Catatan tentang keindahan, kesunyian, dan perjalanan

Setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki

Kenangan di Pulau Buton

Di sinilah saya memulai perjalanan, sekaligus menjadi tempat kembali

Menghitung Hari di Athens, Ohio

Amerika Serikat adalah negeri tempat saya menemukan diri

Keluarga Kecilku

Mata air yang memancarkan kasih sayang.

Belajar Menyerap Hikmah

Semoga catatan-catatan di blog ini bisa menginspirasi

Berkarib Sunyi di Malili

DI sini, di Kota Malili, Luwu Timur, kesunyian adalah karib yang paling setia. Pukul delapan malam, jalanan sudah sunyi senyap, hanya sesekali kendaraan melintas dengan suara yang memekakan telinga. Kota ini sesunyi kuburan cina. Meskipun sesekali nyaris terdengar desau angin pada dedaunan dan pepohonan yang ditingkahi suara jangkrik di pekatnya malam.

Di sini, waktu seakan berjalan lambat. Di siang hari, semuanya menghambur untuk menyelesaikan banyak urusan. Di sini, siang hari adalah bergegas mengumpukan uang, dan malam hari adalah terlelap sunyi di peraduan. Di Kota Malili, kesenyapan adalah sahabat paling dekat. Engkau yang terbiasa bising akan terasing di sini. Sebab tak ada suara hiruk-pikuk dari manusia-manusia yang diperkuda ambisi dan kuasa. Tak banyak deru ambisi, sebagaimana ditunjukkan manusia-manusia tambang yang berdiam di Sorowako. Manusia yang menghamba dirinya pada deru mesin uang dan berleha-leha demi mengatasi lelah memeras fisik.

Di sini, Malili adalah jantng kebudayaan Luwu yang sohor sebagai Athena bagi peradaban di SUlawesi. Luwu adalah sentrum yang memancarkan mata air nilai bagi peradaban Bugis-Makassar. Luwu adalah khasanah kekayaan tradisi yang melahirkan kisah La Galigo yang mengarungi tujuh lautan. Luwu adalah diskusi filosofis tentang manusia, semesta dan Tuhan, yang kemudian memantik lahirnya tradisi dan kearifan nilai bagi bangsa-bangsa di Sulawesi.

Di Malili, kesenyapan adalah refleksi penemuan diri, sebagaimana kisah Sawerigading yang mengarungi samudera demi menemukan diri. Filsafat adalah buah dari berkarib sunyi di malam hari. Filsafat yang menumbuhkan budaya dan jati diri sebagai manusia Bugis.(*)


Malili, 28 januari 2010

Sehari Jelang Demo

KATA koran, besok ada demonstrasi besar. Kata orang-orang, besok amarah massa akan tumpah. Ah, media banyak menjejali saya dengan banyak isu. Kalaupun itu benar, kali ini saya tak mau ikut-ikutan demonstrasi. Pengalaman demo terakhir kian menyadarkan saya bahwa sudah bukan masanya buat saya untuk berpanas-panas demi memperjuangkan sesuatu. Saya sudah terlampau uzur untuk memekik dan mengepalkan tangan.

Mungkin, sudah saatnya saya melakukan cara lain yang lebih elegan, ketimbang menjadi sesuatu yang disebut Chairil Anwar, "Mereka yang masuk menemui malam dan di siang hari berpanas ria demi sebuah tuntutan." Lagian, kalaupun ingin ikut demo, saya tak berdaya. Saya sedang berada di Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo, yang jauh dari Kota Makassar. Dan besok pagi --ketika orang-orang berdemonstrasi-- saya akan bergerak menuju Palopo, sebuah kota yang eksotik dan selalu ingin saya kunjungi.

Saya sedang bersama kawan-kawan untuk menuntaskan riset tentang revitalisasi tradisi lokal Sulsel yang sudah mau punah. Mungkin, apa yang sedang saya lakukan ini terkesan sedang meromantisasi sesuatu yang lampau. Mungkin pula Anda yang mendengar ini akan mencibir dan menganggap saya dan kawan-kawan adalah mahluk aneh yang seolah hidup di masa silam. Saya bisa paham semua cibiran tersebut.

Tapi saya yakin tak banyak yang paham betapa bahagianya perasaan saya saat ini. Bertemu dan berdialog dengan warga desa, membersitkan rasa yang sukar dilukiskan. Saya bertemu ketulusan dan kepolosan yang tanpa pamrih, tanpa dibuat-buat. Mereka, para warga desa itu, telah mengajarkan saya bahwa untuk menjadi manusia besar, kita tak harus bergulat dengan isu-isu besar. Untuk menjadi manusia dewasa, kita hanya perlu sedikit keikhlasan untuk tesenyum dan mengembangkan temali persahabatan dengan sesamanya. Kita hanya perlu menjadi diri kita dan bersahabat dengan siapa saja.

Di desa-desa yang saya kunjungi, saya belajar banyak untuk tidak silau dengan kemegahan. Saya belajar untuk menghargai semua hal-hal kecil hamun berarti bagi sesamanya. Kita tak selalu harus mengacungkan tinju kepal untuk melakukan sesuatu. Barangkali kita hanya perlu hal-hal kecil, namun menggugah semua orang. Tatkala melihat mereka yang korup dan jahat di negeri ini, saya hanya bisa miris. Penduduk negeri ini terlampau serakah sehingga mengabaikan ketulusan warganya yang tinggal di banyak sudut-sudut terpencil negeri ini.

Sengkang, 27 Januari 2010
sehari jelang demo besar (katanya!)

Petualangan Putra Poseidon

SELAMA ini kita selalu dijejali informasi bahwa mitos adalah sesuatu yang irasional dan hanya hidup dalam imajinasi. Mitos adalah sesuatu yang sudah lama terkubur dalam dinamika berpikir manusia hari ini. Namun, saat membaca novel serial Percy Jackson and The Olympians yang berjudul The Lightning Thief, semua mitos hidup kembali dan menjelajah di dunia modern.

Saya membaca novel ini dengan penuh keasyikan. Sejak serial Harry Potter berakhir, saya jarang menemukan novel yang penuh imajinasi. Saya jarang menemukan novel penuh fantasi yang menerbangkan pikiran kita ke angkasa tak berbatas. Padahal, dengan prestasi Harry Potter yang mencatatkan dirinya sebagai buku terlaris di abad ini, mestinya para pengarang dan penerbit menyadari betapa menggiurkannya memproduksi novel fantasi yang penuh imajinasi.


Novel serial Percy Jackson & The Olympians yang buku pertamanya berjudul The Lightning Thief ini berada pada jalur yang sama dengan Harry Potter. Mulanya saya menganggap serial ini hendak menjiplak tokoh ciptaan JK Rowling tersebut. Namun setelah membaca sampai tuntas, saya berkesimpulan bahwa novel ini memiliki karakter dan kekuatan sendiri. Kalaupun ada mirip, maka itu hanya nampak pada bagian awal saja. Kekuatannya adalah karena hendak mencampuradukkan antara mitos dan realitas hari ini dalam satu kronologis yang menegangkan dan penuh petualangan. Pantas saja jika novel ini banyak mendapatkan pengharagaan. Bahkan dalam situs amazon.com, novel ini juga mencatatkan dirinya sebagai salah satu novel terlaris pada tahun 2005 lalu.

Novel ini berkisah tentang Percy Jackson -- dua belas tahun, penderita disleksia -- hampir dikeluarkan dari sekolah asramanya. Tanpa disadarinya, ternyata ia adalah putra Poseidon, dewa laut, salah satu dari tiga dewa terkuat dalam mitologi Yunani. Selanjutnya ia menemui banyak masalah. Monster-monster dan dewa-dewi dari Gunung Olympus tampaknya berebutan keluar langsung dari buku pelajaran Sejarah Yunani milik Percy. Lebih parah lagi, Percy telah membuat beberapa di antara mereka marah besar. Petir asli milik Dewa Zeus telah hilang dicuri, dan Percy adalah tersangka utamanya.

Percy dan dua orang kawannya hanya punya waktu sepuluh hari untuk mencari dan mengembalikan benda keramat tersebut dan mendamaikan kembali perang yang hampir pecah di Gunung Olympus. Tetapi tantangannya jauh lebih berat dari itu, Percy akhirnya harus berhadapan dengan kekuatan mengerikan yang bahkan lebih hebat dibandingkan para dewa sendiri.

Saya membaca novel ini selama seharian, tanpa henti. Selama ini, saya cukup paham tentang mitos-mitos Yunani, tentang para dewa, monster dan kekuatannya. Tiba-tiba, saat membaca novel ini, semua tokoh itu hidup kembali. Mereka tidak pernah mati sebab senantiasa mengalami transformasi dan perpindahan. Mereka mengikuti pusat-pusat peradaban. Ketika Yunani menjadi titik pusat, mereka tinggal di Yunani. Namun ketika Romawi menjadi pusat peradaban, para dewa itu lalu berumah di Romawi. Jika di masa kini, Amerika Serikat (AS) yang menjadi pemimpin dunia, maka semua dewa itu lalu pindah pula ke AS dan berbaur dengan kehidupan modern, tanpa identitasnya diketahui dengan pasti oleh semua orang.

Pada mulanya, Percy tidak percaya dengan semua mitos itu. Tapi, sang guru –yang ternyata adalah Centaur—justru meyakinkan Percy dengan mengatakan bahwa apa yang hari ini dianggap sebagai sains, maka 500 tahun berikutnya bisa menjadi mitos. Dan semua mitos Yunani itu tidak terkubur, namun tetap hidup di abad modern. Makanya, dalam novel ini kita kembali bertemu dengan petualangan Percy bertemu dan berkelahi dengan para dewa seperti Ares (Dewa Perang), Hades (Dewa Penguasa Dunia Kematian), ataupun para monster seperri Medusa, Minotaur, dan Chimera. Untunglah, Percy sebagai Putra Poseidon, dibantu sahabat karibnya Annabeth, putri Dewi Athena (Dewi Kebijaksanaan dan Ilmu Pengetahuan). Kecerdasan Annabeth mengingatkan pada sosok Hermione Granger, sahabat dekat Harry Potter.

Bagi saya, novel ini sangat cerdas dan alurnya mengasyikkan. Mungkin karena pengarangnya adalah seorang guru sejarah yang notabene sangat memahami semua sejarah dan mitos Yunani. Meski novel tak pernah benar-benar menggantikan Harry Potter, namun saya menemukan lagi keasyikan membaca novel imajinasi, sebagaimana dulu ketika saya membaca serial Harry Potter. Sebagai novel petualangan, novel ini berhasil menyihir saya sehingga keesokan harinya saya lalu membeli tiga novel lanjutan The Lighting Thief yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia, yakni The Sea Monster, The Titan’s Curse, serta The Battle of Labirynth. Mudah-mudahan edisi terakhir yakni The Last Olympians bisa segera terbit.(*)

Mahalnya Menjadi Cantik

DI zaman seperti ini, definisi kecantikan bukan lagi sesuatu yang alami, yang datang sejak lahir. Kecantikan bukan lagi sesuatu yang dibawa sejak lahir. Kecantikan adalah sesuatu yang dikonstruksi, sesuatu yang diciptakan melalui aneka jenis perawatan tubuh dan rambut.

Kecantikan menjadi sesuatu yang amat mahal. Mulai dari rambut, sampai pada ujung kuku, semuanya membutuhkan perawatan khusus yang mengeluarkan biaya besar. Tapi, para wanita di kota-kota besar seakan tidak perduli. Kecantikan seolah menjadi password untuk memasuki dunia sosialita di kota besar. Ketika anda cantik, anda seolah memasuki barisan elite pergaulan dan kemapanan baru. Ketika cantik, wanita dianggap hebat. Padahal, boleh jadi, kecantikan itu didapat dari uang pinjaman. Tapi publik seolah tak mau tahu. Meskipun untuk menjadi cantik anda harus menghabiskan belanja hari-hari.



Di kota-kota besar seperti Makassar, berbagai salon kecantikan bertebaran. Ada salon yang spesialis merawat rambut seperti Rudy Hadysuwarno, Yoppie, Teguh,, dan banyak lagi. Ada juga salon yang spesifik untuk merawat tubuh dan kemulusan kulit, seperti Hermin Salon. Baru-baru ini, berdiri pula satu salon yang khusus untuk merawat kuku. Saya sering geleng-geleng kepala. Bagi saya, kuku adalah organ tubuh yang tidak perlu perawatan khusus. Tapi, di era yang begitu peduli pada kecantikan ini, kuku adalah organ yang sama pentingnya dengan wajah atau mata.

Mungkin ini adalah hal yang biasa bagi seorang wanita. Tapi, sebagai pria, saya kadang tak mengerti mengapa ada begitu banyak jenis perawatan tubuh, dan mengapa pula semuanya harus mahal. Ini adalah pertanyaan yang muncul saat kemarin saya harus menemani seseorang ke salon. Bayangkan, untuk memotong rambut, harus keluar biaya sampai Rp 26.000. Itu belum cukup. Keesokan harinya harus di-smoothing dan butuh biaya sampai Rp 295.000. Bayangin, demi rambut yang indah, harus keluar biaya sampai segitu. Jangan kira itu sudah tuntas. Belum. Masih ada biaya catox yang sampai ratusan ribu rupiah pula. Mengapa harus mahal? "Perempuan harus cantik. Rambut itu penting sebab mempengaruhi bentuk wajah," kata perempuan itu.

What? Saya jadi stres. Ini dunia macam apa yang hanya untuk rambut saja bisa keluar begitu banyak duit. Dulu nenek moyang hanya membasahi rambut dengan air kelapa. Itu sudah cukup untuk mendapat rambut yang indah. Tapi, mungkin inilah logika zaman. Di era di mana penampilan menjadi sangat penting ini, rambut menjadi komoditas yang bisa dikelola menjai uang. Mungkin inilah watak kapitalisme yang membisniskan semua bagian tubuh manusia modern.

Saya hanya geleng kepala. Tak pernah terlintas sedikitpun dalam benak saya untuk ke salon seperti itu. Kalau rambut saya mulai panjang, mendingan saya ke anggota Persatuan Cukur Madura (Percuma). Cukup bayar Rp 9.000, rambut sudah rapi dan tampan. Lantas, ngapain ke salon?

Mengasah Musik, Mengasah Karakter


KEMARIN, Minggu (25/1), ada sesuatu yang berbeda di Mal Makassar Town Square. Di main hall pusat perbelanjaan tersebut, ada panggung besar berkarpet merah. Pada backdrop-nya tertulis ajang pementasan para peserta Purwatjaraka Music Studio. Di depan panggung itu, terdapat kursi, yang diduduki banyak orang dari berbagai lapisan usia. Mulai nenek-nenek, bapak-bapak, hingga anak kecil.

Saya melihat banyak anak-anak hingga remaja yang bergantuan menyanyi atau memainkan alat musik. Pihak Purwatjaraka Music Studio mengizinkan anak-anak tersebut untuk mengeksplorasikan bakatnya di bidang musik, baik menyanyi, bermain piano, biola, hingga drum. Semua anak tampil penuh percaya diri dan bergaya layaknya seorang penyanyi tenar yang tampil di hadapan ribuan fansnya.

Sementara para pendidik dan orang tua terus memotivasi sang anak agar tetap percaya diri. Di ajang ini, tak ada perlombaan --yang kriterianya lebih banyak subyektif. Tak ada juara-juaraan. Semuanya tampil dengan posisi sama dan menerima apresiasi yang sama. Makanya, anak-anak itu begitu bersemangat tampil dan menunjukkan sejauh mana pencapaiannya.

Saya selalu menikmati pertunjukkan seperti ini. Saya teringat dengan masa kecil saya yang sangat jauh dari hingar-bingar seperti musik. Orang tua saya tidak memberi ruang yang memadai bagi perkembangan bakat seni. Padahal, saya merasa yakin bahwa saya punya kualitas vokal yang memadai, meskipun belum pernah ada yang memuji. Saya juga merasa yakin bahwa saya punya kemampuan menggambar yang baik. Mestinya saya bisa jadi pelukis.

Tapi, saya tak mau menyalahkan orang tua. Mereka sudah menjalankan tugasnya dengan baik untuk mendidik saya hingga sampai pada kualitas seperti ini. Saya hanya berpikir bahwa seni bukan semata soal bakat. Seni adalah soal minat besar yang gemuruh dalam diri dan selanjutnya diasah secara perlahan-lahan melalui sekolah musik. Mustahil akan lahir seorang Mozart, jika tidak melalui latihan-latihan yang intens. Pelajaran berharga yang bisa dikutip dari fisikawan Albert Einstein adalah ketika ia mengatakian, "Kesuksesan ditentukan oleh 99 persen kerja keras, dan 1 persen bakat." Artinya, hal paling substansial adalah niat yang menggelagak, dan selanjutnya diasah dalam kerja keras dan upaya yang tak henti. Sedangkan bakat hanyalah 1 persen.

Mungkin itulah yang dikembangkan dalam Purwatjaraka Music Studio. Mereka mengasah bakat, menumbuhkan keberanian dan percaya diri. Pada akhirnya, musik bukan lagi soal memainkan sejumlah oinstrumen atau melafalkan lagu. Musik adalah diri sendiri. Sesuatu yang mencerminkan karakter diri kita dan keberanian untuk menunjukkan potensi tersebut di hadapan orang lain.(*)


Makassar, 24 Januari 2009

Musik sebagai Panggilan Jiwa


KEMARIN, saya melihat langsung bagaimana musisi senior menunjukkan kemampuannya. Purwatjraka, seorang arranger yang berdiri pada garda terdepan negeri ini memainkan piano dan mengrasansemen ulang lagu Anging Mammiri. Musiknya melodis. Saya jadi terbuai saat mendengarnya. Selanjutnya ia lalu memainkan instrumen musik jazz. Melalui alat musik organ, ia serasa mengendalikan panggung orkestra besar. Di situ ada aneka alat musik dipadukan. Ada terompet, saksofon, drum, hingga gitar melodi.

Tapi saya lebih suka memperhatikan gayanya yang atraktif. Kepalanya bergoyang mengikuti aliran musik. Kepalanya sesekali disentakkan saat musik berdentam. Kakinya juga bergoyang-goyang seperti orang yang sedang menari, mengikuti hentakan musik. Matanya terpejam, namun anehnya jari-jarinya tetap menekan tuts organ, tanpa ada nada yang salah. Ia seperti sedang berada pada dimensi lain, tatkala seluruh jiwa dan pikirannya bersatu dengan semua jenis aliran musik yang memancar dari sosoknya.

Mungkin inilah yang dinamakan trance. Ini sama dengan fenomena para sufi yang sedang berzikir dan jiwanya seolah lepas mengikuti alunan irama zikir tersebut. Jiwanya seolah lepas, meskipun sosoknya masih tetap berada di situ. Jiwanya melanglang buana, menyusuri mega-mega, diterbangkan sampai ke titik terjauh imajinasi. Akan tetapi, seiring dengan zikir yang usai, jiwa itu lalu kembali ke bumi, pada jasad yang sedang duduk di satu tempat.

Mungkin seperti itu pulalah yang dialami Purwatjaraka. Saat bermusik, jiwanya seolah lepas dan mengalun mengikuti aliran musik tersebut. Pada saat itu, dirinya menyatu dengan musik. Melalui musik itu, ia menemukan kesempurnaannya. Musik menjadi panggilan jiwanya.

Saya yakin, pilihannya ke dunia musik bukan sekadar memenuhi kebutuhan material. Ia adalah alumni Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB). Andaikan ia berkarir di dunia teknik, pastilah banyak yang bersedia menampungnya. Tapi, ia memilih tetap di dunia musik sebab itu adalah panggilan jiwanya. Ia menemukan dirinya melalui musik, dan melalui musik pula ia sedang mendefinisikan jiwanya dan mengasah karakternya.

Saya membayangkan alangkah hebatnya mereka yang bekerja mengikuti panggilan jiwanya. Saya ingat kiata Oprah Winfrey, "Mengerjakan hobi adalah sesuatu yang kesenangannya tiada tara. Kita seperti anak kecil yang diijinkan untuk mencuri." Oprah memberikan apresiasi pada mereka yang memilih profesi berdasarkan hobinya sendiri. Jelaslah, itu adalah sesuatu yang amat membanggakan.



Saat melihat Purwatjaraka mentas, saya tahu bahwa kalimat Oprah benar...
 

The Lightning Thief


TADI siang, saya lama mencari buku The Lightning Thief di Toko Buku Gramedia di Mal Panakkukang, Makassar. Melalui katalog komputer, saya tahu bahwa masih ada empat buku karya Rick Riordan tersebut. Tapi setelah saya mendatangi rak yang katanya memajang buku tersebut, ternyata sama sekali tidak ada. Setelah meminta bantuan pada beberapa karyawan toko, mereka juga tidak menemukannya.

Saya penasaran dengan novel ini. Saya sudah membaca banyak ulasan yang memuji kualitas novel ini hingga menjadi novel terlaris di AS. Kisahnya tentang seorang anak yang biasa-biasa saja di satu kota Amerika Serikat, namun ternyata adalah titisan Dewa Poseidon. Anak ini lalu terlibat dalam pertarungan para dewa Yunani kuno, yang mengambil latar dunia modern. Kisahnya adalah bolak-balik antara dunia nyata ke dunia mitos, persis seperti kisah Harry Potter atau Narnia.

Saya menyukai kisah-kisah fantasi. Sekian lama kuliah di pascasarjana, membuat pikiran saya jadi terlampau rasional. Padahal, ada sisi irasionalitas dalam diri yang juga masih percaya keajaiban, percaya pada dunia magis. Dan saya ingin tetap memelihara cara berpikir irasional tersebut dan menjalani hari-hari sebagai hal yang ajaib. Tak ada yang salah khan?.(*)

Baju Kaos "Rasa Makassar"


YOGYAKARTA identik dengan kaos Dagadu. Bandung identik dengan kaos C-59. Sementara Denpasar identik dengan kaos Joger. Banyak kebudayaan kota di Tanah Air yang direpresentasikan melalui kaos kreatif dengan kalimat serta gambar unik dan khas suatu kota. Bagaimana dengan Kota Makassar?


Selama beberapa tahun ini berbagai jenis usaha kaos yang kreatif sudah banyak hadir di Makassar. Tapi, tidak ada yang bertahan lama. Dulu, saya mengenal kaos Kukana, yang bermarkas di Jalan Cendrawasih, di dekat Stadion Mattoanging, Makassar. Desainnya cukup kreatif, meskipun meniru-niru Dagadu. Bahkan logonyanya juga adalah mata yang melotot dengan alis yang panjang-panjang, seperti Dagadu. Tapi, kalimat-kalimatnya khas Makassar. Lucu-lucu. Sayang sekali, umur Kukana tidak bertahan lama.

Setahun yang lalu, saya membeli kaos Bereng-Bereng, yang bermarkas di Jalan AP Pettarani, Makassar. Desainnya juga lucu-lucu, meskipun kualitas kaosnya tidak seberapa bagus. Saya pernah dapat hadiah kaos Bereng-Bereng. Warnanya biru. Gambarnya adalah serangga bereng-bereng --yang dalam bahasa Makassar bermakna capung. Tapi, kalau diperhatikan dengan teliti, gambar capung itu mirip dengan kemaluan lelaki. Kemudian, ada tulisan yang berbunyi, "Ini bereng-bereng, bukan bere-bere." Bagi orang yang paham bahasa Makassar, pasti akan tersenyum. Dalam bahasa Makassar, bere-bere adalah kemaluan lelaki. Lucu khan?

Kaos Bereng-Bereng dikemas dalam tempat yang unik. Semacam keranjang kecil yang terbuat dari kertas daur ulang. Sangat pas jika dijadikan sebagai oleh-oleh khas Makassar. Sayang sekali, usia Bereng-Bereng juga tidak terlalu lama. Beberapa bulan setelah membeli kaos tersebut, saya datang lagi untuk membeli. Kantornya sudah tutup. Banyak yang membeli kaos itu hanya sekali, dan selanjutnya tidak mau lagi membeli. Dugaan saya adalah kualitas kaosnya yang tidak terlalu bagus. Meski desain bagus, tapi kalau tiak diiringi kualitas kaos yang memadai, maka bisa-bisa akan ditinggalkan oleh para pembelinya.

Hari ini, Sabtu (23/1), saya singgah ke Jalan Lamadukelleng, Makassar. Beberapa hari lalu, saya diberitahu seseorang tentang iklan kaos khas Makassar melalui harian Fajar. Sebagai penggemar kaos oblong, saya penasaran. Namanya adalah Kaos Okko'. Suasananya mirip distro yang didominasi warna oranye. Ada penjelasan bahwa kata okko' diambil dari bahasa Bugis-Makassar makna dasarnya adalah gigit. Tapi, kata okko' sekarang bermakna lain. Kata itu sekarang ditujukan kepada logat khas Bugis-Makassar yang menyelusup ketika seseorang sedang berbicara dalam bahsa Indonesia. Kadang-kadang ada penambahan atau pengurangan huruf. Misalnya kata makan, bisa dilafalkan makang. Atau menyebut nama Arifin dengan ”Ariping.”

Saya melihat ada banyak pilihan desain kaos Okko’. Yang paling saya suka di sini adalah adanya semacam katalog yang berisikan gambar keseluruhan desain serta penjelasan tentang makna desain tersebut. Saya tertarik dengan kaos bergambar komik tentang Pelabuhan Makassar pada tahun 1946. Gambarnya adalah pelabuhan yang ramai, dan ada perahu phinisi di situ. Melalui penjelasan yang tertera pada katalog, saya jadi tahu kalau gambar itu dibuat oleh seorang seniman Belanda yang terbit dalam satu komik. Saya lupa nama seniman itu.

Selanjutnya ada gambar Sultan Hasanuddin. Lagi-lagi ada penjelasan singkat tentang siapa Sultan Hasanuddin, kiprahnya, serta gelar yang diberikan dalam bahasa Belanda. Ada juga kaos bertuliskan Datu Musseng dan Maipa. Ini adalah Rome-Juliet versi Makassar. Bentuk tulisannya adalah ambigram, yang bisa dibaca secara terbalik. Jika Anda pernah membaca novel Angel and Demon karya Dan Brown, pasti paham tentang ambigram tersebut.

Saya juga melihat kaos bergambar Ramang –pemain bola legendaris asal Makassar, juga desain kaos bertuliskan Coto Makassar atau Pallu Bassa, serta gambar desain khas berupa becak dan ada tulisan Tallu Roda (dalam bahasa Makassar berarti tiga roda). Semua desainnya berupa sesuatu, bisa berupa makanan atau tempat-tempat yang bisa membangkitkan ingatan atau kebanggan pada kota ini. Pantas saja jika tagline kaos tersebut adalah Makassar Memories.

Lama memilih-milih, saya lalu mengambil tiga kaos yakni desain perahu phinisi, desain Sultan Hasanuddin, serta desain sejumlah orang yang bermain paraga –semacam bola sepak takraw yang tebuat dari rotan. Berapa harganya? Ternyata cukup mahal yakni satu kaos seharga Rp 80.000. Meski demikian, saya tetap membayarnya. Kaos tersebut lalu dikemas dalam tabung plastik yang terdapat penjelasan tentang makna desain kaos yang kita pilih. Lalu tabung plastik berisi kaos itu lalu dimasukkan dalam kantung plastik khas bertuliskan Okko.

Dari sisi desain, saya puas. Cacatnya hanya satu yakni agak tipis. Padahal, saya berharap agar kualitas kaosnya bisa tebal dan bagus seperti Dagadu atau C-59. Apalagi, harganya jelas lebih mahal. Ini tidak sebanding dengan harga yang dibebankan pada konsumen. Mungkin pemilik kaos Okko ingin menggenjot pemasukan. Tapi kan bukan dengan cara seenaknya memasang harga tinggi, tanpa memandang kualitas.

Tiba-tiba saja saya khawatir, kalau-kalau kaos Okko’ akan bernasib sama dengan Bereng-Bereng. Meski desain bagus dan khas Makassar, namun kualitas kaosnya tidak seberapa bagus. Pastilah susah memaksa pembeli untuk datang kembali ke situ.(*)

Gadis Berbaju Adat



SETAHUN lalu, saat singgah ke Bandara Betoambari, Bau-Bau, saya bertemu seorang gadis berpakaian adat. Ia hendak mengalungkan bunga pada tamu penting yang akan datang dengan pesawat Express Air. Wajahnya manis.Saya lalu minta izin untuk berfoto. Ia sangat senang. Senyumnya tersungging. Setelah mengambil beberapa gambar, saya mengajaknya berbincang. Orangnya cukup menyenangkan diajak ngobrol. Sayang sekali, saya tidak sempat menanyakan nama dan juga tidak sempat mencatat nomor teleponnya. Padahal saya ingin memperlihatkan beberapa fotonya yang sempat saya jepret pada kesempatan itu.

Apakah di antara pembaca tulisan ini, ada yang tahu nama dan nomor hapenya?

Sejuta Dukungan untuk Ruhut Sitompul


MARILAH bersama kita mendukung Ruhut ‘Poltak’ Sitompul agar kembali menjadi pemain sinetron yang handal. Pengalaman yang hanya seumur jagung menjadi pesinetron telah menggelisahkan Ruhut sehingga memindahkan panggung sinetron ke dalam panggung politik. Politik tidak lagi dijelmakan sebagai arena untuk menyempurnakan hidup manusia. Politik menjadi arena yang penuh intrik dan saling serang sesuai skenario yang sebelumnya disusun, dan posisi seorang politisi layaknya seorang aktor yang sedang memainkan peran.

Marilah bersama mendukung Ruhut menjadi bintang sinetron yang tersohor. Kalimat-kalimat makian yang meluncur dari tuturnya akan kian menemukan ruangnya melalui penggung sinetron tersebut. Ia akan sukses menjadi aktor watak, dan boleh jadi, ia akan sukses meraih Piala Citra sebagai supremasi tertinggi dalam dunia seni peran. Ia akan sukses mentransformasikan sinetron menjadi tayangan berkualitas. Dunia seni peran akan menemukan titik kegemilangannya karena kesuksesan Ruhut mengekspresikan kualitas peran yang pernah dimainkannya di panggung politik. Ruhut akan menjadi prasasti tentang bagaimana menerjemahkan sebuah skenario yang apik ke dalam sebuah panggung.

Marilah bersama mendukung Ruhut menjadi seorang bintang. Dan di atas panggung politik, kita tak lagi mendengar seruan makian. Kita tak lagi mendengar kalimat pelecehan. Di atas panggung itu kita menyaksikan sebuah upaya penemuan kebenaran yang sebelumnya mengabur karena sibuk meladeni konflik yang diciptakan Ruhut. Biarlah panggung politik kita kembali menjadi arena epistemologis di mana masing-masing partai politik saling menguji argumentasi, tanpa harus saling menyakiti antar politisi. Tanpa saling teriak-teriak dan suasana gaduh bak pasar malam.(*)

AVATAR, Petaka Sains, dan Rasa Bersalah


HARI ini, ada berita yang mengejutkan di harian Kompas. James Cameron berhasil meraih penghargaan Golden Globe Awards sebagai sutradara terbaik dalam film Avatar. Ia dianggap sukses membuat sebuah film dahsyat yang pekan ini telah dinobatkan sebagai film kedua terlaris dalam sejarah perfilman dunia. Film Avatar hanya terpaut sedikit dari film terlaris sepanjang masa yakni Titanic yang juga disutradari oleh James Cameron sendiri.

Ia dianggap punya visi yang jenius dalam menggarap sebuah film. Ia rela menunggu bertahun-tahun sejak tahun 1994 untuk menggarap Avatar. Saat itu, ia sabar untuk menunda pembuatan film itu sebab teknologi perfilman yang ada belum bisa mewujudkan visinya. Setelah menunggu bertahun-tahun, barulah ia membuat Avatar dan langsung heboh sebagai film terlaris kedua dalam sejarah perfilman.

Dalam berbagai liputan tentang Avatar, terlampau sering saya membaca analisis tentang visi Cameron serta kepemimpinannya yang hebat dalam mengarahkan film ini. Terlampau sering saya menemukan berita yang membahas canggihnya animasi serta kompugrafik yang ditampilkan dalam film ini. Cameron seolah menciptakan dunia. Di dalamnya ada tumbuhan, spesies binatang, dan manusia yang punya kebudayaan serta visi baru tentang kehidupan yang harmoni dengan semesta. Saya juga sering menemukan berita yang menyebutkan bahwa film ini telah merevolusi cara-cara orang membuat film. Cameron telah membuat sebuah lompatan berpikir dalam dunia sinema, semacam pencapaian jejak baru yang diramalkan akan banyak diikuti para sineas lainnya.

Saya menilai analisis itu sah-sah saja, meskipun saya menganggap itu tidak substansial. Bagi saya, kecanggihan teknologi hanyalah sebuah aksesori semata yang mempercantik tampilan visual agar mencolok mata alias enak dipandang. Di luar dari kehebatan teknologi itu, ada satu hal substansial yang telah dibidik Cameron dan membuat film ini ditonton jutaan orang. Film ini telah menyentuh sisi-sisi kemanusiaan seseorang sekaligus menohok rasa bersalah bangsa-bangsa besar yang mengklaim dirinya lebih maju dan lebih beradab sehingga berhak untuk mendefinisikan mana yang layak dan mana yang tidak layak.

Avatar adalah diskusi filosofis yang menyentuh substansi posisi manusia terhadap sesamanya. Sejak manusia menemukan sains sebagai pelita peradaban, manusia didera keangkuhan dan memandang dirinya sebagai subyek dan melihat yang lain sebagai obyek. Dimulai sejak filsuf Rene Descartes mengumandangkan mantra ampuhnya Cogito Ergo Sum yang bermakna “Aku ada maka aku berpikir,” manusia mengembangkan ilmu pengetahuan dan mendefinisikan alam semesta dan manusia lain sebagai “sesuatu yang lain”, sebagai obyek yang harus ditundukkan. Pantas saja, sejarah ilmu pengetahuan (sains) modern adalah sejarah penaklukan dan peperangan atas manusia lainnya. Sains adalah petaka bagi manusia lainnya.




Atas nama sains, manusia melabel manusia lain sebagai bangsa yang bodoh dan tidak beradab. Atas nama sains, manusia menganggap dirinya sebagai pemilik otoritas untuk mengelola alam semsta dan mengendalikannya, lalu menciptakan senjata-senjata pemusnah dan menyingkirkan sesama. Film ini menyajikan dialog-dialog filosofis tentang kejenuhan atas sains dan lahirnya pandangan holistic yang melihat kesatuan manusia dan alam, sebagaimana pernah dikemukakan fisikawan Fritjof Capra. Di dalamnya ada ejekan atau olok-olok atas keangkuhan kita, dan betapa arifnya bangsa-bangsa –yang kita sebut primitif—namun telah mempraksiskan keselarasan dengan alam semesta.

Rasa Bersalah

Saya menganggap bahwa apa yang disajikan dalam film Avatar bukanlah sesuatu yang baru. Beberapa film telah memulai tema itu, bahkan dengan bahasa yang lebih menohok. Misalnya Dances With Wolves (DWW) yang dibintangi Kevin Costner, yang telah membangkitkan rasa bersalah orang Amerika Serikat atas sejarah kelam nenek moyangnya yang membantai suku Indian. DWW telah ‘mengobrak-abrik’ tatanan berpikir bangsa Amerika tentang apa yang beradab dan tidak beradab, sekaligus menohok rasa bersalah. Ternyata, selama ini bangsa Amerika membangun peradaban yang berlumuran darah. Ternyata selama ini, para ekstrimis dari bangsa Indian –yang disebut primitif itu—adalah para pahlawan kemanusiaan yang hanya bertahan hidup dan menjaga kesatuan wilayah ulayatnya. Film lain yang segenre dengan DWW adalah The Last Mohicans, tentang bangsa Indian yang tersingkir. Juga film The Last Samurai tentang para samurai Jepang.

Berbeda dengan film-film tersebut, Avatar tidak menunjuk satu bangsa manapun yang pernah ada. Ia menyajikan konflik di Planet Pandora yang dihuni oleh bangsa Navi yang pola hidupnya masih tradisional. Pertanyaannya, mengapa pula Avatar dianggap membangkitkan rasa bersalah sementara ia tidak spesifik menyebut satu bangsa?

Seminggu setelah Avatar tayang di bioskop, saya membaca ulasan yang menarik di yahoo.com. Saat itu, ada ulasan yang menyebut Avatar memiliki hidden message (pesan tersembunyi). Dari berbagai komentar orang-orang, saya menilai Avatar menjadi ikon yang bebas interpretasi. Semua orang menafsirkannya sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Banyak yang menilai Cameron menggunakan bahasa metaphor untuk menelanjangi prilaku bangsa Amerika di negara-negara dunia ketiga. Kalimat-kalimat seperti kita lawan “teror dengan terror,” dan beberapa kalimat lainnya adalah kalimat yang sepantasnya ditujukan pada Amerika Serikat (AS) yang membuat teror atas nama perdamaian di banyak tempat.
Sebuah Template

Saya setuju dengan semua komentar tersebut. Meski Cameron tidak spesifik menunjuk ke satu bangsa, namun ia telah menyediakan sebuah template yang kemudian digunakan orang-orang untuk menuding di sana-sini, termasuk menuding diri sendiri. Dalam pahaman saya, sbeuah metaphor memberikan keluasaan untuk melihat itu dari banyak sisi. Maka keserakahan dan keangkuhan itu bisa saja dialamatkan kepada siapa saja yang masih melihat sesamanya dengan sebelah mata. Cameron sedang menyajikan sebuah peta tindakan sosial, yang di dalamnya terdapat dongeng klasik tentang para pendatang yang lebih beradab dan merasa lebih pintar.




Saya bisa merasakan visi yang sangat kuat tentang keselarasan manusia dan alam dalam film ini. Bangsa Navi mewakili pandangan dunia yang melihat alam sebagai rumah besar di mana manusia adalah bagian kecil di dalamnya. Manusia tidak menjarah alam, manusia hanya meminjam sesuatu, dan kelak akan mengembalikan sesuatu tersebut kepada alam semesta. Saya tidak terkejut dengan kearifan bangsa Navi yang melihat dirinya menyatu dengan semesta. Bagi saya, gagasan seperti itu sudah banyak disuarakan para antropolog yang banyak menuliskan kearifan local (local genious) dari banyak suku bangsa yang berumah di rumah besar bernama hutan belukar.

Pada akhirnya, seperti tadi telah saya katakan, Avatar telah membangkitan rasa bersalah dan keangkuhan manusia modern atas kemajuan sains yang kemudian dihinggapi keserakahan untuk mengeruk semua kekayaan di mana-mana. Atas nama ilmu pengetahuan, manusia modern telah menyingkirkan sesamanya yang disebut primitive, justru dengan cara-cara yang primitif pula. Mungkin, film ini mewakili visi baru sains yang lebih beradab, lebih mengembangkan dialog, di mana manusia saling membangun jembatan hati dengan sesamanya, dan dengan alam semesta.(*)

Membelenggu Amarah

"Ketika rasa stres memenuhi isi kepalamu, beristirahatlah sesaat. Tarik napas panjang, kemudian hembuskan melalui mulut"


SAYA pernah membaca tips ini di Reader Digest. Tapi betapa tidak mudahnya menerapkan itu dalam kehidupan sehari-hari. Setiap kali didera sebuah masalah, saya kadang stres. Pikiran kalut dan sekonyong-konyong ada emosi yang menggelegak. Biasanya, dalam keadaan seperti ini, saya hanya bisa terdiam, dan tak bisa melepaskan marah dengan spontan. Mungkin, marah dan stres adalah bagian dari ekspresi spontan seorang manusia. Dua sifat itu adalah hal yang manusiawi dan menunjukkan sisi yang manusiawi dalam diri kita. Namun, kebudayaan kita menempatkan marah sebagai perilaku yang negatif. Kadang kita tak punya kebebasan untuk mengekspresikan rasa marah itu. Kita lebih suka menahannya sehingga rasa marah ibarat menjadi telaga besar yang dikepung oleh bendungan.



Barangkali jalan yang paling bijak adalah melepaskan rasa marah itu. Mungkin, rasa streas dan marah harus diekspresikan agar tidak menjadi penyakit di kemudian hari. Bagaimanapun, memendam rasa amarah dalam diri bisa menyebabkan tekanan darah meninggi, jantung jadi tidak stabil. Saya pernah membaca artikel bahwa di beberapa negara, rasa stres dan marah dikelola menjadi bisnis. Seorang pengusaha menyiapkan ruangan kedap suara dan di dalamnya banyak perabotan pecah-belah. Jika anda stres, Anda bisa menyewa ruangan tersebut untuk berteriak sepuasnya, lalu menghancurkan semua barang-barang yang ada.

Tapi, cara yang paling mudah dan tidak memakan biaya adalah melepaskannya dengan bebas. Silakan mengekspresikannya, nanum harus terkontrol. Dalam artian, tidak sampai menyakiti orang lain. Pelepasan stres dan marah haruslah secara arif, dalam artian tetap pada kerangka yang tidak menyakiti orang lain. Lepaskanlah amarah, namun sekian detik berikutnya segeralah menganggap itu selesai. Salah satu sifat bapak saya yang paling saya sukai adalah ia gampang sekali melupakan rasa marah, beberapa saat setelah ia melepaskan amarah itu. Dulunya, saya pikir itu mudah. Kini, saya sadar bahwa ternyata tidaklah semudah itu. Mesti ada semacam kebijaksanaan dan kedewasaan untuk melupakan sesuatu yang keliru, kemudian memikirkan apa yang terbaik di masa depan.

Tapi, saya kira yang terbaik adalah sama sekali tidak pernah marah. Dosen saya di Universitas Indonesia (UI) Iwan Tjitradjaja mendalami ilmu reiki, semacam latihan untuk mengontrol emosi. Menurut Iwan, reiki ini banyak digali dari ajaran Buddha yang selalu menekankan upaya mengontrol emosi. Setelah mendalami reiki, ia bisa mentransformasikan emosi tersebut menjadi energi positif yang menguatkan jiwanya. Saya tak pernah tahu seperti apa reiki itu. Tapi, metode pengendalian kemarahan itu bisa pula dicoba.

Seorang kawan punya metode sendiri untuk melepaskan stres. Ia pergi nonton pertandingan sepakbola yang dimainkan PSM di Stadion Mattoanging, Makassar. Sepanjang pertandingan, ia bisa bebas berteriak-teriak, memaki atau menghina tim lawan. Keluar dari stadion, ia langsung tersenyum lega karena bebannya berkurang. Tapi, kalau PSM kalah besar, ia keluar stadion dengan stres yang semakin berlipat-lipat.

Mungkin cara terbaik adalah mengatasi sebab yang menimbulkan stres. Dengan cara menyelesaikan sumber masalah, pastilah akan memekarkan rasa bahagia dalam diri. Melalui stres dan amarah, kita bisa belajar banyak. Minimal bisa bisa menyelami karakter diri kita yang sesungguhnya.(*)

Mencari Tempat Berlabuh

MINGGU ini adalah minggu berkemas. Aku harus menerima kenyataan bahwa Makassar bukan lagi tempatku berlabuh. Aku mesti mengembangkan bahtera dan menghadapi samudera yang lain. Namun kenangan dan nostalgia yang indah adalah mercusuar yang kelak akan membawaku kembali ke tanah ini, tanah yang dijanjikan, tanah yang mengajariku untuk bertahan hidup.(*)

Paha Putih di Satu Diskotik


ilustrasi

SEBUT saja namanya Max (28). Ia adalah warga timur Indonesia, sebagaimana saya. Saya mengenalnya saat sama-sama menjadi mahasiswa di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Tubuhnya tegap, tidak terlalu tinggi, dan berkulit hitam legam. Suatu hari, ia mengajak saya untuk menemaninya jalan-jalan ke beberapa lokalisasi di seputaran Jalan Nusantara Makassar. Sejak zaman Belanda, barisan kafe dan karaoke bertebaran di tempat ini. Rata-rata berisikan cewek seksi dengan dandanan menggoda.

Max tak pernah lama memilih. Ia selalu cepat menentukan pilihan. Seperti apa wanita yang disukainya? "Saya sih sembarang saja. Asal paha putih, pasti saya terangsang," katanya dengan cengengesan. Max selalu terus terang pada saya sebagai teman akrabnya. Menurutnya, saat bercinta dengan cewek putih, ia selalu merasa puas. Ia seolah menggapai kenikmatan yang lama diimpikannya. "Saya tidak tahu kenapa. Yang jelas, sejak dulu saya selalu nafsu kalau lihat cewek putih," katanya. Lho, apa kaitannya antara warna kulit dan kepuasan seksual? Max tak pernah bisa menjawabnya dengan tuntas. Dan saya juga tak pernah ngotot meminta jawaban.

Malam ini saya kembali menemaninya. Mulanya saya pikir ia pasti mulai asing dengan sejumlah kafe dan karaoke di Makassar, yang hampir setiap bulan selalu berdiri. Ternyata, saat kami singgah di beberapa kafe, ia masih saja populer seperti dulu. Malah, beberapa cewek-cewek seksi sempat histeris melihatnya.

”Kaka...... kenapa baru datang?” teriak seorang gadis dengan pakaian warna merah yang hanya menutupi bagian tertentu di tubuhnya. Kulit gadis itu putih bersih. Saya menahan napas. ”Minta maaf ade. Kaka sibuk,” kata Max. Saat gadis itu mendekat, Max langsung memeluknya seolah lama tak bertemu. Mereka berciuman di depan saya. Rasanya ingin berpaling, tapi pemandangan ini terlalu menggiurkan. Pemandangannya kontras. Hitam-Putih. Dan Max sangat menikmatinya. Ia menaikkan alis saat mengerling ke arah saya.

ilustrasi 2
Saat itu, saya juga teringat dengan seorang teman bernama La Bula, yang berasal dari Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Seperti halnya Max, ia mudah tergila-gila dengan cewek berkulit putih. Wajah urusan belakangan. Ia tidak peduli dengan soal cantik atau jelek. ”Asal yang namanya paha putih, saya pasti mau,” katanya. Posisinya sebagai manager penjualan di satu perusahaan rokok, memberinya kesempatan untuk berkeliling ke banyak daerah di Indonesia timur.

Yang bikin saya heran, di berbagai tempat yang didatanginya, ia tak hanya mencari cewek putih sebagai pasangan bercinta. Ia juga punya syarat lain yakni cewek itu haruslah warga setempat. Lho, apa kaitannya dengan rasa? Apakah ada perbedaan kenikmatan antara cewek setempat dan cewek dari luar? ”Saya juga tidak tahu apa bedanya. Tapi, saya merasa kalau bercinta sama cewek lokal pasti lain rasanya,” katanya.

Bagi saya, seks bukan sekedar perkara hubungan biologis. Seks adalah kebudayaan yang dikonstruksi secara kolektif oleh sebuah masyarakat, ditransmisikan secara turun-temurun dan menjadi pedoman yang mempengaruhi tindakan seseorang dalam satu masyarakat. Seks adalah kebudayaan yang di dalamnya juga terdapat medan kontestasi kepentingan dan negosiasi makna yang tak habis-habisnya. Dalam hal seks, konsep nikmat-tidak nikmat, konsep cantik-tidak cantik, dan lain-lain adalah konsep yang dibentuk oleh seseorang dan terus dimapankan dalam kebudayaan.

Belajar pada Max dan La Bula, seks dan erotisme bisa berbentuk apa saja yang mengarah pada upaya menimbulkan sensasi seksual. Karena kebudayaan setiap orang berbeda-beda, maka nilai-nilai yang membentuk selera seksual setiap orang juga berbeda. Seks menjadi relatif. Paha putih bagi Max dan La Bula bisa sangat merangsang. Paha putih bisa sangat erotis dan menimbulkan sensasi seksual. Namun tidak bagi sebagian yang lain. Itulah dinamika pemaknaan terhadap paha putih.

ilustrasi 3
Sahabat saya Herry Yogaswara, seorang peneliti LIPI, pernah menuturkan, hampir setiap tahun terjadi migrasi para pekerja seks komersial (PSK) berkulit putih menuju kawasan Indonesia timur. Masih kata Yogaswara, pada saat gadis-gadis itu masih muda, mereka akan menyerbu Jakarta. Saat berusia mulai lanjut, mereka lalu menyerbu Indonesia timur sebab selera kebanyakan warga di kawasan ini adalah gadis-gadis yang berkulit putih. Tidak peduli seperti apa cantiknya, dan tidak peduli setua apa usianya. Maka jangan heran pula ketika muncul fakta-fakta tentang tingginya penderita AIDS di kawasan ini. Mungkin saja karena banyak pria yang tidak peduli bersih atau tidak bersih, sehat atau tidak sehat, sebab yang penting adalah paha putih.

Tiba-tiba saja saya khawatir kalau-kalau Max akan tertular penyakit ganas itu. Saya ingin mengingatkannya. Tapi, apa daya, ia sudah menghilang dalam satu kamar di lantai dua tempat hiburan yang saya datangi. Tinggallah saya sendiri, duduk di satu meja yang di atasnya masih tersisa sebotol bir dan sebungkus rokok kretek.(*)

Makassar, 18 Januari 2010 

... Karena Cinta Butuh Chemistry

she may be the face i can't forget
the trace of pleasure or regret

may be my treasure or the price i have to pay

she may be the song that summer sings

may be the chill of autumn brings

may be a hundred different things
within the measure of a day


…..
Mungkin dialah wajah yang tak bisa saya lupakan

Membiaskan jejak bahagia atau sedih

Mungkin dialah permata yang mesti saya tebus
Mungkin dialah nyanyian di musim panas
Mungkin dialah rasa dingin di musim gugur
Mungkin dialah ratusan hal-hal berwarna-warni di sepanjang hari


LAGU ini terus mengiang di kuping. Ada rasa bahagia yang mengalir di dalam diri, menyusuri aliran darah, hingga lepas dalam rasa lega. Lagu ini adalah soundtrack film Nothing Hill yang dibintangi Julia Roberts. Mungkin agak terlambat bagi saya menyaksikannya. Tapi tetap saja sukses mengguratkan rasa yang sukar diungkapkan.

Memang, Julia Roberts adalah maestro tak tertandingi dalam genre film romantis di abad ke-21. Saya menyukai sorot mata cinta penuh kasih yang dipancarkannya pada Hugh Grant, lawan mainnya di film ini. Saya menyukai senyum simpulnya yang penuh makna. Saya menyukai tatapan lurusnya yang terpaku pada satu sosok, dan mata itu seakan hendak berkisah banyak. Mata itu seakan hendak menembus angkasa dan menari-nari di atas awan putih yang bergumpal bagai es krim.

Kadang-kadang, cinta tak butuh ekspresi yang berlebihan. Anda tak perlu jungkir balik untuk menyatakan cinta pada seseorang. Tapi, cukup dengan satu pandang saja, seseorang itu bisa mengetahui apakah Anda menyukainya ataukah tidak. Anda bisa berbohong setinggi langit. Tapi sorot mata Anda akan berkata jujur, tanpa rekayasa. Dan sorot mata itu saya temukan pada diri Julia Roberts, khususnya pada adegan terakhir Nothing Hill yang kemudian menautkan dua keping hati dalam film itu.

Sebenarnya saya lebih suka jika Julia Roberts selalu berpasangan dengan Richard Gere seperti dalam Pretty Woman. Keduanya adalah pasangan dengan chemistry paling menyentuh. Bahasa tubuh keduanya sangat pas untuk menggambarkan dua orang yang saling mencintai. Tapi tak apa. Setidaknya, Nothing Hill yang nampak biasa, telah menyisakan sesuatu yang membekas dalam diri ini. Apalagi kalau mendengar bait lagu sebagaimana yang saya catat di atas.

Chemistry adalah terjemahan dari kata kimia. Entah siapa yang memulai, istilah ini menjadi populer untuk menggambarkan tentang sejauh mana kedekatan antara dua orang. Mungkin istilah ini hendak menggambarkan reaksi yang muncul ketika dua orang yang saling mencintai berada pada momen yang sama. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasakan hal yang berbeda saat bersama seseorang yang kita cintai. Tiba-tiba saja jantung berdetak lebih keras, keringat dingin mengucur, dan ada rasa bahagia yang menjalar dalam diri kita. Ketika reaksi kimia itu hadir dalam diri Anda, maka waspadalah. Jangan-jangan, saat itu Anda sedang jatuh cinta.

Saya sendiri mendefinisikan cinta hadir melalui tiga syarat. Pertama, saat kita bahagia bertemu si dia. Kedua, saat kita rindu manakala tidak bersama dengannya. Ketiga, hadir perasaan cemburu ketika melihat si dia bersama orang lain. Barangkali, kombinasi dari ketiga unsur ini yakni bahagia, rindu, dan cemburu inilah yang kemudian memunculkan kata chemistry. Senyawa ketiga unsur inilah yang membentuk kesatuan atom-atom cinta dan selanjutnya mengalir dalam darah hingga ke semua titik dalam tubuh, lalu terejawantahkan dalam bahasa tubuh (body language) seseorang.

Bahasa tubuh inilah yang memberikan isyarat-isyarat sejauh mana cinta kita kepada seseorang. Bahasa tubuh ibarat stasiun pemancar yang mengirimkan frekuensi gelombang ke mana-mana, semacam pernyataan bahwa ada cinta yang bergejolak ketika Anda bersama seseorang. Tatkala frekuensi bahasa tubuh itu ditangkap oleh sang kekasih dan kemudian direspon dengan sinyal yang sama, maka pada titik inilah sebuah chemistry sedang bekerja.

Nah, chemistry inilah yang saya saksikan pada sosok Julia Roberts dalam film Nothing Hill. Boleh jadi, chemistry itu hadir pada diri Anda saat bersama sang kekasih. Apakah Anda merasakannya? Hanya Tuhan dan Anda sendiri yang tahu.


Makassar, 17 Januari 2010
Saat Hujan Keras Mengguyur...

Yang Tercecer dari Sang Pemimpi


DUA minggu yang lalu, saya menyaksikan film Sang Pemimpi. Di banding filmnya, saya jauh lebih suka membaca novelnya. Terlampau banyak detail-detail yang diabaikan dalam film itu termasuk detail karakter yang semuanya digambarkan apik dalam novel. Tapi, ada hal menarik yang bikin saya kepincut. Saya suka dengan penggambaran yang realistis tentang Belitong, lengkap dengan gaya bertuturnya.

Para pembuat film ini berusaha tetap membumi dalam menggambarkan Belitong. Tak hanya pemilihan lokasi suting, mereka juga memilih para pemain lokal untuk memerankan tokoh-tokoh di film itu. Bahkan gaya berbicara (logat) para pemain lokal ini dipertahankan seasli mungkin, sebagaimana logat Belitong sesungguhnya. Inilah yang menjadi kekuatan film ini dan hendak saya bahas dalam tulisan ini.

Film ini disajikan dengan realistis dan tidak sok-sok Jakarta sebagaimana banyak film Indonesia yang tengah tayang di bioskop. Film ini tidak malu-malu untuk nampak kampungan (udik) sebab yang hendak disajikan adalah upaya mereka yang berumah di kampung untuk menggapai mimpinya yang setinggi langit demi menjangkau altar ilmu pengetahuan di Paris. Kalimat-kalimatnya inspiratif sebagaimana yang dikatakan salah satu tokoh yakni Arai, ”Tak soal setinggi apapun mimpimu, namun sejauh mana upaya kerasmu untuk meraih semua mimpi tersebut.”

Dan yang mencengangkan saya adalah kalimat-kalimat inspiratif itu disampaikan dalam bahasa Melayu dengan aksen Belitong. Saat membaca Tempo, edisi 11-17 Januari 2010, saya baru tahu kalau ternyata logat Melayu Belitong agak berbeda dengan logat Melayu di daerah lainnya termasuk Palembang, Riau, Jambi, bahkan Malaysia sekalipun. Logat Melayu Belitong lebih menyerupai logat Melayu Aceh sebab dahulu, Bangka dan Belitong mendapat pengaruh yang sangat kuat dari Aceh.

Saya membayangkan betapa hebatnya Indonesia yang memiliki begitu banyak variasi bahasa. Melalui film ini, kita diperkenalkan dengan variasi logat Belitong, dan melalui logat tersebut kita sedang meneropong keindonesiaan. Film ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, kita juga pernah menyaksikan film Denias, yang menggunakan bahasa Indonesia dengan logat Papua. Melalui variasi logat bahasa tersebut, kita seakan disadarkan bahwa Indonesia adalah sebuah rumah besar yang di dalamnya terdapat begitu banyak bahasa setempat yang hidup dan saling berinteraksi.

Kita disadarkan pula bahwa Indonesia bukanlah satu realitas Jakarta saja. Negeri ini adalah sebuah bangunan besar yang dikonstruksi oleh berbagai macam kebudayaan dan ribuan bahasa yang kesemuanya memberi pengertian pada kosa kata keindonesiaan. Kita disadarkan bahwa Indonesia adalah sebuah konsep yang maknanya terus diperkaya oleh manusia-manusia yang hidup dalam berbagai latar kebudayaan termasuk Belitong.

Anak-anak kecil dalam film Sang Pemimpi itu adalah salah satu kepingan yang membentuk keindonesiaan hari ini. Mereka menunjukkan keragaman dan kekayaan bangsa ini yang identitasnya terus tumbuh dan menjadi. Dan inilah kekuatan kita sebagai bangsa yang majemuk.

Semoga film seperti ini terus diperbanyak. Dan membuat kita sesekali meneropong Indonesia dari pinggiran, dari titik yang selama ini banyak diabaikan oleh mereka yang menguasai arus wacana negeri ini.(*)

Kompasiana adalah Candu

DARI semua situs jejaring sosial, saya sedang keranjingan dengan kompasiana.com. Belakangan ini, saya sering meramaikan tulisan saya di situs itu. Malah, beberapa kali tulisan saya menjadi tulisan yang terpopuler. Saya menikmati interaksi di situs ini. Kita bertemu dengan banyak orang dan macam-macam profesi, bertukar kabar, bertukar kisah, dan saling menginspirasi. Berinteraksi di situs ini ibarat candu yang membuat saya selalu ingin terkoneksi dan menyerap semua pengetahuan dan informasi baru yang disebarkan.

Dibanding situs seperti facebook, saya lebih menyenangi kompasiana. Memang, facebook membuat kita terkoneksi dengan sahabat-sahabat kita sendiri. Tapi facebook tidak memperkaya pengetahuan. Interaksinya hanya sebatas temu kangen, salam canda, tanpa saling memperkaya pengetahuan. Pernah, beberapa kali saya memposting tulisan di facebook, namun komentar yang saya dapatkan datar-datar saja dan hanya dari para sahabat dekat yang memang mengenal saya. Lama kelamaan saya bisa narsis kalau komentatornya itu-itu terus. Makanya, saya memosisikan facebook sebagai upaya mengetahui kabar terbaru dari para sahabat saya. Tidak lebih.

Sementara kompasiana, memberi saya kemampuan untuk memperkaya pengetahuan melalui tulisan-tulisan. Kompasiana adalah mata air pengetahuan yang deras di mana semua orang berinteraksi di tepiannya demi sama-sama belajar dan memperkaya. Ketika sebuah tulisan ditanggapi yang lain, maka tidak sekedar terjadi ajang transfer pengetahuan, melainkan hubungan-hubungan sosial yang saling berbagi kehangatan pengetahuan yang kemudian dijelmakan menjadi pelita yang menerangi kegelapan berpikir masing-masing. Kompasiana menjadi cahaya sekaligus kompas yang menunjukkan arah agar tidak tertatih-tatih dalam pekatnya informasi.

Memang, banyak tulisan dalam Kompasiana yang memuat hal yang remeh-temeh. Namun justru melalui hal yang remeh-temeh itu saya bisa menemukan begitu banyak hal yang menarik yang sesungguhnya menunjukkan dinamika makna dan interpretasi yang hidup di masyarakat kita. Melalui hal yang remeh-temeh itu, kita bisa menemukan hal-hal yang selama ini luput dari perhatian sebagian besar dari kita, namun begitu penting bagi masyarakat lainnya. Para peneliti sosial sama-sama paham bahwa di balik hal-hal yang sepele, bisa jadi terdapat jendela untuk melihat dinamika sosial dan kebudayaan hari ini.

Melalui Kompasiana, saya bisa bertemu dnegan banyak sahabat yang kelak akan menjelma menjadi malaikat-malaikat yang membantu lesatan pengetahuan. Saya bertemu dengan para pengkritik yang menunjukkan sisi lain dari diri saya sendiri. Para pengkritik itu adalah sahabt-sahabat terbaik yang memberi kata teriak atas langkah kita yang tersandung sembari membisikkan harapan agar kita tetap berjalan pada koridor yang sesungguhnya. Untuk itu saya bahagia dengan situs ini. Terima kasih karena membuat Mata saya menjadi lebih terang.(*)

Membedah ”Pelecehan” Atas JK


KEMARIN, Ruhut Sitompul menyapa JK dengan panggilan "Daeng" dengan intonasi menuding. Publik Sulawesi Selatan (Sulsel) meradang. Hampir semua koran-koran lokal menurunkan liputan yang berisi kegeraman. Panggilan itu dianggap tidak beretika. Bahkan beberapa pengurus Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) di banyak daerah ikut-ikutan bereaksi. Semuanya menganggap bahwa Ruhut Sitompul --politisi Partai Demokrat-- telah melecehkan Jusuf Kalla (JK).

Saya pun ikut terseret dalam kegeraman itu. Apalagi saat ikut membincangkan itu bersama teman-teman di beberapa warung kopi di Jalan AP Pettarani, Makassar. Lama kelamaan, kegeraman itu mulai mencair. Saya mulai berpikir lain. Saya lebih melihat masalah ini dengan kacamata politis. Ketika sesuatu dipolitisir, maka sesuatu yang sederhana bisa menjadi rumit dan dianggap pelecehan. Ketika politik menjadi paradigma dalam melihat sesuatu, maka yang dikedepankan adalah konflik. Dan melalui konflik itu pulalah bisa disingkap peta realitas sosial yang sesungguhnya. Kita bisa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik sebuah fenomena.

Secara kultural, panggilan "daeng" memang ditujukan kepada seorang pria sebagai bentuk penghormatan. Ini sama saja dengan panggilan "mas" di Jawa sana. Ketika memanggil "daeng" maka seseorang tersebut akan merasa tersanjung dan dituakan. Akan tetapi, ini semua tergantung pada yang dipanggil, apakah ia merasa terhormat, ataukah merasa tersinggung dengan panggilan itu. Jika Anda sempat ke Makassar hari ini cobalah menyapa seseorang dengan panggilan "Daeng". Perhatikan reaksi orang tersebut. Boleh jadi, orang yang dipanggil tersebut akan tersinggung.

”Kau pikir saya tukang becak?” demikian kata seorang kawan yang disapa daeng. Saat ini, panggilan daeng lebih banyak ditujukan pada profesi tukang becak, sopir angkutan, atau penjual ikan.. Panggilan itu seolah menunjukkan strata sosial yang rendah dan menempati posisi buncit dalam hierarki masyarakat Bugis-Makassar. Panggilan daeng juga identik dengan sikap menutup diri pada modernisasi dan penghambaan secara berlebihan pada tradisi. Panggilan itu mulai identik dengan ketidakberdayaan ekonomi dan sosial, sesuatu yang sangat berbeda dengan masa silam. Pantas saja, di masa kini, sejumlah teman yang berdarah bangsawan dan mewarisi nama daeng justru malu memasang nama daeng di depan namanya.

Tapi, situasinya berbeda dengan saat berada di Jakarta. Saat merantau ke Jakarta, saya merasakan bahwa panggilan daeng ini menjadi sapaan yang lazim di kalangan mereka yang berasal dari Sulsel. Panggilan ini menjadi penanda, semacam penegasan bahwa kita berasal dari daerah yang sama, maka kita adalah saudara. Di Jakarta, seorang warga Sulsel yang memanggil sesamanya dengan panggilan daeng, dianggap sangat sopan dan menghargai sesamanya. Panggilan itu adalah pernyataan bahwa kita sesama saudara seperantauan yang saling menghormati. Jika kemudian warga etnis lain ikut-ikutan memanggil ”daeng”, maka itu dianggapnya sebagai panggilan kehormatan. Padahal, boleh jadi akan lain ceritanya jika orang lain yang memanggil.

Saya tahu persis bahwa JK sering disapa daeng oleh sesamanya di Jakarta. Saya pernah berbincang dengan politisi Ulla Nuchrawati, anggota DPR RI asal Partai Golkar. Ia sering bercerita tentang pertemuannya dengan JK. Saat ia berbincang dengan JK, ia akan memanggil dengan daeng. Tak ada yang salah dengan panggilan itu sebab merupakan bentuk penghormatan dan pernyataan bahwa kita sesama saudara.

Jika belakangan panggilan Ruhut menimbulkan reaksi, mungkin itu dikarenakan karena intonasinya yang seakan melecehkan. Ia seolah sedang menginterogasi, dan beberapa kali mengulang kata Daeng Jusuf Kalla. Dengan intonasi seperti itu, sah-sah saja jika orang Sulsel menganggapnya pelecehan. Orang Sulsel seperti mendengar bentuk panggilan yang mengerdilkan, seolah strata JK adalah bangsa tukang becak atau sopir angkutan. Panggilan itu seolah memandang remeh, tanpa melihat status JK sebagai seorang mantan wakil presiden, seorang yang terkemuka dalam dinamika politik Sulsel.

Tapi, lagi-lagi ini adalah soal politik. Dalam dunia politik, segala sesuatu bisa menjadi jungkir-balik sesuai dengan kepentingan. Tatkala Ruhut melecehkan, maka para politisi Sulsel ikut-ikutan mengecam Ruhut. Leceh-melecehkan dan kecam mengecam sudah lama menjadi hal yang lazim dalam dunia politik kita. Hari ini mengecam, maka besok bisa akur lagi ketika kepentingan politiknya bersisian. Itu sih biasa.

Mungkin, politisi Sulsel adalah politisi yang paling mudah tersinggung. Saya tidak asal berasumsi. Pengalaman selama puluhan tahun tinggal di kota Makassar, cukup memberi saya pelajaran tentang watak para politisi di Sulsel. Mereka mudah sekali sensitif dan tiba-tiba saja mengatasnamakan etnis Bugis-Makassar. Dan publik juga mudah sekali terseret. Nampaknya, ketika menyebut ”Bugis-Makassar” akan membawa getar dan impresi tersendiri. Publik gampang bereaksi ketika Bugis-Makassar dibawa-bawa. Mereka tidak lagi menalar apa yang terjadi. Mudah dipermainkan emosinya.

Beberapa bulan lalu, saat Alifian Mallarangeng berpidato dan mengatakan orang Bugis belum waktunya jadi presiden, tiba-tiba semuanya ribut. Seiring waktu, ”penghinaan” Alifian Mallarangeng itu cepat tersaput angin. Semuanya sudah lupa dengan apa yang diucapkannya. Malah, saat Alifian menjadi menteri dan berkunjung ke Makassar, banyak orang yang menyambut dan mengelu-elukannya. Ia disambut seperti pahlawan yang menang perang.

Saya tidak tahu, apakah ini mencerminkan kuatnya nuansa primordialisme ataukah tidak. Saya lebih melihat sentimen primordialisme ini hanya ditempatkan sebagai pengabsah atas satu tindakan politik. Elemen kultural di sini hanya menjadi unsur yang diangkat demi membangkitkan sesuatu, semacam rasa bersama bahwa kita adalah bangsa Bugis-Makassar yang mesti seiring-sejalan dan menyatakan kegeraman atas pelecehan yang kita alami. Para politisi di Sulsel cukup pandai mempermainkan sentimen tersebut.

Namun, benarkah semua warga yang menyebut dirinya Bugis-Makassar merasa dilecehkan? Saya tidak yakin. Seorang bapak asal Makassar yang menjadi penjual martabak langganan saya malah sinis dan tidak peduli dengan apa yang disebutnya ”pelecehan” itu. Ia sangat bijak ketika mengatakan bahwa seiring waktu semuanya akan cair kembali. ”Liatmi saja bulan depan. Pasti normalmi lagi itu,” katanya dengan cengengesan. Luar biasa, saya tersentuh dengan tuturannya.

Saya lebih melihat ini sebagai politik identitas. Nampaknya, hasrat yang kuat pada bidang politik yang menghinggapi sejumlah elit politik Sulsel untuk bertarung di level nasional, memunculkan tindakan yang selalu hendak menyeret orang lain –sesama etnis-- untuk masuk dalam kepentingannya. Mereka sengaja memunculkan isu identitas demi memaksimalkan dukungan publik pada dirinya. Pada titik ini, emosi kultural gampang disulut sehingga menimbulkan solidaritas. Bahkan, mereka juga dengan gampangnya mengatasnamakan warga Indonesia timur lainnya, meskipun tidak pernah ada konsensus sebelumnya dengan etnik lain. Tiba-tiba saja lahir pengklaiman yang boleh jadi mucul akibat arigansi kultural bahwa dirinya adalah yang paling maju dan paling mapan di Indonesia timur. Kita bisa lihat dalam isu Sulawesi merdeka, atau isu federasi Indonesia timur, di mana Sulsel mengklaim diri sebagai lokomotifnya.

Namun sayangnya, semuanya hanya sesaat demi melakukan bargaining politik. Di dalam negeri Sulsel sendiri, kemiskinan menjadi-jadi. Sampai-sampai ada warga yang mati gara-ara kelaparan. Para politisi sibuk mereproduksi isu. Dan sekian waktu berikutnya, isu itu akan memudar tersaput angin dan publik tidak pernah tahu apa yang selanjutnya terjadi. Apakah ada negosiasi ataukah penyelesaian lewat tawar-menawar. Entahlah. Saya lebih melihat ini sebagai pembodohan atas nama identitas etnik. Terserah, orang lain mau menilai apa.


Makassar, 16 Januari 2010

Bukan Melankolis, Tapi Kontemplatif

BLOG ini kembali dibenahi. Desain blog lama terlampau melankolis. Seorang teman memberikan catatan kalau desain lama itu agak ramai. Maksudnya adalah terlampau banyak gambar dan pernak-pernik sehingga pikiran yang membacanya tidak bisa fokus.



Ada juga yang bilang desain blog lama itu terlampau romantis. Padahal kata teman itu, saya tidak terlalu romantis. Saya lebih kontemplatif. Makanya, tulisan yang paling banyak di blog ini adalah kontemplasi atas perenungan saya atas semua peristiwa di sekitar. Mulai dari yang remeh-temeh sampai pada yang 'berat-berat.'

Apapun itu, saya menganggapnya sebagai masukan yang berharga. Kalaupun saat ini saya mengganti desain blog, bukan semata karena banyak masukan. Tapi semata-mata untuk tetap menjaga semangat dan konsistensi dalam menulis. Ibarat lukisan, kita kadang amat peduli pada kanvas dan pigura yang membingkai lukisan itu. Meskipun bukan substansi, namun pigura itu bisa pula mempercantik dan mempengaruhi kesan kita atas satu lukisan. Iya nggak?

Menjaga Api Menulis

SAYA kira belum terlambat untuk bicara pengharapan di tahun 2010. Di tahun ini saya ingin memperbanyak tulisan. Apalagi, tahun ini saya akan mengambil keputusan berat untuk meninggalkan Makassar, yang selama kurang lebih 10 tahun menjadi tempat hidup dan melewati hari. Saya ingin melewatkan hidup di kampung, sebuah tempat yang bagaikan mata air terus mengalirkan kebahagiaan.

Untuk itu, saya tidak ingin punah begitu saja, sebagaimana pernah dialami para sahabat yang meninggalkan Makassar. Justru saya tetap ingin meramaikan Makassar melalui tulisan. Saya ingin kembali meramaikan tulisan di media massa baik lokal maupun nasional. Saya ingin tetap mencatatkan jejak perenungan saya dan semoga bisa mengguratkan sesuatu bagi yang membacanya. Saya ingin menempati posisi khusus dalam barisan mereka yang menginspirasi dan meramaikan dinamika wacana di kota ini.

Saya memilih pengharapan yang sederhana, namun betapa tak mudahnya mewujudkan pengharapan tersebut. Menulis bukan cuma soal skill, tapi juga tradisi dan kedisiplinan. Menulis butuh konsistensi dan latihan secara kontinyu demi tetap bisa menjaga api hasrat menulis. Saya ingin tetap menghangatkan api itu. Itulah pengharapan saya.(*)

Memenggal Kepala Rutan


Mengapa dalam satu masalah, para pejabat kecil yang selalu menjadi korban? Seberapa seringkah kita menjadikan orang kecil sebagai korban? Dua pertanyaan ini adalah pintu masuk untuk menjelaskan apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran saya. Kemarin, Kepala Rumah Tahanan (Rutan) Pondok Bambu diberhentikan dari jabatannya. Tiba-tiba saja, ia seolah menjadi sebab tunggal atas sel mewah yang dihuni Artalyta. Ia dituduh bertanggungjawab atas satu kesalahan, yang belum tentu dilakukannya. Media bersorak-sorak. Publik bertepuk tangan. Satu keadilan telah ditegakkan.

Mungkin saya berbeda dengan kecenderungan suara publik. Saya lebih berempati saat melihat posisi sang kepala rutan tersebut. Saya agak sedih membayangkan bagaimana perasaannya. Lebih sedih lagi kalau membayangkan bagaimana kehidupan keluarganya selanjutnya. Mungkin, dengan menjadi kepala rutan, ada tunjangan jabatan yang bisa dibawa pulang ke rumah setiap bulannya. Namun, sejak dicopot, bisa dipastikan ia hanya menerima gaji yang kecil, lebih kecil dari yang diterima setiap bulannya.

Ada soal serius yang menggelitik nurani saya. Mengapa yang menjadi korban adalah seorang kepala rutan? Bukan berarti saya menilai kepala rutan tidak bersalah atas masalah ini. Tapi, saya menilai problem yang menghantui insitusi hukum semacam lapas adalah problem struktural atau sistemik. Artinya, problem tersebut tidak disebabkan oleh satu sebab tunggal, namun merupakan hasil interaksi dari berbagai unsur sebab yang berada dalam satu struktur sosial tertentu. Posisi kepala rutan adalah ibarat sebuah pion dalam bidak catur. Ia hanya pelengkap penderita yang lebih sering dikorbankan untuk melindungi para atasan --yang bisanya hanya ikut angin, marah-marah, tanpa menelusuri apa yang sesungguhnya terjadi pada level bawah sekrup kekuasaannya.

Selama sekian ratus tahun kesalahan itu berjalan terus sehingga menjadi sebuah kelaziman. Saya yakin, sebelum kepala rutan tersebut menerima jabatan itu, kesalahan yang sama sudah terjadi, dan seolah menjelma menjadi kelaziman dalam kebudayaan kita. Tatkala rezim berganti dengan mereka yang lebih mengutamakan citra, kepala rutan tersebut menjadi korban yang dengan mudah diletakkan di altar persembahan. Ia harus menerima hukuman sebagai simbol kejahatan yang dilakukannya. Ia menjadi korban dari satu mesin besar kekuasaan di mana dirinya hanyalah sekrup kecil yang menyangga mesin itu. Sementara ‘sang mesin besar’ yang justru menjadi pengendali utama mesin tersebut bisa melenggang kangkung. Tiba-tiba saja menggelar jumpa pers dan menyalahkan pejabat kecil, kemudian mencopotnya, dan memberikan pernyataan bahwa keadilan telah ditegakkan. Duh...

Mengapa bukan pejabat besar itu yang bersikap ksatria mengakui kesalahan institusinya, menyatakan bertanggungjawab dan --kalau perlu-- mengundurkan diri? Tampaknya, para pejabat kita bisanya hanya mengorbankan mereka yang kecil-kecil. Kita krisis orang yang berani mengakui semua kesalahan yang ada di institusinya, dan bukannya mengorbankan yang lain. Kita kehilangan nilai-nilai kesatriaan, satu nilai yang memberi kita kekuatan untuk mennakui kesalahan dan tidak lantas memenggal mereka yang di bawah kita. Secara perlahan, nilai-nilai itu menjadi istana pasir yang secara perlahan-lahan dipudarkan oleh ombak keserakahan atas jabatan, kerakusan atas materi, dan penghambaan pada kekuasaan.(*)

Ingin Baca The Lost Symbol


NOVEL yang ingin saya baca saat ini adalah The Lost Symbol karya Dan Brown. Saya baca berita di internet bahwa sejak tanggal 6 Januari lalu, edisi bahasa Indonesia novel ini sudah terbit. Bahkan sejumlah situs buku online sudah memajang buku itu sebagai koleksinya. Tapi, saya ragu apakah buku ini sudah tiba di Makassar ataukah belum.

Saya sudah menunggu buku ini selama enam bulan, sejak edisi bahsa Inggrisnya sudah terbit. Malah, saya nyaris membaca edisi bahsa Inggris, sebelum akhirnya berubah pikiran saat melihat harganya di atas Rp 200 ribu.

Andaikan sudah tiba, saya ingin menjadi pembaca pertamanya. Saya penasaran untuk mengetahui petualangan Robert Langdon dalam menyingkap makna-makna simbol. Saya yakin pengarang novel ini kembali menyajikan data-data yang mengejutkan. Ia akan mengombinasikan riset dengan studi pustaka serta dikemas dengan imajinasi yang hebat. Saya yakin novel ini tidak akan mengecewakan saya. Saya percaya novel ini punya sesuatu yang berbeda dibandingkan novel lainnya.(*)

La Mane, Joged, dan Kebebasan

SEMALAM saya melintas di Jalan Betoambari, Bau-Bau. Tepat di depan Gedung Pengadilan, saya menyaksikan banyak motor yang diparkir di tepi jalan. Banyak orang yang menyemut di situ dan tatapannya mengarah ke satu titik. Mereka rata-rata adalah anak-anak muda usia 20-30 tahun. Saya penasaran lalu singgah. Ada apakah?

Ternyata di lapangan kecil di dekat situ sedang berlangsung acara joged. Pantas saja, musik dangdut mengalun keras dari sound system yang terpasang di beberapa titik. Di lapangan kecil itu, terdapat arena yang dipenuh anak muda yang sedang berjoged. Saat lagu dangdut ciptaan Rhoma Irama diputar, anak-anak muda itu langsung berjoged. Mereka berpasang-pasangan, meskipun ada juga yang pasangannya adalah sesama jenis. Mungkin mereka sangat menikmatinya. Buktinya, beberapa orang berjoged sambil menutup mata. Asyik…



Anak-anak muda itu mengenakan pakaian terbaik. Saya melihat banyak yang mengenakan pakaian mahal –yang kerap dikenakan warga kota besar. Ada merek Louis Vitton, Dolce, hingga La Coste. Saya sudah terbiasa menyaksikan merek itu dikenakan di daerah. Bahkan seorang penjual ikanpun bisa mengenakan pakaian yang merknya bisa bikin stres orang kota yang melihatnya. Maklum saja, di daerah seperti ini banyak pakaian bekas pakai yang diimpor. Biasanya pakaian itu datang dari Pulau Wanci di Wakatobi. Tak masalah, bekas pakai atau tidak. Yang jelas, mereknya gaya. So, jangan heran kalau melihat anak-anak muda di Pulau Buton yang memakai pakaian impor. Itu biasa.

Kembali ke acara joged. Anak-anak muda yang saya saksikan ini amat gembira ketika berjoged. Joged menjadi ajang untuk bertemu semua rekan-rekan sejawat, juga menjadi arena untuk mengekspresikan dirinya. Melalui joged, mereka memperkukuh kembali ikatan-ikatan sosial dan memperbaruinya ketika ikatan itu sudah mulai longgar. Melalui joged, mereka sedang meneriakkan kebebasan. Tidak mengapa meskipun gerakannya patah-patah dan asal-asalan. Yang penting bisa masuk arena dan berjoged riang. Joged menjadi arena pelepasan dari kepenatan menjalani hidup. Joged adalah ekspresi kebebasan.

Pada masa sekolah dulu, saya juga sering mendatangi acara joged seperti ini. Rata-rata teman bermain saya adalah para pejoged handal. Meskipun saya bukan pejoged handal, namun saya menikmati suasana di mana kita anak-anak muda bebas mengekspresikan diri. Di daerah kecil seperti ini, tak banyak hiburan yang ditemukan di malam hari. Makanya, saat acara joged digelar di satu tempat, maka berduyun-duyunlah para anak muda untuk menghadiri acara joged.

Di sekeliling acara joged, terdapat banyak kursi yang berjajar rapi. Di kursi itu duduklah para perempuan. Ketika seorang perempuan duduk di situ, maka ia harus siap menerima ajakan joged dari siapapun, tak peduli seperti apa tampannya yang mengajak joged. Ada semacam aturan dan etika yang mengatur acara joged ini. Seorang perempuan –bahkan yang paling manis sekalipun—tak boleh pilih-pilih ketika duduk di kursi itu. Ketika ia menolak ajakan joged seseorang dan menerima seseorang yang lain, maka sikap itu akan memicu perkelahian. Beda halnya ketika ia tidak duduk di kursi dan hanya berdiri saja di sekitar lapangan bersama sang pacar.

Yang saya herankan, informasi tentang acara joged ini tersebar cepat bak api yang membakar bensin. Entah siapa yang menyebarkan, yang jelas informasi tentang joged dengan cepat merambah kampung-kampung. Padahal, tak ada pamflet, tak ada undangan. Tak ada pula pemberitahuan tentang acara joged. Tak ada iklan di media massa. Ini kan kampung. Iya nggak? Lantas, dari mana mereka tahu tentang acara joged?

Sewaktu di bangku sekolah menengah pada tahun 1990-an, saya mengenal seorang teman bernama La Mane. Meski usianya belasan tahun, tubuhnya sudah kekar dan berkulit hitam legam. Mungkin ini pengaruh kerja kasar yang dilakukannya setiap hari. Ia tinggal di depan SMEA Bau-Bau. Ia putus sekolah di bangku SMP. Meski kerja kasar, setiap hari ia selalu punya waktu untuk bersenang-senang dan menjadi tamu tetap di semua acara joged. Gerakannya juga mantap.

Pada beberapa acara joged yang saya hadiri, La Mane selalu diundang untuk membuka acara. Bukannya berpidato pembukaan sebagaimana pejabat. Pembukaan acara joged diawali dengan musik keras, arena dikosongkan, dan disitulah La Mane berjoged sendirian. Gerakannya ekspresif seperti pemuda negro yang breakdance dalam video musik Amerika. Hebatnya, La Mane tak segan-segan melakukan atraksi akrobatik demi memancing tepuk tangan dan decak kagum para gadis. Pernah sekali waktu, saya melihat La Mane berguling-guling di lantai. Saya tak menemukan keindahan estetik dari gerakan itu. Tapi, smeua orang bertepuk tangan. Aneh.

Nah, La Mane ini adalah ensiklopedi berjalan yang selalu punya informasi tentang acara joged. Diundang atau tak diundang (lagian, tak ada undangan) ia selalu hadir. Pada masa ketika belum ada telepon genggam, La Mane menjadi gudang informasi untuk mengetahui di mana saja acara joged. Saya selalu heran dengan kecepatannya mendapat informasi. Tapi, saya sekaligus senang ketika datang bersamanya di acara joged. Meskipun di siang hari ia menjadi tukang batu, namun di acara joged, La Mane adalah superstar dengan banyak penggemar. Cewek-cewek menyapanya dan ingin joged dengannya. Banyak yang histeris menyebut namanya ketika sedang berjoged. Ia tenar, setenar vokalis Soneta Grup yang sedang manggung. Arena joged adalah catwalk di mana La Mane mengekspresikan dirinya dengan gagah.

Semalam di acara joged yang saya datangi tersebut, saya mencari La Mane. Puluhan tahun merantau dan kembali ke kampung, saya merindukan sosok La Mane di acara joged. Pastilah ia sudah berusia 28 atau 29 tahun. Saya dan dia sudah bukan lagi usia remaja yang masih suka dengan acara joged. Mungkin ia sudah menikah dan malu tampil di acara joged. Apakah ia masih menjadi tukang batu? Saya tak tahu. Tapi, di tengah arena itu saya menyaksikan seorang pria berkulit hitam legam yang berjoged dengan ekspresif. Setiap gerakannya selalu disambut dengan histeris. Ia mirip Shahrukh Khan, bintang India yang berjoged dalam film Kuch Kuch Hota Hai. Tapi pemuda yang saya saksikan ini berkulit hitam legam. Saya lalu mendekat. Tak peduli berapa orang yang saya sikut untuk bisa sampai ke tengah arena. Saya lalu memperhatikan dengan cermat. Ternyata, pria itu adalah La Mane..!!



Sejarah Tradisi Tenun di Masyarakat Buton

Bagaimanakah asal mula munculnya tradisi tenun di masyarakat Buton? Beberapa antropolog seperti Rahman (2006) tidak mencatat fenomena ini secara jelas. Ia hanya merekomendasikan untuk melakukan telaah pustaka sejarah demi mengetahui kapan secara persis tradisi ini masuk ke tanah Buton. Catatan sejarah menyebutkan, Buton sudah disebutkan dalam kitab kuno Negarakertagama yang ditulis Empu Tantular pada tahun 1364. Dalam kitab tersebut, Empu Prapanca menyebut sumpah Gajah Mada yang dikenal dengan nama Sumpah Palapa. Dalam sumpah itu, Gajah Mada menyebut sejumlah negeri yang harus dikuasai Kerajaan Majapahit, yang satu di antaranya adalah Buton. Ungkapan tersebut berbunyi, “Ikang sakasanuasa Makasar Boetoen Banggawi....” yang maknanya: “Yang dimaksud Kesatuan Nusantara adalah Makassar, Buton, Banggai ...” (i)



Namun, tak ada keterangan yang jelas, apakah pada masa ini orang Buton sudah mengenakan tenun ataukah tidak. Jika data sejarah kembali ditelusuri demi membedah asal-muasal ini, maka boleh jadi, tenun sebagai tradisi di Buton, diperkirakan sudah ada sejak Buton abad ke-14. Itu bisa dilihat dari artefak sejarah yakni kampua, jenis tenun yang menjadi mata uang pada masa itu.

Inilah hal yang mencengangkan sebab tenun bukan cuma untuk pakaian sehari-hari atau penanda identitas. Kain juga menjadi alat tukar yang digunakan. Pada masa lampau, peredaran luas kain-kain Buton dari sultan dan keluarga bangsawan dalam kesultanan, yang disebut dengan istilah tanet, yang digunakan sebagai surat berharga yang secara kebudayaan bisa diterima sebagai alat tukar untuk aktivitas perdagangan bahkan sampai ke Papua merupakan testimoni atas kebesaran Buton di masa lampau. Mata uang tersebut juga disebut kampua. Mengacu pada catatan sejarah, pada abad ke-14, telah terjadi menggunakan mata uang Kampua, dan beredar hingga tahun 1951. (ii)

Mata uang ini tercatat di museum Bank Indonesia (BI) sebagai mata uang tertua di Pulau Sulawesi. Sepintas mata uang Kampua terlihat seperti pulau Buton di peta. Padahal, kampua terbuat dari tenunan serat kayu. Bentuk awalnya hanya berupa 4 jari tangan. Kemudian berubah diperbesar menjadi telapak tangan.

Mata uang Kampua dipastikan penggunaannya pada kerajaan Sultan Dayanu Ikhsanuddin yang memerintah pada tahun 1597-1631. Kala itu Kampua ini ditenun oleh putri raja. Bentuknya seperti telapak tangan, dan terdapat cap telapak tangan menteri keuangan di kerajaan tersebut yaitu Menteri Boto Onggena. Pada masa itu, nilai tukar satu mata uang sama dengan satu butir telur. Kemudian sesuai kondisi perekonomian nilainya pun berubah pula. Di Kesultanan Buton, Sultan Dayanu Ikhsanuddin jugalah yang mengharuskan setiap transaksi untuk menggunakan mata uang kampua.

Kemudian di tahun 1851, datanglah Pemerintah Kolonial Belanda menjajah pulau Sulawesi dan memasuki Buton. Gubernur Jenderal VOC Pieter Both sempat salah mengerti saat berkunjung ke Buton. Ia beranggapan bahwa barang-barang di wilayah perairan Buton ini sangat murah, karena orang Buton membayar barang dagangan yang dibelinya hanya dengan kain kecil yang disebutnya lap, sebagaimana muncul dalam kutipannya: “Di sini semua amat murah harganya. Mereka membayar barang dagangan dengan lap kecil,” katanya. VOC lalu menggusur kampua dnegan mata uang Golden milik Belanda. Namun hanya di daerah - daerah tertentu saja. Di daerah pelosok Buton, kampua masih digunakan untuk bertransaksi. Hingga akhirnya pada tahun 1851 mata uang kampua ini diberhentikan peredarannya.

Jika kampua adalah tenun dari bahan kulit kayu, maka tenun kain diperkirakan mulai marak sejak abad ke-13, saat bangsa-bangsa Eropa berbondong-bondong ke Nusantara untuk berdagang rempah-rempah. Mereka melalui jalur perdagangan yang terbentang, di mana Buton adalah bagian dari jalur perdagangan tersebut.

Sebelum ramainya perdagangan rempah-rempah (iii) ada tiga jalur utama yang menghubungkan kawasan timur dan barat Nusantara. Jalur pertama Makassar menyusuri pantai selatan Sulawesi melalui Selat Selayar, kemudian menuju timur laut memasuki perairan antara Kabaena dan daratan tenggara Pulau Sulawesi, lalu ke kawasan Laut Tiworo. Dari sini menuju pantai utara Buton melalui Selat Wawonii menyusuri pantai timur Sulawesi menuju Bungku (Tombungku), Banggai dan Halmahera (Ternate). Pelayaran dengan jalur ini kemungkinan singgah di Selayar, Sinjai, Kabaena, Poleang/Rumbia, Tinanggea, dan Moramo Kendari.

Rute kedua dimulai dari Makassar menyusuri pantai selatan Sulawesi ke arah timur melalui Selat Selayar dan masuk ke perairan Kabaena bagian selatan, menuju pelabuhan Bau-Bau (Buton). Selanjutnya menyusuri pantai barat Buton dan kemudian pantai utaranya menuju Wawonii. Seperti halnya yang pertama, sasaran akhir jalur pelayaran ini adalah Pulau Halmahera. Jalur terakhir, dari Makassar menuju Bau-Bau (Buton) dan selanjutnya melewati Kepulauan Tukang Besi ke timur laut memasuki Laut Buru dan kemudian menuju Ambon. Dari sini rute dilanjutkan ke Kepulauan Banda. Rute terakhir ini merupakan jaringan niaga laut utama di Samudera Hindia dan perairan Kepulauan Nusantara (Burhanuddin dkk, 1979: 50; Chauduri, 1989: 10, 35).

Setelah perdagangan rempah-rempah mulai marak, orang-orang Eropa lebih memilih jalur perdagangan melalui Buton. Keterangan yang lebih lengkap mengenai jalur pelayaran ini bisa dibaca dari laporan Tome Pires (1512-1515) yang berjudul Summa Oriental. Menurut Pires, perjalanan lebih singkat bagi orang Portugis ke Maluku tidak melalui pantai Jawa, melainkan melalui Singapura ke Borneo (Kalimantan) kemudian ke Pulau Buton lalu ke Maluku.(iv)

Faktor jalur perdagangan ini menyebabkan Buton tampil sebagai kerajaan memegang peranan penting dalam percaturan ekonomi dan politik di kawasan timur Nusantara. Ada dua hal yang terkait erat dengan itu yakni (1) kedudukan geografi dan (2) aktivitas perdagangan maritim khususnya rempah-rempah. Dalam konteks yang pertama, Buton merupakan mata rantai utama yang menghubungkan antara kawasan timur sebagai daerah penghasil rempah-rempah dengan kawasan barat, khususnya Malaka, sebagai tempat penjualan komoditi ini. Dalam pemikiran Lombard (2006, II: 47) Maluku dan Malaka adalah kutub utama niaga di Asia Tenggara.

Kondisi itu tampak mempengaruhi perkembangan kerajaan Buton yang berdiri pada akhir abad ke-13 atau awal abad ke-14. Terlepas dari konteks politik global ketika itu, namun dapat dipastikan bahwa Buton telah terintegrasi dalam jaringan perdagangan maritim Laut Jawa, yang mana sering dilewati oleh para pedagang yang berlayar secara musiman memanfaatkan angin muson timur dan muson barat.

With the eastern monsoons they go to the Straits of Malacca, Sumatra Palembang, Borneo, Patani, Siam and a hundred other pleces too many to tell. With the western monsoon they go to Bali, Bantam, Bima, Solor, Timor, Alor, Selayar, Buton, Buru, Banggai, Mindanao, the Moluccas, Ambon, and Banda, which has now been taken from them (Schrieke, 1960: 20).

Letak Pulau Buton yang berada di antara Pulau Jawa, Makassar, dan ‘kepulauan rempah-rempah’ sangat penting artinya, karena di pelabuhan Pulau Buton inilah para pedagang asing itu acapkali berlabuh sambil memperbaiki bagian kapal yang rusak, karena di pulau ini tersedia banyak kayu jati yang bagus untuk kapal, sekaligus mengisi ulang bahan makanan dan air minum yang sangat dibutuhkan dalam pelayaran lanjutan, baik dari ataupun ke Kepulauan Maluku. Bahkan, beberapa orang pejabat VOC juga berkunjung ke Buton, di antaranya adalah Gubernur Jenderal Pieter Both (v) yang berkunjung pada tanggal 29 Agustus 1613. Pejabat lain yang pernah singgah adalah Jan Pieterszoon Coen yang pada saat itu masih berstatus sebagai pedagang besar. Posisi strategis ini, Kesultanan Buton menjadi imperium yang cukup besar di kawasan perairan Buton. Kawasan ini menjadi kesatuan sistem laut (sea system) dengan Kesultanan Buton sebagai penyangga utamanya.

Sejumlah sejarawan seperti Eric Crystal (1979) memperkirakan bahwa tenun telah ada di Buton sejak adanya kontak perdagangan dengan bangsa Cina, Belanda, Inggris, Portugis, dan negara Eropa lainnya. Seiring dengan datangnya agama Islam melalui pesisir, maka tenun sutra mengalami modifikasi menjadi tenun ikat seperti sarung, yang dikenakan untuk kegiatan keagamaan. Robyn dan Maxwell (1979) mengatakan, pengaruh Islam itu menyebabkan tersebarnya tenun ikat di sepanjang pesisir pantai, khususnya wilayah yang mendapat pengaruh Islam termasuk Sulsel. Jika pendapat ini kita benarkan, maka sejak masa silam bisa dipastikan tenun ikat Buton sudah tersebar hingga ke Malaka dan India.

Melalui perdagangan itu, terjadi alih pengetahuan dan dialog kebudayaan sehingga tenun –sebagai tradisi yang datang dari luar-- bisa diterima menjadi bagian dari kebudayaan Buton. Sejak masuknya tenun, banyak lahir benda-benda kebudayaan atau artefak yang menggunakan kain sebagai bahannya, mulai dari pakaian, tenun kerajaan, hingga jenis-jenis ikat kepala maupun sarung yang dikenakan hanya pada momentum tertentu. Tenun kemudian identik dengan kain berkualitas tinggi yang banyak dikenakan keluarga raja dan bangsawan. Meski demikian, kain juga dikenakan secara luas oleh rakyat jelata dengan motif dan desain khusus, yang dikembangkan sejak masa silam.(*)

Cukup sekian. Nanti dilanjutkan lagi....


Catatan Kaki

(i) Lihat Yunus, Abdul Rahim (1995) Posisi Tasawuf dalam Sistem Kekuasaan di Kesultanan Buton pada Abd ke-19. Jakarta: INIS
(ii) Saat ini, Kampua berada di Museum BI Jakarta. Karena hanya satu - satunya keberadaan Kampua sangat dijaga, tidak diperbolehkan tersentuh siapapun. Dalam setiap pameran pun hanya bisa dilihat melalui duplikat gambarnya. "Tidak tahu kalau di Buton. Tapi saat ini BI hanya punya satu.Saat ditemukan sudah dimakan rayap, makanya keberadaannya sangat kami jaga," terang Ernawati Jatiningrum, Peneliti BI Jakarta yang dimintai keterangan tentang sejarah uang tersebut, sebagaimana dicatat Kendari Pos, Sabtu 21 Februari 2009 lalu.
(iii) Perdagangan rempah-rempah sudah dikenal di Eropa sejak zaman Romawi Kuno. Komoditi ini termasuk salah satu komoditi utama niaga Asia pada zaman kuno (Burger, 1962). Awalnya, saudagar Cina-lah yang memperdagangkan rempah-rempah ke India. Di sana orang-orang Eropa membeli rempah-rempah. Karena itu, dalam batas tetentu (awalnya) mereka mengenal bahwa komoditi itu dihasilkan di India. Seiring perkembangan niaga maritim, orang Melayu, Jawa, Persia, Arab, dan saudagar lainnya turut ambil bagian dalam perdagangan itu. Khususnya orang Melayu telah memainkan peran itu dalam abad ke-14 ketika Cina sudah tidak aktif lagi dalam perdagangan itu. Ini terutama sejak tampilnya Malaka sebagai kutub utama ekonomi Asia Tenggara, di samping Maluku sebagai kutub utama lainnya yang menyediakan rempah-rempah.
(iv) Darmawan, M Yusran (2008) Menyibak Kabut di Keraton Buton. Bau-Bau: Respect
(v) Pieter Both menjadi Gubernur Jenderal VOC pada tahun 1610-1614

Buku Terbaru Saya

Buku Terbaru Saya
Untuk memesan buku ini secara online, silakan klik foto ini. Thanks.

Terpopuler Minggu Ini

Google+ Followers

Followers

...