertanya-tanya. Mungkin ada hikmah besar di balik pembelajaran bahasa yang sedang saya lakukan. Mungkin kelak saya akan fasih dan menganggap bahasa ini sebagai bahasa kedua. Mungkin kelak saya akan menjadi bagian dari warga global yang setiap saat menggunakan bahasa ini. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi di depan sana. Tapi setidaknya saya sedang membangun landasan di masa kini. Bukankah demikian?

Back to the Future


FOTO masa silam dengan sosok masa kini. Saya serasa terlontar ke masa-masa yang jauh ketika berkunjung ke Museum Bank Mandiri di kawasan kota tua, Jakarta. Di sini, ruang waktu jadi nisbi. Saya berada di masa kini, namun entah mengapa saya serasa berada di masa silam. Saya seolah bisa melihat langsung bagaimana asal-muasal bergeraknya roda perindustrian di negeri jajahan, bagaimana ekonomi berputar mengikuti dinamika peradaban manusia, serta bagaimana manusia membuat rencana yang sistematis demi mengatasi kebutuhan dasarnya. Di sini, waktu jadi maya. Saya berada di masa kini, namun pikiran terlontar ke masa silam. Ketika keluar dari museum ini, saya tiba-tiba tersentak. I back to the future. It's amazing..!!

Eksotisme Kota Tua Jakarta

Hari ini, Sabtu (9/10), saya libur dari aktivitas belajar di kampus. Hari ini, saya berencana untuk mengajak istri jalan-jalan mengunjungi kota tua Jakarta. Saya sudah bertahun-tahun menempati kota ini. Saya sudah lama malang-melintang di sini, namun belum pernah sekalipun mengunjungi kawasan kota tua Jakarta. Padahal, sudah cukup lama saya ingin mengunjungi kawasan ini dan melihat langsung bagaimana museum-museum, bangunan tua, situas bersejarah. Semuanya adalah jejak masa silam yang masih membekas di hari ini.

Museum Fatahillah di kawasan Kota tua Jakarta
Saya berharap semoga semua rencana ini bisa terrealisasi hari ini. Apalagi, istriku (Dwi) adalah penggemar semua hal-hal yang menyangkut bangunan tua, sejarah, atau museum-museum. Saat sering saya Tanya mengapa ia menyukainya, ia cuma menjawab singkat. “Bangunan tua itu romantic. Saya sering membayangkan sebagai putri-putri bergaun putih atau sebagai noni-noni Belanda di negeri jajahan yang eksotis.”

Saya sering heran apakah ada sesuatu yang merasuki benak Dwi sehingga tergila-gila dengan bangunan tua. Katanya, benteng-benteng itu eksotik dan serupa teka-teki yang harus dipecahkan. Hingga ini ia masih kebingungan dengan teka-teki mengapa Benteng Rotterdam berbentuk penyu, dan mengapa pula benteng itu didesain dengan model seperti itu.

kelak, saya pun ingin berfoto seperti ini di kawasan kota tua Jakarta
Sering saya merasa aneh dengan minatnya. Tapi biarlah semuanya akan terjawab saat kami berkunjung ke kota tua nanti. Kami ingin menelusuri sejarah Kota Jakarta. Kami ingin melihat bagaimana nadi kota ini berdenyut, mengaliri semua organ penting kota, merasakan napas yang memasuki paru-paru kota ini, mulai dari zaman colonial, hingga masa kini. Mungkin kelak akan timbul pertanyaan, mengapa masa silam selalu lebih gemilang dari masa kini. Biarlah waktu yang kelak akan menjawabnya.(*)

Sepucuk Surat dari Maatscricht

HARI ini, semua teman-teman peraih beasiswa IFP-Ford menerima surat dari Netherland Education Supporting Office (Neso).  Isinya adalah brosur tentang pilihan studi yang kelak bisa mereka pilih. Sayapun menerima surat yang sama. Tapi yang unik adalah saya menerima surat khusus berlabel Maatscricht University yang terletak di perbatasan Belanda dan Jerman.

salah satu sudut kota Maatscricht
Surat itu berisikan promosi serta ajakan untuk studi di Maatscricht pada program Media Kultur, sesuai dengan background dan rencana studi. Suratnya berisi kalimat yang sangat simpatik dan sopan. Mereka meminta saya untuk segera menghubungi. Mereka siap membantu apapun jika hendak kuliah di Maaatscricht. Bahkan mereka tidak terlalu peduli dengan skor Toefl sebab Maatscricht punya lembaga pelatihan bahasa untuk mengasah kecakapan berbahasa semua calon mahasiswa program Internasional. Yang penting adalah adanya sponsor yang siap mendukung selama kuliah.

Salah satu kenikmatan sebagai penerima beasiswa adalah banyaknya kampus-kampus yang akan berebut meminangmu sebagai mahasiswa. Mereka tidak melihat dirimu, tapi melihat nama besar lembaga yang siap menjadi sponsor atas dirimu. Dan itu sudah mulai saya rasakan bersama teman-teman di sini. Bagi para peraih beasiswa Ford yang ingin ke Belanda, mau tak mau (pasti sangat mau), mereka mesti singgah dulu ke Maatscricht untuk menjalani pelatihan bahasa lanjutan di universitas itu. Semua peraih beasiswa IFP-Ford  di berbagai negara yang studi di belanda harus ke kota itu untuk pendalaman bahasa serta penyesuaian dengan iklim belajar.

Maatscricht terletak di perbatasan Belanda dengan Jerman dan Belgia, sehingga siapapun yang ke maatscricht, pasti akan mengunjungi negara-negara tersebut. Jika kelak saya memilih Belanda sebagai tujuan studi, maka sayapun kelak mesti melewati Maatscricht. Saya sempat mengintip foto teman-teman peraih beasiswa tahun lalu di Maatscricht. Mereka sudah mengunjungi banyak negara di benua Eropa sana. Saya jadi iri waktu lihat foto-foto tersebut.

Menerima surat ini, saya lalu membayangkan lanskap kota Maatscricht yang teduh. Saya membayangkan kanal-kanal yang menjadi sarana transportasi atau jalan-jalan yang dipenuhi sepeda. Seperti halnya para peraih beasiswa lainnya, sayapun dipenuhi gambaran hebat tentang Eropa atau negara-negara maju yang sudah lama terbang tinggi. Semoga kelak negeri saya bisa setinggi itu.

Teman-teman peraih beasiswa Ford tahun 2009 saat berada di Maatscricht.
Entah apakah kelak saya akan menyusul mereka ataukah tidak (foto: indar)

Surat dari Maatscricht itu saya simpan sebagai koleksi pribadi. Saya masih pikir-pikir apakah segera membalasnya ataukah tidak. Saya masih menjalani pelatihan bahasa. Saya juga masih bingung hendak ke mana. Hampir setiap hari saya browsing semua universitas di Amerika dan Eropa demi melihat mana yang terbaik dan kira-kira sesuai dengan minat dan keinginan saya. Ternyata, masih amat terjal jalan yang harus saya tempuh untuk menggapai banyak impian yang menjulang bagaikan gunung. Mudah-mudahan kelak akan terbentang jalan terang ke mana saya mesti bergerak.(*) 

Minggu Pertama di LBI UI

MINGGU ini adalah minggu pertama belajar bahasa Inggris. Sudah dua hari syaa berada di ruangan dan setiap saat mendengar kalimat dalam bahasa Inggris. Pihak Lembaga Bahasa Internasional (LBI) Universitas Indonesia (UI) punya metode khusus untuk meningkatkan skor toefl. Kita tidak cuma belajar cara meningkatkan skor, tapi ditempatkan dalam satu situasi di mana kita setiap hari bisa menggunakan bahasa tersebut. Makanya, saya belajar menulis, membaca, hingga presentasi. Tanpa sadar, skor toefl pasti akan meningkat karena setiap hari belajar menggunakan bahasa ini.

Tadi siang, kami juga belajar bersama seorang native speaker (petutur asli), seorang warga Amerika Serikat (AS). Akhirnya saya belajar bagaimana kosa kata gtertentu diucapkan oleh petutur aslinya. Saya bisa belajar banyak darinya. Ia menjelaskan bahwa kata 'thirsty', 'thick', dan kata-kata yang diawali 'th' harus diucapkan dengan lidah di depan gigi. Kita serasa menggigit lidah. Katanya, orang-orang asing mengucapkan dengan cara tersebut sehingga jika jika tidak mengikuti cara mereka, maka kita akan kesulitan. Pada kuliah tadi siang, saya kembali disadarkan bahwa terdapat cara pengucapan yang berbeda sehingga melahirkan bunyi berbeda. Orang barat mengucapkan kalimat tertentu dengan cara-cara yang berbeda.

Kemarin, istri juga sudah berada di Jakarta. Saya senang karena ada yang menemani sehingga bisa melepaskan kegelisahan atas hari-hari yang mulai padat dengan aktivitas ini. Dan semoga saya bisa menjalani semuanya dengan sukses. Amin.(*)

Ribuan Buku di Gramedia Matraman

SETIAP kali memasuki Gramedia Matraman, saya selalu merutuki kantong yang tidak banyak isinya. Ini adalah toko buku Gramedia terbesar di tanah air. Koleksi bukunya hingga ribuan, dan saya tak mampu memeriksa semuanya dalam seharian. Setiap kali masuk dan berjalan di dalamnya, saya selalu berkeinginan untuk membeli dan membawa pulang sebanyak-banyaknya.

Buat anda yang punya hasrat membaca, berkelana di toko ini tak bakal menemukan kata puas. Saya meminati begitu banyak buku, namun kantung ini hanya sanggup untuk membawa pulang sedikit buku. Tapi, saya cukup puas bisa berkeliling, membuka plastik buku lalu membaca di situ, hingga  kaki ini lelah berdiri. Setidaknya, dengan cara itu saya sudah meraup banyak pengetahuan yang mesti segera diendapkan agar bisa terngiang-ngiang dalam benak. 

Saya sudah cukup puas dengan cara membaca di tempat.

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...