kisah-kisah tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Winter in Athens, Ohio

Athens is my third home after Baubau and Makassar city.

Buku Pertama Hingga Buku Keempat

Semoga aja buku-buku ini bisa menginspirasi orang lain.

My Wife and My Daughter

They are my river of inspiration.

Naga Hijau di Kota Baubau

Baubau is the first step of my journey.

Sudut Kampus Ohio University

Kelak, saya akan mengenang setiap sudut kampus ini.

Duka 1 Oktober


Kawan,.... ini 1 Oktober 2010. Tahukah dirimu bahwa 45 tahun yang lalu, sebuah kekerasan besar bertubi-tubi telah menghantam bangsa ini? Tahukah dirimu bahwa negara menegakkan ideologi Pancasila dan membunuh jutaan warga yang berpikir berbeda? Tahukah dirimu bahwa jutaan warga sendiri di tahan di berbagai kamp konsentrasi, mulai Pulau Buru hingga Digul, hanya gara-gara nama gagasan yang berbeda? Terserah bagaimana dirimu menilainya. Aku hanya bisa mengenangnya dengan pedih. kekerasan itu telah meninggalkan torehan luka yang dalam di sekujur tubuh bangsa ini. Luka yang hingga kini jejaknya tidak mengering. Masih menggenang hingga kini.

Kemarin, beberapa kantor pemerintah menaikkan bendera setengah tiang. Mereka menganggap peristiwa itu sebagai peristiwa gagalnya sebuah pemberontakan yang kemudian menewaskan beberpa orang petinggi militer. Mereka menilai peristiwa itu sebagai keserakahan untuk menegakkan ideologi sendiri. Mereka menilai itu sebagai makar atas kekuasaan.

Maafkan jika diriku melihatnya dari sisi berbeda. Aku melihat peristiwa itu hanya awal dari pembunuhan massal atas jutaan anak bangsa, pembunuhan yang disebut Gribb sebagai the killing field. Atas nama negara, telah terjadi pembunuhan atas jutaan warga yang dituduh hendak melakukan makar. Sejarah kita adalah catatan emas yang ditulis di atas timbunan kesedihan. Dan hari ini, kita masih saja dibodohi oleh 'catatan emas' tersebut.(*)

Andai saya bisa berbuat lebih...

SEORANG sahabat tengah bersedih. Ia hamil delapan bulan, sementara sang kekasih pergi meninggalkannya begitu saja. Si kekasih bangsat itu tiba-tiba minta test DNA sebab ia meragukan kehamilan sahabat itu. Dasar pria brengsek! Udah berbuat, tidak mau tanggung jawab. Kasihan sahabat cantik itu. Ia meminta pertemuan dengan saya untuk sekedar berkeluh-kesah. Saya sedih kalau mendengar ceritanya. But what can i do? Saya bukan Aburizal Bakrie yang mudah saja mengeluarkan cek untuknya. Saya hanya bisa mendengar dan mendengar. Andai saya bisa berbuat lebih...

Berkunjung ke Neso


FOTO ini diambil saat saya dan kawan-kawan berkunjung ke Netherland Education Office (Neso) di Jakarta. Kami hendak berkonsultasi mengenai pendidikan di Belanda, persiapan, serta persyaratan yang mesti dipenuhi. Hampir setiap tahun, Neso menyediakan beasiswa untuk belajar di negeri kincir angin tersebut. jumlahnya cukup memadai. Tertarik? Daftar ke Neso.

Mengorek Jantung Paman Sam


APAKAH yang Anda bayangkan tentang Amerika Serikat (AS)? Apakah patung liberty ataukah sosok pria berbaju bendera Amerika yang kerap disebut Paman Sam? Kemarin, saya bersama teman-teman Cohort 9 berkunjung ke kantor Aminef, lembaga yang memberikan layanan konsultasi pendidikan di AS. Kami sama-sama dipenuhi hasrat untuk mengetahui banyak hal tentang belajar di negeri adidaya tersebut. Kami ingin mengorek jantung Paman Sam demi mengetahui apakah kami bisa memenuhi syarat belajar ataukah tidak. Keinginan kami meluap-luap sehingga mengabaikan fakta bahwa sesungguhnya terdapat tugas berat yang mesti segera tuntas yakni meningkatkan skor Toefl.

Sayang sekali karena saya agak terlambat datang. Saat saya tiba, dialog telah usai. Saya hanya sempat berdiskusi sesaat dengan beberapa sahabat mengenai pertemuan tersebut. Berbeda dengan saat berkunjung ke Neso, kali ini jumlah pesertanya lebih banyak.

Malah, sebagaimana kata Hendro, para peserta bisa dikelompokkan dalam dua kategori. Pertama adalah teman-teman yang memiliki skor toefl tinggi. Kedua adalah para teman dengan skor di bawahnya. Masing-masing memiliki tipologi pertanyaan yang berbeda. Jika kelompok pertama bertanya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi belajar di sana serta tempat terbaik yang bisa direngkuh atau pertanyaan tentang isu-isu terorisme, maka kelompok kedua justru mencari celah-celah untuk bisa menyelip ke negeri itu. Kelompok kedua mencari siasat atau strategi demi menelusuri kampus-kampus dengan standar penerimaan rendah agar bisa menyelipkan diri di situ. Hahahaha… (ini cuma candaan saja. Jangan diambil hati)

Sebagaimana Hendro, posisi saya adalah di barisan kedua. Saat ini kami masih menanam impian dan didera kekhawatiran kalau-kalau kami hanya bisa berjalan di tempat. Kami sama-sama masih berjibaku dengan hal yang mungkin sebagian kita menganggapnya remeh-temeh yakni bagaimana bisa lolos syarat penerimaan. Masih begitu terjal tebing yang mesti dilewati demi menggapai puncak yang bisa kami daki. Makanya, dalam kunjungan kemarin, saya lebih banyak membaca atau melihat-lihat brosur kalau-kalau ada bagian yang menarik hati. Saya lebih suka melihat gambar-gambar tentang kedigdayaan AS di pentas dunia.

Saya pernah membaca beberapa buku tentang pembangunan, khususnya dari para ekonom aliran klasik yang menjadi pengikut setia Adam Smith dan David Ricardo. Bagi masyarakat dunia ketiga, AS serupa mimpi yang hanya bisa diangankan. Kemajuan AS menjadi utopia yang begitu memikat untuk ditiru. Kemajuan AS serupa kisah-kisah di negeri dongeng. Meskipun saya tidak menampik bahwa di negeri itu juga terjangkit beberapa penyakit sosial yang berpotensi menjadi pemantik ledakan sosial.

Walau bukan sebagai negara dengan tingkat kesejahteraan tertinggi, AS tetap menjadi jantung peradaban dunia, negeri dengan symbol-simbol kemakmuran. AS mengklaim dirinya sebagai symbol utama kemajuan sehingga negara-negara dunia ketiga. Pembangunan hadir sebagai istilah untuk menciptakan ketergantungan bangsa-bangsa. AS lalu menciptakan skema agar negara berkembang itu mengikuti jejak yang mereka torehkan. Seroang ekonom yakni WW Rostow lalu menuliskan skema pembangunan lima tahap (five stages of economic growth) yang lalu dijelmakan sebagai satu-satunya patokan demi menata pembangunan di negara-negara dunia ketiga. Dulunya, pemerintah Orde Baru sering sekali mengutip istilah tinggal landas. Ini istilah ciptaan Rostow sebagai satu tahap di mana bangsa-bangsa berkembang akhirnya lepas dari dilemma kemiskinan.

Pada hari ini, AS tetaplah menjadi impian. Meskipun pembangunan di sejumlah negara sudah lama porak-poranda karena dihantam krisis, AS tetap saja menjadi role model. Pantas saja jika dalam brosur yang saya baca kemarin terdapat pernyataan bahwa belajar di AS adalah belajar di jantung peradaban dunia, belajar langsung dari mereka yang sudah melewati tahap-tahap pertumbuhan ekonomi. Belajar langsung dari mereka yang sudah menggapai tahapan kesejahteraan.

Saya sendiri sering merasa geli kalau membaca brosur seperti ini. Bagi saya, urusan belajar itu adalah interaksi secara terus-menerus dengan realitas di sekeliling kita. Belajar bukanlah menjiplak sesuatu, kemudian diterapkan secara persis. Negeri ini sudah lama kacau karena terlalu banyak manusia yang mau menerapkan sesuatu secara persis sebagaimana disaksikannya di suatu bangsa. Boleh jadi kita memang tidak mengenali kenyataan di sekitar kita sehingga abai pada upaya menumbuhkan inisiatif lokal untuk proses pembangunan.

Pandangan yang hendak menerapkan sesuatu secara membabibuta sudah lama rontok sebab melihat gejala-gejala sosial sebagai sesuatu yang tunggal. Belajar itu adalah proses dialog terus-menerus antara diri kita dengan satu realitas sosial. Dialog itu melahirkan tafsiran baru atas fenomena sekitar sehingga kita tertantang untuk menciptakan satu model yang paling tepat, sesuai dengan kebutuhan lokal, serta menjadi jawaban atas segala permasalahan yang ada di satu tempat. Dalam konteks ini, masih relevankah pernyataan belajar di jantung peradaban dunia?

Berandai-Andai

Saya jadi malas membaca brosur. Kadang-kadang sebuah brosur tidak menjawab apa yang sebenarnya kita cari buat bangsa ini ke depan. Saya memutuskan untuk melihat-lihat foto. Saya terkesima saat melihat foto-foto tentang Washington DC. Saya belum pernah sekalipun ke luar negeri. Andaikan kesempatan itu datang, saya ingin juga mengunjungi Washington. Meskipun saya masih jauh dari berbagai persyaratan tersebut, saya ingin berandai-andai untuk melangkahkan kaki di tempat-tempat monumental di negeri itu.

Saya membayangkan sedang menghirup udara sejuk di depan Capitol Hill, simbol politik AS yang kubahnya berbentuk bulat dan ada patung perempuan sebagai lambang kebebasan. Pematung Thomas Crawford, seorang pencinta wanita yang rela dibakar oleh rasa kecintaannya, meletakkan patung itu sebagai wakil dari kebebasan yang meluap-luap. Apakah wanita identik dengan kebebasan?

Saya juga ingin menyusuri padang rumput di depan Lincoln Memorial dan menyaksikan langung patung Abraham Lincoln. Di sorot mata pria ini terhampar kasih sayang pada bangsa kulit hitam hingga menjadikan dirinya sebagai martir pada tahun 1865. Ingin rasanya kutembus sorot mata itu dan mengurai sejarah perbudakan bangsa AS, sejak kedatangan imigran Inggris hingga datangnya kapal May Flower yang membawa kaum berkulit hitam dari Afrika. Betapa besar hasratku untuk menelusuri jejak perbudakan yang kemudian dihapus dengan berdarah-darah oleh Lincoln, Presiden AS terbesar sepanjang masa yang tumbuh dalam balutan kemiskinan di Kentucky dan Indiana di tahun 1818.

Mungkin, AS bukan sekadar tempat belajar. AS adalah tempat menimba inspirasi. Sebagai pencinta sejarah, saya sering membayangkan bentuk Washington Monuments yang berdiri tegak dan kokoh seperti sebuah batu runcing yang tertancap di dasar bumi. Batu itu menjadi prasasti atas kiprah George Washington, seorang komandan militer yang menyulut revolusi Amerika sebagai awal lahirnya AS. Dalam genggaman pria berkuncir ini, AS meletakkan visinya sebagai bangsa baru yang kelak menjadi superpower dan melihat dunia secara tunggal untuk ditekukkan dalam satu kriteria.

Jika kelak ke negeri itu, saya ingin menyaksikan langsung National World War II Memorial, yang menjadi saksi atas kejamnya Perang Dunia II. Saya pernah menangis tertahan di saat membayangkan jenazah mereka yang terbaring demi membela negerinya. Apakah itu benar-benar dilatari tindakan heroik ataukah itu hanya reaksi atas proses pembodohan yang dilakukan secara sistematis atas nama negara?

Mungkin pula saya akan semakin pedih saat berjalan sedikit ke dapan dan menyaksikan Vietnam Veterans Memorial yang berbentuk tembok hitam berbentuk huruf V. Di situ ada tergurat nama mereka yang tewas di Perang Vietnam. Seperti halnya warga AS yang tak pernah mengerti apa tujuan perang itu, hati ini hendak bertanya, apakah itu demi sebuah kehormatan ataukah buah kebodohan yang sukses ditanamkan negara.

Maafkan karena saya mulai ngelantur. Nampaknya saya mulai ngantuk. Pantas saja tulisan ini sudah nyebrang ke mana-mana.


Jakarta, 1 Oktober 2010
Pukul 01.00 dini hari

Jurusan Komunikasi di Berbagai Negara


BETAPA anehnya jurusan ilmu komunikasi di negeri ini. Banyak yang selalu berpikir bahwa ilmu komunikasi seolah berdiri tegak, memiliki batang tubuh epistemologi sendiri, sehingga kokoh menjulang. Padahal, di luar negeri, saya jarang menemukan istilah Communication Science. Lebih sering saya temukan Communication Studies sebagai tanda bahwa ilmu komunikasi berkembang melalui interaksi dan pengayaan dari berbagai bidang studi lain. Lebih aneh lagi karena di negeri ini orang-orang selalu berbicara tentang linear tidaknya pendidikan di tingkat sarjana atau magister. Katanya sih, ini aturan pemerintah. Padahal, jika mengamati bagaimana perkembangan ilmu komunikasi di luar negeri, maka mestinya kita malu sendiri. Di sana, komunikasi kian melebur sehingga membuka kemungkinan penggabungan dengan berbagai bidang lain. Tak percaya? Itu hak anda.

Seminggu ini, saya rajin menjelajah ke jurusan komunikasi yang berada di negara lain. Saya melihat masing-masing menerjemahkannya secara berbeda. Jika di Amerika Serikat (AS), banyak yang melihatnya sebagai studi retorika, kampanye, komunikasi politik, maka di Inggris justru banyak dilihat sebagai studi media yang fokus pada aspek kultural dalam melihat subyek komunikasi. Ada yang menggabungkan komunikasi dengan studi bahasa. Tapi banyak juga yang menggabungkan komunikasi dengan politik. Tapi, ada juga beberapa kampus di Amerika Serikat juga memiliki kurikulum yang hampir sama dengan Inggris. Misalnya di Indiana University at Bloomingtoon, komunikasi bergabung di bawah payung Department of Communication and Culture.

Di Inggris, beberapa kampus justru menggabungkan komunikasi dengan cultural studies. Lihat saja University of Sussex at Brighton. Jurusan komunikasi berada di bawah payung Department of Media and Cultural Studies. Sementara di Belanda yakni di Utrecht Universiteit, jurusan komunikasi bergabung dengan studi pertunjukan yakni Department of Media and Performance Studies. Kesimpulan saya adalah sedang terjadi perkembangan besar dalam bidang ilmu pengetahuan. masing-masing kampus menerjemahkannya sendiri-sendiri, namun semuanya menunjukkan bahwa komunikasi adalah sesuatu yang tumbuh dari hasil dialog-dialog dengan berbagai ranah tradisi lain dalam ilmu pengetahuan.

Komunikasi ibarat pohon yang akarnya bisa berasal dari mana saja. Ia menyerap inspirasi yang kian memperkaya bidang kajian. Pada titik ini, komunikasi harus berbesar hati dan menyilahkan para penggiat ilmu lain untuk sama-sama bergabung dan memperkaya kajian tentang media, khalayak, atau tentang studi kampanye. Barangkali kita bisa menyebut ciri utama komunikasi adalah dalam hal obyek atau subyek kajian. Sepanjang itu mengamati dinamika atau interaksi komunikasi, maka semua ranah kajian bisa sama-sama bergabung dan merayakan dinamika ilmu. Ah, ini hanya refleksi sesaat. Mungkin saya mesti lebih banyak searching.

Bisakah Anda memberi masukan buat saya?

Saat Ahmadinejad Membawa Injil



AHMADINEJAD adalah Musa di abad 21. Sebagaimana Musa yang berteriak lantang di Istana Fir'aun, pemimpin bangsa Iran itu berteriak lantang saat berada di Markas Dewan keamanan PBB. Kamis (23/9) lalu, saya menyaksikannya melalui televisi. Buat saya, yang menggetarkan adalah saat ia memegang kitab Al Quran di tangan kanan dan kitab injil di tangan kiri. Mulailah ia mengeluarkan kalimat filosofis tentang intisari agama, sebuah jantung yang menukik dan semestinya dipahami demi perdamaian dan hidup yang berkeadilan.

Di hadapan sidang PBB itu, ia mengecam aksi pembakaran Al Quran yang dilakukan di Amerika Serikat (AS). Katanya, Quran adalah kitab abadi yang menjadi sumber memancarnya mata air nilai bagi umat islam, sesuatu yang juga menjadi sumber keajaiban. "Kitab suci Qur'an merupakan buku yang Ilahi dan keajaiban abadi bagi Islam." Ia berbicara tentang keajaiban, sesuatu yang luar biasa bagi manusia.

Tahukah kita apa makna keajaiban? Saya memaknainya dengan sederhana. Keajaiban adalah sesuatu yang luar biasa dan terjadi begitu saja, secara serempak, dan tanpa diduga-duga. Keajaiban serupa Musa yang melemparkan tongkat dan tiba-tiba menjelma ular dan melahap semua ular dari tukang sihir Firaun. Atau saat ketika Musa menghantamkan tongkatnya ke laut yang kemudian membelah dirinya demi perjalanan Musa dan bangsa Israel. Kita menyebutnya keajaiban karena hal tersebu melampaui sisi rasionalitas kita sebagai umat manusia.

Entah apa maksud Ahmadinejad menyebut kitab sebagai keajaiban. Mungkinkah ia hendak mengatakan bahwa letak keajaiban Quran adalah saat intisari ajaran itu meresap dalam batin seseorang sehingga seseorang berjalan lurus ke depan tanpa tersesat, dan segala hal yang ajaib akan melingkupinya. Tangan-tangan kasih Tuhan akan menjaga seseorang untuk selalu tetap on the right track, menjadi rahmat bagi sesama, menjadi angin sejuk yang menghamparkan kesejukan bagi siapapun. Meresapi intisari kitab adalah menyediakan dirimu sebagai anugrah bagi sekitar. Keberadaanmu sebagaimana yang dikatakan filsuf Heidegger, sebagai cahaya yang memisah terang dari gelap agar jelaskah kebenaran itu. Nah, apakah kita sudah mengalami keajaiban? Entah. Kita hidup pada sebuah zaman di mana keajaiban menjadi nyanyi sunyi para rasul di abad pertengahan. Kita terlampau rasional, namun mengkalkulasi sesuatu hanya berdasar pertimbangan emosional semata. Tanpa nalar. Tanpa meresapi.

"Kita secara bijak harus mencegah jangan sampai masuk ke tangan-tangan Setan. Mewakili bangsa Iran, saya menaruh hormat kepada semua Kitab Ilahi dan para pengikutnya. Ini adalah Al Qur'an dan ini adalah Alkitab. Saya menghormati keduanya," kata Ahmadinejad sambil memperlihatkan kedua kitab suci itu.

Selanjutnya, ia berkhutbah tentang filosofi kenabian. Para nabi Ilahi adalah mereka-mereka yang memiliki misi bagi umat manusia untuk percaya pada satu Tuhan (monoteisme), cinta dan keadilan sekaligus menunjukkan belas kasih bagi kemakmuran serta menjauhi ateisme dan egoisme. Pada titik ini, Ahmadinejad berbicara tentang misi universal yang termaktub dalam setiap agama. Pada tingkatan aktual, semua agama bisa berbeda, namun ditingkat substansi, semuanya mengarah pada titik yang sama, nilai-nilai universal seperti kebenaran, keadilan, cinta kasih. Perbedaan itu hanya di tampilan luar saja. Jika kita mengupas-ngupas inti ajaran itu, maka kita akan menemukan satu substansi yang sama.

Sayangnya, sebagaimana kata Ahmadinejad, ajaran para nabi itu sering tercermar oleh "ego dan nafsu tamak" manusia. Dia selanjutnya memberi sejumlah contoh bagaimana manusia sudah berkali-kali diperingati oleh para utusan Tuhan. "Nimrod menghadapi Hazrat Abraham dan Firaun menghadapi Hazrat Musa. Kaum tamak menghadapi Hazrat Yesus Kristus dan Hazrat Muhammad (damai beserta kita sekalian). Dalam beberapa abad terakhir, etika dan nilai kemanusiaan telah ditolak sehingga menyebabkan keterbelakangan," katanya.

Etika Kemanusiaan

Saya tersentuh dengan kebijaksaan yang terselip dalam kalimat-kalimat ini. Kita memang tidak banyak membaca sejarah peradaban manusia. Padahal, sebagai kata Goethe, manusia yang tudak belajar dari masa tiga ribu tahun sebelumnya adalah manusia yang hidup tidak menggunakan akalnya. Pengalaman yang tercatat dalam kitab itu memberikan terang pandang bahwa kemanusiaan sejatinya tidak terletak pada ikhtiar untuk memperlihatkan kitab suci di mana-mana. Tidak juga terletak pada hasrat membakar satu kitab suci dan menunjukkan brutalnya sebuah ajaran. Namun pada niat tulus untuk menegakkan etika dan nilai kemanusiaan. Inilah tampilan utuh dari sebuah agama. Sebuah wajah yang welas asih dan penuh cinta, bukannya wajah sangar yang identik dengan semangat membakar yang lain.

Seberapa jauhkah kita membaca sejarah? Kita mungkin hanya melihatnya sebagai kilasan peristiwa yang tanpa makna. Padahal dalam setiap lembar sejarah itu terdapat butiran himah yang semestinya memperkaya khasanah kemanusiaan kita hari ini. Terdapat berlembar-lembar pelajaran yang seharusnya ditembus maknanya dan dipulung untuk di bawa ke masa kini dan memperkaya hati kita, sesuatu yang secara sadar ataupun tidak telah mempengaruhi cara pandang kita. Namun, mengapa kita sampai kabur dalam menemukan pelajaran tersebut? Mengapa kita seakan jauh dari lapis hikmah?

Ahmadinejad menyebut nafsu dan ketamakan sebagai hijab yang menghalangi kita dari kenyataan sejati. Ia menyayangkan bahwa nafsu untuk mendapatkan kapital dan dominasi telah menggantikan ajaran monoteisme, yang merupakan gerbang bagi cinta dan persatuan. "Ini akhirnya memunculkan berbagai konflik yang membuka jalan bagi terjadinya perbudakan dan kolonialisme," katanya dalam sidang itu.

Selanjutnya, ia mulai melontarkan kritik pedas kepada AS, kapitalisme, dan juga kepada PBB. Itulah yang membuat para delegasi dari sejumlah negara melakukan aksi boikot dengan meninggalkan ruang sidang saat Ahmadinejad masih berpidato. Menurut stasiun televisi CNN, mereka yang walkout adalah delegasi AS, Inggris, Swedia, Australia, Belgia, Uruguai dan Spanyol. Selain itu, para delegasi dari 27 negara Uni Eropa sebelumnya bersepakat meninggalkan sidang bila Ahmadinejad membuat pernyataan yang menebar kebencian.

Saya tak peduli dengan aksi walkout itu. Bagi saya, Ahmadinejad telah menampilkan dirinya sebagai Musa yang menyampaikan kebenaran. Terlepas dari apapun publikasi tentang sosoknya, ia telah menghembuskan satu dialog yang sangat penting kepada dunia tentang makna kemanusiaan, sebuah dialog yang hanya bisa ditemukan dalam kontemplasi yang menerabas perbedaan. Di sebuah forum yang dihadiri para pemimpin dunia, semua orang sibuk membahas hal-hal yang tidak penting, namun dianggap penting untuk mewujudkan tatanan dunia yang berkeadilan. Tatkala Ahmadinejad membahas hal substansial tersebut, maka ia telah membuka diskursus tentang pentingnya memahami agama tidak hanya dari kulitnya saja, namun dari lapis-lapis yang terdalam. Inilah intisari penting sebuah ajaran kenabian di masa silam. Bukankah itu adalah jawaban dari segala yang kita butuhkan? 

“Anda bisa membakar Quran, tapi tidak bisa membakar kebenaran,” demikian katanya. Di ajang itu, Ahmadinejad tidak berniat membakar injil sebagai aksi balas dendam. Mulanya ia dikhawatirkan akan membakar Injil. Ia hanya menitipkan pesan universal bahwa pada akhirnya Injil dan Al Quran hanyalah sebuah jalan menggapai keselamatan. Pada akhirnya, semuanya akan berpulang pada sejauh mana seorang individu memilih jalannya, membaca bentang kenyataan yang terhampar, dan menciptakan keajaiban-keajaiban dalam hidupnya. Dengan terang pandang ini, aksi bunuh diri atas nama jihad, aksi membunuh yang lain atas nama agama, aksi menghancurkan gedung, hingga aksi pembakaran Al Quran menjadi aksi yang dangkal dan nampak kekanakan sebab melihat agama sebagai tampilan luar, tanpa memetik hikmah di dalam setiap lembar kitab itu. Inilah intisari yang saya pelajari dari kalimat Ahmadinejad di sidang PBB itu.

Sebagaimana tadi telah saya katakan, Ahmadinejad adalah Musa di abad 21.


Jakarta, 25 September 2010

Epos Lirih Tan Malaka


SEMALAM saya membaca buku tentang Tan Malaka. Saya tercengang melihat episode kehidupannya yang berpindah-pindah dari negara satu ke negara lain, dan senantiasa mengobarkan api perlawanan kepada kolonialisme. Hidupnya serupa kisah spionase yang dikejar-kejar di banyak negara. Dan di tengah pelarian itu, ia masih sempat melahirkan buku-buku terbaik tentang filsafat dan gerakan sosial yang pernah dilahirkan anak bangsa ini.

Ia seorang tipe aktivis sekaligus intelektual. Ia amat berbeda dengan para aktivis masa kini yang hanya bermodal semangat, namun lemah berpikir, sehingga sering kabur mengenali realitas dan menentukan strategi. Mungkin karena intelektualitas itu pulalah, ia banyak tidak bersesuaian dengan para tokoh pergerakan masa itu. Para tokoh lebih suka menelusuri pemikirannya sebagai sesuatu yang ideal, tanpa menjelmakannya secara serius. Makanya, Tan Malaka lebih banyak jalan sendirian, tanpa seorang partner atau barisan pengikut yang setia dengan ideologinya.

Bagi saya, Tan Malaka adalah sebuah epos besar yang dituturkan dengan lirih. Ia memang tidak sepopuler Bung Karno atau Bung Hatta. Tapi kejernihan pemikirannya serta kemampuannya menganalisis situasi justru menempatkan dirinya sebagai sosok misterius yang sangat penting, namun tenggelam dalam sejarah.

Ia seorang penggerak massa, ideolog besar yang menuliskan traktat pemikirannya, serta seorang yang berdiam di grassrott yang keberadaannya menakutkan banyak pihak. Tan Malaka seorang pejuang yang lebih suka di belakang layar, mengenali dan mengendalikan situasi, kemudian tejun langsung ke tengah hamparan massa demi mengkoordinir aksi-aksi. Saya tercengang dengan kemampuannya menggalang aksi anti kolonialisme di banyak negara. Pengalaman itu menunjukkan bahwa dirinya adalah pribadi yang lintas negara, lintas peradaban, akan tetapi menemukan satu virus yang menggerogoti di setiap zaman yakni kolonialisme. Dan kesadaran serta hasrat pembebasan kaum tertindas adalah nyala api yang memijar di setiap gerak langkahnya.

Alangkah indahnya jika kita banyak belajar dari langkah para tokoh besar bangsa kita di masa silam.....

Pilih Asli atau Bajakan?




NGAPAIN membeli barang asli selagi ada bajakan? Dulunya saya tidak suka dengan pernyataan tersebut. Sebab bajakan adalah barang tiruan atau barang palsu yang dibuat tanpa sepengetahuan pemilik hak paten atas barang tersebut. Saya membayangkan betapa ruginya para produsen. Namun, jika mengingat betapa mahalnya barang asli, saya jadi dilematis. Saya jadi tidak tahu bagaimana bersikap dan menilai hal ini.

Indonesia adalah negeri yang dipenuhi barang bajakan yang berharga murah. Tidak hanya perangkat elektronik atau cakram film, namun juga buku-buku yang dibandrol dengan harga relatif murah.Di Jakarta, semua warga sudah pada tahu di mana bisa menemukan barang bajakan itu. Jika elektronik, maka bisa ditemukan di Glodok. sedangkan buku, anda bisa mencarinya di Pasar Senen. Jika dilihat dari sisi kualitas, tentunya barang asli jauh lebih berkualitas. Meskipun saya sering menemukan justru barang bajakan punya kualitas yang tidak kalah. Saya pernah memakai HP jenis Communicator. Tak sampai setahun, HP itu harus sudah diservis yang biayanya hampir sejuta. Sementara jenis HP Cina yang amat murah dan saya beli sejak tahun lalu, sampai sekarang masih bertahan. Ah, jangan-jangan, merek mahal itu justru membohongi kita.

Jangan tanya masalah harga. Amat jauh bedanya. Sebuah HP jenis Blackberry bisa seharga Rp 5 juta. Tapi jika anda mencari Blackberry bajakan, maka hanya dapat Rp 1 juta. Jika suatu saat anda jalan-jalan ke Pasar Senen, jangan terkejut jika melihat buku Dunia Sophie karya Jostein Gardner yang dijual hanya Rp 15.000, padahal yang asli harganya bisa Rp 120.000. Atau novel-novel karya Andrea Hirata yang juga Rp 15.000, sementara yang asli bisa sampai Rp 80.000. Nah, sebagai konsumen anda hendak pilih mana? Terserah jika anda bersikap idealis dan memilih yang asli. Maafkan jika saya berbeda dengan anda. Saya masih berprinsip, jika ada yang murah, ngapain membeli yang mahal? Iya khan.

Mengapa sampai ada barang bajakan? Kata teman, barang aslipun sebenarnya bisa murah. Barang tersebut jadi mahal karena mahalnya biaya distribusi. Bisa pula karena besarnya biaya yang diminta oleh para pedagang. Tahukah Anda bahwa toko buku sekelas Gramedia memasang tariff sebesar 35 persen dari buku apapun yang dipajang di situ? Jika percetakan juga memasang tariff 35 persen, maka hanya 30 persen yang tersisa untuk pengarang. Bukankah itu jumlah yang sangat sedikit jika membayangkan betapa sulitnya menulis dan menghasilkan sebuah buku? Mahanya sebuah buku akibat keuntungan dihisap oleh jaringan toko buku dan percetakan. Pantas saja jika pengarang Pramoedya Ananta Toer memilih mencetak dan memasarkan sendiri buku-bukunya. Bukankah itu jauh lebih baik?

Saya tahu bahwa membeli bajakan hanya akan merugikan para pengarang. Namun, saya juga dilematis. Sebagai konsumen, jelas saya ingin yang lebih murah. Saran saya, sebaiknya para pengarang memilih kiat Dewi Lestari, yang mencetak sendiri bukunya, kemudian memasarkan sendiri. Dan terakhir adalah membajak sendiri bukunya. Alasannya, para konsumen punya isi dompet berbeda. Tidak semua sanggup membeli buku mahal. Maka solusinya adalah bajak sendirilah buku yang ditujukan untuk edisi terbatas. Bukankah itu jauh lebih baik sebelum didahului para pembajak?

Selamat buat Dwi



SELAMAT buat Dwiagustriani yang baru saja menjadi salah satu juara pada lomba menulis Kompasiana Blogging Day. Dari sekian ribu peserta, Dwi berhasil masuk dalam jajaran juara. Ini adalah prestasi yang jelas sangat membanggakan. Sebelumnya, Dwi udah pernah jadi juara dalam lomba menulis yang diadakan Kompas di Makassar. Saya ucapkan selamat. Dan semoga ini hanyalah awal dari sederet penghargaan lainnya. Congratulations!

Link pengumuman itu DI SINI

Idola dan Fans

Idola dan fans
ADA dua sosok di foto ini. Pertama adalah Trinity yang tersohor dengan petualangannya di banyak negera. Kedua, istriku, Dwiagustriani, yang baru memulai merencanakan perjalanannya sendiri. Dua sosok dengan obsesi sensiri-sendiri. Trinity telah menjejakkan kakinya di banyak tempat, namun masih gtetap berobsesi ke banyak tempat. Namun Dwi juga memiliki hasrat sama dan kelak akan mewujudkan mimpinya. Yang satu adalah seorang idola, satunya lagi seorang pengagum.

Seberapa sering anda berfoto dengan idola anda?

Gimana Rasanya Dikritik?

GIMANA rasanya dikritik melalui tulisan? Mungkin Anda belum pernah merasakannya. Tapi saya telah merasakannya kemarin. Tahu gak apa yang saya rasakan? Saya justru amat senang sebab kritikan itu telah membuka banyak hal yang belum saya ketahui. Saya senang karena ada orang yang menunjukkan sisi-sisi lain yang tidak saya ketahui.

Para pengkritik adalah para pencerah. Mereka memperlihatkan kita satu perspektif baru yang tidak sempat kita lihat. Pada akhirnya, terjadilah diskusi dan keseimbangan informasi. Dialog mengalir. Dan pengetahuan akan terus bertambah. Saya bahagia dengan semua kritikan itu. Terimakasih sahabat.

Silakan klik tulisan yang memberi kritikan tersebut.(*)

Balada Tiga Filsuf Cantik

tiga filsuf cantik
BEBERAPA hari yang lalu, saya masih berada di Kota Makassar. Suatu hari, saya singgah ke kampus Unhas dengan menggunakan angkutan umum (di Makassar disebut pete-pete) untuk menyelesaikan beberapa urusan. Di pintu 1 Unhas, seorang pemuda menumpang pete-pete dan langsung duduk di sebelah pak sopir. Pemuda itu berambut gondrong yang awut-awutan dan kemerahan. Bukan merah sebagaimana rambut Mulan Jameela. Tapi merah karena tidak pernah dibersihkan. Pemuda itu pakai baju kumal, sandal jepit, dan celana sobek. Yang menarik, ia mengepit sebuah buku tebal. Saya membaca judulnya yakni FILSAFAT.

Sepanjang jalan, saya terus-menerus memperhatikannya. Ia turun di dekat Fakultas Peternakan. Saya seperti menyaksikan gambaran tentang diri saya pada masa silam, saat masih berkeliaran di kampus Unhas. Masa muda adalah masa paling menyenangkan. Anda bisa berpenampilan sekumal apapun, tanpa ada yang protes. Sayapun berpikiran demikian. Saya tidak peduli penampilan. Saya jauh lebih peduli pada buku bacaan atau wacana filsafat yang tengah marak.

Pada masa itu -sebagaimana masa anak muda itu sekarang–, filsafat sangat keren. Filsafat itu seksi. Saya merasa gagah sekali ketika membahas wacana filsafat hingga buat orang terkagum-kagum. Entah apa tujuannya, namun sebagai pemuda yang tengah panas-panasnya bertemu wacana itu, saya selalu merasa kehausan dan ingin membaca. Hasrat saya tak habis-habisnya. Tapi kalau saya renungi pada masa kini, pengetahuan yang pernah didapat justru tak pernah tuntas. Saya mudah hanyut pada gelombang pemikiran baru, sehingga pengetahuan saya sangat parsial. Hanya separuh-separuh. Saya tahu banyak hal, tapi cuma permukaan. Tak pernah masuk pada kedalaman.

Anak muda itu telah menjadi cermin untuk melihat kehidupan saya sebelumnya. Saya pernah menjadi pemuda yang hari-hari adalah wacana filsafat, sehingga penampilanpun menjadi laksana seorang filsuf yang menggelandang di jalan-jalan. Mungkin ini soal persepsi saja. Sebagaimana kata seorang sahabat, yang dikutip dari Chairil Anwar, dulunya filsuf identik dengan gaya hidup menggelandang serupa binatang jalang. Filsuf identik dengan kekumuhan dan penderita penyakit TBC.

Benarkah demikian tampilan seorang filsuf? Saat hijrah ke Jakarta, saya sadar bahwa anggapan itu salah besar. Di Jakarta, Anda bisa temukan para filsuf pada sosok perempuan seksi beraju mahal dan parfum wangi. Saya menemukan banyak perempuan muda, dinamis, cantik dan seksi yang menggemari wacana filsafat. Saya mengenal beberapa sosok. Di mobil mereka, sering saya temukan buku-buku bacaan berkelas seperti Marx, Nietzsche, atau bacaan sastra semacam Pramoedya Ananta Toer. Makanya saya mengubah image yang sudah lama tertanam di kepala saya bahwa wanita cantik identik dengan kedangkalan. Ternyata anggapan itu salah besar. Justru banyak wanita cantik dengan parfum wangi yang menggemari wacana filsafat, sebuah wacana yang sempat didominasi para penggelandang.

Filsuf Cantik

Anda bisa menemukan para filsuf itu pada sosok secantik Dewi Lestari, Djenar Mahesa Ayu, dan Dian Sastro. Merekalah sosok yang mewakili ikon zaman yang modern dan tampak menawan. Merekalah para filsuf yang bisa ditemukan di tengah glamouritas dan dunia sosialita manusia modern. Mereka produktif dan menunjukkan kepada banyak orang bahwa di tengah dunia selebritis, mereka tetap bisa menghasilkan butiran-butiran pemikiran yang menjadi penanda zaman modern kita. Mereka tidak larut dalam dunia modern, namun merefleksikan zaman dengan caranya sendiri-sendiri. Jika Dewi lestari melalui novel dan tulisan mencerahkan, maka Djenar melalui cerpennya yang hendak menelanjangi dunia sosial kita. Para filsuf yang suka menggelandang di gedung kesenian tinggal cerita. Filsuf gondrong hanya sibuk menggelandang, tanpa sempat berkontemplasi dan menuliskan refleksi.

Dewi Lestari saat peluncuran Recto verso
Saya membaca rata-rata buku karya Dewi Lestari. Ia menghasilkan karya-karya yang sarat perenungan filosofis. Tulisan-tulisannya kontemplatif dan diksi bahasanya sangat khas. Saya paling suka esai pendek yang ditulis di blog pribadinya (alamatnya DI SINI). Tulisannya mengalir dan enak dibaca. Saya selalu terkagum-kagum dengan kemampuannya mengolah kata. Saya tak menyangka bahwa di zaman seperti ini, muncul sosok cantik yang bersuara merdu dan pandai menyusun kalimat filsafat.

Ia seorang selebritis (mungkin ia menolak sebutan ini) yang menggemari wacana filsafat. Inilah yang luar biasa. Tak hanya piawai menyanyi di kafe-kafe atau di depan televise, ia amat pandai mengolah kata. Mulanya ia dicemooh. Tapi saat meluncurkan Supernova, Petir, Akar, Filosofi Kopi, hingga novel Perahu Kertas, ia mulai menempati posisi istimewa.

Demikian pula Djenar Mahesa Ayu. ia juga seorang penulis yang hebat. Buku pertama Djenar yang berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet! telah cetak ulang sebanyak delapan kali dan masuk dalam nominasi 10 besar buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003, selain juga telah diterbitkan dalam bahasa Inggris. Cerpen “Waktu Nayla” menyabet predikat Cerpen Terbaik Kompas 2003, yang dibukukan bersama cerpen “Asmoro” dalam antologi cerpen pilihan Kompas itu.

Djenar Mahesa Ayu
Djenar seorang penulis cerpen yang cukup produktif. Salah satu cerpennya “Menyusu Ayah” dinobatkan sebagai Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan dan diterjemahkan oleh Richard Oh ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Suckling Father” untuk dimuat kembali dalam Jurnal Perempuan versi bahasa Inggris, edisi kolaborasi karya terbaik Jurnal Perempuan. Buku keduanya, Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) juga meraih sukses dan cetak ulang kedua hanya dua hari setelah buku itu diluncurkan pada bulan Februari 2005. Kumpulan cerpen berhasil ini meraih penghargaan 5 besar Khatulistiwa Literary Award 2004.

Dian Sastro
Anda juga akan terkejut bisa bertemu filsuf cantik Dian Sastrowardoyo. Perempuan ini dikenal sebagai aktris berbakat yang penuh dengan totalitas. Hobinya adalah membaca, nonton dan segala sesuatu yang berkaitan dengan seni. Menganut agama Islam setelah sebelumnya menjadi penganut Katolik. Selain sebagai aktris ia pernah memiliki rubrik sendiri di majalah GADIS yang bernama Kata Dian, di rubrik tersebut ia menyalurkan bakat menulisnya dan berkomunikasi dengan pembaca majalah Gadis. Ia adalah lulusan jurusan filsafat FIB UI yang tak jarang dimintai bantuan sebagai asisten dosen oleh para seniornya. Skripsinya di Jurusan Filsafat UI membahas fenomena kecantikan yang amat dipengaruhi industry kosmetik. Menurut Dian, media berperan utama dalam membentuk persepsi kecantikan. Dalam skripsi sarjananya, Dian menjelaskan bahwa definisi kecantikan Indonesia identik dengan kulit putih dan rambut panjang yang sebenarnya lebih mirip dengan kecantikan khas kaukasia. “Saya berharap kita bisa meredefinisi kecantikan Indonesia, bahwa cantik itu tidak harus seperti bangsa lain tetapi seperti kita,” kata Dian.

Lesson Learned

Bagi saya sendiri, Dewi, Djenar, dan Dian telah meruntuhkan anggapan bahwa filsuf itu seorang yang gondrong dan kumuh. Keduanya menunjukkan pada kita semua bahwa seorang perempuan yang lahir pada rahim kapitalisme dan peduli kecantikan bisa menjadi seorang filsuf yang hebat. Mereka adalah pemikir cantik yang menggusur konsepsi tradisional kita tentang kiprah dan tampilan seorang filsuf.

Hikmahnya adalah filsafat bukan lagi satu wacana yang angker dan mengerikan. Filsafat adalah wacana yang bisa dibaca dan dikonsumsi oleh siapa saja, apapun profesi dan aktivitas hariannya. Pada akhirnya para filsuf masa kini bukan lagi di jalan bak pesakitan. Tak hanya artis seperti Dewi Lestari, Mulan Jameela, Ahmad Dhani, atau Katon Bagaskara. Boleh jadi, mereka adalah para direktur di sebuah perusahaan multinasional. Boleh jadi mereka adalah para manajer yang belajar filsafat demi menemukan kejernihan dalam memecahkan masalah, agar terang semua jalan dan keputusan bisnis yang dipilih. Saya jadi ingat salah satu judul buku “Ketika Socrates Menjadi Manajer.”

Anak muda kumal pembawa buku filsafat tadi telah mengajak saya menyusuri lorong masa silam.. Saya jadi menerawang tentang masa-masa belajar filsafat. Sekarang memang saya belum jadi filsuf. Namun, saya disadarkan bahwa ada periode dalam hidup tatkala saya rajin membaca buku-buku filsafat. Anak muda itu adalah potret diri saya di masa silam yang menganggap filsafat sebagai proses menggembel dan berkontemplasi, meskipun tak pernah menghasilkan satupun karya.(*)


Jakarta, 21 September 2010

www.timurangin.blogspot.com

Susah Cari Kos di Jakarta

DI Jakarta, nyari kos tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hari ini saya menjelajahi beberapa kawasan di Salemba demi menemukan tempat kos yang sedikit layak dan menyenangkan. Tapi susahnya minta ampun. Memang, tadinya saya menemukan beberapa tempat kos di Jalan Salemba Tengah. Namun, tak ada yang sesuai dengan selera.

Mungkinkah Jakarta penuh dengan pendatang? Entahlah. Pemerintah DKI Jakarta selalu menggelar operasi Yustisi untuk menahan laju pendatang. Namun, operasi ini menjadi lucu-lucuan saja. mana mungkin pemerintah sanggup menggeledah siapa saja manusia yang memenuhi sudut-sudut Kota Jakarta? Mana mungkin semua orang ditanyai, kamu punya KTP Jakarta atau tidak? Toh, operasi itu hanya menjadi instrumen untuk mengusir rakyat kecil yang hendak mencari hidup di kota sebesar itu.

Di kota ini, miliaran manusia tengah bertarung demi hidup. Miliaran manusia laksana semut yang memperebutkan gula di kota sebesar ini. semua sudut penuh manusia. Bahkan untuk mencari kos-kosanpun susahnya minta ampun. manusia Jakarta saling berebut ruang. Semua mengincar gula yang konon katanya memenuhi Jakarta. namun, apakah mereka kenyang dengan gula yang manis itu? Saya rasa tidak. Di kota ini, mereka yang menang tidak seberapa banyak. Mereka yang menang adalah sedikit orang yang lihai membaca peluang dan memaksimalkan potensinya.

Maafkan saya yang lagi ngelantur. Seharian saya keliling cari kos. kaki ini sampai pegal karena kelelahan. Tak jua bersua dengan tempat yang sesuai selera.(*)

Lima Jam di Bandara Hasanuddin

JIKA suatu saat Anda hendak bepergian, sebaiknya jangan gunakan pesawat Batavia Air. Jangan sampai Anda punya pengalaman buruk seperti saya. Pesawatnya delay selama lebih lima jam, dan tidak ada pemberitahuan yang jelas mengapa pesawat itu terlambat datang.

bandara sultan hasanuddin
Hari ini saya menumpang pesawat Batavia Air, yang berangkat dari Makassar ke Jakarta. Mestinya pesawat berangkat pukul 12.00 siang. Saya terburu-buru menuju Bandara Hasanuddin. Hingga jam 1, tak ada juga kabar berita. Tak ada satpun petugas Batavia Air di ruang tunggu bandara. Nanti pukul 13.30 baru muncul seorang petugas.Semua penumpang lalu mengerubungi petugas itu dan  marah-marah. Kata petugas itu, pesawat akan datang jam 4 sore karena pecah ban di Sorong. Semua penumpang langsung mendongkol dan marah-marah.

Banyak penumpang yang stres, khususnya yang transit. Banyak juga yang marah-marah karena terlanjur membeli tiket untuk ke tempat lain dari Jakarta. Andaikan pesawatnya sama-sama Batavia, maka tak ada masalah sebab bisa dicarikan solusi. Tapi banyak yang membeli pesawat maskapai lain. jelaslah mereka stres berat gara-gara hal itu.

Saya sendiri ikut mendongkol. Tapi saya tidak tahu hendak berbuat apa. terpaksa saya menunggu di bandara seharian penuh. Pesawat akhirnya berangkat jam 5 sore. Mestinya saya tiba siang di Jakarta. ternyata saya masuk di malam hari. Yah, apa boleh buat. Mungkin inilah penyakit maskapai penerbangan di negeri ini.

Mestinya, karyawan Batavia Air bisa menjadi pelayan yang baik bagi para penumpang. ia mesti menenangkan semuanya, lalu meminta maaf. Ia mesti mendengarkan keluhan semua penumpang, kemudian mencarikan solusi sama-sama. Mereka harus melayani, sebab itulah yang diminta para penumpang atas biaya yang sudah mereka keluarkan. mereka harus berani tampil ke depan. Jangan cuma menyuruh seorang staf yang bukan penentu kebijakan demi menghadapi emosi para penumpang.(*)

Jakarta, Here I Come.....

KEMBALI aku memasuki Jakarta. Ada rasa haru, grogi, serta was-was. Jakarta selalu saja buatku kembali menjadi udik. Saya akan menghadapi tantangan baru. Benar kata sahabatku Nurhadi Sirimorok, sekali menerima amanah, maka kita harus menceburkan diri untuk memenuhinya. Semoga Yang Maha mengenggam tak pernah melepaskan genggaman-nya atasku.

Jakarta,... Here I Come...

Rhoma Irama, Nostalgia Satria Bergitar

Bang Raden Haji Oma Irama
SEMALAM saya nonton film Dawai Asmara 2 yang dibintangi Rhoma Irama, Ridho Rhoma dan Cathy Sharon. Kisahnya biasa aja, khas sinetron dan film India. Tak ada yang istimewa di situ kecuali ciuman maut Cathy Sharon pada Ridho Rhoma. Tapi, film itu tiba-tiba mengingatkan saya pada banyak hal. Saya jadi terkenang dengan masa kecil dan episode-episode yang lewat dalam hidup. Saya ingat kampung, ingat almarhum bapak (yang setiap pagi akan memutar kaset lagu Rhoma dengan suara memekakkan telinga), ingat tahun 1980-an, suasana ketika Rhoma Irama menjadi magnet besar yang menarik banyak orang. Masa ketika pertamakalinya Rhoma ditahbiskan sebagai Raja Dangdut.

Pada masa itu, Rhoma adalah segala-galanya. Jika Anda membangunkan saya di tengah malam dan menodong dengan pertanyaan apa saja film yang dibintangi Rhoma, maka saya langsung dengan cepat menyebut sejumlah film. Mulai dari Gitar Tua, Satria Bergitar, Berkelana, Darah Muda, Pengorbanan, Jaka Swara, Menggapai Matahari, Nada-Nada Rindu, hingga Bunga Desa. Malah, saya masih ingat apa saja kisahnya dan dengan siapa dia berpasangan.

Kadang aneh saja jika mengingat kembali film di mana Rhoma menjadi sosok sempurna. Saya masih sering berseloroh, saat Rhoma hendak mencium Ricca Rahim, maka ia akan memulai dengan ucapan, “Bismillah” yang diucapkan dengan intonasi agak berat dan bergetar. Di kampus Unhas, saat saya masih kuliah, kami sering memparodikan Rhoma di saat acara Ospek atau inaugurasi. Pernah, saat pembukaan Ospek di Fisip Unhas tahun 1999, seorang mahasiswa baru (maba) memulai pembukaan dengan mengucapkan sumpah orang Bugis-makassar. Ia mengenakan pakaian adat dengan ikat kepala khas. Di saat ia mencabut badik sambil berikrar dengan suara penuh khidmat, “Mulutku berkata tidak, badikku belum tentu..” Suasananya tegang. Semua menahan napas.

Di tengah suasana sacral itu, tiba-tiba ada seorang senior yang langsung menjawab, “Kaukah itu Rhoma?” Suasananya langsung berubah. Semua tertawa terbahak-bahak. Dan wajah maba itu langsung kemerahan karena malu. Hahahaha…. Semuanya menjadi kenangan yang lucu dan menggelikan.

Nah, jika Anda membangunkan saya di tengah malam, tanyakan pula beberapa lagu Rhoma. Maka saya secara spontan akan menyebut lagu Berkelana, Ani, begadang, Bujangan, Gali Lubang Tutup Lubang, Saleha, dan banyak lagi. Tapi saya tidak terlalu suka lagu-lagunya yang bernuansa dakwah. Saya masih menghafal banyak lagu Rhoma, termasuk lagu pesona yang dinyanyikan bersama artis India, Lata Mangeskar. Kaget?

Saya memang seorang penggemar Rhoma Irama. Maafkan atas pengakuan ini. Mungkin Anda akan menganggap saya ndeso, kampungan, atau apapun namanya. Terserahlah. Saya sendiri sudah lama memendam pengakuan ini. Rhoma adalah kepingan-kepimgan kecil dari episode masa silam saya yang tinggal di kampung.

Saya pernah nonton film Berkelana yang dibintangi Rhoma dan berpasangan dengan Yati Octavia (ini salah satu duet maut dalam film Indonesia). Di rumah tetangga, film itu diputar dengan video (pada masa itu betapa mewahnya memiliki video). Ruangan penuh. Saya hanya bisa mengintip dari kaca jendela nako di samping, sambil berjinjit di atas meja.

Selama dua jam lebih saya saksikan dengan berdiri dan mata tak berkedip. Dalam film itu, Rhoma memilih kabur dari rumah karena orangtuanya melarang dirinya jadi pemusik. Syairnya lirih. “Dalam aku berkelana, tiada yang tahu// ke mana ku pergi// tiada yang tahu// apa yang kucari..//

Gubrak!!!! Tiba-tiba meja yang saya injak bersama puluhan anak-anak langsung rubuh. Kami terjatuh. Sakitnya bukan main. Kami langsung menangis bersamaan. Namun saat Rhoma mulai berdendang “Aaaaannniiiiiii….”, kami langsung terdiam. Kembali mencari meja lalu berdiri memandang dari kaca nako untuk menyaksikian sang satria bergitar. Rhoma adalah magnet yang menarik kami dan semua warga lain untuk merapat dan mendengarkannya dengan penuh penghayatan.

Rhoma Irama dan Hasrat Berkelas

Pada hari ini, saat menyaksikan poster film Rhoma saya sering senyum-senyum sendiri. Bukan tersenyum melihat suasana jadul. Tapi saya senyum membayangkan banyaknya kejadian masa silam yang masih membekas di masa kini. Mendengar lagu Rhoma, ibarat memutar waktu dan menyaksikan diri sendiri di masa silam, sekaligus jalan untuk merefleksi diri di masa kini.

Rhoma memang artis yang saya gandrungi sekaligus saya benci. Gandrung karena lagu-lagunya yang syahdu, romantic, dan menggetarkan. Tapi saat dewasa, saya mulai benci karena saat menyebut diri penggemar Rhoma, maka saat itu juga dicap kampungan.

Ini berbeda dengan kesukaan saya pada satu grup music semisal The Beatles. Ketika saya menyebut lagu seperti Yellow Submarine, The Ballad of John and Yoko, maka selera saya dianggap berkelas. Makanya, saat kuliah di Unhas, saya sering memproklamirkan diri sebagai penggemar The Beatles. Saya melakukannya karena ingin dianggap memiliki cita rasa dianggap tinggi karena menyukai band-band berkualitas. Padahal, jika diselidiki tubuh musik saya, maka musik dangdut Rhoma, A Rafiq, ataupun Meggie Z mengalir sebagai darah daging di situ. Saya yakin, saya tidak sendirian. Jangan-jangan, Andapun sama dengan saya: sama-sama suka Rhoma, tapi malu mengakuinya.

dalam film Berkelana
Namun benarkah para penyorak itu tidak suka Rhoma? Saya gak yakin. Dunia sosial terlalu mudah menjadi kekang atas diri kita yang berlarian bak kuda lepas. Dengan mudahnya kita merekayasa citarasa, kegemaran, dan kesukaan kita atas sesuatu demi sebuah penilaian tentang cita rasa. Kita jarang jujur dengan diri sendiri sehingga mengabaikan diri kita yang sesungguhnya. Kita tidak sedang menjadi diri kita sendiri. Kita menjadi apa yang dicitrakan oleh media sebagai lapis atas. Kita merekayasa segala yang ada pada diri kita demi sebuah kata berkelas, keren, atau kata papan atas.

Namun, untuk apakah semua pencitraan itu? Emangnya kenapa kalau saya ndeso? Memang itu faktanya kok. Jika ndeso yang dimaksudkan adalah sebuah geografi yang terletak di udik sana tempat kita berasal, maka saya memang seorang ndeso. Trus, apa pentingnya mempersoalkan ndeso dan tidaknya seseorang?

Justru kosa kata ndeso atau kampungan adalah gambaran tentang subkultur dari mana kita berasal. Kita berangkat dari satuan teritori yang masih memelihara kekerabatan, jaringan sosial, dan masih menganggap diri satu tubuh dengan masyarakat sekitar. Kampungan adalah konsep di mana seluruh warga yang berdiam di satu tempat memiliki solidaritas yang tinggi serta saling memiliki. Kampungan adalah konsep masyarakat yang sehat di mana masing-masing saling mngenal serta mengidentifikasi diri sebagai satu kesatuan. Hajatan pada satu keluarga adalah hajatan seluruh warga. Anda tak menemukan konsep saling mengenal dan saling membantu seperti ini pada masyarakat kota yang sok modern. So, jangan malu disebut kampungan. Jangan pula malu menyebut diri sebagai penggemar Rhoma Irama. Setidaknya kita sedang berdamai dengan diri kita sendiri.

Fenomena Rhoma

Buat Anda yang pernah merasakan suasana music di tahun 1970-an dan 1980-an, mustahil jika anda tidak mengenal sosok Rhoma. Penggemarnya bejibun. Musiknya dinikmati jutaan rakyat Indonesia. Saya tak pernah melihat seorang penyanyi dengan massa yang tersebar luas hingga pedesaan. Berdasarkan data penjualan kaset, dan jumlah penonton film- film yang dibintanginya, penggemar Rhoma tidak kurang dari 15 juta atau 10% penduduk Indonesia. Ini catatan sampai pertengahan 1984. “Tak ada jenis kesenian mutakhir yang memiliki lingkup sedemikian luas”, tulis majalah TEMPO, 30 Juni 1984. Sementara itu, Rhoma sendiri bilang, “Saya takut publikasi. Ternyata, saya sudah terseret jauh.”

sebelum mencium Yati Octavia, Rhoma akan mengucap "Bismillah"
Rhoma terhitung sebagai salah satu penghibur yang paling sukses dalam mengumpulkan massa. Rhoma bukan hanya tampil di dalam negeri tapi ia juga pernah tampil di Kuala Lumpur, Singapura, dan Brunei dengan jumlah penonton yang hampir sama ketika ia tampil di Indonesia. Sering dalam konser Rhoma Irama, penonton jatuh pingsan akibat berdesakan.

Saya beberapa kali menyaksikannya. Di kampung saya di Pulau Buton, hanya Rhoma yang sanggup membuat sebuah kota jadi kota mati karena konsernya. Malah, saya dapat info kalau banyak penduduk pulau sekitar yang rela berenang menyeberang pulau demi menyaksikan Rhoma manggung di tepi Pantai Kamali di Bau-bau, beberapa tahun lalu. Rhoma adalah raja, dan kamilah rakyatnya.

Menurut situs wikipedia, pada 13 Oktober 1973, Rhoma mencanangkan semboyan “Voice of Moslem” (Suara Muslim) yang bertujuan menjadi agen pembaharu musik Melayu yang memadukan unsur musik rock dalam musik Melayu serta melakukan improvisasi atas aransemen, syair, lirik, kostum, dan penampilan di atas panggung. Menurut Achmad Albar, penyanyi rock Indonesia, “Rhoma pionir. Pintar mengawinkan orkes Melayu dengan rock”. Tetapi jika kita amati ternyata bukan hanya rock yang dipadu oleh Rhoma Irama tetapi musik pop, India, dan orkestra juga. inilah yang menyebabkan setiap lagu Rhoma memiiki cita rasa yang berbeda.

Bagi para penyanyi dangdut lagu Rhoma mewakili semua suasana ada nuansa agama, cinta remaja, cinta kepada orang tua, kepada bangsa, kritik sosial, dan lain-lain. “Mustahil mengadakan panggung dangdut tanpa menampilkan lagu Bang Rhoma, karena semua menyukai lagu Rhoma,” begitu tanggapan beberapa penyanyi dangdut dalam suatu acara TV.

Rhoma juga sukses di dunia film, setidaknya secara komersial. Data PT Perfin menyebutkan, hampir semua film Rhoma selalu laku. Bahkan sebelum sebuah film selesai diproses, orang sudah membelinya. Satria Bergitar, misalnya. Film yang dibuat dengan biaya Rp 750 juta ini, ketika belum rampung sudah memperoleh pialang Rp 400 juta. Tetapi, “Rhoma tidak pernah makan dari uang film. Ia hidup dari uang kaset,” kata Benny Muharam, kakak Rhoma, yang jadi produser PT Rhoma Film. Hasil film disumbangkan untuk, antara lain, masjid, yatim piatu, kegiatan remaja, dan perbaikan kampung.

Sayangnya, sejak Rhoma terjun ke dunia politik, kariernya seakan meredup. Meskipun ia masih tetap menjadi magnet di dunia music dangdut. Ia adalah nama besar yang melambungkan music itu hingga bisa diterima banyak orang di masa kini.

Semalam, saya menyaksikan film yang dibintangi Rhoma. Memang, ia tidak lagi menjadi satria bergitar. Ia hanya membimbing Ridho putranya. Dan sepanjang film, saya tersenyum dan terpingkal-pingkal. Saya membayangkan masa silam, masa yang penuh lagi-lagu Rhoma.(*)


Makassar, 18 September 2010

Apakah KH Ahmad Dahlan Sang Pencerah?

“Allaahu Akbar…. Allaahu Akbar….”

MASSA bergerak sambil membawa obor di tangan. Dengan mengenakan pakaian khas seorang kawula di Jawa, mereka lalu menyerbu Langgar Kidul. Mereka berteriak-teriak menyebut asma Tuhan sembari menyerbu masjid kecil itu. Mereka beringas. Mereka merubuhkan semua tembok dan membakar hingga tersisa puing-puing. Di atas langgar yang sudah tinggal jejak itu, mereka lalu berteriak-teriak bahwa ini demi menegakkan agama, demi merubuhkan yang kafir. Namun benarkah ada kekafiran di situ? Ketika di langgar itu selalu didengungkan asma Tuhan, apakah layak jika kita sebut kekafiran?

poster film
Film Sang Pencerah menggambarkan adegan ini dengan menyayat. Suara biola mengiris-iris. Emosi massa tersulut saat pemilik langgar KH Ahmad Dahlan memprotes arah kiblat Masjid Besar Kauman, sebuah masjid yang menjadi sumbu kekuasaan Islam di Yogyakarta. Masjid Besar Kauman bukan saja tempat beribadah, namun menjadi symbol dari sentrum kekuasaan Islam tradisional Jawa, sebagaimana diwariskan turun-temurun sejak masa penguasa Islam pertama di Jawa yang dikawal oleh Sembilan wali bijaksana (Wali Songo). Dan memprotes kiblat masjid itu ibarat mengobrak-abrik tatanan tradisional yang terlanjur diberlakukan. Itu sama dengan membongkar tradisi.

Dahlan memang seorang reformis. Ia terpengaruh ide modernisasi pemikiran Islam yang dibawa Muhammad Abduh dan Jamaluddin al Afghani pada tahun 1800-an. Ia melihat realitas keislaman Yogyakarta yang penuh dengan takhayul. Melalui ide Abduh, ia hendak memurnikan keberislaman itu sehingga membawa rahmat bagi umat. Untuk itu, ia harus melabrak tradisi. Ia berdakwah dengan tegas dan tanpa kompromi. Cara berpikirnya hitam putih. Ketika sesuatu salah, maka salah. Ketika sesuatu benar, maka benar. Ia tak mengenal negosiasi dan kompromi demi sebuah keyakinan. Ia kepala batu. Semuanya demi keyakinan.

Saya sendiri banyak termenung saat melihat film ini. Saya tidak pernah membaca biografi Ahmad Dahlan. Saya hanya menyaksikan film ini dan menduga-duga. Dalam pahaman saya, film ini menampilkan sosok yang merasa benar dan menyalahkan orang lain. Ah, jangan-jangan saya yang terlampau naïf melihat cara berpikirnya. Tapi saya justru menemukan paradoks. Pada saat ia mengkritik letak kiblat, maka ia sesungguhnya sedang menjadi formalis. Namun saat mengajar dengan mengenakan pakaian ala barat, maka ia sangat substantif. Bukankah paradoks?

Tradisi, Pribumisasi, dan Dialog

Bagi saya, tradisi adalah endapan dari kebiasaan-kebiasaan yang terus berulang-ulang. Tradisi adalah sebuah proses pelembagaan. Di saat Sunan Kalijaga membawa Islam, ia mengikis –tanpa bermaksud menggantikan—tradisi Hindu yang sudah lebih dulu ada. Andaikan ia menggantikan Hindu, maka pastilah ajaran Islam akan ditentang. Inilah proses pribumisasi atau negosiasi yang cerdas untuk membawa masuk ajaran yang secara kultural lahir di tanah Arab. Sekian puluh tahun, pribumisasi itu berjalan mulus hingga menimbulkan interpretasi yang disebut Dahlan sebagai Islam mitos. Dan ia lalu melabrak keras tradisi itu yang disebutnya kesesatan.

adegan film
Salah satu adegan yang paling saya sukai adalah ketika Dahlan mengundang para kiai besar dan berpengaruh di Yogya. Ia mempresentasikan letak kiblat yang keliru jika dilihat dengan ilmu falak. Saya suka kalimat seorang kiai tradisional. Ia mengatakan bahwa Tuhan bisa dijangkau dari mana saja, baik utara selatan atau timur barat. Hal terpenting adalah kalbu serta niat yang suci dari seseorang untuk “menemui” Tuhannya. Sang kiai tak pernah menyebut kutipan pendapatnya. Tapi saya sangat yakin kalau ia mengutip ajaran tasawuf yang melihat doa sebagai sesuatu yang personal dan menyangkut relasi manusia dan Tuhannya.

Dalam dialog ini, saya tidak menemukan jawaban yang substantif dari Ahmad Dahlan. Justru para kiai itu yang sangat maju cara berpikirnya. Dahlan hanya mengulang-ulang dalil dari ilmu falak atau ilmu bumi. Ia juga hanya berkata sekilas bahwa Masjidil Haram tetap saja bagian terpenting dan Rasulpun menghadapkan wajahnya ke situ. Sayang sekali karena ia tidak membantah pendapat kiai itu dengan dalil yang juga digali dari khasanah pemikiran Islam. Dan film ini dengan sederhananya memosisikan Dahlan sebagai pemenang atau protagonist. Sementara para kiai tradisional –yang disebut bau dan tidak bersepatu itu—justru menjadi sosok penghalang kemajuan. Apakah memang kenyataan sesederhana itu?

Bagi saya, film Sang Pencerah bukan sekadar kisah biografi KH Ahmad Dahlan, pendiri persyarikatan Muhammadiyah yang kini amat besar dan kaya. Film ini lebih dari itu. Film ini sedang memotret pergolakan dalam Islam Jawa pada masa-masa peralihan ketika modernisasi sedang berjalan merambat. Film ini hendak memotret pelapisan sosial masyarakat, bagaimana Islam diterjemahkan sebagai lembaga kuasa, hingga dinamika interpretasi atas ajaran Islam. Pada titik inilah muncul sosok Ahmad Dahlan yang menjadi pencerah, sebagai penerang yang memisah terang dari gelap. Ia menunjukkan bahwa keberislaman masyarakat diselubungi aneka mitos dan takhayul sehingga mengaburkan makna Islam yang disebutnya “agama yang membawa ketenangan dan keindahan bagi siapa saja.” Namun, saat ditanya apa ketenangan dan keindahan itu, ia hanya memainkan biola dan menyuruh muridnya meresapi. Saya sendiri jadi geli sebab agama seolah sesuatu yang meninabobokan orang-orang. Saya jadi ingat kata Marx, mustahil seseorang beragama ketika perutnya lapar.

Keping Realitas

Sayangnya, film ini bukanlah sebuah documenter atau etnografi sejarah. Sebagai penonton, kita tak pernah tuntas memahami persoalan. Kita hanya melihat kilasan adegan ketokohan seorang Ahmad Dahlan dan keberaniannya menerobos sekat berpikir umat yang saat itu didominasi Islam ala Masjid Besar Kauman. Buat masyarakat awam, mungkin akan dengan mudahnya terseret logika film. Namun bagi yang jeli, tentunya akan menemukan beberapa keping ralitas kejanggalan, sebagaimana yang saya temukan.

adegan film
Pertama, bagian awal film menyebutkan bahwa saat Dahlan lahir, Islam Jawa sangat dipengaruhi ajaran Syekh Siti Jenar yang sesat. Islam dipenuhi mitos, pengkultusan dan sesajen. Saya bukan sejarawan. Tapi saya mempertanyakan pernyataan ini. Justru Jenar dihabisi oleh Dewan Wali Songo. Bukankah islam Jawa saat itu adalah sintesa yang dilakukan Sunan Kalijaga dengan sejumlah tradisi Hindu yang masih berdenyut di masyarakat? Bukankah pula ajaran tasawuf yang diperkenalkan Jenar justru mengajarkan kebersatuan manusia dan Tuhan, tanpa harus melalui ritual, apalagi sebuah sesajen.

Kedua, film ini memotret pergolakan Islam, namun hanya menampilkan setengah-setengah. Film ini menampilkan tiga lapis kelompok yang berkonflik yakni Islam modern (sebagaimana yang dibawa Dahlan), Islam tradisional (yang diwakili para kiai), serta Islam priyayi (yang diajarkan di sekolah Belanda). Dahlan adalah sosok yang bersahabat dengan kelompok modern dan kiai, namun bermusuhan dengan tradisional. Sayangnya, perbedaan paham itu terlampau sederhana dipotret. Kita hanya melihat Islam yang modern dan berbaju ala Eropa versus Islamnya para kiai yang tradisional. Lagi-lagi ini bukan perbedaan substansial. Dan mengapa harus Dahlan yang memenangkan perbedaan pendapat itu?

Ketiga, posisi Sultan Hamengkubuwono VII cukup sentral untuk menengahi konflik antara Dahlan dan Kiai Penghulu. Saya melihat Sultan menjadi figur bijaksana yang bisa menengahi konflik tersebut. Yang saya herankan, kemanakah Sultan saat massa merubuhkan masjid kecil milik Dahlan? Apakah ia juga terprovokasi Kiai Penghulu, sebagai ‘menteri agama’ Kesultanan Yogyakarta?

Keempat, film ini terlalu ambisi untuk memotret Dahlan secara utuh, mulai dari guru, imam, aktivis ssoial, aktivis pergerakan. Saking utuhnya membuat adegan-adegan terasa berkejar-kejaran. Akhirnya kita kehilangan kedalaman. Simaklah bagaimana Dahlan bicara tentang tahlilan, yasinan, selametan dan sesaji tanpa sekali pun kita melihat ada scene tahlilan, yasinan, selametan dan sesaji itu sendiri. Tema tentang bid’ah itu, yang kelak justru menjadi “sengketa” yang laten dan berusia lebih panjang ketimbang perkara arah kiblat, hadir tak ubahnya senarai kutipan, sejenis monolog, bukan sebuah peristiwa yang punya darah dan daging. Saya jadi bertanya-tanya, dengan menyaksikan film durasi dua jam ini, apakah Dahlan memang seorang pencerah? Bantulah saya untuk menjawabnya.

Kelima, ketegangannnya jadi berkurang karena ekspresi Dahlan datar-datar saja saat dimaki sebagai kafir atau disoraki para pemain rebana. Kita juga kehilangan kejutan karena kita tidak menemukan sebuah ancaman terhadap keselamatannya setelah mengkritik otoritas tradisional islam. Yang banyak diulang adalah teriakan kafir, namun tak satupun ancaman yang pernah dialami Dahlan secara fisik. Ia melalui semuanya dengan santai.

Keenam, agak aneh karena ada adegan ketika murid-murid Dahlan tiba-tiba mengepalkan tangan dan berikrar untuk setia di belakangnya. Saya merasa sutradara film tidak terlalu yakin bahwa adegan yang dirangkai sejak awal telah menancapkan kesan kuat bahwa para murid dahlan adalah manusia yang tahan banting menghadapi ancaman apapun.

***

Apapun itu, film ini sangat layak diapresiasi sebab sukses mengangkat satu sosok inspiratif di negeri ini. Saya paling suka adegan ketika Langgar Kidul roboh. Orang-orang bertakbir. Murid Dahlan gelisah saat obor mendekat. Adegan yang luar biasa muncul ketika Dahlan datang di tengah hujan dan mendapatkan langgarnya sudah runtuh menjadi puing-puing.

Nyai Dahlan lantas menyambutnya tanpa kata-kata dengan sebuah payung dan berakhir dengan pemandangan yang simbolik: tangan kanan Dahlan menggenggam tasbih yang diam dan tangan kiri memegang obor yang sudah padam karena basah air hujan.

Tasbih itu menjadi pernyataan bahwa pijar iman yang cerah tak sanggup menghadapi massa yang bertakbir, namun tiba-tiba beringas dan menghancurkan tenpat ibadah. Obor yang padam dan basah karena air hujan adalah symbol dari semangat yang menyala-nyalaakan padam dengan swndirinya ketika menemui peristiwa memalukan seperti itu. Dahlan tampil sebagai manusia, bukan malaikat. Ia punya sisi bimbang dan ketakutan akan gagal. Inilah sisi manusiawi seorang manusia yang juga takut kalah dan gagal.

Sayangnya, saya masih tidak puas dengan ending-nya. Ketika Kiai Penghulu berjabat tangan dengan Kiai Dahlan, maka itu adalah symbol dari titik kompromi yang dibangun dari sesame Islam yang berbeda metodologi. Mereka lalu berbicara hal-hal yang substansial tentang makna Islam. Maka damailah pertentengan itu. Inilah bentuk kompromi yang cukup menyederhanakan kenyataan. Interpretasi berbeda itu tiba-tiba mengerucut pada satu substansi. Entah, apakah di realitas memang selalu demikian.

Terakhir, film ini mengingatkan saya pada pandangan bahwa sejarah laksana spiral yang sering mengalami pengulangan-pengulangan. Kekerasan pada masa lalu, bisa jadi akan terjadi lagi pada masa datang, dengan metode yang berbeda. Jika masa lalu ada perang dengan busur-panah, maka di masa depan, muncul perang dengan bom atom atau nuklir. Tapi substansinya tetap sama yakni peperangan. Inilah guna belajar sejarah. Agar kita tidak terjerembab pada kebodohan yang pernah terjadi pada suatu masa. Bukankah demikian?

Filsuf Zaman Metropolitan

Dewi Lestari, filsuf zaman metropolitan

 TADI pagi saya menumpang angkutan umum (pete-pete) ke kampus Unhas. Di pintu 1 Unhas, seorang pemuda menumpang pete-pete dan langsung duduk di sebalah pak sopir. Pemuda itu berambut gondrong yang awut-awutan dan kemerahan. Bukan merah sebagaimana rambut Mulan Jameela. Tapi merah karena tidak pernah dibersihkan. Pemuda itu pakai baju kumal, sandal jepit, dan celana sobek. Yang menarik, ia mengepit sebuah buku tebal. Saya membaca judulnya yakni FILSAFAT.

Sepanjang jalan, saya terus-menerus memperhatikannya. Ia turun di dekat Fakultas Peternakan. Saya seperti menyaksikan gambaran tentang diri saya pada masa silam, saat masih berkeliaran di kampus Unhas. Masa muda adalah masa paling menyenangkan. Anda bisa berpenampilan sekumal apapun, tanpa ada yang protes. Sayapun berpikiran demikian. Saya tidak peduli penampilan. Saya jauh lebih peduli pada buku bacaan atau wacana filsafat yang tengah marak.

Pada masa itu, filsafat sangat keren. Filsafat itu seksi. Saya merasa gagah sekali ketika membahas wacana filsafat hingga buat orang terkagum-kagum. Entah apa tujuannya, namun sebagai pemuda yang tengah panas-panasnya bertemu wacana itu, saya selalu merasa kehausan dan ingin membaca. Hasrat saya tak habis-habisnya. Tapi kalau saya renungi pada masa kini, pengetahuan yang pernah didapat justru tak pernah tuntas. Saya mudah hanyut pada gelombang pemikiran baru, sehingga pengetahuan saya sangat parsial. Hanya separuh-separuh. Saya tahu banyak hal, tapi cuma permukaan. Tak pernah masuk pada kedalaman.

Anak muda itu telah menjadi cermin untuk melihat kehidupan saya sebelumnya. Saya pernah menjadi pemuda yang hari-hari adalah wacana filsafat, sehingga penampilanpun menjadi laksana seorang filsuf yang menggelandang di jalan-jalan. Mungkin ini soal persepsi saja. Sebagaimana kata Alwi Rahman yang dikutip dari Chairil Anwar, dulunya filsuf identik dengan gaya hidup menggelandang serupa binatang jalang. Filsuf identik dengan kekumuhan dan penderita penyakit TBC.

Kini, anggapan itu sudah jauh berubah. Di Jakarta, Anda bisa temukan para filsuf pada sosok perempuan seksi beraju mahal dan parfum wangi. Di Jakarta, banyak filsuf dengan sosok secantik Dewi Lestari atau Djenar Mahesa Ayu, dua sosok yang mewakili ikon zaman yang modern dan tampak menawan. Para filsuf yang suka menggelandang di Taman Ismail marzuki (TIM) tinggal cerita. Mereka hanya sibuk menggelandang, tanpa sempat berkontemplasi dan menuliskan refleksi.

Sementara Dewi Lestari tidak demikian. Ia menghasilkan karya-karya yang sarat perenungan filosofis. Tulisan-tulisannya kontemplatif dan diksi bahasanya sangat khas. Mengalir dan enak dibaca. Saya selalu terkagum-kagum dengan kemampuannya mengolah kata. Saya tak menyangka bahwa di zaman seperti ini, muncul sosok cantik yang bersuara merdu dan pandai menyusun kalimat filsafat.

Djenar Mahesa Ayu
Seperti halnya Dewi, demikian pula Djenar Mahesa Ayu. ia juga seorang penulis yang hebat. Karyanya "Mereka Bilang Saya Monyet" menjadi karya yang menjelaskan bahwa Djenar seorang filsuf di zaman metropolitan seperti ini. Tulisan-tulisannya penuh makna dan metafor yang dihamparkan secara acak dan butuh kecerdasan untuk memaknainya. bagi saya, Dewi dan Djenar telah meruntuhkan anggapan bahwa filsuf itu seorang yang gondrong dan kumuh. Keduanya menunjukkan pada kita semua bahwa seorang perempuan yang lahir pada rahim kapitalisme dan peduli kecantikan bisa menjadi seorang filsuf yang hebat. Keduanya adalah pemikir cantik yang menggusur konsepsi tradisional kita tentang kiprah dan tampilan seorang filsuf.

Pada akhirnya para filsuf masa kini bukan lagi di jalan bak pesakitan. Tak hanya artis seperti Dewi Lestari, Mulan Jameela, Ahmad Dhani, atau Katon Bagaskara. Boleh jadi, mereka adalah para direktur di sebuah perusahaan multinasional. Boleh jadi mereka adalah para manajer yang belajar filsafat demi menemukan kejernihan dalam memecahkan masalah, agar terang semua jalan dan keputusan bisnis yang dipilih. Saya jadi ingat salah satu judul buku “Ketika Socrates Menjadi Manajer.”

Anak muda kumal pembawa buku filsafat tadi telah mengajak saya menyusuri lorong masa silam.. Saya jadi menerawang tentang masa-masa belajar filsafat. Sekarang memang saya belum jadi filsuf. Namun, saya disadarkan bahwa ada periode dalam hidup tatkala saya rajin membaca buku-buku filsafat. Anak muda itu adalah potret diri saya di masa silam.(*)

...

...